Friday, December 27, 2002

Menjawab Febry Arifmawan


Febry Arifmawan yang baik,

Terima kasih untuk emailnya. Saya merasa dihargai karena Pantau edisi Desember 2002 membuat Anda mendapatkan kepuasan secara intelektual. Jarang sekali saya mendapat kritik dari seorang pembaca yang membaca tuntas isi seluruh majalah. Saya juga tembuskan email ini kepada Chik Rini --kontributor yang menulis "Mamak, Amru, dan Bekas Kesatuannya"-- agar Chik Rini juga tahu bahwa karyanya dibaca orang.

Chik Rini kini hidup relatif dalam keterasingan karena komunitas intelektual di Banda Aceh relatif kecil. Kami sering surat-suratan dan kini kami lagi berusaha agar Chik Rini bisa mendapatkan kesempatan pergi ke luar Indonesia, entah untuk sekolah atau ikut program kewartawanan lainnya. Anda benar bahwa Pantau beruntung memiliki kontributor macam Chik Rini. Dia salah satu kontributor yang paling kuat kemampuannya untuk memaparkan narasi.

Soal sudut pandang militer, kami tak akan berhenti hanya dengan "Mamak, Amru, dan Bekas Kesatuannya." Pada edisi Februari 2003, kami akan menyuguhkan sebuah laporan yang tak kalah menariknya dengan laporan Chik Rini.

Ada seorang reporter muda yang tinggal selama tiga bulan bersama satu batalion tentara, sekitar 700-an orang, dan ikut beberapa kali operasi militer. Dia ikut digigit lintah, ikut makan ransum tentara, melihat interogasi, dan sebagainya. Laporan itu sejak November lalu masih kami garap editingnya. Saya benar-benar antusias menggarap naskah ini. Detailnya banyak sekali. Harus bolak-balik antara si reporter dan para editor di Jakarta.

Mengapa Pantau tak menurunkan laporan terorisme pada edisi Desember?

Laporan soal "terorisme" bisa Anda baca pada edisi Januari 2003 di mana Eriyanto dan Agus Sudibyo menuliskan laporan panjang soal bagaimana media Indonesia meliput penangkapan dan pemeriksaan Amrozi. Teguh Budi Utomo dari harian Surya juga cerita pengalaman pribadinya kenal dengan Amrozi sebagai seorang makelar sepeda motor. Teguh adalah wartawan pertama yang masuk ke desa Tenggulun pada 5 November 2002 --sekitar 12 jam sesudah Amrozi diciduk polisi.

Saya kira sebagai media soal media, Pantau tak bisa lepas dari liputan isu besar bagi kebanyakan media di Indonesia. Sama besarnya dengan isu separatisme Aceh, privatisasi Indosat, liberalisasi ekonomi Indonesia, maupun berbagai macam isu besar lain.

Soal Riri Riza, saya kira Anda benar bahwa kami terlalu dekat memuatnya. Mulanya film "Eliana eliana" dan sesudah itu sosok Riri Riza sendiri. Kami terkadang tak sadar bahwa satu isu bisa begitu dekat. Pernah dalam satu edisi kami memuat tiga liputan yang kurang lebih bersentuhan dengan harian Kompas. Lagi-lagi karena tak sadar karena rubrik-rubriknya dan redaktur-redakturnya berbeda. Terima kasih untuk kritik Anda. Kam perlu lebih baik dalam koordinasi.

Soal nama Gosip, saya kira makna gosip adalah percakapan ringan, bukan percakapan nyinyir, walau makna nyinyir bisa juga masuk ke kategori gosip, tapi itu bukan satu-satunya makna dari kata gosip. Dulu ketika kami diskusi soal nama-nama rubrik, Gosip kami maksudkan sebagai rubrik yang ringan, isinya soal promosi, demosi, atau mutasi, orang-orang media. Jadi makna katanya sebenarnya benar. Mudah-mudahan perlahan-lahan akan ada pergeseran makna kata "gosip."

Sekarang ini memang lagi dipikirkan sedikit perubahan isi rubrik Gosip. Jumlah laporannya akan kami naikkan. Sekarang satu rubrik isinya cuma empat atau lima berita. Kami lagi berpikir meniru konsep International Herald Tribune di mana ada sekitar delapan tokoh yang digosipkan. Tapi pelan-pelan perubahannya. Media biasanya memang cenderung untuk pelan-pelan untuk berubah karena masing-masing rubrik sudah punya penggemarnya sendiri.

Soal menulis tentang jurnal kebudayaan Basis, saya kira idenya menarik, apabila kita bisa membaca banyak, kalau bisa malah semua, nomor Basis. Jurnal ini sangat penting sehingga saya kira bakal banyak gunanya bagi pembaca Pantau. Tapi soal medium berbahasa Jawa "Djoko Lodang" saya belum bisa memberi komentar karena tak tahu.

Apakah Bondan Winarno akan ditulis untuk Pantau? Saya kira untuk rubrik Sosok tak bisa berhubung beliau sudah berusia lebih dari 45 tahun. Kriteria rubrik Sosok adalah orang yang relatif muda karena tujuan rubrik ini adalah memperkenalkan figur media Indonesia yang muda usia. Tapi tak tertutup kemungkinan kita memuat cerita soal Bondan Winarno dalam rubrik lain. Saya juga suka membaca bukunya soal skandal emas Busang.

Soal ralat, kami berterima kasih untuk kekeliruan angka dalam naskah Agus Sopian tentang Lippostar.com itu. Kami sudah mempersiapkan ralatnya. Terima kasih untuk email Anda. Mudah-mudahan jawaban dari saya memuaskan Anda. Email ini juga saya share ke mailing list pantau-komunitas (dengan menghapus email Anda kecuali alinea pembuka dan penutup) untuk membuka kesempatan pada pembaca Pantau lainnya memberi komentar.

Andreas Harsono
PANTAU Magazine - Media and Journalism Review
Jalan Utan Kayu 68-H
Jakarta 13120

Saturday, December 07, 2002

Kemelut Universitas Kristen Satya Wacana

Dendam Pribadikah?

Mengapa Arief dipecat? Apakah karena tekanan pemerintah? Banyak yang menduga begitu lantaran Arief terkenal kritis dan sering membuat kuping pejabat jadi merah. Tetapi, Julius Saludung mengatakan bahwa pemecatan Arief Budiman sepenuhnya hasil rapat pengurus. Haryono Semangun, waktu ditanya benar-tidaknya ada tekanan dari pemerintah, juga menegaskan, “Saya merasa tak dipengaruhi. Alasan yang dikeluarkan berdasarkan aturan yang ada di UKSW. Saya tegaskan, tak ada pengaruh dari luar."
Pangdam Diponegoro saat itu, Mayjen Soeyono, juga mengatakan, kemelut UKSW sebenarnya adalah masalah keluarga di UKSW sendiri sehingga tidak sewajarnya jika Kodam turun tangan. Pangdam juga menilai, kemelut UKSW belum pada tingkat membahayakan dan masih murni, tidak ada rekayasa pihak ketiga.
Lalu mengapa? Bukankah memecat Arief besar risikonya? Untuk apa ia dipecat padahal gaung perlawanan Kelompok 10 sudah terus memudar? Apakah karena masalah pribadi?
"Saya nggak merasa punya konflik pribadi. Ini saya tegaskan, lho. Tolong, jangan salah mengutip. Kalau pihak lain punya masalah dengan saya, saya nggak tahu. Saya mau yang profesional sajalah,” kata Rektor John Ihalauw ketika ditanya apakah benar pemecatan itu karena masalah pribadi.[i]
Tetapi tidak banyak yang tahu kalau pada tahun 1987-1988 pernah terjadi konflik yang lumayan seru di UKSW. Tidak heran kalau kemudian merebak spekulasi bahwa pemecatan itu dilandasi dendam pribadi. Dugaan ini belum tentu benar, tetapi toh tetap enak disimak.
***

Tanggal 31 Juli 1987 Arief berkirim surat pada rektor Willi Toisuta.[ii] Surat itu berisi teguran dan peringatan Arief tentang keterlibatan UKSW maupun pimpinan kampus secara pribadi dalam bisnis dan proyek, serta mahasiswa dan karyawan yang masuk ke UKSW dengan sistem koneksi, yang “dipaksakan” pihak pimpinan. Selain itu, Arief juga menyentil beberapa skandal moral yang melibatkan tokoh kampus. Karena itu, “Saya ingin supaya pimpinan UKSW dikontrol oleh sebuah lembaga yang efektif,” tulisnya. “Pada saat ini saya anggap pimpinan kurang dikontrol. Bagi saya, kontrol selalu baik karena saya percaya pada pepatah yang mengatakan Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.”
Di awal suratnya Arief mengingatkan apa yang mendorongnya memilih UKSW waktu pulang dari AS setelah meraih gelar PhD di Universitas Harvard. “Saya tertarik ke UKSW karena idealisme yang dikembangkan di sini,” tulis Arief. “Setelah saya bekerja, saya merasa saya tidak salah pilih.”
Pada bagian lain, Arief bahkan menyebut ia bahagia. “Alasannya adalah karena saya melihat orang-orang di sekeliling saya juga bekerja dengan idealisme yang sama, mengabdikan diri untuk pengembangan ilmu di Indonesia.”
Idealisme itulah yang kini mulai memudar. Karena itu, pimpinan harus tegas. “Kalau tidak, sendi-sendi universitas ini akan menjadi goyah,” kata Arief. “Dalam keadaan seperti ini saya tidak mantap bekerja. Hati saya menjadi bimbang. Untuk siapa saya sebenarnya bekerja? Apalagi sudah mulai banyak orang menyindir saya bahwa idealisme saya hanya dieksploitir oleh orang lain yang lebih cerdik. Saya tampak dungu di antara orang-orang ini,” sambung Arief.
Maka, jika rektor tak bisa memenuhi permintaan itu, Arief mengancam untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai sekretaris Program Pascasarjana. Arief memang dikenal puritan. Waktu menjadi anggota Badan Sensor Film, misalnya, Arief menolak uang saku yang disediakan produser yang filmnya dinilai. Ia adalah contoh anggota ‘parlemen jalanan’ yang diterima berdialog oleh Presiden Soeharto.
Lalu, apa yang dimaksud Arief proyek dalam suratnya? “Proyek pribadi. Misalnya, dosen menjadi konsultan perusahaan di Jakarta. Akibatnya, ia hanya muncul dua kali dalam satu minggu di kampus, padahal dia menjabat struktural di sini. Juga, proyek kerja sama Universitas dan Departemen.”[iii]
Menurut Arief, dosen-dosen senior yang terlibat proyek di luaran sudah tidak teratur lagi mengajarnya. “Saya tidak anti sama sekali terhadap proyek, karena universitas tanpa proyek juga tidak bisa jalan, hanya saja harus ada suatu kontrol terhadapnya,” kata Arief.
Untuk itulah pentingnya keterbukaan pimpinan terhadap proyek-proyek tersebut. Apa dan siapa yang terlibat, berapa besar honornya, semua harus diketahui. Setelah itu, dibuat peraturan yang lebih menguntungkan Satya Wacana. “Hal itu penting agar tidak hanya menguntungkan segelintir orang saja, terlebih lagi agar tidak mengganggu kualitas Satya Wacana sebagai suatu institusi pendidikan,” tandas Arief.[iv]
Ketidakberesan lain? Menurut Arief, ada juga monopoli pembelian alat praktikum elektro dan alat laboratorium FB dan FP oleh perusahaan SGK (Salatindo Graha Kreasi) yang bekerja sama dengan pengusaha pemasok modal. Harga barang dari perusahaan ini 10-20% di atas harga umum, namun menang terus dalam tender pengadaan barang. Theo van Beusekom, dosen pendiri FT yang berasal dari Belanda, bisa membuktikan adanya barang yang sama dengan harga yang lebih murah. Tapi, Theo tak digubris. Dosen ini lalu tak memperpanjang kontraknya. Pulang.
Arief juga menuntut agar Senat Universitas dihidupkan kembali, karena “Senat itu perlu, kendati (senat) di UKSW tidak sama dengan senat di universitas lain. Senat di sini bukan lembaga kontrol, tapi lembaga konsultasi. Memang tak bisa mencampuri kekuasanan rektor, tapi rektor akan malu bila senat mau bersuara yang bertentangan dengan rektor. Senat ini dibekukan sejak rektor baru (1984). Jadi, selama ini nampaknya rektor tanpa kontrol.”
Arief, yang saat itu gajinya Rp350.000 sebulan, mau mundur karena tak mau dibodohi. “Sebagai sekretaris Fakultas Pascasarjana kan berat kerjanya. Saya nggak bisa nulis. Padahal, saya masuk UKSW dulu sudah berjanji menolak jabatan struktural. Tapi okelah, untuk UKSW saya bersedia, dan Pasca adalah bayi saya. Saya yang mengusulkan, membentuk, dan Willi sebagai rektor ketika itu mendukung penuh. Saya kerja mati-matian untuk UKSW, ternyata pimpinan UKSW bekerja untuk orang lain di luar.”
Arief kemudian benar-benar mundur dari jabatan Sekretaris Pascasarjana karena suratnya tidak ditanggapi. Ia mundur per 1 September 1987, setelah mengantar 2 angkatan pasca. “Loyalitas saya tetap pada UKSW, tapi bukan pada rezim yang berkuasa sekarang. Buktinya, saya masih mengajar di Pasca,” ujar Arief.
Arief merasa surat kritiknya itu merupakan karya sastranya yang paling bagus, tetapi Arief tidak menduga kalau “pelor” yang dilepaskannya berdampak kericuhan, bahkan nyaris perpecahan.
Fotokopi surat itu kemudian beredar luas dan majalah Imbas, majalah mahasiswa FT, menurunkan tulisan tentang proyek-proyek pribadi. Para pengasuh Imbas, yang mempaskan penerbitan majalah itu dengan acara dies tanggal 30 November, juga menyertakan fotokopi surat Arief kepada “Willi yang baik” ke dalam tiap eksemplar. Penyebaran majalah itu bahkan sampai ke para anggota Yayasan yang datang untuk menghadiri acara dies dan sedang menginap di Guest House universitas. Akibatnya jelas, anak-anak muda yang merasa bahwa surat Arief pantas dibaca setiap orang itu lantas dikaitkan erat dengan Arief Budiman. Mahasiswa-mahasiswa FT itu kemudian juga dituduh sebagai otak penyebaran surat Arief.
Dan ternyata kemudian, tidak semua pihak suka dengan “keterbukaan” ini. Ada kalangan yang malah menuduh Arief ‘tidak beradab’.
“Kami mempertanyakan moralitas dan etika baik dari pengirim surat itu maupun dari pengedarnya,” kata John Ihalauw, yang kala itu menjabat sebagai PR I. Banyaknya fotokopi surat itu “Menyebabkan kami mempertanyakan motivasi perbuatan itu,” tambah John. “Tidakkah maksud sebenarnya dari surat pribadi itu untuk menimbulkan keresahan di dalam kampus?”[v]
Rektor Willi Toisuta dalam pidato Dies Natalis ke-31 tanggal 30 November 1987 secara tertulis menyoroti adanya segelintir oknum dalam yang secara sangat negatif menghubungkan kecurigaan akan adanya penumpukan keuntungan material secara pribadi, bahkan secara lancang mencampuri urusan dapur orang lain. Rektor antara lain menyatakan, menyebarluaskan sesuatu prasangka pribadi dengan jalan dan maksud untuk menimbulkan keresahan massal adalah perbuatan yang cenderung tidak beradab.[vi]
Arief membantah telah sengaja menyebarkan fotokopi surat itu. Meluasnya fotokopi surat itu bermula dari beberapa dosen dan mahasiswa yang datang kepada Arief dan bertanya soal mundurnya Arief sebagai sekretaris Pasca. "Agar mudah menjawabnya, kepada yang bertanya saya berikan tembusan surat saya kepada rektor. Ada sepuluh orang yang saya pinjami surat itu, dua di antaranya mahasiswa," tutur Arief. Tapi kemudian surat itu menjadi puluhan dan menyebar luas, "Entah siapa yang memperbanyak." katanya. [vii]
Menanggapi isu-isu tentang banyaknya dosen yang terlibat proyek di luaran, John JOI Ihalauw mewakili pimpinan mengatakan bahwa selama ini Satya Wacana telah banyak menerima berbagai sumbangan, entah uang kuliah atau sumbangan lainnya. Sudah saatnya Satya Wacana memikirkan alternatif baru dalam pemasokan dana. Sudah saatnya Satya Wacana mencoba terus eksis tanpa menggantungkan diri dari sumbangan. “Kita bisa terlibat dalam proyek-proyek di luar semacam proyek pengembangan pendidikan, sosial, atau yang lain,” ujar Ihalauw. “Untuk itu, kita tak luput dari isu-isu yang sudah biasa terjadi. Bahkan saya seirng dituduh menerima komisi,” sambungnya dengan gemas.
John Ihalauw menjelaskan, hendaknya jangan ada pihak yang terpancing dengan isu-isu tersitanya tenaga dosen yang terlibat dalam proyek. Menurut peraturan, seseorang boleh terlibat proyek sekitar setengah sampai dua bulan berturut-tutur, dengan ketentuan sebagian dari gaji yang diterima akan dipotong untuk Satya Wacana, dan dikenalkan pula institutional fee atau yang sepada dengan itu.[viii]
Dalam satu kesempatan sesudah surat Arief menyebar ke mana-mana, Pembantu Rektor III Urip Setiono membantah tuduhan Arief bahwa para pimpinan universitas terutama rektor telah terlibat kegiatan bisnis yang dikaitkan dengan proyek-proyek UKSW. "Memang ada proyek universitas, seperti penelitian Repelita Daerah Timor-Timur, dan proyek itu memang memberikan konsekuensi dana kepada Universitas. Juga, proyek-proyek lain yang semuanya juga mendatangkan uang."
Tetapi Urip membantah bahwa keuntungan itu masuk kantung pimpinan universitas. Begitu pula ia mengakui ada yang menjadi konsultan di Jakarta dan juga mendatangkan uang. "Tapi uang yang masuk tidak untuk pribadi yang melakukan tugas itu, melainkan masuk ke kas Universitas. Tentu sangat wajar kalau untuk yang melaksanakan tugas mendapat uang saku."
Mengenai mahasiswa titipan, Urip mengatakan, "Sistem titipan itu sudah sejak lama ada, tapi kami masih berpegang pada peraturan, minimal mereka harus lulus tes masuk."[ix]
Kendati dibantah, Arief tetap berkeras bahwa isi suratnya benar. "Benar-tidaknya apa yang saya kemukakan harus dibuktikan di forum pertemuan terbuka," katanya penuh keyakinan.
Arief sendiri menilai tuntutannya sangat wajar, apalagi masalahnya sudah berkembang sedemikian sehingga dikhawatirkan akan timbul sesuatu yang tidak diinginkan.[x]
Tetapi, reaksi-reaksi yang muncul semakin lama semakin besar.
***

