Sunday, November 20, 2005

Buku Jurnalisme Sastrawi

Saya menulis ini untuk menawarkan sebuah buku terbitan Yayasan Pantau berjudul Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat.

Isinya, delapan laporan majalah Pantau yang mencoba menerangkan jurnalisme sastrawi (literary journalism). Genre ini mulanya berkembang di Amerika Serikat 1960-an. Ia menggabungkan disiplin paling berat dalam jurnalisme serta kehalusan dan kenikmatan bercerita dalam karya fiksi. Wawancara biasa dilakukan dengan puluhan, bahkan sering ratusan, narasumber. Risetnya mendalam. Waktu bekerjanya lama. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa.

Majalah Pantau pernah mencoba belajar memakai genre ini untuk mengembangkan jurnalisme berbahasa Melayu. Dari pembantaian orang Acheh hingga hiruk-pikuk musik, dari soal media hingga kemiskinan, jadi bahan liputannya.

Delapan karya ini termasuk "Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft" oleh Chik Rini (Banda Aceh), "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" oleh Alfian Hamzah (Makassar), "Taufik bin Abdul Halim" oleh Agus Sopian (Bandung), "Ngak Ngik Ngok" oleh Budi Setiyono (Semarang), "Hikayat Kebo" oleh Linda Christanty (Bangka), "Koran, Bisnis dan Perang" oleh Eriyanto (Jombang), "Konflik Nan Tak Kunjung Padam" oleh Coen Husain Pontoh (Bolaang Mongondow) dan "Cermin Jakarta, Cermin New York" karya saya sendiri.

Budi dan saya jadi editor buku ini. Saya menulis kata pengantar yang agak teoritis soal penulisan, soal struktur karangan, pemilihan karakter, konflik, emosi, time frame dan sebagainya, berjudul, "Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita."

Ada beberapa orang yang merekomendasikannya:

Maria Hartiningsih, wartawan harian Kompas, yang menerima Penghargaan Yap Thiam Hien 2003: "Prosa terbaik dan paling orisinal yang pernah ditulis jurnalis Indonesia saat ini."

Endy Bayuni, Pemimpin Redaksi harian The Jakarta Post, yang menerima Nieman Fellowship dari Universitas Harvard 2003-2004: "The combination of the best in journalism and the best in literacy can produce potent and effective non-fiction writings. This Pantau collection is proof of that."

Janet Steele, dosen Universitas George Washington, yang mengarang buku Wars Within: A Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto's Indonesia: "These pieces, not only represent something new and appealing in Indonesian news writing, but they also represent the highest calling of journalists: to serve the citizens of Indonesia by reporting on some of the most important social issues of our time."

Buku ini dicetak PT Temprint. Tebalnya 380 halaman. Harga eceran Rp 45,000 kalau Anda beli langsung kepada Yayasan Pantau (hubungi Eva Danayanti eva@pantau.or.id atau Purwoto 0812-9434061 atau Yayasan Pantau 021-7221031). Kami mulai menjualnya via toko buku pada akhir November 2005.

Saya kira buku ini berguna untuk mahasiswa komunikasi dan jurnalisme, wartawan, pers mahasiswa, redaktur atau siapa pun yang tertarik mengembangkan kemampuan menulis. Cerita-ceritanya juga menarik sehingga bisa dinikmati orang kebanyakan. Terima kasih.

Catatan: Pada 4 Desember 2005 harian Kompas memuat resensi kecil tentang buku ini. Link

5 comments:

Anonymous said...

Halo Mas Andreas...
Saya Lian, mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad semester 8. Saya baru membaca buku Jurnalisme Sastrawi beberapa bulan yang lalu, pas semester 7, di mata kuliah Pelaporan Mendalam (Depth Reporting).
Jujur saja, saya sangat menyukai delapan cerita di buku itu. Sangat menghibur, sarat data, deskriptif, dan dengan alur yang mengalir. Gaya berceritanya sangat wajar, terasa tanpa ada beban politis (seperti halnya jurnalis pada umumnya).
Cerita favorit saya adalah "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" oleh Alfian Hamzah...
Kembali lagi saya bertanya (sama seperti blogger lain) mengenai definisi Jurnalisme Sastrawi.
Apakah harus menggunakan kata-kata atau kalimat sastra yang mendayu-dayu? Apakah harus dengan gaya bercerita? APakah menggunakan bahasa Indonesia yang baku? Dan apakah-apakah yang lain.
Lalu apa bedanya dengan buku Jurnalisme Sastra yang ditulis oleh Septiawan Santana? Karena saya membaca buku itu saat semester 5, di mata kuliah Penulisan Feature Media Massa Cetak.
Saya sadar, sepertinya tidak banyak manusia Indonesia yang memiliki kemampuan menulis sampai berlembar-lembar dengan gaya bahasa yang asyik, dan alur yang mengalir, namun tetap berada dalam kaidah jurnalisme.
Kesadaran saya semakin tinggi, saat saya dan teman-teman mengumpulkan tugas akhir mata kuliah Pelaporan Mendalam. Hanya sedkit teman-teman yang bisa mengumpulkan tugas hingga empat judul (minimal tiga judul) dengan tulisan yang mendalam dan deskriptif. Sebenarnya, apa yang salah dari kita, manusia Indonesia pada umumnya, dan kita, orang-orang yang biasa menulis?

