Sunday, November 25, 2018

α


“Do not be too eager to deal out death and judgement, for even the very wise cannot see all ends. All we have to decide is what to do with the time that is given to us.”

J.R.R. Tolkien with his shaman Gandalf in the The Lord of the Ring 

“When copies are free, you need to sell things which cannot be copied. The first thing of these is trust. Trust must be earned, over time."

Kevin Kelly Wired internet magazine editor.

Pemandangan di kota Toronto dimana ada program bike share. Ini sepeda bisa dipakai bersama-sama. Sepeda bisa diparkir di tempat-tempat yang ditentukan. Ia membantu mengatasi kemacetan lalu lintas karena orang didorong pakai moda transportasi campuran. Ia dengan mudah ditemukan dekat stasiun kereta api. Orang bisa naik kereta api lalu pindah sepeda. Program ini juga pernah saya lihat di Brussels, New York dan Washington DC. 

Febriana Firdaus dapat penghargaan keberanian dalam jurnalisme

Yayasan Pantau memperkenalkan Penghargaan Oktovianus Pogau di Indonesia. Ia diberikan pertama kali kepada Febriana Firdaus asal Kalisat. Penghargaan ini tak diberikan uang maupun acara agar Yayasan Pantau bisa melulu diskusi soal seleksi penerima tanpa dibebani pendanaan.

Match Words with Action on Papua Rights Abuses
My essay about the Joko Widodo government approach on rights abuses in West Papua and Papua provinces.

Media dan Jurnalisme
Ingin belajar menulis? Ada empat kategori dalam pembelajaran media dan jurnalisme: Laku wartawan; Meliput; Menulis; dan Dinamika ruang redaksi.

Indonesia Divided?
Steve Paikin of TV Ontario interviewed me about the rise of religious discriminations and violence. President Susilo Bambang Yudhoyono introduced "religious harmony" against the Constitutional religious freedom.

Doa Anak Telanjang
Puisi karya Pastor John Djonga dari Pulau Flores, diciptakan saat sahabatnya, Yosepha Alomang dari Timika, dapat penghargaan Yap Thiam Hien di bidang hak asasi manusia. Djonga membacakan puisi saat Mama Yosepha menerima penghargaan. Dan sekali dibacakannya ketika Djonga sendiri juga menerima penghargaan tersebut.

Dari Thames ke Ciliwung
Bagaimana pemerintah Indonesia lakukan privatisasi terhadap perusahaan air minum Jakarta?


Mengapa Kekerasan Atas Nama Agama Marak?
Human Rights Watch menerangkan hukum dan peraturan yang diskriminatif serta empat lembaga negara dan semi-negara fasilitasi diskriminasi di Indonesia.

Bagaimana jurnalisme zaman internet?
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel bahas pengaruh internet pada jurnalisme. Media makin kehilangan fungsi "penjaga gawang" informasi.

Indonesia Is No Model for Muslim Democracy
World leaders love to praise Indonesia as a model for Muslim democracy. Is that right?

Belajar dari Filep Karma
Seorang cendekiawan Papua bicara nasib bangsa Papua: tersingkir di tanah mereka sendiri. Dia dipenjara 15 tahun oleh pengadilan Indonesia.

Akar Kekerasan Kalimantan
Lebih dari 70 warga Pontianak dan Singkawang keluarkan Seruan Pontianak, minta agar warga berhati-hati dengan kekerasan.

Indonesia ignores calls for tobacco reform
Indonesia is one smoking giant. In 2009, 28 percent of Indonesian adults were smokers and more than half of men smoke.

Peluncuran Antologi di Pekanbaru
Bahana Mahasiswa meluncurkan 'Agama' Saya Adalah Jurnalisme di perpustakaan Soeman HS, Pekanbaru. Ada pertunjukan Teater Rakyat.

