Thursday, June 20, 2019

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya pernah bekerja sebagai wartawan buat The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Pada 2000, selama delapan tahun, saya menyunting majalah Pantau soal media dan jurnalisme dari Jakarta.

Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Institut Studi Arus Informasi, South East Press Alliance (Bangkok) and Yayasan Pantau. Pada 1999-2000, saya belajar jurnalisme bersama Bill Kovach di Universitas Harvard. Saya makin sering meneliti dan menulis persoalan jurnalisme.


Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan soal hak asasi manusia termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013). Pada 2019, saya menerbitkan buku Race, Islam and Power. Ia sebuah cerita perjalanan yang diramu dengan riset soal hak asasi manusia.

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch, salah satu organisasi hak asasi manusia paling berpengaruh di dunia, dengan tanggungjawab soal Indonesia. Banyak menulis soal kebebasan beragama, kebebasan pers, prinsip non-diskriminasi.

Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam namun agama-agama yang dilindungi di Indonesia termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil termasuk aliran kepercayaan maupun agama baru macam Millah Abraham.

Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya sering menulis cerita perjalanan. Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 70 lokasi di Indonesia. Saya mencatat, merekam dan menulis soal tempat menarik, kisah sedih, orang menarik ... tentu saja juga makanan.

Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. Paling menarik bila berjalan seorang diri, sering memakai perjalanan buat berpikir, membaca dan berbagi.

Cerita

Blog ini juga banyak memuat cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup saya, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Hari Imlek 2019
Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta buat bekerja. Kami juga punya rumah di Pontianak.

Saya juga sering mengunjungi New York, praktis setiap tahun. Ia kota perdagangan paling besar di dunia. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di kota New York. Saya juga banyak kenal sudut New York sehingga banyak cerita juga muncul dari New York.

Saturday, June 15, 2019

Perjalanan


Sebuah pagi di Yosemite, California. 
Saya mengatur pemaparan perjalanan saya berdasar pada tahun penerbitan naskah. Setiap tahun saya berjalan ke tempat jauh. Ada yang sering saya kunjungi. Ada yang mungkin hanya saya kunjungi sekali.

2017

Menyelesaikan buku kekerasan etnik dan agama
Gunung Salak tempat dimana saya suka sembunyi dari keributan Jakarta. Sebuah villa pernah jadi tempat saya membaca, menulis dan berpikir. Ia dekat dari Jakarta, hanya tiga jam, bawa bekal dan diam sendirian seminggu.

Omah Tani in Bandar
Pekalongan Has a Few Things to Do

2014
Mengajar Jurnalisme di Wamena

2013
Makam Pejuang Hak Asasi Manusia Munir di Batu
Naik Kereta Api Berlin-Brussels

2012
Dari Central Park ke Harlem

2010
Melaka: Sebuah Teratak di Stadthuys
Chik Rini di Padang Halaban
A Baby was Shot to Death in Merauke
Palembang: Parkour Benteng Kuto Besak
Tokyo: Seichi Okawa
Banda Aceh: Ali Raban dan Adi Warsidi

2009
Pertama Kali Datang ke Merauke
Kembali ke Salatiga

2006
Perjalanan di Jayapura
Kepulauan Wakatobi

2005

Halmahera: Duma dan Cahaya Bahari
Tobelo, Tobelo, Tobelo
Perjalanan Ternate-Tidore
Pulau Maitara dan Pulau Tidore: Gambar Uang Rp 1,000
Jalan ke Kupang dan Pulau Rote
Wutung: Satu Desa Dua Negara
Penyu, Sukamade dan Meru Betiri
Ule Lheue Diterkam Tsunami

2004
Belajar dari Kao untuk Mamasa
Baroto Island
Miangas, nationalism and isolation

2003
Pulau Sabang: Republik Indonesia Kilometer Nol
Puri Lukisan Ubud

Buku dan Laporan


Diskusi buku "Agama" Saya Adalah Jurnalisme bersama Janet Steele di Ubud, Bali, 2017.

Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan soal hak asasi manusia termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010) serta In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013).

Minat saya berputar soal dua tema tersebut: jurnalisme dan hak asasi manusia. Pada 2019, saya menerbitkan buku Race, Islam and Power yang saya kerjakan selama 15 tahun. Ia sebuah cerita perjalanan yang diramu dengan riset soal hak asasi manusia.

Race, Islam and Power (2019)

Buku ini adalah sebuah kisah perjalanan dari Pulau Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote serta Ndana, pulau kecil dan kosong, selatan Rote, berbatasan dengan Australia. Ia digabung dengan berbagai bacaan soal kekerasan etnik dan agama di Indonesia sesudah kejatuhan Presiden Suharto pada Mei 1998.

Perjalanan tersebut makan waktu lima tahun, antara 2003 dan 2008, dilanjutkan dengan berbagai riset soal hukum internasional di bidang hak asasi manusia plus berbagai perundingan dengan penerbit buku. Total makan waktu 15 tahun.

Duncan Graham: ‘Race, Islam and Power’ A troubling tour through a pained land
David Robie: Indonesia’s political system has ‘failed’ its minorities – like West Papuans
Human Rights Watch: New Book on Ethnic, Religious Violence
"Race, Islam and Power" Book Commendations
Gunung Salak: Tempat Menyelesaikan Buku
Monash University Publishing: Race, Islam and Power
Sesudah 15 tahun, akhirnya buku terbit
More than 70 places for book reporting

In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013)

Human Rights Watch menerbitkan laporan ini pada Februari 2013 dengan sebuah video dan siaran pers yang merangkum isinya. Ini salah satu karya saya yang paling banyak menghasilkan esai turunan maupun wawancara di berbagai media.

Carnegie Council: "Religious Harmony" Regulations Creating Dissonance in Indonesia
The Guardian: Indonesia's courts have opened the door to fear and religious extremism
PBS: Indonesian province turns up Sharia law after devastating tsunami
New Mandala: Undoing Yudhoyono’s Sectarian Legacy
New York Times: Indonesia Is No Model for Muslim Democracy
Jakarta Globe: Sufi Muslims Feel the Heat of Indonesia’s Rising Intolerance

"Agama" Saya Adalah Jurnalisme (2011)

Antologi ini diluncurkan di Pekanbaru pada 6 Februari 2011. Ia diadakan oleh lembaga pers mahasiswa Bahana Mahasiswa dari Universitas Riau. Judulnya berasal dari sebuah wawancara radio. Ia terdiri dari empat bagian: laku wartawan (termasuk elemen dan etika jurnalisme); penulisan; dinamika ruang redaksi; serta peliputan termasuk dan teknik wawancara.

Bagaimana memesan buku "Agama" Saya Adalah Jurnalisme?
Peluncuran Antologi di Pekanbaru
Kaos 'Agama' Saya Adalah Jurnalisme dari Pekanbaru

Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010)

Ia sebuah laporan Human Rights Watch setebal 60 halaman soal tahanan politik Indonesia di Papua dan Maluku. Jumlahnya sekitar 110 orang termasuk 68 orang yang ditangkap karena menari cakalele dan membentangkan bendera Republik Maluku Selatan pada 2007 di Ambon. Tahanan politik adalah orang yang ditahan secara semena-mena karena kegiatan politik mereka secara damai, tanpa kekerasan. Ia membuat saya kenal banyak tahanan politik termasuk Filep Karma dari Papua.

