Thursday, December 21, 2006

Jungkir Balik di El Tari

Oleh Andreas Harsono



Lagi asyik-asyiknya menyunting laporan trend politik Pulau Flores, sembari menunggu seorang reporter mengetik kasus pemerkosaan di stadio Marilonga, tiba-tiba eh ... listrik mati. Semua jaringan komputer mati. Padahal jaringan ini bekerja tanpa sistem pengaman listrik mati. Maka semua data hilang.

Saya nyaris mengeluarkan koleksi kebun binatang saya, plus nama seluruh pembunuh massal, kalau tak ingat, bahwa mereka yang kerja di ruangan ini, ruang redaksi harian Flores Pos, hanya teriak, "Wah wah ....."

Santun sekali. Sekitar 15 orang, yang kerja di ruang redaksi, keluar satu per satu, menuju pelataran depan kantor, merokok dalam kegelapan, makan pisang molen, dan sedikit memaki. Frans Obon, redaktur pelaksana, bilang, "Ya begini ini Mas, koran kota kecil."

Terkadang listrik mati dari pukul 17:30 sampai 22:00. Artinya, kami mulai bekerja lagi pukul 22:00 dan selesai pukul 3:00 dini hari. Koran sering belum muncul hingga pukul 7:00 dari percetakan. Pelanggan Ende pun mulai menelepon, marah-marah, sekretaris redaksi bolak-balik minta maaf. Ada juga pelanggan mengancam berhenti langganan. Pukul 10:00 telepon keluhan masuk dari Bajawa. Sambung-menyambung sampai Labuhan Bajo.


Inilah salah satu pengalaman membantu harian Flores Pos. Ada selusin wartawan, selusin komputer tua, tanpa satu pun kamera, sambungan internet jalan kayak siput (maaf ya siput). Para koresponden, dari Maumere, Larantuka, Ruteng, dan sebagainya, mengirim berita dengan tulisan tangan dan mesin fax. “Listrik padam, komputer onar, Telkom tidak punya internet,” kata koresponden Maxi Gantung dari Lewoleba.

Saya seakan-akan kembali ke masa silam, 20 tahun lalu, ketika mesin fax baru muncul. Ada rasa aneh. Kok wartawan mengirim berita dengan tangan? Kok pakai mesin fax?

Dulu saya pernah bekerja di harian The Star di Kuala Lumpur, dimana satu hari sirkulasinya sekitar 300,000. Semua serba otomatis. Semua reporter bawa laptop, handphone, internet, foto satelit dan bekerja dari ujung-ujung dunia … London, New York, Beijing, Hongkong, Singapore, Jakarta dan sebagainya. Sirkulasi harian The Star sekitar 100 kali lipat dari Flores Pos. Gedungnya lebih dari 17 tingkat dan percetakannya ada di beberapa kota.

Hitam putih. Di Flores Pos, kami mengetik ulang semua berita. Terkadang mutu fax buruk sehingga ada kalimat-kalimat tak terbaca. Saya harus berjuang keras untuk tak mengkhayal agar ada kutipan yang sexy.

Harap maklum. Setiap sore, para redaktur Flores Pos mengeluh soal berita “elitis” –berita yang intinya cuma mengutip pejabat, namun tak memberi ruang buat orang kebanyakan. Padahal warga kebanyakan Flores, Adonara, Solor atau Lembata, yang justru jadi tumpuan perjuangan Flores Pos. Kami ingin petani, pedagang, mahasiswa, pemuda dan orang biasa, bicara lebih banyak di halaman-halaman Flores Pos. Para pejabat kalau bicara juga banyak slogan, tak menarik, kering, atau meminjam istilah anak ABG Jakarta: OM-DO alias “omong doang.”


Saya bekerja untuk Flores Pos melalui kerja sama dengan Yayasan Pantau, sebuah organisasi nirlaba di Jakarta, yang bergerak di bidang pelatihan wartawan serta riset media. Swisscontact, sebuah organisasi dari Swiss, dengan kantor cabang Ende, membiayai kerja sama ini senilai Rp 150 juta setahun. Pantau mengirim dua konsultan pemasaran, empat konsultan editorial dan dua disainer. Harapannya, Flores Pos bisa tampil sebagai suratkabar yang lebih baik, dari segi editorial, bisnis maupun disain. Swisscontact ingin membantu Flores Pos memberikan informasi yang lebih bermutu kepada warga Flores.

Pekerjaan saya membuat "evaluasi harian" terhadap Flores Pos. Isinya, mulai dari bahasa yang birokratis ("kelaparan" disebut "rawan pangan" sedang "kemiskinan" disebut "ketertinggalan") hingga etika wartawan.

Saya usul Flores Pos membuat kriteria pemakaian referensi kedua. Misalnya, Frans Seda, referensi keduanya adalah “Seda” –bukannya “Frans.” Di Pulau Flores ada tradisi penggunaan nama keluarga. Maka saya usul Flores Pos menghormati tradisi ini. Nama depan, tentu saja, bisa memang biasa dipakai sebagai panggilan sehari-hari.

Usulan lain, Flores Pos tak memakai inisial dalam pemberitaan kasus kriminal namun meninggikan mutu wartawannya dalam bidang praduga tak bersalah. Inisial terbukti tak membuat masyarakat tak menduga-duga, dan seringkali tepat, siapa pemilik inisial.

Misalnya, pada kasus YZ dan ME, orang mudah menemukan bahwa Yahya Zaini adalah anggota DPR dari Partai Golkar, yang terlibat video mesra dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Atau pada kasus di Maumere, EPdG mudah ditebak adalah Eugene Paceli da Gomez, yang diduga ikut judi kecil-kecilan.

Kalau kita hendak benar-benar menyembunyikan identitas tersangka kejahatan, cara terbaik adalah tak menyebut inisial. Sebut saja seorang “politikus” baik pada kasus Zaini maupun da Gomez. Bukannya, “anggota DPR” atau “wakil ketua DPRD Sikka.”

Di Jakarta, memang berlaku kode etik jurnalisme formal, dimana nama lengkap seorang tersangka baru diungkap penuh bila hakim sudah bikin vonis. Kode etik ini terbukti tak ditaati media Jakarta. Proses peradilan kita sangat berbelit-belit dengan prosedur panjang. Lantas siapa pun tahu bahwa peradilan Indonesia, karena prosedurnya yang sulit, lebih menguntungkan orang yang punya uang buat bayar pengacara. Orang yang tak punya uang umumya dirugikan pengadilan. Jadi, mengapa kita harus mendasarkan pemakaian nama atau inisial kepada proses peradilan macam begini?

Frans Anggal, pemimpin redaksi Flores Pos, minta saya juga membantu penyuntingan feature serta melatih para koresponden selama dua hari. Pantau juga membantu Anggal agar bisa lolos seleksi pelatihan pemimpin media di Melbourne tahun depan. Stef Tupeng Witin bulan depan ikut kursus penulisan di Jakarta. Harapannya, wartawan-wartawan lain juga ikutan.

Manajemen Flores Pos sendiri bicara soal ingin bikin naik sirkulasi harian dari 4,000 hingga 7,000 eksemplar setahun lagi. Direktur Keuangan PT Arnoldus Nusa Indah Wilfrid Kromen, yang menangani keuangan Flores Pos, bicara soal kemungkinan cari mesin cetak bekas untuk ditempatkan di Pulau Lembata dan Ruteng. Ini bukan kerja gampang. Harga satu mesin kira-kira Rp 2 milyar.


Flores Pos penting karena ia harian independen. Ia bukan milik konglomerat media di Jawa. Media di Indonesia kebanyakan pemiliknya orang Jakarta. Lebih dari 90 persen isi berita mereka, dari Sabang sampai Merauke, ditentukan oleh media yang siaran atau terbitannya, dimiliki orang Jakarta.

Entah itu Kelompok Kompas Gramedia. Entah itu kelompok Tempo Jawa Pos. Entah itu milik Media Nusantara Citra. Indosiar, SCTV, Trans TV, Metro TV dan kelompok Femina.

Gramedia memiliki lebih dari 30 harian di seluruh Indonesia. Kelompok Tempo Jawa Pos punya lebih dari 140 suratkabar. MNC menguasai RCTI, TPI, Global TV maupun jaringan radio Trijaya dan koran Seputar Indonesia. Harian Serambi Indonesia di Aceh misalnya, bukan milik orang Aceh, namun milik Gramedia. Sama dengan Pos Kupang. Tempo Jawa Pos mengembangkan jaringan radar-radar, dari Radar Jember hingga Radar Lampung.

Semua terpusat dari Jakarta. Standar kerja sama. Manajemen sama. Penilaian kerja sama. Cara mencari wartawan sama. Mutu kerja sama. Sama buruk, sama baik. Mereka berlomba-lomba menguasai pasar sembari menekan biaya. Wartawan ditekan gajinya agar mereka bisa menguasai pasar lebih banyak.

Harian Flores Pos lain. Harian ini hanya terbit 16 halaman tapi mengisinya dengan 80 persen berita lokal. Ia punya enam biro, masing-masing dua reporter. Total ada 16 wartawan. Ini usaha luar biasa (walau ia masih curi-curi “berita nasional” dari internet).

Di Indonesia, bisa dihitung dua tangan, harian lokal tapi milik Jakarta, yang mengisi beritanya macam Flores Pos. Kebanyakan hanya ambil bahan berita dari induk mereka di Jakarta atau Surabaya, lalu membayar empat atau lima wartawan, guna mengisi halaman lokal. Disain pun sama, dari Jawa Pos di Surabaya hingga Cenderawasih Pos di Jayapura. Bayangkan isi Flores Pos kalau jumlah reporter dan redakturnya cuma lima orang?

