Wednesday, October 11, 2000

Beberapa Contoh Penulisan Profile


Marilyn Monroe

DALAM satu pertemuan kontributor Pantau, ada permintaan agar pihak redaksi memberi contoh artikel profil bagaimana yang diinginkannya. Waktu itu kami bicara soal profil yang bisa menyusup masuk hingga ke dalam psikologi pribadi bersangkutan.

Saya mulanya agak kesulitan menentukan model bagaimana yang bisa saya pakai.

Joe DiMaggio
Tapi saya memutuskan mengirim artikel "The Silent Season of a Hero" karangan Gay Talese (1966). Menurut dosen saya, Robert Vare, artikel itu sangat penting dalam sejarah jurnalisme Amerika Serikat. Talese mengubah bagaimana profil seseorang harusnya ditulis. Artikel itu adalah profil pemain baseball legendaris Joe DiMaggio. Mungkin Anda ingat lagu rock'n roll band Les Brown, "... from coast to coast, that's all you hear, of Joe the One-Man show ...."

Talese harus kerja keras untuk bisa mewawancarai DiMaggio karena DiMaggio menolak diwawancarai. Tapi Talese tetap teguh. Talese mencoba menggali satu hal yang sangat penting, mungkin paling penting, dalam kepribadian DiMaggio ... kecintaannya terhadap mantan istrinya: Marilyn Monroe.

DiMaggio rutin mengirim bunga mawar ke makam istrinya itu. Monroe meninggal dunia pada 5 Agustus 1962 beberapa saat sebelum mereka memutuskan untuk menikah kembali. Kiriman bunga DiMaggio dilakukan tiga kali seminggu, mawar warna merah, hingga DiMaggio meninggal Maret 1999 atau 27 tahun sesudah kematian Monroe.

Selain itu, saya merekomendasikan Anda membaca buku Life Stories: Profiles from The New Yorker yang dikumpulkan oleh David Remnick. Ada banyak artikel profil yang bagus dalam kumpulan profil ini. Saya agak bingung merekomendasikan yang mana.

Ada profil sastrawan Ernest Hemingway yang ditulis oleh Lilian Ross. Artikel "How do you like it, Gentlemen?" dianggap sebagai profil terbaik tentang Hemingway. Kalau Anda belajar sastra, dan membahas Hemingway, saya taruhan, dosen Anda menyuruh Anda baca karya Ross.

Ada juga artikel legendaris lain tentang pendiri majalah TIME Henry Luce. Judulnya, "Time ... Fortune ... Life ... Luce" yang ditulis oleh Wolcott Gibbs. Luce tidak menyukai profil tentang dirinya itu. Ironisnya, dalam pelajaran tentang jurnalisme Amerika, profil tentang Luce biasanya dipakai karya Gibbs itu (TIME dan The New Yorker didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dan merupakan kompetitor).

Saya pribadi suka dengan artikel "White Like Me" tentang Anatole Broyard karya Henry Louis Gates Jr. Broyard adalah orang Amerika-Afrika. Kulitnya agak terang. Menariknya, Broyard, penulis resensi buku The New York Times, menyembunyikan latar belakang dirinya. Bahkan dua orang anaknya tidak tahu kalau ayah mereka termasuk keturunan orang kulit hitam hingga sang ayah meninggal.

Cerita ini menarik karena Broyard tidak mempertemukan istri dan anak-anaknya dengan keluarga besar Broyard yang warna kulitnya gelap. Gates mengungkapkan kerja keras dan perjuangan hidup Broyard, dari seorang tentara kulit hitam hingga menjadi tokoh sastra Amerika.

Thursday, September 21, 2000

Tujuh Pertimbangan Jurnalisme Sastrawi

Andreas Harsono
Institut Studi Arus Informasi

Istilah jurnalisme sastrawi adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Wartawan Amerika Tom Wolfe pada 1974 memperkenalkannya dengan nama "jurnalisme baru." Ada juga yang memakai nama "narrative reporting". Ada juga yang pakai nama "passionate journalism." Tapi ada yang secara sederhana mengatakannya “tulisan panjang.”