Press Release: Stop Prosecuting Peaceful Political Expression
Belajar dari Filep Karma
Rolling Stone: Perjuangan Seorang Pegawai Negeri Papua
A Former Political Prisoner’s Fragile Freedom in Indonesia
Filep Karma: Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua

Jurnalisme Sastrawi (2005)


Buku "Jurnalisme Sastrawi" setebal 320 halaman ini bisa dibaca semua dalam blog saya. Ia terdiri dari kata pengantar "Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita" serta delapan naskah karya kawan-kawan kami.

Budi Setiyono dan saya memilih dan menyunting semua karya dalam buku ini. Ia terbit mulanya pada 2005. Ia memberi sembilan pertimbangan bila seseorang hendak menulis karya panjang. Analisis dalam namun isinya memikat. Slogannya, panjang, dalam dan terasa.

Liputan Panjang (2001-2003)


Hak Asasi Manusia




Saya menulis ratusan esai soal hak asasi manusia, dari kebebasan sipil dan politik hingga hak akan air, dari pelanggaran di Aceh sampai Kalimantan sampai Papua.

2018
Banyuwangi: Budi Pego soal spanduk komunisme
Interview: Indonesia's anti-LGBT Tirades Disastrous Impact on Health
Fredy Akihary, a Moluccan political prisoner, died in prison in Porong
President Jokowi is to Ban Child Marriage in Indonesia
BBC correspondent Rebecca Henschke was questioned for a total of 17 hours in Papua
Papuan ex-political prisoner Filep Karma arbitrarily detained at Jakarta airport

2017
Kesehatan Jiwa Sama Penting dengan Kesehatan Badan

2016
George J. Aditjondro died in Palu, Sulawesi

2015
Rosnida Sari: Saya Mau Tunjukkan Aceh yang Toleran Namun Disalahmengerti

2014
Air adalah Hak Asasi Manusia

2013
Makam Munir di Batu

2010
Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia
Obama Has the Power to Help Papua, the ‘Weak Man’ Under Indonesian Rule
2009
Monumen Munir untuk Hak Asasi Manusia

Cerita


Berbagai cerita remeh, tapi menarik, setidaknya bagi keluarga saya, soal pengalaman hidup saya, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik, mungkin juga musuh.

Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Banyak cerita muncul dari semua tempat ini. Saya menganggap diri saya "orang Jakarta." Kedua anak saya lahir di Jakarta.

Saya mengatur bagian ini berdasarkan tahun penerbitan. Ia tentu mencakup masa kecil, remaja, kuliah sampai kehidupan dewasa saya, terutama di Jakarta.


2019
Kebiasaan Membaca Buku di Sekolah

2018
Obituari: Kehilangan Kawan Masa Kecil

2017
Rebeka Harsono dengan Masalah Kesehatan Jiwa

Wednesday, June 05, 2019

Kebiasaan Membaca di Sekolah

Amsterdam dengan memorial
Baruch Spinoza (2019).
Saya lahir pada 1965 di kota Jember. Ini sebuah kota menengah, dikenal dengan pertanian tembakau di Pulau Jawa. Perpustakaan sekolah kami tak punya banyak buku. Namun saya beruntung bisa beli buku cukup termasuk berbagai karya klasik dari Balai Pustaka. Saya juga suka baca komik: Si Buta Dari Gua Hantu serta Kho Ping Hoo. Saya belakangan mulai baca Mochtar Lubis, Soe Hok Gie, Soekarno, Yap Thiam Hien dan lainnya.

Pada 1981, ketika pindah sekolah ke SMA Katolik Sint Albertus Malang, saya beruntung ia punya perpustakaan bermutu. Mereka praktis punya semua coffee table book dari Time. Saya baca banyak buku soal Perang Vietnam yang berakhir enam tahun sebelumnya dengan kekalahan Amerika Serikat di Hanoi. Saya juga mulai membaca buku dalam bahasa Inggris: Albert Camus, Baruch Spinoza, Immanuel Kant, John Stuart Mill.

Saya kadang heran dengan kepala sekolah Emanuel Siswanto (1929-2002). Dia seorang pastor Katolik. Namun di perpustakaan banyak buku yang kritis terhadap agama dan spiritualisme. Romo Sis memang seorang guru yang berpikir terbuka (ketika meninggal, bunga di makamnya datang terus selama 40 hari). Dia sering beli buku –sekaligus beberapa eksemplar—dan dibagikan ke guru dan temannya. Dia minta mereka baca dan bikin ringkasan. Saya sering lihat dia bawa buku, yang sedang dibacanya, ketika menjaga ujian kelas. Dia sibuk membaca ketika murid-muridnya mengerjakan ujian.

Suatu hari, Romo Sis tiba-tiba bicara lewat loudspeaker sekolah bahwa dia akan mengumumkan nama murid setiap bulan yang meminjam buku paling banyak.

Dia bilang bulan sebelumnya, murid paling banyak pinjam buku, ”Andreas Harsono dari kelas 3A2.”

Saya terkejut. Saya dapat hadiah kecil. Ketika bertemu dengan Romo Sis –kantornya penuh dengan kaktus dan buku-- dia tanya sedang baca apa?

Kalau ingatan saya tak khianati saya, saya jawab, “Potret Seorang Penjair Muda Sebagai Si Malin Kundang” karya Goenawan Mohamad.

Tapi saya ingat saya beritahu Romo Sis bahwa juga suka musik. Saya kagum dengan lirik lagu “Roxanne” karya The Police. Saya kagum dengan band Queen dengan vokalis Freddie Mercury. Atau Peter Gabriel dari Genesis. Cyndi Lauper juga peka kemanusiaanya.

Dia tanya sesudah lulus mau sekolah dimana.

Saya malu menjawab, “Berklee College of Music di Boston.”

Sayang, cita-cita tersebut tak kesampaian. Papa keberatan saya jadi seniman. Saya sebenarnya sudah mulai menulis beberapa lagu lengkap dengan not balok dan lirik.

Chik Rini dari Aceh datang bertamu.
Saya kuliah teknik elektro di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Papa ingin saya melanjutkan bisnis keluarga kami. Namun di kampus tersebut, saya tak banyak belajar teknik. Saya berkenalan dengan dosen-cum-pembangkang macam Arief Budiman dan George Junus Aditjondro. Keduanya doktor sosiologi masing-masing dari Universitas Harvard (Cambridge) dan Universitas Cornell (Ithaca).

Mereka membuat saya lebih mendalami dunia pemikiran dan aktivisme. Arief Budiman atau Soe Hok Djien adalah abang dari Soe Hok Gie, demonstran anti Presiden Soekarno yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru pada 1969. Arief memperkenalkan saya pada Marxisme. Bacaannya banyak sekali. Arief membuat saya baca The Second Sex karya Simone de Beauvoir soal feminisme.

George Aditjondro membuat saya baca berbagai teori pembangunan berkesinambungan, dari Frantz Fanon sampai Rachel Carson. George banyak terlibat kampanye lingkungan hidup di Indonesia, dari penggundulan hutan di Merauke sampai pencemaran Danau Toba. Saya bantu para sais dokar melawan penggusuran mereka di Salatiga. Pada 1990an, George sudah rajin kritik kebijakan transportasi di Indonesia dengan motorisasi. Ia akan bikin kemacetan lalu lintas, polusi udara serta memperpendek umum warga kota. George promosi kereta api, sepeda kaki dan trotoar.

