Wednesday, November 23, 2005

Tobelo, Tobelo, Tobelo


Tobelo adalah sebuah kota di ujung Pulau Halmahera. Ukurannya kecil bila dibandingkan kota-kota di Pulau Jawa. Ia tak lebih besar dari sebuah real estate ukuran kecil di Jakarta. Ia bisa dijangkau dengan mudah dari Manado langsung dengan pesawat Merpati, mendarat di daerah Kao, sekitar satu jam dari Tobelo. Ada dua bank di Tobelo, BNI dan BRI, serta sebuah pasar dan terminal angkutan kota yang berantakan. Orang banyak jualan makanan di pusat kota, dari coto Makassar hingga ayam goreng Jawa.

Aku mengenal Tobelo ketika membaca buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen karya Ron Heynneman. Van Diejen seorang perempuan Belgia, yang menikah dengan John van Diejen, seorang administratur perkebunan Belanda di Tobelo. Ia naik kapal dari Rotterdam ke Halifax (Kanada) lalu New York, naik kereta api sembilan hari ke San Fransisco, naik kapal lagi, ke Hawaii, lalu Yokohama, lalu Hong Kong, lalu Singapura, lalu Belawan dan Batavia. Ia tinggal di Tobelo antara 1920 dan 1942. Ceritanya sangat memikat, membuat aku jadi ingin melihat tempat-tempat dimana Van Diejen pernah bekerja dan membangun perkebunan kelapa.

Kini Tobelo adalah ibukota Kabupaten Halmahera Utara. Aku tinggal di Tobelo hampir seminggu November ini. Bicara kesana kemari, keliling kota cuma 20 menit, melihat kampus Sekolah Tinggi Theologia Tobelo dan Politeknik Padamara.

Aku juga bertemu dengan praktis semua orang penting di kota ini –kecuali mereka lagi keluar kota. Entah kenapa, aku suka dengan kota ini, mungkin karena pengaruh pasangan Alexander Davey dan Grace Siregar. Mereka bekerja di Tobelo dan menyewa rumah kayu Minahasa. Aduh enaknya, angin malam menerpa teras rumah. Alex bekerja untuk World Vision Indonesia. Grace seorang seniman, banyak membina hubungan dengan seniman Ternate, Tobelo dan Morotai.

Image hosted by Photobucket.com

Teluk Kao, dimana Tobelo terletak, pada zaman Perang Dunia II jadi pangkalan armada laut Jepang. Lautnya dalam. Pada zaman perang, ada lebih dari 2,000 kapal perang hilir mudik disini. Sebagian besar ditenggelamkan oleh pesawat terbang Amerika. Ada beberapa haluan kapal masih terlihat di Teluk Kao. Jepang juga membangun lapangan terbang besar dengan tujuh landasan.

Image hosted by Photobucket.com

Di Tobelo ada beberapa hotel. Aku tinggal di Villahermosa, yang terletak di daerah Wosia. Kamar bersih. Udara bersih. Harga Rp 100,000 per malam. Mereka juga sedia laundry. Pemiliknya, orang Tionghoa Tobelo, Heri Manonata, sangat membantu bila aku mau ketemu orang, naik gunung, snorkelling, naik gunung, cari mobil dan sebagainya.

Aku kira, Tobelo bisa jadi daerah tujuan wisata sing ciamik! Ada laut. Ada gunung. Ada sejarah.

Image hosted by Photobucket.com

Pusat kota sederhana. Tobelo termasuk kota yang banyak penduduk Kristennya. Aku melihat orang memakai kalung salib dimana-mana. Di pusat kota, juga sering terdengar lagu-lagu disco gereja. Amazing Grace dan Kumbaya rasanya menghantam telinga di pusat kota ini. Pada 1999-2001, Tobelo juga jadi pusat pertumpahan darah Kristen-Islam yang buruk sekali. Hampir separuh kota terbakar habis. Listrik tak menyala hampir empat tahun.

Menariknya, ia cepat sekali bangkit dari keterpurukan itu. Ada suasana terbuka yang wajar. Baik orang Kristen dan Islam mengatakan tak ada yang menang, tak ada yang kalah dalam peperangan itu. Mereka kini belajar untuk toleran satu dengan yang lain.

Image hosted by Photobucket.com

Ani Sawal, orang Ternate, menjual nasi kuning khas Ternate di pusat kota. Aku suka sekali nasi ini. Ia dicampur bakmi, ikan cakalang masak bumbu dan acar mentimun. Setiap pagi aku sarapan disini.

Hari ketiga, "Cik Ani" cerita pengalamannya saat kerusuhan. Rumah dan restorannya habis terbakar. Suaminya, orang Bugis, Tellong Haji Lombe, meninggal karena stres di Makassar. Anaknya, yang ikut berperang, kena bom dan kaki kanannya cacat. Ia menangis ketika cerita. Cik adalah bahasa Tobelo untuk Ibu atau Madame.

Pada 1980, Cik Ani buka rumah makan "Maro Ona" yang artinya "Sama Saja" dalam bahasa Galela. Dia jual nasi kuning, ikan bakar. Suaminya tukang jahit serta punya 36 becak. Pada Desember 2000, perang di Maluku menjalan ke Tobelo. Muslim lawan Kristen. Ceritanya seram.

Image hosted by Photobucket.com

Di pasar Tobelo, aku juga terpesona, sekaligus jijik, melihat orang menjual kelelawar. Paniki --masakan kelelawar-- tergolong kegemaran orang Tobelo. Namun cara membunuh kelelawar ini yang bikin aku jijik. Kelelawar hidup-hidup ini diambil dari keranjang dan dipukul kepalanya dengan kayu. Darah muncrat.

Aku juga belanja perhiasan besi putih asal Pulau Morotai. Kerajinan ini terkenal sekali. Besi putih diambil dari bekas-bekas pesawat terbang Sekutu yang dulu ditinggalkan di Morotai sesudah Perang Dunia II.

Image hosted by Photobucket.com

Pisang montok-montok. Kebanyakan sayuran dan buah-buahan datang dari daerah Galela, utara Tobelo, yang mayoritas penduduknya Muslim. Baik Tobelo dan Galela sebenarnya daerah campuran. Kampung Islam dan kampung Kristen berserakan dan berselang-seling.

Image hosted by Photobucket.com

Bila bisa naik mobil ke Duma, sebuah daerah yang indah di ujung Danau Galela, kita juga bisa berkunjung ke Gereja Masehi Injili di Halmahera cabang Duma. Namanya, GMIH Nita. Disini ada kuburan massal orang GMIH yang 201 orang mati dibunuh dalam suatu serangan dari Pasukan Jihad pada 19 Juni 2000. Mereka belakangan dimakamkan bersama-sama. Banyak pendatang berkunjung.

Di samping pemakaman ini ada replika KM Cahaya Bahari yang tenggelam seminggu sesudah serang Duma. Ada 100 warga Duma yang hendak mengungsi ke Manado ikut tenggelam. Ini adalah jumlah korban terbesar dalam pertikaian agama di daerah Maluku. Duma kehilangan lebih dari 300 warganya dalam pertikaian ini. Kini kebanyakan warga desa adalah janda dan anak-anak.

23 comments:

ratna said...

wah, mudah-mudahan satu hari nanti saya juga sampai ke sana ya ... :)

Keluh Kesah said...

tamrin amal tomagola, sosiolog dan dosen ui, orang asli galela (kata yang mengingatkan aku pada bangsanya asterix dan obelix hehe..) kalau dia baca blog ini mungkin juga akan berkomentar banyak karena merasa dejavu (sok tau banget gue ;-p)

stevemailoa_III said...

love and peace.... hobataaaa.... just remind me to mokuru.... tugutil...;we we posido oha bay.... hehehe eko sarakia...?; dont be worry i just praying to my family all around the halut...so we started to new begining to new life with love and peace....ps duma manyawa, tobelo manyawa....eko

Anonymous said...

awal Juni tanggal 1 2007, aku dan istriku ke Tobelo. ternyata kotanya asyik juga untuk weekend. aku baru pertama kali ke sana, trus ketemu saka Sherly tandean teman lamaku waktu kuliah di manado. dia sudha punya dua anak yang lucu-lucu...smoga kelaurganya selalu diberkati tuhan. istriku dulu waktu abis kerusuhan kerjanya di world vision dan bertugas di kao. walaupun aku tinggalx di Tidore, tapi baru sekali ke Tobelo. Kotanya memang kecil dan cocok untuk berliburan... suatu saat nanti aku pasti kembali. smoga Tobelo dan halmahera utaranya bakal lebih maju lagi...

