Sunday, July 14, 2024

"Andreas Harsono is not well known to the public but he is very well known among a small network of human rights activists, dissident scholars, Indonesian journalists, and foreign correspondents. He is often the fixer behind their stories – unacknowledged, unassuming, unselfish. Now he has shown just what a superb chronicler he is in his own right."

Clinton Fernandes of University of New South Wales University
on Andreas Harsono's book Race, Islam and Power


Andreas Harsono meliput dampak dari tsunami 2014 di Aceh. Ombak raksasa tersebut membunuh lebih 100,000 orang dan mengakhiri perang selama tiga dekade antara Gerakan Acheh Merdeka dan Indonesia lewat perjanjian damai Helsinki pada Agustus 2015. ©Hotli Simanjuntak

Media dan Jurnalisme

Majalah Pantau
Saya bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur) serta majalah Pantau (Jakarta) soal media dan jurnalisme.

Sejak umur 20 tahun, saya suka menulis soal jurnalisme, mulai dari sejarah sebuah majalah mahasiswa di Salatiga sampai kebebasan pers di Asia Tenggara. Bill Kovach, guru jurnalisme, mendidik saya buat menjadi wartawan yang lebih baik ketika belajar di Universitas Harvard. Ini membuat saya suka buat berbagi pengalaman dan ilmu, dari etika sampai liputan.

Buku dan Laporan

Monash University Publishing 2019
Saya menerbitkan dua antologi –Jurnalisme Sastrawi (2005) bersama Budi Setiyono dan “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011)—serta beberapa laporan termasuk Prosecuting Political Aspiration: Indonesia’s Political Prisoners (2010), In Religion’s Name: Abuses Against Religious Minorities in Indonesia (2013) serta "I Wanted to Run Away": Abusive Dress Codes for Women and Girls in Indonesia (2021). Pada 2019, buku Race, Islam and Power terbit.
 

Hak Asasi Manusia

Filep Karma
Sejak 2008, saya bekerja sebagai peneliti buat Human Rights Watch. Ia membuat saya banyak menulis soal diskriminasi terhadap minoritas agama di Indonesia: minoritas dalam Islam termasuk Ahmadiyah dan Syiah; minoritas non-Islam termasuk Protestan, Katholik, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu; minoritas agama kecil maupun agama baru macam Millah Abraham. Minoritas gender --termasuk perempuan serta LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer)-- juga sering saya bahas. Secara geografis saya juga banyak menulis minoritas etnik macam Aceh, Kalimantan, Jawa, Maluku, Timor serta Papua.

Perjalanan

Chiang Mai 2018
Saya pernah jalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, lebih dari 80 lokasi, selama tiga tahun. Saya menulis tempat menarik. Saya juga sering menulis perjalanan di negeri jauh, dari Eropa sampai Amerika, praktis berbagai kota besar di Asia Tenggara. 

Cerita

Glodok, Jakarta 2019
Ini soal pengalaman hidup, dari kegembiraan sampai kesedihan, dari kawan sampai adik. Saya selalu tinggal di Pulau Jawa --Jember, Lawang, Malang, Salatiga, dan Jakarta-- namun pernah bermukim di Phnom Penh dan Cambridge. Kedua anak saya lahir di Jakarta. Isteri saya, Sapariah Saturi, kelahiran Pontianak, pindah ke Jakarta kerja. Saya sering mengunjungi New York. Mungkin kawan saya di luar Indonesia, paling banyak di New York. 

Andreas Harsono: Dengan Pembangunan Berkesinambungan, Maja Bisa Menjadi Tempat Tinggal yang Lebih Baik dari Jakarta


Andreas Harsono adalah seorang wartawan, aktivis, dan peneliti, yang kini bermukim di Maja, Lebak. Sebelumnya ia tinggal selama 30 tahun di Jakarta, dan pernah tinggal di Phnom Penh (Kamboja), Bangkok (Thailand), serta New York (Amerika Serikat). 