Senin, 7 Desember 1987 seusai kebaktian pukul 9.30, sekitar 30 mahasiswa berunjuk rasa dengan membawa poster dan spanduk. Motor unjuk rasa adalah sejumlah mahasiswa yang tinggal di Asrama Mahasiswa Jalan Kartini.
Diawali dengan mars Satya Wacana, seorang mahasiswa FTh kemudian membacakan petisi di depan BU. Petisi yang kemudian diberikan juga kepada Rektor Willi Toisuta itu intinya meminta agar siapa yang menjual kampus, harus ditindak. Pimpinan UKSW diminta segera mengeluarkan Arief Budiman dan membreidel majalah Imbas.
Para pengunjuk rasa kemudian berarak mengelilingi kampus dengan membawa spanduk yang antara lain bertuliskan "Arief Budiman go to hell", "Imbas majalah gosip", "Singkirkan orang-orang yang ingin menjatuhkan UKSW", dan "Imbas go to hell". Mereka sempat mampir di toko buku kampus yang terletak di lingkungan BU untuk “menyita” Imbas yang masih dijual, tetapi perampasan itu gagal dilakukan. Hanya saja, seorang demonstran sempat menyerobot satu eksemplar. Sambil berjalan mereka memasang poster di papan pengumuman di belokan gedung C yang ramai sehingga orang-orang bisa membacanya. "Arief Teh Botol (Tehnokrat Bodoh dan Tolol), "Imbas Majalah Gosip". Aksi diakhiri di depan Gedung C dengan membakar majalah Imbas. Beberapa anggota Menwa tampak menjagai poster agar tidak dijahili.
Sementara demonstrasi berlangsung, petugas dari Polres, Kodim, dan Sospol berpakaian preman berjaga-jaga di samping Satkam. Mereka sudah mendapatkan informasi akan adanya demonstrasi sejak sehari sebelumnya.
Pagi itu juga para pengunjuk rasa mengedarkan selebaran berjudul Berpikir Yang “Anarkis” Musuh di dalam Selimut? yang ditulis oleh Rui Augusto Gomes, mahasiswa yang tinggal di Asrama Mahasiswa UKSW, Jalan Kartini 11A. Surat terbuka ini ditujukan kepada sivitas akademika UKSW. Isinya begini.

... Suhu kampus meninggi, apalagi dengan adanya tulisan yang cukup memalukan. ... Mungkin itulah cara penulis majalah Imbas yang sengaja menjatuhkankredibilitas dan integritas golongan suprastruktur di kampus kita.
Terlepas dari ada-tidaknya fakta, tulisan itu dinilai sebagai vonis yang terlalu dini karena tidak didasarkan pada penyelidikan yang akurat dan lengkap.
Ungkapan yang memalukan kepemimpinan UKSW itu sebenarnya adalah luapan emosi suatu kelompok yang tidak matang berpikir. Tulisan-tulisan di Imbas itu isinya hanya gosip,mengadu domba, dan menjatuhkan kredibilitas seseorang.
Sementara UKSW berusaha melebarkan sayap idealismenya untuk menolong masyarakat di daerah terbelakang, muncul pihak oposisi yang tidak lebih dari "musuh di dalam selimut"!
Sebagai "creative minority" seharusnya kita mampu berpikir positif, tidak memihak, analitis dan kritis, serta menempatkan persoalan pada tempatnya.
Hei, Imbas! Kau tidak lebih dari manipulator yang anarkis, yang memprovokasi stabilitas; katu tidak leibh dari pencemar lingkungan!!! Ingat! Jika kau merasa diri hebat, tunjukkanlah kehebatanmu itu secara bertanggung jawab! Berpikirlah yang objektif! Belajarlah berterima kasih jika kau harus berterima kasih! Jangan kau mengkhianati UKSW sebagai bagian darimu, Gereja, masyarakat, dan bangsa, seperti seorang yang setelah diberi makan lalu "berak" di piringnya.....
***

Komentar Arief mengenai demonstrasi? "Seorang demonstran didemonstrasi. Ini memang baru berita," ujar Arief sambil tertawa. "Saya sama sekali tidak tersinggung. Demonstrasi adalah ungkapan kritik," kata Arief. Padahal dalam demonstrasi 7 Desember 1987 tak sedikit kata kotor dan keras yang ditujukan padanya. Misalnya, Arief digelari 'teh botol', teknokrat bodoh-tolol. Juga, ada yang berteriak 'Arief tahi!' atau ungkapan lain yang tak patut ditulis. Komentar Arief? "Itu kan cuma sinisme. Kata-kata kotor juga sering saya gunakan ketika mahasiswa. Yang penting, misi jangan kabur."[xi]
Yang justru sewot adalah Liek Wilardjo. Liek menolak Arief dijuluki teh botol. "Saya orang pertama yang menerima Arief masuk ke UKSW, dan saya sangat menolak anggapan bahwa Arief dijuluki teh botol atau teknokrat bodoh dan tolol. Dia mempunyai penalaran yang tinggi," kata Liek.[xii]
Menurut Arief, demonstrasi itu wajar selama tidak menjurus ke kekerasan atau bentrok fisik. "Dalam hal ini yang paling dirugikan sebenarnya pimpinan, bukan saya," katanya. Arief juga mengatakan, kalau memang ia dinilai merongrong pimpinan, ia bersedia dihadapkan dalam forum terbuka yang mengundang semua pihak terkait dan bebas diikuti seluruh sivitas akademika.[xiii]
Selasa, 8 Desember PR III Drs. Urip Sutiono, MA memanggil dan meminta keterangan dari redaksi Imbas. Tetapi anehnya, yang dipanggil ternyata hanya mereka. Yang berdemonstrasi sama sekali tidak disebut-sebut, apalagi dipanggil. Karenanya, para redaktur Imbas merasa diperlakukan tidak adil.
"Edisi Imbas yang terakhir adalah sebagai momentum saja. Sebenarnya, ada masalah besar yang sudah lama tidak teratasi dan mengapa yang dipanggil hanya kami, yang demonstrasi kok tidak?" tanya salah seorang redaktur.[xiv] Karena kontroversi itu, edisi Imbas kali itu jadi sangat laris. Cetakan pertama sebanyak 500 eksemplar yang dijual dengan harga Rp500 segera habis, sampai-sampai kemudian edisi itu dicetak ulang.[xv]
Keributan kemudian terus berlanjut. Sesudah dipanggil Urip Sutiono, malamnya Andreas Harsono, pemimpin redaksi Imbas, ketiban sial. Sekitar pukul 18.00 pemuda Jember ini berjalan pulang. Sesampai Andreas di depan rumah kontrakannya di Jalan Cemara Raya 30, 3 pemuda—John Manu, Resi, dan Karl Nyong Tua Hatu—sudah ada di sana. Ketika Andreas mendekat, salah satu dari mereka bertanya, di mana rumah Andreas.
Andreas menjawab, dirinyalah orang yang mereka cari. Tanpa ba bi bu, John Manu langsung menghantam hidung dan mulut Andreas hingga bibirnya pecah. Sesudah itu, Andreas masih dihadiahi tendangan keras oleh alumni FE UKSW yang jago karate itu. Tersangka kemudian buru-buru melarikan diri dengan kendaraan. Malam itu juga Andreas melapor ke Polres Salatiga. Tetapi, karena luka sudah dibersihkan, Andreas gagal mendapatkan visum dokter.
Tak lama sesudah pemukulan itu, datang teman-teman Andreas dan tinggal di rumah kontrakan itu untuk berbincang-bincang mengenai masalah barusan danmenentukan sikap. Akhirnya, mereka sepakat untuk meneruskan perjuangan tanpa kekerasan.
Tetapi teror terhadap para pengasuh Imbas tidak berhenti sampai di situ.
Pada pukul 20.00 datang lagi dua orang pria yang menggedor-gedor pintu rumah kontrakan itu. Setelah berhasil memaksa masuk, mereka mengancam mau memukul Andreas. Salah seorangnya Dedi, bukan warga UKSW dan mulutnya berbau alkohol. Setelah sempat bertengkar, kedua orang itu meminta Andreas agar esoknya menemui Resi. Setelah itu mereka pergi.
Tetapi selang beberapa saat, pintu kembali digedor dengan kasar. Kali ini datang Resi dan seorang temannya. Resi bahkan mengeluarkan rencong dan mengancam penghuni rumah untuk menunjukkan persembunyian Andreas. Tak berhasil menemukan Andreas, Resi nekad menggeledah setiap kamar. Resi bahkan sempat mendobrak dan memukul anak SMA teman kontrakan Andreas. Andreas aman mengunci diri di kamar mandi. Puas mengobrak-abrik seluruh rumah, Resi pun keluar.
Akibat kejadian itu, Andreas yang terancam harus mengungsi berpindah-pindah. Bahkan, ia sempat menginap di dalam gudang tembakau selama sepuluh hari sampai situasi Salatiga dirasa aman. Pada hari-hari selanjutnya, aksi kekerasan diwarnai isu SARA yang mencekam Salatiga.
Sebenarnya, sehari sebelum pemukulan Andreas, Bidramnata, seorang mahasiswa FB, juga sempat ditendang dan dipukuli oleh oknum Menwa di Pos Komando Menwa Yon 0914. Pemukulan itu terjadi karena mahasiswa itu meludahi poster pada unjuk rasa 7 Desember. Para pengunjuk rasa kemudian marah dan hampir terjadi perkelahian kalau tidak dipisah anggota Menwa. Bidramnata kemudian dibawa ke markas Menwa di kampus bagian depan. Pada mulanya, oknum Menwa setempat dalam menyidik masalah ini bersikap ramah, tetapi entah bagaimana mulanya, tiba-tiba si Menwa jadi buas. Korban dipukul dan ditendang hanya untuk mendapatkan kepastian bahwa ia yang meludahi poster.[xvi]
Pemukulan ini berakibat lanjut karena kemudian teman-teman Bidramnata—yang merupakan gabungan anak-anak muda dari Malang dan Salatiga—tak bisa menerima perlakuan para Menwa itu. Mereka datang beramai-ramai dan memporak-porandakan kantor Menwa sampai-sampai setiap anggota Menwa lari tunggang langgang.
Tanggal 9 Lembaga Kemahasiswaan (BKK) menulis surat kepada rektor. Lewat surat yang ditandatangani Ketua Umum Yosafati Guloe dan Sekretaris Umum Paulus W. Rattoe itu LK menyatakan tidak tahu apakah pemukulan terhadap Andreas Harsono ada hubungan dengan unjuk rasa 7 Desember. Kalau ya, LK (BKK) sangat menyesalkan karena masalah unjuk rasa sedang ditangani LK dan pimpinan universitas. LK (BKK) juga menghimbau agar pengunjuk rasa dan redaksi Imbas tetap waspada dan menghindari tindakan emosional dan bentrokan fisik.[xvii]
Rektor Willi Toisuta, yang menganggap kasus pemukulan urusan polisi, tidak dapat menyembunyikan rasa tidak senangnya. "Saya amat tidak senang atas tindakan main-main pukul di luar kampus itu," katanya.[xviii]
Akibat rentetan kejadian yang dimulai dengan demonstrasi mahasiswa tanggal 7 Desember, dosen dan mahasiswa jadi terpecah dua, walaupun situasi kampus sudah kembali tenang. Sebagian pro, sebagian menentang Arief. Ke-19 mahasiswa yang pada tanggal 7 berdemonstrasi malah ingin berdemo lagi pada Senin pagi 14 Desember. Niat itu urung karena petugas dan Kodim 0714 sudah berjaga-jaga sejak Senin pagi. Melihat ada petugas, para demonstran tak bergerak karena sekitar BU sudah dijaga. Mereka akhirnya bubar sendiri.[xix]
Tetapi, situasi kampus dan kota Salatiga tetap panas. Isu pun bergulir jadi perseteruan Arief Budiman vs. Rektor Willi Toisuta. Suasana jadi tambah kisruh setelah terjadi penyerbuan terhadap mahasiswa yang tinggal di asrama. Padahal, kejadian itu tak ada hubungannya dengan kampus Satya Wacana.
Peristiwa lain yang menarik dicatat adalah serangkaian interogasi terhadap pemimpin umum Imbas oleh kejaksaan. Interogasi ini baru dihentikan sesudah Ferryanto, PD III FT saat itu, menelepon PR III Urip Setiono. Di kemudian hari juga ketahuan, Urip Setiono pernah mengadukan Imbas, majalah di lingkungan kampusnya sendiri, ke Kodim dengan alasan Imbas tidak punya izin..
***

Akhirnya persoalan kampus UKSW diambil alih Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana. Sebelum pergantian tahun, pihak Yayasan sudah memanggil Pemimpin Umum Imbas Sutanto Gunawan, Senat Mahasiswa FT, Dekan FTJE Ir. Mulyawan Sumartono, Ketua BPMU Abraham Mamesah, Ketua Badan Koordinator Kemahasiswaan, dan pimpinan UKSW. Arief, si pelepas “peluru”, tentu saja juga akan dipanggil bila sudah pulang dari Thailand.[xx]
Ketika akhirnya bertemu dengan pengurus YPTKSW pada bulan Januari 1988, Arief setuju untuk dipertemukan dengan Rektor.[xxi] Pertemuan Arief-rektor akan diadakan tertutup, hanya pihak Yayasan yang akan mendampingi pertemuan itu. Wakil Ketua Yayasan UKSW Dr. Soedarmo mengaku optimis masalah akan selesai.[xxii]
YPTKSW kemudian membantuk Panitia 4 pada 13 Februari. Panitia ini terdiri atas Drs. Wasis, Tjahjakartana (konvokator, dekan FP), Drs. Gultom, dan Prof Haryono Semangun.[xxiii] Suasana kampus jadi tenang kembali. Orang percaya bahwa masalah Arief dengan pimpinan UKSW akan selesai dengan baik.
***

