Saturday, May 18, 2019

Mengikuti #BelgianPride di Brussels

Saya berumur 54 tahun, kebetulan lagi perjalanan dinas di Brussels, ketika tahu bakal ada #BelgianPride 🏳️‍🌈 di pusat kota. Sesudah bertemu dengan seorang kenalan, diplomat Amerika, kini tugas di North Atlantic Treaty Organization, saya memutuskan untuk ikutan parade.

Kebetulan tempat saya menginap, Hotel NH Brussels Grand Place Arenberg, hanya terletak dua blok dari tempat dimana parade dimulai.

Saya sempat tanya kepada rekan-rekan Human Rights Watch di Brussels. Hanya ada tiga orang ikutan. Satu dari Brussels tapi satunya terbang dari Beirut, Lebanon, buat ikutan. Satunya lagi, seorang ibu dari dua anak asal Amerika Serikat --etnik India-- akan  agak sorean. Kami janjian bertemu di tempat parade. Ternyata buat salin bertemu bukan perkara mudah. Ada puluhan ribu orang ikut parade. 

Saya memutuskan menikmati saja Brussels Parade dengan berbagai rombongan serta mengambil gambar. Saya tersentuh melihat seorang ibu dan anak perempuannya. Mereka menerima anak atau abang mereka seorang gay. 

"My brother is gay, so what?" 

Saya sering wawancara individu lesbian, gay, bisexual dan transgender di Indonesia. Saya mengerti betapa mereka menderita, bahkan ketakutan, dengan penolakan keluarga terhadap orientasi seksual mereka. Saya senang lihat ibu dan anak ini di Belgia mau membantu keluarga-keluarga lain --bila memilih anak dengan orientasi seksual LGBT. Semoga kesadaran serupa tumbuh cepat di Indonesia 

 Menariknya, ketika memperhatikan route parade di Google Map, saya lihat Google mewarnai rute tersebut dengan warna pelangi. Anda perhatikan ada tanda "Grand Place." Ia adalah lokasi dekat hotel saya.

Hotel saya bahkan terletak dekat route utama.

Kami jadi bisa menikmati parade dengan mudah: melihat orang menari, dengar musik berbagai macam ragam. Saya mengikuti parade ini dari ujung ke ujung, termasuk panggung musik dekat stasiun Brussels.

Ada suasana gembira. Ada berbagai macam ragam orang. Saya melihat kelompok gay yang bisu dan tulis. Saya melihat organisasi lesbian yang didukung oleh rekan-rekan perempuan hetero mereka. Berbagai macam ras ikutan parade. Tua dan muda. Macam kawan saya yang datang dari Beikut, saya juga lihat ada rombongan orang Arab, ikutan parade. Orang kulit hitam, kulit kuning, kulit putih, sawo matang, semuanya ada.


Saya perhatikan berbagai gedung pemerintahan juga memasang bendera pelangi. Mereka mengucapkan selamat merayakan parade, selamat bergembira. Dari kantor walikota sampai berbagai perkumpulan dagang.

"We're stronger together," teriak sebuah pidato.



Parade dimulai dengan sebuah bendera pelangi, ukuran raksasa, dibuat membuka jalan. Penonton ramai. Musik juga ramai, dari lagu Diana Ross "I'm Coming Out" (1980) sampai George Michael "Freedom" (1990) sampai "Brave" karya Sarah Bareilles (2013) bisa dinikmati.

Saya merasa belajar soal hak minoritas orientasi seksual. Dulu saya tak tahu bahwa lagu Diana Ross bicara soal kesulitan, diskriminasi, individu LGBT ketika mau malela (coming out). Dulu saya tahu ada tetangga, dua perempuan, hidup bersama-sama. Biasa saja. Mereka bekerja, mereka mencari makan seperti kebanyakan orang.

Pikiran saya soal hak LGBT dibuat tersentak, bukan dalam diskusi atau dalam bacaan, tapi dalam suatu perbincangan ringan, suatu sore ketika menunggu kelas mulai, dengan guru jurnalisme saya, Bill Kovach, di Universitas Harvard, pada 1999.

Kovach bilang dia percaya Amerika Serikat akan melegalkan "gay marriage" sebelum dia meninggal. Saya mengerti bahwa dalam masyarakat saya selalu ada individu LGBT. Namun mendengar ide perkawinan sesama jenis, buat saya, ibaratnya disambar petir. 

Saya bilang pada Kovach bahwa saya belum bisa mengerti. Bayangan saya seorang menikah itu antara seorang lelaki dan seorang perempuan

Kovach bilang individu LGBT juga berhak saling menunjang dalam hubungan mereka: warisan, asuransi kesehatan, membesarkan anak. 

 
Saya diam saja. Namun saya percaya pada integritas dan keilmuan Kovach. Perbincangan tersebut membuat saya selalu ingat akan kata "LGBT rights."

Saya ingat ucapan Bill Kovach ketika Presiden Barack Obama mendukung hak LGBT. Prosesnya tak langsung drastis tapi bertahap sampai 2014.

Hak LGBT makin saya dalami ketika saya bekerja untuk Human Rights Watch. Saya membaca buku, jurnal kesehatan, makalah psikiatri dan sejarah. Pada 2016, kami menerbitkan laporan penindasan kepada individu LGBT. Judulnya, Permainan Politik Ini Menghancurkan Hidup Kami” Kelompok LGBT Indonesia dalam Ancaman.

Pada 2018, kami menerbitkan laporan setebal 70-halaman berjudul "Takut Tampil di Hadapan Publik dan Kini Kehilangan Privasi: Dampak Hak Asasi Manusia dan Kesehatan Masyarakat dari Kepanikan Moral Anti-LGBT”. Laporan tersebut mencatat bagaimana retorika kebencian di Indonesia berubah menjadi tindakan main yang menyalahi hukum berbagai instansi pemerintah dan pejabat –kadang bekerjasama dengan organisasi militan– terhadap orang-orang yang diduga LGBT.

Saya kira pemahaman saya akan hak LGBT sudah jauh lebih maju dari ketika berbincang dengan Kovach. Di Brussels, saya senang lihat ada Rainbow Cops --perkumpulan polisi Belgia yang anggota-anggotanya dukung hak LGBT. Saya kirim foto dari Rainbow Cops ini kepada seorang polisi di Semarang yang diberhentikan dari kepolisian karena dia seorang gay.

No comments: