Monday, August 20, 2007

Kronologi Pengasuhan Norman Harsono



Norman Harsono berlayar dalam sebuah phinisi dekat Pulau Hoga, di Kepulauan Wakatobi, antara Sulawesi dan Maluku


30 Januari 1995 – Andreas Harsono dan Retno Wardani di Salatiga. Mereka kenal ketika kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana. Andreas kini bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Retno bekerja sebagai account executive sebuah bank.

Oktober 1995 – Retno menyusul Andreas ke Jakarta, tinggal di rumah kontrakan daerah Palmerah. Andreas bekerja untuk harian The Nation (Bangkok). Retno pindah kerja ke Jakarta. Mereka membeli sebuah rumah tipe 104 di Bumi Serpong Damai pada Juli 1997.

25 Januari 1997 - Retno melahirkan bayi laki-laki di rumah sakit MMC Kuningan, Jakarta, dengan berat 3.5 kg. Bayi ini diberi nama Norman Harsono. Retno berhenti kerja.

Sejak kecil, Norman sering sakit pilek dan batuk. Orang tuanya merasa mungkin dia masih kecil dan udara Jakarta jelek. Norman sehat, tak pernah sakit serius, saat berada di Cambridge, Boston, antara Agustus 1999 dan Juli 2000. Keluarga ini mengikuti Andreas ketika menjadi Nieman Fellow on Journalism di Universitas Harvard.

Januari 2001 – Retno membeli rumah di Pondok Indah. Andreas tak setuju. Alasannya, dia baru kembali ke Jakarta, gajinya belum cukup buat membayar cicilan rumah. Retno pinjam uang dari ibunya dan membeli rumah di Jl. Pinang Perang X/16, Pondok Indah.

Juli 2002 – Norman mulai sekolah di Gandhi Memorial International School di daerah Ancol. Belakangan sekolah ini pindah ke gedung baru di daerah Kemayoran, dekat lokasi Jakarta Fair.

Desember 2002 – Sri Maryani, seorang gadis petani asal Tawangmangu, mulai bekerja di rumah Pondok Indah. Tugas utamanya mengasuh Norman dan menjaga kebersihan rumah. Maryani ikut menemani Norman di sekolah. Hubungan Norman jadi sangat dekat dengan Maryani.

14 November 2003 - Andreas menggugat cerai Retno. Dia merasa perbedaan pendapat di antara mereka tak dapat direkonsiliasikan. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan usul diupayakan perdamaian. Pengacara keduanya, masing-masing Heppy Sebayang (mewakili Andreas) dan Chaidir Arief (mewakili Retno) mengupayakan solusi perceraian dengan bantuan notaris Nelly Hutauruk (Jl. Veteran 110B, Bekasi 17141).

Dalam perjanjian yang disaksikan Nelly Hutauruk, Andreas dan Retno sepakat bercerai. Pengasuhan anak tetap jadi tanggungjawab berdua. Andreas akan menanggung “biaya kesehatan dan biaya pendidikan Norman yaitu uang sekolah, baju seragam, buku dan perlengkapan sekolah, transportasi dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan formal” Norman hingga Norman mandiri. Andreas sepakat menyerahkan Rp 1 juta setiap bulan kepada Retno untuk pemeliharaan Norman, yang “dapat ditambah sewaktu-waktu bila diperlukan sesuai kebutuhan … dengan bukti yang cukup.”

Hak pengasuhan Norman diatur 5x24 jam selama hari sekolah bersama Retno dan 2x24 jam selama libur akhir pekan bersama Andreas. Hari liburan nasional dan liburan sekolah diatur separuh-separuh.

15 Desember 2003 – Andreas dan Retno resmi bercerai lewat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Keputusan pengadilan, Andreas “membayar biaya pendidikan, kesehatan dan pemeliharaan” Norman sampai dewasa dan mandiri. Andreas kontrak di Apartemen Permata Senayan, Palmerah. Pengasuhan Norman jadi tanggungjawab kedua orang tua.

Setelah enam bulan, sesuai keputusan pengadilan, Retno menolak mentaati keputusan membagi harta gono-gini separuh-separuh. Dia berniat menempati rumah Pondok Indah. “Kalau perlu ditembok di tengahnya, kamu tinggal di sebelah, aku di sebelah,” kata Retno. Dia minta Andreas melepaskan hak kepemilikan rumah itu. Alasannya, Norman perlu rumah. Retno janji rumah itu takkan dijual dan kelak diwariskan ke Norman.

5 Mei 2004 – Andreas akhirnya setuju dan menandatangani perjanjian melepaskan hak kepemilikan rumah di hadapan notaris Ny. Toety Juniarto (Jl. Mampang Prapatan Raya 17, Jakarta). Andreas mendapatkan Rp 100 juta dari Retno dengan asumsi harga rumah Rp 450 juta (jauh di bawah harga pasar). Retno berjanji rumah ini dipakai Norman.

Sepanjang tahun 2005, kesepakatan dua hari di Senayan dan lima hari di Pondok Indah berjalan. Norman mulanya diantar Retno sekolah. Andreas membayar bensin dan uang tol. Belakangan, tanpa bilang Andreas, Retno menyewa bus sekolah guna jemput-antar Norman. Maryani menemani Norman di sekolah dan dalam bus. Norman tetap sering sakit.

19 September 2005 – Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana, Jakarta, mengadakan tes alergi terhadap Norman dengan 21 alergen makanan serta 12 alergen hirup. Hasilnya, Norman dinyatakan alergi terhadap tungau debu rumah, daging kepiting dan kotoran kecoak. Dokter L. Muliana menerangkan Norman tak boleh makan kepiting. Tempat sampah harus tertutup agar kecoak tak datang. Kepiting dan kecoak relatif mudah diatasi. Paling penting, sekaligus paling sulit, Norman harus terhindar dari tungau debu (dustmite).

Dia juga harus setiap pagi dan sore memakai obat hirup Seretide Inhaler. Asma tak bisa disembuhkan tapi bisa dikontrol. Tungau debu biasa tinggal di kasur, sofa, bantal dan guling. Norman harus tidur dengan alas terpal agar saat tidur dia tak menghirup kotoran dari tungau debu. Dokter Muliana merekam semua nasehat ini dalam sebuah video. Andreas merekamnya agar semua petunjuk bisa didengar dan dilihat Retno serta Maryani. Polusi udara juga tantangan untuk para penderita asma. Retno menolak melihat VCD tersebut.

Retno tak percaya pada keharusan tidur dengan terpal. Dia sering mengeluh terpal membuat kasur jadi panas. Dia sulit tidur. Norman sering tidur tanpa terpal. Norman bolak-balik kembali ke dokter. Asmanya sering kumat.

24 April 2006 – Andreas mengajak Retno menemani Norman berobat lagi di Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana. Retno bicara sendiri dengan dokter Muliana. Retno tak percaya dan merasa asma Norman bisa disembuhkan.

6 Januari 2007 – Andreas Harsono menikah dengan Sapariah Saturi, wartawati bidang ekonomi, di Pontianak. Mereka bertemu pada Desember 2004, saat tsunami Aceh, di Pontianak. Andreas sedang liputan di pedalaman Sambas, soal pembunuhan orang-orang Madura, ketika bertemu Sapariah di Pontianak. Norman mengatakan dia suka dengan Sapariah. Andreas mengambil keputusan menikah dengan Sapariah dengan mempertimbangkan hubungan Norman dan Sapariah.

15 Juli 2007 – Fadillah, sopir bus sekolah, mengabari Andreas bahwa bus tak melayani route Pondok Indah lagi. Route ini dianggap terlalu jauh. Kini tinggal Norman satu-satunya murid dari Gandhi School yang tinggal di daerah sekitar Pondok Indah. Retno menolak mengantar Norman ke sekolah bila Andreas tak membayar. Andreas terpaksa memakai taxi dan minta tolong Maryani antar-jemput. Sekali jalan, bisa Rp 80,000. Pulang pergi, bisa Rp 200,000 termasuk karcis jalan tol. Andreas dan Sapariah terpaksa mencari kredit mobil Hyundai Avega guna antar-jemput Norman. Mobil diterima pada 10 Agustus 2007. Yayasan Pantau, tempat dimana Andreas bekerja, memberinya utang agar bisa bayar down payment mobil.