Kiprahnya di dunia jurnalistik dimulai sejak tahun 1980-an saat dia meliput dampak negatif ketergantungan sistem transportasi Indonesia pada motorisasi. Selama 3 dekade terakhir ia banyak menulis soal hak asasi manusia. 

Andreas ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen pada 1994, lantas membangun Institut Studi Arus Informasi dan Yayasan Pantau di Jakarta. Ia menulis soal privatisasi Perusahaan Air Minum Jakarta sejak 1998. Dia turut mengkritik berbagai kebijakan pemerintah Indonesia soal penyedotan air tanah di Jakarta. Dia secara konsisten menulis soal bahaya permukaan tanah Jakarta turun, risiko kemacetan lalu lintas, polusi udara dan suara, serta kekacauan negara Indonesia dalam memberantas korupsi. 

Pada Sabtu 13 Juli 2024, SekitarMaja.com berkesempatan untuk mewawancarai Andreas yang sejak awal 2024 tinggal di rumah barunya di Citra Maja Raya bersama sang istri, Sapariah Saturi, yang juga seorang wartawan dan editor dari Mongabay Indonesia. 

Bersama SekitarMaja.com, Andreas berbicara mengenai alasannya memilih untuk bermukim di Maja, pandangannya soal Kota Mandiri Maja, serta keresahannya mengenai kerusakan lingkungan hidup di daerah Maja dan sekitarnya. 

Berikut petikan wawancara SekitarMaja.com bersama Andreas Harsono.

Andreas Harsono pindah dari Jakarta karena
polusi udara, polusi suara, kemacetan lalu lintas, dan banjir.

Bagaimana Anda memutuskan untuk tinggal di Maja?

Sapariah Saturi, isteri saya, punya kegemaran berkebun. Dia pernah berkebun di puncak apartemen tempat kami tinggal di bilangan Palmerah, Jakarta. Namun, pada Mei 2021 atap apartemen tak bisa lagi jadi kebun. Kami terdorong mencari rumah tapak agar bisa berkebun. 

Daya dorong lain adalah polusi udara, polusi suara, kemacetan lalu lintas, dan banjir di Jakarta. Belum lagi permukaan tanah Kota Jakarta yang turun sekitar 17 centimeter rata-rata tiap tahun. Pada 2050, Senayan dan Palmerah diperkirakan jadi pinggiran pantai bila Pemerintah Indonesia tak ambil tindakan serius buat hentikan pengambilan air tanah. 

Kami sekeluarga –termasuk dua anak– ingin punya tempat dengan lingkungan lebih baik. Saya pribadi ingin tinggal di tempat yang jauh lebih sepi, lebih tenang dari Palmerah. Saya sudah tiga dekade tinggal di bilangan Palmerah. 

Namun, ada juga daya tarik. Kebetulan ada kawan-kawan kami, dari Rangkasbitung, Lebak sampai Tigaraksa, yang mengajak kami membeli rumah di daerah ini. Dari Google Maps, mudah dilihat bahwa daerah sekitar Jakarta yang masih hijau adalah sisi barat di Kabupaten Lebak. Sisi timur (Bekasi), sisi selatan (Depok dan Bogor) bahkan sisi barat terdekat (Tangerang dan Tangerang Selatan) sudah didominasi beton. 

Seorang wartawan yang tahu liputan saya dan tampaknya juga paham dengan pengetahuan saya soal hak akan air dan sanitasi berkata, ‘Mas Andreas beli saja rumah di Maja. Hitung-hitung bisa bantu mengawasi air dan sungai di Lebak.’” 

Apa kelebihan Maja sebagai sebuah kota mandiri? Dan hal apa yang harus ditingkatkan lagi agar Maja bisa menarik lebih banyak orang untuk mau tinggal di sini?