Lulus kuliah saya jadi wartawan, pindah ke Jakarta, juga ikut jadi pembangkang, bikin macam-macam demonstrasi anti Presiden Soeharto, belakangan ikut mendirikan organisasi, antara lain, Persatuan Sais Dokar (Salatiga), Aliansi Jurnalis Independen (Jakarta), Institut Studi Arus Informasi (Jakarta), South East Asia Press Alliance (Bangkok), International Consortium of Investigative Journalists (Washington DC) dan Yayasan Pantau (Jakarta).

Saya memang tak beruntung bisa kuliah di Berklee namun, sesudah Soeharto mundur pada Mei 1998, saya dapat beasiswa dari Universitas Harvard, tetangga satu kota Berklee.

Ini kampus bermutu dengan reputasi global. Harvard memiliki 43 alumni dan profesor yang mendapatkan Penghargaan Nobel. Saya ikut beberapa kelas mereka. Bill Kovach, guru jurnalisme, menjadikan saya murid pribadi, setiap minggu diskusi soal buku yang ditugaskannya minggu lalu. Saya jadi kenal Cornel West, David Halberstam, Henry Louis Gates dan sebagainya. Kali ini saya bukan hanya baca buku mereka, tapi juga diajak makan siang atau diskusi dengan para penulis tersebut.

Di Harvard, saya belajar banyak soal jurnalisme, nasionalisme, studi militer serta hak asasi manusia. Namun saya juga ikut kuliah Thomas Forrest Kelly dan belajar musik klasik, dari Ludwig van Beethoven sampai Igor Stravinsky. Secara khusus, saya belajar genre “jurnalisme sastrawi” atau “narative reporting.” Kelak pengalaman di Harvard ini membantu saya menulis buku juga.

Kalau ditanya buku dan penulis yang paling berpengaruh dalam pemikiran saya, mungkin bisa dilihat dari seberapa sering saya mengutip mereka dalam karya-karya saya. Saya kira ada dua cendekiawan.

Pertama, Benedict Anderson (1936-2015) dari Universitas Cornell, ahli Asia Tenggara, yang menulis buku soal Indonesia, Thailand dan Filipina. Anderson menguasai belasan bahasa termasuk bahasa Indonesia, Tagalog dan Thai. Karyanya yang paling dikenal adalah Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Anderson salah satu ahli Indonesia dengan keberanian moral dan analisis paling tajam.

Kedua, Bill Kovach dari Universitas Harvard, mantan redaktur The New York Times, yang menulis tiga buku soal jurnalisme bersama Tom Rosenstiel. Karya mereka yang paling dikenal adalah The Elements of Journalism:  What Newspeople Should Know and The Public Should Expect. Mereka menjelaskan dengan gamblang peranan jurnalisme. Yayasan Pantau membantu terjemahkan dua buku mereka ke Bahasa Indonesia. Saya belajar teori jurnalisme dari Kovach.

Saya punya sikap kritis terhadap karya fiksi. Ini mungkin dipengaruhi dengan disiplin saya dalam jurnalisme, yang ketat menjaga fakta. Kalau ditanya siapa novelis yang saya kagumi, saya jawab J.R.R. Tolkien (1892-1973) dari Universitas Oxford, yang menulis novel serial The Lord of the Rings. Ia dijadikan film Hollywood. Saya suka Tolkien karena dia tak mau campur aduk antara fakta dan fantasi. Ini kebiasaan buruk novelis kebanyakan. Tolkien menulis fantasi soal manusia, elf, hobbit, dwarf, ahli sihir, raksasa maupun orc guna bicara soal perjuangan kebaikan dan kejahatan.

Saya percaya seorang pembaca buku hidup mungkin ratusan kali, bahkan ribuan, mengatasi batas ruang dan waktu, mengelilingi dunia dan angkasa, belajar sejarah, belajar musik, membaca novel dan kaya akan khayalan. Orang yang tak suka membaca … sederhananya hanya hidup sekali. ***





Andreas Harsono menulis buku Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia. Kini dia bekerja untuk Human Rights Watch, sebuah organisasi hak asasi manusia, di New York.


Monday, May 06, 2019

‘Race, Islam and Power’ A troubling tour through a pained land

Duncan Graham
The Jakarta Post

Malang, East Java

Human rights activist Andreas Harsono’s new book Race, Islam and Power shows the damage incurred on “wonderful Indonesia” as a result of violence.

Inside view: Andreas Harsono's new book 'Race, Islam and Power' is a discomforting read for anyone who cares for the moral development of this nation.

Visiting outlying islands in this sprawling archipelago reveals an unease felt about Java, “the denominator of Indonesia”. From Aceh to West Papua live citizens who see the nation’s largest ethnic group as oppressive colonialists.

First President Sukarno used a common language, universal education and the non-denominational Pancasila philosophy to create the “unitary state”.

When these did not work, persuasion turned to force.

In his new book Race, Islam and Power, human rights activist Andreas Harsono explains the damage incurred on “wonderful Indonesia” as a result of violence.

This was never meant to be a jolly travelogue. The author quotes West Sumatran poet Leon Agusta (1938-2015): “They’re the two most dangerous words in Indonesia: Islam and Java”, to which Andreas adds: “Muslim majority and Javanese dominance”.

Despite efforts from people like Andreas to bring human rights issues to the fore, this year’s election campaigns focused little on such issues.

Nevertheless, perhaps some voted against Prabowo Subianto because of questions about the former general’s actions in the Army. Others might have rejected Joko “Jokowi” Widodo, reasoning that he dodged confronting post-1965 cases of persecution, despite having previously promising to open discussion on human rights.

Little has happened to reconcile the state with the survivors and the families of the real or imagined Communist victims who were never charged under the law. The guilty still control. Dealing with unresolved shame is not a problem exclusive to Indonesia. Australians are grappling with a new understanding of their nation’s past as historians are openly having discussions on massacres targeted at the Aborigines right into last century.

Consider the continuing cruelties: In Aceh, men who love each other and unmarried women who love men get whipped in a medieval public ritual in front of smartphones. People who have made mild comments about faith are put behind bars for blasphemy.

Across Indonesia, hate fermented against gays is brewed by religious leaders. Ahmadiyah sectarians get persecuted, as do followers of minority mainstream faiths.

Indonesians love the outsider-imposed label of tolerance, but this is continually threatened; robust analysis mainly comes from foreign academics, safe on campuses far away.

At last comes a critic with credibility from within. As a local, Andreas risks confrontations. In pre-independence East Timor a soldier demanded: “Are you red and white (a nationalist)?”

Andreas said he was an impartial journalist. Fortunately only his visit was terminated.

During Soeharto’s authoritarian New Order government, Andreas, an Indonesian with ethnic Chinese heritage, would have understood that discrimination is pervasive.

In Salatiga’s Satya Wacana Christian University in Central Java, he followed lectures by the late George Aditjondro, a sociologist and author who was so powerful a critic of Soeharto (he likened the president to an octopus) that he fled to Australia to avoid arrest.

George’s teachings and writings raised questions about Indonesia’s governance and the nature of Benedict Anderson’s “imagined community”. The late US scholar also quashed the view that only Westerners can be colonialists. Andreas has become a torchbearer for the freedoms they championed.

Although he enrolled in electronic engineering school, writing for student unions revealed he had a talent for journalism. After a year with this newspaper, he became the Jakarta correspondent for Bangkok’s The Nation English language daily. He also won a prestigious Nieman Fellowship to study journalism at Harvard.

