Sunday, July 08, 2018

α


“Do not be too eager to deal out death and judgement, for even the very wise cannot see all ends. All we have to decide is what to do with the time that is given to us.”

J.R.R. Tolkien with his shaman Gandalf in the The Lord of the Ring 

“When copies are free, you need to sell things which cannot be copied. The first thing of these is trust. Trust must be earned, over time."

Kevin Kelly Wired internet magazine editor.

Pemandangan di kota Toronto dimana ada program bike share. Ini sepeda bisa dipakai bersama-sama. Sepeda bisa diparkir di tempat-tempat yang ditentukan. Ia membantu mengatasi kemacetan lalu lintas karena orang didorong pakai moda transportasi campuran. Ia dengan mudah ditemukan dekat stasiun kereta api. Orang bisa naik kereta api lalu pindah sepeda. Program ini juga pernah saya lihat di Brussels, New York dan Washington DC. 

Febriana Firdaus dapat penghargaan keberanian dalam jurnalisme

Yayasan Pantau memperkenalkan Penghargaan Oktovianus Pogau di Indonesia. Ia diberikan pertama kali kepada Febriana Firdaus asal Kalisat. Penghargaan ini tak diberikan uang maupun acara agar Yayasan Pantau bisa melulu diskusi soal seleksi penerima tanpa dibebani pendanaan.

Match Words with Action on Papua Rights Abuses
My essay about the Joko Widodo government approach on rights abuses in West Papua and Papua provinces.

Media dan Jurnalisme
Ingin belajar menulis? Ada empat kategori dalam pembelajaran media dan jurnalisme: Laku wartawan; Meliput; Menulis; dan Dinamika ruang redaksi.

Indonesia Divided?
Steve Paikin of TV Ontario interviewed me about the rise of religious discriminations and violence. President Susilo Bambang Yudhoyono introduced "religious harmony" against the Constitutional religious freedom.

Doa Anak Telanjang
Puisi karya Pastor John Djonga dari Pulau Flores, diciptakan saat sahabatnya, Yosepha Alomang dari Timika, dapat penghargaan Yap Thiam Hien di bidang hak asasi manusia.

Dari Thames ke Ciliwung
Bagaimana pemerintah Indonesia lakukan privatisasi terhadap perusahaan air minum Jakarta?


Mengapa Kekerasan Atas Nama Agama Marak?
Human Rights Watch menerangkan hukum dan peraturan yang diskriminatif serta empat lembaga negara dan semi-negara fasilitasi diskriminasi di Indonesia.

Bagaimana jurnalisme zaman internet?
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel bahas pengaruh internet pada jurnalisme. Media makin kehilangan fungsi "penjaga gawang" informasi.

Indonesia Is No Model for Muslim Democracy
World leaders love to praise Indonesia as a model for Muslim democracy. Is that right?

Belajar dari Filep Karma
Seorang cendekiawan Papua bicara nasib bangsa Papua: tersingkir di tanah mereka sendiri. Dia dipenjara 15 tahun oleh pengadilan Indonesia.

Akar Kekerasan Kalimantan
Lebih dari 70 warga Pontianak dan Singkawang keluarkan Seruan Pontianak, minta agar warga berhati-hati dengan kekerasan.

Indonesia ignores calls for tobacco reform
Indonesia is one smoking giant. In 2009, 28 percent of Indonesian adults were smokers and more than half of men smoke.

Peluncuran Antologi di Pekanbaru
Bahana Mahasiswa meluncurkan 'Agama' Saya Adalah Jurnalisme di perpustakaan Soeman HS, Pekanbaru. Ada pertunjukan Teater Rakyat.

Antologi Kedua
Saya mempersiapkan antologi baru berisi berbagai laporan panjang, minimal 5,000 kata, tentang hak asasi manusia dan pertikaian di berbagai tempat di Indonesia. Ia juga berisi revolusi komunikasi di dunia berkat kedatangan internet. Mulai dari Google hingga Facebook.

Kriminalisasi Aspirasi Politik
Mereka menaikkan bendera RMS atau bendera Bintang Kejora. Mereka ditangkap, disiksa, dihukum dengan proses peradilan yang buruk dan kini dipenjara tahunan.

Obama Has the Power to Help Papua
Young Barack Obama noticed his stepfather’s great unease and silence about his one-year military service in New Guinea. Obama has the power to "the weak man."

Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia
Selama satu dekade warga Ahmadiyah di Pulau Lombok diusir dari satu desa ke desa lain. Bagaimana melihat pelanggaran hak asasi manusia ini dari kenegaraan Indonesia?

Antara Sabang dan Merauke
Berkelana dari Sabang ke Merauke, wawancara dan riset. Ia termasuk tujuh pulau besar, dari Sumatera hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana.

Cermin Jakarta, Cermin New York
Resensi buku-buku soal majalah The New Yorker. Dari redaktur Harold Ross, lalu William Shawn hingga David Remnick. Bagaimana ia menjadi icon kebudayaan Amerika Serikat?

Burrying Indonesia's Millions: The Legacy of Suharto
Suharto introduced a "business model" for soldiers and businessmen. He built ties to merchants, accummulating immense wealth while using violence to repress dissension.

Dominikus Sorabut dan Putu Oka Sukanta
Penghargaan Hellmann/Hammett 2012 untuk keberanian membela hak berpendapat. Sukanta ditangkap pada 1966 dan ditahan, tanpa pengadilan, selama 10 tahun di Jakarta. Sorabut dipenjara sejak 2011 di Jayapura.

Sebuah Kuburan, Sebuah Nama
Di Protestant Cemetery, Penang, terdapat sebuah makam untuk James Richardson Logan, seorang juris-cum-wartawan, yang menciptakan kata Indonesia pada 1850.

Makalah Criminal Collaborations
S. Eben Kirksey dan saya menerbitkan makalah "Criminal Collaborations?" di jurnal South East Asia Research (London). Ia mempertanyakan pengadilan terhadap Antonius Wamang soal pembunuhan di Timika.

Moedjallat Indopahit
Satu majalah didisain sebagai undangan pernikahan. Isinya, rupa-rupa cerita. Dari alasan pernikahan hingga kepahitan sistem kenegaraan Indonesia keturunan Majapahit.

Struktur Negara Federasi
Rahman Tolleng bicara soal struktur federasi di Indonesia. Kuncinya, kekuasaan ditaruh di tangan daerah-daerah lalu diberikan sebagian ke pusat. Bukan sebaliknya, ditaruh di pusat lalu diberikan ke daerah: otonomi. Bagaimana Republik Indonesia Serikat?

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta. Politikus Marrissa Haque pernah tanya, “Mas ini bekerja untuk bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?”

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Pada 1990 Iwan Fals meluncurkan album Swami. Dia mulai gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Saturday, July 07, 2018

Amir Husin Daulay dalam Ingatan

Oleh Imran Hasibuan


Poster Amir Husin Daulay.
Kemarin malam, aku ikut acara Mengenang AHD (Amir Husin Daulay) di Guntur 49, bersama banyak kawan aktivis. Dari yang paling senior, Hariman Siregar, hingga anak-anak muda yang sudah tak kukenal lagi. Semuanya pasti kenal AHD, paling tidak pernah dengar namanya. Sebagai tuan rumah, Isti Nugroho dan Sri Hidayati (istri AHD).

Lantas apa yang layak dikenang dari AHD? Dalam memori ingatanku, kenangan itu lumayan panjang, merentang masa sekitar 27 tahun (1986-2013). Selama itu tentu ada pasang surut dalam hubungan personal kami, tapi tak pernah putus.

Sayup-sayup masih teringat ketika suatu hari sebagai mahasiswa baru di FISIP Universitas Nasional, aku menjenguk ruang kerja redaksi Politika. Seminggu sebelumnya, bersama beberapa kawan --diantaranya Nuku Soleiman-- sudah mengikuti pelatihan jurnalistik Politika.

Ruang redaksi itu berada di lantai 4 Gedung B, Kampus Sawo Manila. Ruangannya sempit, menyempil di pojok gedung dan berseberangan dengan toilet. Lokasinya sama sekali tak strategis, tak ada lalu lalang mahasiswa yang melintas. Sepi kalau tak ada aktivitas redaksi. Dan untuk mencapai ruang redaksi itu, harus menaiki tangga berliku.

Di anak tangga terakhir, aku lihat pintu ruangan Politika terbuka.

"Ada orang," pikirku.

Langsung saja, aku masuk. Tepat di mulut pintu, mata ku bersirobok dengan sosok lumayan sangar: tambun dan berjenggot lebat. "Bah... Siapa orang ini?"

Tak ada orang lain di sana. Aku sapa dia, tapi diam saja, sambil terus membaca berkas-berkas yang terserak di meja kecil. Belum lagi pikiran ku bergerak kemana-mana, orang sangar itu sudah bertanya:

"Siapa nama kau?"

