Monday, December 02, 1991

Catatan Perjalanan dari Jerman: Pemuda Botak Mencari Mangsa

Andreas Harsono
Bernas, 2 Desember 1991


Pengantar: Beberapa waktu yang lalu Andreas Harsono, diundang oleh South East Asia Information Center dengan sponsor Bread for The World, mengunjungi negeri Jerman. Selama satu bulan lebih, pemuda Salatiga itu “jalan-jalan” ke seluruh Jerman. Berikut sebagian dari catatan perjalanannya yang dikirimkan kepada Bernas.


BERLIN kota yang sangat mengesankan. Ketika kereta api yang saya naiki dari Amsterdam berhenti di stasiun Berlin Zoologischen Garten, dalam pikiran saya terbersit ketakutan akan kriminalitas yang dilakukan oleh kaum Neo Nazi. Maklum saja karena hari-hari sebelumnya Jerman diguncang dengan aksi kekerasan kelompok “pemuda botak” semacam Skin Head atau Red Skin.

Sewaktu berada di Hamburg, saya mendengar ada seorang Afrika yang didorong dari pinggiran gedung tingkat empat. Jatuh dan luka cukup parah. Juga ada rumah orang Polandia yang dirampok dan dibakar. Pada kesempatan lain ada dua anak keturunan Turki dibakar pemuda-pemuda Jerman yang anti Ausländer (orang asing). Berlin adalah salah satu kota dimana kekerasan orang kulit berwarna paling sering terjadi. Waktu saya tiba di Berlin, sudah ada tiga mahasiswa Indonesia korban pemukulan.

Suasana yang saya bayangkan tidak tampak di stasiun Berlin. Biarpun kedatangan saya menjelang tengah malam, saat mana banyak orang asing dipukul, tapi stasiun itu tetap ramai. Banyak juga orang Turki, yang datang untuk menjemput saudaranya. Suasananya hangat. 

Seorang pemuda Jerman, yang bahasa Inggrisnya morat-marit, dengan ramah membantu dan mempersilahkan saya memakai telepon umum. Ini mengingatkan saya kepada pembicaraan dengan Hiltrud Cordes dari South East Asia Information Center, yang mengatakan bahwa orang Jerman yang anti-orang asing presentasi kecil sekali.

Tetapi mereka sangat mobile melakukan kriminalitas dan diberitakan berbagai media massa --termasuk laporan utama majalah Der Spiegel-- sehingga kesannya banyak. Ini tak berarti laporan media keliru namun kesannya sering tak proporsional, tentu berlebihan.


Di Berlin, kota yang akan menjadi ibukota Jerman beberapa tahun mendatang ini, saya terpesona oleh Strasse des 17 Juni. Inilah jalan terpanjang yang lewat di tengah Berlin, yang membuat Berlin dijuluki sebagai kota terpanjang di seluruh Eropa. Saya bayangkan bagaimana rezim Adolf Hitler ditaklukkan oleh Uni Soviet ketika tank-tank Soviet masuk ke Berlin pada Maret 1945, babak terakhir dari Perang Dunia II di daratan Eropa. 

Di kanan kirinya bertebaran gedung-gedung tua, yang cantik dan terpelihara rapi. Interior di dalam biasanya mewah. Jalan ini juga terdapat taman-taman penuh pepohonan tertata indah. Di jalan ini pulalah terdapat Gerbang Brandenburg antara Berlin Barat dan Berlin Timur. 

Gerbang ini menjadi salah satu saksi sejarah ledakan pertama keinginan kedua rakyat Jerman, sebelum reunifikasi 1989, untuk bergabung jadi satu negara.

 Pada 9-10 November 1989, di Salatiga, saya melihat di layar televisi bagaimana gerbang ini penuh dengan manusia yang ramai-ramai menghancurkan Tembok Berlin. Gerbang ini panjang sekali. Saya terpesona dengan patung seorang ksatria sedang mengendarai chariot yang terletak diatas gerbang Brandenburg. Dengan warna kehijauan, kesan yang tampak adalah kuat. Dengan angkuhnya ksatria itu memandang jauh ke depan. 

Sekarang di sekitar Brandenburg sudah tak ada tembok Berlin maupun para demonstran. Yang sekarang banyak berkeliaran di Brandenburg adalah turis dan pedagang kaki lima, kebanyakan orang Turki dan orang dari Eropa Timur, menjual pecahan-pecahan Tembok Berlin. Secuil tembok legendaris ini dijual DM 25 (sekitar Rp 27500).

Saya tertarik untuk membeli satu atau dua biji pecahan tembok sebagai “oleh-oleh” buat ayah saya. Saya curiga pecahan -pecahan itu bukan pecahan asli. Lelehan catnya juga sampai ke sisi samping dari pecahan. Ia kelihatannya tembok biasa yang dicat sana-sini lantas di hancurkan. Karena cat masih basah ada yang meleleh ke sisi samping. Kalau itu asli tembok, tentunya tidak ada cat yang meleleh kesamping. Singkat kata, banyak souvenir palsu.

Sewaktu berada di Kaiserslautern, beberapa hari lalu, seorang dosen Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, yang melanjutkan studi di bidang matematika, menasehati saya untuk mencuil tembok yang penuh coret-coret tersebut di Berlin. 

“Jangan beli di kaki lima,” ujarnya.

Bagaimana mungkin? Sekarang Tembok Berlin sudah habis. Memang ada yang dibiarkan berdiri tegak tetapi itu dijadikan monumen sejarah bahwa kota Berlin pernah dipisah barat dan timur. Para turis tentu tidak bisa seenaknya merusak monumen itu.

Bayangkan kalau ada turis yang akan mencuil-cuil Candi Borobudur dengan pahat? 

