Tuesday, January 30, 2007

Antologi Sejarah Keluarga

Pontianak, 10 Januari 2007 -- Selama dua atau tiga minggu terakhir ini, Linda Christanty dan saya banyak bicara soal kesulitan serta tantangan bikin narasi sejarah keluarga. Liputannya bagaimana? Penulisannya bagaimana?

Saya kebetulan baru selesai menulis sejarah keluarga saya dalam Hoakiao dari Jember. Linda suka pada naskah itu karena ia bukan melulu bicara soal pribadi namun seorang individu dalam frame sejarah yang lebih besar dari si individu. Janet Steele dari George Washington University menyebutnya narasi yang dahsyat. Richard Oh dari Q&B Bookstore menelepon saya dan menyatakan penghargaannya.

Kami punya ide bagaimana bila Pantau menerbitkan satu buku, sejenis Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat, namun isinya melulu sejarah keluarga. Apakah Anda tertarik untuk ikutan? Kami butuh naskah-naskah prima antara 8 hingga 10 buah. Linda bersedia jadi editornya. Panjangnya sekitar 7,500-12,000 kata.

Isinya, bisa tentang papa atau mama kita, bisa juga guru, sahabat atau siapa pun yang dekat dengan kita, dan kisah hidupnya penuh warna. Mungkin dia menjadi korban dari ethnic cleansing. Mungkin dia korban dari represi di Indonesia. Misalnya, Darul Islam, Partai Komunis Indonesia, Permesta, Gerakan Acheh Merdeka dan sebagainya. Bisa juga orang yang mengalami krisis besar: sakit berat, saksi pembunuhan, aborsi dan sebagainya.

Liputannya dilakukan dengan wawancara serta riset. Ini sangat menantang. Bayangkan kalau Anda harus mewawancarai orang tua sendiri? Mungkin wawancara ayah atau ibu Anda yang selingkuh? Atau mewawancarai saudara tiri yang belum pernah Anda temui? Atau orang tua tiri?

Narasi ini juga perlu riset lewat dokumentasi surat pribadi, surat resmi (akte perceraian, keputusan pengadilan dan sebagainya), buku harian dan lain-lain. Akses sangat penting disini. Kita memerlukan akses dari si tokoh cerita.

Linda dan saya membayangkan antologi ini berisi perjuangan manusia yang beragam yang ada di Indonesia. Kalau bisa ada etnik macam-macam: Aceh, Jawa, Padang, Sunda, Dayak, Madura, Melayu, Bali, Sasak, Bugis, Minahasa, Ternate, Halmahera, Biak, Tanimbar, Ambon, Hokkian, Hakka, Sikh, Indo dan sebagainya?

Kami ingin naskah-naskah ini diwarnai dengan etnisitas. Ada warna etnik yang kuat sekali. Entah lewat nama panggilan, percakapan dan sebagainya. Ada sejarah keluarga yang kuat.

Kami juga ingin ada penulis perempuan, gay atau lesbian. Kami ingin ada setting sejarah yang kuat. Setting sejarah ini membuat munculnya hubungan antara individu dan negara. Namun kami tak ingin ada "orang besar" dalam naskah ini. Semuanya harus orang kecil. Bisa juga menulis tentang diri sendiri, lagi-lagi, secara jujur dan independen.

Saya tunggu deh feedback dari siapa pun yang merasa punya kemampuan riset, mampu menulis dengan baik, punya waktu dan mau ikutan proyek ini. Linda dan saya akan mengusahakan kita bertemu (secara elektronik atau fisik) guna membicarakan lebih detail.

Belum ada uang serupiah pun guna pembuatan antologi ini. Tapi rasanya tak sulit mencari perusahaan yang bersedia kasih sponsor. Kami lebih memandangnya sebagai sebuah tantangan untuk dunia sastra berbahasa Melayu. Terima kasih.


Jakarta, 12 Januari 2007

Kepada rekan yang terhomat:

- Alfonsus Haryo di Kompas
- Gandrasta Bangko di Jakarta
- Ria Ernunsari di Trans TV
- Rinjani PS di Semarang
- Rita Achdris di Gatra
- Zamira "Tatap" Loebis di Jakarta

Terima kasih untuk email Anda semua yang merespons surat saya hanya dalam hitungan jam soal bikin antologi tentang sejarah keluarga. Saya senang ide itu dianggap layak dikerjakan secara ramai-ramai.