Miko Tjndua said..... said...

Tobelo kota kecil tapi hebaaaaaat...aku putra asli Tobelo, studi di luar daerah tapi tetap cinta kota kelahiranku...pemandangan indah, dan banyak kemajuan yang bisa dilihat...kota yang lebih maju dari pada kota-kota lainnya di Halmahera...di sinilah, kukenal seorang gadis manis asal Pitu,namanya Lusy...alumnus fakultas Teknik Informatika ITB...pintar, cantiek dan aktif dalam pelayanan kerohanian...i wanna to say that...Tobelo is the Beautiful town...semoga Tobelo bisa jadi the blesings town untuk kota-kota lainnya.....SALAM.

epsan said...

jakarta,24 April 2008, sejak saya kembali ke tobelo setelah 25 thn,dijkt ternyata perkembangan kota tobelo cukup drastis,waktu saya duduk dismpk,dari wosiakesekolah harus jalan kaki sejauh 5 km. sekarang sudah bisa naik bentor atau ojek. masak harus cari kayu sekarang gas pun tersedia. yang dulu gelap gulita listrikpun ada. jalan sudah bagus tobelo sekarang jauh lebih baik.
aku putra daerah tobelo.

Winda said...

Saya belum pernah ke Tobelo dan tidak punya gambaran tentang Tobelo selain bahwa Tobelo adalah kota kecil yang sepi. Saya senang baca artikel ini karena memberikan gambaran pada saya tentang Tobelo... Meskipun sangat jauh bebeda dengan tempat tinggal saya sekarang di Jakarta, Saya jadi berani mengatakan "yes, i do" pada sesorang yang menetap di Tobelo :)...

stevie said...

wah ulasannya menarik mas, nih aku punya info tambahan, klo yg ingin ke mengenal tobelo dan sekitarnya... http://halmaheraguide.blogspot.com/

dion said...

wouuuw... it's amasing..!
I give my honour for You/....
suatu upaya yg baik untuk membuka pikiran dan wawasan banyak orang tentang keadaan Tobelo...
orang tua ku sekarang tinggal di Tobelo.. sebelumnya di Ternate, n pindah kesana waktu kerusuhan dan terakhir aku berkunjung tahun 2005..
ternyata Tobelo udah banyak kemajuannya...
salam buat mas Andreas H.
From Donny Fehr - Manado

aska said...

Bang Andres, Kenapa Pembantaian dan Pembakaran Hidup" Umat Muslim Popilo Tobelo oleh umat Kristen di dalam Masjid Popilo TIDAK DILIPUT ? SEDANGKAN di Duma Diliput. Padahal yang pertama Terjadi kan yang Di Popilo. WAH BERITANYA TIDAK SEIMBANG......

Mr. Yoseph said...

Tobelo... tobelo... tobelo...

jadi teringat masa lalu di tobelo. tobelo memang merupakan tempat yang inda "bagai surga dunia" begitu kata Grace (seniman asal sumut yang pernah tinggal di tobelo - sdh disebutkan di atas).
saya berharap suatu hari kelak saya bisa kembali ke tobelo.
Jaya Tobelo... maju teruus menuju modernisasi tapi tetap mempertahankan budaya asli.

Kita so rindu mandi di pante tobelo...............

elizabeth property said...

Tobelo cukup punya kesan dihatiku meski baru selangkah aku disana... kota kecil yang indah dan sangat maju...even separuh dari hatiku berada di sana...kakakku bekerja sebagai paramedis diRSU.Satu hal...Tobelo boleh jadi kota yang modern tetapi jangan sampai tinggalkan adat istiadat yang baik...Maju terus Tobelo!