Saya menikmati saja keindahan dan sejarah Brandenburg tanpa membawa secuil tembok.


Di Berlin saya sempat melewati taman dengan patung Karl Max dan Frederick Engels. Taman ini terletak di Berlin bagian timur. Taman besar di pusat kota. Yang menarik, tampaknya ada tangan-tangan jahil, sengaja mencoret-coret patung kedua tokoh penandatangan Manifesto Komunisme tersebut. Ini agak luar biasa dalam masyarakat yang menghargai public property.

Dalam seluruh perjalanan saya ke beberapa kota Jerman, selama dua bulan, belum pernah saya melihat ada monumen yang bercoret-coret. 

Di mulut patu Karl Max diberi lelehan cat berwarna merah, yang mengesankan Marx baru saja “minum darah segar.” Di baju Engels juga ada lelehan cat merah. Di dahi Engels ditempelkan selembar kertas putih. Apakah ini lambang Engels yang sedang “sakit” atau “gila”?

Memang semenjak reunifikasi banyak monumen yang dibangun oleh Eric Honecker, mantan pemimpin Socialist Unity Party dari Jerman Timur, hendak dirobohkan ataupun dilecehkan. Gedung-gedung besar yang dibangun Honecker untuk markas besar partai atau gedung pemerintah, dengan alasan bahan-bahannya banyak mengadung abses, bahaya buat kesehatan manusia, hendak dirobohkan. 

Ada juga patung Vladimir Lenin dari Uni Soviet hendak dirobohkan. Ini semua memancing pertikaian antara pro dan kontra. Yang pro biasanya memakai alasan-alasan teknis. Misalnya banyak mengandung asbes, yang dilarang pemakaiannya di Jerman Barat, atau dengan beralasan sudah tidak relevan lagi mempertahankan monumen tokoh komunis macam Lenin.

Sedangkan yang kontra bisa bermacam-macam pula alasannya. Saya menangkap, ada semacam kekecewaan pada orang-orang Jerman Timur kepada pemerintahan yang baru. Mereka merasa dilecehkan. Posisi-posisi penting pada pemerintahan hasil reunifikasi diduduki orang Jerman Barat. Salah satu nama yang sempat disebut mereka adalah Hans Modrow. Tokoh ini adalah pemimpin di kawasan eks Jerman Timur yang berperan penting dalam proses reunifikasi.

Sekarang Modrow duduk pada kursi legislatif tetapi tak berada pada kursi yang vital. Ini mengecewakan orang-orang yang bersimpati kepadanya. 

Peristiwa pencoretan patung Karl Max dan Frederick Engels merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkan pro dan kontra di Laender-Laender baru. Negara Jerman sekarang terbagi dalam 16 Laender dan lima diantaranya merupakan bekas wilayah pemerintahan Honecker di Jerman Timur.

Orang-orang yang pro meluapkan kesalahannya terhadap sistem pemerintahan ini dengan merusak apa saja yang ada hubungannya dengan sosialisme. Tetapi ada juga orang-orang eks Jerman Timur yang bersikap kritis dengan melihat kelemahan-kelemahan sistem pemerintahan Jerman Barat lewat argumentasi yang kritis. 

Kelompok kedua inilah, yang dulunya berdiri di depan Erick Honecker, sekarang ramai-ramai memimpin aksi-aksi anti pengrusakan. 

Waktu di Berlin saya melihat ada suatu demonstrasi anti penggusuran patung Lenin. Di bawah patung Karl Max dan Frederick Engels, ada nada sedih, ternyata ada orang yang dengan menulis, “Wir sind schuldig." Artinya, "Kami memang bersalah." 

Namun ada orang menambahkan dua karakter depan kata "schuldig" menjadi, "Wir sind unschuldig." 

"Kami tak bersalah." 

Makna dari aksi coret-coret, yang saling bersahutan ini, adalah cermin dari debat yang menyalahkan Karl Max atas kegagalan sistem ekonomi negara-negara sosialis, tapi di sisi lain ada pula yang membela sosialisme dengan berpendapat, “Kami tak bersalah.” 

Lantas siapa yang salah?

Beberapa cendekiawan mengemukakan bahwa embargo ekonomi secara sistematis dan terus-menerus dari blok Barat --Amerika Serikat maupun sekutu-sekutu mereka di Eropa-- harus dipandang sebagai faktor yang menyebabkan keruntuhan negara-negara sosialis di Eropa Timur maupun Uni Soviet. Amerika Serikat adalah negara yang kuat, paling kuat di seluruh dunia, dengan kekuatan ekonomi dan militer tak tertandingi. Boikot ekonomi dari Amerika bikin tekanan hebat pada negara-negara ini termasuk Jerman Timur. 

Memang tak bisa dipungkiri bahwa negara-negara Tirai Besi punya pemerintahan yang represif dan banyak korupsi. Persoalan tidak sesederhana boikot. Pemerintahan yang represif, cepat atau lambat, bikin rakyat tak senang. Siapa yang salah dan bagaimana memerlukan debat beberapa dekade untuk mencari tahu duduk perkara dengan terang. 


Terlepas dari persoalan ideologi, sekarang kegembiraan reunifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur sudah hilang. Pada awal reunifikasi mereka memang gembira karena bisa bebas bepergian dan mengunjungi saudara-saudaranya. Beberapa bulan kemudian suasana pesta harus segera berakhir. Dan yang tersisa adalah pekerjaan untuk menyepadankan (to match) kedua sistem ekonomi-sosial dari dua negara, yang berbeda selama 40 tahun.

