Thursday, June 06, 2019

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya pernah bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000, selama delapan tahun, saya menyunting majalah Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) and Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard. Saya makin sering meneliti dan menulis persoalan jurnalisme.


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan soal hak asasi manusia termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, saya menerbitkan buku Race, Islam and Power. Ia sebuah cerita perjalanan yang diramu dengan riset soal hak asasi manusia.

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch, salah satu organisasi hak asasi manusia paling berpengaruh di dunia, dengan tanggungjawab soal Indonesia. Banyak menulis soal kebebasan beragama, kebebasan pers, prinsip non-diskriminasi.

Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam namun agama-agama yang dilindungi di Indonesia termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil termasuk aliran kepercayaan maupun agama baru macam Millah Abraham.

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya sering menulis cerita perjalanan. Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 70 lokasi di Indonesia. Saya mencatat, merekam dan menulis soal tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan.

Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. Paling menarik bila berjalan seorang diri, sering memakai perjalanan buat berpikir, membaca dan berbagi.

Cerita

Blog ini juga banyak memuat cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup saya, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak.

Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota perdagangan paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Wednesday, June 05, 2019

Kebiasaan Membaca di Sekolah

Amsterdam dengan memorial
Baruch Spinoza (2019).
Saya lahir pada 1965 di kota Jember. Ini sebuah kota menengah, dikenal dengan pertanian tembakau di Pulau Jawa. Perpustakaan sekolah kami tak punya banyak buku. Namun saya beruntung bisa beli buku cukup termasuk berbagai karya klasik dari Balai Pustaka. Saya juga suka baca komik: Si Buta Dari Gua Hantu serta Kho Ping Hoo. Saya belakangan mulai baca Mochtar Lubis, Soe Hok Gie, Soekarno, Yap Thiam Hien dan lainnya.

Pada 1981, ketika pindah sekolah ke SMA Katolik Sint Albertus Malang, saya beruntung ia punya perpustakaan bermutu. Mereka praktis punya semua coffee table book dari Time. Saya baca banyak buku soal Perang Vietnam yang berakhir enam tahun sebelumnya dengan kekalahan Amerika Serikat di Hanoi. Saya juga mulai membaca buku dalam bahasa Inggris: Albert Camus, Baruch Spinoza, Immanuel Kant, John Stuart Mill.

Saya kadang heran dengan kepala sekolah Emanuel Siswanto (1929-2002). Dia seorang pastor Katolik. Namun di perpustakaan banyak buku yang kritis terhadap agama dan spiritualisme. Romo Sis memang seorang guru yang berpikir terbuka (ketika meninggal, bunga di makamnya datang terus selama 40 hari). Dia sering beli buku –sekaligus beberapa eksemplar—dan dibagikan ke guru dan temannya. Dia minta mereka baca dan bikin ringkasan. Saya sering lihat dia bawa buku, yang sedang dibacanya, ketika menjaga ujian kelas. Dia sibuk membaca ketika murid-muridnya mengerjakan ujian.

Suatu hari, Romo Sis tiba-tiba bicara lewat loudspeaker sekolah bahwa dia akan mengumumkan nama murid setiap bulan yang meminjam buku paling banyak.

Dia bilang bulan sebelumnya, murid paling banyak pinjam buku, ”Andreas Harsono dari kelas 3A2.”

Saya terkejut. Saya dapat hadiah kecil. Ketika bertemu dengan Romo Sis –kantornya penuh dengan kaktus dan buku-- dia tanya sedang baca apa?

Kalau ingatan saya tak khianati saya, saya jawab, “Potret Seorang Penjair Muda Sebagai Si Malin Kundang” karya Goenawan Mohamad.

Tapi saya ingat saya beritahu Romo Sis bahwa juga suka musik. Saya kagum dengan lirik lagu “Roxanne” karya The Police. Saya kagum dengan band Queen dengan vokalis Freddie Mercury. Atau Peter Gabriel dari Genesis. Cyndi Lauper juga peka kemanusiaanya.

Dia tanya sesudah lulus mau sekolah dimana.

Saya malu menjawab, “Berklee College of Music di Boston.”

Sayang, cita-cita tersebut tak kesampaian. Papa keberatan saya jadi seniman. Saya sebenarnya sudah mulai menulis beberapa lagu lengkap dengan not balok dan lirik.

Chik Rini dari Aceh datang bertamu.
Saya kuliah teknik elektro di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Papa ingin saya melanjutkan bisnis keluarga kami. Namun di kampus tersebut, saya tak banyak belajar teknik. Saya berkenalan dengan dosen-cum-pembangkang macam Arief Budiman dan George Junus Aditjondro. Keduanya doktor sosiologi masing-masing dari Universitas Harvard (Cambridge) dan Universitas Cornell (Ithaca).

Mereka membuat saya lebih mendalami dunia pemikiran dan aktivisme. Arief Budiman atau Soe Hok Djien adalah abang dari Soe Hok Gie, demonstran anti Presiden Soekarno yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru pada 1969. Arief memperkenalkan saya pada Marxisme. Bacaannya banyak sekali. Arief membuat saya baca The Second Sex karya Simone de Beauvoir soal feminisme.

George Aditjondro membuat saya baca berbagai teori pembangunan berkesinambungan, dari Frantz Fanon sampai Rachel Carson. George banyak terlibat kampanye lingkungan hidup di Indonesia, dari penggundulan hutan di Merauke sampai pencemaran Danau Toba. Saya bantu para sais dokar melawan penggusuran mereka di Salatiga. Pada 1990an, George sudah rajin kritik kebijakan transportasi di Indonesia dengan motorisasi. Ia akan bikin kemacetan lalu lintas, polusi udara serta memperpendek umum warga kota. George promosi kereta api, sepeda kaki dan trotoar.

Lulus kuliah saya jadi wartawan, pindah ke Jakarta, juga ikut jadi pembangkang, bikin macam-macam demonstrasi anti Presiden Soeharto, belakangan ikut mendirikan organisasi, antara lain, Persatuan Sais Dokar (Salatiga), Aliansi Jurnalis Independen (Jakarta), Institut Studi Arus Informasi (Jakarta), South East Asia Press Alliance (Bangkok), International Consortium of Investigative Journalists (Washington DC) dan Yayasan Pantau (Jakarta).

Saya memang tak beruntung bisa kuliah di Berklee namun, sesudah Soeharto mundur pada Mei 1998, saya dapat beasiswa dari Universitas Harvard, tetangga satu kota Berklee.

Ini kampus bermutu dengan reputasi global. Harvard memiliki 43 alumni dan profesor yang mendapatkan Penghargaan Nobel. Saya ikut beberapa kelas mereka. Bill Kovach, guru jurnalisme, menjadikan saya murid pribadi, setiap minggu diskusi soal buku yang ditugaskannya minggu lalu. Saya jadi kenal Cornel West, David Halberstam, Henry Louis Gates dan sebagainya. Kali ini saya bukan hanya baca buku mereka, tapi juga diajak makan siang atau diskusi dengan para penulis tersebut.

Di Harvard, saya belajar banyak soal jurnalisme, nasionalisme, studi militer serta hak asasi manusia. Namun saya juga ikut kuliah Thomas Forrest Kelly dan belajar musik klasik, dari Ludwig van Beethoven sampai Igor Stravinsky. Secara khusus, saya belajar genre “jurnalisme sastrawi” atau “narative reporting.” Kelak pengalaman di Harvard ini membantu saya menulis buku juga.

Kalau ditanya buku dan penulis yang paling berpengaruh dalam pemikiran saya, mungkin bisa dilihat dari seberapa sering saya mengutip mereka dalam karya-karya saya. Saya kira ada dua cendekiawan.

Pertama, Benedict Anderson (1936-2015) dari Universitas Cornell, ahli Asia Tenggara, yang menulis buku soal Indonesia, Thailand dan Filipina. Anderson menguasai belasan bahasa termasuk bahasa Indonesia, Tagalog dan Thai. Karyanya yang paling dikenal adalah Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Anderson salah satu ahli Indonesia dengan keberanian moral dan analisis paling tajam.

Kedua, Bill Kovach dari Universitas Harvard, mantan redaktur The New York Times, yang menulis tiga buku soal jurnalisme bersama Tom Rosenstiel. Karya mereka yang paling dikenal adalah The Elements of Journalism:  What Newspeople Should Know and The Public Should Expect. Mereka menjelaskan dengan gamblang peranan jurnalisme. Yayasan Pantau membantu terjemahkan dua buku mereka ke Bahasa Indonesia. Saya belajar teori jurnalisme dari Kovach.

Saya punya sikap kritis terhadap karya fiksi. Ini mungkin dipengaruhi dengan disiplin saya dalam jurnalisme, yang ketat menjaga fakta. Kalau ditanya siapa novelis yang saya kagumi, saya jawab J.R.R. Tolkien (1892-1973) dari Universitas Oxford, yang menulis novel serial The Lord of the Rings. Ia dijadikan film Hollywood. Saya suka Tolkien karena dia tak mau campur aduk antara fakta dan fantasi. Ini kebiasaan buruk novelis kebanyakan. Tolkien menulis fantasi soal manusia, elf, hobbit, dwarf, ahli sihir, raksasa maupun orc guna bicara soal perjuangan kebaikan dan kejahatan.

Saya percaya seorang pembaca buku hidup mungkin ratusan kali, bahkan ribuan, mengatasi batas ruang dan waktu, mengelilingi dunia dan angkasa, belajar sejarah, belajar musik, membaca novel dan kaya akan khayalan. Orang yang tak suka membaca … sederhananya hanya hidup sekali. ***





Andreas Harsono menulis buku Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia. Kini dia bekerja untuk Human Rights Watch, sebuah organisasi hak asasi manusia, di New York.