Tetapi, PR III Urip Sutiono membuat ulah sehingga kampus jadi panas lagi. Dalam memonya tanggal 16 Februari 1988, Urip mengimbau BKK agar seluruh media kampus untuk sementara tidak usah terbit dulu. Himbauan itu berlaku untuk kedelapan penerbitan kampus yang ada, yakni buletin Sketsa dari Sema FKIP, majalah Dian Ekonomi, majalah Rekayasa (FH), buletin Biota (FB), buletin Agronomi (FP), majalah Elka (FT), majalah Imbas (FT), dan buletin Syalom (FTh). Memang pantas kalau Urip sewot. Soalnya, kesemua penerbitan fakultas yang muncul itu membela Arief Budiman dan majalah Imbas.
Memo ini kontan membuat mahasiswa marah. Ketua BKK tanggal 19 Februari minta supaya Urip mencabut surat tanggal 12 Januari dan memo tanggal 16 Februari 1988. BKK mengancam kalau memo tidak dicabut, BKK akan “enggan” bekerja sesuai penugasan rektor.[xxiv]
Urip lewat suratnya nomor 68/II/UM/88 tanggal 24 Februari 1988 menjawab bahwa pengistirahatan itu bersifat sementara, sampai kemelut di UKSW selesai. Selain itu, penghentian penerbitan kampus itu sebenarnya dalam rangka pengurusan pemilikan Surat Tanda Terbit (STT). Namun, Sketsa, buletin mahasiswa FKIP, nekad terbit pada 25 Februari 1988. Buletin yang dikelola Humas UKSW juga tetap terbit.[xxv]
Akhirnya, untuk menjernihkan persoalan, sebulan kemudian PR 3 mau menerima para pemimpin redaksi penerbitan kampus di BU. Pertemuan pada Selasa malam tanggal 29 Maret itu berlangsung sampai pukul 2 pagi. Setelah ngobrol-ngobrol, mereka sepakat bahwa masalah tersebut timbul karena kurangnya komunikasi. Sesudah itu, penerbitan fakultas pun boleh terbit kembali[xxvi], kecuali Imbas dan Sketsa. Buntomi WH, pemred Sketsa mengatakan bahwa alasan penghentian itu tidak jelas. Andreas Harsono, pemred Imbas, menantang dengan mengatakan Imbas akan terbit kembali April mendatang.[xxvii]
***

Belum lagi masalah selesai, Ikasatya, yang saat itu diketuai oleh John Ihalauw,[xxviii] mengusulkan kepada Yayasan dalam surat tanggal 19 Maret 1988 agar Arief dipecat. Pernyataan Ikasatya sebenarnya dirahasiakan, jadi bocornya usulan pemecatan itu membuat para pengurusnya kalang kabut. Wakil Ketua II Ikasatya Marthen H. Toelle, SH, yang pernah menjadi mahasiswa Arief di Program Pascasarjana, kemudian membenarkan usulan Ikasatya ini.
Selain diusulkan untuk dipecat, Arief juga dituduh telah mengajarkan Marxisme kepada mahasiswa sehingga jika dibiarkan bisa merugikan UKSW. Untuk menangkal ini, Ikasatya dalam rapatnya juga mengirim surat kepada Komando Resort Militer (Korem) 07 Makutarama agar Arief diawasi.
Kata Marthen, Ikasatya juga mempertanyakan sampai di mana kewenangan Arief hingga berani menggugat pimpinan. Bahkan dengan mengirim surat secara pribadi. "Ini tak lain hanya ingin menjatuhkan nama pimpinan," ujarnya.[xxix]
Arief tentu saja marah dengan usulan Ikasatya. Ia menuduh pengurus Ikasatya pengecut karena mengadakan rapat secara tertutup. Juga, rapat itu diadakan di saat rektor Willi mengeluarkan imbauan agar kemelut UKSW diredakan dulu. "Namun anehnya, Rektor sendiri tampaknya menyetujui, meski ia tidak hadir dalam forum rapat itu," kata Arief.
Lebih jauh Arief mengatakan, soal PHK bagi dirinya tidak maasalah, tapi yang dirasa tidak jantan adalah Ikasatya yang mengadakan rapat tanpa melibatkan Senat Universitas, bahkan rapat itu tertutup. "Kalau memang benar-benar jantan, bukan pengecut, mestinya mengundang saya dalam rapat itu." katanya. Arief juga yakin banyak alumni yang tidak setuju dengan pernyataan Ikasatya.
Arief mengakui telah mengajarkan Marxisme kepada mahasiswa. "Bagaimana orang tahu akan Marxis kalau tidak tahu Marxisme. Apalagi kita sepakat anti-Marxisme. Saya kira di universitas lain juga diajarkan."[xxx] Arief juga menambahkan, "Saya tak pernah menganjurkan dan mengajak mahasiswa menjadi marxis. Marxisme saya ajarkan karena ada kaitannya dalam satu paket mata kuliah teori dan ideologi pembangunan," tutur Arief.[xxxi]
Mengenai mengapa dalam pertemuan Ikasatya yang menyangkut Arief justru Arief tidak diundang, Ketua Ikasatya Cabang Salatiga John Manopo, "Ini kan Ikasatya, ia kan bukan alumni UKSW dan rapat menghasilkan keputusan sebagai pernyataan sikap," ucapnya.[xxxii]
Usulan Ikasatya ini diimbangi oleh pernyataan terbuka dari 235 dosen, alumni, dan mahasiswa yang menyatakan prihatin dengan keadaan UKSW. Para penanda tangan antara lain Ferryanto, Ariel Heryanto, Liek Wilardjo, dan Dekan FT Mulyawan. Tetapi, seorang karyawan kemudian mencabut tanda tangannya karena tekanan pihak pimpinan kampus.
Akibat perkembangan yang tidak terduga arahnya ini, kampus UKSW sejak Rabu, 6 April pagi dijaga oleh Satkam dan pihak berwajib.[xxxiii]
Sebelum Ikasatya mengadakan pertemuan dan membuahkan kesepakatan itu, sebenarnya Pengurus Yayasan dan Panitia 4 sedang asyik-asyiknya bekerja mencari penyelesaian yang bijaksana.[xxxiv]
***

Pernyataan terbuka yang ditandatagani 235 orang diserahkan pada hari Senin, 11 April 1988 oleh Broto Semedi dan mahasiswa Yosep Adi Prasetyo kepada Rektor di BARA yang dijaga ketat oleh Satkam. Sayangnya, rektor tidak di tempat sehingga surat itu diserahkan kepada PR III Urip Setiono.
"Isinya tentang keprihatinan warga kampus, melihat kemelut yang terus berlarut-larut tiada akhirnya," kata Broto. "Pernyataan ini terbuka tanpa memihak siapa-siapa, dan menginginkan agar kemelut UKSW segera berakhir. Pendek kata, minta keadilan" tutur Broto.[xxxv]
Tetapi, penyelesaian masalah UKSW belum terlihat akan terwujud. Apalagi setelah rapat YPTKSW pada 13 April malam gagal menemui kata sepakat. "Kami harus mengkaji lebih banyak lagi permasalahan yang sedang melanda kampus UKSW ini," kata seorang anggota pengurus. Menurutnya, kemelut ini bukan hanya masalah kritik Arief yang kemudian memicu demonstrasi dan usulan pemecatan dari Ikasatya, "Tetapi kemelut yang melanda UKSW sebenarnya menyangkut sistem yang mesti diluruskan." Rapat Yayasan itu dihadiri Haryono Semangoen, Melky, Tedjo Rahardjo, Joas Budiono, dan Djojodihardjo.[xxxvi]
Baru pada tanggal 18 April YPTKSW menyimpulkan apa yang telah terjadi di UKSW. Kesimpulan yang ditandatangani oleh Ketua I Pdt. S. Djojodihardjo dan Sekretaris I Drs. Melky Oe. Nganggoe.ini didasarkan para laporan dan rekomendasi Panitia 4 tanggal 17 Maret 1988:
1. Keresahan dan kemelut terjadi karena kesalahpahaman.
2. Perbedaan pendapat masih dalam batas kewajaran.
3. Semua pihak menyatakan diri bertindak demi kebaikan.

Karena itu, pengurus Yayasan minta kepada warga UKSW agar:
1. Bersifat krits, tidak terpengaruh isu dan mudah terpancing provokasi.
2. Dalam semua tindakannya, termasuk mengeluarkan pendapat, berusaha memikirkan sejauh mungkin akibat yang mungkin terjadi karena tindakan itu.
3. Meningkatkan komunikasi.
4. Tetap memelihara suasana kristiani.

Jadi, Arief tidak di-PHK, kata Haryono Semangun dalam penjelasannya. "Bahkan, sebenarnya tidak ada usul PHK seperti yang termuat dalam surat kabar."[xxxvii]
Selesaikan persoalan? Tidak, kata Arief yang tidak puas dengan keputusan Yayasan. Menurutnya, permasalahan bukan pada dirinya di-PHK atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana pihak Yayasan UKSW menyelamatkan perguruan tinggi itu sebab sumber kemelut adalah kurang terbukanya Rektor.
"Cara penyelesaian kemelut seperti ini tidak substansial," kata Arief. Terjadinya kemelut bukan terletak pada kesalahpahaman, kata Arief. Apa yang ia sampaikan kepada Rektor sangat jelas sekali, semua orang paham dan tahu masalahnya.[xxxviii] "Rektor tahu apa yang saya maksud, tahu tentang tindakan saya, dan sebaliknya, tak ada salah paham," ujar Arief.[xxxix]
“Saya sebenarnya menuntut supaya apa yang saya tuduhkan, yakni bahwa JOI sebagai PR I punya pekerjaan di Bank Dunia dengan gaji US$2.000 sebulan, dibuktikan di muka umum. Kalau ini tidak terbukti, saya akan mengundurkan diri karena telah menuduh orang tanpa dasar. Tapi ini tidak dilakukan. Saya tidak dipersalahkan, kecuali dikatakan secara umum kalau melontarkan kritik hendaknya memperhatikan etika, dan juga JOI maupun Willy tidak diberikan sanksi apa-apa. Jadi, semuanya serba ngambang,” kata Arief.
"Saya khawatir, penyelesaian yang ditempuh Yayasan ini justru nantinya akan menimbulkan gejolak yang lebih besar lagi, dan muncul kelompok tertentu lagi yang akan menuntut adanya penyelesaian kemelut ini," kata Arief.[xl]
***

Andreas Harsono resah. Ia merasa ada yang tidak beres dengan kasus pemukulannya. Sudah berlangsung lama, tetapi pelakunya masih belum disidang juga. Karena itulah pada hari Kamis, 23 Juni 1988 ia mengadu ke LBH Yogyakarta. "Peristiwanya terjadi sekitar tujuh bulan yang lalu," kata mahasiswa FT itu. Ditambahkannya, kalau kasus ini ditangani secara mulus, mestinya tak akan memakan waktu berbulan-bulan. Sebelum pulang, Andreas berharap agar berkat bantuan LBH Yogyakarta, perkara itu segera tuntas menurut hukum yang berlaku.
Direktur LBH Yogya Artidjo Alkostar, SH berjanji akan segera mengirim surat kepada Kapolres Salatiga.[xli]
Andreas juga membuat surat terbuka mengenai kasusnya yang tidak diurus-urus ke harian Suara Merdeka dan dimuat pada tanggal 25 Juni 1988. Tetapi kemudian, karena teror fisik John Manu, Andreas mencabut surat ke Suara Merdeka itu.
Tepat seminggu sesudah mengadu ke LBH Yogyakarta, Andreas dipanggil sebagai saksi oleh Polres.
Dalam persidangan kemudian, akhirnya John Manu, SE (31), alumnus UKSW dan terdakwa pemukul Andreas, dijatuhi hukuman denda Rp7.500 atau satu bulan kurungan karena terbukti melakukan pemukulan terhadap Andreas Harsono. Keputusan ini dijatuhkan hakim tunggal Lego Sumakno, SH setelah mendengar keterangan saksi Yosep Adi Prasetyo, Yosep Perhusip, dan Andreas Harsono sendiri sebagai saksi korban. John Manu juga diwajibkan membayar ongkos perkara Rp500.[xlii]
Persidangan itu sendiri berlangsung tegang karena ada pengerahan sidang dari kedua kubu. John Manu membawa serta anak-anak Sumba, Ambon, dan Manado, sedangkan mahasiswa FT mengerahkan anak-anak Malang dan Salatiga.
***

Penyelesaian masalah 1987-1988 memang tidak pernah tuntas. Urip Setiono tidak pernah mencabut larangan terbit bagi majalah Imbas sampai akhir masa jabatannya, dan Arief Budiman mendapat peringatan tertulis dari YPTKSW dengan SK Dewan Pengurus YPTKSW No. 126/D/DPH/1988 (sifat rahasia). Isinya antara lain:
1. Menyampaikan terima kasih kepada Dr. Arief Budiman atas perhatiannya kepada UKSW dan kritiknya kepada Pimpinan UKSW, yang mendapat banyak perhatian dari Dewan Pengurus.
2. Memperingatkan Dr. Arief Budiman sebagai staf pengajar UKSW agar:
2.1 Lebih etis dan institusional di dalam sikap dan tindakannya untuk memperjuangkan pendapatnya.
2.2 Di dalam mengemukakan kritik hendaknya tidak melepaskan diri dari lingkungan Indonesia, UKSW, dan masyarakat sekitar agar kritiknya lebih lebih dapat diterima dan tidak dinilai sebagai “kritik demi kritik” atau demi kepentingan pribadi.
2.3 Pemberian kritik disertai dengan saran pemecahan masalah. Kritik yang hanya menunjuk segi negatif dari suatu keadaan (terlepas dari keseluruhan masalah) sukar diterima, bahkan dinilai sebagai kritik yang kurang bermutu dan dapat menimbulkan pertentangan-pertentangan.
2.4 Bertindak secara lebih dewasa dengan memikirkan akibat-akibat yang patut diduga dapat terjadi karena tindakan itu, lebih-lebih yang dapat merugikan pihak lain. Persoalan intern UKSW hendaknya diselesaikan secara intern, dan tidak perlu menyiarkannya keluar.
2.5 Membantu terciptanya suasana yang menunjang usaha UKSW dalam mendidik lulusan yang sesuai untuk bekerja dalam lingkungan Indonesia.
2.6 Selalu ingat bahwa semua tindakannya, langsung ataupun tidak langsung, akan membawa nama Satya Wacana.
[i] Suara Merdeka, 28 Oktober 1994
[ii] Wawasan, 6 April 1988
[iii] Editor, 19 Desember 1987
[iv] Imbas, Edisi I Tahun V, Desember 1987, halaman 17-19
[v] Editor, 19 Desember 1987
[vi] Kedaulatan Rakyat, 9 Desember 1987
[vii] Tempo, 19 Desember 1987
[viii] Imbas, Edisi I Tahun V, Desember 1987, halaman 17-19
[ix] Kompas, 11 Desember 1987
[x] Wawasan, 12 Desember 1987
[xi] Editor, 19 Desember 1987
[xii] Wawasan, 14 April 1988
[xiii] Suara Merdeka, 9 Desember 1987
[xiv] Suara Merdeka, 9 Desember 1987
[xv] Wawasan, 21 Desember 1987
[xvi] Wawasan, 16 Desember 1987
[xvii] Kompas, 10 Desember 1987
[xviii] Wawasan, 11 Desember 1987
[xix] Wawasan, 16 Desember 1987
[xx] Wawasan, 26 Desember 1987
[xxi] Kedaulatan Rakyat, 13 Januari 1988
[xxii] Wawasan, 14 Januari 1988
[xxiii] Kedaulatan Rakyat, 10 April 1988
[xxiv] Wawasan, 29 Februari 1988
[xxv] Kedaulatan Rakyat, 29 Februari 1988
[xxvi] Kedaulatan Rakyat, 4 Maret 1988
[xxvii]Kedaulatan Rakyat, 31 Maret 1988
[xxviii] Wawasan, 18 Desember 1987
[xxix] Wawasan, Selasa 5 April 1988
[xxx] Suara Merdeka, 12 April 1988
[xxxi] Surabaya Post, 8 April 1988
[xxxii] Suara Merdeka, 12 April 1988
[xxxiii] Wawasan, Kamis, 7 April 1988
[xxxiv] Kedaulatan Rakyat, 8 April 1988
[xxxv] Wawasan, 12 April 1988
[xxxvi] Wawasan, 14 April 1988
[xxxvii] Suara Merdeka, 22 April 1988
[xxxviii] Wawasan, 22 April 1988
[xxxix] Kedaulatan Rakyat, 25 April 1988
[xl] Wawasan, 22 April 1988
[xli] Suara Merdeka, 30 Juni 1988
[xlii] Suara Merdeka, 10 Juli 1988 dan Wawasan, 12 Juli 1988

Tuesday, December 03, 2002

Clerics issue death sentence against Indonesian scholar

Exclusive - Vol.8,No.2001W-The American Reporter - December 22,2002

by Andreas Harsono
American Reporter Correspondent
Jakarta, Indonesia

JAKARTA, Dec. 3, 2002 -- In a move that might complicate Indonesia's anti-terrorism campaign, a group of local Muslim clerics, or ulemas, issued a fatwa, or death sentence, Monday against Muslim scholar Ulil Abshar-Abdalla, saying that they have condemned him to die for blasphemy. The scholar spoke to the American Reporter by telephone today.

