Thursday, May 26, 2022

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur) serta majalah Pantau (Jakarta) soal media dan jurnalisme.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi (Jakarta), South East Press Alliance (Bangkok), Yayasan Pantau (Jakarta) dan Suara Papua (Jayapura). Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme di Universitas Harvard lewat Nieman Fellowship. Saya salah satu wartawan awal dari International Consortium of Investigative Journalists (Washington DC).  


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010), In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013) serta "I Wanted to Run Away": Abusive Dress Codes for Women and Girls in Indonesia (2021). Pada 2019, buku Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 80 lokasi, selama tiga tahun. Saya menulis tempat menarik. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Glodok, Jakarta 2019
Ini soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Kedua anak saya lahir di Jakarta. Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta kerja. Saya sering mengunjungi New York. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di New York. 

Wednesday, May 25, 2022

Yayasan Ate Keleng belajar menulis

Saya
bersama Yayasan Ate Keleng selama empat hari di Sibolangit, sekitar dua jam dari Medan, mengajar kelas menulis, juga diskusi macam-macam, dari etnik Batak Karo sampai hak asasi manusia. 

Yusuf Tarigan, direktur eksekutif Yayasan Ate Keleng, berharap kelas ini bisa mendorong peserta buat "suka membaca dan menulis." Ada belasan peserta ikutan. 

Pengalaman tiga hari ini menyenangkan namun juga menyadarkan bahwa tantangannya besar sekali. Ia beda dengan kelas dengan pers mahasiswa, yang tentu sudah punya banyak anggota dengan pengalaman menulis jurnalistik. Ini juga beda dengan pengalaman saya mengajar di Pulau Jawa atau Pulau Sulawesi. Menariknya, makin hari makin banyak yang ikut di Sibolangit. 

Yayasan Ate Keleng --dalam bahasa Karo artinya "kasih sayang"-- terletak dalam area "Taman Jubileum 100 Tahun Gereja Batak Karo Protestan." Ini gereja suku, yang menganggap dirinya dimulai pada 1890, di Tanah Karo. 

Luas Taman Jubileum sekitar 50 hektar. Ada banyak penginapan buat retreat, panti sosial, rumah buat warga senior, bengkel perkayuan, tapi juga musium serta pepohonan yang tinggi. Suasana adem. Enak buat olahraga. 

Yayasan Ate Keleng milik Gereja Batak Karo Prostestan. Ia bergerak di bidang credit union dengan anggota sekitar 50,000 orang, namun soal advokasi di bidang sosial dan politik, terutama di Sumatra Utara. Orang bisa jadi anggota credit union, dari macam-macam latar belakang, tak harus anggota gereja. Kinerja di bidang perekonomian akar rumput sudah terbukti kuat buat organisasi ini. 

Gereja juga memiliki Bank Perkreditan Rakyat. Namanya, PT BPR Pijer Podi Kekelengen

Saya perhatikan mereka suka pakai bahasa Karo. Keputusan yang baik tentu walau bahasa Karo penuturnya sedikit. Bahasa Karo juga punya aksara Karo. Ia memiliki kesamaan dengan aksara Sumatra lain termasuk Pakpak, Simalungun, Mandailing, Batak Toba, Kerinci dan Lampung. 

Tulisan Karo terdiri dari 21 huruf. Namun beberapa orang bilang makin sedikit orang Karo yang bisa membaca, apalagi menulis, dalam aksara Karo. 

Di Jakarta, kata Karo yang saya kenal adalah istilah BPK. 

Babi Panggang Karo. 

Papan nama BPK bersebaran dari Sibolangit sampai Medan. Orang Karo sering bergurau bahwa banyak juga penjual Babi Panggang Karo dari Batak Toba. 

Saya diberitahu bahwa makanan khas Batak Toba adalah saksang. Ia masakan rebusan, yang gurih dan pedas, terbuat dari daging cincang babi atau anjing. Babi disingkat B2 (kata "babi" dengan dua huruf b) maka saksang, dalam bahasa Toba, disingkat B1 (kata anjing adalah biang, satu huruf b). 

"Di Karo kita sebut lomok-lomok," kata Yuni Sartika Ginting dari Yayasan Ate Keleng. 

Yusuf Tarigan mengatakan mereka hendak masuk ke era digital dengan website, media sosial dst. Ini memerlukan ketrampilan menulis thus juga bikin video dan audio.

Ini juga kesempatan saya baca buku, lihat kain tenun, pisau serta pedang, rumah adat serta lesung buat menumbuk biji-bijian. Ada musium Batak Karo dalam areal ini. 

Di Sibolangit, saya berkali-kali diberitahu bahwa suku Karo punya lima marga utama, disebut Merga Silima: Karo-karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, Perangin-angin. Mereka masing-masing terdapat sub-sub merga. Dari kurator musium sampai sopir, dari penjual kopi sampai petani. Semuanya bisa cerita soal Merga Silima

Rosfinelly Tarigan dari musium juga mengajak saya lihat rumah adat. Cantik sekali. Kini saya jadi mengerti bukan saja kelima marga utama tapi turunan dari masing-masing marga serta fungsi dari disain rumah adat. 

Saya merasa berbesar hati melihat begitu banyak perempuan ikutan acara ini termasuk Ruth Sembiring Pandia, pendeta Batak Karo, yang dicalonkan menggantikan Tarigan pada 2024. Yuni Sartika Ginting setia dari awal sampai akhir, ibu seorang anak, bekerja keras buat Yayasan Ati Keleng.

