Wednesday, December 31, 2008

Reuni SMPK Maria Fatima Jember


Maria Retno Susanti (batik coklat) serta Lie Pey Sian (baju putih), Tjioe Lan Sian (baju abu-abu), Sioe Gim (baju putih totol hitam), Tek Hoo (baju kotak-kotak) dan Inge Surjono (berkacamata, ujung kanan), menghadiri reuni SMPK Maria Fatima di Jember.
-- Foto oleh Sapariah Saturi-Harsono


ADA suatu kejutan yang menyenangkan ketika aku datang dalam acara reuni SMPK Maria Fatima di Jember pada 26 Desember. Sesudah tidak bertemu selama 27 tahun, aku bertemu dengan beberapa teman lama, kawan-kawan ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. It was a very nice surprise indeed.

Mulanya, aku ditelepon oleh Suster Theresella Karti, kepala sekolah SMPK Maria Fatima, yang kebetulan membaca naskah aku, "Hoakiao dari Jember." Aku ada menyebut sekolah ini. Kami jadi sering bicara via telepon hingga bulan November lalu ketika Suster Theresella mengundang aku datang dalam reuni.

Sekolah ini didirikan pada 1 Juli 1952 oleh organisasi Katolik Santa Perawan Maria dari Probolinggo. Dalam buku Catholics in Indonesia 1808-1942, Karel Steenbrink menulis bahwa organisasi suster-suster ini dibentuk mulanya di Amerfoort, Belanda, pada 1822. Namanya, Zusters van Onze Lieve Vrouw van Amersfoort. Mereka bergerak di bidang pendidikan. Pada 1926, mereka mendirikan cabang di Probolinggo. Mereka banyak melakukan misi pendidikan Katholik di Pulau Jawa. Kebanyakan siswa mereka di Jawa adalah anak-anak Tionghoa. Mereka kini memiliki Perkumpulan Dharma Putri di Surabaya, yang mengelola 49 sekolah Katholik di beberapa kota Indonesia. Di Jember, sekolahku kadang disebut "SMP Putri" karena dulu murid-muridnya hanya perempuan. Sejak zaman aku sekolah, murid lelaki dan perempuan separuh-separuh. Menurut Suster Theresella, kini sekitar separuh muridnya beragama Katholik dan sekitar 75 persen orang Tionghoa.

Aku sekolah disini antara 1977 dan 1981. Ketika duduk di kelas satu, aku sekolah selama 1.5 tahun. Periodenya memang diperpanjang setengah tahun oleh Menteri Pendidikan & Kebudayaan Daoed Joesoef guna menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan internasional. Dulu tahun ajaran dimulai Januari dan selesai Desember. Joesoef membuatnya macam sistem internasional dimana tahun ajaran sekolah dimulai pada bulan Juli. Jadinya, aku sekolah 3.5 tahun di SMPK Maria Fatima.

Aku mengajak isteriku, Sapariah, dan anak kami, Norman, ikut hadir dalam reuni. Acaranya ramai. Ada pertunjukan tari, musik, band maupun khotbah dari Andreas Yudhi Wiyadi O. Carm, pastor Gereja Santo Yusuf. Romo Yudhi khotbah Natal. Pidato-pidato bikin Norman segera jadi bosan.

Tjioe Lan Sian, ketika melihatku, menyapa, “Kamu Ong Tjie Liang ya?”

Dalam reuni ini, memang teman-teman dari zaman sekolah dasar, SDK Maria Fatima, mengenal aku sebagai “Ong Tjie Liang.” Aku mendapatkan identitas “Andreas Harsono” ketika hendak lulus sekolah dasar pada 1976. Ini warisan kebijakan "asimilasi" Orde Baru dimana orang-orang Tionghoa dipaksa melepaskan identitas ketionghoaannya dan dipaksa “ganti nama.” Aturan ini antara lain didorong oleh pemikiran sebagian orang Tionghoa sendiri macam Harry Tjan Silalahi, P.K. Ojong dan sebagainya. Aku pribadi tak setuju orang dipaksa diganti namanya. Tapi aku masih kecil dan tak mengerti duduk persoalan. Kini sesudah dewasa, aku anggap aku bukan mengganti identitas, namun menambah identitas.

Lan Sian, tentu saja, mengingatku sebagai Liang. Sebaliknya, aku tak mengenal “Lanny Chandra” –nama baru Tjioe Lan Sian. Kami semua masih memanggil nama-nama dengan nama Tionghoa kami. Tjioe Lan Sian kini bekerja di Bank Mega di Surabaya. Aku kaget sekali melihat Lan Sian. She does not change much. Secara fisik, dia masih kurus dan baru melahirkan anak satu-satunya. Kalau ada perubahan, mungkin Lan Sian sekarang lebih ramai. Dulu Lan Sian termasuk pendiam. Rambutnya dulu kuning, kini menjadi hitam.

Tek Hoo alias Teguh Anggara kini bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di Surabaya. Orangnya ramai. Rambutnya mulai menipis. Tek Hoo dulu suka main sepak bola. Dia salah satu penyerang kami. Sepak bola adalah kegiatan rutin murid-murid lelaki. Orang tua Tek Hoo juga teman orang tuaku.

Maria Retno Susanti sekarang bekerja sebagai guru SDN Kedung Jati II di daerah Kabuh, Jombang. Dulu Retno seorang gadis pendiam. Dia bekerja di tempat yang relatif jauh dari keramaian. Dalam acara reuni, Retno datang awal dan duduk bersama Liem Yek Ming. Kalau Retno baru pindah ke Jember saat SMP, Yek Ming sudah satu sekolahan dengan aku sejak sekolah dasar. Yek Ming kini membantu orang tuanya menjalankan sebuah warung ayam goreng di daerah Tembakan, Jember. Orang tua kami berteman lama. Sama-sama orang Jember.