Orang-orang Berlin Barat mulai jengkel dengan mobil Trabi di jalan-jalannya. Mobil kecil buatan eks Jerman Timur ini badannya terbuat dari karton dan plastik. Di satu sisi sangat hemat energi (1 liter bensin bisa untuk belasan kilometer) tetapi di sisi lain polusinya berat. Orang-orang Berlin Barat juga kesal dengan meningkatnya pencurian mobil dan rumah. 

Sedangkan di wilayah eks Jerman Timur, penduduknya terkejut dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Dulu pemerintah selalu mencarikan pekerjaan buat semua warga. Sekarang tidak lagi. Ongkos hidup meningkat cepat. Harga barang-barang naik tetapi gaji tidak naik. Di eks Jerman Barat, biaya hidup memang lebih tinggi dari pada di Jerman Timur. Dulu pada zaman komunisme tak ada iklan komersial. Sekarang iklan bertebaran seluruh Jerman. 

Seorang mahasiswa Berlin mengatakan, “Dulu di pintu masuk perbatasan dapat dilihat panser dari Uni Soviet siap siaga. Tetapi sekarang sudah berganti dengan iklan rokok West dan Marlboro. Bahkan dapat dikatakan sekarang di eks Berlin Timur, lebih banyak dibandingkan dengan Barat." 

Persoalan-persoalan sosial seperti inilah yang kemudian mendorong suburnya semangat anti-orang asing. Pemuda-pemuda Neo Nazi banyak bermunculan dari eks Jerman Timur. Mereka mencari kelompok yang lemah seagai kambing hitam. Dan orang asing yang bekerja di Jerman adalah sasaran yang paling empuk.

Mereka menuduh orang asing merebut pekerjaan-pekerjaan mereka, makanan, pakaian dan lain-lain. Ketertutupan selama 40 tahun, dimana orang-orang Jerman Timur, tidak mendapat banyak kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di luar, membuat mereka sering salah mengerti dengan kebudayaan dan pemikiran yang berbeda.

Maka teriakan-teriakan, "Ausländer raus!" (Orang asing keluar) selalu tercetus dalam setiap demonstrasi-demonstrasi mereka di Dresden, Halle, Leipzig dan sebagainya. 

Semangat untuk menunjukkan nasionalisme sendiri, yang sempit yang anti pada yang liyan, perlahan juga muncul dengan melecehkan bangsa lain, termasuk orang Turki, yang kebanyakan Muslim, maupun Polandia dan Rusia, yang Kristen namun beda dengan Protestanisme di Jerman.

Ini mendapatkan reaksi yang tidak kalah besarnya dari orang-orang Jerman lain. Demonstrasi-demonstrasi anti rasialisme dan anti kekerasan muncul dimana-mana. Di Bochum, tempat di mana saya kebanyakan tinggal, saya pernah ikut berdemonstrasi anti rasialisme.

Dalam demonstrasi tersebut teriakan-teriakan “Internationale solidarity” menggema dimana-mana. Pernah saya ikut demonstrasi yang diikuti sekitar 5.000 orang. Saya diminta untuk ikut memegang suatu spanduk tentang perlunya menghargai orang lain. Penduduk Bochum sekitar 200.000. Ada yang karton dengan tulisan, "Foreigners, don’t leave me alone" maupun, "Everybody is a foreigner." Memang di dunia ini semua orang adalah pendatang. 

Persoalan penyelesaian kedua Jerman seharusnya tidak perlu terjadi dengan mencari kambing hitam untuk disalahkan, diburu dan dipukuli. Dan mengetahui ini semua, diam-diam saya menjadi sedikit mengerti dengan perjuangan dan keindahan Berlin, menyimpan segala dendam dan amarah. 


Catatan Perjalanan dari Jerman

Suara Merdeka, 22 November 1991

Suara Merdeka, 22 November 1991

Bernas, 1 Desember 1991

Bernas, 2 Desember 1991

Sunday, December 01, 1991

Catatan Perjalanan dari Jerman: Kebebasan pers dan Amerika Serikat

Andreas Harsono
Bernas, 1 Desember 1991

SELAMA HAMPIR DUA BULAN di Jerman saya benar-benar dibanjiri informasi dari siaran televisi yang menyiarkan konferensi Madrid dari detik ke detik atau peristiwa pernikahan Liz Taylor. Pertandingan sepak bola, konser musik dan sebagainya. Saya juga dibikin gembira dengan penerbitan pers yang membanjiri setiap toko di stasiun maupun kios-kios di ujung jalan. 

“Di sini informasi cepat sekali,” ujar seorang rekan. 

Saya bahkan bisa mengetahui berita tentang Indonesia --misalnya peristiwa penembakan di Dili-- lebih cepat, lebih akurat dan lebih lengkap dibanding kalau saya di Indonesia. Lewat hubungan telepon internasional, yang mahal sekali, saya senantiasa bisa mengetahui isu apa yang sedang hangat di kalangan teman-teman di Salatiga.

Pada tahun 1987 di Jerman, sebelum reunifikasi, setiap hari beredar sekitar 20.7 juta eksemplar penerbitan pers. 

Untuk penduduk Jerman, yang jumlahnya sekitar 65 juta jiwa, perbandingan tentu besar sekali. Saya pikir angka-angka ini sudah menunjukkan betapa besarnya minat baca orang Jerman. Sekaligus juga memperhatikan bahwa negara terluas di Eropa Barat ini sudah lama sekali memasuki kebudayaan tulis. 

Harian terbesar di Jerman adalah Bild Zeitung. Setiap hari rata-rata 5 juta eksemplar terjual habis lewat kios-kios di pinggir jalan. Koran ini ukuran tabloid sebanyak 12 halaman. Harganya DM 0.6 (Rp 660). Ia tipis sekali dan formatnya adalah tabloid. 

