Saturday, April 27, 2024

Museum Hrant Dink di Istanbul buat Armenia

Seorang
wartawan mengajak saya mengunjungi Museum Hrant Dink dekat stasiun Osmanbey, Istanbul. 

Hrant Dink adalah warga Turki etnis Armenia, kelahiran 1954 di Malatya, Anatolia Timur, Turki. 

Sejak 1996, Dink memimpin redaksi surat kabar dwibahasa Agos. Ia diterbitkan dalam bahasa Turki dan Armenia. Kata "agos" dalam kedua bahasa berarti lubang yang digali dengan bajak buat menaruh bibit tanaman

Hrant Dink juga tokoh minoritas Armenia. Dia sering menulis berbagai upaya mencari kebenaran, terutama soal diskriminasi dan genosida terhadap etnis Armenia. Korbannya sekitar 1 juta orang pada 1915-1917. Dink juga promosi rekonsiliasi antara minoritas Armenia dan mayoritas Turki. 

Genosida Armenia adalah penghancuran identitas Armenia di Turki saat Perang Dunia I. Pelakunya, Committee of Union and Progress, sebuah partai politik yang mengakhiri kesultanan Ottoman dan berkuasa di Turki. Mereka menyerang orang Armenia maupun minoritas lain, dalam suasana nasionalisme sempit. 

Pada 1915, orang-orang Armenia, terutama kaum terdidik –akademisi, penulis, pengusaha– diusir dari Turki, terutama Anatolia Timur. Mereka diusir menuju padang pasir di Suriah, atau dipaksa masuk Islam, terutama perempuan dan anak-anak. Banyak dari mereka dibunuh atau mati kelaparan. Sebagai seorang anak, Dink masuk ke rumah yatim piatu di Tuzla, dekat Istanbul, milik gereja Armenia. Dia tinggal di sana selama 10 tahun. Dia juga bertemu Rakel, kelahiran 1959 di Silopi, yang keluarganya juga diusir pada 1915, di rumah yatim piatu. Mereka menikah di sana pula pada 1976. 

Pada 2004, Agos memuat laporan soal Sabiha Gökçen (1913-2001), pilot perempuan pertama pesawat tempur Turki, yang juga putri angkat Mustafa Kemal Atatürk (1881-1938), pendiri Republik Turki. 

Agos melaporkan bahwa Sabiha adalah orang Armenia. Sabiha termasuk anak Armenia yang diislamkan saat genosida. Laporan Agos bikin geger Turki. Sabiha sendiri sudah meninggal. Wawancara dilakukan terhadap saudara angkat Sabiha yang mengatakan Sabiha pernah mencari keluarga Armenianya. Sabiha termasuk orang Armenia yang menyembunyikan identitas. 

Dink jadi sasaran siar kebencian di Turki. Militer Turki mengeluarkan pernyataan buat bantah berita Agos. Dink dan beberapa orang Agos diperiksa polisi, dan diadili tiga kali, dengan pasal karet “menghina ke-turki-an.” Dink menerima banyak ancaman pembunuhan. 

Pada 19 Januari 2007, mingguan Agos menerbitkan esai Hrant Dink di halaman satu, “Mengapa saya jadi target sasaran?” Dink menjelaskan betapa dia ingin mencari kebenaran serta rekonsiliasi soal genosida Armenia. 

Sorenya, ketika keluar dari Agos, Dink ditembak mati persis di depan kantor Agos. Ogün Samast, seorang remaja dan nasionalis Turki, menembak Dink tiga kali di kepala. Dink tewas seketika. Foto-foto si pembunuh, diapit oleh polisi Turki yang tersenyum, muncul di banyak media Turki.

Lebih dari 100,000 orang mengantar Dink ke pemakaman. Pembunuhannya jadi pemicu gerakan agar pasal-pasal karet dihapus dari sistem hukum Turki. Ia juga bikin pembicaraan soal genosida Armenia jadi wacana publik. 

Nayat Karaköse dari Hrant Dink Foundation menjadi guide kami dalam museum. Dia bilang kini hanya tinggal 50,000 orang Armenia di Turki. Pada abad XX, kebanyakan orang Armenia lari ke luar negeri, atau berubah identitas, termasuk menjadi Muslim Kurdistan atau Muslim Turki. 

Kantor lima kamar ini dulunya adalah ruang redaksi Agos. Ruang kerja Dink tetap dipertahankan. Saya merinding bayangkan dia duduk di belakang meja. Barang-barang di dinding dan rak juga milik Dink. Ada buku. Ada lukisan. Museum mungil ditata apik.