Antologi Kedua
Saya mempersiapkan antologi baru berisi berbagai laporan panjang, minimal 5,000 kata, tentang hak asasi manusia dan pertikaian di berbagai tempat di Indonesia. Ia juga berisi revolusi komunikasi di dunia berkat kedatangan internet. Mulai dari Google hingga Facebook.

Kriminalisasi Aspirasi Politik
Mereka menaikkan bendera RMS atau bendera Bintang Kejora. Mereka ditangkap, disiksa, dihukum dengan proses peradilan yang buruk dan kini dipenjara tahunan.

Obama Has the Power to Help Papua
Young Barack Obama noticed his stepfather’s great unease and silence about his one-year military service in New Guinea. Obama has the power to "the weak man."

Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia
Selama satu dekade warga Ahmadiyah di Pulau Lombok diusir dari satu desa ke desa lain. Bagaimana melihat pelanggaran hak asasi manusia ini dari kenegaraan Indonesia?

Antara Sabang dan Merauke
Berkelana dari Sabang ke Merauke, wawancara dan riset. Ia termasuk tujuh pulau besar, dari Sumatera hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana.

Cermin Jakarta, Cermin New York
Resensi buku-buku soal majalah The New Yorker. Dari redaktur Harold Ross, lalu William Shawn hingga David Remnick. Bagaimana ia menjadi icon kebudayaan Amerika Serikat?

Burrying Indonesia's Millions: The Legacy of Suharto
Suharto introduced a "business model" for soldiers and businessmen. He built ties to merchants, accummulating immense wealth while using violence to repress dissension.

Dominikus Sorabut dan Putu Oka Sukanta
Penghargaan Hellmann/Hammett 2012 untuk keberanian membela hak berpendapat. Sukanta ditangkap pada 1966 dan ditahan, tanpa pengadilan, selama 10 tahun di Jakarta. Sorabut dipenjara sejak 2011 di Jayapura.

Sebuah Kuburan, Sebuah Nama
Di Protestant Cemetery, Penang, terdapat sebuah makam untuk James Richardson Logan, seorang juris-cum-wartawan, yang menciptakan kata Indonesia pada 1850.

Makalah Criminal Collaborations
S. Eben Kirksey dan saya menerbitkan makalah "Criminal Collaborations?" di jurnal South East Asia Research (London). Ia mempertanyakan pengadilan terhadap Antonius Wamang soal pembunuhan di Timika.

Moedjallat Indopahit
Satu majalah didisain sebagai undangan pernikahan. Isinya, rupa-rupa cerita. Dari alasan pernikahan hingga kepahitan sistem kenegaraan Indonesia keturunan Majapahit.

Buku-bukuan "Jurnalisme Sastrawi"
Buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat --editor Budi Setiyono dan Andreas Harsono-- praktis makin sulit ditemukan di toko buku. Semua naskah antologi tersebut tersedia lewat blog ini.

Struktur Negara Federasi
Rahman Tolleng bicara soal struktur federasi di Indonesia. Kuncinya, kekuasaan ditaruh di tangan daerah-daerah lalu diberikan sebagian ke pusat. Bukan sebaliknya, ditaruh di pusat lalu diberikan ke daerah: otonomi. Bagaimana Republik Indonesia Serikat?

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta. Politikus Marrissa Haque pernah tanya, “Mas ini bekerja untuk bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?”

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Pada 1990 Iwan Fals meluncurkan album Swami. Dia mulai gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Friday, November 23, 2018

Cerita Budi Pego soal Spanduk Komunis ‘Siluman’ di Aksi Tolak Tambang Tumpang Pitu

Andreas Harsono
Mongabay

Juli lalu, selama tiga jam, saya naik mobil, dari Kota Banyuwangi menuju Dusun Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur. Berkendara dengan medan meliuk-liuk di daerah Blambangan –dulu kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa—sampai ke Pantai Merah, daerah wisata instagramable, dekat Pancer.

Mobil kami melewati gerbang tambang Tumpang Pitu, sekitar 100 meter dari sana kediaman Heri Budiawan alias Budi Pego, aktivis lingkungan, seorang pedagang kayu dan tahanan politik gara-gara melawan tambang emas di Tumpang Pitu.