Kerja di Ende ini melelahkan. Setiap tengah malam, badan saya capek, masuk kamar kost untuk tidur. AC mati dan tukang AC, kerjanya minta ampun lambat. Kamar pengap. Namun setiap pagi pula, saya hendak cepat-cepat bangun, melihat koran hari ini, melihat disainnya, melihat mutu cetakan dan menunggu hasil penjualan. Ada seorang penjual koran yang suka cerita berapa koran dijualnya hari ini?

Ada gairah. Ada pengorbanan. Belum lagi melihat Frans Anggal, Hieronimus Bokilia, Inno Making dan lain-lain, yang juga sudah muncul di kantor, pagi-pagi sekali. PT Arnoldus Nusa Indah masih rugi. Tapi saya percaya, Flores Pos mencoba melakukan yang terbaik, melayani warga Flores, dengan segala keterbatasannya. Anggal pulang malam ketika anak-anaknya sudah tidur.

Air ledeng sempat tiga hari mati. Saya berhemat air, cukup hanya untuk buang air, kecil dan besar. Mandi di Pantai Ria. Makan dan minum juga harus hati-hati kalau tak mau sakit perut. Ada wabah diare. Tapi dari Jl. El Tari inilah, saya belajar makin menghargai kerja keras wartawan-wartawan kota kecil. Jurnalisme justru menunjukkan mutu dan pengabdiannya ketika ia bergerak lurus dengan segala keterbatasan dan kesulitannya. Ini sebuah keanggunan.


Andreas Harsono direktur Yayasan Pantau, organisasi media Jakarta, yang kini membantu manajemen Flores Pos, bekerja sama dengan Swisscontact, di bidang editorial, pemasaran dan disain. Naskah ini mulanya dimuat di halaman opini harian Flores Pos

Wednesday, December 20, 2006

Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka

Oleh Taufiq Ismail

Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membukalebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru. Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial — ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. "Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan." Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten. Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan "gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan." di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat - sastra dan -sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: "Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?" Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta — 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD, kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang/tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab "karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya." Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi. Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya. Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP. Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya. Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, "Kalau cerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya." Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini. Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi. Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis. Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal. Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis-syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang. Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pascareformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya. Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan. Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan.

Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya "vagina yang haus sperma". Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani. Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.

Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan. Kalimat bersayap mereka adalah, "This is my body. I'll do whatever I like with my body." "Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini." Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran. Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang
dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

Penutup

Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet-dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.


Pidato kebudayaan Taufiq Ismail di depan Akademi Jakarta pada 20 Desember 2006

Sunday, December 17, 2006

Listrik Mati Flores Pos


Lagi asyik-asyiknya menyunting feature tentang politik lokal Pulau Flores, sembari menunggu seorang reporter menyelesaikan berita tentang kasus pemerkosaan seorang gadis 18 tahun oleh beberapa lelaki di stadio Marilonga Ende, eh ... listrik padam. Semua jaringan komputer tak ada sistem pengaman UPS. Semua data yang belum disimpan hilang.

Saya nyaris mengeluarkan koleksi kebun binatang saya plus nama seluruh pembunuh massal, kalau tak ingat, bahwa mereka yang kerja di ruangan ini, ruang redaksi harian Flores Pos, hanya teriak, "Wah wah ...." Santun sekali.

Sekitar 15 orang yang kerja di ruang redaksi keluar, menuju pelataran depan kantor, merokok, makan snack, sedikit memaki dan menunggu listrik menyala. Frans Obon, redaktur pelaksana, bilang, "Ya begini ini Mas, koran kota kecil."

Listrik mati hampir seminggu dua atau tiga kali di Ende. Deadline molor hingga tengah malam. Naik cetak dari pukul 2:00 jadi pukul 3:00. Koran belum muncul hingga pukul 7:00 dari percetakan milik PT Arnoldus Nusa Indah.

Inilah salah satu pengalaman kerja di harian Flores Pos. Ada selusin wartawan, selusin komputer tua, tanpa satu pun kamera, sambungan internet jalan kayak siput (maaf ya siput). Para koresponden, dari Pulau Lembata, dari Maumere, dari Manggarai, Labuhan Bajo dan sebagainya, mengirim berita dengan tulisan tangan dan mesin fax.

Kami di ruang redaksi mengetik ulang semua berita. Terkadang mutu fax buruk sehingga ada kalimat-kalimat tak terbaca. Maka saya harus berjuang keras untuk tak menggunakan khayalan saya agar ada quotation yang lebih sexy.

Harian ini hanya terbit 16 halaman tapi mengisinya dengan 80 persen berita lokal. Ini usaha yang luar biasa. Di Indonesia, bisa dihitung dua tangan, harian lokal yang mengisi beritanya macam Flores Pos.

Air ledeng sudah tiga hari mati. Saya berhemat air, cukup hanya untuk buang air, kecil dan besar. Mandi di tempat umum. Makan dan minum juga harus hati-hati kalau tak mau sakit perut. Ada wabah diare. Tak ada sumur pula.

Duh Gusti, seandainya, ada orang budiman yang mau memberi sumbangan kamera dan komputer baru .... Saya makin menghargai kerja keras wartawan-wartawan di kota kecil.

Wednesday, December 13, 2006

Indonesia's Chinese Emerge After Years of Discrimination

International Herald Tribune

By Thomas Fuller

JAKARTA - It wasn't so long ago that Chinese writing was banned from public places here and Chinese schools and newspapers prohibited. But walk into the former office of Suharto, the retired Indonesian strongman who maintained these laws in an attempt to integrate the ethnic Chinese community, and a large decorative poster of Chinese characters greets visitors.

"In the old days I would have been arrested for this," said Dino Patti Djalal, an adviser to the government and the current occupant of Suharto's office as he glanced back at his poster. "This shows the progression of Indonesia," said Djalal, who is not Chinese. "We now take multiculturalism as a given in life."


A traditional Chinese dragon dance, which would have been prohibited not too long ago, was part of Indonesian independence day celebrations earlier this year.

Bay Ismoyo/Agence France-Presse


After centuries of segregation, periodic violence and tension over their higher levels of wealth, Indonesia's Chinese community, which is estimated to make up 1 to 2 percent of the country's population of 245 million, is now enjoying what many are calling a golden era.

"The situation of the Chinese has never been as good as today," said Benny Setiono, the head of the Chinese Indonesian Association, a nonprofit group that represents the community. "We feel more free, more equal."

As someone whose forebears arrived here from China something like eight generations ago — he has lost count — Setiono speaks with authority when he says the Chinese community is more secure than it has ever been, just eight years after anti-Chinese riots, part of the unraveling of Suharto's authoritarian rule, left scores of Chinese dead and shops burned.

One of the main reasons for optimism today is a fundamental change in Indonesian law: The country has redefined what it means to be a "native."

A citizenship law passed earlier this year proclaims that an indigenous Indonesian is someone who was born here to Indonesian citizens, a radical departure for a society that separated the Chinese in one way or another through colonial times and more recently during Suharto's 33-year reign that ended just after the riots in 1998.

Other laws have erased the preferential treatment for "pribumi," or indigenous groups, in bank lending and the awarding of government contracts, a policy that still exists in Malaysia, where racial tensions are creeping higher.

In the eight years since Suharto stepped down, Indonesia has dropped the draconian rules that banned expressions of Chinese culture and adopted Chinese New Year as a national holiday.

The horrors of anti-Chinese violence in 1998 were the prime impetus for the legal overhaul. But Indonesians also realized that espousing the concept of a "native" could be explosive for everyone, not just the Chinese.

"The question of who was here first became very dangerous," said Andreas Harsono, a journalist researching a book on nationalism in Indonesia. "The logic has been manipulated by many politicians."

The so-called transmigration policies of Suharto had dispersed hundreds of thousands of families, mainly Javanese, across the archipelago, creating conflicts with other ethnic groups.

Today, instead of using the word "pribumi," some Indonesian politicians claim they are "putra daerah," or local sons, and contrast this with "pendatang," or newcomers. A country that sometimes seems to have as many ethnic groups and dialects as inhabited islands (about 6,000) will probably never be clear of racial rivalries, but tensions are nowhere near the levels of a few years ago.

As late as last year, a U.S. court of appeal ruled that the threat of violence was enough to justify a Chinese Indonesian to seek asylum.

Today in Glodok, a warren of warehouses not far from Jakarta's old port that was badly damaged during the 1998 riots, a consolidated peace now reigns. Chinese shop owners and their employees say they cannot recall any racial arguments breaking out in recent years.

"I don't feel any tension," said Phie Ching Huat, the manager of Inticom, an electronics shop. Phie, whose Indonesian name is Sukino, says many ethnic Chinese families now send their children to schools that teach Chinese dialects, mainly Mandarin. And with the rise of China as a world power, learning Chinese is becoming popular among Indonesians of all ethnicities.

"You can hear Mandarin and Cantonese everywhere," said Phie, whose relatives' shop was burned during the riots.

Indonesians say mentalities are also changing here, especially the notion that all Indonesian Chinese are rapaciously rich, a common perception during the Suharto years when a select group of Chinese cronies controlled large, high-profile businesses.

Tension involving overseas Chinese has been a recurring theme in Indonesia and throughout Southeast Asia, both before and after countries in the region became independent. Like Jews in Europe, the Chinese were often traders or financiers, and many, although far from all, achieved commercial success.

During the days of Mao Zedong in China, overseas Chinese were looked upon with suspicion in Indonesia, and tens of thousands were killed in anti- Communist massacres of the 1960s.

This is now all ancient history for some young people. "There are some very rich Chinese, but there are some very poor Chinese, too," said Sayidah Salim, a 20-year-old student at the Islamic State University, outside Jakarta. "If people want to work hard they will earn more money."

Djalal, the adviser to the government, credits the Chinese government for changing attitudes inside Indonesia about the country's Chinese minority. "They are projecting a very friendly, benevolent face," he said, referring to Beijing. Like many other countries in the region, Indonesia is wooing tourists from China.