Di halaman tengah selalu ada gambar gadis, telanjang, juga memperlihatkan payudaranya. Koran ini termasuk salah satu koran yang ikut mengobarkan semangat kaum kanan dan anti orang asing. Isu ini belakangan ini  ramai di Jerman.

Dalam bulan September, Bild Zeitung pernah melaporkan, “Orang asing sekarang bisa membeli apa saja. Mereka bisa membeli jaket kulit yang bagus sementara saya tidak bisa." Itu omongan salah satu pemuda Jerman yang diwawancarai. Tabloid terbitan Hamburg ini bikin saya khawatir. Bakal banyak opini orang akan terpengaruh.

Tetapi ternyata persoalan kebebasan mengemukakan pendapat ini tidak sederhana yang saya bayangkan. Karena pada saat yang bersamaan di Jerman juga ada koran-koran dengan pemberitaan yang bisa mengimbangi Bild Zeitung. Dari Essen terbit Westdeutsche Allgemeine Zeitung dengan oplah 667.000 eksemplar per hari. Ini adalah koran kedua terbesar di Jerman.

Beda dengan Indonesia dimana koran nasional didominasi oleh suratkabar dari ibukota Jakarta, di Jerman koran daerah pun tetap bisa berkembang sampai keluar batas-batas daerahnya. Koran terbesar Bild Zeitung ternyata tidak terbit dari Bonn tapi dari Hamburg. Dan majalah yang sangat diperhitungkan, di Jerman maupun secara global, tentu saja, majalah Der Spiegel yang terbit tiap Senin dengan olah per hari 667.000 eksemplar. 

Sewaktu baru tiba di Jerman saya dikejutkan oleh kritik Der Spiegel terhadap Greenpeace, organisasi lingkungan hidup terbesar dalam sejarah dunia. Kritik ini ternyata menjalar kemana-mana. Masuk ke pusat-pusat pemberitaan media Barat, melewati batas-batas negara dan ketika pulang ke Indonesia, saya juga membacanya, di salah satu koran di Indonesia walau terlambat sekitar satu bulan setengah dari Der Spiegel.

Di Jerman, majalah ini dianggap oleh kalangan cendekiawan Jerman sebagai tiruannya majalah Time dari New York, Amerika Serikat. 

Amerika memang dihormati di Jerman. Usaha untuk meniru “American style of life” juga tidak malu-malu dilakukan di Jerman. Mungkin ini terjadi karena di Jerman sulit sekali untuk mendapatkan buku dalam bahasa Inggris. Siaran televisi semua dalam bahasa Jerman, film-film Amerika di-dubbing

Amerika adalah negara yang setengah abad lalu menaklukan Jerman dan sekarang menjadi salah satu sekutu Jerman yang terpenting dalam North Atlantic Treaty Organization. 

Tentara-tentara Amerika banyak yang berkeliaran di Jerman. Tentara-tentara Amerika ini tinggal di barak-barak mereka yang punya fasilitas lengkap, ibarat, komunitas yang eksklusif. 

Mereka mempunyai perumahan, sekolah, rumah sakit dan berbagai fasilitas sendiri. Saking banyaknya tentara Amerika di Kaiserslautern, salah satu kota yang saya kunjungi, ongkos bis bisa dibayar dengan dolar Amerika. 


PERTANYAAN yang sekarang penting untuk dijawab: Dengan demikian banyak penerbitan pers di Jerman apakah keseimbangan dan kebebasan berpendapat itu benar-benar terlaksana sepenuhnya? Dengan kemampuan menangkap siaran stasiun televisi yang mencapai 20an bahkan terkadang 30an channel, termasuk siaran dari Amerika Serikat, apakah keseimbangan dan kebebasan berpendapat terlaksana sepenuhnya?

Saya khawatir manipulasi berita atau setidaknya monopoli sumber pemberitaan, secara mendasar, sebenarnya masih bisa terjadi di negara maju seperti Jerman. 

Di balik angka-angka yang menggiurkan tentang jumlah penerbitan di Jerman, sebenarnya pers hanya dikuasai oleh sedikit orang. 

“Sekarang di berbagai daerah orang-orang tidak dapat lagi memilih antara dua atau lebih harian dengan laporan lokal yang berbeda dan sikap politik yang berbeda,” ujar seorang dosen suatu universitas daerah Ruhrgebiet. 

Ini bisa terjadi karena adanya merger pun integrasi berbagai perusahaan pers. 

Konglomerat pers semacam Axel Springer AG, yang menerbitkan Bild Zeitung, juga menguasai mayoritas saham dari koran-koran lain yang lebih kecil. Koran di Jerman praktis didominasi oleh Axel Springer AG termasuk dua kelompok lain, Welt on Sonntag dan Bild am Sonntag

Kemajuan teknologi dan kekuatan ekonomi membuat penerbitan-penerbitan kecil gulung tikar dan diambil perusahaan besar. Konsekuensi dari merger ini, tentu saja, sikap politik, dan pola pemberitaan menjadi seragam. Dan media cetak sampai media elektronik semuanya dikuasai oleh raksasa-raksasa bisnis informasi Jerman.

Ketika di Berlin saya juga menyaksikan suatu pemandangan yang unik tentang peranan perusahaan-perusahaan besar di bidang informasi ini. 

Di daerah perbatasan antara Berlin Barat dan Berlin Timur, Axel Springer AG mempunyai sebuah gedung yang tinggi sekali. Karena berdekatan dengan wilayah Berlin Timur, di puncak pencakar langit itu di pasanglah suatu billboard raksasa. Setiap hari di billboard tersebut dipasang kalimat-kalimat yang isinya dimaksudkan agar dibaca oleh penduduk Berlin Timur. Ini jelas keperluan propaganda karena itu, setiap kali di wilayah eks Jerman Timur terjadi intimidasi atau kejadian apapun yang mampu dibuat untuk mendiskreditkan pemerintah Eric Honecker, billboard itu pun dimuati kalimat-kalimat “berita.”