Tujuan kami datang, solidaritas terhadap Budi Pego dan puluhan warga di Pesanggaran, yang melawan tambang emas dan pernah ditahan atau dipenjara. Dwi Ratna Sari, perempuan yang berjuang menolak tambang, juga korban kriminalisasi, ikut menemani kami mengobrol. Laeliyatul Masruroh, aktivis Nahdlatul Ulama dari Depok, ikut serta.

Anda bisa lihat Tumpang Pitu lewat Google Earth. Di sana, bisa lihat bahwa Pesanggrahan, maupun Pantai Merah, sudah krowak --dirusak oleh penggalian besar-besaran tambang emas. Lubang-lubang menganga, beberapa kali lipat ukuran Pancer. Jalanan berdebu. Tanah, air dan udara rusak. Google Earth mengingatkan saya pada lubang dan galian sekitar Freeport di Papua.

Budi Pego, aktif menyuarakan penolakan tambang emas Tumpang Pitu karena berdampak buruk bagi lingkungan dan manusia. Lewat aksi damai dia bersama warga menyuarakan penyelamatan Tumpang Pitu dan lingkungan sekitar dari kerusakan dampak tambang emas.

Budi dituduh menyebarkan “komunisme” lewat pengibaran spanduk dengan logo palu dan arit dalam suatu demonstrasi pada 4 April 2017. Dia diadili dan kena penjara 10 bulan, antara 4 September 2017-1 Juli 2018.

Kami datang ke rumah Budi sekitar tiga minggu sesudah dia bebas dari penjara Banyuwangi namun masih menunggu kasasi dari Mahkamah Agung. Budi Pego bersikeras mencari kebenaran. Dia ngotot tak bersalah.

Keputusannya, keluar pada November 2018, Mahkamah Agung menguatkan keputusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur bahkan menghukum Budi Pego, jauh lebih berat, empat tahun penjara. Dia kecewa. Langkah berikutnya, mungkin mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.

Budi Pego, petani dan pedagang, aktivis menolak tambang emas Tumpang Pitu.

Ringkasan perbincangan Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch dan Laeliyatul Masruroh dari Nahdlatul Ulama dengan Budi Pego dan Dwi Ratna Sari:

Harsono: Ceritakan asal usul bisa bendera palu arit muncul saat aksi?

Budi: Tambang ini ada dua perusahaan: PT Bumi Suksesindo dan PT Damai Suksesindo. DSI produksi. BSI eksplorasi. Dampaknya, kita rasakan sekarang, bukan hanya rusak gunungnya, sampeyan bisa lihat sendiri jalanan –mulai dari tahun 2016 rusak sampai sekarang. Kalau panas berdebu, kalau hujan jadi lumpur.

Kita sudah lapor ke Dinas Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah Banyuwangi, ngomong juga ke Bupati Banyuwangi Azwar Anas. Tak ada tanggapan. Kita rencana aksi 4 April 2017. Sama Polsek Pesanggaran, pukul 6.00 pagi itu sudah ada di sini. Kapolsek sudah ada di sini. Ada enam polisi. Anggota Kodim Banyuwangi juga.

Harsono: Anggota kepolisian itu siapa saja?

Budi: Kalau semua nama saya nggak hapal. Tapi ada Pak Rudi, Wakapolsek. Intelnya Pak Rauf. Waktu kita buat spanduk, Pak Rauf mendokumentasikan. Saya menulis (spanduk) soal Bupati Anas. Itu ada rekamannya. Tak ada satu pun yang gambar palu arit. Kalau waktu pembuatan ada, paling tidak salah satu dari anggota kepolisian sudah mencegah atau menangkap pembuatnya.

Harsono: Berapa spanduk yang dibikin di rumah sampeyan?