Saya lihat semua perumahan di daerah Maja, kurang-lebih sama dengan real estate lain di Indonesia, misal di Tangerang Selatan, termasuk kawasan Bumi Serpong Damai, Agung Sedayu, Alam Sutera, Metropolitan Land dan lainnya. Tujuan bisnis mereka praktis hanya mencari laba. Ada pemanis yang benar baik, misalnya pembangunan stasiun Cisauk dan Jurangmangu, yang lebih ramah pejalan kaki. 

Di Indonesia, mudah-mudahan saya salah, belum terlihat perusahaan pengembang dengan visi soal perumahan yang ramah lingkungan. Kalau pemerintah Lebak, maupun semua developer besar di Maja, mau membuat daerah ini lebih ramah lingkungan, mereka perlu mengajak warga duduk dan bicara – baik warga setempat maupun para pendatang. 

Maja bisa menjadi tempat tinggal yang lebih baik dari Jakarta, maupun Tangerang Selatan, bila dilakukan “pembangunan berkesinambungan” –meminjam istilah dari Emil Salim, ekonom dan profesor emeritus dari Universitas Indonesia.” 

Cara pandangnya bagaimana?

Pada 1970-an ketika mulai bangun Singapura, Perdana Menteri Lee Kuan Yew mengatakan ada empat indikator kota terbelakang: perumahan kumuh, kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan banjir. 

Singapura bangun mulai bangun MRT (kereta api dalam kota) pada 1987. Udara bersih, kebisingan terjaga. Trotoar dibangun dengan permukaan rata. Perumahan kumuh diganti dengan apartemen bersubsidi. 

Bandingkan dengan Bumi Serpong Damai? Banjir ada! Motorisasi kencang! Trotoar minimal. Sering trotoar dibuat dengan undak-undak, permukaan tidak rata, tak ramah pejalan kaki. Tiap ada bangunan, entah rumah atau bisnis, permukaan trotoar naik-turun. 

Trotoar dan MRT adalah indikasi sistem transportasi berkelanjutan. Perumahan kumuh silakan periksa sendiri. Gated community biasanya rapi di dalam, tapi beda sekali di balik tembok. Coba lihat perumahan sekitar stasiun Sudimara. Saya berani bertaruh dengan mengandalkan jalan-jalan lebar, tanpa bangun trotoar dan dorong kereta api, Tangerang Selatan akan macet dalam satu dekade. 

Saya memilih Citra Maja Raya dari Ciputra Group lebih karena saya agak kenal almarhum Ciputra. Saya kenal beberapa kolega Ciputra termasuk Goenawan Mohamad dan Eric Samola. Goenawan pendiri majalah Tempo. Samola berperan dalam membangun Bintaro Jaya, background hukum, bantu menyusun pendekatan hukum dalam pembebasan lahan Bintaro. Saya kenal mereka karena dulu pernah bekerja di Institut Studi Arus Informasi pimpinan Goenawan Mohamad. Ciputra juga suka seni. Naluri saya mengatakan orang dengan kepekaan seni macam Ciputra seharusnya lebih menghargai alam. 

Anda, istri dan suami, memiliki rumah yang direnovasi dengan unik, tak seperti rumah-rumah lain. Bisa jelaskan konsep renovasi rumah Anda secara singkat? Apakah ada tujuan di balik pemilihan konsep tersebut?

Sapariah ingin rumah kecil yang dibelinya di Maja diperbesar, rumah dua lantai, dengan tapak tanah, yang terpaksa ditutup buat bangunan, diganti dengan lahan buat tanaman. Dia minta Yu Sing, arsitek dari Akanoma Bandung, buat merancang desain rumah. Deni Nugraha dari Akanoma juga ikut mengerjakan arsitektur rumah. 

