Thursday, February 17, 2011

Wawancara soal Ahmadiyah


"(Mereka) tidak pernah diadili, atau pun dikecam. Pemerintah tutup mata, tidak mau tahu siapa pelakunya," Andreas Harsono di televisi NOS Belanda. ©Aboeprijadi Santoso


SEJAK Senin minggu lalu saya agak kewalahan dengan permintaan bertemu media. Semua bertanya soal video kekerasan terhadap kaum Ahmadiyah di desa Umbulan, Cikeusik, pada hari Minggu, 6 Februari 2011. Human Rights Watch ikut mengeluarkan pernyataan soal kekerasan terhadap Ahmadiyah. Sebagai orang Human Rights Watch, saya tentu menjalankan misi organisasi guna memperjuangkan penegakan hak asasi manusia.

Elaine Pearson, wakil direktur Divisi Asia Human Rights Watch, minta polisi Indonesia bikin investigasi karena kekerasan terhadap Ahmadiyah, tak pernah ada pelaku dihukum. Pearson mengatakan, "How many Ahmadiyah have to die at the hands of mobs before the police step in. The Indonesian government should end this wave of hate crimes and immediately revoke the 2008 anti-Ahmadiyah decree, which encourages these vicious attacks."

Saya juga diminta bantuan oleh beberapa aktivis Ahmadiyah agar membantu mereka mewartakan kekerasan ini kepada sebanyak mungkin masyarakat. Saya kira ia tindakan baik dan benar. Ahmadiyah bukan hal baru untuk saya. Awal tahun lalu saya pernah bikin esai "Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia" sesudah liputan setahun. Saya juga punya beberapa peserta kursus penulisan dari kalangan Ahmadiyah. Wajar sekali bila mereka datang minta tolong.

Walhasil ... mulai dari Sun TV hingga Associated Press, dari Reuters hingga Bisnis Indonesia, mabok deh ditelepon kiri dan kanan, siang dan malam, dalam rapat dan dalam taxi. Saya pribadi sebenarnya kurang senang diwawancarai wartawan. Saya lebih senang menulis sendiri. Antara Senin dan Selasa, saya meladeni lebih dari 20 wartawan. Hingga Sabtu ... mungkin 30 media lebih. Menariknya, permintaan interview juga datang dari Paris, New York, Tokyo dsb. Bahkan ada wartawan majalah Respekt dari Praha datang ke Jakarta.


Angela Dewan, seorang wartawan freelance, warga Australia, di Jakarta, menulis cerita soal Ahmadiyah guna menerangkan pentingnya mendukung pendidikan yang terbuka di Pulau Jawa. Dia menulis, "Why We Should Support Indonesian Schools" di New Matilda. Intinya, Dewan mengatakan terorisme berakar pada intoleransi dan fundamentalisme dalam tafsir Islam. Ia memerlukan perlawanan dengan pendidikan yang bermutu. Australia perlu membantu sekolah-sekolah di Indonesia agar terorisme dan intoleransi tak berkembang.

Beberapa interview dilakukan di tempat-tempat dimana saya sedang rapat atau bertemu orang lain. Kurang nyaman memang. Saya terpaksa pinjam tempat di Kontras (interview dengan Associated Press Television News) atau Wahid Institute (dengan Detikcom). Ada juga interview di tempat kawinan. Lagi jagong manten pun diminta interview harian Republika.

Ada juga satu kejadian, saya terpaksa bawa telepon ke kamar mandi karena nggak tahan ...

Kejadian lain, ada wartawan Detikcom, Anwar Khumaini, menelepon menjelang tengah malam ketika saya sedang terima telepon. Sangat terburu-buru. Esoknya muncul berita, "Menelusuri Pengupload Video Tragedi Ahmadiyah di Youtube," seakan-akan dia baru berhasil menemukan sesuatu yang tersembunyi, seakan-akan saya tak mau menjawab telepon dia. Geli juga. Saya upload video tersebut dengan nama lengkap. Kalau Anwar mau sedikit google dan kerja keras, dia akan tahu bahwa beberapa media sudah mengutip saya soal video itu. Semua ini dikerjakan terang-terangan.

Namun ada dua televisi saya tolak. Saya tak punya masalah pribadi dengan siapa pun dari mereka. Saya hanya merasa tidak nyaman dengan prosedur kerja mereka. Bukan soal deadline atau pepet-pepetan namun soal pilihan mereka spekulasi daripada disiplin melakukan verifikasi. Esensi jurnalisme adalah verifikasi. Saya benci dengan media yang cuma mengulang-ulang spekulasi. Saya benci dengan wartawan yang tak mau verifikasi namun mudah bikin spekulasi. Saya juga tidak suka self-censorship. Buat apa memberikan waktu dan informasi bila ia juga akan disensor? Saya kuatir saya hanya menghabiskan waktu dan tenaga.

Dalam beberapa diskusi "wartawan" di mailing list Yahoogroups dan Facebook ada spekulasi bahwa saya berada di Cikeusik dan mengatur rekaman video tersebut. Ada pula blog menuduh "LSM asing" bikin konspirasi guna menyudutkan nama Islam di Indonesia. Ada-ada saja. Orang-orang ini malas sekali. Kalau sedikit rajin, mau google, atau setidaknya cek blog saya, mereka akan tahu pada hari Minggu, 6 Februari 2011, saya berada di Pekanbaru, meluncurkan antologi 'Agama' Saya Adalah Jurnalisme. Saya bahkan berada di Sei Rokan, sekitar dua jam dari Pekanbaru, selama seminggu, tanpa sinyal telepon, tanpa internet. Ada-ada saja teori konspirasi ini.

Semua sirkus media selama minggu ini, mulai dari self-censorship hingga teori konspirasi, mulai dari spekulasi hingga "jurnalisme semu," makin membuat saya makin mengerti pemikiran dalam buku duet Bill Kovach dan Tom Rosenstiel The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know And The Public Should Expect maupun Blur:How to Know What's True in the Age of Information Overload.

Saya sedang mengumpulkan bahan dan menunggu riset lebih banyak. Saya juga akan interview wartawan-wartawan ini guna menulis esai 10,000 kata dari cerita minggu ini.

Al Jazeera
Sectarian Violence in Indonesia
East 101: The Right to Pray (3 Maret 2011)

Republika
Video Penyerangan Ahmadiyah

Engage Media
Ahmadiyah: Cikeusik Violence Video

You Tube
Police Guarded the House
Cikeusik Attack Begin
Cikeusik Mob Began Destroying Ahmadiyah House
Men in Blue Ribbon Arrive
Anti-Ahmadiyah Violence in Cikeusik

Human Rights Watch
Revoke Decree Against Religious Minority
Protect Ahmadiyah Community From Violence
Reject Official's Call Banning Ahmadiyah

1 comment:

insany syahbarwaty said...

saya mengalami saat kematian alfrets dan ridwan, kadang2 sangat bias dr wwc sebenarnya...well