The ulemas issued their joint statement in a press conference in Bandung, Indonesia's fifth largest city, about 115 miles south of Jakarta, claiming that the signatories include leaders of influential Muslim organizations such as Persatuan Islam, Muhammadiyah, and the Justice Party.

Persatuan Islam (United Islam) and Muhammadiyah are two of Indonesia's oldest Muslim groups. The 20-million strong Muhammadiyah is the second largest Muslim organization after the Nahdlatul Ulama, whose leaders include former President Abdurrahman Wahid.

Persatuan Islam was established in the 1920's and is relatively smaller than the Muhammadiyah and the Nahdlatul Ulama. The Justice Party was established in 1998 when Indonesian dictator President Suharto was removed after 32 years in power. The party controls some seats in the parliament and is known to be a rather orthodox Muslim party but very well-disciplined.

"There is a strong indication that a network of conspiracy exists to corner Islam. This should be investigated further but the death sentence, according to the shariah, is clearly given to anyone who swears word against Islam," said Athian Ali of the Indonesian Forum of Ulemas and Ummah.

Detikcom quoted Athian Ali as saying that Ulil's column, which was published on Nov. 18 in Kompas daily, Indonesia's largest serious newspaper, was blasphemous against the Prophet Mohamad and Islam.

Indonesia has just recently joined the global bandwagon of anti-terrorism campaign after more than 180 people, mostly Australian and British, were killed in a Bali disco. With more than 200 million population, Indonesia is also the largest Muslim country in the world. It has been largely secular in its public life.

Ulil Abshar-Abdalla is the coordinator of the Jakarta-based Liberal Islam Network whose goals are to educate the Indonesian public about a "moderate interpretation" of Islam.

One distinction between Ulil and British author Salman Rusdhi, whose death fatwa issued by Iranian Ayatollah Khomeini after publication of his novel "Satanic Verses" catapulted him to a world fame, is that Ulil comes from an elite and respected ulema family.

His father is a cleric who runs an Islamic boarding school. His father-in-law sits on the board of the Nahdlatul Ulama. An uncle is a deputy speaker of Indonesia's national assembly. Ulil also attended boarding school when he was a small boy, and studied Arabic in a Saudi Arabia-sponsored university in Jakarta.

It is not impossible that the threat against Ulil might prompt other Nahdlatul Ulema clerics to join in the debate. Nahdlatul Ulama is a moderate and rurally-based organization. Internet mailing lists are now filled with pros and cons about the fatwa.

"This is a threat and it's a public nuisance. The police should take action against these people," said Ulil from his hometown of Rembang in Central Java, about 310 miles east of Jakarta, in a telephone interview with The American Reporter.

He said he still does not know how to react, adding that he had not discussed the fatwa with his colleagues and other relatives. He is now back in Rembang to celebrate the end of the Ramadan fasting month on Dec. 6, in the Muslim homecoming tradition common throughout Indonesia.

In his newspaper column, entitled "To Refresh the Interpretation of Islam," Ulil argued that Muslim scholars should differ Islam's Arabic cultural context and its fundamental values such as justice and dignity. Some Islamic aspects, such as "hand chopping, veiled women, beards on Muslim men, are Arabic values."

Indonesia entered a difficult transitional democratic change with the fall of President Suharto in 1998. The process became much more complicated after the attacks on the World Trade Center and the Pentagon last year as well as after the Bali, Indonesia, bombing of a tourist nightclub on Oct. 12, in which more than 190 people - many of them foreigners - were killed.

Many Muslim circles aired anti-America sentiment and said orthodox Islam is a way to cope with the new realities in post-Suharto Indonesia, as well as a remedy against the excesses of American-style capitalism.

Ulil joined the groups that advocate the promotion of moderate Islam. Last month he was involved in a widely-discussed debate, especially on the radio, with Abubakar Ba'asyir, an orthodox Muslim ulema, who allegedly heads the shadowy Jema'ah Islamiyah terrorist network and has been questioned concerning the Bail bombings.

Ba'asyir has consistently denied his involvement in terrorism. He also said that it was a coincidence that many of his students, ranging from the Bali bombers to others arrested on terrorism charges in Malaysia and Singapore, are involved in terrorism.

Critics say Ulil closes his eyes toward the ills of secular society, ranging from promiscuous sex to growing consumerism to the neglect of the most sacred principles of Islamic teachings, such as praying five times a day or fasting during the Ramadan.

Ulil wrote in this column that "the enemy of Islam is dogmatism." He once said that he received many responses because of the column. His column is also widely condemned or praised on more than 60 mailing lists.

The name of the Bandung forum is relatively unknown in Indonesia. Detikcom reported that Athian is an ulema who is closely associated with Persatuan Islam. Other figures in Bandung include Rizal Fadillah, a politician with the United Development Party of Reform, as well as some clerics from several Islamic boarding schools in western, central and eastern Java.

Copyright 2002 Joe Shea The American Reporter. All Rights Reserved.

Friday, November 01, 2002

Debat Radio

Abubakar Ba'asyir versus Ulil Abshar-Abdalla

ADA sebuah debat menarik diadakan di Jakarta beberapa saat sebelum ustadz Abubakar Ba’asyir resmi dituduh teroris. Tema diskusi, siapa dalang pemboman Pantai Kuta? Debatnya ramai karena melibatkan Ba’asyir serta koleganya Fauzan al Anshari dari Majelis Mujahidin Indonesia, serta Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal.

Ba’asyir dan Ulil pendapatnya berbeda. Ulil aktivis muslim yang menilai Islam warna-warni, ada Islam radikal dan Islam moderat, serta sering bicara perlunya pemisahan negara dan agama. Ba’asyir kebalikannya. Ba’asyir giat bicara soal Islamisasi negara dan negara Islam.

Debat diadakan di sebuah ruang diskusi Hotel Sahid Jaya. Karpet merah. Gorengan empuk. Bolu gulung. Teh dan kopi hangat –yang terasa kurang karena membludaknya peserta.

Introduksi. Ketika al Anshari masuk ruangan, Ulil duduk di baris depan dan memberi salam, “Zan gimana? Wah, pakaian hitam berkabung nih?”

“Bukan. Hitam siap berperang,” jawab al Anshari. Suasana jadi agak tak enak. Ulil tak melanjutkan pembicaraan. Al Anshari menuju tempat penganan. Ulil merasa prihatin dengan pemboman Bali yang menelan korban sedikitnya 180 orang. Al Anshari prihatin karena pihaknya dipojokkan.

Moderator debat Supriyatno Yayat, produser radio Namlapanha FM 89,35 MHz dan AM 603 KHz. Dia gesit mengatur pembicara, termasuk juga Muhcyar Yara dari Badan Intelejen Negara dan Kelik Ismunanto dari Partai Rakyat Demokratik (Jaringan Islam Liberal dan Namlapanha ada kaitan administrasi dengan Institut Studi Arus Informasi –penerbit majalah Pantau).

Debat dibuka ustadz Ba’asyir lewat telepon, “Amerika menuduh saya itu fiktif saja, tidak ada bukti-bukti yang jelas. Kita sebagai seorang Islam, bicara akar masalah, dan ditinjau dari segi syariah, jangan hanya logika saja. Anda harus tahu bahwasanya persoalan teroris yang dibuat-buat Amerika ini, hanyalah bumbu-bumbu. Tapi akar masalah, kalau kita kembalikan dari al Quran dan sunnah, itu sebenarnya orang-orang kafir sedang memerangi Islam.”

YAYAT: Bagaimana dengan laporan CIA? Nama Anda disebut-sebut oleh (wakil al Qaeda Asia Tenggara) Omar al Faruq dalam pemeriksaan?

BA’ASYIR: Saya tidak kenal siapa namanya Faruq. Itu hanya dikarang-karang saja oleh mereka. Saya tantang, mereka suruh datang ke sini Faruq, berhadapan dengan saya. Dikonfrontir. Itu namanya pemeriksaan yang bener. Selamanya CIA, intel-intel kafir laknatullah itu, membuat makar yang menipu. Itu sudah pekerjaan mereka. Maka sekarang saya tantang, kalau memang Faruq itu benar, bawa ke sini, konfrontir dengan saya. Buktikan! Kalau memang saya salah, siap dihukum. Itu namanya jantan.

YAYAT: Saat ini ada polisi Indonesia di Amerika memeriksa al Faruq. Di Jakarta, (Menteri) Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa penangkapan Anda akan tergantung dari hasil penyidikan di sana?

BA’ASYIR: Itu tidak bisa saya terima. Pemeriksaan berhadapan-hadapan, itu yang bener-bener pemeriksaan. Jadi bukan sekedar pesan yang bisa dibuat-buat. Itu menunjukkan bahwa Indonesia sudah mulai diinjak-injak Amerika.

Ba’asyir menutup pembicaraan. Yayat memberi kesempatan pada Muchyar Yara. “Kami menganggap masalah terorisme tidak meyangkut masalah agama. Korban di Bali banyak orang muslim, puluhan juga, karena terorisme tidak memandang suku maupun agama. Terorisme adalah musuh kemanusiaan yang harus diperangi. Siapa pun dia, kalau terbukti terlibat, maka tidak bisa dipandang bulu walau dia tokoh satu agama,” kata Yara.

Yara mengatakan BIN berpendapat “belum ada bau-bau keterlibatan” Ba’asyir dalam pemboman Bali. “Bukti-bukti sampai saat ini tidak ada. Kalau Faruq terlibat pelatihan (militer) di satu daerah di Sulawesi, itu confirmed. Tapi apakah Faruq mempunyai keterkaitan dengan tokoh-tokoh domestik, itu belum bisa dikemukakan di sini.” Yara menekankan bahwa BIN sudah sejak 1,5 tahun lalu mengingatkan publik adanya ancaman terorisme internasional di Indonesia tapi peringatan itu malah dipakai untuk memojokkan BIN.

Ulil diberi giliran berikutnya, “Masalah Bali ini sudah menjadi masalah internasional. PBB sudah ikut mendorong semua negara membantu Indonesia. Negara-negara lain sudah menganggap ini bukan saja masalah Indonesia tapi masalah internasional. Kita perlu mental switch. Ada perubahan cara pandang. Kemarin-kemarin setiap ada peristiwa kekerasan, sikap beberapa tokoh Islam dan masyarakat yang lain, itu menolak. Self denial. ‘Ini bukan kami. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang suci dan baik. Umat Islam yang baik. Tidak mungkin berbuat kejahatan.’”

Ulil mengatakan ada tiga teori masalah Bali. “Pertama, ini adalah pekerjaan al Qaeda. Kedua, teori yang dikembangkan Abubakar Ba’asyir, hari kedua setelah ledakan, dan didukung sejumlah tokoh Islam Solo, bahwa ini semua adalah buatan Amerika Serikat. Teori ketiga mengatakan ini buatan militer Indonesia untuk destabilisasi pemerintahan Megawati.”

Ketiga teori punya status sama untuk dipertimbangkan. Tapi berdasarkan petunjuk-petunjuk awal yang dikumpulkan beberapa dinas intelijen, menurut Ulil, al Qaeda adalah “aktor yang sangat bisa dipertanggungjawabkan” untuk menjelaskan sejumlah tindak kekerasan di beberapa tempat.

Apalagi ada pernyataan Osama bin Laden lewat televisi al Jazeera seminggu sebelumnya bahwa al Qaeda akan melakukan “serangan baru” terhadap kepentingan ekonomi Amerika Serikat. "Kita belum bisa menetapkan apakah al Qaeda salah, Abubakar Ba’asyir salah atau tidak, tetapi clue yang tersedia sekarang ini menempatkan teori pertama itu lebih valid untuk dipertimbangkan,” kata Ulil.

Al Jazeera menyiarkan pernyataan bin Laden pada Minggu, 6 Oktober. Suara bin Laden hanya sepanjang dua menit dan ditujukan para pemerintahan Presiden George W. Bush, “Para pemuda pilihan Allah SAW sedang mempersiapkan hal-hal yang akan mengisi hati Anda dengan ketakutan dan mencari target ekonomi Anda sehingga agresi dan penindasan ini dihentikan.”

Apakah itu memang suara Osama bin Laden? Ada spekulasi bahwa bin Laden sudah meninggal ketika terjadi pemboman Amerika terhadap Afghanistan tahun lalu. Presiden Afghanistan Hamid Karzai termasuk yang percaya bin Laden sudah meninggal. Al Jazeera percaya itu suara bin Laden.

Ulil minta pemerintahan Megawati Soekarnoputri bersikap tegas karena ancaman terorisme sangat serius. “Tidak usah khawatir dicap melakukan tindakan anti-Islam. Kritik saya terhadap ustadz Abubakar Ba’asyir adalah, seolah-olah mengadili Osama bin Laden, mengadili Abubakar Ba’asyir, itu sama dengan mengadili Islam. Tidak benar sama sekali itu. Harus dibedakan Islam dan orang-orang Islam, yang bisa berbuat baik, yang bisa berbuat jelek.”

Debat mulai memanas. Para pengunjung blingsatan. Asap rokok memenuhi ruangan. Fauzan al Anshari bercerita soal dukungan Amerika terhadap Israel menteror rakyat Palestina. Dia bilang Majelis Mujahidin Indonesia tak terlibat terorisme dan membuka akses sebesar-besarnya terhadap media, terutama media Barat, untuk meneliti hingga detail, misalnya, pesantren Ngruki.

Kata-kata tak enak sempat muncul. Ulil menilai Kelik dan al Anshari membuat perbandingan yang tak relevan antara pemboman Bali dengan terorisme negara. Kelik bicara terorisme negara Orde Baru (penculikan aktivis) dan al Anshari “dari zaman Nabi Adam.”

“Kejauhan itu,” celetuk Ulil.

Al Anshari tersinggung. Dia bertanya tidakkah semua orang keturunan Adam? Apakah Ulil “keturunan iblis?”

Ulil tak menjawab. Yayat memberi kesempatan para peserta saling menanggapi. Ada yang tanya bagaimana dengan pernyataan-pernyataan mantan intel AC Manullang dan ZA Maulani yang memperkirakan Amerika di balik pemboman Bali?

Muchyar Yara mengatakan BIN sebagai institusi “keberatan” bila omongan Manullang dan Maulani dikaitkan dengan mereka. Yara mengatakan profesi intel menuntut pelakuknya tutup mulut seumur hidup. BIN hari ini beda dengan badan intelijen periode Maulani dan Manullang.

Diskusi berlangsung satu jam 45 menit tanpa jedah, tanpa iklan. Lebih panjang 15 menit dari jadwal. Ba’asyir bahkan menelepon ulang dan minta diberi giliran menanggapi Ulil. Ba’asyir mengatakan, “Saya setuju jika memang ada orang Islam yang membuat suatu kerusakan, ia harus dihukum. Hal itu harus dinilai secara adil. Tetapi dalam hal ini, kita juga harus bisa menilai dengan baik terhadap Amerika. Apakah mereka cukup adil dalam menentang terorisme di dunia? Kok kejadiannya di Bali yang mayoritas beragama Hindu dan di Manado?” kata Ba’asyir.