Irma said...

kalo lihat blog ini, jadi nostalgia lagi.yang aku percaya tobelo sdh semakin maju dan modern sekarang ini.yg psti suatu saat aku kembali kesana.salam buat saudaraku Yance lovus(orang Kao). GBU

puspita-djatmiko said...

Seneng, terharu bgt baca tulisan ini.. Hebat .. jempol 2..
Jd keinget 95-98 sy tinggal di tobelo, bahkan anak sy 1 lhr di tobelo .. kangen bgt sama tobelo bs terobati stlh baca tulisan ini.. kpn-kpn ke tobelo lg om.. nulis lg yg buanyyyakk... makashi bgt .. GBU ..

misskodok said...

tobelo ..
kemarin hari pertama aku denger soal nama kota ini ^^
seperti sangat luar biasa , aku berharap suatu hari nanti aku bisa menginjakkan kaki ku di tobelo ..
tentu dengan dia , seseorang yang menceritakan tentang tobelo padaku .

AngeL ,
tobelove .. ^^

Tobelo Marahai said...

memang sangat menyenangkan tinggal di Tobelo. penduduknya ramah, cuma pemerintahannya agak korup....

xrizz_tina said...

Tobelo is indeed a lovely city. I've been there twice and I really look forward to come there again (and again to visit some good friends...) and to explore the other parts of Halut that I've never been to.

odinoven said...

saya sebagai warga tobelo saya sangat senang membaca serta melihat semua tentang tobelo yang telah anda iklankan di internet saya berharap semoga tobelo kedepan mempunyai masa depan yang cerah terima kasih untuk itu salam saya jordi badoo

geonata_m86 said...

hotu......ye....

suatu ulasan cerita yg indah....
berbicara dengan terbuka tanpa ada yang di tutupi....dan terlihat nyata dari cerita anda tentang kehidupan yg nyata di tobelo.....
karunia TUHAN yg terindah...
semuanya dapat kau rasakan di saat kaki pertama terpijak di dataran halmahera (TOBELO)....
suatu kebanggaan tersendiri terhadap tobelo dengan membaca cerita ini....
HOTU......ye.....
HOTU......ye.....

geonata_m86 said...

hotu......ye....

suatu ulasan cerita yg indah....
berbicara dengan terbuka tanpa ada yang di tutupi....dan terlihat nyata dari cerita anda tentang kehidupan yg nyata di tobelo.....
karunia TUHAN yg terindah...
semuanya dapat kau rasakan di saat kaki pertama terpijak di dataran halmahera (TOBELO)....
suatu kebanggaan tersendiri terhadap tobelo dengan membaca cerita ini....
HOTU......ye.....
HOTU......ye.....

ILovePhotographyty said...

saya bukan orang Tobelo tetapi cukup lama tinggal di sana... dari belum kerusuhan sampai kerusuhan berakhir dan pemekaran wilayah.
Banyak kenangan indah disana bersama orang-orang terbaik dalam hidup saya.
Dan pemandangan yang begitu indah.
Membuat saya ingin kembali ke Tobelo.

TO BE LOve...

Ammar Hi Habib said...

tobelo diakui sebagai kab/kota yang perkembangan sangat pesat entah dari segi infrastukturnya maupun perekonomianya.... tapi yang harus diperhatikan adalah dari segi perekonomianya... di mana pasar ayng merupakan salah satu sumber perkembanganya kota tobelo... harus lebih strategis lagi pasarnya... trus para penjualnya harus oerlu diberikan berupa modal agar memutar roda ekonomi..... terima kasih...

Vanro ante said...

Nama qu erick aku orang asli maluku utara sudah 10 tahun aku meninggalkan daerah ku sekarang aku tinggal di Bali rasanya kangen sekali mendengar informasi terbaru dari kota TOBELO tercinta,,
Aku punya Rumah di Tobelo peninggaln Omaku
mungkin Tahun ini aku akan pergi kesana mengunjungi oamaku
hufft Tobelo I still love u,,