Monday, October 29, 2007

Retno Bawa Polisi untuk Ambil Norman


Retno Wardani, mantan isteri aku, membawa seorang polisi Sabtu malam guna menjemput anak kami, Norman Harsono, dari rumahku di Senayan sesudah Norman menolak pergi ke rumah ibu kandungnya itu di Bintaro.

Ini kejadian luar biasa, yang melelahkan sekali, melibatkan bukan hanya Retno dan aku, namun juga Sapariah, isteri aku, serta beberapa teman kami, yang kebetulan mendengar atau menyaksikan bagaimana Retno berusaha “mengambil” Norman dengan cara tak patut.

Kejadian ini bermula Sabtu siang, ketika Norman tiba-tiba menelepon aku di Pesta Blogger di Blitz Megaplex, Grand Indonesia. Norman bilang ibunya minta dia segera pergi ke Bintaro.

Namun Norman menolak pergi ke Bintaro. Dia bilang, sesuai janji pertukaran waktu tinggal selama liburan, Norman bisa tinggal di Senayan bersama aku, hingga Minggu siang. Liburan Lebaran kemarin, Norman tinggal bersama Retno terus.

Retno sendiri, sejak Agustus lalu, pindah ke Bintaro. Retno menumpang tinggal di rumah ibunya, M.Th. Koesmiharti, sesudah Retno kesulitan finansial dan mengkontrakkan rumah gono-gini, milik Norman, di Pondok Indah. Bintaro jauh sekali dari sekolah Norman di Kemayoran. Dia minta pindah ke Senayan saja. Retno tak mau.

Retno bersikeras Norman pergi ke Bintaro. Norman tetap mengatakan tidak mau. Norman hanya akan pergi ke Bintaro Minggu siang. “Wah, bakal ramai nih,” aku pikir. Aku beri tahu Imam Shofwan, rekan kerja, yang sama-sama datang ke Pesta Blogger.

Babak pertama. Kami segera pulang ke Senayan. Norman terlihat kesal. Dia mengatakan kuatir ibunya menjemput paksa. Aku menelepon Retno dan memberitahu keinginan Norman. Retno menolak dan bersikeras aku mengantar Norman ke Bintaro. Aku katakan berkali-kali Norman tidak mau.

Siangnya, bersama Sapariah serta beberapa kolega dari Pantau – Anugerah “Nugi” Perkasa, Basil Triharyanto, Dayu Pratiwi, Imam Shofwan, Khoiruddien, Rina Erayanti, Siti Nurrofiqoh— Norman dan aku pergi ke resepsi pernikahan Samiaji Bintang dengan Fitriana Rusli di Kebun Jeruk. Bintang rekan kerja kami di Pantau Aceh. Kami ramai-ramai datang ke acara bahagia untuk Bintang dan Fitri.

Norman membawa buku Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Dia sibuk makan siomay serta membaca buku sembari menemani kami semua mengobrol dan bergurau dalam pesta. Norman tampaknya melupakan permintaan ibunya.

Babak kedua. Pulangnya, Nugi dan Imam menumpang mobil kami. Disinilah ketegangan muncul lagi ketika Retno tiba-tiba menelepon. Retno minta aku membawa Norman ke Bintaro. Aku bilang Norman tak mau. Retno minta bicara langsung dengan Norman.

Ketika telepon aku berikan ke Norman, Norman mendengar, namun tak bicara. Retno mematikan telepon. Norman bilang kepada kami bahwa dia sudah menjelaskan tiga kali pagi ini bahwa dia tak mau ke Bintaro.

Retno menelepon lagi. Aku berikan Norman lagi. Tak dijawab lagi. Retno menelepon lagi. Norman menolak lagi. Aku capek. Aku minta tolong Sapariah menjawab. Sapariah menjawabnya. Retno minta bicara pada Norman. Sapariah memberikan pada Norman. Norman menolak menjawab. Ini berulang kira-kira enam atau tujuh kali.

Nugi ikut membantu menjawab. Nugi memberitahu Retno bahwa telepon sudah diberikan ke Norman tapi dia tidak mau bicara. Retno mengebel lagi. Nugi, Sapariah maupun Imam sama-sama tak mau menjawab. Kapok. Ada usul agar telepon dimatikan saja.

Aku angkat lagi. Retno memaki-maki. Dia bilang aku yang “ngompor-ngompori” Norman. Dia bilang kalau Norman tinggal dengan aku, saat itu juga Norman berubah. “Sekarang, aku minta kamu bertanggungjawab. Kamu antar Norman ke Bintaro!” katanya.

Aku jawab, “Aku tidak mau. Kalau Norman tidak mau, aku juga tidak mau.”

