Wednesday, December 17, 2008

Bagaimana Meliput Agama?


Saya lagi mengikuti sebuah pertemuan kecil Faith in Media di Istanbul. Isinya, diskusi soal bagaimana wartawan harus meliput agama. Diskusi dilakukan dalam tiga bahasa: Inggris, Arab dan Prancis. Senang bisa bertemu wartawan dari Kairo, Jeddah, Ankara, Sana'a, Teheran, Beirut maupun New York, Washington DC, Detroit dan Atlanta. Ada empat isu yang dibahas: Covering Your Own Religion; Covering Religious Minorities in the Muslim World; Religion as a Beat dan Covering Religion: Where to Draw the Line.

Salah satu isu yang dibahas adalah ide harian Jyllands-Posten dari Copenhagen untuk menerbitkan kartun tentang Nabi Mohammad. Kami banyak bicara soal alasan editor kebudayaan Jyllands-Posten, Flemming Rose, untuk menerbitkan kartun-kartun tersebut. Reason Online menurunkan wawancara menarik dengan Rose soal bagaimana dia banyak belajar dari para pembangkang Uni Soviet. Rose membedakan antara Solzhenitsyn dan Sakharov. Ide soal Uni Soviet inilah yang mendorong Rose untuk bikin penugasan tersebut. Ini salah satu diskusi menarik.

Mustapha Ajbaili dari Islam Online dan Khaled Hamza dari Ikhwanweb bicara soal media mereka. Mereka menunjukkan situs web mereka dalam ruang seminar.

Islam Online banyak meliput soal lemparan sepatu kepada President George W. Bush. Ada banyak gurauan soal Muntadhar al-Zaidi, reporter TV Al-Baghdadia, yang melemparkan sepatunya kepada Presiden Bush di Baghdad kemarin. Bahkan Islam Online menyebut Muntadhar al-Zaidi sebagai "pahlawan nasional" Irak.

Hamza mengatakan Ikhwanweb diadakan dalam bahasa Inggris khusus untuk menerangkan kepada dunia Barat soal Ikhwanul Muslimin. Ia lebih merupakan pembahasan dalam khasanah intelektual ketimbang khotbah atau keimanan. Ikhwanweb juga memakai Facebook, You Tube, Flicker maupun Twitter. "Argumentasi bahwa Ikhwanul Muslim memakai demokrasi untuk menghancurkan demokrasi adalah tidak benar. Kami memakai teknologi dan demokrasi untuk memperkaya kebudayaan kita." Hamza simpati sekali.

Acara ini diadakan oleh International Center for Journalists dan disponsori Carnegie Corporation. Banyak nama-nama besar hadir dalam acara ini. Saya kagum dengan seorang wartawati Saudi Arabia. Pikirannya sangat kritis. Rambutnya ikal berombak, indah. Saya terkaget-kaget mendengar argumentasinya. Dia bilang banyak perempuan Saudi melepas abaya mereka begitu masuk pesawat terbang. Dia merasa pemakaian abaya adalah pemaksaan di Saudi. Ada juga wartawati dari Teheran. Lebih pendiam. Namun tak kalah menarik.

Ari Goldman dari Columbia Graduate School of Journalism menyebut pertemuan ini "sophisticated" dan "more nuanced" dari bermacam seminar yang pernah dihadirinya. Goldman, seorang Yahudi, mengajar liputan soal agama di Columbia. Dia menulis tiga buku: The Search for God at Harvard; Being Jewish serta Living a Year of Kaddish.

Ada juga anak muda, Matthew Streib, yang punya pengalaman meliput agama-agama di Maroko, Mesir, Lebanon, Palestina dan Jordania. Dia juga seorang pecinta alam. Dia bersepeda 10,000 mil di Amerika Serikat dan menuliskannya dalam blognya American Pilgrimage.

Anthony Shadid, wartawan Washington Post, juga hadir disini. Shadid seorang warga Amerika kelahiran Oklahoma City, keturunan Lebanon. Dia menang Pulitzer Prize pada 2004 dengan liputannya soal Irak. Yayasan Pantau sering memakai liputan Shadid untuk bahan kursus menulis. Liputan soal Islam relatif lebih terbuka di negara macam Turki atau Amerika Serikat. Namun ia sangat tertutup di Saudi Arabia atau Yaman. Shadid memberikan komentar yang lebih kelabu di Lebanon. Shadid seorang moderator.

Dua moderator lainnya, Maria M. Ebrahimji, executive editorial producer dari CNN di Atlanta, serta Amberin Zaman, koresponden mingguan The Economist di Turki. Zaman juga kolumnis untuk harian Taraf di Istanbul. Taraf terkenal membenarkan terjadi genocide terhadap orang-orang Armenia saat Perang Dunia I oleh Kesultanan Ottoman.

Debra L. Mason menyediakan macam-macam pedoman soal liputan agama. Mason adalah direktur Center on Religion and the Professions di Missouri School of Journalism serta menyunting buku Religion Reporting: A Guide to Journalism's Best Beat, A Religion Stylebook. Mason menekankan pentingnya menjaga jarak dengan agama yang diliput maupun agama yang dia anggap dia kenal.

Berkunjung ke Istanbul, tak lengkap tanpa melihat-lihat Hagia Sophia, gereja Romawi Ortodox, yang dibangun oleh Kaisar Justitian pada 532-537. Pada 1453, ketika kaum Turki Ottoman menaklukkan Byzantine, Sultan Memed II mengubah gereja ini jadi sebuah masjid. Pada 1935, ketika Republik Turki didirikan, masjid ini diputuskan jadi sebuah museum. Saya kira pertemuan Istanbul ini membuka mata saya soal menariknya liputan agama-agama. Saya juga dikenalkan dengan macam-macam referensi untuk melihat liputan agama-agama.