Through reporting, he has seen far more of his country than most. Along the way he realized that daily reporting was not effective enough in providing information that would allow the world to understand Indonesia.

The result is this political travelogue, subtitled Ethnic and Religious Violence in post-Soeharto Indonesia. The title is clumsy, the cover drab. There’s no index, but there is a handy list of sources. The prose is excellent.

This is a discomforting read for anyone who cares for the moral development of this nation. It is also a counterweight to the glossy mags promoting Indonesia as a land fit for hedonists.

This is sweaty and edgy journalism. It can also be dangerous. In 2004, activist Munir Said Thalib was assassinated on a Garuda flight to Europe. The case remains unsolved.

For 15 years Andreas has been where the pain is raw, where the wee folk live, work, travel and get jailed, hearing their authentic stories of discrimination and repression, their anger and puzzlement: Was this the land our heroes promised in 1945?

“What they learned at school was totally different from what they saw in their real life,” he writes. “I hear this over and over throughout Indonesia.”

Race, Islam and Power has been published in Australia in English, the language Andreas used, as he was “trying to speak to an international audience about violence in Indonesia […] especially policy makers, academics, opinion leaders”.

No local press organizations would handle the work, which proves the author’s point about the country’s fear of confronting the past; yet society’s betterment depends on its citizenry knowing about the state’s real history.

Andreas’ work aims to build a better nation by exposing truths. Those who agree with George W. Bush’s quote “you’re either with us or against us” might call the author a traitor; yet critics can be finer patriots than jingoists – and more effective.

Andreas has been a Jakarta-based researcher since 2008 with international NGO Human Rights Watch and he is often its spokesman. His statements are measured and fact-based – as they are in this book.

This is important because villainy thrives when far from public view. When atrocities are revealed, doubt dampens outrage if accusations are shrill and facts vague. Could these gentle friendly folk really be so brutal – and if so, why?

Sadly, tragically, yes. There’s been slaughter and dispossession from Sabang to Merauke, a route Harsono has traveled and meticulously studied.

Democracy is “people power”, though not for losing politicians trying to force their interests through street protests. They tread a dangerous track.

The same goes for those howling religious hate. This book shows these roads will never lead to the respected nation the founders imagined and the people desire. (ste)

Tuesday, April 16, 2019

Indonesia’s political system has ‘failed’ its minorities – like West Papuans

By David Robie
Asia Pacific Report

A human rights defender and researcher has warned in a new book published on the eve of the Indonesian national elections tomorrow that the centralised political system has failed many of the country’s 264 million people – especially minorities and those at the margins, such as in West Papua.

Author Andreas Harsono also says a “radical change is needed in the mindset of political leaders” and he is not optimistic for such changes after the election.

Harsono is author of Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia, a book based on 15 years of research and travel between Sabang in Aceh in the west and Merauke in West Papua in the East.

Founding President Sukarno used the slogan “from Sabang to Merauke” when launching a campaign – ultimately successful – to seize West Papua in 1961.

But, as Harsono points out, the expression should really be from Rondo Island (an unpopulated islet) to Sota (a remote border post on the Papua New Guinean boundary).

Harsono, a former journalist and Human Rights Watch researcher since 2008, argues that Indonesia might have been more successful by creating a federation rather than a highly centralised state controlled from Jakarta.

“Violence on post-Suharto Indonesia, from Aceh to West Papua, from Kalimantan to the Moluccas, is evidence that Java-centric nationalism is unable to distribute power fairly in an imagined Indonesia,” he says. “It has created unnecessary paranoia and racism among Indonesian migrants in West Papua.

‘They’re Melanesians’

“The Papuans simply reacted by saying they’re Melanesians – not Indonesians. They keep questioning the manipulation of the United Nations-sponsored Act of Free Choice in 1969.”

Critics and cynics have long dismissed what they see as a deeply flawed process involving only 1025 voters selected by the Indonesian military as the “Act of No Choice”.

Harsono’s criticisms have been borne out by a range of Indonesian activist and watchdog groups, who say the generals behind the two presidential frontrunners are ridden with political interests.

The Commission for Missing Persons and Victims of Violence (Kontras) and the Mining Advocacy Network (JATAM) have again warned that both presidential candidate tickets — incumbent President Joko “Jokowi” Widodo and running mate Ma’ruf Amin as well as rival Prabowo Subianto and Sandiaga Uno — have close ties with retired TNI (Indonesian military) generals.

These retired officers are beholden to political interests and the prospect of resolving past human rights violations will “become increasingly bleak” no matter who is elected as the next president.

Kontras noted that nine out of the 27 retired officers who are behind Widodo and Ma’ruf have a “problematic track record on human rights”.

“Likewise with Prabowo Subianto and Sandiaga Uno where there are eight retired officers who were allegedly involved in past cases of HAM violations”, said Kontras researcher Rivanlee Anandar.

Prabowo himself, a former special forces commander, is implicated in many human rights abuses. He has been accused of abduction and torture of 23 pro-democracy activists in the late 1990s and he is regarded as having knowledge of the killing hundreds of civilians in Santa Cruz massacre in Timor-Leste.

90,000 killed post-Suharto

Harsono’s 280-page book, with seven chapters devoted to regions of Indonesia, documents an ”internally complex and riven nation” with an estimated 90,000 people having been killed in the decade after Suharto’s departure.

“In East Timor, President Suharto’s successor B. J. Habibie agreed to have a referendum [on independence]. Indonesia lost and it generated a bloodbath,” says Harsono.

“Habibie’s predecessors, Megawati Sukanoputri and Susilo Bambang Yudhoyono, refused to admit [that] the Indonesian military’s occupation, despite a United Nations’ finding, had killed 183,000 people between 1975 and 1999.”

Harsono notes how in 1945 Indonesia’s “non-Javanese founders Mohammad Hatta, Sam Ratu Langie and Johannes Latuharhary wanted an Indonesia that was democratic and decentralised. They advocated a federation.”

However, Sukarno, Supomo and Mohammad Yamin wanted instead a centralised unitarian state.

“Understanding the urgency to fight incoming Dutch troops, Latuharhary accepted Supomo’s proposal but suggested the new republic hold a referendum as soon as it became independent. Sukarno agreed but this decision has never been executed.”

The establishment of a unitarian state “naturally created the Centre”, says Harsono. “Jakarta has been accumulated and controlling political, cultural, educational, economic, informational and ideological power.

Java benefits

“The closer a region to Jakarta, the better it will benefit from the Centre. Java is the closest to the Centre.

“The further a region is from the Centre, the more neglected it will be. West Papua, Aceh, East Timor and the Moluccas are among those furthest away from Jakarta.”

The centralised political system needed a “long and complex bureaucracy” and this “naturally created corruption”, Harsono explains.

“Indonesia is frequently ranked as the most corrupt country in Asia. Political and Economic Risk Consultancy Ltd listed Indonesia as the most corrupt country in Asia in 2005.”

Harsono also notes how centralised power has helped a religious and ethnic majority that sees itself as “justified to have privileges and to rule over the minorities”.

The author cites the poet Leon Agasta as saying, “They’re the two most dangerous words in Indonesia: Islam and Java.” Muslim majority and Javanese dominance.