Norman minta kami tidak pulang ke Senayan. Dia kuatir Retno menjemputnya di Senayan. Aku bilang tak apa. Toh kami harus ganti pakaian. Aku lelah, sepagian ikut Pesta Blogger, siang resepsi serta kehujanan, seraya kena macet di Kebun Jeruk. Aku juga masih menghadapi telepon Retno terus-menerus. Norman jadi nervous.

Babak ketiga. Malam hari, Imam, Norman dan aku pergi menjemput seorang tamu, Glenn Raynor, dari Vancouver di Wisma PGI di Menteng. Glenn mengantar titipan satu set CD ROM majalah The New Yorker serta satu dokumen dari National Security Archive di Washington DC. Aku memang lagi mencari dokumen-dokumen ini guna riset.

Kami pergi makan malam di rumah makan khas Jawa Timur “Handayani” di Matraman. Makanannya lezat. Norman makan ayam goreng dan nonton Cartoon Network.

Tiba-tiba Retno menelepon. Dia bilang dia sudah ada di apartemen Senayan. Retno minta aku membawa Norman ke Senayan. Aku bilang Norman tidak mau. Aku membantu anakku.

Menurut Sapariah, Retno naik dan masuk ke apartemen bersama pengasuh Norman, Sri Maryani. Sapariah mempersilahkannya duduk. Handphone aku mati kehabisan baterai. Retno minta nomor Imam kepada Sapariah. Norman mendengar permintaan itu ketika Imam menyampaikannya kepada aku. “Papa, she gets on my nerves,” kata Norman. Dia menangis.

Retno menelepon Imam lagi. Aku sampaikan kepada Retno, Norman menolak pulang ke Senayan. Retno teriak-teriak, “Kalau kamu nggak bawa Norman ke sini, aku panggil polisi. Ini keputusan pengadilan. Kamu jangan serakah. Kamu pakai otakmu!”

Glenn merasa ada yang tak beres. Aku cerita singkat saja. Glenn ikut prihatin. Kami mengantar Glenn kembali ke hotel. Ketika keluar dari mobil, Norman merangkul aku lagi. Matanya basah.

Aku memutuskan pergi ke sebuah toko Indosat di pertokoan Sarinah. Tujuannya, membereskan tagihan telepon Matrix, yang membengkak, gara-gara ada otomatis SMS keluar saat aku di Napoli dan Roma bulan lalu. Lama menunggu giliran layanan Matrix. Mereka berjanji melakukan "investigasi."

Disinilah, Retno menelepon lagi dan bilang dia sudah datang bersama seorang polisi. Dia minta aku membawa Norman ke Senayan “sekarang juga.” Menurut Sapariah, dalam apartemen kami, Retno duduk di ruang makan bersama polisi tersebut. Retno bicara terus, soal aku yang sering menggunakan kekerasan terhadap Norman. Retno menuduh aku pernah menghalanginya membawa Norman dari Senayan. Aku memukul Retno “hingga berdarah-darah.” Dia mengatakan tak pernah secuil pun menyakiti Norman. Retno juga membawa dokumen-dokumen, seperti perjanjian notaris terkait perceraian, lalu menunjukkannya ke polisi. Retno menekankan bahwa aku pernah memukulinya di Cambridge.

Norman lari ke lantai bawah di Sarinah, menghindar dari kemungkinan Imam atau aku memberikan telepon kepadanya. Aku kasihan sekali lihat dia lari. Aku putuskan Norman tak perlu pergi ke Senayan. Norman tak perlu merasa lebih tertekan lagi. Imam bilang ini tak baik untuk psikologi Norman. Imam setuju. Sekali, Norman mengatakan kepada si polisi, via telepon, dia tak mau menemui ibunya.

Polisi mengatakan pada Sapariah bahwa dia menemani Retno sebagai tindakan “pengamanan” saja. Menurut Sapariah, polisi ini lebih banyak diam dan tersenyum.

Di Senayan, Sapariah dan Isah, mamak mertua aku, yang kebetulan lagi main di tempat kami, mencoba menenangkan Retno. Usaha yang sia-sia. Retno minta Sapariah tidak ikut campur urusan ini. Sapariah tersinggung. Ini tamu datang ke rumah dan minta si tuan rumah tidak bicara. Sapariah mencoba menjelaskan logika bolak-baliknya Retno.

Retno mengancam menggugat aku ke pengadilan karena tidak mentaati kesepakatan perceraian kami. Aku bilang dia "sinting" dengan logika terbolak-balik, mencampur aduk antara fakta dan fiksi. "Kapan aku memukul kamu hingga berdarah-darah ketika mau ambil Norman?"