Saya kira ide-ide yang Anda sampaikan sesuai dengan apa yang mulanya saya pikirkan. Sejarah orang yang kita kenal dekat; bukan orang besar; pernah bergulat tentang benar dan salah; terimbas dalam putaran arus sejarah; serta Anda punya akses mulus kepada mereka.

Tatap ingin menulis soal almarhumah ibunya yang sebagian anggota keluarganya korban pembantaian komunitas non-Karo di Kabanjahe. Ria Ernunsari ingin menulis soal bapaknya yang hidup dari zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, PRRI hingga penjajahan Indonesia (harus konsisten kalau menyebut "penjajahan").

Rita Achdris ingin menulis soal satu pembantu rumah tangganya. Rinjani PS dari Semarang serta Alfonsus Haryo juga tertarik ikutan. Mereka belum menyebut tema. Gandrasta Bangko ingin menulis soal neneknya dan batik Hokkokai.

Sambil menunggu kemungkinan peminat lain, terutama dari komunitas-komunitas yang secara politik ditindas hebat (Papua, Aceh, Madura Borneo, Kao, Timor Leste dan lainnya), saya kira, ada beberapa isu teknis yang perlu kita diskusikan:

1. Bagaimana menentukan mekanisme kerja kita? Artinya, apakah perlu kita bertemu lebih dulu dan diskusi soal antologi ini? Ini saya kira perlu dipikirkan mengingat kita belum kenal satu dan lainnya. Mau berapa panjang naskahnya kelak? Bagaimana keragamannya? Bagaimana standarnya? Artinya, kelak bila ada naskah yang dianggap tak memenuhi standar untuk masuk antologi, ya argumentasinya berdasarkan standar apa? Bagaimana menjaga style masing-masing? (Saya kenal sebagian besar tapi maksud saya kita semua kenalan)

2. Isu indepedensi juga penting. Kita memang menulis orang-orang yang kita hormati tapi kita harus tetap independen dari mereka bukan? Saya anjurkan Anda membaca Hoakiao dari Jember untuk sekedar punya perbandingan. Saya berjuang keras untuk independen ketika meliput dan menulis naskah itu.

3. Siapa yang bisa membantu mencarikan semacam "tenaga marketing' guna cari uang? Biaya ini ya diperlukan agar kerjaan ini ada honorarium ala kadarnya serta ongkos cetak. Saya bisa minta tolong Yayasan Pantau membantu tapi mereka kebanyakan sibuk sekali. Kalau ada bantuan marketing tentu sangat membantu.

4. Saya pribadi merasa kita perlu sekitar 8-10 naskah. Jadi kita masih perlu mencari tambahan orang. Syukur kalau dapat penulis dari komunitas tertindas?

Sementara saya kira itu dulu. Saya menjawab email ini secara kolektif agar kita semua bisa membaca email masing-masing. Saya juga tembuskan kepada Linda Christanty yang punya ide ini. Terima kasih.


Jakarta, 23 Januari 2007 -- Jumat kemarin ada pertemuan di kantor Pantau tentang kriteria dan teknik penulisan antologi sejarah keluarga. Pertemuan ini dihadiri Dian Afriyanie (UNDP), Maria Hasugian (Tempo), Linda Tangdialla (Bisnis Indonesia), Iis Zatnika (Media Indonesia), Rita Achdris (Gatra), Ratna Fitriani (Komnas Perempuan), Gandrasta Bangko (Le Marriage), Zamira Loebis (Time), Mulyani Hasan (Pantau), Linda Christanty (Pantau) dan saya.

Awalnya, saya bicara soal ide dasar penulisan antologi ini. Ia ditulis tentang diri kita sendiri atau keluarga atau orang dekat lainnya. Tokoh-tokoh ini bukan orang besar. Mereka orang biasa yang masuk dalam putaran sejarah. Ia dilakukan lewat riset (dokumen, buku harian, korespondensi) maupun interview.