Tapi intinya, genre ini menukik lebih dalam daripada apa yang kita kenal sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut.

Tulisannya biasanya panjang. Majalah The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan laporan John Hersey berjudul “Hiroshima” dalam satu edisi majalah.

Wawancara untuk sebuah laporan bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan, nara sumber. Risetnya juga tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan.

Memang reportase adalah bagian yang melekat dengan genre ini. Data-data diperoleh dari liputan di lapangan dengan tangguh. Menembus sumber dengan gigih. Pagi hingga malam. Riset yang makan keringat. Wawancara yang berjibun. Ia menukik tajam hingga mampu menterjemahkan, misalnya, sesosok kepribadian manusia dengan segala kerumitannya ke dalam kata-kata.

Bahasanya tidak harus mendayu-dayu. Bahasa bisa lugas. Dari segi struktur karangan, genre ini bentuknya model gelombang sinus. Naik turun. Liar. Tapi ia juga cantik dan memikat. Rasanya pembaca tidak bisa melepaskan karangan itu sebelum tuntas membaca.

Saya sering ditanya apakah karya Seno Gumira Ajidarma "Saksi Mata" masuk dalam kategori jurnalisme sastrawi? Saya akui karya itu sangat memukau. Tapi karya itu adalah fiksi. Ajidarma tidak menyampaikan fakta yang nyata. Nama-nama diganti. Tempat juga tidak disebutkan jelas. "Saksi Mata" adalah karya fiksi yang memakai data-data pembantaian Dili pada November 1991 sebagai ide cerita.

Ketika mendalami jurnalisme sastrawi di Amerika, saya selalu diberitahu adanya tujuh pertimbangan bila seseorang hendak membuat laporan dengan gaya ini.

Fakta. Jurnalisme selalu mensakralkan fakta. Walaupun genre ini memakai kata “sastra” tapi ia tetap jurnalisme. Karena itu fakta juga sakral baginya. Setiap detail seyogyanya berupa kenyataan. Nama-nama orang adalah nama-nama sebenarnya. Tempat juga memang nyata. Kejadian benar-benar kejadian.

Apabila ada dua orang bertemu dan mengadakan pembicaraan. Seorang wartawan seyogyanya mengecek kepada keduanya apakah benar si A mengatakan ini dan si B mengatakan itu.

Orang mungkin bisa lupa. Orang mungkin bisa berubah persepsi, seiring perjalanan waktu. Tapi minimal, esensi dari pembicaraan itu harus disetujui A dan B bila hendak dilaporkan dalam jurnalisme.

Kalau berbeda?

Ada dua pilihan. Tidak dipakai sama sekali. Atau kalau pembicaraan itu penting, dilaporkan saja dari dua sudut yang berbeda. Si A bilang ini tapi si B bilang lain lagi.

Tapi perbedaan bisa tidak terletak pada esensi. Biasanya ia terletak pada detail. Warna jas, warna dinding, bau minyak wangi, permukaan papan yang kasar atau jenis sepatu bisa diingat secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tidak ada salahnya untuk pergi ke situs di mana suatu kejadian terlaksana, untuk mencatat detail di lapangan.

Konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Bila Anda berminat membuat laporan panjang, Anda seyogyanya berpikir berapa besar pertikaian yang ada?

Tapi konflik bisa berupa pertikaian satu orang dengan orang lain. Ia juga bisa berupa pertikaian antar kelompok. Misalnya, upaya Arnold Ap mengembangkan kesenian Papua berbuntut ketegangan dengan pejabat militer dari Jawa yang dikirim ke Jayapura. Ap ditahan dan ditembak mati.

Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan hati nuraninya. Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan nilai-nilai di masyarakatnya. Pendek kata, pertikaian adalah unsur penting dalam suatu laporan panjang.

