Saturday, November 28, 2020

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya pernah bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000-2008, saya menyunting majalah dan web Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) and Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard. Saya makin sering meneliti dan menulis persoalan jurnalisme.


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan hak asasi manusia termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, Race, Islam and Power terbit. Ia sebuah cerita perjalanan yang diramu dengan riset soal hak asasi manusia.

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch, salah satu organisasi hak asasi manusia paling berpengaruh di dunia, dengan tanggungjawab soal Indonesia. Banyak menulis soal kebebasan beragama, kebebasan pers, prinsip non-diskriminasi.

Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam namun agama-agama yang dilindungi di Indonesia termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil termasuk aliran kepercayaan maupun agama baru macam Millah Abraham.

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya sering menulis cerita perjalanan. Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 70 lokasi di Indonesia. Saya mencatat, merekam dan menulis soal tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan.

Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. Paling menarik bila berjalan seorang diri, sering memakai perjalanan buat berpikir, membaca dan berbagi.

Cerita

Blog ini juga banyak memuat cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup saya, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak.

Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota perdagangan paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Dinas Perhubungan Akan Menutup Perlintasan Kereta dan Jalan Palmerah

Pagi ini
 seorang tetangga saya, mengirim surat ke Whatsapp group warga Apartemen Permata Senayan, persis tetangga Menara Kompas. Isinya, surat pemberitahuan dari kepala Dinas Perhubungan Jakarta Syafrin Liputo kepada manajemen Menara Kompas bahwa perlintasan dan jalan depan apartemen akan ditutup mulai besok. 

Liputo menulis bahwa jalan akan ditutup demi "mendukung pelaksanaan program penataan stasiun Palmerah dan peningkatan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan."

Surat ini terdiri dari empat halaman. Ia dikirimkan kepada beberapa gedung sekitar perlintasan termasuk manajemen stasiun Palmerah, sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat, SMAN 24, Persatuan Penembak Indonesia, PT Senayan National Golf, Senayan City Mall, Plaza Senayan, STC Senayan, Panin Group, Ratu Plaza, FX Sudirman, TVRI, Kompas Gramedia, Hotel Mulia, Hotel Sulthan, Hotel Century Park, Hotel Fairmont, Gelora Bung Karno dan beberapa perusahaan lagi. Semua gedung ini terletak di Kelurahan Gelora. 

Ironisnya, Apartemen Permata Senayan dan Pasar Palmerah tak termasuk dalam surat pemberitahuan. Sebagai warga Kelurahan Gelora, yang akan terkena dampak dari penutupan jalan ini, saya tahu bahwa warga terbanyak dalam kelurahan ini tinggal di daerah sekitar Pasar Palmerah. 


Gedung dengan jumlah warga terbanyak di kelurahan ini adalah Apartemen Permata Senayan. Gedung-gedung lain di kawasan ini adalah gedung perkantoran dan perbelanjaan. Orang tentu sedikit yang tinggal di sana. 

Liputo menulis bahwa ada timeline penutupan perlintasan dengan sosialisasi pada 16-18 November, pertemuan pers pada 23-25 November, uji coba pada 27-28 November serta ditutup pada 29 November. 

Dalam surat tersebut tak disebutkan hasil studi atau pertimbangan menutup jalan. Berapa orang yang meninggal karena kecelakaan di palang kereta api tersebut? 

Saya sudah tinggal di daerah ini sejak 1993 dan melihat dua persimpangan ditutup: Permata Hijau dan Slipi. Saya lihat penutupan kedua persimpangan tersebut memang memudahkan motorisasi, lalu lintas kendaraan bermotor lebih lancar, namun juga membuat pelanggaran jalur satu arah meningkat. Banyak pengendara motor, yang tak mau berputar beberapa kilometer, melanggar aturan lalu lintas. 

Pejalan kaki dibikin susah untuk berjalan apalagi menyeberangi rel kereta api. Beberapa kali saya menyeberang jalan di Permata Hijau. Wuh ... bahaya sekali. 