Saya sempat menyajikan beberapa contoh dari majalah The New Yorker dalam rubrik "Personal History" dimana nama-nama besar macam Gabriel Garcia Marques, Amitav Gosh, V.S. Naipaul, Salman Rusdhie dan sebagainya, menulis tentang sejarah keluarga mereka.

Naipaul misalnya, menulis tentang korespondensi dirinya dengan ayahnya ketika Naipaul mulai beranjak dewasa. Gosh menulis soal hidupnya namun dikaitkan dengan PM India Indira Gandhi. Intro karangan Gosh dibuka dengan hari dimana Gandhi dibunuh.

Lalu kami mulai diskusi. Loebis cerita soal tantangan teknis yang harus dihadapinya. Loebis ingin menulis keluarga ibunya yang jadi korban pembunuhan kaum terdidik di Sumatera Timur pada 1945.

Tangdialla ingin menulis soal mamanya, seorang perempuan Sikka, yang mencari kerja di Bolaang Mongondow. Lalu pecah perang antara tentara Indonesia-Jawa dan tentara Permesta-Minahasa.

Kami bicara teknis. Saya mengusulkan standar dasar adalah sembilan prinsip jurnalisme ala Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Misalnya, tujuan penulisan ini adalah menyajikan kebenaran. Ia tak dilakukan untuk membesar-besarkan seorang karakter.

Esensi pekerjaannya adalah verifikasi. Semua data harus diverifikasi. Ia juga harus proporsional namun juga komprehensif. Banyak slogan-slogan resmi negara Indonesia, misalnya tentang semua yang disebut "pemberontakan," harus kita tulis dengan proporsional. Semua penulis antologi diharapkan bekerja dengan independen. Usul ini diterima.

Teknisnya, deadline 31 Januari 2008. Kami setuju kita butuh waktu lama untuk riset, interview dan menulis. Panjangnya antara 7,000-10,000 kata atau sekitar 40,000-60,000 karakter.

Kami tentu saja masih membuka peluang untuk orang lain ikutan. Silahkan yang hendak ikutan mendaftar kepada Linda Christanty dan Agus Sopian. Kedua orang ini ditunjuk sebagai redaktur antologi. Mohon mengirim email agak awal karena kami akan membuat mailing list pantau-antologi@yahoogroups.com khusus proyek ini.

Biaya liputan tentu mahal karena kita harus pulang kampung dan wawancara orang-orang yang kita kenal. Loebis bicara soal adanya data pembunuhan itu di Sidney. Daniel Dhakidae, ketika menulis soal kakeknya di Bajawa, Pulau Flores, juga cari data di Leiden. Tangdialla bilang liputan akan dilakukan ketika kita liburan Idul Fitri, Natal atau lainnya. Pantau akan mencoba melakukan fund raising untuk percetakan buku. Kita akan mendanai proyek ini dari kocek sendiri.

Proyek ini lebih untuk kepuasan pribadi. Proyek ini lebih untuk bersama-sama belajar tentang diri sendiri. Kelak kalau memang ada uang, ya kita bagi secara adil. Di kalangan Pantau ada kepercayaan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Saya kira itu dulu. Mungkin ada yang kelupaan, mohon peserta rapat bisa menambahkan. Terima kasih.


Jakarta, 4 February 2007

Bila Anda sudah menyatakan niat ingin ikut menulis antologi sejarah keluarga ini, saya persilahkan bergabung dengan mailing listnya. Bisa tinggal klik:


alt="Click here to join pantau-antologi">
Click to join pantau-antologi

1 comment:

Tomi Satryatomo said...

Mas Andreas,

Terinspirasi oleh tulisan anda di 'Indopahit', istri saya, Helvy Tiana Rosa, menulis sedikit tentang antologi keluarganya, yang sebagian berakar pada keluarga --meminjam istilah anda-- Hoakiau dan sebagian lagi pada keluarga Aceh.

Saya kutipkan penuh tulisannya di bawah ini, sekadar untuk berbagi. Ia memposting tulisan ini di blognya: http://helvytr.multiply.com

Saya menyarankannya untuk mengikuti proyek penulisan antologi keluarga yang anda gagas, tapi tampaknya ia sekarang lebih asyik mengurus anak kedua kami.

Silsilah dan Warna Warni Indah itu

Jan 30, '07 7:33 AM
for everyone

“Helvy itu orang mana sih?”

