Monday, December 15, 2008

Samuel Mulia: Jadilah Dirimu Sendiri


Amini Ratna, salah satu peserta kelas menulis, merekam gaya centil Chrestella Budyanto dalam sesi bersama pembicara tamu Samuel Mulia. Samuel duduk serius. Stella action untuk kamera. Ratna, Stella, Irma Dana dan Charles Wiriawan adalah teman-teman sekelas. Mereka peserta kelas pertama jurnalisme sastrawi di Eka Tjipta Foundation. Ini kelas yang riuh rendah. Para pesertanya suka bergurau.


Lagi-lagi dalam kursus Jurnalisme Sastrawi mendapat pelajaran yang berharga. Dalam pertemuan terakhir, Sabtu 13 Desember lalu, di lantai 29 Plaza BII 2 kami kedatangan Samuel Mulia, penulis Parodi harian Kompas. Walaupun suhu ruangan masih terasa hangat, sebagian teman sudah mulai kepanasan. Bahkan dahi Charles Wiriawan sudah berkeringat, kami pun duduk manis di ruangan. Samuel menduduki kursi pembicara, kelihatan tenang dan tak kepanasan seperti kami.

Takjub! Sejak dipersilahkan bicara, Samuel terus berbicara tanpa henti seperti petasan cabe rawit, kecuali peserta mengacungkan tangan untuk bertanya. Lelaki flamboyan ini awalnya kuliah di fakusltas kedokteran, hanya sampai di tahun ketiga dia langsung berhenti dan menekuni dunia mode. Dan pernah menjadi pemenang dalam lomba perancang mode yang diadakan majalah Femina.

Menurutnya, memang sejak remaja dia kurang tertarik dengan hal yang berbau “lelaki.” Saat ayahnya mengajari dia untuk mengganti oli mobil, dia lebih tertarik bermain dengan blush on. Samuel menceritakan keberadaan dirinya sebagai banci. Tentang disiplin dan kepiawaiannya dalam menulis pun dia ungkapkan sebagai "kebodohan" dia semata.

Dia mengatakan dirinya bodoh, karena dia tak suka membaca Truman Capote. Tidak suka dengan tulisanya Goenawan Mohamad. Tapi dia suka dengan karya-karyanya Romo Mangun, seperti Burung-burung Manyar dan juga karyanya Ahmad Tohari. Bahkan dia bilang, saking bodohnya, dia tidak bisa menulis dalam bahasa Inggris walau dia konsultan majalah The Weekender dari harian The Jakarta Post.

Samuel menulis apa adanya. Biasanya dia menulis dari hasil mengamati orang-orang di sekelilingnya, seperti dalam Parodi "Di Dadaku Ada Kumismu" yang terbit 14 Desember kemaren. Semua penulis itu punya ciri khas masing-masing. Dan penulis harus mencerminkan keperibadiannya sendiri, termasuk, dalam hal Samuel Mulia, homoseksualitasnya.

“Saya tidak suka menulis dengan bahasa yang susah. Seperti kenapa harus ditulis marginal? Atau menulis, saya pergi ke kota Kiprit ... kedengaran seperti di luar negeri, di Rusia, padahal adanya di Bojong, misalnya. Jadi tiap orang itu punya ciri khas dalam menulis.” Dia terus nyerocos tentang tulisan-tulisannya. Dia pun tak suka apabila diminta untuk mengomentari tulisan orang lain.

“Jadi menulislah apa yang ada dipikiranmu. Jangan takut salah dan dikritik. Dan jangan pernah menulis karena dendam atau ingin menyakiti orang lain,” katanya. Dia mengatakan tentang dirinya dahulu, yang sering menulis karena perasaan frustasi, kecewa dan sakit hati. Bahkan sempat menjauhi dan memusuhi Tuhan. Dia menulis untuk kemarahannya.

Tapi, itu semua berlalu. Sejak tiga tahun ini dan terkena gagal ginjal bahkan harus transplantasi, Samuel mulai kembali ke pelukan Tuhan dan sering bersaksi di gereja-gereja. Dia sudah meninggalkan dunianya yang kelabu.

Saat ditanyakan apakah dia tidak ingin menulis yang berkaitan dengan dunia homoseksual. “Saya ingin menulis tentang itu, tapi untuk para orangtua. Biar bagaimanapun, itu semua dimulai dari keluarga. Seperti saya dan ayah saya lakukan. Family value sangat penting!” kata Samuel.
-- Irma Dana

5 comments:

ratna_amini said...

Congrats ya buat semuanya...mas andreas, mas samuel, Stella sbg model...dan terutama buat Jeng Irma...bagus reviewnya..

Andreas Harsono said...

Saya sangat terkesan dengan pesan Samuel Mulia. Ia mengingatkan saya pada lagu Sting "An Englishman in New York."

It takes a man to suffer ignorance and smile,
Be yourself no matter what they say
.

Lagu itu didedikasikan Sting kepada Quentin Crisp, seorang banci kelahiran Inggris, yang memutuskan pindah ke New York dan menjadi warga negara Amerika Serikat. Crisp tidak tahan dengan homophobia di Inggris. "Be yourself no matter what they say."

Irma Dana said...

Wow! tulisanku dimuat di blognya Mas Andreas ....tks Mas, sudah menambhakan beberapa kekurangannya...terima kasih sudah mengenal dan belajar dari Mas Andreas.

nofrianti-eka-pratiwi said...

itulah yang kebanyakn ditakuti kita ...
menjadi diri sendiri...
saya selalu kagum dengan mereka yang berani menjadi diri sendiri...

nofrianti-eka-pratiwi said...

menjadi diri sendiri memang menyenangkan...

orang-orang seperti kak Sam harusnya bertambah bukannya berkurang...

semangat ya kak Sam...
buat kak Andreas juga...