Setiono, of the Chinese Indonesian Association, says his organization is reaching out to poorer Indonesians of all ethnicities and providing food and medicines. Ethnic Chinese, he says, also need to be more mindful of the wealth gap and must work to reduce it if racial harmony is to be maintained.

As attitudes change, so does language. The word "pribumi," which was spray-painted on buildings during the 1998 riots by non-Chinese owners who wanted their homes or businesses spared, is heard much less frequently today. Pribumi organizations that were once predicated on ethnic distinctions have sought different vocations. The Indonesian Indigenous Business Association, a group that once lobbied for preferential treatment for pribumis, now has an ethnic Chinese vice-chairman and focuses on improving the lot of small and medium-size companies.

"We don't want to be associated with a racialist identity," said Suryo Sulisto, the head of the business association, which goes by the Indonesian acronym Hippi.

Sulisto says a small minority of hard-liners in the association, which has two million members, are still seeking preferential treatment for pribumis — in effect, non-Chinese companies. But their voice is weak, he said.

"I was able to convince them that in the 21st century you can't fight for something that is discriminatory," Sulisto said.

Indonesian Chinese will continue to live with the memory of the 1998 riots for many years. Susanto, an ethnic Chinese wholesaler interviewed in his office, searched through his laptop for a widely distributed video of the anti-Chinese violence and projected it onto his wall. "I'm not showing you this to scare you. It's to remember," he said when images of looters ransacking stores came into focus.

Ethnic relations have improved so much, Susanto said, that he has no complaints today.

"Day to day there is no discrimination," Susanto said. "I think we have a good future here."

Monday, December 11, 2006

Ganti ke Beta Blogger

Pagi ini saya mengganti template blog ini ke versi baru. Ini tampaknya digabung dengan Gmail. Kelihatannya sih lebih modern walau penampilan luar masih sama. Saya lihat lebar layar lebih kecil. Back office namun lebih canggih. Mungkin selama beberapa waktu ada gangguan visualisasi atau lainnya. Saya juga lagi mau menambah beberapa menu tanpa mengganti sajian utama. Saya mohon maaf bila terganggu. Saya harap perubahan ini bisa segera saya atasi. Terima kasih.

Sunday, December 10, 2006

Inglish - Indonesian English


What is Inglish? Well, simply, it should be Indonesian English. And Indonesia has many languages. So these funny sentences also come, at least, from some Java-based languages. I got these quotes from various sources:

Javelish The typical Javanese language: lho, lha, tho, kok, iki

- Lho, I already bought that book!
- Kok, buying again?
- I told you many times tho!
- Lha, I didn't know ... how iki?
- Don't be like that, no!?

Jakartenglish Jakarte English is marked by the exclamation words: sih, deh, dong, nih

- That book is very good, deh.
- Can you speak English? Yeah a little sih I can!
- Use my money first nih.
- Give me more dong.
- How sih? Little little angry.

Surobenglish is marked by tah and the famous remark diancuk

- "No fucking good" is translated as "No diancuk good"
- Do you feel sick, tah ?

Sundanglish is also available such as atuh, euy, mah

- Well, if that kind, it's pretty so-so atuh
- It can't be that way euy.
- I am mah, not like that ... but anything else

Wednesday, December 06, 2006

Murder at Mile 63 - The Ambush

Part Two of Three Series

By S. Eben Kirksey and Andreas Harsono

In early August 2002, Antonius Wamang started out on foot with at least six other men, including Johny Kacamol, Yulianus Deikme and Elias Kwalik, from a jungle camp near Kali Kopi (Coffee River) . Their destination was the main road that connects Tembagapura, the mining town of Freeport McMoRan, to Timika, a sprawling urban center in the lowlands. It is a piece of the 79-mile road that connects Grasberg, Freeport’s highest mining site, at mile 79, down to the Amamapare port site.

According to Wamang, the journey took nearly three weeks. Wamang, and his men, were preparing to launch an armed assault on Indonesian military troops traveling on this road. The group set up a temporary camp in a ravine below mile 63 of the road.

One of Wamang’s co-conspirators named Hardi Tsugumol was also very busy getting ready for “an action” on the road, according to Deminikus Bebari, who heads the Human Rights Bureau of the Amungme Indigenous Council (Lemassa) in Timika. In the weeks leading up to the ambush Tsugumol “amassed food and other supplies,” wrote Bebari, in a 2002 report prepared for Indonesian police investigators. Bebari interviewed Tsugumol several times.

When Hardi Tsugumol was a boy, growing up in an Amungme village, he wanted to be an Indonesian soldier. As an adult, Tsugumol cultivated relationships with active duty Indonesian soldiers stationed in Timika. He once worked in a lobster company in Biak and later moved to the island of Java, marrying a Javanese woman. The couple separated and Tsugumol’s wife maintained custody of their only child. Tsugumol returned to Timika alone. In the lead up to the ambush Tsugumol “contacted his friends in the military to buy ammunition—300 bullets for 600,000 Rupiah, via his friends who were in Kopassus and Brimob,” wrote Bebari.

On Saturday 31 August 2002, just before dawn, three men, including Tsugumol, were “picked up at the Kwamki Lama neighborhood by a white Toyota Land Cruiser from Freeport’s Emergency Planning Operation (EPO) division,” wrote Bebari. The EPO is a Freeport division that provides logistical, transportation and communication supports for the more than 3,000 Indonesian security personnel stationed in the area. Tsugumol, who died in prison last Friday, declined to reveal the vehicle’s driver, saying that he has to protect his “friend.” He only admitted to Bebari on his deathbed that they had traveled along the Timika-Tembagapura road, past five checkpoints, on the morning of the attack.

The 79-mile road has 14 military posts manned by various units such as Kopassus special forces, Kostrad army reserves, the Marines, the Air Force’s Paskhas elite unit, the Army Battalion 752, the Army’s Cavalry, as well as Brimob (Mobil Brigade) police troops.

Decky Murib, an Amungme informer who later changed his story, told police investigators that 10 soldiers picked him up at Hotel Serayu in Timika at 8 am that same day. Murib said that he was surprised to see Kopassus Captain Margus Arifin leading this group. “He was supposed to be in Bandung,” said Murib. Formerly, Arifin had been the Kopassus liaison officer at Freeport’s EPO office. Murib told police investigators that Arifin brought him in a car with license plate number 609 through the Freeport checkpoints and dropped him, with four solders at mile 62 of the Tembagapura road. Arifin reportedly continued north along the road with the remaining solders.

Freeport operates its check points to register every car and person traveling along the road. Workers have to show their employee ID cards at the checkpoints. Locals have to show special permits issued by Freeport’s Community Liaison Office. There are also special Freeport-issued visitor cards. “Only the soldiers usually refuse to report at the checkpoints,” said Lexy Lintuuran, Freeport’s corporate security chief. According to Linturan a car with the license plate 609, the car Decky Murib claims he was in, passed through the checkpoints on the Timika-Tembagapura road on the morning of the attack.

That morning a group of school teachers from the Tembagapura International School at mile 74, went on a picnic around mile 62 of the road. The rugged terrain around this high-elevation section of the road is covered by old-growth cloud forest. Patsy Spier, who was part of this picnic with 10 others, said that it was rainy and foggy. “We ended up leaving the picnic early,” said Spier.

The teachers traveled in two white Toyota Land Cruisers. Rick Spier, her husband, drove the first SUV with four colleagues riding as passengers. Ted Burgon, the school’s principal, sat next to Rick Spier. Patsy traveled in the second car driven by Ken Balk. She sat next to Bambang Riwanto, her Javanese colleague.

When Antonius Wamang, and his men, approached the ambush site, the group was carrying three weapons. “We had one M16, one SS1, and one Mauser,” Wamang said. One white Freeport SUV went by, and then another filled with men in camouflage. They did not shoot. When a third car passed, they thought that Indonesian troops might also be inside. They opened fire. But, they were wrong about the identities of the passengers.

Pasty was traveling in the second SUV. Suddenly, in the fog, Patsy saw her husband’s car stopped by the side of the road. Another car was speeding towards her on the opposite side of the road. They ran Rick’s car off of the road, Patsy thought. Turning around in her seat to get a good look at its license plate, Patsy felt a sharp stab in her side. She had been shot. The windshield shattered. Blood splattered all over the SUV interior.

Wamang does not know who fired the first shot. In the initial burst of gunfire it was hard to tell who was shooting. “With everyone shooting, you can’t hear well ... If I had shot first, then I would have been able to tell,” recalled Wamang.

The first shots, fired by a sniper at a moving car, were deadly. They came from straight in front of the first car. The windshield of Rick Spier and Ted Burgon’s car exploded. Within moments they both sustained fatal wounds. Wamang’s group—a rag-tag band of teenagers and men with limited weapon training—shot at the cars from the side. They wore black shorts, black t-shirts, and black plastic headbands. They were all barefoot.

“I did not see the shooters,” said Patsy Spier. Ken Balk, in the same car as Patsy, saw a pair of black army boots underneath a truck, some 20 yards away from where their vehicle had come to a stop. He feared the boots would start coming closer. Three other vehicles, a yellow Mac truck and two Canadian Pacific dump trucks, were also riddled with bullets.

“All of us were shot, wounded. Bambang was laying on top of me, bleeding. I was worried about my husband but the shooting just continued,” said Spier. Bambang, a Javanese school teacher, died in the attack. Two weeks later, Bambang’s wife, Happy, gave birth to their baby boy in Jogjakarta. Among the 11 people who were wounded in the attack, there were three Indonesian drivers. The two drivers who were seriously injured, Loudwyk Worotikan and Johannes Bawan, were employees of a Freeport contractor company. Mastur, the third driver, sustained light injuries.