11 comments:

Irma Dana said...

Menarik ya Mas bisa mendapat pandangan baru tentang agama islam...dan lebih menarik lagi bisa jalan2 di Istambul...salah satu negara dalam impian saya...:)

Aunul Fauzi said...

Membaca tentang perempuan Arab yang lebih suka buka jilbab begitu masuk pesawat, saya teringat hal yang sama yang dilakukan istri saya (dan juga beberapa teman pekerja sosial lainnya) begitu mereka masuk pesawat yang akan membawa mereka meninggalkan Aceh kembali ke Jakarta. Sebaliknya, kesibukan akan terlihat sejenak sebelum pesawat mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, banda Aceh ... beberapa penumpang perempuan memasang penutup kepala.

Irma: seorang teman perempuan saya pernah ke Istambul sekitar 4 tahun lalu. Dua minggu lalu saya mampir ke ruang kerjanya, mengungkapkan kekaguman saya pada keindahan Istambul, Selat Bhosporus, dll. dari membaca artikel yang ia bikin.

"Jangan salah," katanya. "Istanbul is not that friendly for women. Not only for women like me (dark skinned), but also to white women."

Kami lalu ngobrol tentang pengalamannya yang tidak mengenakkan, juga tentang pengalaman teman putih kami. Something to do with kinda harrassment!

Pesan sponsor 1: ntar kalo jadi jalan2 ke Istambul, jangan lupa expect the unexpected. :)

Pesan sponsor 2: kali aja sekarang sudah beda. Itu cuma cerita 4 tahun lalu!

insanysyahbarwaty said...

saya selalu ingin sana

Warastuti said...

"Mason menekankan pentingnya menjaga jarak dengan agama yang diliput maupun agama yang dia anggap dia kenal."

Mengapa? Apa Mason menjelaskan alasannya? Saya ingin tahu.

Kedua, Mas Andreas menulis 'Muhammad' dengan ejaan 'Mohammad'. Apa sekadar salah ketik atau ada argumentasinya?


Trims

Andreas Harsono said...

Dengan hormat,

Saya sendiri sering bingung membaca berbagai ejaan beda soal Nabi Mohammad. Ada yang menuliskannya, "Mohamad" (misalnya, Goenawan Mohamad), namun banyak yang pakai "double m" (mislanya, Mohammad Hatta) tapi ada juga yang pakai "Muhammad" maupun "Mohd" (resmi tanpa kepanjangan). Semua punya argumentasi sendiri. Semuanya mengacu pada ejaan Nabi. Saya tak punya posisi resmi. Terkadang saya pakai versi ini namun juga versi itu. Terima kasih.

M. Aswan Zanynu said...

Membaca posting mas Andreas, saya merasa seminarnya pasti sangat menarik. Saat meliput suatu agama, khususnya saat memberi penjelasan atas ritual atau tindakan yg mereka lakukan atas nama agama, cara pandang apa yg sebaiknya digunakan. Cara pandang agama tersebut atau cara pandang kita sebagai peliput?

tikno said...

Perbedaan itu semakin sering dibicarakan, akan semakin hambar untuk membicarakannya.

Semakin dilarang, maka akan semakin sensitif perbedaan tersebut.

Senang membaca liputan Anda.

Salam.

Diachra said...

Weight Loss liputan yang sangat menarik mas. kapan ya kira2 saya bisa sperti itu?

Noe said...

Wah sebuah ulasan yang sangat menarik, apalagi membahas agama. Saya ingat pernah menonton ulasan NGI di Metro TV mengenai arsitektur Islam, salah satunya Hagia Sophia, sebuah proses dari gereja Kristen menjadi gereja Islam. Sebuah hasil jajahan Sang Penakluk yang paling berharga, sebab gedung ini dikatakan paling megah sedunia.

Parakawi said...

Meliput agama itu harus melihat dari sisi negatif ya mas. Bukan sisi kebaikan untuk kebaikan umat. Saya melihat reportase Barat selalu menunjukkan sisi positif bagi negaranya mengapa kita harus melihat sisi lain yang tidak pernah pernah dipelajari dari seni penulisan barat. Penulisan barat selalu menunjukkan Asia atau non eropa dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Gambaran itu mencitrakan image pada masyarakat dan generasi mudanya Asia dan non Eropa seperti yang dicitrakan. Mengapa kita palah harus melihat dari sisi pencitraan barat untuk dunia non barat? Maaf saya baru pemula.

Jews Shalat said...

Menarik jika Mas meng-highlight tentang wanita Saudi yg melepas Abaya krn anggapannya aturan agama itu menindas.

Tapi mungkin tidak perlu jauh-jauh meng-highlight permasalahan spt itu sampai ke negeri Arab. Istri saya berjilbab dan tinggal di Bali. Sewaktu istri sy mengajukan lamaran ke suatu sekolah nasional dia ditolak. Alasannya? Karena berjilbab. Diskriminasi? Silahkan pembaca memikirkan sendiri.

Pada intinya diskriminasi & penindasan itu bukan sifat agama, melainkan manusia itu sendiri. Saya tulis ini agar penilaian pembaca jd berimbang tdk melihat dr satu sisi.

Terimakasih,