Dia jawab, "Di Amerika dulu, kamu dipenjara karena memukul aku!" Dia bilang ke polisi, "Dengar sendiri? Dia melakukan kekerasan. Dia bilang saya 'sinting.'"

Babak terakhir.Di tengah banjir telepon, aku pinjam telepon Imam untuk menelepon Susilahati dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Susilahati lagi dalam perjalanan menuju Makassar bersama anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Susilahati mengatakan aku sebaiknya menelepon seorang perwira polisi di Kepolisian Daerah Metro Jakarta, yang bertanggungjawab mengurus masalah anak. Dia memberi nomor telepon "Pak Rivai."

Ajun Komisaris Besar Ahmad Rivai, Kepala Satuan Remaja, Anak dan Wanita Kepolisian Jakarta, mengatakan polisi tak berhak membantu penjemputan anak dalam sengketa begini. Aku adalah ayah kandung Norman. Dia ingin bicara langsung dengan polisi yang menemani Retno. Namun mereka sudah pergi.

Kami pun mengantar Imam pulang. Norman masih merasa nervous. Dia ingin mampir di tempat Imam. Aku bilang sudah larut. Norman dan aku kembali ke Senayan pukul 23:00. Hari yang melelahkan sekali. Norman minta aku membuatkan pasta. Sapariah cerita soal kedatangan Retno. Kelihatannya, dia juga tertekan. Namun kami merasa harus bertahan dari tekanan ini.

Related Stories

Norman Menjelang Perceraian
Asthma Cases on the Rise Among Children
"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"
Norman Dipindah ke Bintaro

Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono
Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneagles
20 Menit Senayan-Kemayoran

Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak
Transportasi Norman Rp 4.5 Juta Sebulan
Kemayoran-Bintaro 64 Kilometer
Susilahati dari Komisi Anak

Superhero Norman
Mobil Norman Serempetan
Catatan Liburan Lebaran

8 comments:

mellyana said...

mas, mudah-mudahan bisa terus dapat kekuatan ekstra buat menghadapi ini, dan terutama bisa segera dapat keputusan yang paling baik buat Norman.

Iman Brotoseno said...

prihatin,..sekaligus kagum berani mengangkat ruang yang sangat personal ini ke blog, hal mana yang membuat saya berpikir dua ribu kali.
Kagum dengan keberanian dan keyakinan..

Andreas Harsono said...

Dear Melly dan Iman,

Terima kasih untuk Comment kalian. Ini memang bukan masa-masa yang ringan bagi Norman maupun saya. Kalau hari ini saya mengungkapkannya semua ke blog, saya kira, prosesnya sudah dimulai sejak sekitar tiga tahun lalu. Norman waktu itu minta pindah ke tempat saya seratus persen. Saya merasa dia masih kecil, mungkin pertimbangannya belum cukup dewasa. Namun Norman konsisten minta pindah.

Ini semua meledak sejak Retno memindahkannya ke Bintaro. Dia merasa kelelahan, tak punya waktu belajar dan istirahat cukup. Pelajaran sekolah juga menurun.

Saya pikir mengungkapkannya ke blog, sesuatu yang kurang lazim di kalangan kita, ternyata juga membantu proses pelaporan kasus ini ke Komisi Perlindungan Anak maupun lembaga lain, kalau diperlukan. Saya kira, orang lain juga bisa belajar dari kasus ini --baik dari kegagalan pernikahan kami, sulitnya pengasuhan anak maupun kinerja Komisi.

Last but not the least, saya dilatih jadi wartawan untuk mengungkapkan kebenaran. Saya dilatih untuk percaya pada kebenaran, sesakit apapun kebenaran itu, ia berguna bagi orang buat mengambil keputusan. Kebenaran akan membebaskan kita. Saya percaya kredo ini. Saya juga mau memakainya untuk diri saya sendiri.

Saya juga bilang pada Norman, "Please don't make things like what Mama is doing." Karena kalau kelak Norman juga bikin salah, saya juga akan berani mengungkapkannya. Norman menjawab, "I'm proud to be your son."

Terima kasih.

Ini wartawan poenja blog. said...

Kejadian yang mengesalkan sekaligus lucu bagi saya. Yang jelas pelajaran dan pengalaman cukup berharga. Kepala sampai pusing karena ungkapan2 yang memutarbalik fakta. Sambil menahan kesal, dalam hati berkata," Kok bisa ya ngomong seperti itu." Sesekali aku geleng-geleng kepala dan menghela napas.

Yang lucu ketika dia mengatakan," Norman secara fisik mirip papanya, tapi secara software seperti saya, mudah manis, lembut dan taat hukum." Wow.