Another pick up truck was also shot but its driver, Daud Tandirerung, managed to speed away from the crime scene. Two colleagues, Yohan Jikwa and Kamame Moom, were riding with Tandirerung. They told investigators that they saw “two men in ski masks.” According to witnesses, and a reconstruction by police investigators, the shooting lasted between 30 to 45 minutes.

Wamang’s men were edgy. They did not approach the stopped cars. “We weren’t there very long. We immediately retreated,” Wamang told us. We asked him, “Were you there thirty minutes?” “No,” he said, “30 minutes is way too long.” Of the six magazines given to Wamang by Sergeant Puji, only 1½ magazines (about 45 bullets of 5.56 caliber) were used by his men that day. As Wamang’s group retreated, the other unknown gunmen continued shooting. No one followed as they beat a hasty retreat on foot.

Decky Murib, the Kopassus informer who later changed his story, said that he had heard some shots while he was waiting, and drinking, at mile 62. Infantry Captain Margus Arifin later picked him up again and told him that “your people (TPN) are responsible for those shots.” Arifin denies Murib’s testimony, saying that he was in Bandung.

A total of thirteen guns were used in this assault on the five cars, according to a ballistics report issued by the Police Central Forensic Laboratory (Pusat Laboratorium Forensik Polri) on 19 December 2002: six SS1s, five M16s, and two Mausers.

Ch. Syafriani, one of the Lab’s ballistics experts, reiterated the data contained in this report on 29 September 2006 in the Central Jakarta district court —the lab analyzed 30 bullets of 5.56 caliber, 77 bullet fragments, 94 bullet casings of 5.56 caliber, 7 bullet casings of 7.62 caliber. A total of 208 bullets, shells, or fragments were recovered from the crime scene.

Wamang’s account of his weaponry is consistent with the evidence presented by chief prosecutor Anita Asterida: his group carried a total of three guns. The prosecution did not account for the ten other guns that were shot into the teacher’s vehicles.

Was there another group of shooters? Is there a clear motive for another group to launch an attack? These questions were not addressed by the Indonesian courtroom that recently found Wamang guilty. An Indonesian police investigation questioned 30 soldiers, 44 civilians, and conducted extensive forensic research. These police investigators found “a strong possibility” that there were Indonesian military shooters.

Wamang told us that other gunmen were present. He saw other men shooting into the cars, but he could not clearly identify them. “The testimony of Anton Wamang and others at the crime scene is clear and consistent: there was a second group of shooters,” says Paula Makabory, a human rights worker in Timika who repeatedly interviewed Wamang over the course of three years in conjunction with government investigators.

Why would the Indonesian military stage an attack at the Freeport mine? Freeport paid a total of US$5.6 million in 2002 for “support costs for government-provided security.” The Sarbanes-Oxley Act of 2002 imposed new reporting requirements on U.S. companies in the wake of the Enron corporate accounting scandal. After this measure was passed into law, Freeport was forced to disclose their payments to the Indonesian military. Under public scrutiny, Freeport began reducing official and unofficial payments to Indonesian security forces. The August 2002 attack may have been orchestrated by the Indonesian military in a bid to convince Freeport of their continued need for security. Senior Freeport officials are well aware that the Indonesian military may have had a role in the murders at mile 63. Subsequent to the attack the Indonesian police have been given an increased role in security at Freeport.

Andrew Neale, a Freeport expatriate, came upon the ambush site from the north. Neale jammed his vehicle into reverse and drove back to the Kostrad military post about 500 meters away at mile 64. According to Lexy Lintuuran, Freeport’s security chief, there is a Kostrad company stationed there. “It has more than 100 soldiers,” said Lintuuran. Why didn’t the Kostrad soldiers come sooner? Did they hear the 30-45 minutes of gunfire?

When the soldiers finally did arrive at the scene, the attackers melted away. The newly arrived soldiers briefly fired their guns. Then the shooting abruptly stopped. “I assumed that the shooters left after the TNI came,” said Patsy, using the acronym of the Indonesian military. She remembers a soldier, dressed in full camouflage and black boots, who stood over her, glaring down. Victims were immediately transported to a nearby hospital and soon evacuated to bigger hospitals in Australia and Indonesia.

On 1 September, one day after the attack, the body of Elias Kwalik (aka. Mr. X) appeared near the crime scene. Senior Indonesian military officers claimed that their troops had shot one of the Papuan guerrilla attackers. Kopda Wayan, an Indonesian soldier with Satgas Pam 515 Kostrad, claimed to have shot Kwalik while patrolling a mountain near the crime scene at 11:40 am.

At 1:30 pm senior military and police officials—including police chief I Made Mangku Pastika—arrived at the side of the road where Kopda Wayan was standing with the body. There were no blood stains on the ground near the body. The body was sent to the Tembagapura hospital at 3:30. Dr. Kunto Rahardjo conducted an autopsy. He concluded that Mr. X had been killed more than six hours before he was examined at the hospital. Mr. X had not eaten for more than 12 hours before his death. He had suffered from a severe intestinal worm infection and had a condition called hydrocele which caused his testicles to swell to 17 cm in diameter.

Kopda Wayan claims that Mr. X was standing on a small ledge approximately ½ meter in width on the side of a steep cliff when he shot and killed him. A police reconstruction conducted on 10 September 2002 found no blood stains on the ledge, at the base of the cliff, nor along the route where Kopda Wayan and his patrol members reportedly dragged the body. The Timika-Tembagapura road is 78 meters from the base of the cliff. This rugged terrain is covered with dense roots and loose rocks. The police reconstruction deemed Wayan’s story implausible. The body reportedly fell 8 meters off the cliff, yet did not have any broken bones.

The 29 December 2002 report by Indonesian forensics experts found that the blood type of Mr. X was “O” and that dirt and leaves from the site where Wayan claims to have shot the man did not contain any blood of this type.

The body of “Mr. X”—a fourth murder victim at mile 63—is evidence of crime scene doctoring by the Indonesian military. More questions remain. Did the FBI earnestly pursue evidence of Indonesian military involvement? Why did the Indonesian military sue reporters, doctor the crime scene, intimidate witnesses, and conduct a sham reconstruction?

Gank Jomblo

Bukan Sekedar Kumpul, Makan dan Ngegosip

Nurul Hayat

PONTIANAK -- Berawal dari persamaan nasib, kebutuhan kerja dan semangat berbagi. Mungkin itulah yang membuat kami berkumpul dalam satu ikatan. Satu tongkrongan yang biasa kami sebut Gank Jomblo. Jomblo dalam bahasa gaul berarti orang yang belum punya pacar atau pasangan.

Gank Jomblo terdiri dari para wartawati di Pontianak. Mereka adalah Leavy, Yanti dan Evy Tanderi (Pontianak Post), Sapariah (Equator), Ansela Sarating (Radio Volare), Kristin Boekit (TVRI), Eva (radio Sonora), dan saya sendiri dari Antara. Namun anggota gank sesungguhnya tidak mereka saja. Terkadang ada juga Helen (mantan reporter Sonora). Ia sesekali bergabung, karena sibuk mengurus bisnis baru di bidang pendidikan sebagai guru privat.

Nama Gank Jomblo berawal dari pikiran Ansela Sarating, kami biasa memanggilnya Xela. Menurutnya, kalau kami kumpul selalu ramai. Bicara mengenai liputan seperti, ekonomi, politik, hukum dan kriminal, merupakan menu sehari-hari. Tak ketinggalan, dan ini juga menjadi menu pokok perempuan: gosip dan penampilan.

Gank Jomblo, menurut Xela, memiliki “induk” yaitu Wakil Gubernur Kalimantan Barat LH Kadir … juga jomblo. Xela menambah nama gank menjadi, “Jomblo Ijo Lumut" (hijau dan imut-imut, gitu lho..). Kalau Kadir memang jomblo tapi tidak hijau dan tidak imut.

Tak ada yang tahu pasti, kapan munculnya Gank Jomblo. Nama itu tiba-tiba muncul. Semua berawal dari ledekan sesama wartawati di Pontianak. Kebetulan dari kami, banyak yang belum punya pacar. Tak heran bila salah seorang teman, Sahat Oloan Saragih, wartawan Suara Pembaruan, menjanjikan, “Jika salah satu dari kalian bisa menikah tahun 2003, saya akan menyiapkan undangan pestanya.”

Kenyataannya, tidak ada satu pun dari kami menikah. Jadi sayembara itu, tentu saja, tak ada pemenangnya. Hehe…..resek banget, Sahat.

Ada yang khas dari Gank Jomblo. Kami selalu ber-SMS untuk ketemu makan siang. “Kumpul di Tjutjuk jam 12.00, teng ya…”

“Otre, menyusul….”

“Lagi di mana nich? Kok belum muncul?”

On the way, sebentar lagi sampai ….”

Begitulah kira-kira bunyi SMS kami. Kenyataannya, pertemuan itu selalu ngaret, seolah menjadi tradisi. Tak heran bila kedelapan anggota gank tak bisa lengkap untuk kumpul. Biasanya yang paling sering telat adalah Ari, panggilan Sapariah. Dan dia juga yang kemudian memopulerkan istilah “on the way."

Alasan keterlambatan sederhana saja. “Mandi atau salat dulu, baru keluar rumah,” kata Ari. Akhirnya, kami pun terbiasa dengan alasannya dan tak begitu mempermasalahkan. Ari redaktur di harian Equator. Ia biasa pulang tengah malam bahkan hingga dinihari. Tak heran bila tidurnya pun sampai siang. Padahal dia tak ada kerjaan di rumah. Mencuci pakaian, masak dan membereskan rumah, sudah ada yang mengerjakan. Ya itu….mamaknya sendiri.

Berbeda dengan Ari, kami selalu berangkat pagi hari untuk liputan. Entah itu di kantor gubernur, gedung DPRD, atau mengikuti seminar di hotel. Ikut seminar berarti makan gratis. Asyik kan. Jika sudah jam makan siang dan tidak ada seminar, kami pun dengan cepat berangkat menuju kantin Bu Tjutjuk, di Jalan Halmahera.

