Saturday, July 18, 2020

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya pernah bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000, selama delapan tahun, saya menyunting majalah Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) and Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard. Saya makin sering meneliti dan menulis persoalan jurnalisme.


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan soal hak asasi manusia termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, saya menerbitkan buku Race, Islam and Power. Ia sebuah cerita perjalanan yang diramu dengan riset soal hak asasi manusia.

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch, salah satu organisasi hak asasi manusia paling berpengaruh di dunia, dengan tanggungjawab soal Indonesia. Banyak menulis soal kebebasan beragama, kebebasan pers, prinsip non-diskriminasi.

Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam namun agama-agama yang dilindungi di Indonesia termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil termasuk aliran kepercayaan maupun agama baru macam Millah Abraham.

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya sering menulis cerita perjalanan. Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 70 lokasi di Indonesia. Saya mencatat, merekam dan menulis soal tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan.

Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. Paling menarik bila berjalan seorang diri, sering memakai perjalanan buat berpikir, membaca dan berbagi.

Cerita

Blog ini juga banyak memuat cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup saya, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak.

Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota perdagangan paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Bagaimana cara memperpanjang SIM pada masa pandemi?

Wabah bikin suasana rumit di bidang surat izin mengemudi. Banyak SIM mati sejak Maret karena Covid19. Pelayanan sempat dihentikan.

Antrian dapat nomor sejak pukul 5.
BARU bulan Juni pelayanan SIM dibuka lagi dengan antrian panjang. Celakanya, urusan SIM tak bisa antri online walau diumumkan bisa online. Website sim.korlantas.polri.go.id tak bisa dibuka sama sekali.

Mulanya, saya pakai Google untuk datang ke gerai Korlantas, Gandaria City, hari Kamis pukul 7.50. Tujuannya, mau ambil antrian. Ternyata sudah tak ada karena kuota hanya 100 orang per hari.

Saya ulangi lagi Sabtu ini di Gandaria City, sesudah subuh. Antrian dibuka pukul 5. Saya tiba pukul 5.30 dan dapat nomor 70 dari kuota 100.

Kami semua diminta datang pukul 12 ketika pelayanan dibuka.

Saya datang sebelum pukul 12. Diminta menunggu. Lumayan kuatir lihat orang berkumpul di daerah loket SIM (pengisian formulir dan pemotretan). Ada lebih dari 50 orang berkumpul. Bangku duduk diberi tanda kali, setiap tempat duduk, agar orang tak duduk bersebelahan langsung.

Tempat makan di Gandaria City.
Seorang satpam bilang nomor 70 setidaknya baru dilayani pukul 13. Ada tempat makan, persis sebelah daerah pengurusan lalu lintas. Cukup banyak orang minum kopi dan makan. Saya memutuskan menghindar.

Jadinya, saya jalan-jalan dalam mal. Lumayan teratur. Ada jalur satu arah di seluruh mal. Semua tempat makan juga diberi protokol kesehatan.

Persoalannya, petugas memanggil nomor lewat sound system yang hanya bisa didengar maximal 20 meter dari loket. Saya bolak-balik ke dekat loket untuk periksa giliran. Kuatir juga dengan virus. Siapa tahu?

Loudspeaker tak memadai, orang
tetap berkerumun buat tunggu giliran
.
Oh ya, saya mengisi waktu dengan baca buku Luke Harding Shadow State: Murder, Mayhem, and Russia's Remaking of the West. Saya cukup tenggelam mendalami soal bagaimana Rusia membuat Donald Trump menang pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016. Harding mengupas dengan mendalam. Trump takut pada Vladimir Putin dari Rusia. Trump jadi presiden Amerika Serikat karena bantuan Rusia.

Pukul 14, barulah saya dipanggil buat tes mata. Tidak buta warna. Tidak rabun jauh. Bayar Rp 55 ribu.

Lalu mengisi formulir di loket polisi. Bayar Rp 80 ribu. Saya diberi nomor lagi: 84. Ini nomor buat pemotretan.

Menunggu dua jam lagi. Dapat panggilan sekitar pukul 16.

Saya kaget lihat keempat petugas ini bekerja dalam ruang ukuran 4x5 meter persegi. Mereka bekerja cepat. Namun sama sekali tak ada physical distancing. Saya bukan ahli kesehatan. Saya kuatir lihat ruang sesempit itu buat mereka. Saya berharap mereka sehat selalu bekerja dalam ruang sekecil ini.

Saya segera cuci tangan dan kencing. Baru mengeringkan tangan, loudspeaker memanggil nama saya.

Ini sangat cepat, sekitar 10-15 menit saja. Saya dapat SIM baru.

Dua hari, terakhir tunggu 5 jam.
Total siang ini 5 jam buat menunggu perpanjangan SIM.

Saya ambil hikmahnya bahwa ia berlaku buat lima tahun. Lima jam buat dokumen lima tahun rasanya tak seberapa.

Langsung pulang ke rumah dan mandi keramas.

Hari ini sudah dua kali mandi karena dua kali pula datang ke loket SIM tersebut. Mudah-mudahan protokol kesehatan di Gandaria City cukup baik buat hindari virus corona.