Menarik untuk tahu bagaimana evaluasi terhadap penutupan jalan-jalan tersebut. Seberapa jauh ia mengurangi dampak dari motorisasi di Jakarta terutama daerah Pejompongan, Palmerah, Senayan sampai Permata Hijau. 

Bagaimana dampaknya pada polusi udara? Bagaimana dampaknya pada makin sulitnya orang buat bersepeda dan berjalan kaki --dua moda transportasi yang bersahabat dengan alam-- serta dukungan dua moda tersebut terhadap pengembangan kereta api di seluruh daerah Jakarta dan pinggirannya? 

Bukankah pemerintahan Gubernur Anies Baswedan mulai mengembangkan trotoar di Jakarta termasuk daerah sekitar stasiun Palmerah dan Senayan? Bagaimana dengan membangun jembatan buat penyeberang yang berjalan kaki?

Saya tentu ingin tahu lebih banyak studi guna mendukung penutupan lintasan kereta dan jalan yang menuju Pasar Palmerah. Pada 1989-1993, saya banyak belajar soal transportasi publik yang berkelanjutan dari Michael Replogle.

Sejak 1993, saya setidaknya menolong lebih dari selusin orang yang terlibat kecelakaan lalu lintas. Namun jumlah kecelakaan terbanyak bukan dari kereta api namun dari motor yang tak berhenti saat lampu merah dekat lintasan kereta api. Mereka kebanyakan menabrak penyeberang jalan atau kendaan lain. 


Saya harap Gubernur Baswedan dan Liputo mau menunda penutupan jalan ini nanti malam. Buatlah konsultasi publik yang memadai. Bukalah data dan angka. Perhatikan kritik terhadap motorisasi. Pikirkan nasib pejalan kaki, pengendara sepeda pancal dan beberapa kusir dokar yang bekerja di Pasar Palmerah. Ini daerah padat. Banyak orang menyeberang jalan. Motorisasi bukan satu-satunya jawaban dari persoalan transportasi di Jakarta. 


Monday, November 09, 2020

Cerita dan Obituari

Berbagai cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup saya, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga kompetitor atau lawan.

Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Saya pernah bekerja buat suratkabar di Bangkok dan Kuala Lumpur, sering datang di dua kota tersebut. Saya juga bekerja untuk Human Rights Watch di New York. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. 

Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta. Saya kenal banyak gang dan cerukan di daerah Palmerah --lingkungan dimana saya tinggal sejak 1994. Saya tahu banyak sekali tempat makan yang maknyus di Jakarta. 

Saya mengatur bagian ini berdasarkan tahun penerbitan. Ia tentu mencakup masa kecil, remaja, kuliah sampai kehidupan dewasa saya, terutama di Jakarta.

2020

2016

2015

2014

2013

2012

Atiek C.B. dan keluarga Joe Biden di Delaware

KALAU tak salah ingat, saya mulai kenal penyanyi Atiek C.B. pada awal 2009, ketika saya datang ke New York buat ikut program Human Rights Watch. Saya seorang penggemarnya sejak 1980an. Kami jadi sering mengobrol: Wilmington maupun Jakarta. Dia tinggal di sebuah rumah di Wilmington, sekitar 90 menit dari New York. Kami juga kenal keluarga masing-masing. Saya kenal suaminya, Laurance Smith, dan anak-anak mereka. Atiek juga kenal Sapariah dan anak-anak kami. 

Sabtu malam lalu, saya menerima kabar kemenangan Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat dari Atiek C.B. Masih siang di Wilmington. 

Saya sudah tidur, sudah Minggu dini hari di Jakarta, kecapekan menunggu hasil perhitungan suara dari Pennsylvania. Dia kirim macam-macam berita juga layar CNN, televisi yang pertama kali menyatakan Joe Biden sudah dapat 273 suara, tambahan 20 suara dari Pennsylvania. 

Dalam sistem pemilihan umum di Amerika, seorang kandidat menang bila dapat separuh lebih dari total 540 suara (electoral college).

Atiek memang suka dengan Joe Biden. 