Kantin itu tempat berkumpulnya banyak orang. Ada yang datang untuk makan siang. Sekedar ngopi sambil main catur. Ada juga yang hanya cuci mata. Penampilan pengunjung kantin beragam. Ada yang bersandal jepit, tapi banyak juga yang tampil modis dengan make up tebal dan berdasi.

Saya biasa nongkrong di kantin Bu Tjutjuk. Kebetulan saya tamatan SMA I yang bersebelahan dengan kantin. Situasi nongkrong semasa sekolah dan kerja tentu beda. Bila semasa sekolah harus bolos atau sehabis olah raga, baru bisa nongkrong. Saat kerja, nongkrong di kantin Bu Tjutjuk berarti cuci mata dan tukar informasi liputan.

Kalau lagi kumpul dan bicara masalah liputan ekonomi, Ari ibarat Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kristin seperti Wakil Gubernur Bank Indonesia Miranda Gultom, dan Xela menjadi Menteri Perdagangan Mary Elka Pengestu. Kalau membahas masalah ekonomi, Ari dan Kristin jadi orang paling ramai. Saling debat tanpa peduli kiri dan kanan. Sedang lainnya, sesekali menimpali dengan canda.

Paling seru kalau bicara gosip. Apalagi kalau Yanti dan Kristin kumpul. Mereka seperti anjing dan kucing. Selalu saling ledek. Suasana kantin rasanya tambah hangat saja. Sesama anggota gank juga jadi bahan gosip. Misalnya, hari itu tak ada Kristin, maka kami menggosipkan dia. Begitu juga dengan yang lain. Orang yang tak hadir hari itu, akan menjadi bahan gosip terhangat.

Selain suka kumpul, Gank Jomblo juga sering liputan bareng ke luar kota. Suatu saat kami liputan soal tenaga kerja Indonesia di Kuching, Sarawak. Selain ada Ari, Xela, Helen, saya, juga ada Eka Sugiatmi (Pontianak Post).Lucunya, kami menginap di hotel murah. Bayarnya mesti patungan berlima untuk satu kamar. Kamarnya berada di lantai empat. Untuk sampai ke kamar, harus naik anak tangga terjal. Kalau habis liputan atau belanja di India Street, kami menentang bungkusan belanja yang besar-besar.

Ada dua orang punya kegemaran belanja: Ari dan Eka. Ari selalu membawa oleh-oleh buat keluarga atau temannya. Kemana pun liputan atau untuk suatu urusan, dia selalu membungkus oleh-oleh dalam plastik besar. Biasa disebut plastik kresek. Terkadang ia kerepotan membawanya. Tapi, Ari tak pernah merepotkan temannya. Dia selalu membawa bungkusannya sendiri. Ari tak pernah minta bantuan kami.

Pulang belanja sambil membawa plastik hitam, tentu saja, mengundang perhatian banyak orang. Pernah sekali waktu, ketika hendak menyeberang jalan di Kuching, seorang pengemudi mobil pick up membunyikan klakson menyapa kami.

“Wah, kita dikira TKI gara-gara bawa bungkusan plastik,” kata Helen.

Di Gank Jomblo, Ari dan Xela dikenal “pemabuk”. Kalau pergi naik mobil selalu pusing-pusing dan ingin muntah. Kami sering mencandainya, “Wah tidak punya bakat jadi orang kaya.”

Dengan kepindahan Ari ke Jakarta, kami tentu tidak bisa memastikan, apakah kebiasaan mabuknya masih berlangsung. Kalau masih, wah, kasihan sekali Ari. Tak bisa menikmati naik angkot, karena khawatir mabuk lagi… Ah, mabuk lagi… Kacian deh.

Di Gank Jomblo, Ari dan Leavy paling kompak. Kalau boncengan motor saat meliput, sepanjang jalan selalu bernyanyi. Lagunya macam-macam. Tentu saja, yang berbau pop anak muda.

Ari sering membujuk Leavy, kalau sedang merajuk. Levy gampang menangis, walaupun badannya paling besar. Sementara Ari, dikenal paling kuat. Saat ayahnya meninggal, ia kuat dan tidak menangis. Selain gemar menyanyi saat naik motor, mereka juga mahir ber-sms-an. Tanpa peduli lalu lintas dan kendaraan di sekitarnya. Tangan kanan memegang gas, tangan kiri memegang telepon genggam membalas sms.

Soal sms sambil pakai motor, Ari memang ahlinya. Saya mengakui ini. Pokoknya di Gank Jomblo, Ari jadi maskot. Banyak cerita lucu ketika bersamanya. Tapi Gank Jomblo ada pasang surutnya. Sejak kepindahan Xela ke Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, karena diterima menjadi PNS, disusul Ari pindah kerja ke Jakarta, dan Vhe lulus test PNS Pemda Kalbar, jumlah anggota gank pun semakin berkurang.

Satu persatu anggota gank memiliki pasangan hidup. Diawali pernikahan Vhe, lalu saya. Dalam waktu dekat, Ari dan Yanti juga menyusul. Kami pernah membuat foto bersama di studio. Mungkin hal itulah yang menjadi bukti, bahwa Gank Jomblo dengan delapan personilnya, pernah kumpul bareng.

Ketika melihat foto itu, pikiran saya pun menerawang. Ada rasa suka, duka, haru, dan semua perasaan itu bercampur aduk. Foto itu menyisakan pertanyaan. Bagaimana kabarmu sobat?

Friday, December 01, 2006

Mahasiswa Makan Pizza


Jumat ini, ada kejadian agak di luar kebiasaan. Sekitar 20an mahasiswa IAIN Ar Raniry, berkumpul di Pantau Aceh, makan Papa Ron's pizza: peperoni, black pepper, thai garlic.

Tujuannya, mereka hendak melihat cara riset via internet. Ada Dave Bloss, Jody McPhillips, Sophie, Samiaji Bintang dan lainnya. Nama-nama belakangan ini adalah dosen tamu jurnalisme di IAIN Ar Raniry. Kami bergantian mengasuh dua kelas, rata-rata tahun ketiga, sekitar 30-an mahasiswa.

Namanya mahasiswa, latihan internet juga penuh canda tawa. Pendek kata, ramai, tertawa, lucu dan gurau. Kami duduk di karpet kantor. Ada soft drink. Bintang menyambung internet dengan laptop. Kami memakai proyektor Infocus untuk memantulkan gambar dari laptop ke dinding kantor.

"Setiap makanan habis tak tersisa," kata Irsan Adrianda, tertawa.

Saifuddin menambahkan, "Yang paling banyak makan Si Boy."

Jawab Si Boy, "Gitu aja kok repot. Ini belum seberapa lho."

"Ada yang makan dagingnya saja, takut kegemukan," kata Irsan lagi, mengacu pada Hijriani.

Hijri memakai jilbab warna hitam, baju coklat, celana hitam. Seorang gadis yang rajin bertanya.

Zulfa Rumaya ketawa terus.

"Maya" adalah anggota redaksi majalah Sumber Post dari IAIN Ar Raniry.

Kami sempat browing isu Aa Gym kawin lagi. Juga browsing Bill Clinton Sabtu ini datang ke Banda Aceh. Aku juga tunjukkan tahun kelahiran Hasan di Tiro dalam tiga versi: 1923 (versi yang kemungkinan asli), 1925 (versi paspor) dan 1930 (versi resmi Hasan di Tiro). Mau belajar bikin blog tapi server sangat pelan. Aku menganjurkan mahasiswa membuat blog. Vivi Nora dan Ida Laili tampaknya tertarik untuk bikin blog.

Paginya di kampus aku mengajar kelas mereka soal bagaimana membangun hubungan dengan nara sumber, bukan hanya yang baru, tapi juga yang lama. Aku berikan contoh tentang hubungan Bob Woodward dengan Mark Felt a.k.a. Deep Throat. Aku kira setelah satu semester, para mahasiswa mulai mengerti apa keinginan kami, mulai mengerti apa maksudnya jurnalisme. Pada awal semester, banyak yang apatis, tak mengerjakan PR, tak tertarik belajar menulis. Lama-kelamaan mereka mengerti juga enaknya menulis.

Acara sore ini diakhiri dengan nonton film War Photographer tentang James Nachtwey. Mereka suka lihat Nachtwey bekerja memotret perang.

Beberapa mahasiswa bahkan tinggal di kantor setelah acara selesai. Mengobrol kesana kemari. Acara yang menyenangkan. Dave dan Jody senang juga.

Thursday, November 30, 2006

Dari Merauke Menginjak Jakarta

Oleh Agapitus Batbual
Wartawan Suara Perempuan Papua di Merauke

Hari itu, masih terpatri dalam ingatanku, Sabtu, 11 November 2006, usai mengikuti ulang tahun Union of Catholic Asian News (UCANews), sebuah media Hongkong, yang berlangsung di Wisma Klender, Jakarta Timur. Itulah hari pertama aku melanglang buana di kota Jakarta.

Rini dengan wajah ramah menyalamiku. Reni si cerdas, mengangguku dengan banyolan segar. Vitalis Bauk orangnya bertubuh subur. Aku senang karena bisa bertemu mereka di Wisma Klender. Beberapa saat kemudian, muncul Kondrat, si tubuh semampai tapi kurus. Orangnya pendiam tapi senang bergaul, senyumnya aduhai. Paul Kaluge si banyol yang sangat periang serta Paul Pati, yang biasanya mengirimkan pertanyaan atas beritaku. Komandan UCANews Indonesia, Karl Beru, sangat serius tapi tiba-tiba mengelak tawa kami.