Harsono regards the Indonesian government’s response to demands for West Papuan “self-determination” as “primarily military and repressive: viewing Papuan ‘separatists’ as criminals, traitors and enemies of the Republic of Indonesia”.

He describes this policy as a “recipe for ongoing military operations to search for and destroy Papuan ‘separatists’, a term that could be applied to a large, if not overwhelming, portion of the Papuan population”.

Ruthless Indonesian military

“The Indonesian military, having lost their previous power bases in east Timor and Aceh, ruthlessly maintain their control over West Papua, both as a power base and as considerable source of revenue.

“The Indonesian military involvement in legal businesses, such as mining and logging, and allegedly, illegal businesses, such as alcohol, prostitution, extortion and wildlife smuggling, provide significant funds for the military as an organisation and also for individual officers.”

Pro-independence leaders have called on West Papuans to boycott the Indonesian elections tomorrow.

Andreas Harsono launched his journalism career as a reporter for the Bangkok-based Nation and the Kuala Lumpur-based Star newspapers. In the 1990s, he helped establish Indonesia’s Alliance of Independent Journalists (AJI) – then an illegal group under the Suharto regime, and today the most progressive journalists union in the republic.

Harsono was also founder of the Jakarta-based Institute for the Studies on the Free Flow of Information and of the South East Asia Press Alliance (SEAPA).

In a separate emailed interview with me in response to a question about whether there was light at the end of the tunnel, Harsono replied: I do not want to sound pessimistic but visiting dozens of sites of mass violence, seeing survivors and families’ who lost their lost ones, I just realised that mass killings took place all over Indonesia.

“It’s not only about the 1965 massacres –despite them being the biggest of all– but also the Papuans, the Timorese, the Acehnese, the Madurese etc.

“Basically all major islands in Indonesia, from Sumatra to Papua, have witnessed huge violence and none of them have been professionally understood. The truth of those mass killings have not been found yet.”


Professor David Robie is director of the Pacific Media Centre.


Wednesday, April 10, 2019

"Race, Islam and Power" Book Commendations

"I have long anticipated a book that gives this kind of perspective on Indonesia: half journalistic, and half exploration through various literature, woven together in a narrative resembling a travelogue. This has enabled Andreas to gaze into some frequently-overlooked corners, such as his dialogues with pilgrims visiting Sukarno’s grave, or with the step-sibling of Aceh’s charismatic leader. With this approach he has the freedom to delve into some big conflicts, such as the Indonesian revolution and the tragedy of 1965, but also local sectarian conflicts that are breaking out everywhere. It's an extraordinary testimony of the interrelationship that results when power intertwines with racial and religious sentiments."

Author Beauty Is a Wound and Man Tiger

"‘There’s never been a book so thoroughly covering various sufferings and violence in the vast Indonesian archipelago. Andreas Harsono uncovered the black veil that wraps gross human rights violations as well as religious and ethnic violence in Indonesia. He moves from one tribe to another, from Sabang to Merauke, shocking our humanity. He visited mass graves, framing them in this book. It’s about the importance of upholding human rights in governing Indonesia. His moral message is very clear, stop all violence, never again!"
Professor, Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

"A masterful craft of eye-witness narration."
Professor, Monash Herb Feith Indonesian Engagement Center, Melbourne


"President Suharto’s resignation in May 1998, after three decades in power, triggered political changes in multi-ethnic, multi-religious and multilingual Indonesia. Many ethnic and religious groups demanded more of a say in their political, economic and cultural domains. Some of them became involved in bloody conflicts. Andreas Harsono captured those efforts to find a new equilibrium with his travelogue."
Australia Director, Human Rights Watch

"Andreas Harsono is a human rights defender with a deep understanding of Indonesia, spending decades in his research and writing on various mass violence. He’s often misunderstood. Many Indonesians consider him a “traitor” or “a foreign agent”. In Papua, he’s often seen to be a supporter of West Papua independence but some see him to be a “government adviser”. I have known him since 2008 when he was visiting my prison in Jayapura, writing and campaigning to release many Papuan political prisoners. He’s actually a true Indonesian patriot who wants to see Indonesia’s pimples and gangrenes to be cured. He dares to take the risk – arrests, detention even murder – to write what he believes: that Indonesia should act on these serious human rights abuses. This book is all about that."
West Papua independence activist, jailed for 11 years (2004-2015)

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."
Professor, University of New South Wales

New Book on Ethnic, Religious Violence

Government Repression and Communal Attacks in Post-Suharto Era

(Jakarta) – Political changes in post-Suharto Indonesia have triggered ethnic and religious violence across the country, says a book by Andreas Harsono, a veteran Indonesia researcher for Human Rights Watch, that was published today.

The 280-page book, Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia, was published by Monash University Publishing a week before Indonesia’s general elections on April 17, 2019. Harsono spent five years travelling around Indonesia, from the westernmost island of Sabang to its easternmost city of Merauke in West Papua, from Miangas Island in the north, near the Philippines border, to Ndana Island, near the coast of Australia. Harsono’s journey took him to more than 90 locations, including 41 small towns and 11 remote islands. Many of those locations were the sites of either state or communal violence.

“Indonesia is not only the largest country in South East Asia – but also the most populated predominantly Muslim country in the world,” said Nathan Hollier, the director of Monash University Publishing. “We hope this book will contribute to a deeper understanding of the social dynamics on the ground within this highly diverse, complex, and important nation.”

President Suharto’s momentous resignation in May 1998, after three decades in power, triggered political changes in multiethnic, multireligious, and multilingual Indonesia. Many ethnic and religious groups promptly tried to find new equilibrium, demanding more say in their political, economic, and cultural domains. Some became involved in bloody conflicts within their borders.

Harsono spent 15 years researching and writing his book, documenting how race and religion have come to be increasingly prevalent within Indonesia’s politics. He estimates that at least 90,000 people were killed in mostly communal violence in the decade after Suharto’s departure.

Today, impunity remains a huge problem in Indonesia. Many candidates for local and national office in the upcoming election, including a presidential candidate, Prabowo Subianto, and a vice presidential candidate, Ma’ruf Amin, were implicated in notorious human rights abuses but never brought to justice.

“When Andreas Harsono returned from his Nieman Fellowship at Harvard University in 2000, he introduced long-form reporting in Indonesia, writing and editing literary news reports,” said Elaine Pearson, Australia director at Human Rights Watch. “In 2008, he joined Human Rights Watch, researching human rights violations across Indonesia. He combines his literary reporting skills and human rights training in this travelogue, seamlessly integrating his visits to many mass graves with academic analysis.”

Human Rights Watch is an international organization with its head office in New York, working in nearly 100 countries, uncovering facts that create an undeniable record of human rights violations. Its staff are experts on the countries and human rights topics that they cover. Some have published books to reflect at greater length on relevant themes and events.

Monash University Publishing is the publication arm of Australia’s largest university with four campuses in Victoria (Clayton, Caulfield, Peninsula, and Parkville), one in Selangor (Malaysia), and one in Johannesburg (South Africa). Monash also has a training center in Prato (Italy), a research academy in Mumbai (India), and a collaboration with China’s Southeast University in Suzhou (China). It publishes books on humanities and social sciences, specializing in Asian Studies and the study of Australian history, culture, and literature.

