Monday, June 29, 2020

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya pernah bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000, selama delapan tahun, saya menyunting majalah Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) and Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard. Saya makin sering meneliti dan menulis persoalan jurnalisme.


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan soal hak asasi manusia termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, saya menerbitkan buku Race, Islam and Power. Ia sebuah cerita perjalanan yang diramu dengan riset soal hak asasi manusia.

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch, salah satu organisasi hak asasi manusia paling berpengaruh di dunia, dengan tanggungjawab soal Indonesia. Banyak menulis soal kebebasan beragama, kebebasan pers, prinsip non-diskriminasi.

Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam namun agama-agama yang dilindungi di Indonesia termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil termasuk aliran kepercayaan maupun agama baru macam Millah Abraham.

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya sering menulis cerita perjalanan. Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 70 lokasi di Indonesia. Saya mencatat, merekam dan menulis soal tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan.

Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. Paling menarik bila berjalan seorang diri, sering memakai perjalanan buat berpikir, membaca dan berbagi.

Cerita

Blog ini juga banyak memuat cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup saya, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak.

Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota perdagangan paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Arief Budiman dan gerakan sosial di Salatiga

Ulang tahun Arief Budiman bersama murid-muridnya (Januari 2018). ©Andreas Harsono

Pada 1984, saya mulai kenal Arief Budiman, tiga tahun sesudah dia lulus Universitas Harvard, pindah dari Cambridge ke Salatiga, mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana. Arief mungkin dosen paling beken di Salatiga. Dia naik sepeda, sering terengah-engah ketika tanjakan. Dia sering muncul di media, sering menulis kolom, serta punya riwayat aktivisme sejak 1960an dengan Manifesto Kebudayaan dan 1970an dengan protes Golongan Putih.

Saya mengikuti kuliahnya tentang kesetaraan gender di mana dia berbicara soal diskriminasi terhadap perempuan, kesehatan reproduksi, keluarga berencana, serta menyarankan mahasiswa laki-laki untuk vasektomi. Dia bilang, vasektomi lebih aman daripada pil, kondom, susuk.

“Saya juga lakukan vasektomi,” katanya.

Kami membaca buku Arief, Pembagian Kerja Secara Seksual (1985) plus buku Simone de Beauvoir The Second Sex (1949).

Pada 1986, ada rencana pemerintah kota Salatiga menggusur becak. Beberapa tukang becak protes, belakangan, juga dibantu mahasiswa. Arief ikut menulis sebuah kolom di harian Suara Merdeka. Dia mendorong saya menulis kolom. Isinya, kritik soal kebijakan motorisasi di Indonesia.

Motorisasi mengandalkan mobil dan motor serta jalan aspal, dari jalanan desa sampai jalan tol, dengan menyingkirkan moda transportasi lain –trotoar buat pejalan kaki, kereta api, sepeda pancal, becak dan seterusnya. Motorisasi ini akan hancurkan trotoar, singkirkan becak, sepeda dan dokar, menciptakan kemacetan lalu lintas, polusi udara dan derau, serta membuat negara tak mau lakukan investasi terhadap kereta api.

Perlahan-lahan saya masuk dalam lingkaran Arief Budiman. Tak ada yang formal tapi Arief memberi kami banyak bacaan, dari bukunya soal Salvador Allende di Chile sampai majalah The New Yorker serta samizdat seperti Inside Indonesia (Melbourne) dan Tapol (London).

Saya terutama terpukau dengan The New Yorker. Wartawan Raymond Bonner datang dari New York, liputan selama dua bulan di Jakarta, Padang, Makassar, Jogjakarta dan Bandung. Dia tak bisa datang ke Dili karena militer Indonesia membuat Timor Timur daerah tertutup. Maka dia interview orang-orang Timor dan Portugis di Darwin, Australia. Hasilnya, liputan 40 halaman di The New Yorker edisi Juni 1988. Judulnya, “Indonesia: New Order.” Saya jadi mengenal banyak hal yang disensor oleh rezim Orde Baru. Saya juga jatuh cinta dengan jurnalisme yang memungkinkan liputan panjang.

Pada 1989, ketika rezim Suharto mulai menggenangi ratusan desa di Boyolali untuk pembangunan bendungan, Arief dan beberapa cendekiawan publik, termasuk pastor Y.B. Mangunwijaya, terlibat advokasi. Mereka protes Bank Dunia yang mendanai waduk Kedung Ombo tanpa pengamanan sosial terhadap warga desa. Beberapa kampus bikin solidaritas buat warga Kedung Ombo. Gerakan ini lumayan besar. Saya jalan ke Yogyakarta dan Jakarta guna menggalang solidaritas mahasiswa.

Pelajaran dari berbagai gerakan sosial ini adalah Arief Budiman selalu memberi murid-muridnya bacaan bermutu namun juga keberanian buat bergerak.