Pemerintah Jerman Timur tampaknya juga menanggapi psywar tersebut dengan membangun gedung-gedung yang lebih tinggi, berhadapan dengan gedung Alex Springer AG. Selain kebutuhan akan rumah meningkat, akhirnya gedung -gedung itu juga dimanfaatkan untuk menutupi billboard 

Saat saya datang ke Berlin, tentu saja, perang propaganda itu sudah berakhir. Tembok Berlin yang membatasi kedua gedung-gedung yang dibuat “bermusuhan” itu juga sudah tidak ada. Yang ada hanyalah tanah lapang, bekas daerah tak bertuan, yang sekarang sedang dibersihkan untuk dimanfaatkan pemerintah kota Berlin. Tetapi perang propaganda tersebut setidaknya membuktikan betapa perang informasi juga bisa terjadi secara telanjang dan kasar. 


Catatan Perjalanan dari Jerman 

Suara Merdeka, 22 November 1991

Suara Merdeka, 22 November 1991

Bernas, 1 Desember 1991

Bernas, 2 Desember 1991





Friday, November 22, 1991

Catatan Perjalanan dari Jerman: Bhineka Tunggal Ika ala Jerman

Andreas Harsono
Suara Merdeka, 22 November 1991

SALAH satu kenyataan
yang menarik perhatian saya di Jerman adalah fenomena kota terbesar di Jerman, ternyata bukan ibukotanya. Bonn ternyata tidak termasuk lima kota terbesar di seluruh Jerman. Kota-kota semacam Berlin, Hamburg, München, Frankfurt, dan Koln jauh lebih besar dari ibu kota Bonn. Baik dalam jumlah penduduk, luas wilayah, jumlah perputaran uang, tenaga terdidik dan lainnya. 

Kota-kota itu jauh lebih unggul. Biarpun sekarang sudah ada persiapan memindahkan ibukota ke Berlin, sesudah reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur, tetapi perpindahan tersebut bukan karena alasan dimensi kota melainkan alasan historis.

Ini menarik karena jauh berbeda dengan di Indonesia. 

Di Indonesia yang namanya Jakarta, jauh menjulang ke atas, sementara kota-kota yang lain tertinggal di bawah. Uang semua terpusat di Jakarta. Sarjana-sarjana pada lari ke Jakarta. Kantor-kantor pusat pemerintahan maupun perusahaan ada di Jakarta. 

Barang-barang lengkap ada di Jakarta. Dampaknya, selain daerah menjadi tidak menarik, tidak sedikit kekecewaan yang menjelma menjadi pemberontakan kepada Jakarta.

Di Jerman sebuah event yang bersifat international ternyata bisa diadakan di daerah yang bukan merupakan pusat pemerintahan. Pameran produksi, pameran kebudayaan, acara kesenian, konferensi, pertandingan olahraga dan lainnya tidak harus diadakan di pusat pemerintahan. 

Fasilitas-fasilitas juga tidak harus terletak di pusat. Sebuah contoh: lapangan udara terbesar di seluruh Eropa terletak di kota Frankfurt di Laender (negara bagian) Hessen. Ibukotanya adalah Wiesbaden. Lapangan udara itu terletak bukan di pusat pemerintahan daerah. Kalau dibandingkan dengan Jawa Tengah misalnya, lapangan udara terbesar justru terletak di Pekalongan. Bukan di Semarang. 

Dan masih banyak contoh lain untuk menunjukkan bagaimana ratanya pusat-pusat kekuasaan politik, ekonomi, kebudayaan, maupun teknologi di Jerman. Perbedaan inilah yang membuat saya ingin tahu mengapa pertumbuhan daerah-daerah di Jerman bisa begitu merata? 

Sedangkan di Indonesia tidak.

Desentralisasi

Selama hampir dua bulan “keluyuran” di Jerman, dan mengetahui beberapa fakta tentang Jerman, saya pikir ini semua bisa terjadi antara lain karena sistem pemerintahan yang terdesentralisasikan. 

Di Jerman ada semboyan semacam “Bhineka Tunggal Ika” --Einheit in der Vielfalt. Biarpun berbeda-beda dan terpisah-pisah tetapi tetap tunggal juga. Dari utara sampai selatan, dari barat sampai timur, biarpun bersatu, tetapi Jerman adalah negara-negara yang saling terpisah.  

Dalam negara makmur tersebut keragaman nya tidak kalah banyak dengan keragaman yang ada di Indonesia. Bedanya, di Indonesia keragaman terletak pada jumlah etnis, agama, dan bahasa (daerah). Di Jerman keragaman terletak pada sejarah dan struktur politik masing-masing daerah. 

Keragaman itu tidak diwujudkan dalam bentuk negara kesatuan. Tetapi justru diwujudkan dalam sebuah bentuk negara yang menghormati keragaman. Masing-masing daerah diberi kewenangan yang tinggi untuk mengatur nasibnya sendiri.

Sejak zaman raja-raja, sama dengan sejarah Indonesia, Jerman memang sudah terbagi dalam kerajaan-kerajaan kecil yang independen satu dengan yang lainnya. Kecuali dalam masa kediktatoran Nasionalis Sosialis 1933-1945, yang sentralistis dibawah kepemimpinan Adolf Hitler. Sistem yang desentralistis ini pula yang saya lihat pada Jerman hari ini.

Pada Jerman modern, struktur politiknya adalah struktur yang menomorsatukan desentralisasi.