Budi: Sebelas. Semua tak ada satu pun yang bergambar palu arit. Kita aksi di Kecamatan Pesanggaran. Kita masang spanduk 10. Setelah itu ada muncul beberapa orang yang kita tidak kenal. Ratna yang memegang spanduk. Saya menyentuh spanduk saja tidak. Aksi sampai selesai, Polsek Pesanggrahan ada semua.

Anehnya, ada orang BSI katanya lewat, dalam laporan kepada polisi. Saya nggak yakin orang BSI berani lewat. Setiap saya aksi bersama teman-teman, nggak ada satu pun orang BSI berani lewat. Pasti menghindar. Ini kayak sebuah rekayasa.

Harsono: Yang melaporkan palu arit siapa?

Budi: General Manager BSI Bambang Wijanarko. Satunya lagi, yang jadi saksi, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Pesanggrahan. Namanya Madinudin --(Budi Pego juga anggota Nahdlatul Ulama).

Harsono: Bendera itu muncul pukul berapa?

Budi: Sekitar jam empat.

Harsono: Tulisannya apa?

Budi : Tulisannya, “Karyawan Dilarang Lewat Jalur Ini” … terus ada gambar katanya “palu arit.”

Ratna Sari: Sesudah aksi di Kecamatan Pesanggaran, kita istirahat sebentar, minum makan. Jalan itu satu-satunya untuk lewat. Aksi kita sekitar 50 orang. Di kecamatan ada ratusan orang. Kan makin sore.

“Wah, ada orang demo, ada orang apresiasi, jadi banyak.”

Kita tidak mengenali siapa-siapa saja yang ada di situ. Ketika kita habis istirahat, kita duduk bersama warga.

Terus ada segerombolan wartawan. Dia membawa kamera. Dia menyuruh, “Ayok bu, kita foto semua. Ayok bapak-bapak biar kelihatan rame. Nanti kalau kita masukan ke media, biar kelihatan ramenya.”

Ya sudah, semua warga itu foto depan kantor kecamatan. Habis foto, terus segerombolan wartawan itu bilang, “Ayo spanduknya dibentangkan semua. Kita jalan ke pertigaan Lowi.”

Aku bawa sepeda. Ada bapak-bapak bilang, “Ayo pegangan ini biar kelihatan rame ibu-ibunya”

“Lah saya bawa sepeda motor, pak.”

“Taruh di situ saja, nanti diambil lagi.”

Ya udah. Aku taruh sepedaku di Kecamatan, aku ikut jalan sama teman-teman tapi aku nggak melihat sama sekali apa tulisan yang ada di spanduk itu. Aku kan langsung, spanduk sudah jalan, aku menggantikan orang lain. Aku baru tahu spanduk yang aku pegang ada gambar palu aritnya, dua hari setelah aksi, setelah Mas Budi ditelepon sama petugas.

Budi: Setelah aksi hari itu sebenarnya tidak ada yang tahu ada spanduk baru. Bahkan petugas yang ngawal, polisi maupun TNI, tidak ada yang melihat adanya gambar itu. Malamnya, saya ditelepon sama intel Kodim, yang mengawal sama Koramil, “Mas ada di mana?”

“Ada di rumah, pak.”

Lalu dua orang datang ke rumah. Dari Koramil sama Kodim.

“Mas, tadi waktu aksi sampeyan itu bermasalah. Ini ada masalah spanduk.”

“Masalahnya dimana?”

Mereka bilang ada gambar palu arit. Saya tanya, spanduknya yang mana? Spanduknya buatan kita masih utuh semua. Spanduk yang difoto itu nggak ada. Itu saya ditunjukin fotonya. Kepolisian dan TNI juga menyaksikan saat pembuatan spanduk di (rumah) sini. Bahkan sekuriti ngikutin terus dari Pulau Merah sampai Kecamatan, ngambil fotonya. Ini hanya untuk menjerat saya, barang buktinya hanya foto. Kan foto itu belum tentu dibuktikan keasliannya.

Dwi Ratna Sari, warga Pesanggaran, menolak tambang Tumpang Pitu.

