Wednesday, July 29, 2009

Tangga Busway Sarinah Sudah Aus


Selasa pagi saya kebetulan diundang Sidney Jones bertemu di kantornya, International Crisis Group, di sebuah gedung daerah Sarinah. Saya tiba terlalu awal, sehingga berjalan pelan serta mengambil gambar tangga-tangga di stasiun Sarinah. Jones seorang ahli gerakan politik Islam di Indonesia. Kini dia sibuk riset soal pengeboman Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton.

Saya memperhatikan tangga-tangga ini. Mereka terbuat dari baja tahan karat. Kerut-kerut baja diciptakan agar tangga tak licin. Harap maklum! Berjalan di atas baja, bila ada air hujan, sangat licin. Saya perhatikan kerut-kerut itu sudah mulai aus. Sebagian, terutama pada tangga, bahkan sudah hilang.

Saya kurang paham soal konstruksi dan pekerjaan umum. Saya duga keausan ini terjadi karena pemakaian. Entah berapa ribu orang naik-turun stasiun busway Sarinah. Koridor ini dibangun pada zaman Gubernur Sutiyoso. Sutiyoso meresmikan koridor ini, jurusan Blok M ke Kota, pada Januari 2004. Artinya, ia sudah berumur lima tahun.

Saya agak kuatir kalau lima tahun saja sudah aus, bagaimana menjaga perawatan jalur busway ini jangka panjang? Busway sangat menolong mengurangi kemacetan lalu lintas Jakarta. Ia juga berguna untuk kalangan kelas menengah dan bawah. Ia bersama-sama dengan aturan three-in-one --hanya mobil dengan penumpang minimal tiga orang boleh masuk ke kawasan bisnis saat jam sibuk-- mencerminkan kebijakan yang berpihak kepada orang banyak. Walau punya mobil pribadi, saya lebih sering memakai busway bila pergi ke kawasan bisnis.


Mungkinkah aus ini, bila tak ditanggulangi, akan menciptakan lubang-lubang pada tangga busway?

Related Posting
Komentar dari Facebook soal Tangga Busway

4 comments:

Rani said...

Pak andreas, mohon ijin dan kesediaannya untuk artikel ini dimasukkan ke www.rujak.org terimakasih pak!

Andreas Harsono said...

Silahkan Rani. My pleasure. Thanks.

Aunul Fauzi said...

Seperti banyak orang lain, aku juga pernah mengamati keausan lembaran baja tangga halte busway. Beda dengan Bos Andreas, pengamatan itu tidak berakhir di ujung pena. :D

Tentang baja yang cepat aus, aku berfikir sumir nich ... jangan-jangan ... jangan-jangan ... takut ah .. ntar dilaporkan ke polisi .. hihihi .. takuut ... (takut karena gak ada bukti).

Tapi asumsiku kali aja benar. Menurut seorang teman, Indonesia belum bisa membuat sendiri rel kereta api karena tidak bisa membuat campuran baja dengan kemampuan memuai yang cocok untuk menahan panas dan dingin ekstrim. Nah loh. Apa iya? Au ah ...

Andreas Harsono said...

Fauzi, aku kira kita perlu bikin riset bila hendak mengambil kesimpulan mengapa baja ini cepat aus. Kita sama-sama belum bikin riset. Hanya bisa menduga. Kita bisa mudah salah bukan?