Karakter. Jurnalisme sastrawi mensyaratkan adanya karakter-karakter. Karakter membantu terikatnya suatu laporan. Ada karakter utama. Ada karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya orang yang terlibat dalam pertikaian. Karakter utama seyogyanya juga kepribadian yang menarik. Tidak datar dan tidak menyerah dengan mudah (Orang yang mudah menyerah biasanya juga tidak mau dituliskan riwayatnya).

Akses. Anda seyogyanya punya akses kepada karakter utama atau orang-orang yang mengenal karakter utama. Akses bisa berupa dokumen, korespondensi, album foto, buku harian, wawancara dan sebagainya.

Saya sering mengibaratkan akses kepada karakter utama ini dengan akses yang dimiliki oleh seorang penulis biografi. Aksesnya luar biasa. Bisa masuk ke masalah-masalah pribadi karakter utama. Soal percintaan, soal skandal, soal kejahatan dan sebagainya.

Emosi. Jurnalisme sastrawi membutuhkan emosi dari karakter-karakternya. Emosi bisa berupa cinta. Bisa berupa pengkhianatan. Bisa berupa kebencian. Loyalitas. Kekaguman. Sikap menjilat. Oportunisme dan sebagainya.

Emosi menjadikan cerita kita seakan-akan hidup.

Emosi karakter juga bisa berubah-ubah bersama perjalanan waktu. Mulanya si karakter menghormati mentornya. Suatu kejadian besar menguji apakah ia perlu tetap menghormati mentornya atau tidak.

Di sini mungkin ada pergulatan batin. Mungkin ada perdebatan intelektual. Ini seyogyanya memberikan ruang buat emosi. Apa emosi si karakter ketika tahu ia memenangkan pertarungannya? Apa perasaan si karakter ketika tahu ia dikhianati istri atau suaminya?

Perjalanan Waktu. Mungkin perbedaan antara jurnalisme sehari-hari dengan jurnalisme sastrawi adalah keterkaitannya dengan waktu. Saya mengibaratkan laporan suratkabar “hari ini” dengan sebuah potret. Snap shot. Sedangkan laporan panjang adalah sebuah film yang berputar. Video.

Robert Vare, mantan editor The New Yorker, menyebutnya “series of time.” Peristiwa berjalan bersama waktu. Ini memiliki konsekuensi penyusunan kerangka karangan. Mau bersifat kronologis, dari awal hingga akhir. Atau mau membuat flashback. Dari akhir mundur ke belakang? Atau kalau mau bolak-balik apa benang merahnya supaya pembaca tidak bingung?

Panjangnya waktu tergantung kebutuhan. Sebuah laporan tentang kehamilan bisa dibuat dalam kerangka waktu sembilan bulan. Tapi bisa juga dibuat dalam kerangka waktu dua tahun, tiga tahun dan sebagainya. Tapi bisa juga sekian menit ketika si ibu bergulat hidup dan mati di ruang operasi.

Kebaruan. Ada unsur kebaruan yang harus Anda pertimbangkan bila hendak membuat laporan panjang. Tidak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Kalau Anda hendak menulis cerita panjang soal pembunuhan G30S atau kerusuhan Mei 1998, sebaiknya berpikirlah dua atau tiga kali sebelum menjalankan ide ini.

Cukup banyak fakta yang sudah diungkap oleh orang lain soal G30S atau kerusuhan Mei 1998. Ini tidak berarti tidak ada yang masih tersembunyi. Saya percaya masih banyak hal yang belum terungkap dari dua peristiwa besar itu.

Tapi bersiaplah untuk mencari fakta-fakta baru. Bersiaplah untuk menembus sumber-sumber yang paling sulit yang belum ditembus orang lain.

Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kacamata orang-orang biasa yang menjadi saksi mata peristiwa besar. Hersey mewawancarai seorang dokter, seorang pendeta, seorang sekretaris dan seorang pastor Jerman, untuk merekonstruksi pemboman Hiroshima.

Secara detail, Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus soal bom rahasia, ada kematian yang menyeramkan, ada perasaan dendam, ada perasaan rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu artikel termahsyur dalam sejarah jurnalisme Amerika.