Harsono: Itu yang motret siapa?

Budi : Saya juga nggak kenal. Katanya dari wartawan.

Masruroh: Itu wartawan yang motret jadi saksi?

Budi: Nggak. Katanya dapat dari ngopy wartawan lain.

Masruroh: Spanduknya nggak ada?

Budi: Spanduk itu fisiknya nggak ada. Di pengadilan nggak pernah ada spanduk sebagai barang bukti. Cuma video dan foto.

Harsono: Kalau spanduk yang kalian bikin itu?

Budi: Ada. Sampai sekarang masih ada di Jaksa Penuntut Umum.

Masruroh : Tidak ada satu pun polisi maupun TNI yang bersaksi di persidangan?

Budi: Ada polisi siap bersaksi. Dari pengadilan tidak ada yang memanggil untuk bersaksi. Kalau mau jadi saksi, katanya, saya harus lapor ke Mabes Polri. Pokoknya, nggak ada satu pun polisi yang dihadirkan dalam persidangan. Siangnya (5 April 2017) saya ditelepon sama Kapolsek. Dia nanya ke saya, “Mas kira-kira siapa ya yang membuat spanduk itu?”

Saya jawab, “Pak, kalau saya tahu, saya akan tangkap bersama teman-teman. Lah sampeyan nanya ke saya, sampeyan sendiri waktu itu menyaksikan pada saat aksi. Tak ada satu pun orang yang tahu dengan keberadaan spanduk itu.”

Saya bilang begitu waktu itu. Waktu orang-orang memegang spanduk itu, saya lagi makan. Saya sempat ditelepon Pak Galuh, orang kecamatan, “Mas tolong dibantu lalu lintasnya agar tak macet.”

Sampai sekarang, setelah saya keluar dari penjara, spanduk itu kemana juga tak ada yang tahu.

Harsono: Dalam kesaksian di pengadilan soal keberagamaan Anda bagaimana?

Budi: (Ketua NU Pesanggrahan Madinudin) di pengadilan ditanya, “Saudara saksi apakah mengenal terdakwa?”

Dijawab kenal.

“Kenal baik?”

Dijawab kenal.

“Apakah pernah ke rumahnya?”

Pernah.

“Apakah saudara terdakwa sering mengikuti kegiatan keagamaan?”

Gak tahu, katanya.

Kemarin ke sini (dia) waktu baru saya pulang dari penjara. Dia bilang katanya "teman baik."

Saya bilang, “Kamu kalau teman baik, di kesaksian harusnya ngomong seadanya. Di masjid Pak Anwar, waktu jumatan, kita bertemu berapa kali? Apakah itu bukan merupakan kegiatan keagamaan? Aku melakukan aksi istighosah depan tambang, itu yang ngundang kyai-kyai itu saya. Apa itu bukan merupakan kegiatan keagamaan?”

Itu kegiatan keagamaan dalam bentuk berdoa menolak pertambangan agar bumi itu tetap utuh gak dirusak oleh mereka.

Harsono: Kalau polisi dan militer Pesanggaran mengatakan Anda tak ada garis merah, kenapa Anda dituduh menyebarkan komunisme?

Budi:  Ini kan awalnya dari perusahaan BSI. Kalau saya menyebarkan paham komunis, pasti Koramil, Kapolsek tahu. Saya memang tidak menyebarkan paham komunis. Waktu aksi, tak ada satu pun yang menyinggung soal komunis. Tulisan PKI juga gak ada. Setelah pelaporan BSI, bukan ke Polres, tapi ke Kodim. Orang Kodimnya waktu malam mendatangi rumah saya, “Ini mas, ada laporan dari perusahaan, kalau aksi tadi katanya ada logo palu arit.” Orang yang ngomong itu yang ngawal aksi. Dan juga ada di video waktu persidangan. Dia tidak memakai pakaian dinas, tapi memakai pakaian preman. Ini semua dari perusahaan.