Makam Simone de Beauvoir di Paris.
Saya praktis membaca semua karya klasik dari Universitas Cornell, Ithaca, dari George McTurnan Kahin sampai Benedict Anderson. Bacaan ini membuat mahasiswanya mengerti persoalan dengan luas dan dalam. Ia membuat kami punya perspektif. Tak kalah penting adalah keberanian moral. Arief memberikan contoh dalam menulis, lakuan protes, namun juga menjaga integritas dan kemandirian.

Saya pernah tanya kenapa tak pernah cantumkan gelar doktor dari Harvard –salah satu universitas paling terkemuka di dunia—seperti dosen-dosen lain.

Arief tersenyum. “Buat apa?”

Dia bilang lebih penting menulis dan menerangkan pengetahuan kepada masyarakat luas daripada menaruh gelar. Dia bilang, orang pandai dan berani belum tentu doktor.

Sikap ini lumayan rata di Universitas Kristen Satya Wacana. Ada cukup banyak dosen lain yang sering menulis kritis namun juga menunjukkan keberanian moral: Ariel Heryanto, Broto Semedi, I Made Samiana, Liek Wilardjo, Nathaniel Daldjoeni, Nico L. Kana, Pradjarta Dirdjosanjoto, Sutarno dan seterusnya.

Laku moral ini mempengaruhi banyak mahasiswa. Saya sampai sekarang merasa aneh bila lihat ada orang memasang gelar mereka –entah sarjana, master, doktor, profesor— di kartu nama bahkan di WhatsApp mereka. Di Salatiga, saya belajar sebaiknya kita menghindar berurusan dengan orang-orang model begini.

Salatiga makin kaya, secara intelektual, ketika George Aditjondro bergabung jadi dosen. Aditjondro membawa pemikiran kritis soal ketimpangan bukan saja antara mereka yang kaya dan yang miskin juga kesenjangan antara Jawa dan pulau-pulau seberang. George tahu soal minoritas Aceh, Dayak, Papua, Timor Leste serta berbagai gerakan lingkungan, dari pembabatan hutan sampai pembuatan bendungan raksasa.

Saya juga dekat dengan George, sering mengobrol di rumahnya sampai larut malam. George mendidik saya untuk mendalami transportasi berkesinambungan. Kami lantas membantu para sais dokar yang juga hendak digusur dari Salatiga pada 1990. Ini membuat mereka mendirikan Persatuan Sais Dokar lantas lakukan advokasi. Penggusuran dibatalkan. Mereka bahkan dapat terminal dokar.

George juga mendidik mahasiswa tentang pemikiran Frantz Fanon dari Martinique soal rasialisme terhadap orang kulit hitam. Salah satu sahabat George, anthropolog dan musikus Arnold Ap, mati dibunuh di Papua 1984. Mungkin tanpa George, saya masih akan berpikir bahwa orang Papua terbelakang, kurang terdidik, dan Papua memerlukan pembangunan ekonomi.

Erna Tege, isteri almarhum George Junus Aditjondro,
mengunjungi makam suaminya di Palu (2016).
©Andreas Harsono
Sering orang menilai George adalah rival Arief. Saya kira tidak lengkap. Di Salatiga, banyak dosen yang kritis. Mereka bergaul dengan biasa saja, diskusi, debat dan tukar pikiran, hubungan sosial juga biasa. Arief dan George adalah pemain tim. Mungkin mereka bintangnya namun mereka tetap anggota tim yang baik.

Enrico Aditjondro, anak George, menulis soal bagaimana Arief sering telepon, "Halo Rico, Oom Arief punya video Michael Jackson yang baru mau pinjem ga?"

Pada 1990, saya meninggalkan Salatiga, mulanya pindah ke Semarang, lantas Phnom Penh, lantas Jakarta. George menganjurkan saya bekerja sebagai reporter. Saya rutin komunikasi dengan mereka. Kadang juga menjadikan Arief atau George sebagai nara sumber. Di Jakarta pula, George yang mengajak saya “wisata kuliner” dari lapo Batak sampai masakan rica-rica ala Minahasa.

Hidup saya berubah drastis pada Juni 1994 ketika rezim Soeharto menutup mingguan Detik, Editor dan Tempo. Saya terlibat protes para wartawan dan ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen pada Agustus 1994. Saya jadi sering bertemu Goenawan Mohamad dari Tempo, kebetulan juga sahabat Arief sejak sama-sama umur 19 tahun di Jakarta. Kami juga mendirikan Institut Studi Arus Informasi.

Pada November 1994, puluhan mahasiswa Timor Leste melompati kedutaan besar Amerika Serikat selama KTT APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) berlangsung di Bogor. Saya sibuk meliput Presiden Bill Clinton bertemu Presiden Soeharto namun protes di kedutaan itu mendapat liputan media internasional tentang pendudukan Indonesia atas Timor Timur. Aksi yang jitu. Berhari-hari saya meliput depan kedutaan Amerika Serikat tanpa tahu bahwa para mereka merencanakan aksi dari Salatiga bersama George Aditjondro dan Arief Budiman.