Compok Cellep, dalam bahasa Madura,
artinya rumah yang sejuk. 
Menurut Yu Sing, prinsipnya sederhana. Rumah perlu banyak ventilasi serta lahan buat tanaman. Makin banyak tanaman, makin mudah rumah jadi adem. Hukum alam, udara panas naik dari bawah ke atas. Maka ventilasi diatur agar udara mengalir ke atap rumah. Ia dilengkapi dengan lubang-lubang angin. Lantai rumah dipilih ubin dengan pori-pori lebih besar daripada keramik agar buat rumah adem. Daun pintu dilengkapi dengan jendela. 

Jadinya, rumah 2,5 tingkat, termasuk kebun sayur di atap rumah. Sapariah memberi nama “Compok Cellep” –dari bahasa Madura, artinya “rumah sejuk.” Saya melihat keputusan kami sebagai pengejawantahan prinsip act local think global. 

Kontraktornya, Studio 8 dari daerah Bumi Serpong Damai, berusaha pakai bahan dan supplier lokal, dari kayu sampai kusen, agar memberdayakan sumber lokal dan tak terlalu banyak karbon dipakai buat transportasi. 

Kami sadar daya kami sangat terbatas. Setidaknya, kami ingin bikin rumah dengan kesadaran akan perubahan iklim, akan daya rusak dari perumahan-perumahan raksasa.” 

Bagaimana Anda melihat Maja di masa depan, mungkin 5-10 tahun lagi? Apakah mungkin ia bisa berkembang lebih pesat dibandingkan IKN?

Pada Maret 2024, Presiden Joko Widodo menetapkan dua daerah dekat Maja, sebagai proyek strategis nasional. Namanya lumayan muluk: Kawasan Ekonomi Khusus di Kawasan BSD City (Tangerang Selatan) dan Kawasan PIK 2 Tropical Coastland (Banten). BSD City milik Sinar Mas Group. Pantai Indah Kapuk milik developer Agung Sedayu Group. Beberapa orang mengatakan bahwa memberikan status proyek strategis nasional –dari kemudahan perizinan sampai mekanisme pembiayaan – adalah bentuk balas budi Presiden Jokowi terhadap kedua perusahaan tersebut yang bersedia menanamkan modal di Ibu Kota Nusantara di Pulau Kalimantan.

IKN dibuat karena Presiden Jokowi merasa Jakarta sudah terlalu ruwet buat diselamatkan. Cepat atau lambat, Jakarta, terutama daerah utara akan tenggelam. 

Pusat pemerintah dipindahkan ke Nusantara. Lantas warganya ke mana? 

Tangerang Selatan adalah salah satu pilihan –selain Bekasi dan Bogor. Maka BSD City dicarikan status tersebut. Pantai Indah Kapuk akan tenggelam karena terletak di utara Jakarta. Namun, ia akan diatasi dengan pengurukan sehingga permukaannya jauh lebih tinggi dari utara Jakarta. 

Sejak Februari 2024, ketika pindah ke Maja, kami merasakan keluhan warga Maja, Taman Adiyasa, Tigaraksa, secara luas, soal truk-truk tanah, menggali berbagai lahan di Maja dan Jasinga. Setiap malam bikin macet, membawa tanah ini, antara lain untuk Pantai Indah Kapuk. 

Tanah-tanah ini diambil dari lahan dengan banyak pohon bambu serta tanah kapur. Ini adalah tanaman dan lahan yang banyak simpan air. Saya tak tahu akan bagaimana bentuk Maja dengan laju kerusakan lingkungan yang begitu cepat. 

Lebih penting lagi adalah membangun masyarakat sipil di Lebak, termasuk Maja, agar berbagai perubahan yang cepat, bisa diimbangi dengan masukan dari masyarakat sipil –baik dari penduduk asli maupun para pendatang. Berbagai perubahan atas nama pembangunan ini perlu didokumentasikan, perlu liputan bermutu, perlu komunikasi dengan para pemangku jabatan pemerintah agar keseimbangan lingkungan dan pembangunan bisa dijaga lebih baik.” (*)