The book is divided into seven chapters and an epilogue. Each chapter centers on a major island in Indonesia:

Sumatra: Aceh militants fought against Indonesian rule since 1976. Many outer islands, such as Sumatra, had to adopt Javanese culture if they wanted to get financial support from the government in Jakarta. But the devastating 2004 tsunami in Aceh, led to a peace agreement between militants and the Indonesian government, ending the three-decade conflict. Aceh also adopted Shariah (Islamic law), introducing discriminatory regulations against religious and gender minorities.

Kalimantan: In 1997, ethnic Dayak militants killed ethnic Madurese, who originally came from Madura Island. In 1999, a bigger massacre took place around Sambas, western Kalimantan, in which ethnic Malay militants killed about 3,500 Madurese settlers. In 2001, that deadly ethnic violence spread to Sampit in central Kalimantan, where Dayaks killed about 2,500 Madurese settlers.

Sulawesi: Ethnic Minahasans rebelled against Indonesia in the 1950s. This Christian-majority area has managed to avoid the sectarian violence experienced in neighboring Moluccas provinces and around Lake Poso in Central Sulawesi.

Java: Indonesia’s most populous island but also the arena where Islamists and Indonesian nationalists have battled over the philosophical basis for the country since the 1920s. The idea of formalizing Sharia took root then, resulting in discrimination against religious and gender minorities, and challenging the idea of Indonesian nationalism. After Suharto’s fall, Islamist politicians in Java revived the idea of recreating Indonesia as an Islamic state. They wanted to change the Constitution to obligate Muslims to follow Sharia, proposed bans on non-Muslim leaders in majority Muslim areas, sought greater enforcement of Sharia provisions, and pressed for nominating candidates sympathetic to Islamist objectives. Some extremist Islamists have used violence to advance their agendas, including bombings in Jakarta and Bali in 2002 and 2005 that killed hundreds of people.

The Moluccas: These islands were the scene of the bloodiest violence in post-Suharto Indonesia between 1999 and 2005. The violence took place on the islands of Ambon, Halmahera, Tidore, and Ternate, involving at least 3,000 militants from Java under the Laskar Jihad group.

Lesser Sunda Archipelago: These islands span from Timor in the east to Bali, near Java. Those living in the archipelago have experienced violence, especially in East Timor, which was under Indonesian occupation until a United Nations-organized referendum in May 2002. The Commission for Reception, Truth and Reconciliation in East Timor documented at least 102,800 deaths under Indonesian occupation.

West Papua: The history of West Papua centers on racism, human rights abuses, and the manipulation of the 1969 Act of Free Choice. The American mining company Freeport-McMoRan has long played a role that has affected conditions for indigenous people in Papua and West Papua provinces.

Friday, March 29, 2019

Sesudah 15 tahun, akhirnya buku terbit

Kesulitan pendanaan, harus bekerja penuh waktu, sulit atur waktu, ditolak beberapa penerbit di Pulau Jawa, akhirnya terbit di Melbourne.


BUKU saya, Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia, tiba di rumah tadi malam. Saya segera perhatikan, dari halaman ke halaman, periksa bila ada salah cetak, huruf miring dst, total 280 halaman. Syukurlah tak saya temukan.

Memeriksa 280 halaman.
Buku ini sudah beredar di Australia dan Selandia Baru walau belum resmi diluncurkan. Monash University Publishing, Melbourne, penerbit buku ini, akan resmi mengeluarkannya pada 10 April 2019.

Sekarang buku mungkin sedang dalam perjalanan ke berbagai distributor dan toko buku namun bisa pesan online lewat website Monash University Publishing.

Di Amerika Serikat dan Eropa, Amazon, distributor buku raksasa, akan mulai menjual buku ini pada 1 Mei 2019. Kini sudah bisa pre-order lewat website Amazon. Saya kira ia juga perlahan-lahan akan dijual di berbagai toko buku di kedua benua tersebut. Ia juga akan dijual di Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Pacific dan Afrika.

Pemandangan dekat ruang kerja.
Saya sering ditanya di Indonesia dimana bisa dibeli?

Saya belum tahu jawabnya. Monash sedang berunding dengan beberapa distributor buku di Indonesia. Ini soal harga, pajak, biaya pengiriman dan seterusnya.

Belum lagi, bagi saya, kemungkinan buku dibajak.

Indonesia seharusnya adalah pasar penting buku ini. Saya harap pada bulan Mei, setidaknya Juni, buku ini sudah beredar di Indonesia juga, terutama kota besar macam Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan seterusnya.

Buku ini saya kerjakan sejak pertengahan 2003 ketika saya mulai meliput Perang Aceh dan sempat jalan ke Pulau Sabang. Perlahan-lahan saya mengumpulkan uang, lalu jalan, dari Sumatra ke Kalimantan ke Sulawesi dan seterusnya sampai Papua. Total saya wawancara lebih dari 700 orang dalam tiga tahun pertama, lalu berhenti berhitung pada tahun keempat sampai ke-10. Saya perkirakan saya wawancara lebih dari 2000 sumber dalam 10 tahun.

Saya mengunjungi Pulau Sabang dekat Aceh sampai kota Merauke, berdekatan dengan Papua New Guinea, dari Pulau Miangas, paling utara berbatas dengan Pulau Mindanau milik Filipina, sampai Pulau Ndana, selatan Pulau Rote, yang berbatasan dengan Australia. Dalam tiga tahun pertama, saya mengunjungi 63 tempat termasuk beberapa kuburan massal, namun saya berhenti berhitung sesudahnya.

Ini belum lagi urusan dengan penerbit buku. Setiap kali menawarkan buku, diminta mengisi formulir, mulai dari detail pribadi sampai ringkasan buku, lalu perbandingan dengan buku lain. Jawaban bisa datang beberapa bulan kemudian. Bila ditolak, proses dimulai lagi dengan penerbit lain.

Monash University Publishing adalah penerbit bermutu milik Universitas Monash, universitas terbesar di Australia.

Lega lihat buku ini akhirnya terbit sesudah 15 tahun.

Friday, March 22, 2019

王志良


“When copies are free, you need to sell things which cannot be copied. The first thing of these is trust. Trust must be earned, over time."

Kevin Kelly Wired internet magazine editor.

Antologi saya, Agama Saya Adalah Jurnalisme, terbit Desember 2010 oleh Kanisius Jogjakarta. Ia merupakan buku-bukuan dari 34 naskah saya terbitan antara 1999 dan 2010. Banyak berasal dari blog saya khusus bagian media dan jurnalisme. Ia kritik terhadap liputan media soal Acheh, Pontianak, Papua dsb maupun campur-aduk kepentingan bisnis dan redaksi. ©2010 Andreas Harsono

Pembelian Buku
Bila sulit cari antologi Agama Saya Adalah Jurnalisme, cara lain adalah pesan lewat Yayasan Pantau.

Kriminalisasi Aspirasi Politik
Mereka menaikkan bendera RMS atau bendera Bintang Kejora. Mereka ditangkap, disiksa, dihukum dengan proses peradilan yang buruk dan kini dipenjara tahunan.

Obama Has the Power to Help Papua
Young Barack Obama noticed his stepfather’s great unease and silence about his one-year military service in New Guinea. Obama has the power to "the weak man."

Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia
Selama satu dekade warga Ahmadiyah di Pulau Lombok diusir dari satu desa ke desa lain. Bagaimana melihat pelanggaran hak asasi manusia ini dari kenegaraan Indonesia?

Monumen Munir di Batu
Munir bin Said Thalib, pejuang hak asasi manusia dari Batu, dimakamkan di kuburan sederhana. Bagaimana dengan ide bikin monumen hak asasi manusia di Batu?