Di Salatiga, pada 1995, Arief dipecat dari kampus karena sengkarut pemilihan rektor. Arief dan kawan-kawan disibukkan dengan berbagai kerusakan sosial yang terjadi di Salatiga akibat pemecatan tersebut: demontrasi besar-besaran serta keluarnya puluhan dosen lain. Suasana kampus tak pernah kembali kritis. Cita-cita Arief untuk riset dan bikin teori sosial hancur berantakan. Gerakan sosial dari Salatiga meredup. Universitas Kristen Satya Wacana perlahan jadi kampus kebanyakan di Pulau Jawa. Salatiga juga kehilangan pembangunan yang berkelanjutan: motorisasi makin menggila, trotoar menghilang, sepeda menghilang.

Keadaan di Indonesia menjadi genting ketika krisis ekonomi Asia menghantam pada Juli 1997. Namun Arief sudah pindah ke Melbourne. Bila berkunjung ke Jakarta, Arief sering nongkrong bersama Goenawan di sebuah kedai dekat kantor Institut Studi Arus Informasi. Mereka diskusi dari pembantaian orang Madura di Kalimantan sampai memilih kompromi atau tidak dengan masuk ke sistem politik di Indonesia. Goenawan memilih bikin Partai Amanat Nasional. Arief menolak dan menganggap perubahan pasca-Soeharto takkan terlalu besar tanpa mencari kebenaran pada kudeta merangkak terhadap Presiden Sukarno dan pembunuhan massal 1965-1969.

Mereka debat. Namun mereka akrab. Makan siang bersama, saling ledek, elo elo, gue gue.

Saya kira saya justru mengenal Arief lebih dekat lewat kawan-kawannya --Abdurrahman Wahid, Daniel Dhakidae, Goenawan, Marsillam Simanjuntak, Rahman Tolleng, Sobron Aidit, Umar Said dan lain-lain.

Arief Budiman menulis kolom soal
Restaurant Indonesia di Paris.
©Andreas Harsono

Namanya disebut ketika saya makan malam di Restaurant Indonesia di Paris dimana banyak orang komunis bekerja (“Arief dulu menulis di Kompas,” kata mereka). Namanya disebut ketika saya bertemu Siauw Tiong Djin, putra dari tokoh Baperki, Siauw Giok Tjan, di Melbourne (“Arief jujur menyatakan, salah sudah mendukung paham asimilasi di zaman Demokrasi Terpimpin”). Namanya disebut di kalangan 1965, kalangan sastra, kalangan wartawan, tukang becak, sais dokar.

Dan Arief dan Goenawan pula yang mendorong saya melamar beasiswa jurnalisme di Universitas Harvard. Mereka menulis rekomendasi. Mereka senang ketika saya diterima dan pindah ke Cambridge. Saya jadi tahu makna mentor yang bermutu. Mereka akan membantu buka jalan bila kita siap dengan perubahan.

Leila dan Arief Budiman (2017)
©Wisnu Tri Hanggoro
Pada 2017, saya mengunjungi Arief di Salatiga. Dia sudah sakit, sulit berjalan kalau tanpa bantuan. Namun dia masih bertanya soal berbagai penelitian saya untuk Human Rights Watch. Dia bertanya soal kenapa intoleransi meningkat di Indonesia. Dia bertanya soal pasal penodaan agama. Dia tampaknya tak senang melihat Gubernur Jakarta Basuki “Ahok” Purnama diserang dengan tuduhan penodaan agama Islam. Kami juga mengenang George Aditjondro yang meninggal 10 Desember 2016. Dia juga tanya soal kawan-kawannya di Jakarta: Abdul Hakim Garuda Nusantara, Goenawan dan lain-lain.

Saya telepon Goenawan dan membiarkan mereka berdua bicara.

Arief tanya apakah buku saya sudah terbit.

Masih belum. Saya malu, sudah lebih 10 tahun belum selesai.

Dia tersenyum.

Ketika Arief meninggal, 23 April 2020, saya menyesal belum sempat memberikan buku saya yang dia tanyakan tersebut. Buku itu sudah terbit.

Saya merenungkan kepergian Arief. Sikap rendah hati, mau belajar soal kesalahan diri sendiri, tak mau bikin repot orang, dan selalu mau menolong bila diperlukan adalah kualitas Arief Budiman yang membuatnya jadi guru bagi banyak orang. Ilmu takkan berguna tanpa keberanian buka suara. Arief memberi contoh perilaku moral yang baik tanpa harus berkhotbah. Dia hidup tanpa skandal. Dia tak tergoda kekuasaan: uang, ketenaran, jabatan. Saya kehilangan seorang mentor, juga George tentu, namun saya percaya Arief tak hilang. Nilai dan keberanian yang diperkenalkannya akan hidup jauh lebih lama dari dia.

***


Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch sejak 2008, ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, International Consortium of Investigative Journalists (Washington DC), dan Yayasan Pantau (Jakarta). Dia menulis beberapa buku: Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (dengan Budi Setiyono); "Agama" Saya Adalah Jurnalisme; serta Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia.