Monday, April 05, 2021

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya menyukai jurnalisme sejak di kampus Salatiga. Saya bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000-2008, saya menyunting Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) dan Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard lewat Nieman Fellowship. Saya salah satu wartawan awal dari International Consortium of Investigative Journalists.  


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Saya menulis tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Ini cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak. Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota media paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Belajar Kopi dari Rumah Alam Bahagia

Kurniawati Hong dari Rumah Alam Bahagia, Jakarta, mendidik saya soal kopi hari ini. Hong seorang Q Grader –penguji kopi dengan sertifikat internasional dari Coffee Quality Institute, California. 

Mulai dari penanaman, pengolahan sampai penyeduhan, Hong bilang produk kopi sekitar 60 persen tergantung dari pekerjaan di hulu, 30 persen dari sanggrai (roasting), dan 10 persen dari penyeduhan. Konsumen kebanyakan lihat proses penyeduhan di kedai kopi. Pertanian dan pengolahan jauh lebih besar pengaruhnya.

Agar kesegaran kopi terjaga, kedai kopi biasanya beli green bean (kacang hijau) serta disanggrai dan digiling di kedai. Kopi bubuk membuat aroma berkurang. 

Di Indonesia, penggemar kopi usia muda lebih suka aroma buah-buahan yang tak disanggrai gelap (dark roasting). 

“Bubuk kurang fresh,” katanya. 

Saya datang ke tempatnya untuk bawa contoh bubuk kopi dari petani dari Bener Meriah, Aceh. Kopi Gayo tentu. Hong menyeduhnya. Hong juga kasih contoh dua kopi lain. Semua disajikan kopi murni, tanpa gula, tanpa susu, tanpa campuran lain. 

Senang juga belajar soal kopi. Rumah Alam Bahagia sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan etika serta pelestarian lingkungan hidup. Mereka promosi makanan nabati saja atau vegetarian. 

Thursday, April 01, 2021

Book Sale


“Ini sebuah buku yang lama saya bayangkan untuk melihat Indonesia, separuh reportase jurnalistik, separuh penjelajahan atas berbagai literatur, dan keduanya dijalin dengan narasi layaknya sebuah catatan perjalanan. Ini memungkinkan Andreas untuk menengok ruang-ruang sempit yang mungkin sering terabaikan, seperti bicara dengan peziarah di makam Soekarno, atau dengan saudari tiri pemimpin kharismatik Aceh. Cara seperti ini juga membuatnya leluasa untuk masuk ke konflik-konflik besar, semacam revolusi kemerdekaan maupun tragedi 65, tapi juga problem-problem sektarian lokal yang terjadi di mana-mana. Sebuah kesaksian luar biasa mengenai saling-sengkarutnya peta kekuasaan yang berkelindan dengan sentimen ras dan agama.”

Eka Kurniawan, novelis, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau



KHUSUS pembeli di Indonesia, Monash University Publishing memberi rabat untuk buku Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia seharga Rp 550,000 (termasuk ongkos kirim).

Transfer Bank Central Asia nomor 5800159930. Kirimkan bukti transfer kepada Ruth Ogetay: +62-813-8393-4913. Andreas Harsono akan menandatangani buku yang dibeli lewat blog ini. Mohon kirim nama lengkap. Ruth Ogetay akan kirim lewat ekspedisi atau pos atau tergantung lokasi. Biasanya tiga hari sampai di Pulau Jawa. Luar Jawa perlu sedikit hari lagi.


Resensi

Podcast Ubud Writers' and Readers' Festival featuring Janet Steele and Andreas Harsono
Andreas Harsono has covered Indonesia for Human Rights Watch since 2008. His new book Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia is the result of his 15-year project to document how race and religion have become increasingly prevalent in the nation’s politics.

South East Asia Research: Race, Islam and Power

South China Morning Post:
Is Indonesian democracy doomed to repeat a cycle of violence?

The Jakarta Post: ‘Race, Islam and Power’ A troubling tour through a pained land

Asia Pacific Report: Indonesia’s political system has ‘failed’ its minorities – like West Papuans

Human Rights Watch: New Book on Ethnic, Religious Violence

Video Sydney Southeast Asia Centre: Race, Islam and Power