Memang kelompok Indonesia Timur adalah kelompok pebanyol. Apalagi sang inspirator Pastor Robert Astarino, MM, suka mengajukan pertanyaan secara mendetail. Singkat, padat serta membutuhkan penjelasan. ”Sebagai wartawan UCANews, harus berpikir bahwa apa yang kita tulis harus dimengerti oleh orang luar negeri,” ujar Pastor Robert.

Aku berpikir betul juga, ya. Aku bertemu dengan Pastor Constan Falolon dari Amboina, Hary Klau dari Atambua dan Anggelina Pareria juga dari Atambua serta Hironimus Adil, rekan dari Bali. Rata-rata orang muda semua.

Tiap hari Reni, yang sudah mengetahui kelakuanku, Pastor Cons, Heri serta Hiron, bersemangat mengganggu kami semua. ”Itu temanmu dari Ambon, Atambua dan Bali,” ujarnya. ”Wah, saya kira sudah semakin putih, ternyata sama hitam,” ujarku kepada Reni. Pastor Cons, Heri dan Hiron seiring dengan tawa terbahak.

Di sebelah meja kami, berkumpul generasi tua, seperti Herman dari Manado, Windi Subanto dari Medan, Peter Tukan dari Jayapura, Anton dari Atambua dll. Aku sangat salut untuk kalian semuanya. Keakraban kita akan tinggal di dalam sanubariku. Maklum aku akui, kami yang masih muda harus menimba ilmu kepada kaum tua dalam menulis berita.

Bertempat di Kantor Pantau

Usai pelatihan di Wisma Klender, aku ditelepon Andreas Harsono, untuk mampir kantor Pantau. Aku langsung diantar ojek dengan harga carteran Rp 20.000. Cukup sulit mencari sebuah kantor yang bernama Pantau --sebuah media yang belakangan ini tidak terbit lagi, karena terbentur dengan masalah dana.

Menurut Andreas, yang pernah berkunjung ke Merauke, bayaran kepada wartawannya relatif cukup tinggi. Media ini independen. Mereka tak terikat dengan konglomerat atau politisi manapun. Kelakuan terhadap beberapa wartawan, yang biasanya menerima ”amplop,” agak bikin keder juga. Tapi kusuka sikap itu.

Aku melangka dengan agak takut, karena baru bertama kali memasuki lantai dasar Pantau. Beberapa wartawan terkenal di antaranya pernah terkait media ini. Sebut saja Agus Sopian si penggelak tawa; Eri Sutrisno, yang biasanya serius; Eriyanto, yang pernah kutemui di Merauke.

Gedung Pantau cukup tinggi dengan banyak ruangan. Aku disambut oleh Siti Nurrofiqoh. Jabatanya sebagai sekretaris Pantau. ”Ini Mas Agapitus Batbual ya,” ujarnya.

“Benar,” jawabku dengan senyum mengembang. Tiba-tiba kegamumanku bertambah, karena beberapa orang yang tidak kukenal, langsung masuk ke dalam ruangan rapat. ”Wah penyambutanku sedang ditunggu,” ujarku dalam hati.

”Mas mau minum apa?” ujar Siti.

”Jangan sampai merepotkan,” ujarku.

”Ah jangan begitu. Jalan jauh ya. Kalau begitu pantas Pantau menyambut Mas Agapitus. Saya buatkan teh tubruk ya,” tawar Siti.

”Boleh,” jawabku.

”Silakan menunggu Mas Andreas. Aku tinggal dulu. Ada beberapa tugas yang harus saya kerjakan,” katanya.

Aku disodori beberapa baju kaus dua warna. Yang pertama warna putih dengan warna hitam. Aku langsung memilih baju kaos warna hitam bertuliskan, ”Aku tak peduli kau tiduri gajah sekalipun, asal kau tidak meliput sirkusnya.” Di bawah tulisan itu ada tertera A.M. Rosenthal, The News York Times. Di bagian bawahnya lagi tertulis, “Soal pentingnya independensi wartawan.”

Aku sangat tertarik dengan tulisan tersebut. Maka kuputuskan membayar kaos itu. Beberapa block note langsung diserahkan oleh Siti kepadaku plus dua buah buku wartawan terbitan Jakarta. “Sembilan Elemen Jurnalisme” karangan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel langsung kusambut dan serta merta aku membacanya.

Tiba-tiba Andreas Harsono menyapaku. ”Selamat datang di kantor Pantau, Agapitus,” ujarnya dengan sapaan hangat.

Setelah rapat selesai, dilanjutkan dengan makan bersama. Agus Sopian, dengan gayanya yang khas seorang tukang pukul, langsung terbaring di kursi yang memang disiapkan. Kesanku sangat biasa, seperti sifatku, tetapi ulasannya sangat intelektual. Sangat tertata alur pemikirannya. Aku tersenyum tanpa diketahui oleh semua orang yang makan.

Usai rapat, aku ditawari Harsono menginap di apartemenya. Dua orang yang paling aku kenal: Harsono dan Agus, dengan beberapa penulis Pantau mengantarku. ”Di depan kita terletak kantor DPR dan MPR. Di sebelahnya terletak markas besar Kompas dengan The Jakarta Post. ”Kalau mau berenang ada kolam renang. Di dalam ruangan itu ada fitness center. Agapitus silahkan mempergunakan sepuas hati,” ujar Harsono.

Si Kecil Yang Periang

Norman Harsono, lelaki kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar berbahasa Inggris, tiba-tiba masuk, membuka pintu kamarku. Aku langsung bangun karena kaget. Siapa gerangan yang memasuki kamar? Tanpa berbicara banyak, dia langsung berdiri. Sedangkan aku dalam posisi duduk tanpa berbicara alias diam seribu bahasa.

Aku langsung menyapa dia. Tetapi apa nyana, dia langsung mengambil papan luncur dan berputar-putar di atas papan luncur bak olahragawan profesional. Saat itu, langsung aku teringat, seorang anak kecil, sebaya dengan dia meminta-minta. Waktu itu, bersama teman-teman UCANews, dalam perjalanan ke kantor UCANews Indonesia, di Perumahan Buaran Regency Blok G No 10 Jl. Radin Inten II, Pondok Kelapa, Jakarta.

Terkesan Norman tak ambil pusing dengan keadaan dalam rumah. Dia berputar terus hampir jatuh. Kemudian tiba-tiba berbalik ke arahku dan terdengar ”brakkkkkkkkk.” Si ayah Norman, Andreas Harsono senyam-senyum saja, melihat gelagat anaknya.

Sedangkan Norman hanya terseyum melihat papan luncur berputar di tempat. ”Hi Norman, are you okay?” ujar ayahnya.

I am fine,” ujar Norman, wajah ceriah. Terkesan tidak ada kesusahan di wajahnya. Itulah kesan yang pertama ketika bertemu dengan Norman, si anak yang pintar berbahasa Inggris lagi periang.

Aku tinggal di apartemen mereka. Harsono menawarkan sebuah tempat tidur untukku. Sekilas tidak ada apa-apa, tapi betapa kaget ketika aku masuk. Di dalamnya ada TV yang cukup besar, laptop seharga Rp 10 juta terpasang di disitu. Kabel-kabelnya disatukan di belakang laptop. Segala fasilitas, termasuk kolam renang, ruang fitness di ruang dasar gedung. Beberapa asesoris Papua dari Sentani, Timika serta Asmat digantungkan di situ. Ada buku-buku berbahasa Inggris, majalah-majalah lain, bermacam judul dan negara, ditambah dengan koran tergeletak di lantai. ”Inilah sebuah tempat yang menyenangkan. Pasti seluruh dunia terprogram di situ,” gumamku.

Dia ruang makan, aku terpekur memandang sebuah bingkai berwarna kuning dan hijau. Sekilas tergambar, seorang sudah tewas, sedangkan di hadapan orang yang sudah tewas itu berdiri dua perempuan memakai jilbab, sedang mengusap wajah orang yang tewas itu. Seorang anak digendongnya. ”Pemuda Aceh itu mati dicekik oleh tentara karena dituduh mata-mata Gerakan Aceh Merdeka. Dua perempuan itu adalah adik dan kakaknya,” ujar Harsono. TNI mencekik orang itu, dengan selembar kaos miliknya sendiri. Orang itu hanya memakai celana dalam. Harsono mengatakan foto itu pemberian Tarmizy Harva dari Reuters. Foto ini menang penghargaan World Press Photo.

”Wah kenapa begitu ya. Mereka tidak memiliki kemanusiaan lagi,” ujarku. Seminggu aku tinggal di sini.

Berpesta Ria

Kemudian, Rebeka Harsono, adik perempuan Andreas, mengajakku tinggal di rumahnya di Tangerang. Hari itu, Kamis 16 November 2006, Rebeka langsung mengajakku ke sana dengan mengendarai bus. Dengan ojek, kami menuju ke kampung Tegal Alur, sebuah perkampungan Cina.

Kamar lantai dua adalah tempat tidurku. Di samping kamarku terletak sebuah kamar juga. Ternyata milik Widi seorang mahasiswa Universitas Indonesia dan Ignasia mahasiswa asal Flores. Mereka senang bersalaman dengan aku.

Rebeka memimpin Lembaga Anti Diskriminasi di Indonesia (LADI). Esoknya aku tidak mau ke mana-mana. Tapi kami langsung diajak Rebeka mengadakan penelitian tentang bagaimana orang Cina, turut berpatisipasi untuk mengurusi akta kelahiran. Mumpung negara Indonesia sudah membuka pintu hatinya untuk memperhatikan kaum Cina. Mayoritas penduduk di kampung Tegal Alur adalah kaum Cina, tapi hidup pas–pasan. Ada yang tak memiliki pekerjaan, kawin muda, yang berakibat pada tingginya angka perceraian.