Minggu, 19 Agustus 2007 - Retno memberi tahu via SMS bahwa rumah Pondok Indah akan dikontrakkan dan dia akan tinggal bersama ibunya di Bintaro. Retno mengatakan dia tak perlu minta persetujuan Andreas.

18:17: “Mg dpn kami pindah Bintaro, PI akn aku benerin dikit n akn aku kontrakan buat nurunin utang bii yg berat. Bagus beli apartm n tinggal di kemayoran.

Ketika Andreas mengingatkan Retno soal jarak Bintaro yang jauh dari Kemayoran, Retno mengatakan ada jalan tol.

18:24: "Ada toll dan dia butuh teman main seusianya. Mg dpn km pindah."

Retno juga minta Andreas membayari bensin dan uang tol agar Retno bisa mengantar Norman sekolah.

18:40: "Pagi Bintaro one way. Ada toll jg. Sgt lancar. Toh sekolah cuma 3.5 hr. Kamis siang udh di t4 mu. U pagi aku antar jg bisa, km byr bensin. Mau gugat? Silahkan."

3 comments:

diana said...

halo, pak Harsono. sy ingin post komen dikit, abis hati sy miris dengar kisah bpk, terutama soal anak bpk, Norman.
kalo menurut sy, sifat keras mantan istri bpk, mgkn krn dia sakit hati dan marah krn bpk nikah lg. sy sbg seorang wanita bisa turut merasakan perasaan mantan istri bpk. digugat cerai oleh suami sendiri, pasti sakit sekali rasanya, apalagi kemudian suaminya menikah lg, sedangkan mantan istri bapak tidak seperti bapak, mau nikah lagi umur uda ga muda lagi, hidup sendirian pastilah sepi sekali, sehingga sikap kepada anak menjadi posesif. jadi ketika norman bilang lebih senang tinggal bersama bapaknya, tentunya harga dirinya lebih tertohok lagi. ibaratnya, suami nikah lagi anak pun sudah tidak menginginkannya. sehingga dia mencari gara-gara dengan bapak, agar bapak merasakan juga rasa sakit yg dirasakannya. sy hny berpendapat saja, semoga bpk tidak salah tangkap, sy tidak ada maksud untuk membela istri bpk, krn tingkahnya trhdp bapak dan norman memang keterlaluan.
apa bpk sudah pernah rembuk dngan istri bpk, bicara berdua dengan kepala dingin. pada saat istri bpk sengaja memprovokasi bpk agar panas hati, bpk bisa mengingat kembali kenangan2 indah bersamanya dulu. bagaimanapun jg, bpklah yg telah memilihnya jd pendamping hidup bpk, dan bagaimanapun jg dia ibu kandung dari norman. tidak mungkin seorang ibu bersikap tega apalagi menyakiti buah hatinya sendiri. sy rasa yang ingin disakitinya adalah bpk yang telah melukainya. sy berharap permasalahan bpk harsono dan mantan istrinya bisa segera diselesaikan dengan win-win solution, bukan demi bpk dan mantan istri bapak, tapi demi norman.

Anonymous said...

Ya saya setuju dengan mbak Diana. Pengaduan ke Komisi anak justru akan memperburuk keadaan (krn anda "menyerang" mantan istri anda). Ada yg belum selesai antara anda dan mantan istri. Coba itu dulu yg dibereskan.

Anonymous said...

Saya kira perlu gugatan hukum terhadap Retno. Dia selalu pakai keputusan hakim. Anda harus gugat lagi. Dan pakailah prinsip hak anak untuk tentukan apa yang terbaik buat masa depannya. Hak untuk memilih pengasuhan itu ada. Hak itu dijamin konvensi hak anak internasional. Anak-anak punya hak untuk memilih pengasuhnya.