Tuesday, August 28, 2007

Norman Akhirnya Dipindah ke Bintaro


Pagi ini, ketika mengantar Norman ke sekolah, dia cerita bahwa dia sudah tidur di rumah neneknya di Bintaro tadi malam.

Aku mengikuti terus proses perpindahan ini. Kesannya, perpindahan ini dilakukan bertahap. Mulanya, hari Minggu, Retno Wardani, ibunya Norman, mengangkut semua barang-barang Norman, dari meja belajar hingga pakaian, dengan mobil barang sewaan ke Bintaro. Minggu malam, mereka kembali ke rumah Pondok Indah.

Senin pagi, aku menjemput Norman di rumah Pondok Indah. Senin siang, ketika mengantar Norman pulang ke rumahnya di Pondok Indah, Retno sudah menunggu. Norman langsung dibawa ke Bintaro.

Senin malam, mereka sudah tidur di Bintaro. Namun Retno Selasa subuh membawa Norman ke Pondok Indah. Aku menjemput Norman untuk pergi ke sekolah di Kemayoran masih di Pondok Indah.

Selasa siang ini, Norman bilang dia diminta pergi ke Bintaro. Aku lewat jalan tol dari Ancol hingga Ulujami. Aku antar Norman ke rumah neneknya, M.Th. Koesmiharti, di Jalan Camar III, Bintaro Sektor III. Kami sama-sama tertekan dengan perpindahan ini. Norman harus bangun lebih pagi. Aku juga harus menghabiskan waktu hingga lima jam sehari di jalanan untuk jemput antar anakku sekolah.

Aku minta Norman tabah. Anggap ini sebagai latihan untuk menghadapi kesulitan serta kebodohan (ignorance). Kelak ketika dia dewasa, kesulitan dan tekanan macam ini akan makin banyak dan makin besar.

Hari ini, Sri Maryani, pengasuh Norman, ikut pergi ke sekolah. Maryani bertugas membayar uang sekolah Norman di Gandhi Memorial International School. Maryani juga cerita banyak soal perpindahan ini. Dia mengatakan "Bu Retno keras kepala" dan tak mau memperhatikan kepentingan anaknya sendiri.

Waktu istirahat dan waktu belajar Norman berkurang. Jarak Bintaro-Kemayoran bukan tak jauh. Aku harus keluar biaya lebih besar untuk bensin dan karcis tol. Retno mengambil keputusan secara sepihak tanpa mau berunding dengan aku.

Pagi ini, Norman mengulangi harapannya kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Dia bilang seseorang dari Komisi tampaknya menelepon ibunya. Norman juga menyatakan keinginan agar dia bisa tinggal di Senayan bersama aku dari Senin hingga Sabtu.

Aku tanya mengapa berubah? Maryani menjawab, "Dek Norman tadi juga bilang gitu ke aku, Pak. Katanya, dia sekarang mau pindah ke Senayan dari Senin sampai Sabtu."

Maryani juga mengulangi ucapannya beberapa bulan lalu bahwa dia ingin berhenti bekerja. Dia merasa tak nyaman bekerja dengan Retno. Maryani bekerja sejak Desember 2002. Dia mengasuh Norman sejak Norman masih kelas satu. Maryani juga bilang Retno sudah tak bekerja lagi sejak banjir awal tahun ini. "Kerjanya setiap hari di rumah," katanya.

Retno dulu bekerja untuk Indonesian Forum of Parliamentarians on Population and Development. Dua tahun lalu, dia pernah tanya bagaimana cara mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat. Dia minta diberi contoh anggaran dasar. Dia bilang akan keluar dari IFPPD dan bikin kantor sendiri. Retno tak pernah memberitahu perkembangan pekerjaannya.

Norman sebelumnya mengatakan kepada Komisi hari Sabtu bahwa dia ingin tinggal lima hari di Senayan, Selasa hingga Sabtu. Artinya, 5x24 jam bersama aku dan 2x24 jam dengan ibunya. Perpindahan ke Bintaro tampaknya membuat Norman makin gerah dengan kesulitan-kesulitan ini. Dia mengatakan dia rasa kasihan dengan aku, kecapekan tiap hari antar-jemput. Aku bilang orang tua harus bertanggungjawab terhadap anaknya.

Ketika tiba di Bintaro, neneknya membukakan pintu pagar. Koesmiharti menawari aku mampir. Aku mengucapkan terima kasih, "Saya lagi banyak kerja, Bu." Aku naik mobil lagi dan kembali ke Senayan, melanjutkan penulisan buku dan pekerjaan Yayasan Pantau, yang setiap siang berhenti dua jam lebih, untuk mengatasi "orang keras kepala" ini.

Previous Stories
Norman Menjelang Perceraian
Retno dan Asma
Kredit Kepemilikan Rumah BII
Asthma Cases on the Rise Among Children

"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"
Norman Dipindah ke Bintaro
Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono

Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneagles
20 Menit Senayan-Kemayoran
Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak
Transportasi Norman Rp 4.5 Juta Sebulan
Dunia Fantasi dan Pelajaran Sejarah

3 comments:

Anonymous said...

oh please andreas. stop the crap.

retno.

Anonymous said...

Pak Andreas, always be a wise father for Norman, coz you're the best for him.

-tikabanget- said...

:)
kata temen sayah, apapun itu yang menimpamu, kecuali bikin kamu mati, akan menempamu dan membuatmu lebih kuat..

:D
begitulah pepatah sok bijak dari temen sayah..