Lagi-lagi Ba’asyir menyatakan Amerika ada di balik pemboman itu untuk menyudutkan muslim Indonesia. Debat ini memang tak bisa mengambil kesimpulan siapa di balik pemboman Bali tapi ia memberi kesempatan bagi orang-orang yang bertentangan untuk berkomunikasi. Mungkin ini satu kemajuan dalam demokrasi Indonesia –yang baru berumur empat tahun itu.

Usai diskusi Fauzan mengatakan, ”Baju hitam yang saya kenakan ini menunjukkan bahwa kami siap berperang. Terutama berperang opini.”

--Aiyub Syah
Majalah Pantau No. 031 November 2002

Tuesday, October 01, 2002

Dewa dari Leuwinanggung

Andreas Harsono

Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?


LEUWINANGGUNG adalah sebuah desa yang mirip kebanyakan dusun Pulau Jawa, dimana ada banyak rumah, berderetan pada sebuah jalan utama, diselingi jalan-jalan kecil, beberapa sekolah, ada sebuah masjid besar, ada sebuah klinik, banyak pepohonan dan kerindangan bambu, lantas ada madrasah ibtidaiyah, tempat anak-anak belajar matematika juga agama Islam, serta kantor lurah lengkap dengan pegawai negeri berseragam coklat, walau Leuwinanggung tidak sama dengan desa-desa lain di Pulau Jawa karena di sana ada rumah seorang dewa. Namanya Iwan Fals.

Sang dewa ini tinggal di sebuah rumah besar, tanahnya 6.000 meter persegi, bagian terbesar dipakai untuk sebuah toko, pendopo, sebuah panggung terbuka, maupun kantor organisasi para penggemar si dewa bernama Oi. Sedang kediaman pribadi sang dewa dilengkapi studio musik, garasi mobil (termasuk bus), rumah tinggal, serta kebun dengan rumput tercukur rapi.

Suatu sore September lalu, Iwan Fals menceritakan perkenalannya dengan Leuwinanggung pada saya. “Tahun 1982 saya cari tanah di sini, maksudnya untuk investasi saja,” katanya. Dia membeli tanah dari rezeki penjualan kaset Sarjana Muda yang diluncurkan 1981 dan terjual 300 ribu buah. Kisah berikutnya, dia sekali-sekali datang dari Jakarta bersama istrinya, mantan model Yos Rosana, menengok tanah mereka serta membawa pulang buah-buahan dari kebun.

Leuwinanggung menarik karena warganya rukun. Kalau ada acara perkawinan, jaipongan, atau kematian, semuanya kumpul. “Bila ada kematian, pengunjung yang datang justru dibayar. Diberi uang. Mereka bahkan sampai ngutang. Dalam hati saya pikir, ‘Gagah amat.’ Saya merasa kecil sekali. Kayak jawara gitu. Ada kegagahan di sini. Kalau mereka datang kenduri, duduk, pandangan ke depan, nggak ditegur ya diam saja. Kalau ada makan ya nggak rakus. Saya kan dulu nggak tahu. Ada makanan ya saya makan,” kata Iwan.

Kalau sedang tak sibuk, Iwan ikut salawatan tiap malam Jumat. “Bahasanya campur Arab, Sunda, Jawa. Ada 20 nomor salawatan lama yang saya kumpulkan.” Salawatan untuk sebuah desa macam Leuwinanggung, yang tanahnya, kapling demi kapling dibeli orang Jakarta, dan anak-anak mudanya mulai kekurangan pekerjaan, bisa jadi kekuatan untuk desa ini. “Kekuatan secara batin, secara spiritual,” kata Iwan.

Leuwinanggung sendiri terletak di daerah Bogor. Penduduk di sana sehari-hari bicara bahasa Sunda kasar. Orang butuh sekitar satu jam naik taksi dari Jakarta ke Leuwinanggung. Daerahnya terpencil. Selewat magrib, jalanan Leuwinanggung sepi dan jarang ada kendaraan. Ketika 16 Agustus lalu saya kemalaman di Leuwinanggung, lewat tengah malam saya jalan kaki empat kilometer untuk mendapatkan tukang ojek.

Ketika itu sekitar 600 penggemar Fals dan penduduk Leuwinanggung merayakan Agustusan bersama. Di sanalah saya menemukan banyak iwan fals. Mereka bergaya ala Fals dengan rambut gondrong, jins belel, memberi salam dan berteriak “Oi.” Suaranya dibuat dalam, agak serak. Di panggung, lagu-lagu Fals dibawakan bergantian, dari yang mirip aransemen aslinya, sehingga mendapat tepuk tangan, sampai yang ditertawakan penonton—dapat tepuk tangan juga.

Yang ditertawakan termasuk seorang pemuda 30-an tahun. Topinya merah, rambutnya gondrong sepundak, kulitnya gelap, giginya putih bersih, dan namanya Fajar Wijaya. Fajar seorang pengamen kelahiran Yogyakarta tapi lebih sering mengamen di Cilegon. “Saya terharu, menjerit, merasa ada panggilan hati. Dapat bimbingan dari lagunya itu,” katanya, mengacu lagu Di Mata Air Tak Ada Air Mata.

“Saya merasa kok ada hikmah tersendiri buat hidup saya. Saya merantau. (Lagu) ini nasihat dalam perjalanan hidup saya. Saya merenungkan jati diri saya,” kata Fajar, tersenyum, menarik-narik baju lurik lusuh.

Iwan Fals memang bukan dewa dalam pengertian mitologi Yunani. Mungkin kedewaan Fals lebih dekat dengan fenomena musik 1960-an ketika dinding-dinding kota London dicorat-coret dengan kalimat, “Clapton is god (Clapton seorang dewa).” Mereka yang anonim itu memuja Eric Clapton, gitaris blues Yardbirds yang muncul di Inggris pada 1963. Majalah Rolling Stone menyebut Clapton menonjol karena konsisten menjaga standar mutu karyanya.

Orang yang malam Agustusan itu tak kalah sibuknya dengan Fajar adalah Slamet Setyabudi, koordinator keamanan Oi, yang sehari-hari bekerja sebagai tentara dengan pangkat sersan dua dari Pasukan Pengawal Presiden. Slamet badannya tegap, orangnya ramah. Dia anggota Grup C, yang bertugas mengawal tamu-tamu negara. Dia pernah mengawal Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Timor Lorosa’e Xanana Gusmao.

“Habis dinas saya ke sini,” katanya.

Slamet sesekali membawa rekan-rekannya ke Leuwinanggung untuk bantu keamanan. “Tentara yang penggemar Mas Iwan ini sebenarnya banyak,” katanya. Saya sempat berpikir nakal. Negara Indonesia membayari ratusan tentara untuk mengawal presiden dan wakil presiden. Mereka menerima gaji, sering pergi ke luar negeri, menerima pelatihan, mendapat seragam keren. Tentara yang sama mengawal Iwan Fals dengan gratis!

Malam itu lebih dari selusin pengurus Oi bercerita tentang Fals pada saya. Mereka cerita para penggemar yang terperangah ketika pertama kali menemui Fals. Banyak yang “gila” dengan memeluk, mencium tangan, dan menangisi Fals. Ada yang datang dari Flores, Riau, Jambi, dan sebagainya.

Malam itu saya berharap melihat ritual tersebut. Ratusan penggemar berharap sang dewa muncul. Namun Iwan tetap tinggal di rumah. Dia “meriang, kecapekan” dan dicurigai kena tipus. Dewa ini ternyata manusia biasa yang bisa sakit.


MALAM itu juga ada Muhamad Ma’mun. Seorang lelaki yang menarik. Penampilannya kalem, rambutnya panjang, dan terkadang dipanggil “Romo.” Ma’mun dulu pernah kerja di perusahaan properti tapi sekarang wiraswasta, memborong pekerjaan bangunan rumah. Ma’mun mengenal keluarga Fals sejak 1985 ketika Iwan mulai mondok di sebuah rumah di Jalan Barkah, daerah Manggarai di pusat Jakarta. Rumah itu milik Lies Suudiyah, seorang pekerja sosial dan ibunda Iwan.

Fals waktu itu sudah berkeluarga dan tinggal di Condet.

“Panggilan rumahnya Tanto,” kata Ma’mun.

Nama lengkapnya Virgiawan Listanto. “Galang masih kecil, belum sekolah, mungkin empat atau lima tahun. Cikal baru bisa jalan,” kata Ma’mun, mengacu pada anak Iwan: Galang Rambu Anarki dan Anisa Cikal Rambu Basae.

Entah kenapa keduanya cocok. Ma’mun usianya tiga tahun lebih tua dari Iwan. Ma’mun kelahiran Solo 1958 sedang Iwan Jakarta 1961. Mungkin mereka punya karakter dasar yang sama. Keduanya orang yang tak ragu mempertanyakan apapun. Saya terkesan dengan kerendahan hati mereka. Ketika mondok, Ma’mun bekerja sebagai pegawai PT Pembangunan Jaya sementara Iwan sudah mulai dikenal sebagai penyanyi. Persahabatan mereka berlanjut hingga sekarang. Ma’mun termasuk orang yang diminta Iwan jadi pengurus Yayasan Orang Indonesia—yayasan sosial yang dibentuk dan diketuai Iwan sendiri.

Pengalaman berkesan Ma’mun terjadi ketika mereka lagi membaca harian sore Sinar Harapan yang memuat foto anggota-anggota parlemen ketiduran saat sidang. “Wah, ini perlu disentil To,” kata Ma’mun.

Iwan menyanding gitar dan Ma’mun membawa pena. Mereka bekerja mencari lirik dan musik. Semalaman mereka bekerja. Hasilnya, lagu Surat Untuk Wakil Rakyat yang dimasukkan dalam album Wakil Rakyat (1987). Ma’mun bangga dengan karya bersama ini apalagi ketika mahasiswa menjadikan lagu itu “lagu wajib” demonstrasi. Hingga kini Ma’mun rutin mendapatkan kiriman uang royalti dari Musica—produser dan distributor sebagian besar album Fals.

Ma’mun menilai temannya itu sebagai salah satu penyanyi kritik sosial terkemuka di Indonesia. Iwan menggunakan bahasa Indonesia, untuk bercerita tentang anak maling yang jadi maling, sunatan massal, pelacur, korupsi, nasib guru, dan sebagainya. Majalah Time Mei lalu menyebutnya “pahlawan Asia”—sejajar dengan Jackie Chan, Xanana Gusmao, dan Aung San Suu Kyi.

Kalau artis lain menjaga penampilan mereka lewat make up menyala, potongan rambut aneh, kostum unik, atau operasi plastik untuk memperindah diri, Iwan Fals tampil biasa. Beberapa kali saya menyaksikan Iwan memakai kaos Shanghai, kaos katun tipis dan lembut, yang harganya Rp 10 ribu selembar, saat konser. Orang toh tetap histeris melihatnya. Iwan mungkin punya kharisma.

Amir Husin Daulay, seorang aktivis mahasiswa 1980-an dari Yayasan Pijar, menyebut Fals “nabi buat para pengikutnya.” Pada 1983, Daulay mengundang Fals mengamen ke kampus Akademi Ilmu Statistik. Iwan datang bersama Yos, membawa gitar, menyanyikan empat lagu, dan mendapat honor Rp 400 ribu. Pengalaman mengamen, yang dilakukannya bertahun-tahun, melatih Iwan menghadapi massa, dari pentas ke pentas, sehingga tahu bagaimana mengatur dirinya sendiri, bagaimana mengatur suara, mana yang disukai, mana yang tak disukai.

Persahabatan Ma’mun dan Iwan meningkat seiring karier mereka berdua. Antara Sarjana Muda hingga album Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu pada 1989, Iwan menghasilkan 13 album bersama Musica. Artinya, hampir satu album tiap enam bulan. Ini luar biasa.

Pada 1989 Iwan menerbitkan album Mata Dewa bersama Arena Indonesia Production (Airo). Mereka berniat mengadakan tur 100 kota. Konser perdana 26 Februari 1989 di Jakarta berjalan baik tapi buntutnya sebelas kendaraan bermotor dirusak. Mengapa kerusuhan terjadi? Sampai hari ini belum ada penjelasan rinci. Apa polisi kurang profesional? Atau Arena Indonesia Production kurang siap? Atau Fals mengeluarkan kalimat-kalimat yang memprovokasi massa?

Tapi tur jalan terus ke Pulau Sumatra. Sore hari 9 Maret 1989, Ma’mun dan Iwan Fals berada di sebuah hotel di Palembang. Keesokannya, Iwan bakal tampil di konser Mata Dewa. Sehabis makan malam, Ma’mun dan Iwan masuk kamar. Di depan cermin, mereka bicara soal persiapan konser.

Gayane ngene yo?” tanya Iwan, sambil pegang gitar akustik.

Ojo ndingkluk. Rodo ndegek,” kata Ma’mun. Iwan pun mengubah gayanya memegang gitar.

Nek penyanyi rock ngene lho!” kata Ma’mun, mengambil gitar dan memberi contoh.

Mereka diskusi sebelum tidur. Keesokan harinya, Sofyan Ali, promotor Arena Indonesia Production, memberi kabar buruk. Polisi Palembang memberitahu ada radiogram dari markas polisi Jakarta. Mereka melarang Fals melanjutkan tur guna menghindari kekacauan. Padahal alat-alat sudah siap, panggung sudah siap. Rencana pertunjukan Palembang, Padang, Jambi, Medan, dan Banda Aceh dilarang. Iwan menangis. “Buat Iwan panggung adalah kehidupannya. Dia jadi hidup kalau di panggung,” kata Ma’mun.

Ironisnya, polisi melarang ketika belum ada penelitian tuntas mengapa keributan Jakarta terjadi. Di mana-mana kumpulan massa punya potensi ribut, dari massa sepak bola hingga musik. Ini tak berarti orang dilarang main bola atau nonton musik bukan? Bagaimana kebudayaan manusia akan maju kalau khawatir ribut? Bukankah polisi dibayar, bahkan negara diadakan, agar kebudayaan bisa maju, agar demokrasi bisa berkembang?

Lebih susah lagi. Di Indonesia, banyak orang malas berpikir, banyak wartawan malas melakukan reportase, dan lebih banyak lagi orang yang suka mengembangkan teori “pihak ketiga.” Di mana-mana ada teori ini. Buruh dilarang demonstrasi karena ditunggangi “pihak ketiga.” Mahasiswa bikin rusuh karena “pihak ketiga.” Saya mempelajari laporan berbagai suratkabar Indonesia dan melihat ada tiga teori “pihak ketiga” di balik pembredelan Mata Dewa.

“Pihak ketiga” pertama adalah “mafia Glodok” yang meminjam tangan polisi untuk mematahkan gaya distribusi kaset ala Sofyan Ali. “Mafia Glodok” adalah sebutan untuk industri rekaman yang berpusat di Glodok, Jakarta. Mereka kebanyakan dikelola pengusaha Indonesia etnik Tionghoa dan dianggap kurang menghargai seni, kurang menghargai musisi, tapi menguasai distribusi kaset. Spekulasi ini datang karena Iwan Fals pindah dari Musica ke tempat Sofyan Ali.

“Pihak ketiga” kedua adalah “industri rokok tertentu” yang meminjam tangan polisi guna menjegal pemasaran rokok Djarum—sponsor utama Mata Dewa. “Pihak ketiga” ketiga adalah pejabat-pejabat “tertentu” yang tak senang dengan kritik sosial Fals.

Tak ada bukti kuat untuk mendukung ketiga teori itu. Tapi cukup banyak alasan mengatakan ketiganya spekulatif. Iwan tak sepenuhnya pindah dari Musica karena ia juga mengerjakan lagu Kemesraan bersama artis Musica. “Saya merasa bersyukur punya partner Musica,” kata Iwan pada saya. Bisnis musik juga kecil sekali dibanding bisnis rokok. Raksasa industri rokok Djarum (Kudus), Sampoerna (Surabaya), Gudang Garam (Kediri), dan BAT (Jakarta) memang bersaing tapi juga bergabung dalam suatu kartel. Promosi lewat Fals memang penting tapi hanya sebagian kecil dari promosi Djarum. Keuntungan Djarum tahun lalu saja sebesar Rp 2,08 triliun atau hampir dua kali lipat omzet semua industri rekaman Indonesia. Siapa pejabat yang tak suka Fals? Setiawan Djody, rekanan bisnis Sofyan Ali dan salah satu pemegang saham PT Airo Swadaya Stupa, juga dekat dengan kalangan pejabat. Mengapa tak ada yang bicara dengan Djody?

