Monday, October 01, 2007

Kursus Jurnalisme Sastrawi XIV


Hari ini hampir tak ada warga yang mendapatkan breaking news dari suratkabar. Mereka mendapatkannya dari televisi, radio, SMS, telepon atau internet. Tantangan baru muncul: bagaimana suratkabar bertahan bila mereka tak bisa mengandalkan kecepatan?

Tawaran ini di New York dan sekitarnya dimunculkan Tom Wolfe pada 1973. Wolfe mengenalkan sebuah genre baru saat itu: New Journalism. Ia mengawinkan disiplin keras dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat novel tapi faktual. Genre ini mensyaratkan liputan dalam namun memikat. Genre ini kemudian dikenal dengan nama narative reporting atau literary journalism. Sejak 1980an, suratkabar-suratkabar di Amerika banyak memakai elemennya ketika kecepatan televisi memaksa tampil dengan laporan mendalam.

Di Jakarta, genre ini diperkenalkan lewat sebuah kursus pada Juli 2001. Mula-mula hanya dua kali namun permintaan tetap datang. Angkatan-angkatan baru pun dibuat setiap satu semester. Pesertanya datang dari berbagai kota, dari Banda Aceh hingga Jayapura, dari Pontianak hingga Kuching, dari Ende hingga Kupang. Khusus angkatan XIII diadakan di Banda Aceh. Alumninya, kini mulai bermunculan, dengan prestasi karya individu maupun kemajuan karir di manajemen. Ada yang menulis buku. Ada yang jadi pemimpin redaksi. Ada yang sekolah lanjut.

Kursus akan diadakan pada:
10 – 21 Desember 2007
Pukul 10.00 – 15.00


Kursus ini dibuat berseling yaitu satu hari sesi di kelas, satu hari tugas membaca dan menulis di rumah. Peserta adalah orang yang biasa menulis untuk media. Setidaknya berpengalaman lima tahun. Peserta maksimal 16 orang agar pengampu punya perhatian memadai buat semua peserta. Calon peserta diharapkan mengirim biodata dan contoh tulisan agar pengampu mengetahui kemampuan dasar peserta lebih awal.

Biaya pendaftaran Rp 3 juta. Biaya tersebut sudah termasuk buku dan materi kursus non buku sekitar 200 halaman serta coffe break dan makan siang. Pilihan menu makan siang cukup mengundang pujian! Kali ini akan dicoba masakan Thailand: thom yam gong, pad thai dan lainnya. Namun juga bakal coba makanan Itali: spaghetti carbonara, ravioli isi ikan, pasta plus terung bakar dalam lasagna. Menu nasi bungkus pisang ala Sunda, tak ketinggalan. Juga sayur asem, ikan asin, empal manis ala Jawa.

Pengampu
Janet Steele -- Associate Profesor dari George Washington University. Mengajar mata kuliah narrative journalism. Janet berminat pada masalah-masalah pers yang terjadi di berbagai negara maupun di Indonesia. Menulis buku Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia. Pada 2005-2006 Janet menerima Fullbright Scholarship untuk mengajar jurnalisme di Indonesia.

Andreas Harsono -- Ketua Yayasan Pantau, pernah bekerja di beberapa media internasional, anggota International Consortium of Investigative Journalists, pada 1999-2000 mengikuti Nieman Fellowship di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Sekarang Andreas sedang menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism yang membahas kompleksitas hubungan antara media, kekerasan, etnik dan agama dengan nasionalisme di Indonesia.

Remy Sylado --guest speaker, cerita soal pengalaman menulis, bagaimana mengatur disiplin dan segala isi dapur seorang pengarang. Sesi khusus ini diadakan di rumah Remy Sylado.

Related Links
Silabus Kursus Jurnalisme Sastrawi XII
Peserta Kursus Jurnalisme Sastrawi XII
Sunaryo Adhiatmoko: Ketawa ala Pantau
Silabus Kursus Jurnalisme Sastrawi VII

Informasi lengkap:
Dayu Pratiwi
Jl. Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
Phone. 021 – 7221031
Fax. 021 – 7221055
Cell. 0817 4866582
Email. dayu_pantau@yahoo.com

Pendaftaran transfer:
Rekening a.n Yayasan Pantau
Bank Mandiri
KCP Jakarta Kebayoran Lama
No. 128.000.4350192

3 comments:

diyah said...

Menarik, macamnya Capote's In Cold Blood gitu ya?

Deadline pendaftaran kapan ya? Plus, apakah kita akan nulis pakai bahasa indonesia/inggris/suka-suka?


- winny

Andreas Harsono said...

Dear Winny,

Janet dan saya bisa menulis dalam dua bahasa saja, Inggris dan Melayu. Angkatan-angkatan sebelumnya, termasuk wartawan The Jakarta Post yang rutin ikut kursus ini, mengerjakan tugas mereka dalam bahasa Inggris. Pada angkatan XII ada peserta warga negara Malaysia. Dia menulis dalam bahasa Inggris juga. Mungkin saya masih bisa menyunting dalam bahasa Jawa Ngoko atau bahasa Madura. Terima kasih.

dionbata said...

Program bagus mas Andreas. Mudah-mudahan suatu saat bisa mengikutinya...