Begitu tanya beberapa orang suatu ketika.

Saya tersenyum.

“Pasti orang seberang ya? Sumatera, Nusa Tenggara, Timor?”

Kalau sudah ditebak-tebak begitu biasanya saya makin nyengir. “Saya tak ingin menjawab, boleh? Saya hanya bisa mengatakan, saya Indonesia, saya muslimah.”

“Kalau orangtua?”

Wah, pertanyaan selanjutnya nih!

***

Saya lahir di Medan, Sumatera Utara. Ayah saya lahir di Banda Aceh. Datuk saya, Teuku Muhammad Usman El Muhammady juga lahir di Aceh. Namun ayah dari datuk saya, adalah Sutan Junjungan, salah satu anak dari Tuanku Imam Bonjol (Minang-Maroko). Sutan Junjungan menikah dengan Pocut Fatimah, anak bangsawan Aceh. Sedang ibu dari ayah saya, Arfah, adalah keturunan Tapanuli bermarga Nasution.

Datuk saya seorang pejuang kemerdekaan, jago bermain biola, ahli dalam bidang kimia dan Islamologi. Ia banyak menulis buku tentang Islam dan aktif di Muhammadiyah. Begitu pula nenek yang pernah menjadi salah satu ketua Aisyiah di wilayahnya.

Ibu saya, Liaw Min Hwa mempunyai nama Indonesia Maria Eri Susianti, lahir di Medan. Beliau adalah anak dari Liaw Thin Tjong (Leo Arifin) dan Tham Ai Lian (Rosalina Arifin). Opa saya adalah anak seorang jurnalis dan pedagang keturunan China Jawa, sedang orangtua oma Tjie Eng Koan dan Bong A Cia memang berasal dari China sana. Oma dan opa kemudian mempunyai usaha transportasi darat dan berdagang.

Namun tentu saja saya sering tak leluasa mengaku: saya ini `keturunan` juga lho! Kenapa? Pertama, wajah saya sangat mirip dengan ayah…wajah Sumatera, hitam, nah berjilbab pula. Siapa yang percaya? Tapi kalau Asma Nadia, adik saya yang bicara seperti itu—meski ia pun mengenakan jilbab--- banyak yang percaya karena wajahnya memang Chinese.

Dua belas tahun lalu saya menikah dengan orang yang ternyata masih “Raden Mas”. Nama lengkapnya: Widanardi Satryatomo. Ayahnya, RM. Barthatmo Bathomijoyo masih keturunan Mangkunegaran Solo, sedang ibunya: Wiyati Asmoprasodjo adalah wanita Yogyakarta. Saya banyak belajar tentang kebudayaan Jawa dari keluarga Mas.

O ya, sejak usia 4 tahun, saya sudah tinggal di Jakarta. Itu artinya hampir 33 tahun kehidupan saya, saya habiskan di ibukota! Betapa cintanya saya dengan Jakarta, hingga semua yang menjadi ikon dan kecintaan Jakarta pun lekat dengan saya. Contohnya, saya suka sekali dengan Benyamin S. Gaya bicara saya menurut banyak orang sering lebih Betawi daripada orang Betawi itu sendiri! Saya suka semua makanan khas Jakarta! Anak saya, Abdurahman Faiz yang kadang kami panggil “Dul” juga lahir di Jakarta. Dan ngomong-ngomong, dia masih dapat “warisan” nama China: “Liaw Ban Heng”….

Akhirnya saya merasa begitu kaya. Ya, bukankah saya telah “menyerap” begitu banyak warna? Dari Aceh, Tapanuli, Minang, Jawa, Jakarta hingga China, lalu warna Islam yang juga begitu lekat sejak saya SMA….Sungguh kehidupan yang istimewa dan luar biasa!

Jadi kalau suatu saat anda tanyakan lagi pada saya, saya ini orang mana? Percayalah, jawaban saya tak akan pernah berubah. Saya orang Indonesia, saya muslimah. Dan sebetulnya, kalau Anda tanya saya lahir di mana, itu baru pertanyaan yang lebih tepat dari sekadar orang mana, bukan? Saya tinggal menjawab: Ya, saya lahir di Medan.