Sejak Biden masih wakil presiden bersama Presiden Barack Obama, Atiek sering cerita soal Biden, dari kebiasaan dia naik kereta api Wilmington-Washington D.C. setiap hari selama 30 tahun sampai kecelakaan yang merengut isteri dan anaknya pada 1972. Pada 2015, anak sulung Joe, Beau Biden, juga meninggal karena kanker dalam usia 46 tahun. Rumah keluarga Smith sekitar 10 menit dari rumah keluarga Biden di Greenville, Wilmington. 

Kini rumah keluarga Biden, menurut Atiek, “Gak bisa masuk dijaga ketat banget, soalnya Proud Boys militia sepertinya gak happy.” 

Atiek juga kirim foto ketika dia selfie bersama Dr. Jill Biden, isteri Joe Biden, di Cristiana Mall Delaware, pada 2018. Atiek bilang Jill setir sendiri mobil Honda CRV, juga bawa barang belanjaan sendiri. 

Proud Boys adalah organisasi kanan jauh, neo-fasis, keanggotaan hanya khusus lelaki, di Amerika Serikat dan Kanada. Mereka sering terlibat demonstrasi dukung fasisme serta anti-Islam dan anti-Marxisme. Beberapa anggota mereka juga ditangkap karena lakukan kekerasan. Polisi Amerika menilai jaringan ini sebagai "organisasi ekstrimis." Proud Boys juga dilarang oleh Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube. Mereka pendukung Presiden Donald Trump yang kalah lawan Biden. 

Kami tentu lega orang macam Joe Biden dan Kamala Harris terpilih sebagai presiden dan wakil presiden Amerika Serikat. Kamala Harris adalah wakil presiden perempuan pertama dalam sejarah Amerika. Dia juga wakil presiden pertama dari keturunan ayah Jamaica dan ibu India. 

Biden dan Harris membuat tanggungjawab kami sebagai orang tua jadi lebih ringan ketika mendidik anak-anak kami bahwa kepribadian yang baik --hormat orang lain tanpa pandang kelas sosial atau ras atau agama atau iman, berpikir kritis, percaya pada ilmu pengetahuan-- sangat penting buat masa depan mereka. 

Kami juga perlu pemimpin yang bisa mengatasi ancaman dari perubahan iklim, setidaknya mau berusaha secara serius menjaga lingkungan hidup. Ini akan jadi salah prioritas Biden plus tiga usaha lain: wabah coronavirus, rasialisme sistematis di Amerika Serikat, dan kesulitan ekonomi. Amerika adalah negara dengan korban meninggal tertinggi karena coronavirus: 230,000 orang. 

Joe Biden memandang setiap orang dengan "dignity and respect." 

"The average guy is important to him," kata seorang masinis kereta api Amtrak, langganan Joe Biden. 

Tugas kami sebagai orang tua terganggu ketika pemimpin populis macam Trump, maupun lainnya di berbagai negara lain, berkuasa dan sering berbohong, menyebarkan kebencian atas nama ras atau agama. Trump mencabut kesertaan Amerika dari perjanjian Paris soal climate change

Jill Biden tetap mengajar bahasa Inggris ketika Joe jadi wakil presiden (2009-2016). Kini Jill Biden juga tetap jadi dosen North Virginia Community College sambil menjadi "first lady" Amerika Serikat: menyiapkan kuliah, menilai makalah mahasiswa, dan sebagainya. 

Sejak Donald Trump muncul Jumat malam untuk bilang dari Gedung Putih bahwa pemilihan umum di Amerika Serikat "dipenuhi kecurangan," tanpa sama sekali mengajukan bukti, Trump tak muncul ke hadapan publik. Dia cuma main Twitter saja. Itu pun sering diberi keterangan oleh Twitter bahwa kicauan Trump tanpa bukti. 

Saya setuju dengan langkah Twitter untuk memberikan peringatan pada setiap kicauan Trump yang ngawur. Twitter tak bisa take down account Trump karena dia seorang pejabat negara. Tapi langkah tersebut bisa diambil bila Trump sudah turun dari kepresidenan. Saya takkan kaget bila account Trump dihapus Twitter. Langkah ini perlu dilakukan terhadap semua pemimpin di dunia. 

Atiek mengirim pesan, "Lame duck president dua hari ini plays golf terus di Virginia, mumettt 😀"