Meminjam ungkapan seorang cendekiawan Jerman, Dr Konrad Reuter, “The architects of the Basic Law wanted to avoid setting up huge central authorities that would take decisions affecting people in far-away places.” Undang-undang dasar ini sengaja untuk mencegah orang-orang di Bonn menentukan semua aspek kehidupan daerah-daerah. 

Kemerdekaan ‘Laender’

Berdasarkan undang-undang dasar itulah, Jerman memiliki 16 “negara” (setelah reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur tahun 1989). Dalam bahasa resmi, keenam belas “negara” itu bisa dinamakan sebagai Laender. Mereka keberatan kalau disebut sebagai negara bagian dan juga keberatan kalau disebut provinsi. 

Sebuah Laender terbagi dalam beberapa kreis. Sedangkan yang menjadi wadah atau payung dari 16 Laender itu adalah bund (negara federal), kepala negara bund adalah seorang Presiden. Sedangkan kepala pemerintahan adalah Kanselir. Setiap Laender dipimpin oleh seorang presiden lengkap dengan kabinetnya masing-masing.

Dalam praktiknya, pemerintahan bund bertugas menangani misalnya urusan luar negeri, pertahanan, mata uang, besaran (berat, panjang dan sebagainya) atau masalah tapal batas. Sedangkan wewenang Laender misalnya pada persoalan pendidikan tinggi, media massa, film, konservasi alam, tata ruang, perencanaan daerah, registrasi, pembuatan KTP (ID card), paspor dan sebagainya. 

Tentu saja, ada beberapa persoalan yang bisa tumpang tindih, tetapi itu pun diatur secara rinci. Misalnya dalam soal keuangan, proyek-proyek yang harus dibiayai bersama tentunya akan dibiayai bersama-sama. Dan itu semua diatur oleh undang-undang. 

Tetapi biarpun demikian tidak berarti antara Laender-Laender dan bund selalu akur. Ketika saya berada di Laender Niedersachsen, salah satu Laender di Jerman bagian utara, saya menemukan adanya sengketa panas antara pemerintah pusat dengan pemerintah Laender. 

Persoalannya adalah nuklir. Pemerintah Niedersachsen berkeberatan dengan keberadaan empat pembangkit listrik nuklik maupun sebuah tempat pembuangan limbah nuklir di wilayahnya. Alasan mereka, terutama dari orang-orang Umwelt ministerium (kementerian lingkungan hidup), proyek-proyek itu terlalu bahaya bagi masyarakat sekitar. 

Sementara para pejabat dari pusat berpendapat sebaliknya. Pejabat pusat mengatakan, bahwa teknologi yang dipakai di sana merupakan jaminan tidak akan terjadinya bahaya apa-apa.

Dalam pertentangan itu, untuk memenangkan argumentasi, mereka harus mengacu pada undang-undang yang berlaku. Yang hanya tertulis kurang lebih, “Proyek-proyek hanya bisa berjalan apabila tidak membahayakan masyarakat.” Karena itulah, kedua pihak sibuk mencari bukti-bukti ilmiah, bahwa proyek itu berbahaya atau tidak berbahaya.

Berbagai pertemuan diadakan untuk membahas persoalan ini. Pers juga rajin sekali untuk menyiarkan isu tersebut. Konflik ini juga melibatkan penduduk Niedersachsen.

Di kantor lingkungan hidup, yang dipimpin oleh Monika Griefahn, yang sempat saya temui --menterinya masih muda, pernah ikut Greenpeace, popular dan menarik simpati--  saya melihat ada ratusan ribu tanda tangan warga setempat, yang menolak proyek nuklir. Griefahn mengusulkan tenaga matahari dan angin buat sumber energi. Dia juga mengusahakan waste management yang lebih baik agar air limbah dan sampah bisa daur ulang. 

Di sinilah saya melihat bagaimana pejabat-pejabat daerah dengan gigih mempertahankan kepentingan wilayahnya. Mereka tidak takut dituduh, tidak mementingkan kepentingan umum. 

Partai-partai politik sangat rajin untuk menggalang massa pemilihnya karena partai adalah bagian terpenting dari proses pengambilan keputusan. 

Di Jerman hanya ada empat partai besar, yang mampu mengirimkan wakil-wakilnya ke parlemen di Bonn: CDU (Christlich Demokratische Union Deutschlands), SPD (Sozialdemokratische Partei Deutschlands), FDP (Freie Demokratische Partei), dan Die Gruenen atau “Partai Hijau.” Die Gruenen menjadikan entry point partai adalah lingkungan hidup atau alam hijau. 

Dalam pemahaman saya, partai-partai itu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menampilkan wajah yang demokratis dan akrab dengan persoalan masyarakat. SPD misalnya, secara tradisional adalah partainya para buruh. Ia didirikan tahun 20-an sampai hari ini SPD masih bisa dekat dengan massanya. Griefahn politikus SPD.

CDU adalah partai Kristen tengah --bukan fundamentalis. Ini partai moderat yang berusaha menampung pemikiran seluas mungkin. Ia didirikan di Berlin pada 1945 sesudah Sekutu mengalahkan rezim Hitler. 

FDP adalah partai yang lebih kecil dari CDU maupun SPD. Ia sering jadi penengah antara dua partai besar tersebut sekaligus menentukan siapa yang berkuasa sebagai kanselir karena kursi FDP bisa berubah ikut SPD atau CDU. 

Die Gruenen partai paling kecil namun ide soal lingkungan hidup --dari energi terbarukan sampai daur ulang-- membuat mereka diperhitungkan. Siapa sih yang tak mau peduli pada lingkungan yang tetap baik, kalau bisa lebih baik, buat anak dan cucunya? 