"Imran Hasibuan, tapi biasa dipanggil Ucok."

"Dari mana asal kau?"

"Medan, bang"

Mendengar kata Medan, keningnya langsung berkerenyit. "Medan nya dimana?"

"Glugur Hong, bang"

"Owhh... Kau yang ikut pelatihan minggu lalu ya."

"Iya bang"

"Ya sudah. Kau beres-beresin kantor ini," perintahnya sampai ngeloyor pergi, tanpa memperkenalkan diri sama sekali.

Baru beberapa hari ini kemudian aku bertanya kepada salah seorang senior Politika tentang orang sangar itu. "Itu Bang Amir. Nanti kau juga tahu siapa dia," jawab senior itu. Menggantung betul informasinya.

Berbilang bulan kemudian, baru aku tahu bahwa AHD-lah yang menghidupkan lagi Politika, beberapa tahun sebelumnya. Pada 1986, ia sudah memimpin Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Nasional dan menerbitkan koran mahasiswa Solidaritas.

Pertengahan 1980-an itu pers mahasiswa di kampus Sawo Manila sedang di puncak aktivitasnya. Hampir tiap minggu ada saja kegiatan yang digelar pers mahasiswa di Universitas Nasional: pelatihan jurnalistik, diskusi dengan tema sosial-politik, sampai pembacaan puisi WS Rendra. Kegiatan tahunan yang paling ikonik adalah Pekan Orientasi Jurnalistik Mahasiswa berskala nasional. Setiap kali digelar pesertanya mencapai 200-300 orang dari berbagai kampus seluruh Indonesia.

Pokoknya, kampus Sawo Manila benar-benar semarak. Bagaikan magnet, Universitas Nasional menarik perhatian para aktivis pers mahasiswa dari seluruh penjuru negeri. Tak hanya itu, hampir setiap bulan masuk kampus para jurnalis terkemuka Indonesia, mantan aktivis mahasiswa, sastrawan, akademisi, dan orang-orang terkemuka dari berbagai profesi. Motor utana semua kegiatan itu adalah AHD. Rupanya, ia berhasil meyakinkan Rektor Universitas Nasional Sutan Takdir Alisjahbana tentang perlunya menyemarakkan kampus Sawo Manila.

Dan aku "terperangkap" di tengah kesemarakan itu. Tak lama kemudian, aku malah "terperangkap" dalam jaring aktivitas di di sekitar AHD.

Begini ceritanya. Setelah aktif sebagai reporter di Politika, tentu aku terlibat dalam kerja-kerja jurnalistik pers mahasiswa dan kegiatan lainnya. Kala itu, AHD telah membentuk satu markas di luar kampus. Yang disebut markas ini tak lain rumah kontrakannya, di gang kecil di kawasan Jalan Siaga, Pasar Minggu. Tak jauh dari markas itu ada kandang sapi milik tetangga, yang setiap waktu mengirimkan bau kotoran sapi. Karena itu, di kalangan aktivis mahasiswa yang hilir mudik ke sana, rumah itu disebut "Markas Kandang Sapi".

Amir Husin Daulay (tengah) bersama aktivis mahasiswa.
Suatu kali, saat lagi berkumpul di "Markas Kandang Sapi" AHD bilang: "Cok, kau tinggal di sini aja. Itu ada kamar kosong di belakang". Rupanya, penghuni kamar itu telah keluar. Aku mengiyakan.

Seminggu kemudian, aku sudah menempati kamar kecil di sebelah dapur. Kamar utama yang paling luas, tentu saja, ditempati AHD. Dua kamar lainnya, ditempati dua senior lain: Imron Zein Rolas dan Nurdin Fadli. Semuanya "Anak Medan". Sejak itu jadilah aku anak bawang di Markas Kandang Sapi.

Ya betul-betul anak bawang, karena kebagian tugas-tugas yang gak penting: mulai cuci piring sampai disuruh beli rokok. Kalau ada tamu para aktivis dari kampus lain (yang paling sering datang Agus Edy Santoso alias Agus Lennon, sambil bawa selebaran atau pamflet) aku hanya boleh mendengarkan percakapan mereka saja.

"Kau masih anak bawang, belum boleh komentar," kata AHD, juga dua senior lain itu.