Syukur beberapa perempuan membentuk kelompok kerja kepercayaannya Rebeka. Pertama kali aku bertemu dengan seorang perempuan etnis Cina bernama Lili. Suaminya tidak memiliki pekerjaan. Lili sendirilah yang berusaha keras menyekolahkan kedua anaknya. Yang pertama masih duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama dan yang bungsu masih duduk di Sekolah Dasar. ”Mau ke sekolah? Uang taxi ada tidak? Kalau belum ada, ini uang kalau tidak keberatan,” ujarku sambil menyodorkan uang Rp 20.000.

Dia langsung menerima, seraya mengucapkan terima kasih. Di sampingnya berdiri Lili, ibunya. Aku mengambil posisi duduk di teras, sebuah rumah lain. Aku berpikir, kemungkinan besar akan berbicara dengan tuan rumah menanyakan berapa harga tanah yang dijual, luas areal ini berapa. Tapi ternyata, semua orang, termasuk tuan rumah langsung angkat kaki, ”Maaf aku menjenguk orang sakit,” ujar tuan rumah.

Sekitar dua meter lebih, terlihat seorang perempuan menjajakan minuman dan makanan ringan. Aku langsung saja meminum, segelas sirup seraya menoleh kanan kiri. Ternyata tidak ada satu pun mau bicara denganku. ”Wah begini caranya hidup di Jakarta ya,” gumamku. Tempat untuk menjajakan makanan ringan serta minuman bersebelahan sekitar satu meter dengan sebuah rumah yang cukup amburadul. Didding sebelah tidak ada lagi. Yang tersisa adalah atapnya. Di sebelahnya berdinding semen, tapi tanpa pintu. Kesanku sangat amburadul. Untungnya masih ada atap tanpa jendela. Sungguh sangat memprihatinkan.

Seorang perempuan muda, kira-kira masih SMP, lagi meneguk air sirup. Mungkin dia tidak mau sekolah lagi, karena seharian yang bersangkutan duduk saja sejak aku pertama kali hadir di tempat ini.

Sabtu, 18 November 2006, keadaanku biasa saja. Mandi, sikat gigi kemudian sarapan. Dalam rangka penelitian yang dilakukan oleh Rebeka, aku berangkat ke Kampung Dadap, Tangerang ditemani oleh Widi. Kami berangkat ke Ci Lili, nama sapaan, artinya “Kak Lili.”

Sewaktu di rumah Lili, Rebeka memprotes cara kerja Widi. Tanpa tendeng aling-aling, kata-kata kasar ditujukan kepada Widi. Ini mungkin kebiasaan Rebeka. Widi diam saja, mendengar semprotan Rebeka. Aku yang pendiam , hanya menelisik lebih jauh pembicaraan mereka.

Minggu, 19 November 2006, aku langsung berangkat lagi dari rumah Rebeka, ke rumah Lili dan selanjutnya mengikuti pesta pernikahan seorang warga Cina.

Situasi sangat meriah. Ada ruang pesta dengan menu yang banyak. Tetapi ada juga khusus disiapkan oleh tuan rumah untuk berjudi. Laki serta perempuan paruh baya, orang tua mengepulkan asap rokok seraya mengocok kartu remi. Banyak orang yang hadir ruangan ini.

Disampingku duduk serombongan laki-laki ditemani dua orang perempuan. Kesanku kedua perempuan ini adalah perempuan panggilan, yang tiap kali hadir di pesta jenis ini. Ada juga perempuan lain sedang mengepulkan asap rokok di depanku. Menurut Rebeka, tempat pesta seperti ini adalah ajang bisnis prostitusi, selain berjudi serta menenggak alkohol. ”Kejadian seperti ini biasa bagi orang Dadap. Yang penting berjudi, alkohol, perempuan. Sementara istrinya bating tulang mencari uang,” ujar Rebeka kepadaku.

”Jika berdansa dengan perempuan, mereka biasanya tanya, biasa dibawa ke luar atau tidak. Tergantung si perempuan saja,” kata seorang tamu.

Saat sedang mengabadikan wajah beberapa orang, tiba-tiba seorang ketua kelompok nyanyi mengumumkan, ”Selamat datang di kampung kami, Dadap. Orang Papua selamat!” ujar ketua group seni.

Aku hanya menggeleng saja. Memang tak ada orang ”hitam” selain aku. Aku langsung bangga saat mendengar ada orang kulit hitam. Aku sebenarnya kelahiran Pulau Tanimbar, selatan Papua. “Luar biasa,” kataku. Acara demi acara kulalui, sampai akhir. Akupun pulang ke Tegal Alur, tempat Rebeka untuk istirahat.

Bermalam di Cibubur

Esoknya Senin, 20 November 2006 aku langsung pulang ke Cibubur dengan menumpangi mobil sedan biru. Sampai di rumah, aku disambut hangat oleh Paulus Baut, seorang mantan anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan beserta istrinya. Dua orang yang paling kukasihi adalah Ricky Baut dengan adiknya. Tanggal 22 November 2006, aku langsung berangkat ke Merauke.

Tuesday, November 28, 2006

Kursus Narasi Angkatan I


Yayasan Pantau membuka kursus baru bernama “Narasi.” Ia dirancang untuk orang yang ingin belajar menulis panjang. Namun bukan sekadar panjang. Ia juga memikat sekaligus mendalam. Kursus ini cocok untuk orang yang berminat menulis esai atau buku. Pendekatannya pada materi nonfiksi.

Kursus diadakan selama 16 sesi dengan frekuensi mingguan, petang hari (pukul 19.00-21.00). Mingguan ini dirancang agar peserta punya waktu mengendapkan materi belajar, mengerjakan pekerjaan rumah serta membaca. Jumlah peserta maksimal 20 orang agar ada waktu diskusi. Kursus ini ditekankan pada banyak latihan.

Tugas akhirnya berupa penulisan sebuah narasi 5.000-7.500 kata. Ia dilakukan sesudah peserta berlatih melakukan riset, liputan, wawancara dan menulis. Jumlah kata sekadar pegangan saja. Ia bisa lebih panjang lagi.

Peserta akan membaca dan membicarakan karya-karya Joseph Mitchell, Truman Capote, John Hersey, Ryszard Kapuscinski serta menonton film “Black Hawk Down” karya Mark Bowden.


INSTRUKTUR

Andreas Harsono wartawan Jakarta yang pernah bekerja di harian The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia menang beberapa penghargaan internasional antara lain The Correspondent of the Year dari The American Reporter (1997) serta Nieman Fellowship dari Universitas Harvard (1999-2000). Dia co-editor buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2005). Kini ia sedang menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism sebagai sebuah political travelogue. Weblog www.andreasharsono.blogspot.com

Budi Setiyono wartawan Jakarta, pernah bekerja untuk Suara Merdeka (Semarang) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia jadi co-editor buku Revolusi Belum Selesai, yang berisi kumpulan pidato politik Presiden Soekarno, Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat dan sejumlah buku lainnya.


SYARAT DAN BIAYA

Peserta terbiasa dengan dunia tulis-menulis. Entah menulis di blog, makalah, buku harian atau media. Mereka juga terbiasa melakukan riset dan akrab dengan internet. Latar belakang bisa dari berbagai disiplin ilmu, minat atau profesi. Bisa aktivis, wartawan, dokter, arsitek, pengacara, mahasiswa, dan sebagainya. Peserta juga wajib lancar membaca naskah dalam bahasa Inggris karena banyak materi kursus dari bahasa Inggris.

Peserta dikenakan biaya Rp 4 juta. Bila ada peserta dari luar Jakarta, Pantau bisa membantu mencarikan pemondokan atau magang.


SILABUS

Sebelum memasuki hari pertama, sebaiknya Anda sudah membaca Resensi buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” oleh Andreas Harsono (kalau tertarik baca bukunya The Elements of Journalism atau versi Indonesia Sembilan Elemen Jurnalisme)

HARI PERTAMA (28 November 2006)
Perkenalan, pembicaraan silabus dan diskusi soal jurnalisme dasar, isu tentang “objektivitas” wartawan dengan membahas “Sembilan Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel serta membandingkannya dengan praktik jurnalisme di Jakarta a.l. byline, firewall, advertorial. [Andreas Harsono dan Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: bacalah “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana Kurnia; “Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita” oleh Andreas Harsono; edisi jurnal Nieman Reports tentang narrative journalism.

HARI KEDUA (5 Desember 2006)
Diskusi soal jurnalisme sastrawi, bagaimana Tom Wolfe memulai gerakan ini di Amerika Serikat pada 1960-an dan bagaimana suratkabar-suratkabar Amerika mengambil elemen-elemen genre ini. Diskusi tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism.” [Andreas Harsono]

Pekerjaan rumah: bacalah “Hiroshima” oleh John Hersey dan “Menyusuri Jejak John ‘Hiroshima’ Hersey”oleh Bimo Nugroho.

HARI KETIGA (12 Desember 2006)
Diskusi soal struktur dengan contoh “Hiroshima” karya John Hersey. Ini sebuah karya klasik, dimuat majalah The New Yorker pada Agustus 1946, yang pernah dipilih sebuah panel wartawan dan akademisi Universitas Columbia sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika pada abad XX. [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: bacalah “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah.

HARI KEEMPAT (19 Desember 2006)
Diskusi soal deskripsi dan dialog dengan melihat “Kejarlah Daku Kau Sekolahkan”. [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: siapkanlah ide untuk liputan panjang, yang bisa dikerjakan selama liburan panjang (Natal dan tahun baru). Perbanyak riset dan wawancara background untuk memperkuat ide liputan. Tuangkan ide Anda dalam sebuah outline yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Sebagai catatan, ide liputan ini bisa dipakai untuk setiap tugas dalam tiap sesi.