Tokoh Papua Filep Karma menjalani perawatan prostate di rumah sakit PGI Cikini, Jakarta, selama 11 hari. Seorang perawat mengecek tekanan darah Karma sesudah operasi. ©2010 Ricky Dajoh

Kekerasan Berakar di Kalimantan Barat
Lebih dari 70 warga Pontianak dan Singkawang mengeluarkan Seruan Pontianak, minta agar warga berhati-hati dengan tradisi kekerasan di Kalimantan Barat.

Clinton's Chance to Push Beyond Cliche
Hillary Clinton should be careful not to say that Muslims in Indonesia are “moderate” as for members of persecuted religious groups in Indonesia, it is a useless and inaccurate cliche.

Dari Sabang Sampai Merauke
Berkelana dari Sabang ke Merauke, wawancara dan riset buku. Ia termasuk tujuh pulau besar, dari Sumatera hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana.

Training Ganto di Padang
Lembaga media mahasiswa Ganto dari Universitas Negeri Padang bikin pengenalan investigative reporting. Ada 46 mahasiswa dari dari berbagai kota Sumatera plus Jawa dan Makassar.

Homer, The Economist and Indonesia
Homer Simpsons read the dry Economist magazine in a First Class flight. Homer talked about "Indonesia" ... and later The Economist used the Simpsons joke to describe ... Indonesia.

Bagaimana Meliput Agama?
Dari Istanbul dilakukan satu seminar soal media dan agama. Dulunya Constantinople, ibukota kerajaan Romawi Timur, hingga direbut kesultanan Ottoman pada 1453.

Sebuah Kuburan, Sebuah Nama
Di Protestant Cemetery, Penang, terdapat sebuah makam untuk James Richardson Logan, seorang juris-cum-wartawan, yang menciptakan kata Indonesia pada 1850.

Makalah Criminal Collaborations
S. Eben Kirksey dan saya menerbitkan makalah "Criminal Collaborations?" di jurnal South East Asia Research (London). Ia mempertanyakan pengadilan terhadap Antonius Wamang soal pembunuhan di Timika.

Moedjallat Indopahit
Satu majalah didisain sebagai undangan pernikahan. Isinya, rupa-rupa cerita. Dari alasan pernikahan hingga kepahitan sistem kenegaraan Indonesia keturunan Majapahit.

Struktur Negara Federasi
Rahman Tolleng bicara soal struktur federasi di Indonesia. Kuncinya, kekuasaan ditaruh di tangan daerah-daerah lalu diberikan sebagian ke pusat. Bukan sebaliknya, ditaruh di pusat lalu diberikan ke daerah: otonomi. Bagaimana Republik Indonesia Serikat?

Media dan Jurnalisme
Saya suka masalah media dan jurnalisme. Pernah juga belajar pada Bill Kovach dari Universitas Harvard. Ini makin sering sesudah kembali ke Jakarta, menyunting majalah Pantau.

The Presidents and the Journalists
In 1997, President Suharto lectured editors to have "self-censorship." Now President Susilo Bambang Yudhoyono also lectured about "self-censorship." What's wrong?

Burrying Indonesia's Millions: The Legacy of Suharto
Suharto introduced a "business model" for soldiers and businessmen. He built ties to merchants Liem Sioe Liong and Bob Hasan, accummulating immense wealth while using violence to repress dissension.

Kronologi Pengasuhan Norman
Norman kekurangan waktu belajar, istirahat dan bermain sejak dipindahkan ibunya dari Pondok Indah ke Bintaro. Jarak tempuh ke sekolah 120 km pergi-pulang. Ini ibu celaka. Child abuse adalah isu publik.

Resensi buku-buku soal majalah The New Yorker. Saya menulis dari redaktur Harold Ross, lalu William Shawn hingga David Remnick. Bagaimana ia menjadi icon kebudayaan Amerika Serikat?

Polemik Sejarah, Pers dan Indonesia
Kapan "pers Indonesia" lahir? Apa 1744 dengan Bataviasche Nouvelles? Apa 1864 dengan Bintang Timoer di Padang? Soerat Chabar Betawie pada 1858? Medan Prijaji pada 1907? Atau sesuai proklamasi Agustus 1945? Atau kedaulatan Desember 1949?

Murder at Mile 63
A Jakarta court sentenced several Papuans for the killing of three Freeport teachers in August 2002. Why many irregularities took place in the military investigation and the trial? What did Antonius Wamang say? How many weapons did he have? How many bullets were found in the crime site?

Protes Melawan Pembakaran Buku
Indonesia membakar ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah. Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia, maupun Hindia Belanda, dimana buku sekolah disita dan dibakar.

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta. Politikus Marrissa Haque pernah tanya, “Mas ini bekerja untuk bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?”

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Saya meliput Iwan Fals sejak 1990 ketika dia meluncurkan album Swami. Waktu itu Iwan gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Karir Iwan naik terus. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku Didekatnya


Yael Stefany Sinaga

Harus bagaimana aku baru disebut manusia? Melentang, merayap, atau merunduk?


Catatan: Cerita fiksi ini mulanya dimuat di Suara Universitas Sumatera Utara, sebuah web mahasiswa, di Medan, pada 12 Maret 2019. Namun Rektor Universitas Sumatera Utara Runtung Sitepu tak terima dan minta naskah dicabut. Alasannya, cinta antar individu LGBT "... tidak lagi mencerminkan visi misi USU." Sitepu hentikan web Suara USU dan mengancam akan hentikan selamanya. Blog ini memutuskan memuatnya agar orang bisa menentukan sendiri bagaimana bersikap terhadap cerita fiksi soal LGBT. Blog ini menganggap ia adalah persoalan kebebasan berekspresi. 



©2019 Surya A.D. Simanjuntak
“Kau penyakit bagi kami. Kau tak layak hidup. Bahkan di neraka saja orang-orang akan enggan dekat dengamu. Terkutuk lah kau wanita laknat!”

Aku tertunduk di tengah mereka. Bahkan sudah tak tahu berapa banyak ludah dari mulut mereka mendarat di badanku. Kurasakan alirannya lambat. Menetes dari atas ke bawah. Terpikirkan saat itu bahwa akan ada malaikat pelindung baik bersayap dan tidak bersayap menolongku.

“Kau dengar? Tidak akan ada laki-laki yang mau memasukkan barangnya ke tempatmu itu. Kau sungguh menjijikkan. Rahimmu akan tertutup. Percaya lah sperma laki-laki manapun tidak tahan singgah terhadapmu.”

Begitu lah hujatan tanpa henti yang kurasakan saat itu. Semenjak aku ketahuan memiliki perasaan yang lebih kepada Laras.

Apa yang salah?

Bedanya aku tidak menyukai laki-laki tapi aku menyukai perempuan walau diriku dilahirkan dengan kelamin perempuan.

***

Aku berasal dari keluarga yang sangat hancur. Berkeping-keping tanpa tersisa. Dulu aku mempunyai keluarga idaman banyak orang. Bapak seorang pemilik perusahaan kayu jati terbesar di Sumatera. Ibu seorang wartawan lokal yang bergerak dengan isu hak asasi manusia. Bapak tak mempermasalahkan kesibukan ibu yang melebihi dirinya. Bapak paham begitulah resiko menjadi wartawan.