Di Palembang tak ada verifikasi dan tawar-menawar. Kekuatan negara Orde Baru sangat kuat. Jangankan Iwan Fals. Protes dari hampir semua organisasi nirlaba di Indonesia, terhadap penggenangan desa-desa calon waduk Kedung Ombo bulan sebelumnya, juga diabaikan rezim Soeharto. Bank Dunia, yang mendanai Kedung Ombo, tak berbuat banyak melihat puluhan ribu petani mengungsi menyelamatkan harta dan nyawa. Iwan melawan. Dia jalan sendirian ke Padang, Jambi, dan lainnya, untuk memberitahu publik dia tak bisa memenuhi janji karena dilarang polisi. Ma’mun pulang ke Jakarta membawa pulang peralatan dengan delapan truk. “Pakaian saya bawa, kopernya saya bawa pulang. Dia cuma bawa pakaian satu.”

Di Jakarta, pelarangan itu juga memprihatinkan musisi lain. Sawung Jabo, musikus dari komunitas Sirkus Barock, menelepon Iwan untuk menyatakan simpati. Iwan pernah ikut pementasan Sirkus Barock pada 1986.

“Saya lupa persisnya. Suatu malam Iwan datang ke rumah saya di Pasar Minggu, yang notabene rumah tempat kami sering ngumpul. Iwan menawarkan untuk membuat album,” kata Jabo.

“Pada awalnya Iwan, kalau tidak salah mengusulkan nama Septiktank, tapi saya dan beberapa kawan menolaknya. Lalu kita mengusulkan nama yang kami pilih lewat lotere. Setelah diundi terpilihlah nama Swami, yang kebetulan nama itu usulan saya.”

Ini plesetan dari kata “suami” karena mereka semua sudah beristeri.

Rata-rata awak Swami pernah terlibat Sirkus Barock. Baik pemain flute Naniel, pemain gitar bass Nanoe, pemain piano Tatas, apalagi drummer Inisisri yang banyak memberi warna musik Sirkus Barock. Hanya Jockie Suryoprayogo dan Totok Tewel agak baru di Sirkus Barock.

Mereka pun bekerja. Lagu paling spektakular berjudul Bento. Iwan sempat mengajak Ma’mun pergi ke studio tempat mixing dan minta komentar tentang Bento. Ma’mun berkomentar, “Wah, ini kayak virus. Ini cepet nyebarnya.”

Iki piye Mas?” tanya Iwan.

Apik. Virus kabeh.”

Iwan dan kawan-kawan senang. Mereka makan nasi bungkus sembari mengobrol hingga pagi.

Bento diciptakan Iwan dan Naniel. Liriknya tentang seorang pengusaha serakah dan korup. Bisnisnya “menjagal apa saja” asal dia senang dan persetan orang susah. "Bento" sendiri artinya “goblok” dalam dialek Jawa Timuran. Ketika mengarang Bento, Iwan sempat memperhatikan seorang pengusaha, yang kaya dan kejam, punya rumah real estate. Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini. “Tapi saya nggak perlu sebut (namanya). Saya nggak kenal pribadi, kenal jarak jauh,” katanya pada saya.

namaku Bento, rumah real estate
mobilku banyak, harta melimpah
orang memanggilku bos eksekutif
tokoh papan atas, atas segalanya, asyik


Sawung Jabo membantu aransemen lagu tersebut, “Saya memasukkan unsur tema lead accoustic,” katanya. Ketika beredar ke pasar, Swami memang ibarat virus. Lagu Bongkar juga jadi salah satu hit. Mula-mula media sempat bertanya-tanya apakah TVRI bersedia menyiarkan Swami. TVRI waktu itu satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. TVRI sepenuhnya dikuasai rezim Soeharto. Ternyata tanpa ada keistimewaan, Bongkar muncul pada 13 Maret 1990. Ini mengejutkan banyak wartawan musik. Sekali lagi teori “pihak ketiga” tidak laku.


PADA Maret 1990 rombongan Swami datang ke Salatiga: Sawung Jabo, Iwan Fals, Naniel, Nanoe, Inisisri, penyair W.S. Rendra, pengusaha Setiawan Djody, dan sebagainya. Salatiga sebuah kota kecil di tengah Pulau Jawa yang pada 1980-an secara politik cukup dinamis.

Media banyak memperhatikan kedatangan mereka. Bagaimana tidak? Djody miliuner kapal tanker yang dekat dengan keluarga Soeharto. Rendra seorang penyair, mungkin yang terbaik di Indonesia, yang beberapa kali masuk tahanan Orde Baru. Jabo pemusik yang sering bikin eksperimen bermutu. Iwan sendiri dianggap makin memberontak sejak Palembang. Sebuah kolaborasi unik.

Orang yang berperan mendatangkan Swami ke Salatiga adalah Endi Agus Riyono A.S. atau biasa disingkat Endi Aras—seorang mantan aktivis mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga dan wartawan majalah Film di Jakarta. Endi orangnya ramah, rambut bergelombang sebahu, murah senyum, pandai bergaul, suka musik, dan suka ikut kepanduan. Juli lalu ketika saya mewawancarai Endi, penampilannya tak banyak berubah, walau perutnya agak buncit, sudah berkeluarga, serta memiliki perusahaan sendiri Matamata Communications yang bergerak di bidang public relation dan event organizer.

Endi bertemu Iwan pada 1985 ketika ia diutus rekan-rekannya menghubungi Iwan agar menyanyi dan ceramah di kampus Satya Wacana. “Aku disuruh cari ke Jakarta,” kata Endi. Mulanya Endi cari di Musica tapi tak ada dan ketemunya di Condet. Iwan keberatan datang ke Salatiga, “Aku nggak bisa ngomong,” kata Iwan.

Iwan merekomendasikan penyanyi balada lain. Endi penasaran. Endi pengagum Fals dan punya koleksi lengkap album Fals. Endi pun menulis surat kepada Iwan dan dibalas pakai tulisan tangan. “Apa yang diomongin sama yang dipikir, lebih cepat yang dipikirin,” kata Endi, menerangkan keengganan Iwan tampil pada fora akademik.

Kejadian itu membuka perkawanan Endi dan Iwan. Pada 1989 Endi bekerja di majalah Film. Sebagai wartawan ia menulis soal Iwan. Ini praktik biasa di kalangan wartawan musik Indonesia—menjalin pertemanan dengan sumber-sumber mereka. Endi dan Iwan sering telepon-teleponan. “Ndi kamu ke sini,” ujar Iwan. Bila Endi dolan ke tempat Iwan, mereka bisa mengobrol dari siang sampai malam. Mereka juga sering naik mobil, mengobrol, mengelilingi jalan tol. “Iwan itu senang kalau ada teman ngobrol,” kata Endi.

Endi membawakan buku-buku untuk Iwan. Misalnya Catatan Harian Seorang Demonstran tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Presiden Soekarno, yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru pada 1969.

Endi juga memberikan selebaran-selebaran gelap. Iwan tertarik karena ia simpati pada orang tertindas. Pada 1980-an ketidakpuasan warga Indonesia terhadap rezim Soeharto makin tinggi. Anak-anak Soeharto beranjak dewasa dan terlibat dalam bisnis, dari monopoli cengkeh hingga jalan tol. Militer juga makin kuat mengontrol kehidupan warga walau di sana-sini ada gesekan internal antara militer hijau (muslim) dan militer merah putih (nasionalis).

Di Salatiga Endi sering menginap di kantor Yayasan Geni—sebuah organisasi nirlaba yang banyak terlibat gerakan protes. Satya Wacana 1980-an juga kampus yang memberikan tempat untuk pemikiran kritis, antara lain karena pengaruh dosen-dosen liberal macam Arief Budiman, seorang doktor lulusan Universitas Harvard, kakak kandung Soe Hok Gie, yang getol bicara Marxisme, negara, masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai media. “Iwan ngefans sama Arief Budiman,” kata Endi.

Budiman dekat dengan mahasiswa, antara lain dengan Stanley, panggilan seorang aktivis mahasiwa, nama lengkapnya Yosep Adi Prasetyo. Stanley kawan dekat Endi. Budiman sering mengajak Stanley, Endi, dan mahasiswa lain ikut diskusi. Dari Stanley pula Endi menerima selebaran gelap dan buku. Endi menyampaikannya pada Fals.

Ketika Swami mengeluarkan album, Endi menawari Swami pergi ke Salatiga. Pucuk dicinta ulam tiba. “Biaya dari Djody semua, panitia hanya ngurus tempat. Kita agendakan ngobrol-ngobrol di rumah Arief Budiman,” kata Endi.

Mereka datang lebih awal dan mengadakan dua diskusi. Diskusi agak besaran diadakan di sebuah guest house milik Satya Wacana, sebuah rumah kolonial peninggalan Belanda, yang luas dan megah. Rumah itu dipakai Djody dan peragawati Regina Sandi Harun, istri muda Djody. Diskusi agak kecil diadakan di rumah Budiman sembari makan malam. Rumah ini terletak dekat sungai, dibangun dengan konsep terbuka, menggunakan bambu, dan dijaga beberapa ekor angsa. Budiman mengundang cendekiawan setempat, antara lain pendeta Broto Semedi, Stanley, dan beberapa mahasiswa lain untuk diskusi dengan rombongan Jakarta. Saya kebetulan ikut diundang.

Kami bicara santai, bersila, duduk dengan tikar. Arief Budiman memancing Iwan Fals untuk masuk ke dunia aktivis. “Seniman harus tahu politik,” katanya. Budiman cerita soal Victor Jara dari Chile, pendukung Presiden Salvador Allende, yang terbunuh ketika Jenderal Augusto Pinochet mengudeta pemerintahan sosialis Allende pada 1973. Budiman mengerti Chile dengan baik karena tesisnya di Universitas Harvard tentang kegagalan Allende memakai sosialisme. Victor Jara seorang pemusik popular mirip Fals. Lagu-lagu Jara penuh kritik sosial. Jara juga main gitar akustik. Jara mati bersama dengan Allende.

Saya punya kesan Iwan enggan atau malu menanggapi Budiman. Iwan lebih banyak diam. W.S. Rendra, teman lama Budiman, lebih banyak bicara dengan gayanya yang teatrikal. Rendra khusus memperkenalkan kami kepada Djody yang disebutnya sebagai seorang pengusaha-cum-seniman. Rendra mendominasi pembicaraan malam itu dengan sekali-sekali ditanggapi Djody, dan Sawung Jabo. Leila Ch. Budiman, istri Arief, jatuh hati pada Iwan yang disebutnya “anak manis.”

Salah satu isu sampingan yang mereka diskusikan adalah kejengkelan Rendra dan kawan-kawan terhadap industri rokok. Mereka jengkel pada industri ini—yang sering jadi sponsor utama konser-konser musik—karena seenaknya menempelkan pesan sponsor di panggung. Logo rokok dipasang di pusat panggung. Mereka memaki-maki industri rokok karena mengganggu estetika. Mereka mengatakan sulit untuk tak menerima sponsor rokok karena kontribusi mereka besar tapi jangan begitu caranya.

Ironisnya, mereka kurang tertarik mendiskusikan dampak rokok pada anak-anak muda penggemar mereka. Mungkin karena mereka sendiri perokok berat. Iwan juga perokok. Suratkabar-suratkabar setempat memberitakan protes ini. Diam-diam beberapa mahasiswa melihat para tamu Jakarta ini, bukan saja mengisap rokok, tapi juga ganja.

Saya tak mau menghakimi. Beberapa teman saya juga menggunakan ganja dan biasa-biasa saja. Saya kira isu ganja bukan soal benar atau salah. Ganja mirip dengan rokok. Ia tak mematikan. Ganja berbeda dengan obat-obatan kimiawi macam narkotik, esctasy, atau putauw yang bisa berakibat fatal kalau kelebihan.

Iwan mengakui memakai ganja sejak Palembang. “Habis gimana? Murah, bisa beli di mana-mana, enak?” Jabo tak mau berkomentar soal ganja. Dalam lingkungan Swami, mengisap ganja mendapat semacam legitimasi karena dianggap biasa. Djody dan Rendra juga saya lihat mencoba daun ganja yang dilinting kecil.

“Tadinya mau kayak Bob Marley, punya kebun ganja sendiri. Nyanyi, ganja, nyanyi, ganja. Tapi kan dilarang hukum, (dilarang) agama. Dalam hidup ini, orang yang nggak mabuk lebih banyak dari yang mabuk,” kata Iwan.

Kresnowati, seorang mahasiswa Satya Wacana dan kenalan Endi, ikut jadi panitia. Wati tak melihat ganja tapi terkejut menyaksikan awak Swami, termasuk Iwan, menggoda dan menjahili mahasiswi.

“Ya … kok gini?” pikirnya.

Wati menghibur diri dengan berpendapat Iwan laki-laki biasa.

“Manusia biasa yang punya talenta luar biasa.”

Menurut kawan-kawannya, periode ini cukup liar untuk Iwan Fals. Yos Rosana memutuskan pakai jilbab. “Dia bilang panggilan sebagai seorang muslim. Dia ingin memberikan contoh pada Iwan dan anak-anak untuk lebih ingat agama,” kata Fidiana, istri pemain kibor Iwang Noorsaid, pasangan yang berteman dengan keluarga Iwan. Yos juga agak khawatir pada pengaruh W.S. Rendra, orang yang dianggap guru oleh Iwan, tapi punya reputasi longgar dalam urusan perempuan. Rendra menikah tiga kali. Djody juga baru menikahi Sandi Harun.

“Iwan kan good looking!” kata Wati.

Malam yang dinanti-nantikan pun datang. Swami main di Lapangan Pancasila Salatiga. Malam itu saya ikut menonton dan ikut bernyanyi, “Bento, bento, bento.” Saya merasakan adanya semangat perlawanan di sana dan bersyukur Indonesia punya musisi macam mereka. Endi mungkin warga Salatiga yang paling bahagia malam itu.


SAMBUTAN hangat membuat Swami plus Setiawan Djody tertarik maju lagi. Mereka mendirikan kelompok baru dengan nama Kantata Takwa. Perbedaan personalia Swami dan Kantata Takwa terletak pada W.S. Rendra dan Djody.

Djody jadi bos sekaligus pemain. Rendra memakai syair-syairnya, termasuk puisi "Kesaksian" yang terkenal itu, untuk dilagukan Kantata Takwa:

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

“Rendra tidak sekadar membuat lirik, tapi lebih dari itu. Kadang dia sebagai alat kontrol pada proses kreatif kami. Rendra pulalah yang memberikan judul ‘Kantata Takwa.’ Rendra ikut memberi warna dan bentuk yang jelas pada Kantata Takwa. Terutama pada saat pementasannya,” kata Sawung Jabo.

Djody mengeluarkan uang tapi agak tersinggung kalau dianggap keberadaannya semata-mata karena duit. Pada 1990, Djody pernah mempersilakan saya datang ke rumahnya di daerah Kebagusan, Jakarta Timur, melihat latihan Kantata Takwa. Djody cerita masa lalunya di Solo ketika jadi gitaris sebuah kelompok musik rock. Orangnya flamboyan, rambutnya tersisir rapi, kulitnya bersih, pakaiannya bagus. Rumahnya besar sekali. Besar sekali. Ruang keluarga, yang menghadap kolam renang, diubah jadi tempat latihan band. Di sana ada lukisan Djody besar sekali. Saya menduga karya maestro Basuki Abdullah.

Djody cerita bisnisnya dengan Sigit Harjojudanto, putra sulung Soeharto, maupun Eka Widjaja dari kelompok Sinar Mas. Dia juga cerita pergaulannya dengan Jenderal Benny Moerdani, mungkin orang terkuat kedua di Indonesia sesudah Presiden Soeharto waktu itu. Moerdani dinilainya pintar dan tahu seni. Tak ada rasa takut dalam cerita Djody. Dia cerita isu yang agak pribadi tentang Moerdani. Bisnis adalah bisnis. Seni adalah seni. Djody mencintai keduanya.

Namun tak semua orang suka dengan kolaborasi ini. Beberapa penggemar Fals dan wartawan musik menilai periode ini keiwanfalsan Iwan menurun. Ada yang menilai Iwan lebih vulgar. Teori “pihak ketiga” lagi-lagi dipakai. Ada yang menyalahkan Sawung Jabo. Dulu lirik Iwan lebih puitis. “Setelah gabung dengan Jabo lebih keras, Jabo kan suka main hantam?” kata fotografer Idon Haryana, menirukan analisis wartawan tabloid Detak A.S. Laksana. Banyak juga yang curiga pada W.S. Rendra. Lebih banyak lagi yang curiga pada Djody.