Tapi, sebagai anak bawang di "Markas Kandang Sapi" ada juga untungnya. Tentu aku jadi kenal para pentolan aktivis mahasiswa 1980-an dari berbagai kampus. AHD juga sering mengajak kami berkunjung dan berdiskusi dengan aktivis mahasiswa yang lebih senior. Yang paling sering dikunjungi adalah Hariman Siregar di markas Jalan Lautze. Selain diskusi, hal lain yang paling menyenangkan adalah disuguhi gulai kepala ikan kakap dari resto Medan Baru.

Juga para jurnalis terkemuka di masa lalu --seperti Mochtar Lubis dan Aristides Katoppo-- tak lupa disambangi. Yang dibicarakan tak semata soal pengalaman jurnalistik, tapi juga soal-soal politik aktual.

Tapi, yang paling seru, jika di malam hari mengeluarkan sepeda motor Binter Mercy-nya, lantas bilang: "Cok, ikut kau..."

Kalau sudah begini, biasanya yang dikunjungi adalah para narapidana politik atau tokoh-tokoh kiri. Perjalanan naik sepeda motor itu biasanya muter-muter dulu, mungkin untuk mengecoh intel yang mungkin mengikuti.

Pelan tapi pasti, statusku mulai meningkat: dari anak bawang menjadi (salah seorang) asisten AHD. Ketika Yayasan Pijar berdiri, di akhir 1980-an, aktivitas AHD di luar kampus makin intens. Pijar, dimana sosok AHD dominan, segera menjadi salah satu simpul utama jaringan aktivitas mahasiswa masa itu. Selain anak-anak UNAS, di Pijar bergabung juga aktivis dari kampus lain: Rachland Nashidik, Tri Agus Susanto Siswowiharjo, Eddy Junaidi, Lucky Savor dan lain-lain.

Mau tak mau, aktivitas ku sebagai salah satu asisten AHD makin intens. Selain mengkoordinir pelatihan/kursus jurnalistik dan diskusi di kantor Pijar (yang sudah berpindah ke kawasan Cawang, kemudian di Jalan Penggalang, sekitar Jalan Pramuka), juga terlibat dalam aksi-aksi demo jalanan.

Ketika AHD sibuk mengurus persidangan karibnya, Bonar Tigor Naipospos, yang dituduh rezim Orde Baru mengorganisir distribusi buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang sudah dinyatakan terlarang oleh rezim Orde Baru, aku juga jadi ikut-ikutan sibuk. Pasalnya, begitu Coki --nama panggilan Bonar Tigor-- ditangkap aparat di Jakarta, AHD memutuskan tinggal di Yogyakarta selama persidangan. Nah, untuk membantunya menangani urusan-urusan sepele --membawa buku-buku titipan buku dari Penerbit Sinar Harapan dan Kompas Gramedia, pakaian, dan sebagainya-- terpaksalah aku yang kerap bolak-balik Jakarta-Yogyakarta.

Imran Hasibuan
Aku baru lepas dari "jeratan" AHD dan Pijar, setelah bekerja sebagai wartawan di majalah Forum Keadilan. Tugasku jadi lebih ringan: mengajar di kursus jurnalistik Pijar (tanpa honor) dan mentraktir ketika gajian. Dan harus siap dipanggil AHD untuk mendengarkan ceramah AHD tentang berbagai gagasannya, kebiasaan di markas Pijar yang masih terus berlanjut. Bedanya kali ini, aku sudah bisa kasih komentar bahkan berdebat. Dan seperti dulu pula, tak semua gagasan AHD sukses dalam pelaksanaannya. Misalnya, lembaga riset dan sejumlah media yang didirikannya bubar di tengah jalan. Bagi AHD, sebuah gagasan yang diyakininya harus diuji dan dikerjakan. Soal sukses atau gagal itu urusan kesekian.

Pikirannya selalu bergerak kesana-kemari, melintas ke berbagai bidang. Ia, misalnya, ikut menggagas pembentukan Indemo. Juga menginisiasi milis grup penggemar Leo Kristi --yang kemudian menjadi LKers. Lantas menggarap produksi pementasan teater Mastodon dan Burung Kondor. Dan masih banyak lagi kegiatan dan institusi lainnya.

Bahkan, ketika dia sudah divonis mengidap sirosis hati kronis, AHD masih terus berpikir dan bergerak. Tak heran, ketika kabar wafatnya AHD beredar 6 Juli 2013, ucapan duka cita ramai melintas di media sosial dari berbagai kalangan.

AHD, Bang Amir, kau layak dikenang. Sampai hari ini pun aku yakin kenangan itu bersemayam di hati dan memori ribuan sahabatmu. Jadi, tersenyumlah kau di sisi Allah.