Diskusinya, tentu saja, banyak soal hak perempuan, dari pendidikan buat anak dan perempuan, sampai kekerasan seksual terhadap perempuan. Saya menekankan kelas ini pada dua struktur penulisan; piramida terbalik dan feature. 

Namun saya juga dengar cerita-cerita soal begu --"hantu" dalam bahasa Karo. Dari cerita Tarigan yang mendoakan exorcism orang agar dikeluarkan dari "roh jahat" sampai Priska Tarigan yang cerita kakeknya, seorang pejuang 1945, "bisa menghilang" dan dia sendiri bisa lihat "bayangan hitam." 

Tiga malam saya tinggal disini, pagi jalan kaki, lantas ngopi dan diskusi. Selalu menekankan bahwa esensi jurnalisme adalah verifikasi. Sangat berkesan. 

Monday, May 23, 2022

Pelatihan Menulis di Sibolangit

Kursus tiga hari ini dirancang buat karyawan Yayasan Ate Keleng, Sibolangit, yang ingin belajar jurnalisme –lakukan wawancara, riset dan verifikasi—agar bisa menulis berita, feature, maupun mengisi buat website dan media sosial. 

Ia diharapkan membuat peserta sadar akan berbagai tantangan hukum menulis dengan etis, seyogyanya, juga tak berujung dengan persoalan hukum, termasuk dalam memakai WhatsApp, Twitter, Facebook, Instagram dan lainnya. 

Isinya enam sesi, dari pukul 9 sampai 14, serta satu sesi tanya jawab hari Rabu. Peserta diharapkan punya waktu buat mengendapkan materi belajar, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kursus ditekankan pada diskusi dalam kelas dan latihan.

INSTRUKTUR

Andreas Harsono, bekerja buat Human Rights Watch, ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, serta Yayasan Pantau di Jakarta, anggota International Consortium of Investigative Journalists, ikut Nieman Fellowship di Universitas Harvard, ikut menyunting Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat serta menulis buku "Agama" Saya Adalah Jurnalisme serta Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Soeharto Indonesia.

SESI PERTAMA - Sepuluh Elemen Jurnalisme

Perkenalan, pembicaraan silabus dan membahas “Sepuluh Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel serta membandingkannya dengan praktik jurnalisme di Indonesia.


SESI KEDUA - Teknik Wawancara

Melihat teknik-teknik yang dikembangkan oleh International Center for Journalists. Peserta melakukan praktik wawancara di depan kelas. 

Bacaan: ”Ten Tips For Better Interview” dan “Bagaimana wawancara dengan pikiran terbuka?” Bila tertarik tahu lebih banyak soal teknik wawancara, bisa baca Manual dari Human Rights Watch soal liputan trauma.

Pekerjaan Rumah: Pulanglah ke rumah dan mewawancarai orang tua Anda. Rekamlah wawancara dgn telepon (video atau audio). Bagaimana proses kelahiran Anda serta tumbuh besar? Tanyakan apa suka dan duka dalam kehidupannya? Rekaman ini akan kita dengar sama-sama di kelas keesokan hari. Setiap peserta perlu fokus pada 5 menit rekaman saja. 

SESI KETIGA - Struktur Piramida Terbalik dan Feature

Bacaan: “Feature: Ibarat Menggoreng Telur Mata Sapi” dan “Menulis Siaran Pers dengan Piramida Terbalik.” Goenawan Mohamad dari majalah Tempo menulis opini yang sering dikutip orang pada 1986 berjudul, "The Death of Sukardal."

Pekerjaan Rumah: Buatlah sebuah siaran pers soal kegiatan Yayasan Ate Keleng dengan format piramida terbalik. Bila Anda mau, juga bisa bikin sebuah opini dengan format feature. Tema opini bebas tapi harus disandarkan pada wawancara dan riset. Pekerjaan rumah ini akan didiskusikan bersama besok. Maksimal 600 kata buat siaran pers, 800 kata buat feature. Bayangkan bahwa naskah ini akan dimuat di website Yayasan Ate Keleng atau Facebook pribadi masing-masing. 

SESI KEEMPAT - Pekerjaan Rumah 

Kita akan diskusi soal pekerjaan rumah tentang wawancara. Bila ada video, mohon siapkan slide projector.

SESI KELIMA - Perkakas Menulis

Tak ada hukum dalam menulis. Namun menulis punya perkakas, tepatnya 50 buah, terbagi dalam empat bagian besar.

Bacaan: Baca nasehat menulis dari Roy Peter Clark. Bila Anda biasa, atau sedang belajar menulis dalam bahasa Inggris, tidak rugi untuk membeli buku Writing Tools karya Clark. Alfian Hamzah dari majalah Pantau banyak memakai perkakas denga baik dalam laporan 2003 dari Aceh Barat, "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan."

SESI KEENAM - Pekerjaan Rumah

Kita akan diskusi soal pekerjaan rumah tentang siaran pers dan feature. 

SESI KETUJUH - Tanya Jawab

Silahkan membaca blog Andreas Harsono untuk tahu berbagai persoalan hak asasi manusia di Indonesia, termasuk kebebasan pers. Blog ini punya banyak informasi soal berbagai persoalan hukum soal pencemaran nama