Monday, November 21, 2005

Wartawan Intel?


Ini termasuk liputan yang penuh warna selama berjalan tiga minggu di daerah Kepulauan Maluku. Ketika berada di Ambon, aku dapat izin wawancara Semuel Waileruny di penjara Waiheru, sekitar 15 km dari kota Ambon.

Waileruny seorang pemimpin Forum Kedaulatan Maluku. Ia dipenjara dengan tuduhan makar. Ia termasuk orang yang memperjuangkan kemerdekaan Maluku dari "penjajahan Indonesia."

Aku rasa wawancara berjalan biasa. Aku melontarkan pertanyaan terbuka dan kalau ada jawaban yang kurang jelas, aku berusaha menanyakan lagi. Ia juga menjawab dengan blak-blak-an. Orangnya terkesan tegas dan berani. Ini membuat aku juga semangat. Mungkin terkesan kritis.

Di tengah wawancara, Waileruny menjawab bahwa jawaban-jawabannya soal "bangsa Indonesia" menjajah "bangsa Alifuru" juga ia sampaikan kepada pejabat-pejabat militer dan polisi dari Jakarta. Ia mengatakan selalu jawab tanpa rasa takut, tak perlu tutup-tutup.

"Kalau Bapak intel TNI atau intel Mabes Polri, jawaban saya juga sama."

Aduh. Ia ternyata curiga aku intel tentara!

Aku tersenyum kecut. Waileruny juga menolak ketika aku minta tolong Yany Kubangun, wartawan Ambon Ekspres yang menemaniku, hendak memotretnya lebih dari dua kali.

Perjalanan berlanjut. Dari Ambon, aku naik pesawat ke Ternate. Putar-putar di Ternate lalu naik speed boat dari Bastiong ke pelabuhan Rum, Pulau Tidore.

Eh, di Soasiu, sekitar 30 menit dari Rum, ditanyai satu jaksa, yang curiga aku wartawan gadungan! Soasiu kota sangat kecil. Tak susah untuk mengetahui ada orang asing di kota. Apalagi ini kota yang baru selesai menyaksikan pertikaian antar agama. Banyak bangkai gereja dan rumah orang Kristen terserak di Pulau Tidore. Pembangunan bangunan-bangunan itu berjalan lambat. Mungkin rasa curiga masih tinggi.

Si jaksa mengatakan tak takut dengan wartawan yang biasa memeras pejabat. Ia bilang tahu banyak wartawan "mencari nafkah" dengan menyamar jadi wartawan.

Aku dibentak dan ditantangnya! Cukup kaget juga. Betapa jelek citra wartawan di Tidore.

Aku menjelaskan semua prosedur kerja dan identitas aku. Aku beri kartu nama dengan logo Yayasan Pantau.

Ia minta surat tugas! Aku menjelaskan bahwa aku menulis buku dengan judul ini dan sub judul itu, sponsor ini, lalu apa itu Yayasan Pantau. Ini cukup panjang tapi ia tak puas. Ia minta nomor telepon atasanku?

Repot bukan? Tapi ia juga tak punya bukti kalau aku mau memeras. Buang waktu tapi akhirnya aku pergi.

Dari Tidore aku kembali ke Ternate dan keesokan harinya pergi ke pelabuhan Sidangoli, Pulau Halmahera. Naik mobil empat jam menuju Tobelo. Dua hari di Tobelo, aku merasa kurang cepat bergerak bila kemana-mana tunggu ojek atau bentor (becak motor). Tobelo kota kecil tapi butuh waktu bila harus tunggu ojek. Apalagi bila harus ke desa-desa tetangga macam Pitu, Upa, dan Kupa-kupa.

Maka aku menyewa sepeda motor Rp 10,000 per jam.

Ternyata salah sangka dan salah tafsir juga ada di Tobelo.

Pagi hari, ketika mau tanya alamat, lelaki yang aku hampiri menggoyangkan tangan tanda menolak!

Alamak! Ia mengira aku sopir ojek!

Beginilah warna liputan seorang wartawan. Dicurigai sebagai intel, lalu tukang peras dan akhirnya tukang ojek.

3 comments:

Anonymous said...

Pak Andreas, trus, pak Andreas jawab apa waktu jaksa itu minta nomor telepon atasan pak Andreas..hehehehe ...:D
Blog-nya bagus sekali, saya tidak bosan membacanya. Saya banyak belajar dari tulisan Pak Andreas :)
Terimakasih masih meluangkan waktu menulis di blog...:)

astri
astrikusuma.blogs.friendster.com

Andreas Harsono said...

Astri,

Saya waktu itu juga bingung ketika diminta telepon atasan saya. Saya praktis tak punya editor sekarang ini. Sempat terpikir untuk memberikan nomor-nomor telepon seluler rekan saya di Yayasan Pantau. Tapi kuatir nanti tambah ruwet. Jadi, saya mencoba menjelaskan secara panjang lebar. Tampaknya ia jadi bosan :-)

Anonymous said...

Mas Andreas, saya sedikit protes tentang kalimat di bawah ini:
"Banyak bangkai gereja dan rumah orang Kristen terserak di Pulau Tidore. Pembangunan bangunan-bangunan itu berjalan lambat. Mungkin rasa curiga masih tinggi."

yang saya tahu, hanya ada satu gereja yang dibakar ketika kerusuhan bernuanasa agama lima tahun silam, letaknya di Goto, dekat kantor Polres, kebetulan rumah kakek dari bapak saya dekat situ, kalau rumah memang benar banyak yang dibakar seperti di dekat pasar, tapi penguninya diselamatkan atau tepatnya disuruh pergi.
jangan terlalu cepat percaya banyak cerita dari mulut-ke mulut yang belum tentu benar,
saya sendiri ketika peristiwa kerusuhan Galela-tobelo, naik kapal dari tanjung Priok sampai di Ternate, kapal tersebut dilarang sandar dipelabuhan karena ada sweeping obed (salah satu istilah SARA, selain acan yang terkenal waktu itu)kemudian kapal itu dibajak ke Tobelo. cerita kapal dibajak memang benar, tapi cerita orang dibantai di pelabuhan pada saat yang sama, itu saya agak ragu.

anyway, saya mengucapkan terima kasih atas liputan mas Andreas tentang Maluku Kie Raha (Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo).
semoga ada sumbangsih positif bgi pembangunan di sana.

soal jaksa yang reseh itu, boleh tahu namanya, penasaran saya bisa ketemu dia dan beri klarifikasi tentang esensi dunia wartawan.

salam
Fahmi Achmad