Sunday, July 01, 2018

Indonesia’s Anti-LGBT Tirade’s Disastrous Impact on Health


Philippa H Stewart
Senior Media Officer
Human Rights Watch

Human Rights Watch report
The men were nearly identically dressed. Matching fresh crewcuts almost hidden under baseball caps pulled down to shade their eyes, pollution masks covering their faces, and matching dark t-shirts.

You would be forgiven for thinking they were on their way to do something illegal, especially if you spoke with them and realized how on edge they were, nervously looking around and stopping their conversation whenever a security guard on his usual patrols came near.

But these men, who work to prevent HIV in vulnerable populations in Jakarta, Indonesia’s capital, were simply meeting the Human Rights Watch researcher Andreas Harsono and cameraman Goen Guy Gunawan for a pre-arranged interview about a new report, “Scared in Public and Now No Privacy,” which looks at the rising anti-LGBT hysteria in Indonesia, and what that means for public health. HIV rates among men who have sex with men in Indonesia have increased five-fold since 2007, from 5 percent to 25 percent. And while the majority of new HIV infections in Indonesia occur through heterosexual transmission, one-third of new infections occur in men who have sex with men.


For over two years now, politicians and government officials in Indonesia have been whipping up the public into an anti-LGBT fury. What started in 2016 as hateful rhetoric has now become violent actions, with raids by police and militant Islamists on places they suspect LGBT people are socializing. This has included raids on everything from gay clubs, to the private homes of suspected lesbians, to waria (transgender women) community events.

The atmosphere of fear and moves to break up safe gathering spaces is having devastating health consequences. HIV outreach workers are struggling to locate the people who need their help – which comes in the form of condom distribution, blood testing, education, and psychological counselling.

The masked men – who asked not to be named to protect their identities – had arranged to meet Harsono outside the now-shuttered T1 nightclub. The men used to work inside and outside the club – giving out condoms and educational pamphlets, and providing some counselling. There was even a mobile clinic where at-risk people could go for blood tests and counselling services.

“It turned out they’d been looking at us from a distance to check us out,” Harsono said. “They had been walking around the area to make sure it was safe.”

When the men eventually approached, they stood out because of their appearance in the business neighborhood where T1 used to be. Harsono took them into a restaurant to shield them. But it was Ramadan, so the two HIV outreach workers did not order food, and the atmosphere remained stressful.

“I was so shocked by their concealed appearance, but of course they were doing it because they were nervous,” Harsono said, adding that it seemed the men were traumatized because hundreds of LGBT people had been arrested in recent raids on nightclubs and in private homes.

“People have been sentenced to 18 to 30 months in prison after being arrested in these raids.”

In 2017, police apprehended at least 300 people perceived to be LGBT – the highest number of such arrests ever recorded in Indonesia. In some cases, if they were carrying condoms, that was used as evidence of homosexuality. That leads people to decide against carrying condoms, which only adds to the HIV epidemic.

When the clubs were open, the outreach workers were easily able to make contact with men at-risk of HIV, but now with the safe spaces shuttered and networks scattered, there are risks of an even bigger spike in HIV rates.

Indonesian authorities are fueling an HIV epidemic through complicity in discrimination against lesbian, gay, bisexual, and transgender (LGBT) people. The government’s failure to halt arbitrary and unlawful raids by police and militant Islamists on private LGBT gatherings has effectively derailed public health outreach efforts to vulnerable populations. ©Beawiharta/Reuters 2017

The fear the crackdown is causing is palpable. “A security man came by when we were discussing the film shoot, just on his normal rounds, and they were so scared,” Harsono said. “They were terrified he would come over and see them. It says so much about the feeling in Jakarta now.”

The anti-LGBT rhetoric has had a deep impact on society in Indonesia. In a 2016 opinion poll, 26 percent of those interviewed said they didn’t like LGBT people. It was the largest percentage for any group. By 2017, that number was even higher.

“In February 2016 the minister of defense even said the LGBT movement was more dangerous than nuclear war.”

But despite the shrinking space and the very real risk to their safety and freedom, some outreach workers like the two men Harsono spoke to are still trying to make a difference to communities at-risk of HIV.

“They are turning to social networks and the internet,” Harsono said, “I’m really amazed to see how these workers are adapting. They know that they can be arrested, stopped by the police, stopped by security every time they are seen to be chatting with transgender women, but they are courageous and persistent.”