Hersey mempublikasikan karyanya setahun setelah bom nuklir dijatuhkan di Hiroshima.

Konon fisikawan nuklir Albert Eistein tidak bisa mendapatkan edisi The New Yorker pada Agustus 1946 tersebut. Einstein membaca laporan itu karena ia berlangganan. Tapi Eistein ingin membeli enam buah lagi buat teman-temannya. Tapi majalah itu laku habis. Einstein kehabisan.
Apa artinya?

Sederhana saja. Einstein menemukan teori baru. Hersey juga menemukan sesuatu yang baru. Hersey menemukan sisi bengis dari bom nuklir! Itu saja.


Disampaikan dalam pengantar diskusi jurnalisme sastrawi buat wartawan-wartawan yang diundang untuk menulis buat majalah media dan jurnalisme PANTAU. Diskusi diadakan di Utan Kayu, Jakarta, 20-21 September 2000.

Wednesday, April 26, 2000

Taking Risks for Freedom of the Press

By Norman Solomon


One day in the spring of 1995, some policemen arrived and took Ahmad Taufik away.

His crime? Independent journalism.

The Indonesian authorities condemned him for "sowing hatred against the government" -- in other words, writing honestly about such matters as human rights.

He'd been a staff reporter for Tempo, a mainstream magazine, until dictator Suharto banned it and two other Indonesian news weeklies in 1994. Then Taufik helped to found the Alliance of Independent Journalists and served as the organization's president.

The unauthorized group began to publish a magazine. Soon Taufik was in prison. He remained locked up for more than two years.

A few days ago, I met Taufik in California. Later, looking at his card, it dawned on me that the words under his name speak volumes: "The Alliance of Independent Journalists." The man is unrepentant.

Taufik has been visiting the United States with another Indonesian journalist, Andreas Harsono. Both are in their early 30s. They speak quietly, without retension. They don't tout themselves as courageous. But they are.

For years now, when the U.S.-based Committee to Protect Journalists releases its annual list of the planet's 10 worst enemies of the press, Suharto's name is on it. "Strict press licensing, censorship and the threat of imprisonment," the Committee says, "have combined to make the Indonesian press among the least free in the world."

Taufik described the situation: "Critical members of society are put behind bars and declared anti-government or communists, or even murdered. Journalists who try to be critical are intimidated and are under the constant threat of their publications being banned."

And the repression of journalists is just one aspect of the suffering that continues under Suharto's dictatorship, which has lasted for a third of a century.

When we see news about Indonesia -- the fourth most populous nation in the world -- the focus is usually on economic trends and prospects for foreign investors. Those routine stories are provided by American journalists who worry about paying their bills and advancing their careers, not going to prison.

Indonesia's government cares a great deal about its image in the U.S. press. If the coverage were more thorough here, pressure would increase for an end to Indonesia's political imprisonments, killings and torture.

Last year, while Ahmad Taufik was still in prison, the 1996 Nobel Peace Prize went to two men who have come to symbolize resistance to Indonesia's murderous occupation of East Timor -- activist Jose Ramos-Horta and spiritual leader Bishop Carolos Felipe Ximenes Belo.

It was a golden opportunity for the U.S. news media to finally do some in-depth reporting on that occupation, which dates back to Indonesia's invasion of East Timor in 1975.

But now, a full year after getting their Nobel Peace Prizes, Ramos-Horta and Belo are two of the most under-reported recipients of that award in the history of American journalism. At least 200,000 Timorese people were slaughtered by the Indonesian invaders, who continue to occupy East Timor. But the ongoing crisis has elicited little more than yawns from the American mass media.

Inclined to take their nods from the White House and Capitol Hill, the news media in this country have failed to report on the resistance to the Suharto regime for what it is -- a pro- democracy movement.

"The government is now only supported by the military and the bureaucracy," says Harsono, who appears in a new documentary film about Indonesia -- "One Struggle, One Change" -- produced by Global Exchange, a human rights group based in San Francisco.