Andreas Harsono said...

Lian,

Kalau Anda perhatikan kata pengantar dalam buku tersebut, Anda akan mendapatkan semua jawabannya. Disana misalnya, saya menulis bahwa "jurnalisme sastrawi bukan, sekali lagi bukan, naskah yang ditulis dengan kata-kata mendayu-dayu atau puitis."

Soal mengapa kesimpulan ini yang selalu muncul? Saya kira salah kaprah ini sangat besar, besar sekali, yang sering melanda analisis orang-orang di Pulau Jawa. Ia terjadi karena orang jarang mau membaca, atau kalau membaca, juga kurang teliti. Septiawan Santana, Budiman S. Hartoyo, Agus Noor, kalau saya perhatikan, ikut menciptakan kebingungan tersebut. Septiawan mungkin agak menonjol karena ia menulis buku yang tidak secara tersurat menjelaskan kekeliruan itu. Saya yang bikin kesimpulan tersurat pun masih sering dikutip salah?

Soal pengamatan Anda bahwa di Indonesia, tepatnya di Jawa, tak banyak orang yang bisa menulis secara naratif, saya jadi ingat kesimpulan serupa yang dikatakan rekan saya, Linda Christanty. Memang tak banyak. Sangat sedikit wartawan atau sastrawan yang bisa menulis fakta dengan metode reportase ketat dan presentasi indah.

Apanya yang salah? Saya kira sistem pendidikan yang didikte kepentingan politik cadok ikut menyumbang kejarangan ini. Media kita yang tak mau memberi tempat untuk naskah panjang, ikut membuatnya jadi buruk. Sangat sulit menyakinkan para redaktur di Jakarta bahwa masa depan suratkabar, yang tak mampu bersaing dengan televisi, justru terletak pada naskah panjang. ini kesimpulan World Association of Newspapers. Bukan naskah pendek, yang ironisnya kini jadi andalan di Tempo, Kompas, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional dan hampir semuanya.

Satu faktor lagi. Coba Anda baca esai Ariel Heryanto, "Ganasnya Bahasa, Ganasnya Kekuasaan" serta "The Language of Development, the Development of Language." Ariel secara tajam mengkritik apa yang kita kenal sebagai Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu sudah dijadikan alat politik, bukan alat komunikasi. Ia dijadikan alat perekat kebangsaan Indonesia --bukannya kesetaraan di depan hukum, kesamaan hak dan kewajiban dll. Tapi alatnya cuma bahasa. Sementara diskriminasi, represi, propaganda basi, ethnic cleansing, pembunuhan politik dan sebagainya, justru dijadikan alat untuk "mempersatukan" Indonesia. Bahasa kita pun akhirnya tak mampu menjadi medium guna mencerminkan pikiran yang baik.

Jadi lengkap deh. Negeri ini memang malang.

Nosa Normanda said...

saya sudah membaca dan membuat review antologi Jurnalisme Sastrawi. Akan terbit dalam Jurnal Susastra edisi bulan desember/januari terbitan yayasan obor--mudah-mudahan setelah itu bisa saya upload atau saya kirim kepada anda.

saya rasa ada satu hal yang perlu ditekankan pada penggunaan 'sastrawi' dalam laporan jurnalisme. Bung Andreas paling tidak harus menjelaskan, narasi semacam apakah itu jurnalisme sastrawi? Narasi sendiri kan ada banyak jenisnya...

kalo saya bilang, jurnalisme sastrawi JS memakai literary languange, yang dalam pengertian Julia Kristeva dan Jakobson adalah bahasa yang mengandung unsur 'puitik' (bukan puitis!) dimana perbedaannya terdapat pada unsur konotatif dan emotif, bagaimana? Kan kalau tulisan koran/narasi ilmiah biasanya mengandung lebih ke denotatif dan kognitif tuh... Gaya super-objektif gituh...

blok kantoba said...

mas, apakah betul jurnalisme sastrawi masih kontrofersi dikalangan praktisi, & bagaimanakah penggunaAn jurnalisme sastrawi di media audio visual ?,,,
terimakasih

Andreas Harsono said...

Saya agak sulit menjawab pertanyaan Anda. Kontroversi dimana? Kalau di New York atau Washington DC, saya kira tak jadi masalah. Orang mengerti. Soal media visual, saya kira juga sulit dijawab karena masalahnya luas sekali.