Sempat ibu ingin mengundurkan diri menjadi wartawan untuk mengurus bapak dan membantu usaha bapak. Namun bapak menolak dengan alasan masyarakat masih membutuhkan ibu untuk memperjuangkan hidup, pendidikan, kesehatan serta tanah yang kini hampir terkikis. Jika dipikirkan bapakku sosok yang romantis namun klasik.

Lima tahun pernikahan bapak dan ibu, akhirnya lahir lah aku. Anak tunggal yang diberi nama Kirana Cantika Putri Dewi. Lahir secara normal. Ibu begitu kuat hingga sekali nafas panjang aku langsung lahir ke dunia ini. Kasihannya bapak yang menunduk akibat genggaman tanggan ibu yang begitu kuat dirambutnya. Kata bapak saat itu demi ibu dan si buah hati.

Ritual dan doa selalu dipanjatkan demi pertumbuhanku. Berharap aku berguna bagi masyarakat setidaknya untuk keluarga sendiri. Namun semua berubah semenjak kejadian itu. Para penguasa-penguasa jabatan dan tanah datang menindas.

Bapak terpaksa menutup usahanya. Dirinya ditipu oleh teman kerjanya. Kala itu menjanjikan keuntungan penjualan kayu ke Singapura sebesar 25 juta U$ dollar. Fantastis pikir bapak. Namun setelah transaksi pengiriman selesai, bapak kehilangan kontak. Mendadak teman kerja bapak tidak bisa dihubungi. Kabar terakhir, teman kerja bapak melarikan diri membawa uangnya ke negara adikuasa. Pilu yang dirasakan bapak saat itu. Karena stress bapak pun terserang stroke berat dan akhirnya meninggal dunia.

Makin parah ketika melihat situasi ibu. Kala itu krisis moneter. Banyak eksploitasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah saat itu. Rakyat banyak kehilangan tanah dan sumber daya alamnya. Ibu yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk HAM terjun tanpa ingat anak dirumah.

Lebih parah lagi. Ketika ibu menjadi buronan pemerintah. Ketika itu ibu menuliskan sebuah tulisan panjang yang berisikan kebohongan pemerintah dalam kurun waktu lima tahun belakangan. Ibu membuat kritikan tajam yang saat itu sangat membahayakan oknum siapapun. Dua minggu setelah tulisan ibu beredar, dikabarkan ibu hilang tanpa jejak. Ada yang bilang mati ada juga yang bilang melarikan diri. Dan nyatanya ibu tak pernah kembali.

Aku diadopsi oleh kakek dari ayah. Bukannya kasihan kakek malah mengumpatku dengan kata yang memilukan hati. Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menunduk diam.

“Sudah kubilang dulu sama bapakmu. Jangan menikah dengan wartawan. Tidak ada masadepan dan tidak pernah peduli sama suami dan anak. Lihat dirimu dan ayahmu. Ditinggal demi rakyat. Cuihh... pencitraan.”

Bantingan pintu pun mengakhiri pembicaraan. Aku tetap diam. Tidak tahu harus berbuat apa. Sejak itu aku menjadi wanita yang takut akan kehidupan luar.

***

Ada perubahan dalam diriku ketika berjumpa dirinya. Larasati Kesuma Wijaya mahasiswa arsitektur tiga tahun lalu. Senang berteman dengan kertas dan pensil. Rumah keduanya adalah bangku putih dibawah pohon belakang kampus. Anak legislatif. Cuman penampilan merakyat.

Berawal dari menyukai manga Jepang serta isu keberagaman. Kami akhirnya sangat akrab. Padahal aku bersumpah tidak akan berteman dengan siapapun. Karena menurutku manusia semuanya adalah serigala penghisap kebahagiaan. Jika tidak menguntungkan siap-siap saja kau akan dibuang.
Aku beragama kristen sedangkan dia memeluk agama islam. Tak apa. Tidak ada yang berbeda.

Sama-sama mengajarkan untuk saling mengasihi sesama manusia. Bahkan baginya Tuhan, agama dan kepercayaan adalah hal yang berbeda.

“Kalau setiap hari bawa-bawa agama, lama-lama Tuhan bosan juga,” ucap Laras.

Dia mirip ibu. Keras kepala serta ambisius. Tak segan-segan mengutarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Tak peduli siapa dan latar belakangnya. Ini pernah terbukti saat dirinya melawan seorang dosen yang selalu menekan mahasiswa dengan nilai.

Keistimewaannya ini lah yang berhasil memunculkan perasaan ini. Perasaan yang kurasakan semakin menjadi. Entah kenapa nyaman sekali berada didekatnya. Merasa bahagia ketika melihat dia dengan penuh semangat melukis diatas kertas. Dia cantik. Bahkan cantik luar biasa. Banyak lelaki menunggu. Termasuk perempuan sepertiku.

Kuberanikan diri untuk mengakui. Lama-lama tak sanggup juga menyimpan perasaan aneh ini. Pertama-tama memberikan tanda terlebih dahulu. Aku sering membelikkannya kopi botolan agar tidak mengantuk dikelas. Lalu cokelat setiap kali dirinya merasa sedih. Memeluknya dan membelai kepalanya ketika menangis. Semua kulakukan karena aku sudah jatuh cinta.

Menggenggam tangannya ketika kami keliling mall untuk membeli sesuatu. Tak jarang bersandar dibahunya hanya untuk melepas lelah. Saat itu terasa sangat indah. Ternyata semua berubah semenjak kejadian itu. Para penguasa mayoritas datang untuk menindas.

Waktu itu dirinya ingin bertunangan dengan Aryo teman sekelasnya semasa SMA. Rupanya Laras dijodohkan dengan orang tuanya. Ibu Aryo adalah teman kecil ayah Laras. Mereka pun berjanji untuk menikahkan anak mereka. Mengetahui kabar ini hatiku hancur untuk kesekian kalinya. Kejadian dua belas tahun yang lalu seakan terjadi lagi.

Namun seakan tidak mau hancur terlalu dalam, aku beranikan diri untuk jujur kepada Laras. Aku datang ke acara pertunangannya. Teriak di kerumunan banyak orang. Semua terdiam dan menatapku heran. Bahkan Laras juga terlihat bingung. Aku berjalan ke atas panggung, mengambil microfon dan mulai berbicara.

“Aku minta maaf. Terimakasih untuk semuanya, Laras. Tapi harus bagaimanakah aku disebut sebagai manusia? Kau mengingatkanku pada ibu. Sejak saat itu aku mulai mencintaimu. Mencintai semua yang ada padamu. Sakit sekali ketika aku harus tahu kau akan berbahagia dengan Aryo bukan denganku. Kau boleh bilang aku gila. Boleh bilang aku wanita tak tahu malu. Tapi izinkan wanita murahan sepertiku untuk menyatakan apa yang kurasakan. Bukankah kau mengajarkan aku untuk berani mengungkapkan perasaan? Kini kubuktikan, Laras. Bahwa aku mampu membuatmu bahagia. Menikahlah denganku.”

Tiba-tiba seseorang menyeretku dengan paksa. Baju yang baru kujahit koyak sebagiannya. Aku didorong ke tengah-tengah tamu yang datang. Sejuta mata memandangku dengan amarah. Hujatan dan ludah yang keluar dari mulut terus datang menghampiri.

Tidak ada satupun yang iba menolong. Bahkan Laras hanya menatapku nanar.

***