Tuesday, January 23, 2007

Pesta Jakarta


Pesta Jakarta berjalan lancar. Tak ada hujan, tak ada angin. Masalah ini mulanya bikin kami kuatir karena pesta perkawinan ini diadakan outdoor di sekeliling kolam renang apartemen kami. Acaranya, malam hari pakai lilin, lampu taman dan band akustik bernama Galeri Manusia.

Menurut anak kami, Norman, makanan malam itu enak. Norman biasa rewel bila menghadapi makanan. Dia menikmati dim sum (makan pakai sumpit) serta i fu mie. Ada dua gubuk menu lagi: lontong cap go meh dan sate Madura. Semua ini disediakan oleh perusahaan catering Padi di Kebayoran Lama, tetangga kantor Pantau.

Di pintu masuk, setiap tamu akan membaca spanduk panjang warna merah dengan tulisan warna kuning, "Indopahit, Indonesia keturunan Majapahit, Indonesia yang pahit." He he he .... sampai beberapa kenalan bilang, "Ini pesta kawin atau mau bikin partai?"

Di kolam renang ada spanduk warna sama, pesan lain, “The most important thing in life is to learn how to give out love, and to let it come in.” Ini kalimat terkenal dari Morrie Schwartz dalam buku Tuesdays with Morrie.

Kami juga memakai pepatah Madura di kaca pintu masuk, "Moghe deddhi bunganah ben ekabental pateh." Artinya, "Semoga jadi bahagia dan satu bantal sampai mati."

Rekan-rekan kost Sapariah, yang mengatur pesta ini, memasang puluhan kertas angpao dengan huruf kanji "bing" artinya "kebahagiaan" di berbagai pohon seputar kolam renang. Kerlap-kerlip ditimpa cahaya. Ada suasana romantis.

Jadi, pesan pesta ini jelas gabungan Madura-Tionghoa, serta kepahitan hidup di Indonesia, namun juga harapan pada cinta dan perkawinan. Baik makanan, pepatah dan pesan dibuat dalam dua etnik itu: Madura dan Tionghoa.

Acara ini dibikin tanpa pelaminan. Pengantinnya bergerak terus. Beberapa tamu, ketika salaman, tanya pada saya, "Isteri kamu dikenalkan dong? Lagi dimana isteri kamu?"

Saya tunjuk ke panggung, "Itu lagi menyanyi."

Sapariah menikmati sekali acara musiknya. Yusrianti Pontodjaf, rekan kerja Pantau, paling semangat menyanyi. Dia membawa audiens ikutan joget dangdut. Banyak yang ikut menyanyi. Said Budairy, mantan ombudsman majalah Pantau, menghampiri panggung di ujung kolam dan hendak menyalami Sapariah. Tapi dia keliru orang.

"Bukan Pak! Bukan saya pengantinnya!" kata Yusrianti, tertawa. "Itu yang pakai baju kuning." Said tersipu-sipu menghampiri Sapariah.

Ada sekitar 200an orang datang. Mayoritas orang media, baik wartawan, fotografer, kartunis, disainer. Kami senang banyak rekan Pantau dari luar Pulau Jawa datang ke pesta ini: Esti Wahyuni dari Ende, Linda Christanty dan pacarnya Eddie Adam dari Banda Aceh, Indarwati Aminuddin dan Hasrul Kokoh dari Kendari, Chik Rini dan Samiaji Bintang dari Banda Aceh, juga rombongan dari Bandar Lampung, Bandung dan sebagainya. Banyak juga alumni dari kursus jurnalisme sastrawi bikin reuni kecil disini.

Ada juga keluarga maupun teman lama macam Agus Sopian, Artine Utomo, Budi Setiyono, Daniel Dhakidae, Goenawan Mohamad, Hamid Basyaib, Masmimar Mangiang, Ramadhan Pohan, Siddharta Moersyid dan sebagainya.

Banyak anggota keluarga besar saya datang di acara ini. Mama saya, Tjen Ie Lan, datang bersama kakaknya, Tjen Ie Ing, serta tiga orang anaknya. Sepupu-sepupu yang tinggal di Jakarta juga pada datang.

Adik saya, Rebeka Harsono, pidato mewakili keluarga. Dia cerita bahwa kakaknya ini, dulu ketika mau keluar dari kota Jember untuk sekolah di Malang, mengatakan bahwa dia ingin membawa perubahan pada keluarga kami. Rebeka bilang kalau malam ini kami bisa pesta di daerah Senayan, dengan audiens macam ini, suasana nyaman dan semangat perlawanan besar, itu terjadi antara lain karena keinginan yang diucapkan kakaknya lebih dari 20 tahun silam, tepatnya pada 1982.

Ada sedikit gangguan dari sound system: feedback. Kami sering terganggu dengan feedback. Ini memang salah satu kesulitan bikin musik outdoor. Tapi goyang jalan terus. Artine Utomo, CEO dari TPI, sekaligus boss acara Kontes Dangdut Indonesia, ikut joget bersama Yusrianti. Unik melihat boss KDI berdangdut.

Malam makin larut ketika teman-teman Pantau memutuskan mendorong saya ke kolam renang! Basah semua. Tapi saya masih mampu menyeret salah seorang pendorong, Indarwati Aminuddin, yang juga sahabat karib, ikut masuk kolam.

6 comments:

-FM- said...

Senang membaca postingan ini. Selamat ya mas, sekali lagi, buat kebahagiaannya, buat penemuan belahan jiwanya. Salam buat Arie dan juga Norman.

I'm happy for you.

Anonymous said...

Please accept my much belated congrats for you and spouse. A great example of celebrating differences.

I hope that you will be generous enough to share your celebrations after being being married to your spouse.

Much looking forward to hearing more from you.

singo - yogyakarta said...

salam buat Rebecca, Susana & Deborah. Boleh tau alamat Mama di Yogya? mungkin saya bisa mampir ke sana.
Di SMPK Maria Fatima, saya 1 thn di bawah Andreas.

Christine Natalina Panjaitan Tobing said...

Marissa Haque, seorang artis-cum-politikus, pernah bertanya kepadanya, “Mas ini bekerja untuk bahan tulisan atau buat intel Amerika berkedok ilmuwan?” Liang tersenyum kecut ketika menunjukkan SMS Marissa kepada saya. ... Maksud anda apa sih Mas Andreas??? Bukannya si Marissa Haque yang artis cantik itu pernah bekerja buat anda di Majalah Pantau ya? Saya penggemar anda berdua soalnya!

Christine Natalina Panjaitan Tobing said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Andreas Harsono said...

Dear Tobing,

Saya kurang tahu apa maksud dari pertanyaan Marissa Haque. Mungkin dia curiga dengan CIA? Kami memang kenal cukup lama. Dia suka menulis untuk Pantau. Tapi jangan lupa dia juga seorang politikus dengan ambisi dan keterbatasan kebanyakan politikus Indonesia. Saya hanya mengutip saja pertanyaan dia.