For decades, the rulers in Jakarta have boosted their military might with arms shipments from Washington. Today, U.S. business investments in Indonesia -- estimated at $30 billion -- include extensive oil and mining interests.

These days, Indonesian workers are providing very cheap labor for manufacturers of products such as Nike shoes. With big money at stake, human rights principles get overshadowed.

Ahmad Taufik and some of his Indonesian colleagues have taken big risks. American journalists should be willing to take small ones.


Norman Solomon is a syndicated columnist. His most recent books are "Wizards of Media Oz" (co-authored with Jeff Cohen) and "The Trouble With Dilbert: How Corporate Culture Gets the Last Laugh."

Monday, March 13, 2000

Mengapa Jurnalisme Baru Ompong di Indonesia?

Mengapa kita di Indonesia tidak punya media di mana kita bisa menulis secara panjang? Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tidak berkembang dalam dunia media, sastra, seni dan intelektual Indonesia? Atau dengan kalimat perbandingan. Mengapa kita tidak punya majalah semacam The New Yorker? Atlantic Monthly? Harper's?

Pertanyaan ini mengganggu saya sejak semester lalu ketika mengikuti kuliah "non-fiction writing" di Harvard. Kalau di Amerika Serikat mereka punya majalah TIME, Newsweek dan sejenisnya, kita juga punya Tempo, Forum, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, Washington Post, kita juga punya harian sejenis.

Tapi mengapa kita ompong di jurnalisme sastrawi?

Istilah jurnalisme sastrawi adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Tom Wolfe pada 1960-an memperkenalkannya dengan nama "jurnalisme baru." Ada juga yang memakai nama "narrative reporting". Ada juga yang pakai nama "passionate journalism."

Tapi intinya, genre ini menukik lebih dalam daripada apa yang kita kenal sebagai "in-depth reporting." Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut.

Tulisannya biasanya panjang. The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan satu laporan hanya dalam satu edisi majalah. Wawancara untuk sebuah laporan bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan, nara sumber. Risetnya juga tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan.

Saya jadi makin penasaran karena bulan ini The New Yorker merayakan ulang tahunnya yang ke-75 secara besar-besaran. Editor David Remnick datang ke Harvard dan bicara panjang lebar soal tantangan yang dihadapinya. New York bulan depan akan "dikuasai" New Yorker. Ada lebih dari 10 judul buku diterbitkan dalam kesempatan ini. Remnick sejak dua tahun lalu menjadi pemimpin redaksi The New Yorker, menggantikan Tina Brown yang hengkang dan mendirikan majalah Talk.

Di Indonesia tentu ada penulis yang punya kegemaran menulis panjang dan bergaya jurnalisme baru. Saya menikmati sekali buku Bondan Winarno, "Sebongkah Emas di Kaki Pelangi" atau artikel-artikel George J. Aditjondro.

Tapi di kalangan penulis yang muda, siapa yang suka menulis lebih dari 20,000 kata? Mereka tumbuh hanya dengan batas 1,000 atau 2,000 kata. Saya pikir gaya begini tidak akan berkembang bila di Indonesia tidak ada media yang menjadi wadah buat perkembangan para penulis muda dengan gaya jurnalisme baru.

Saya bayangkan pada 1940-an hingga 1960-an di Indonesia sebenarnya ada media kecil-kecil yang memberikan kesempatan kepada para kontributornya buat menulis panjang. Mungkin majalah "Sastra" bisa kita masukkan ke dalamnya. Juga majalah "Horizon" bahkan majalah "Senang" yang dulu suka saya baca cerpen-cerpennya. Sekarang pun kita masih memiliki majalah KALAM dan majalah "Basis" (Yogyakarta).

Tapi ukuran mereka sangat kecil dan belakangan justru lebih menjadi majalah pemikiran daripada majalah sastra yang bisa dinikmati orang (relatif) banyak.

Apakah mereka tidak berkembang karena pasarnya kecil? Apakah mereka ompong karena jamannya Orde Baru belum memungkinkan buat gaya begitu? Saya tidak tahu jawabnya secara persis.