Banyak cerita kami tukar. Pasangan Inge Surjono dan Sioe Gim lantas mengajak kami makan ayam goreng di tempat Yek Ming. Inge melanjutkan usaha ayahnya di Jember. Sioe Gim asal Banyuwangi. Dia sekolah di SMAK Santo Paulus Jember. Aku baru kenal Sioe Gim malam ini. Suaminya, Inge Surjono, teman sekolah dasar aku. Kami juga cerita-cerita beberapa kawan kami yang sudah meninggal dunia. Ada juga yang belum menikah. Ada yang sedikit mengalami sakit ingatan. Ada yang pindah ke kota ini atau kota itu. Kerja ini atau kerja itu. Kebanyakan kerja di sektor swasta. Namun mereka rata-rata tak pernah menyangka aku akan bekerja sebagai wartawan.

Yong Djiang alias Widodo Susanto penampilan masih gagah macam zaman dulu. Aku sudah gendut sekali. Yong Djiang badannya bagus. Dia cerita tokonya ikut terendam lumpur Lapindo di Sidoarjo. Yong Djiang dulu suka jadi goal keeper ketika kami masih sekolah. Dia mengatakan malam sebelum tokonya terendam, dia masih melekan di daerah korban Lapindo, bagi-bagi makanan. Dini hari, ternyata lumpur mendekati tokonya, yang terletak di jalan besar Sidoarjo. Dia berusaha memindahkan barang-barang dagangan saniter. “Delapan puluh persen bisa dipindah,” kata Yong Djiang.

Lie Pey Sian alias Paulina Sieny Liettezia adalah teman sebangku ketika kelas satu. Kami dulu sering tak saling sapa. Entah kenapa aku lupa. Mungkin anak kecil. Sekali bergurau, besok tak saling tegur. Tek Hoo mengingatku sebagai "anak nakal." Lan Sian mengatakan aku ini "pendiam tapi nakal." Dia berpendapat aku masih tetap "serius" macam dulu. Pey Sian kini bekerja di sebuah perusahaan asuransi Surabaya. Keluarganya memiliki toko jam Rado di Jember.

Sapariah memahami sekali betapa gembiranya aku bertemu dengan orang-orang dari masa laluku. Namun Norman minta diantar pulang lebih dulu. Mereka naik becak, pulang ke rumah keluarga besar kami di daerah Drayer. Norman suka sekali naik becak. Sapariah sering tak tega pada tukang becaknya. Dia membayar ongkos tiga kali lipat lebih mahal!

Reuni ini mendorong nomor-nomor telepon bertukar. Bambang Sutjipto, seorang sahabat lama, datang ke rumah dua hari sesudah reuni. Bambang dulu pemain bola belakang tangguh alias back. Kakinya keras sekali. Bambang juga jagoan lukis kami. Dia juga terkenal suka otak-atik sepeda motor. Kini Bambang membuka bengkel mobil di Jember. Aku bahagia sekali bertemu Bambang. Sejak dulu aku kagum pada kesederhanaan dan kelurusan hati Bambang.

Di Tunjungan Plaza, aku kebetulan bertemu dengan Sunarjo Tirtodjojo (berkacamata) dan Moeliani Tedjo Sukmana (kanan). Mereka sudah memiliki dua anak lelaki, sama-sama sudah duduk di bangku sekolah menengah atas.
-- Foto oleh Sapariah Saturi-Harsono

Lantas di Surabaya, ketika makan malam dengan Sapariah di restoran 369, Tunjungan Plaza, kami kebetulan bertemu dengan Sunarjo Tirtodjojo dan Moeliani Tedjo Sukmana. Aku agak heran kok Sunarjo jalan bareng Moeliani? Kami sama-sama teman sekolah dasar dan menengah. Mudah ditebak. Mereka ternyata kini sepasang suami-isteri! Mereka sama-sama bekerja untuk perusahaan asuransi Axa Life di Surabaya.

Kami minum juice serta memperkenalkan mereka dengan Norman, yang lagi makan beef burger di Oranje Hotel alias Hotel Yamato alias Hotel Majapahit alias Hotel Mandarin Oriental, tempat kami menginap di Surabaya. Hotel ini terletak di depan Tunjungan Plaza. Moeliani membawakan pizza untuk Norman. Sunarjo mengingatkan aku bahwa kini dia masih terkadang dipanggil “Markeso” –nickname miliknya sejak SMP. “Iki gara-gara Andreas. Aku diceluk Markeso,” katanya kepada Sapariah.

“Cak Markeso” seorang pemain ludruk terkenal pada 1970an di Jawa Timur. Aku suka lawakan Cak Markeso. Sunarjo lucu tanpa berusaha jadi lucu. Dia sendiri mengingatku sebagai pemain bola yang ngototan. Aku dulu pemain tengah. Maka muncullah panggilan “Markeso” dan aku senang sekali bisa bertemu dengan Markeso, Yek Ming, Tek Hoo, Pey Sian, Lan Sian, Bambang dan kawan-kawan masa kecil lainnya. Aku kira Suster Theresella bekerja keras guna mengadakan reuni ini.

3 comments:

Mada said...

Pasti banyak dialek seperti ini:
Yak apa kabarmu?
Ndek mana sekarang?
Ntik telpuno aku, ya?

Hehe, tapi Ong Tjie Liang sekarang ndak pernah denger pake dialek Cinten Jawa Timuran.

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/5%20sartini%20baru(1).pdf.

Ong Tjie Liang lebih sering pake bahasa Melayu yang baik dan bener.

sahhala said...

Mas Andreas, senang saya bisa mengenal Anda...

jabat erat,
hamzah sahal

tikno said...

Momen yang tak akan dilupakan.