Friday, July 03, 2009

Liburan di Tanjung Papuma


Norman dan aku pergi ke Tanjung Papuma, 37 kilometer dari Jember. Kami naik pesawat ke Surabaya, menginap dua hari di Hotel Mandarin Majapahit, lantas naik kereta api Mutiara Timur ke Jember. Sapariah tidak ikut karena sejak Juli ini dia ikut kursus bahasa Inggris. Kebetulan mertuaku, Isah, juga lagi berlibur di Jakarta.

Di Jember, kami bertemu dengan dua orang adik tiri aku: Febrina “Narti” Haryanti (kelahiran 1985) dan Dani Hariyanto (1992). Ini pertama kali aku bertemu Dani. Aku juga baru mengenal Narti, dua tahun lalu ketika dia berkunjung ke acara pernikahan anggota keluarga di Jogjakarta.

Di Jogjakarta, Narti bilang bahwa dia masih punya dua adik lagi, Dani dan Moch. Atok Rohman (kelahiran 1997). Narti bilang Dani saudara satu ayah dengan aku. Atok kelahiran dari pernikahan kedua ibu Narti dan Dani. Aku terharu melihat Dani. Menurut Narti, Dani sendiri lebih menganggap ayah tirinya sebagai ayah sendiri. Aku tak mau mengusik rasa aman itu. Aku juga tahu ayahku sendiri masih punya masalah dengan mantan isterinya.

Norman bermain seru sekali dengan dua orang pamannya. Norman geli tahu dia punya paman masih muda-muda begini. Mereka umurnya sebaya. Jadi, ributlah setiap pagi dan siang, bermain dengan ombak. Aku mengharuskan mereka tidur siang. Aku kuatir mereka kelelahan dan, nantinya, jatuh sakit. Atok paling sulit disuruh tidur. Norman sesekali juga menolak tidur siang.

Tanjung Papuma adalah singkatan dari dua nama pantai: Pasir Putih dan Malikan. Tanjung ini memang memiliki dua pantai. Sebenarnya ada satu pantai lagi, Watu Ulo, terletak sebelah Pasir Putih. Namun Watu Ulo pengelolanya pemerintah kabupaten Jember. Pengunjung bisa tinggal di daerah Pasir Putih. Orang Madura menamai satu batu karang besar, persis di tengah deburan ombak Pasir Putih, sebagai Gunung Kodok. Bentuknya, memang mirip kodok.

Kami tinggal di sebuah kabin sederhana --dua kamar tidur, kamar mandi, AC, sprei, handuk dan ruang tamu-- menghadap ke Pasir Putih. Nama pondoknya, Nusa Barong. Ongkosnya Rp 250 ribu semalam. Kawasan ini dikelola oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Kantor mereka ada di Jl. Gentengkali 49, Surabaya, tel. 031-534 3851-54. Tak ada hubungan kabel telepon disini namun mereka bisa dipanggil lewat 0852-366 28180 atau 0813-582 80769.

Kabin ini menghadap laut. Debur ombak terdengar hingga kamar. Papuma bukan kawasan wisata modern macam Kuta atau Senggigi. Disini tidak ada toko, tidak ada restoran –ada belasan warung ikan bakar—serta tidak ada bar atau karaoke. Aku pribadi lebih suka pantai sepi macam Papuma.

Pagi hari, senang sekali bisa lihat nelayan merapat ke pantai, tarik tali tambang, menurunkan tangkapan mereka, terlibat jual beli, sarapan nasi ketan atau nasi lodeh. Satu porsi nasi ketan Rp 3,000. Nasi lodeh Rp 4,000. Segelas teh manis Rp 2.000. Untuk ukuran kantong kelas menengah Jakarta, harga-harga ini murah sekali. Kami makan ikan bakar untuk siang dan malam. Lima orang, makan sekenyang-kenyangnya, ikan putehan serta udang bakar, nasi putih satu tenong, lalapan serta minum, total Rp 100,000 hingga Rp 120,000.

Kami juga lihat panorama Laut Selatan lewat satu shelter, dekat Gunung Kodok. Perhutani menyebutnya “Siti Hinggil.” Ada juga gua bekas pertahanan Jepang, sekitar 100 meter dari permukaan laut. Aku menggunakan waktu liburan ini untuk jalan-jalan sepanjang pantai. Bicara dengan nelayan. Lihat ikan tangkapan. Berenang dengan anak-anak. Main sepak bola pantai. Aku juga bicara dengan Narti, kuliah, keluarga dan karirnya. Aku terkadang iba dengar cerita Narti tapi aku juga senang lihat mereka bertiga, kakak beradik, hidup sederhana dan bahagia.