Pengamatan saya mungkin keliru. Karena itu memanfaatkan mailing list ini untuk melontarkannya ke hadapan publik yang lebih luas. Saya tahu bahwa di mailing list ini ada banyak akademisi, wartawan dan kalangan terdidik lainnya. Saya ingin menimba dari pemikiran dan pengalaman Anda.

Mon, 13 Mar 2000 18:19:02 mfi@egroups.com
Andreas Harsono aharsono@fas.harvard.edu

Sunday, January 30, 2000

Portrayals of The U.S. in World Media - A Report

Aditi Sawjiani '02 - India
Wesleley College


Arguably, there has never been a country on which opinion is so strongly divided as the United States. A villager in Sumatra might not even know or care about what is happening in the world's biggest superpower while at the same time, things may come to a standstill in a South African household as everyone watches The Bold and the Beautiful. However, the US in the World Media panel in Wellesley last month highlighted the sizable part that the media (and in some countries, the government because it controls the media) play in deciding public opinion. Journalists from different parts of the world spoke about the media in their countries, and the part they play in shaping public opinion through their portrayal of the United States, as well as the relationship of the country and the U.S.

Co sponsored by Open World, the panel, held in Slater International Center, comprised of six journalists - Andreas Harsano from Jakarta, Ragip Duran from Istanbul, Benjamin Fernandez from Paraguay, Dennis Cruywagen from South Africa, Mojgan Jalali from Teheran and Nikola Djuric from Serbia. They are Nieman fellows at Harvard University for the present year. They addressed, with varying degrees of intensity, three basic questions: What is the relationship of my country with the United States? How prominent is media presence in my country and how does it portray the United States?"

Andreas Harsono, a freelance journalist from Jakarta, Indonesia spoke first. Harsono actually decided to become a freelancer because of the restrictive regime of President Suharto, which didn't end until two years ago. He reflected on how Indonesia's rulers have almost wholly controlled the media. President Suharto was in power from 1965 to 1998, and his was a very restrictive reign. But since 1998, there has been a sizable increase in the number of newspapers, television channels and radio stations in Indonesia. Even so, the lack of interest in US related coverage remains more or less the same. Harsono gave three major reasons for this. There was relatively more interest in the US when it increased its involvement with Vietnam, and with the formation of ASEAN (Association of South East Asian Nations), but the US lost credibility after its failure in the Vietnam War, and Indonesian interest in the U.S. rapidly waned. Also, there were other pressing problems to worry about like ethnic violence and the Asian crisis. Finally, there wasn't enough funding available either to maintain bureau offices in Washington. Harsono maintained that "people in Indonesia are also more inward looking than say mainland South East Asian countries like Thailand and Cambodia, and this is a reason for the lack of interest in most things American."

Benjamin Fernandez, head of the news department, SNT Continental, Asuncion, Paraguay expressed the same sentiments. Paraguay is eight hours from Miami, and there is less interest in U.S. news than in a closer country like Guatemala. But American soaps are still eagerly watched and music listened to. However, since Paraguay receives relatively little money from the United States as aid, only about sixty thousand dollars a year, the U.S. isn't regarded as indispensable.

Ragip Duran, a correspondent based in Istanbul, Turkey had quite a different story to offer. He claimed that there is a strong and close alliance between Washington D.C. and Ankara. In the fifties, Turkey sent troops to Korea and was awarded membership to NATO for this. More recently, in the aggression against Iraq, it gave privileges like the use of airspace to the Allies. These two incidents aptly demonstrate the relationship between Turkey and the United States- America is the leader and Turkey the follower. During the Gulf war, all the anti-Muslim jokes that circulated in the United States were faithfully repeated in Turkey, which is ironically a predominantly Muslim country. In the fifties, a Turkish president said, " My dream is that Turkey will one day become a little America." Duran remarked, " Well, part of that dream has been realized. Turkey has all the negative aspects of America." He talked at length about the lack of freedom of press and expression in Turkey. "Turkish newspapers do not reflect Turkish society. You will be more informed about military opinion than anything else. Twenty-three Turkish colleagues of mine have been killed for this reason. However, there are two other types of media that do not come under the official category. One is an Islamic force and sharply criticizes the U.S. and the other, which can only be termed as leftist, does cover events in the U.S. that are not given coverage in the official papers."