Muhamad Ma’mun mengatakan, “Secara eksplisit saya sampaikan, ‘Saya nggak suka sama Mas Djody.’ Saya sampaikan pada Iwan. Sampai beberapa tahun, saya masih ngomong nggak suka. Saya nggak pernah sekali pun ketemu Djody. Diajak ketemu Djody tapi nggak mau.”

Menurut Sawung Jabo, kalau Djody diragukan integritasnya, Iwan pun tak mau membela atau menjelaskan, karena dia sendiri “tidak tahu.” “Intinya kami bersama telah berbuat sesuatu, silahkan masyarakat menilainya sendiri. Apakah yang kita kerjakan bersama itu ada gunanya atau tidak?”

Ma’mun menganggap musik Kantata Takwa, yang memakai koor, synthesizer, dan kecanggihan lain, tak cocok untuk Iwan. “Ini bukan kemajuan. Yang dikenal orang di gang-gang, di pasar-pasar, ya lagu-lagu yang dulu. Karya besar nggak harus yang susah dibawakannya.”

Ma’mun mengacu pada lagu-lagu Koes Plus dan The Beatles. Dia menyebut lagu Imagine karya John Lennon. Aransemennya sederhana tapi nilainya tinggi. Ma’mun berpendapat karya-karya abadi aransemennya sederhana dan mudah dimainkan orang.

Rekaman album Kantata Takwa jalan lancar. Menurut Jabo, Rendra terlibat mulai dari gagasan awal. “Saya baru terlibat masuk di pertengahan proses pembuatan materi lagu, sebelum dimulainya proses rekaman di Gin Studio.” Lagu andalan mereka berjudul Kantata Takwa yang dibuka dengan dzikir. Albumnya diedarkan awal 1990. Sampulnya bergambar Djody, Rendra, Iwan, Jabo, dan Jockie Suryoprayogo. Ada satu kalimat berbunyi, “Setiawan Djody mempersembahkan Kantata Takwa.” Ini menimbulkan kesan album ini “hanya” persembahan Djody—bukan Rendra, bukan Iwan, bukan Jabo, bukan Suryoprayogo. Saya kira pilihan ini kurang bijak.

Pertunjukan Kantata Takwa di stadiun Senayan pada 23 Juni 1990 termasuk salah satu konser musik terbesar yang pernah diadakan di Jakarta. Media memberi perkiraan yang berbeda-beda. Ada yang memperkirakan penontonnya 100 ribu orang tapi ada juga yang 150 ribu. Sulit untuk tahu mana yang lebih akurat karena metode perhitungannya tak jelas. Kapasitas stadiun Senayan sendiri sekitar 90 ribu.

Tapi berapa pun jumlahnya, penontonnya memang banyak sekali. Mereka memakai lampu laser, bom asap, sound system raksasa, panggung spektakular. Atmakusumah Astraatmadja, mantan redaktur pelaksana harian Indonesia Raya dan kini ketua Dewan Pers, termasuk salah satu penonton. Putra sulungnya seorang pemanjat tebing, yang ikut dalam tim yang bertugas menyelamatkan pemain Kantata Takwa bila terjadi kerusuhan. Mereka memasang tali-temali dan bisa meluncur ke tengah panggung bila ada keributan.

Astraatmadja gelisah melihat massa sebanyak itu. Lelaki tua, yang mendampingi empat remaja ini, masuk ke Senayan dengan bantuan polisi. “Itu sebuah perlawanan kultural, bukan saja oleh Iwan dan kawan-kawan, tapi juga para penonton,” kata Astraatmadja. Dia menilai perlu keberanian luar biasa untuk menyanyikan Bento.

Setiawan Djody, si pengusaha kapal tanker, tampil main gitar listrik, seraya memekik-mekik. “Saya heran kok berani-beraninya Setiawan Djody itu,” kata Astraatmadja.

Endi Aras mengatakan Djody membiayai semuanya Rp 1 miliar lebih. Ma’mun menanggapinya dengan lebih hati-hati. Iwan dianggap bergaul dengan orang-orang yang terlalu liberal untuk ukuran keluarganya. Selesai Kantata Takwa, Iwan melanjutkan Swami II yang beredar 1991. Album ini kurang sukses. Sambutan jauh lebih kecil dari Swami. “Saya sudah bilang pada Iwan, ‘Jangan kamu ulangi lagi,’” kata Ma’mun.

Endi Aras mulai masuk lingkaran kecil Iwan Fals pada 1994 ketika ia diminta jadi manajer Iwan. Tanggung jawab Endi serabutan. Dasarnya pertemanan. Kalau ada permintaan konser, Endi yang berhubungan dengan panitia, mengurus bayaran, menyewa alat, dan sebagainya. Honor Iwan sekali pertunjukan Rp 6 juta. Endi tak menerima bayaran rutin. Kalau ada pekerjaan dia diberi “uang transport.”

Endi juga jadi manajer produksi album Hijau. Di sini Iwan memakai dua pemain kibor: Iwang Noorsaid dan Bagoes A.A. Mereka banyak diskusi agar album ini secara artistik bagus. Lagu-lagu tak diberi judul. Hanya Lagu 1, Lagu 2, Lagu 3, Lagu 4. Endi dan pemusik lain kurang setuju tapi semuanya kalah argumentasi dengan Iwan.

“Biar agak lain saja,” kata Iwan.

Endi tambah stres karena produser Handoko dari Harpa Record dan Adi Nugroho dari Prosound bersaing membeli master album Hijau. Mereka tawar-menawar. Endi lapor ke Iwan soal tawar-menawar ini. Iwan malah tersinggung albumnya ditawar-tawar.

“Wah Ndi, masternya dibakar saja,” kata Iwan.

Gantian Endi yang jengkel karena merasa kurang dihargai. Endi dua hari sekali menemui Iwan, yang sudah pindah ke Cipanas, dua jam naik mobil dari Jakarta. Mereka akhirnya menerima harga Prosound Rp 365 juta termasuk sampul dan video clip. Endi mendapat Rp 10 juta dari anggaran Rp 65 juta untuk biaya produksi.

Sampul kaset dibikin disainer Dick Doang dominan hijau dengan menggunakan foto beberapa anak kecil bermain lompat-lompatan. Iwan tak mau namanya ditonjolkan. Dia tak mau sampul ada fotonya. Menurut Endi, Iwan berpendapat status mereka sama, delapan orang pemusik. Iwan mau nama Iwang Noorsaid, Bagoes A.A., Cok Rampal, Jalu, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Jerry Soedianto, dan Iwan Fals dicetak semuanya pada sampul. Dick Doang, juga seorang penggemar Iwan, setuju usul itu. Konsekuensinya, nama-nama musisi dicetak dengan font kecil. Endi kurang setuju dan khawatir kasetnya kurang laku.

Saya tanya pada Endi, kalau Iwan mau setara, bagaimana pembagian honornya? Endi tersenyum dan bilang Iwan “curang” karena honor musisi Rp 300 juta dibagi dua: 40 persen Iwan dan 60 persen tujuh musisi sisanya. Artinya, Iwan dapat Rp 120 juta sedang lainnya rata-rata dapat Rp 25 juta.

Selama mengerjakan Hijau, Iwan berhenti ganja, berhenti merokok, dan mulai salat. Hari-hari di Cipanas dipakai untuk “rehabilitasi.” Iwan tahu membuatnya tak bisa “panjang nyanyiannya.” Tubuhnya bentol-bentol, emosinya labil. Endi mengatakan ini periode “komunitas bersih” karena beberapa pemain, termasuk Noorsaid dan Heiri Buchaeri, rajin salat dan hidupnya sederhana. Kresnowati mengatakan ada juga musisi Hijau yang “pemakai berat ganja.”

Perubahan Iwan juga mengubah Karno, asistennya yang setia, yang biasa membantu Iwan untuk urusan pribadi, mulai mengatur instrumen musik hingga menyiapkan lintingan ganja. “Karno lebih seniman dari Iwan. Dia nggak menikah, mungkin karena nggak dapat-dapat, dan penggemar Iwan,” kata Wati.

Hijau diluncurkan 1992. Tak terlalu meledak di pasar. Endi kecewa, merasa kurang dihargai. Endi mundur dari pekerjaan.

“Endi punya kekaguman yang sangat pada Iwan. Tapi juga kekecewaan. Ngatur dia itu ruwet,” kata Kresnowati.


KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).

Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.

Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!

Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”

“Terus maunya apa?”

Embuh, main musik atau buka bengkel.”

Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.

Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.

Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”

“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.

Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.

Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.

Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan.

“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.

Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang telepon-teleponan.

Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang badannya dingin.

“Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.

Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.

Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal.

“Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.

Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang meninggal.”

Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.

Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30.

“Aku ikut memandikan (jasad Galang),” kata Endi.

Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ... Lang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ..…”

Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.

Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.

“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana.

Iwan tak banyak bicara, menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu.

“Kepada kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.

Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.

Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor boleh.”

Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.

Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.

Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman, tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena tubuh Galang kurus ceking.

Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam. Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”

Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.

Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.

September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.

Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”

Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah. “(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”

“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”

Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.

“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan.

Dia tiba-tiba berteriak, "Hoooooooaaaaah ...."

Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan.

Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada.

Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena mengingatkannya pada kematian Galang.

Iwan bilang tak apa-apa.

“Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”


ROLLY Muarif termasuk satu dari sekian orang yang sering menemani Iwan Fals pasca-kematian Galang. Rolly adalah seorang musikus kelahiran Gorontalo, pernah menghibur penumpang kapal Kambuna jurusan Manado-Jakarta. Kalau menganggur, Rolly menjaga toko spare part di Kranggan, dekat Leuwinanggung.

Iwan sering mengundang Rolly ke Leuwinanggung. Iwan suka melukis dan mengobrol dekat makam Galang. “Sering curhat sama saya soal Galang karena cuma ada saya doang,” kata Rolly. Dia juga menemani Iwan main catur dan mengobrol hingga subuh. Suatu saat Iwan bilang, “Kalau untuk anak (kehilangan) ke orang tua, bisa dimaklumi, tapi kalau orang tua ke anak, itu berat.”

“Saya memahami saja,” kata Rolly pada saya.

Iwan banyak melukis, kadang-kadang di rumah Leuwinanggung, lukisannya dipajang, dilihat dari jauh. Rekaman album baru ditunda sejak kematian Galang. “Saya disuruh memandang, kadang dibalik,” kata Harun Zakaria, tetangga Iwan, yang juga sering mengobrol pasca-kematian Galang. Iwan juga memenuhi undangan dari masyarakat Leuwinanggung, acara jaipongan, kematian, pengajian, kenduri, perkawinan, salawatan. “Ke mana-mana ajak saya,” kata Harun.

Iwan juga bermain sepak bola dan membayar seorang pelatih untuk melatih anak-anak Leuwinanggung. Harun cerita Iwan menyumbang renovasi mushola dekat rumah mereka, “Karpetnya disumbang Kak Iwan.” Iwan juga melatih karate. Dia membuka dojo dan pesertanya sampai 200 orang. “Saya latih sendiri,” katanya.

Ketika krisis moneter menghantam ekonomi Indonesia, Iwan Fals sempat mencoba bikin lagu untuk menggugah semangat orang berusaha. Karya ini terhenti ketika demonstrasi-demonstrasi anti-Soeharto makin keras. Pada Mei 1998, Soeharto mundur dari kekuasaannya dan Indonesia memasuki era demokratisasi. Perubahan besar-besaran di ambang pintu. Iwan pun melihat saatnya ia mengambil langkah baru.

Iwan Fals melihat banyak penggemarnya kurang punya dasar ekonomi yang kuat. Iwan ingin “memberdayakan” mereka. Iwan pun mendirikan Yayasan Orang Indonesia dan minta Ma’mun jadi wakil ketua, Endi sekretaris, Yos bendahara, dan dia sendiri ketua.

Ini ternyata tak cukup. Iwan ingin melibatkan para penggemarnya langsung. Ide ini dibicarakan dengan Ma’mun, Yos, dan Endi. Hasilnya, mereka sepakat mengundang para penggemar Fals, lewat ke Leuwinanggung selama tiga hari pada pertengahan Agustus 1999.

Kresnowati diminta mengorganisasikan pertemuan itu. Lapangan belakang rumah Iwan ditutup pasir, dibangun tenda besar 600 meter persegi untuk tidur, dibelikan nasi bungkus, dan dicarikan sponsor perusahaan air mineral. Iwan minta tukang membangun 20 kamar mandi.

Ternyata sambutannya besar. Penggemar Iwan dari banyak golongan datang. Ada pencuri, ada bandar narkotik, karyawan biasa, bapak yang sepuh, perempuan tomboy, juga wanita berjilbab. Ada juga yang penampilannya “punk rock abis” dan bikin Wati deg-degan. “Di luar pagar juga banyak yang menunggu mau masuk. Maunya ketemu Iwan, berfoto bersama,” kata Wati.

Ketika diskusi, kualitas mereka kelihatan beragam. Ada yang berapi-api tapi banyak yang asal omong. Antusiasme ini mengejutkan karena Iwan lama tak muncul ke publik. Album terakhirnya keluar 1993.

Wati juga geli melihat tato pada penggemar Fals. Banyak yang punggungnya digambari Iwan. Ada pula tato jidat, daerah antara alis mata, ditato kata “Fals.” Dari Bandung sekelompok penggemar menato kata “Fals” di antara jempol dan jari telunjuk. “Kalau Fals pasti Iwan Fals. Kalau Iwan kan banyak,” kata Ainun Rofiq, manajer restoran cepat saji McDonald yang jadi bendahara Oi.

Semalam sebelum pertemuan, Iwan, Yos, Ma’mun, Endi, dan Wati diskusi. Intinya, mereka mau serahkan kepengurusan Oi kepada orang-orang baru itu atau mereka pegang sendiri? Mereka sepakat dipegang sendiri dulu. Kalau sudah jalan diserahkan pada orang banyak.

“Saya nggak mau kalau ketua. Konsekuensinya berat. Endi juga nggak mau. Sampai pulang nggak jelas. Ma’mun nggak mau juga. Ma’mun ingin Iwan jadi ketua. Endi nggak mau (alasannya) ini khan fans club. Endi keukeuh (harus) Wati,” kata Kresnowati.

Keesokan hari Kresnowati terpilih sebagai ketua Oi. Menurut Digo Zulkifli, penggemar asal Bandung, pada pertemuan tiga hari itu mereka diskusi: mau jadi fans club atau organisasi massa. “Kalau jadi fans club, idolanya sendiri, si bosnya (Iwan Fals) nggak enak.” Mereka memutuskan jadi organisasi massa.

Wati pada tahun pertama lebih meletakkan dasar administrasi. Mereka bikin kartu anggota, membuka cabang, dan membuat arsip. “Nggak mudah mengatur 10.000-an orang di seluruh Indonesia.” Kini Oi diketuai Heri Yunarsa, seorang pegawai negeri dari Serang.

Hambatan banyak. Wati melihat orientasi penggemar Fals masih kabur antara organisasi massa dan klub. Banyak yang masuk Oi untuk “cium tangan” Iwan. “Kayak ketemu raja … apalagi daerah lho ... kita jadi bingung ngeliatnya,” kata Wati. Masalah dana juga hambatan. Iwan mungkin orang kaya tapi mendanai organisasi butuh uang besar sekali.

Entah apa yang akan terjadi kalau Iwan suatu saat jadi kurang populer atau makin mengendurkan musiknya? Bagaimana bila Iwan meninggal? Sejauh mana Oi bisa bertahan kalau didasarkan ikatan emosional pada lagu-lagu lama Iwan Fals? Bagaimana mengubah loyalitas individu jadi loyalitas organisasi? Bagaimana Oi bisa “memberdayakan” anggotanya?

Saya ingat Elvis Presley, bintang musik pop Amerika 1960-an, yang mengatakan, “Music is like religion: when you experience them both, it should move you.” Menurut Sun Record, album Presley terjual lebih dari satu milyar selama masa hidupnya (Love Me Tender, It’s Now Or Never atau Are You Lonesome Tonight).