Catatan Perjalanan dari Jerman

Suara Merdeka, 22 November 1991

Suara Merdeka, 22 November 1991

Bernas, 1 Desember 1991

Bernas, 2 Desember 1991


Catatan Perjalanan dari Jerman: Berjumpa dengan Persoalan Energi

Andreas Harsono
Suara Merdeka, 22 November 1991

Pengantar Redaksi: Beberapa bulan yang lalu Andreas Harsono, diundang oleh Southeast Asia Information Center, sebuah pusat informasi tentang Asia Tenggara di Jerman, dengan disponsori oleh Bread for the World, untuk mengunjungi negeri tersebut, kurang lebih sebulan, pekerja sosial di Salatiga itu akan mengikuti program “Tukar Pikiran Indonesia-Jerman:  Ekologi dan Lingkungan Hidup” Berikut sebagian dari catatan perjalanannya.



Lampu-lampu bandar udara Bangkok, dari udara perlahan-lahan mulai kelihatan. Bentuk kotak-kotak persegi panjang, bersamaan dengan pendaratan pesawat Lufthansa yang saya naiki bersama lima rekan lain dari Indonesia. Kami dipersilahkan menunggu satu jam di bandar udara Bangkok sambil menunggu pergantian awak pesawat. 

Kesempatan ini saya pergunakan untuk melihat-lihat bandar udara Bangkok. Bahasa Inggris yang sudah saya pelajari bertahun-tahun mulai meluncur dari mulut saya untuk keperluan berkomunikasi. Saya jadi teringat bagaimana saya bisa sampai mengikuti program tukar pikiran Indonesia-Jerman ini.

Perjalanan ini mulanya datang dari Candra Kirana, seorang swadayawati di Surakarta, yang menanyakan kepada saya bahwa kalau-kalau saya bisa mengikuti sebuah program “jalan-jalan” ke Jerman. Kebetulan masih ada tempat satu kosong dari enam tempat yang disediakan.

Tujuannya, seperti yang disebutkan oleh Peter Franke, koordinator South East Asia Information Centre, “The study program intends to give a group of Indonesians an insight in ecological and environmental enterprises, living areas and ecological institutions as well as an information exchange with German farmers, organisers of ecological project etc.”

Tawaran ini mengejutkan. Seumur-umur belum pernah saya pergi ke luar negeri. Dan untuk pergi ke tempat sejauh Jerman merupakan mimpi. Memang ada beberapa tawaran terdahulu namun tak terlaksana. Jadi dari pada kecewa, dengan hati-hati, saya katakan pada rekan tersebut, saya bersedia ikut apabila saya memang memenuhi persyaratan yang disebutkan. 

Lantas kami terlibat pembicaraan soal penyelesaian kasus waduk Kedung Ombo di Boyolali. Sampai hari ini persoalan ganti rugi tanah di wilayah genangan waduk Kedung Ombo belum tuntas. Masih ada sebagian warga, karena alasan-alasan yang masuk akal, tetap bertahan di wilayah genangan. 

Maksud saya, persoalan Kedung Ombo muncul karena adanya kebutuhan energi listrik dalam jumlah besar. Karena butuh listrik maka dibuatlah sebuah dam raksasa, berarti ada banyak tanah rakyat yang terpaksa digenangi air. Proses pembebasan tanahnya kacau, sehingga muncullah persoalan tanah, intimidasi, pelanggaran hak asasi manusia dan lain-lain. Dasarnya tetap sama: kebutuhan energi. 

Dalam kerangka seperti inilah Kelompok Solidaritas Kurban Pembangunan Kedung Ombo (KSKPKO), saya harapkan, bisa menjadi lebih mengakar dengan langsung mempersoalkan masalah energi di Indonesia. KSKPKO adalah jaringan mahasiswa yang protes soal penggusuran di Kedung Ombo. Kenapa harus membangun pusat pembangkit listrik yang tersentralisasi?

Saya bandingkan KSKPKO dengan OXFAM (Oxford Committee for Famine Relief). 

Keduanya sama-sama nongovernmental organization. OXFAM dibentuk di Inggris ketika negeri itu sedang dilanda kelaparan. Para aktivis OXFAM berpikir persoalan kelaparan itu sudah reda --bukan berarti hilang sama sekali-- namun kelaparan di Inggris terjadi karena tidak adanya kerja sama ekonomi yang baik di dunia ini. Persoalan kelaparan sangat terkait dengan persoalan lain, bukan hanya di Inggris, tetapi juga di luar Inggris. Mumpung sudah ada organisasi dan ada dana, perhatiannya kemudian dicurahkan pada negara-negara Dunia Ketiga, yang juga mengalami kepapaan. Jadi tujuan organisasi tersebut diperluas.

Demikian halnya dengan KSKPKO. Persoalan Kedung Ombo bisa saja dianggap reda. Tetapi jaringan ini masih ada. Kenapa tidak memanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang lebih berjangka panjang? Mengatasi persoalan-persoalan energi misalnya? Ini perlu dan penting karena manusia tidak bisa hidup tanpa energi. 

Makan, minum, listrik, transportasi, teknologi dan sebagainya membutuhkan energi. Dan makin tahun persoalan energi di Indonesia akan menjadi makin ruwet. Ini sudah terbukti di Jerman. Dan ia akan tambah ruwet lagi mengingat terbatasnya cadangan minyak bumi di sudut bumi manapun  juga. 

Proses Sederhana

Sampai pada titik ini, Candra Kirana bilang, "Kamu berangkat saja ke Jerman.” 

Saya dimasukkan dalam rombongan pergi ke Jerman. Sangat sederhana dan tanpa seleksi macam-macam. Ini sekadar menunjukkan, bahwa persoalan pergi keluar negeri, seperti yang banyak dipikirkan oleh banyak orang, ternyata tidak harus melalui “seleksi resmi” dan sejenisnya. Banyak kesempatan ke luar negeri yang didapatkan hanya karena sekadar adanya hubungan. 