HARI KELIMA (9 Januari 2007)
Diskusi soal persiapan liputan panjang. Ide cerita setiap peserta akan dibahas bersama-sama. Baik dari kebaruan ide maupun cara kerjanya? Setiap peserta akan presentasi ide buat tugas akhirnya. [Andreas Harsono]

Pekerjaan rumah: bacalah “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono

HARI KEENAM (16 Januari 2007)
Diskusi soal struktur karangan dengan melihat “Republik Indonesia Kilometer Nol” serta makna bahasa Melayu dalam bangunan sosial Indonesia. Soal feature, penciptaan adegan, penggunaan dialog juga akan dibahas. [Andreas Harsono]

Pekerjaan rumah: “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono dan buatlah sebuah narasi pendek, satu halaman, dengan gaya orang pertama ("saya" atau “aku” atau “kita”) untuk menggambarkan sebuah ide dengan adegan. Referensi buku biasanya membantu argumentasi sebuah ide.

HARI KETUJUH (23 Januari 2007)
Diskusi soal bagaimana mengawinkan analisis dan cerita perjalanan. Pembahasan tugas juga dilakukan. [Andreas Harsono]

Pekerjaan rumah: bacalah “The Soccer War” karya Ryszard Kapuscinski dan “Blood and Belonging” karya Michael Iguaties

HARI KEDELAPAN (30 Januari 2007)
Diskusi soal bagaimana mengawinkan analisis dan cerita. [Andreas Harsono]

Pekerjaan rumah: bacalah “Black Hawk Down” karya Mark Bowden.

HARI KESEMBILAN (6 Februari 2007)
Nonton dan diskusi film Black Hawk Down [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: “Ngak Ngik Ngok” karya Budi Setiyono dan buku ”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” karya Cindy Adams.

HARI KESEPULUH (13 Februari 2007)
Diskusi soal bagaimana membuat cerita sejarah, biografi, dengan mengawinkan data sejarah dan cerita [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: “Frank Sinatra Kena Salesma” karya Gay Talese, dan ”Ini Sebuah Kehormatan” karya Jimmy Breslin, “Ali Kini” karya Cal Fussman.

HARI KESEBELAS (20 Februari 2007)
Diskusi soal penokohan dan sudut pandang; bagaimana mengembangkan tokoh serta menampilkan cerita dari suatu sudut pandang. [Budi Setiyono]

HARI KEDUABELAS (27 Februari 2007)
Teknik wawancara dengan melihat teknik-teknik yang dikembangkan oleh International Center for Journalists. [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: “Humor Mahasiswa” oleh James Danandjaja; “Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto” (anonim - penerbitan bawah tanah), dan “Humor Jurnalistik” oleh Mahbub Djunaidi. Bikinlah satu humor yang nonfiksi.

HARI KETIGABELAS (6 Maret 2007)
Diskusi soal memasukkan humor dalam karangan. [Budi Setiyono]**

Pekerjaan rumah: bacalah “Semangkin Dikangeni: Pocapan Umar Kayak dalam KR” oleh Jennifer Lindsay; Benedict Anderson dalam kata pengantar buku “Indonesia dalam Api dan Bara.”

HARI KEEMPATBELAS (13 Maret 2007)
Diskusi soal bahasa dan bangsa serta bagaimana melihat isu itu dalam kepenulisan di Jakarta. [Budi Setiyono]**

Pekerjaan rumah: Persiapkan liputan panjang Anda.

HARI KELIMABELAS (20 Maret 2007)
Diskusi soal perkembangan liputan panjang yang sedang dikerjakan. [Budi Setiyono]**

HARI KEENAMBELAS (27 Maret 2007)
Warna sari, tanya jawab. Penutupan. [Andreas Harsono dan Budi Setiyono]


* Catatan: Akan diadakan satu sesi di luar kelas. Waktu dan tempat didiskusikan bersama. Setiap saat peserta juga mendiskusikan liputan yang sedang dikerjakan melalui mailing-list.

** Pembicara tamu: Raymond Bonner dan Jane Perlez (dalam konfirmasi). Kemungkinan pembicara tamu lain sangat dimungkinkan.

Friday, November 24, 2006

Puisi Sepi

Ketika masih remaja, saya ternyata sering sekali menulis puisi. Kebanyakan ditulis dalam buku harian saja. Sesekali juga menulis cerita pendek. Saya mulai rutin menulis buku harian sejak 1 Januari 1978 ketika mulai sekolah di SMP Katolik Maria Fatima di Jember. Kegiatan menulis puisi ini makin sering ketika masuk SMA Katolik Sint Albertus di Malang pada 1982.

Ternyata ketika remaja, saya punya banyak kegiatan --badminton, basket, nonton bioskop, main dengan teman sekolah, les bahasa Inggris, bahasa Jerman, kursus gitar, main band, vocal group, pada 1982 jatuh cinta pertama dengan "PHE"-- namun saya juga sering merasa sedih. Perkawinan orang tua saya berantakan. Papa tinggal di Jember. Mama pindah ke Lawang. Namun perasaan risau dengan PHE juga menyumbang kegalauan dalam puisi-puisi yang saya buat pada 1982.

Setelah kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, kegiatan menulis puisi praktis menyurut. Saya mulai sibuk diskusi politik dengan kelompok Arief Budiman. Lalu ikut aktivisme mahasiswa dan pers mahasiswa. Saya rutin menulis untuk harian Suara Merdeka Semarang. Sedikit demi sedikit, saya makin masuk ke dalam dunia non-fiksi. Puisi praktis tak pernah saya buat lagi.

Saya coba cari beberapa puisi remaja yang saya suka.

sepi merambat
menerobos jalan
memecahkan sunyi

sebutir sepi
sepucuk kelam

sekeping hati, luka
dalam
perih
hitam


Lawang, 9 Januari 1982


Kami adalah sekerumun anjing liar yang paling perkasa
Berpacu dari armagedon hingga kelam
Kami berlari tanpa menjadi letih
Kami berjalan tanpa menjadi lesuh

Kami pahlawan tanpa nama
Bertaruh dengan kehampaan nyata hingga keping-keping kami yang terakhir

Menangis untuk kemenangan dan tertawa untuk sebutir kekalahan


Lawang, 9 Juli 1982

Thursday, November 23, 2006

Isi Majalah Indopahit


Aku lagi seneng menyunting naskah, mencari gambar, diskusi foto dan sebagainya untuk proyek "majalah" Indopahit ini. Isinya kurang lebih akan dibuka dengan sekumpulan cerita pendek tentang pertemanan, pernikahan dan keluarga. Ada lima orang disini yang menulis --mungkin masih ada susulan. Urutannya sebagai berikut:

- Keriangan, Keragaman oleh Coen Husain Pontoh (New York)
- Surat dari Ende oleh Esti Wahyuni (Ende)
- Jojoba, Jomblo, Jomblo, Bahagia oleh A. Widaningsih Pahlevi (Pontianak)
- Pernikahan oleh Indarwati Aminuddin (Kendari)
- Sebentuk Cinta yang Tak Tergantikan Linda Christanty (Banda Aceh)

Kumpulan ini akan diikuti oleh naskah-naskah panjang. Mulanya, dibuka dengan esai, "Mengapa Kami Menikah?" karya Sapariah Saturi dan aku. Kami bergantian menjawab isu-isu yang penting. Ada foto dari jepretan Mohamad Iqbal disini. Iqbal bekerja keras, membawa alat-alat fotonya, ke apartemen. Kami pergi ke atap, ke kolam renang, ke lapangan basket dan segalanya buat pemotretan.

Sapariah menulis, "Aku merasa cocok. Mas, orangnya peduli dan perhatian. Bukan hanya dengan orang-orang terdekatnya, tapi semua orang, terutama kalangan tertindas. Jadi aku merasa enak dan aman. Mas itu orang yang punya prinsip, bekerja dengan jujur dan benar. Maka tak heran kalau setiap saat aku selalu mendengar ocehan dan kekesalannya terhadap carut marut negara dan pelaksananya."

Naskah panjang berikutnya, sekitar 12 halaman, "Cerita Mak Isah" karangan Muhlis Suhaeri dan foto Haryo Damardono. Mak Isah adalah calon mertua aku. Beliau seorang perempuan Madura, kelahiran Borneo, sederhana, punya prinsip, saleh dan baik hati. Muhlis wawancara keluarga Mamak. Haryo bikin foto kolase berwarna Mak Isah serta desa Punggur dimana keluarga mereka berasal.

Iqbal lalu bikin esai foto delapan halaman dari apartemen aku: kamar mandi, kulkas, Norman, jemuran dan sebagainya. Ini sama sekali beda dengan foto pre-wedding biasa. Iqbal bukan tipe fotografer yang puas dengan kebiasaan biasa dimana sepasang pengantin dipotret seakan-akan mereka tak hidup dalam dunianya. Sapariah sudah dandan hingga hampir dua jam --dibantu teman-teman kost-- tapi Iqbal menganggapnya kurang penting. Iqbal ingin kami tampil sederhana, biasa saja. Pemotretan pun diulang dua hari lagi.

"10 Puisi Mitologi" karya penyair Hasan Aspahani juga akan meramaikan majalah ini. Hasan tinggal di Batam. Dia teman sekelasnya Sapariah ketika ikut kursus Jurnalisme Sastrawi angkatan VII. Muhlis ikut angkatan VI. Aku kebetulan ... ehm ... yang jadi instrukturnya. Jadi, ini cerita soal guru dapat murid.

Aku kini lagi cari bahan dan menulis narasi terakhir berjudul, "Seorang Hoakio dari Jember" tentang masa kecil seorang anak Hoakio bernama Ong Tjie Liang. Aku wawancara keluarganya. Aku cari guru-gurunya. Aku ingin menulis bagaimana Ong kecil memandang kekuasaan.

Anda mungkin ingat Ong Tjie Liang adalah Chinese name dari Andreas Harsono. Ini sebuah esai tentang masa kecil aku dengan menggunakan gaya orang ketiga, yang kebetulan, namanya berbeda namun individunya sama. Unik bukan?