Ada sekitar 35 perahu ikan berlabuh di Pasir Putih. Rata-rata perahu diawaki 17 orang, termasuk satu juru mudi, yang bertugas mencari kawanan ikan. "Kalau malam (kawanan ikan) berkilat," kata satu nelayan. Mereka mulai siap ke laut sekitar pukul 20:00. Semalaman mereka menjala ikan. Jalanya panjang, hingga 100 meter lebih. Mereka kembali ke pantai pukul 5:00. Pukul 6:00 ramai nelayan menarik tali, mengikat tali ke pohon lantas menurunkan muatan. Keranjang demi keranjang. Mayoritas nelayan Watu Ulo orang Madura.

Dalam dua pagi kami mengamati mereka, rata-rata satu perahu membawa pulang 50 keranjang ikan. Kali ini musim tangkapan mereka adalah ikan kecil –orang Madura menyebutnya “siak-siak.” Sekali melaut, seorang juragan kapal bisa dapat minimal Rp 10 juta. Bila sedang baik, bisa lebih dari Rp 20 juta. Ini dibagi 50:50 antara juragan dan awak kapal.

Kalau ada kritik aku terhadap pengelolaan Perhutani adalah polusi suara. Petugas hutan tampaknya suka setel radio dan menyalurkan siaran radio ke loudspeaker. Keras-keras. Rasanya, telinga aku dapat sampah suara, setiap kali radio dinyalakan.

Polusi lain adalah cahaya. Aku perhatikan banyak sekali lampu dinyalakan secara tak perlu. Pada 1970an, ketika aku beberapa kali berkunjung ke Pasir Putih, masih belum ada listrik. Aku selalu ingat bisa melihat langit dan menghitung bintang. Sekarang susah sekali lihat bintang berhubung banyak polusi cahaya.

Hal lain adalah sampah plastik. Aku lihat tumpukan sampah di Siti Hinggil. Bungkus rokok, permen dan lain-lain. Sedih lihat sampah bertebaran di pantai ini. Tampaknya Perhutani belum tahu bagaimana mengatur eco-tourism. Perhutani tak mau Papuma berkembang macam Kuta atau Senggigi. Mereka ingin mengembangkan “wana wisata” --slogan mereka memang "wana wisata"-- namun mereka belum bisa mengatur bagaimana tetap menjaga keasrian hutan, melawan polusi, hingga aras paling rendah di lapangan.

5 comments:

faiz said...

salam kenal om...

Aunul Fauzi said...

Wartawan politik 'serius' menulis cerita perjalanan dengan cara yang 'ringan'. Kok bisa ya .. he he he. Patut ditiru nich cara menggambarkannya.

Mo tanya, ketika 'wawancara' atau ngobrol dengan 'narasumber' apakah Koh Andreas sempat membuat catatan? Mengeluarkan buku notes kecil dan bolpoin pasti akan bikin para nelayan tanda tanya dan bahkan takut cerita.

Ataukah cukup direkam di ingatan? Lalu cepat-cepat kembali ke meja di kabin, menuliskan detil informasi (panjang jaring, harga ikan, dll dll) biar gak kelupaan?

Berapa lama proses menulis ini? 30 menit, dan langsung posting? Apakah menulisnya di kabin? Atau sekembali ke Jakarta?

Thanks .. kalo ada kesempatan, minta tolong diberi jawaban .. .

Andreas Harsono said...

Dear Aunul Fauzi,

Pertama, kami ada disana selama beberapa hari. Semua informasi ini didapat sedikit demi sedikit. Banyak nelayan tahu aku kerja sebagai wartawan, yang lagi liburan. Caranya macam-macam. Ada yang kebetulan lagi bawa buku notes, ya aku tulis pada notes. Kalau kebetulan lagi mengobrol di warung dan notes tertinggal di kabin, aku biasanya menulis di kertas tissue. Kembali ke kabin, aku pindahkan ke notes. Tidak ada obrolan. Bila mengobrol dan tiba-tiba tertarik untuk mengambil kutipan si nelayan, aku akan minta izin memakai kutipan. Bila dia setuju, aku minta diulangi lagi, kata demi kata. Naskah ini aku tulis dalam kabin. Terima kasih.

ahmadinha said...

aku juga pernah ke papuma, memang betul seperti Om sampaikan, terutama tentang kritik2 yang "Khas" Wisata Daerah, tentang polusi suara itu, hihihih jadi terbuka mataku, hampir semua tempat wisata di Jember selalu tidak akan meninggalkan "apparel" suara itu. Coba deh tengok, bandingkan dengan daerah laen Malang, Madiun, Ponorogo dll. Pasti ketahuan orang Jember punya kekhususan "Sosiologis" thd suara.
Salam Om, aku pengin belajar, oya, tulisan tentang Soemarsono-nya Menarik, sudah lama saya cari. Ahmadinha

Eka Prasetyo Priambodo said...

tanjung papuma emang keren...sip