Mungkin Polisinya berpikir dan saya sendiri jelas langsung berpikir," Kok, kalau manis dan lembut ngomongnya kasar dan galak seperti itu ya?" Namun, Polisinya lebih memilih diam dan memerhatikan. Mungkin bingung juga ya:-)

Banyak ungkapan yang ga masuk akal. Misal, Andreas itu suka melakukan kekerasan fisik kepada anak. Mengapa papa yang galak, anaknya malah ga mau pulang, mau sama papanya terus ya? Sebenarnya siapa yang galak sich?

Lalu dibilang juga aku jangan ikut campur urusan ini? Bagaimana mungkin, wong itu di rumahku, Norman anak suamiku, ya anakku juga. Gimana sich?

Dia bilang juga, bahwa dia tidak pernah mempermasalahkan ketika aku menikah dengan Andreas. Makin aneh aja! Emang lho sape? Emang lo apenye Andreas? Jelas-jelas, gue nikah ame dude. Ga ade hubungan ape-ape ame die, keluarge juga bukan. Nyadar nape? So what gitu loh? Benar-benar aneh binti ajaib bo!

Banyak lagi deh, gue ampe pusing. Yang penting dari semua ini, semoga Norman bisa mendapatkan haknya sebagai seorang anak, menikmati hidup bahagia sebenar-benarnya sebagai seorang anak manusia. Bukan dianggap barang atau pembagian harta gono gini yang bisa diperebutkan tanpa memperhatikan perasaan dan keinginannya.

Semoga kejadian serupa tidak terjadi pada anak-anak lainnya.....

saya?? said...

Aduh mas, (salam kenal dulu) ga sengaja aku nemu blognya, dan kok pas baca yang ini... Apa ga ada kemungkinan PK mas?? supaya Norman bisa ikut mas... Atau setidaknya biar Norman bisa memilih mau ikut siapa yang paling bikin dia nyaman. Paling benci deh klo anak dijadikan alat pembalasan dendam..

ALAM BORNEO said...

Bung Andreas & Adik Arie,

seminggu ini tak gunakan internet karna sibuk, sakit batuk pilek dan komputer kena virus, komplikasi masalahnya sehingga jauh dari dunia maya.

Pagi ini sengaja buka blog Bung Andreas untuk tahu kabar tentang Ananda Norman.

Secara kejiwaan saya dapat melihat Ananda Norman berusaha keluar dari persoalan hidupnya, kecerdasan intelektualnya tidak mampu lagi mengendalikan kecerdasan emosionalnya, juga karena usianya yang muda.

persoalan ini harus segera di selesaikan secara hukum, supaya ada kepastian jika tidak semua ketidaknyamanan ini kelak akan meninggalkan banyak residu dalam kejiwaan Ananda Norman.

Adik Arie yang baik, senang mengetahui Adik dapat berposisi sebagai Ibu yang baik buat Ananda Norman, Makna seorang Ibu terutama akan berarti jika ia di beri sebuah tempat khusus dalam hati seorang anak.

Bung Andreas semoga selalu dapat menjadi pagar saat Ananda Norman saat jiwanya ada di pinggir jurang kehidupan, jadi diri Bung Andreas sebagai pagar tempat buat Ananda Norman Berpegang sehingga dengan penuh rasa percaya diri Ananda Norman dapat berdiri di tepi jurang kehidupannya dan menatap jauh untuk memahami semua relung persoalan nya

Sampaikan salam sayang saya buat Ananda Norman

Salam hangat,

Ir. Andreas Acui Simanjaya
andreasacui@yahoo.com

lewa pardomuan said...

Dear Andreas,

Greetings and I hope you are doing fine. It's pity that your beloved son is caught between a rock and a hard place. How you wish to raise your son, it's none of my business but don't you think it's sad to see a child develop a sense of hatred towards his own mother? I can only guess that Norman now hates to be with her. I guess he is already broken hearted and I am not sure whether telling the world about your previous marital problems is a good idea. But of course, that's your call. I don't know whether helping Norman nurture that sense of hatred towards his mother will help his development as a child. I am not not sure either if Sapariah wants to be dragged into this problem over and over. I apologise for being blunt, and I should say, perhaps, this is none of my bloody business. But I wish you all the best. Regards/Lewa

Andreas Harsono said...

Dear Lewa,

I also thought that I should overcome this problem privately. I tried to reason with my ex wife, over and over again, for four years that it was bad to treat Norman like the way she did.

Only later I realized that an abusive mother is not a private matter. It is a public concern. Don't you know that most children abuses were conducted by people closest to the children? According to a Unicef survey, about 85 percent of children abuse in some parts of Indonesia, including Java, were done by closest relatives: parents, siblings, relatives etc.

I believe that it is better for me to publicly fight this abuse. We went to the Children Protection Commission, psychologists etc as it is not a private matter.