Musik Fals juga menggerakkan banyak orang di Indonesia. Fals dianggap mampu merekam semangat perlawanan orang-orang yang dipinggirkan pada masa Orde Baru. Ketika Presley meninggal, lagu-lagunya malah jadi abadi. Makam dan rumahnya ramai dikunjungi orang. Lagu-lagunya terus direkam ulang dan jadi tambang emas untuk ahli warisnya. Akankah Fals mengikuti jejak Presley? Apakah musik Fals sudah mirip pengalaman beragama?

Iwan sudah pernah memikirkan ini. “Ada saya atau tak ada saya, saya hadir di Oi,” kata Digo Zulkifli menirukan Fals.

Oi kini punya perwakilan di berbagai kota Indonesia. Ini organisasi unik tanpa preseden. Kantor-kantor perwakilannya juga unik. Di Cilegon ia nongkrong di kantor pemerintahan kabupaten. Di Tangerang berkantor di tukang jagal. Banyak juga yang berada di gang-gang sempit. Agus Suprapto dari Oi Yogyakarta mengatakan mereka mendapat bantuan dari Sultan Hamengku Buwono X.

Gema Fals juga tembus hingga Timor Lorosa’e. Hugo Fernandes, redaktur majalah Talitakum, memberitahu saya bahwa panitia kemerdekaan Timor Lorosa’e mengundang Iwan Fals ke Dili ketika negara itu hendak menyatakan merdeka 20 Mei lalu. “Semua orang Dili tunggu Iwan Fals mau datang. Orang kecewa karena Iwan tidak datang. Di Dili, dia itu kayak dewa.”

Tampaknya negara kecil yang punya luka tersendiri karena pendudukan Indonesia ini—sering dikatakan sepertiga penduduknya mati karena terbunuh atau kelaparan akibat 22 tahun pendudukan tentara Indonesia—punya banyak orang yang justru merasa ketertindasan mereka diwakili dan disuarakan Iwan Fals.


SESUDAH lama tak berkarya, Iwan Fals mengalami hambatan bikin album baru. Effendy Widjaja, salah seorang direktur Musica, membantu Fals mengatasinya. “A Pen yang mendobrak. Saya harus bikin lagu katanya. ‘Jangan loyo dong!’ Dia mrepet,” kata Iwan.

“Akhirnya saya bangkit, minjam duit. Dia pilih dari 300 lagu, dia tandai. Dia pandai, pilihannya saya lihat masih dalam bingkai saya.”

A Pen, nama panggilan Effendy, berunding dengan kakaknya, Sendjaja Widjaja atau A Ciu, presiden direktur Musica, dan Iwan pun diberi pinjaman uang. Mereka tak menyebut berapa pinjamannya. Musica hanya bersedia menjawab pertanyaan saya secara tertulis.

Saya memperkirakan pinjaman ini diperlukan Iwan dan Yos, selaku pemimpin Manajemen Iwan Fals, untuk membiayai “jadwal-jadwal” pemakaian studio untuk latihan, rekaman, dan sebagainya. Kalau biaya sewa studio dihitung Rp 500 ribu sekali pakai, Iwan mengatakan pada saya, ia memakai 720 kali jadwal untuk membuat album yang dinamai Suara Hati. Artinya, Iwan membutuhkan sekitar Rp 360 juta untuk membiayai jadwal rekamannya. Manajemen Iwan Fals memakai pinjaman Musica itu untuk membangun sebuah studio. Iwan lantas menyewa studio itu kepada Manajemen Iwan Fals. Agak rumit memang. Iwan berhitung bisnis dengan istrinya sendiri.

Bagaimana membayar Musica? Iwan menerangkan bahwa royalti sebuah kaset Rp 2.000. Kalau Suara Hati laku, katakanlah 150 ribu, berarti ia mendapat Rp 300 juta. Royalti ini dipakai membayar piutang Musica. “Dari segi ekonomi saya rugi. Saya nggak dapat apa-apa dari Musica. Saya hanya mengharapkan dari royalti ... kaset itu seumur hidup ya,” katanya.

Iwan memanfaatkan teman-teman lama—Inisisri, Nanoe, Iwang Noorsaid, dan Maman Piul (pemain biola)—untuk mengerjakan Suara Hati. Kesulitan terbesar muncul dari komputer. Iwan menggunakan komputer mutakhir Apple Macintosh G4 dalam studio barunya. “Saya nggak pakai operator karena nggak bisa bayar,” kata Iwan. “Saya juga mau belajar komputer.” Iwan tak memahami kerja Macintosh dengan rapi. Dampaknya, ada rekaman-rekaman yang hilang.

Khusus memilih pemain gitar prosesnya berbeda. Suatu hari Endi Aras mengajak Digo Zulkifli, gitaris asal Bandung yang juga penggemar Fals, berkunjung ke Leuwinanggung. Digo membantu Endi di Matamata Communications sesudah kenal saat pembentukan Oi. Hari itu Digo menemui Iwan di studio. Kebetulan Iwan lagi butuh orang mengisi gitar listrik. Di studio, menurut Digo, ia ditanya Iwan, “Digo kamu main elektrik?”

“Ya”

“Coba deh ini di album baru.”

“Saya minta waktu dan ruangnya saja,” kata Digo.

Iwan mempersilakan tapi mengingatkan Digo bahwa proposal Digo belum tentu diterima. Digo bersedia. Digo menduga Manajemen Iwan Fals masih mempertimbangkan gitaris kawakan Ian Antono, I Gede Dewa Bujana, dan Totok Tewel untuk mengisi gitar. Ketiga gitaris itu kenal Iwan. Ian Antono juga menata musik album Mata Dewa. Pilihan ternyata jatuh pada Digo Zulkifli.

Digo pun ikut rekaman bersama Inisisri, Nanoe, Noorsaid, dan Iwan. Ketika rekaman rusak, Iwan merasa sungkan minta kembali Nanoe, Noorsaid, dan Inisisri. “Nggak enak,” katanya. Digo dengan mudah dimintanya ikut rekaman ulang. Iwan pun membentuk band baru untuk mengisi sebagian rekaman yang hilang. Iwan mengajak Edi Edot (bass), Ayub Suparman (kibor), dan Danny Kurniawan (drum).

Belakangan ternyata ada rekaman lama yang ditemukan lagi. Dalam album Suara Hati, lagu Hadapi Saja muncul dua kali. Dua lagu, dua band, satu penyanyi, satu album. Kontribusi Noorsaid ada pada lima dari 12 lagu di sana.

Endi Aras melihat adanya dua band ini dengan kritis. “Iwan gampang meninggalkan kawan-kawannya. Grup yang sekarang ini dari penggemar dia semua. Itu dari Oi semua,” kata Endi, seakan-akan hendak mengatakan Fals sekarang dikelilingi orang yang relatif kurang setara kemampuannya dengan Iwan. Tak ada lagi Sawung Jabo, Inisisri, Ian Antono atau Jalu, Cok Rampal, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Iwang Noorsaid. Nanoe bahkan meninggal ketika Suara Hati belum sempat diluncurkan.

Padahal tantangan Iwan makin besar. Naik ke puncak tangga sangat sulit tapi mempertahankannya lebih sulit lagi. Umur juga bertambah. Iwan juga harus mengikuti selera penggemar yang lebih muda. “Kalau Iwan mau panjang, orang-orangnya harus profesional. Posisi manajer di situ bisa lemah karena istri sendiri. Iwan nggak bisa di-manage karena egonya sangat besar. Yos bingung juga,” kata Endi.

Suara Hati diluncurkan awal tahun ini. Tempo menyebut album ini lagu-lagunya bagus tapi aransemennya lemah. Hai memuji setinggi langit. Sambutan publik cukup baik. Keberadaan Oi tampaknya membantu pemasaran kaset Fals. Anggota-anggota Oi adalah penggemar fanatik Iwan. Manajemen Iwan Fals menyambung peluncuran album itu dengan konser Satu Hati Satu Rasa sekitar 40 kota, antara Maret hingga Agustus lalu.

Suasana Indonesia berbeda sekali antara konser Satu Hati Satu Rasa dan Mata Dewa. Pada 1989 hambatan Mata Dewa terletak pada polisi. Konsernya dilarang di Palembang. Kini demokratisasi mulai terasa di berbagai institusi negara, termasuk polisi, sehingga tur Satu Hati Satu Rasa tahun ini berjalan lancar. Tak ada larangan walau Manajemen Iwan Fals sempat memundurkan beberapa jadwal konser karena ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Agustus lalu. Alasannya, tenaga polisi dikerahkan mengatasi massa politik.

Iwan Fals bukan saja tampil di kota besar macam Jakarta dan Surabaya, tapi juga kota menengah macam Cilegon, Sukabumi, Kuningan, Bandar Lampung, Magelang, Mataram, dan sebagainya. Dari laporan suratkabar, jumlah penonton berkisar 5.000 hingga 15.000 orang. Tak sebesar konser Kantata Takwa dengan 100 ribu penonton tapi harus diingat bahwa konser kali ini jumlah kotanya benar-benar banyak.

Menurut Sendjaja Widjaja, hingga 25 Agustus lalu kaset Suara Hati sudah terjual 160 ribu. Ini lumayan untuk ukuran Musica walau belum selaris band remaja Sheila on 7 dari PT Sony Music Indonesia yang penjualan album tunggalnya bisa tembus satu juta keping.

Menurut Sendjaja, penjualan album Fals paling laris adalah Tembang Cinta (1993) sebanyak 535 ribu dan Best of the Best Iwan Fals sebanyak 466 ribu. Keduanya album kompilasi atau campuran. Best of the Best diedarkan tahun 2000 dan sampai sekarang masih termasuk album-album terlaris Musica.

Endi Aras mengatakan lagu Hadapi Saja disukai Iwan. Album ini mengingatkan pendengar pada kematian Galang Rambu Anarki. Ini juga mengingatkan saya pada penghormatan Eric Clapton kepada anaknya, Conor, dengan lagu Tears in Heaven. Conor masih berumur 4,5 tahun ketika jatuh dari lantai 56 apartemen Clapton di New York pada 1991. Clapton juga tertekan karena kematian Conor.

Aransemen Hadapi Saja meyayat hati. Permainan biolanya mengalun. Liriknya juga kuat. Saya kira kematian anak-anak mereka jadi dorongan besar bagi Clapton dan Fals untuk menciptakan karya yang ekspresif.

relakan yang terjadi dia takkan kembali
ia sudah jadi milik-Nya bukan milik kita lagi
tak perlu menangis
tak perlu bersedih
tak perlu sedu sedan itu
hadapi saja
hilang memang hilang
wajahnya terus terbayang
jumpa di mimpi
kau ajak aku untuk menari, bernyanyi
bersama bidadari, malaikat, dan penghuni surga


Endi Aras juga cerita proses pembuatan lagu 15 Juli 1996. Pada 15 Juli 1996 Endi menemani Iwan Fals pergi ke tempat Megawati Soekarnoputri, ketua Partai Demokrasi Indonesia, yang kedudukannya sedang digoyang tukang pukul dan centeng Soeharto. Iwan tak bertemu Megawati, hanya lihat dari jauh, tapi simpatinya muncul. Dua minggu setelah kedatangan Iwan, para tukang pukul itu menyerbu markas Megawati, menggusur para pendukung Megawati dengan kekerasan, dan memicu pergolakan Jakarta yang dikenang sebagai Peristiwa 27 Juli 1996.

Tapi kritik dari masalah rokok masih muncul. Kritik ini kali ini bukan datang dari Rendra, namun dari Santi W.E. Soekanto, wartawan The Jakarta Post, yang menulis bahwa sponsor utama Iwan Fals adalah rokok A Mild dari Sampoerna. “Inilah hal yang sama sekali tak dibutuhkan Indonesia: pahlawan yang memperkenalkan ‘pintu masuk’ pemakaian narkotika dan obat-obatan keras.”

Soekanto mengutip data World Health Organization yang mengatakan ada 1,1 miliar perokok di dunia. Jumlah ini akan meningkat hingga 1,6 miliar pada 2025. Di negara-negara kaya, jumlah perokok menurun, tapi jumlahnya meningkat di negara-negara miskin. Indonesia negara miskin bukan?

Departemen Kesehatan melaporkan 6,5 juta orang Indonesia tiap tahun terkena penyakit akibat kebiasaan merokok dan 57 ribu di antaranya meninggal dunia (kebanyakan laki-laki). Kebiasaan merokok membuat pemerintah kehilangan banyak sumber daya karena membiayai kerusakan-kerusakan akibat rokok.

Di negara-negara kaya kampanye antirokok berjalan kencang. Federation of Football Association (FIFA) November lalu menandatangani perjanjian dengan WHO melarang sponsor rokok di lapangan sepak bola. FIFA sengaja menyamakan pembukaan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang 31 Mei lalu dengan hari antirokok sedunia. MTV mendukung kampanye antirokok dengan memasang iklan para penyanyi yang menganjurkan remaja tak merokok. Di Amerika Serikat para penyanyi besar mendukung kampanye antirokok.

Industri rokok melawan kampanye ini lewat iklan dan promosi besar-besaran, terutama di negara-negara berkembang, baik lewat sponsor olahraga maupun musik. Iklan mereka menipu para remaja dengan kesan palsu bahwa rokok membuat mereka terlihat gagah dan dewasa. Rokok diidentikkan dengan olahragawan dan musisi ternama.

Ini dilawan. WHO di Indonesia memilih juara tenis Angelique Widjaja, binaragawan Ade Rai, dan peragawati Tracy Trinita untuk mendukung kampanye antirokok. “Sayangnya, tak terlalu banyak anak muda yang melihat Angie, Ade, atau Tracy. Para aktivis antirokok memerlukan senjata yang lebih besar. Seseorang dengan kaliber Iwan Fals,” kata Santi Soekanto.

Kolom ini mengingatkan saya pada diskusi Salatiga 12 tahun lalu. Dalam 12 tahun ini Iwan melihat Galang ikut-ikutan papanya merokok lantas mencoba obat-obatan hingga meninggal. Kehidupan pribadi Iwan memang berubah banyak. Titin Fatimah, sekretaris Manajemen Iwan Fals, mengatakan pada saya ketika ia mulai bekerja tiga tahun lalu, Iwan Fals sudah tak merokok.

“Suatu kenyataan hanya rokok yang bisa mengeluarkan dana cukup besar untuk pertunjukan musik. Dulu kalau pertunjukan indoor, banyak penonton yang tak bisa nonton. Kami memutuskan outdoor dan biaya produksinya besar. Hanya rokok yang bisa membiayainya,” kata Yos Rosana.

Fals sempat bilang dia mungkin bisa merokok lagi dengan tur sponsor rokok. Yos mengatakan lebih baik tidak tur bila Iwan Fals kembali merokok. “Mendingan nggak usah main,” kata Yos. “Saya juga nggak suka rokok itu. Saya tahu itu ndak baik. Ini buah simalakama,” kata Yos.

Henny Susanto dari Sampoerna, menerangkan kepada saya bahwa A Mild menghormati kontrak itu. Mereka mensponsori Iwan Fals karena penggemar Fals “sangat sesuai” dengan pangsa pasar A Mild.

Penjelasan Titin, Yos, dan Henny Susanto senada dengan materi diskusi Salatiga. Rokok dianggap menganggu estetika tapi bukan kesehatan. Saya sulit menyalahkan Iwan kalau ia belum berani menolak sponsor rokok karena kontribusinya sangat besar. Tanpa rokok mungkin tak ada konser.

Apa yang didapat Sampoerna? Henny Susanto menjawab, “Kesempatan untuk berkomunikasi dengan target market, baik yang datang ke pertunjukan maupun yang sekedar melihat publikasi yang kita lakukan.”

Kalau saya boleh menterjemahkan kata-kata Henny Susanto, A Mild merasa gembira dengan kerja sama ini. Para penggemar Iwan Fals, katakanlah orang semacam Fajar Wijaya, si pengamen bertopi merah itu, adalah pangsa pasar A Mild. Sedih juga mengetahui Iwan Fals ikut mendorong anak-anak muda merokok.

Kehidupan bukan sesuatu yang sederhana. Kehidupan sering penuh kompromi. Senja September itu, ketika saya meninggalkan Leuwinanggung, pikiran saya penuh dengan gejolak tentang Iwan Fals. Dia dipuja, disukai, dan dianggap manusia super, tapi ia juga mungkin kesulitan memenuhi harapan orang banyak yang menganggapnya bisa mewakili dan menolong mereka.

***