Dennis Cruywagen, deputy editor of Pretoria News from South Africa recounted a similar story. He said, "We welcome American investment. In a country with forty percent unemployment, we welcome investment from any country! And yes, America fascinates us because it's such a big power. Big stories at home include the How to Marry a Millionare TV show and primaries." But he also pointed out that it wasn't blind adoration. "America, after all, supported the ruling regime in South Africa during the struggle against apartheid, and we have come to realize that there is one set of principles for America, and one for the rest of the world." He wryly reflected on the fact that youth in South Africa have virtually no idea of the struggle that his generation went through to attain freedom, and are more interested in listening to American hip hop music which blares out from many local radio channels.

Mojgan Jalali, the editor of Iran News, explained how history and political relations have mainly decided the extent, if any, of the coverage of the U.S. in Iranian media. The U.S. was idolized before the 1979 revolution and then, after the conservatives came to power, the pendulum swung to the other end. Suddenly, the US was being criticized for its arrogance and imperialistic tendencies, and being blamed for freezing Iranian assets. "But," she said, "the winds of change are blowing once again. After the moderate Khatami rose to power, there has been more coverage of the United States, regardless of the fears of the conservatives. Madeleine Albright and James Rubin are now familiar faces in the Iranian news."

Nikola Djuric, manager of City Radio station in Serbia, which has now been banned, shared sentiments similar to Jalali's. He grew up with American music and culture. But after the U.S. role in the civil war in former Yugoslavia and the Serbian crisis, there has been a noticeable tension in the air.

The panel, which lasted an hour long, concluded with a question and answer session.

Wednesday, January 12, 2000

Dunster Evicts Tutor

By M. DOUGLAS OMALLEY
Crimson Staff Writer
Harvard Crimson


Andreas Harsono, a Nieman fellow, has been asked to leave his Dunster House residence after being arrested on charges of domestic assault and battery against his wife last Tuesday.

Harsono received a letter Saturday from Dunster House Master Karel Liem directing him to leave the House within seven days.

"I think this is a very unfortunate matter. All I can say is that Andreas and his wife are trying to deal with it the best they can," said Bill Kovach, the Nieman Foundation curator.

The Cambridge Police Department received a 911 call at 12:40 a.m on Jan. 4 and the Harvard University Police Department (HUPD) responded.

Harsono and his wife, Retno, had been arguing when Harsono struck his wife. Andreas Harsono said he then called 911.

Harsono's wife was transferred to Mt. Auburn Hospital where she stayed overnight.

She was treated for a large welt on her left temple, pain in the left shoulder and dizziness, according to HUPD Spokesperson Peggy A. McNamara.

Harsono was arrested on the scene and transferred to Middlesex County Jail. His wife posted the $1,025 bail the following day.

Kovach expressed surprise at the incident.

"If you had to pick out one type of person, you'd never think Andreas," he said. "We feel pretty confident that this was an isolated incident."

Kovach said the couple, married for five years, was going to undergo marriage counseling.

Harsono, a freelance journalist from Jakarta, Indonesia, said he had no excuse for his actions.

"It's wrong to beat your wife. It never should have happened," he said. "There's nothing that justifies what I did."

He said the couple will try to move into a Cambridge apartment after they leave their Dunster House residence.

The Commonwealth of Massachusetts is bringing criminal charges against Harsono and a pre-trial hearing is set for Feb. 1.

The Nieman fellow has previously written for Tempo, a newspaper based out of Jakarta, before it was shut down.

He was also a colleague of the Dutch journalist killed in East Timor last fall.

Before accepting the Nieman fellowship, Harsono was writing for The Nation, a Bangkok, Thailand paper.

-- Garrett M. Graff contributed to the reporting of this article.