Kebetulan saya menaruh minat pada persoalan energi (antaranya transportasi), termasuk memikirkan tentang teknologi alternatif, dan di Jerman persoalan itu juga sedang ngetrend, dan kebetulan pula kenal dengan rekan di Surakarta tersebut, sehingga berangkatlah saya ke Jerman. 

Entah karena berfikir macam-macam, di Bangkok saya tersesat di ruang tunggu pesawat Lufthansa yang lain. Untung ada waktu untuk mengejar pesawat saya. Terburu-buru saya pergi ke tempat yang benar. Itu pun masih harus berurusan dengan petugas imigrasi gara-gara di ransel saya ada sebuah pisau silet (cutter). Petugas bersangkutan menahannya. 

Saya sempat menyambar beberapa koran yang disediakan di lapangan udara Bangkok. Ternyata sambaran itu ada hubungannya dengan kepergian saya. Di halaman pertama The Nation tertera judul “Government plans central body with powers to tackle traffic woes.” Kemacetan lalu lintas di Bangkok, sudah sedemikian parahnya sehingga perlu dicarikan terobosan baru. 

Ini adalah salah satu pencerminan betapa repotnya mengatasi persoalan energi. Kemacetan lalu lintas di Bangkok, sama juga dengan yang terjadi di Jakarta, dikarenakan laju pertambahan kendaraan bermotor lebih besar dari pada pertumbuhan jumlah jalan. Mayoritas jalan di Bangkok dikuasai oleh minoritas penduduk Bangkok: pengendara mobil pribadi. 

Koran satunya, Bangkok Post, memuat gambaran para pengendara sepeda motor di Bangkok yang terpaksa harus memakai masker (filter) polusi udara dalam perjalanannya karena udara Bangkok terpolusi berat oleh asap knalpot kendaraan bermotor. Saya pikir persoalan-persoalan yang dikedepankan oleh kedua koran berbahasa Inggris itu sama dengan persoalan transportasi yang terjadi di Indonesia. 

Mudah-mudahan di Jerman saya tidak perlu menemui persoalan seperti ini. 

Harapannya, saya bisa belajar bagaimana negara itu mengatasi persoalan-persoalan transportasinya. Di Indonesia saya tahu dengan pasti, bahwa keberadaan sistem transportasi tak bermotor terancam kelestariannya --sepeda, trotoar, becak, dokar, perahu-- yang pada giliran berikutnya akan merusak prasarana transportasi yang baik secara keseluruhan, memanjakan motorisasi, merusak lingkungan hidup, dan membahayakan kesehatan mahluk hidup termasuk manusia. 

Saya sering menulis soal bahaya selalu mengatasi keperluan transportasi dengan bangun jalan tol atau bikin angkutan kota dengan mobil kecil serta meminggirkan trotoar buat orang berjalan kaki atau melarang dokar dan becak macam di Salatiga. 

Bandar Frankfurt

Lantas saya tenggelam dalam perjalanan Bangkok-Frankfurt yang sangat panjang. Saking panjangnya, para penumpang memiliki kesempatan dua kali makan besar (dinner dan supper) dan satu kali makan pagi. Badan capek sekali, sesampai di Frankfurt, bandar udara yang besar sekali, kami masih harus menunggu pesawat, yang akan membawa kami ke Dusseldorf, sekitar tiga jam. Lagi-lagi saya menyambar koran-koran yang disediakan di sana gratis di ruang tunggu.

Hari masih pagi benar tetapi berita utama koran-koran berbahasa Inggris di Jerman ternyata bukan persoalan lokal.  The Wall Street Journal Europe memberitakan headline buat perang saudara di Croatia dan keengganan Presiden Irak Saddam Hussein membuka negaranya bagi tim Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lebih seram lagi, editorial koran tersebut menyamakan Saddam Hussein dengan Freddy Krueger, tokoh pembunuh dalam serial film horror Nightmare on Elm Street. Seperti halnya Krueger senantiasa muncul kembali untuk melakukan terror terhadap warga kota, Saddam juga dianggap sewaktu-waktu akan bangkit untuk meneror dunia. Keterlaluan juga koran ini. 

Mungkin saja di suatu tempat di Irak ada kemungkinan Saddam Hussein menyembunyikan senjata nuklir, tapi saya juga merasa tak nyaman dengan sikap pemerintah Amerika Serikat yang terlalu agresif. Dan mengapa The Wall Street Journal Europe masih harus menambah-nambahi persoalan ini? 

Tetapi saya sadar orang Indonesia tidak terbiasa membaca perbandingan sekasar ini. Koran-koran Indonesia jauh lebih berhati-hati dalam memaki-maki politikus. Di dunia Barat memang ada banyak “keterbukaan.” 

Mungkin ini kejutan pertama yang saya alami karena bersentuhan dengan dunia Barat. 

Hari-hari berikutnya pasti ada kejutan-kejutan yang lain dari masyarakat, yang tidak pernah saya lihat secara langsung ini. 

Bertahun-tahun hidup di Pulau Jawa dengan segala nilai-nilainya, yang buruk maupun yang baik, sekarang saya akan mulai berhadapan dengan nilai-nilai yang berbeda. 

Seorang ibu Jerman di bangku sebelah dalam penerbangan Frankfurt-Dusseldorf, ketika mengetahui saya baru pertama kali terbang ke Jerman, langsung berseru, “Aach, willkommen in Deutschland.”



Catatan Perjalanan dari Jerman 

Suara Merdeka, 22 November 1991

Suara Merdeka, 22 November 1991

Bernas, 1 Desember 1991

Bernas, 2 Desember 1991