Tuesday, October 27, 2009

Warming Up!

Pemikiran soal Pelatihan Pers Mahasiswa
di Universitas Negeri Padang
Oleh Meiriza Paramita

WALAU akan dilaksanakan Juni 2009, panitia inti --ketua, sekretaris dan bendahara-- Pekan Ketrampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional, telah terbentuk pada September 2008, sebelum Idul Fitri 1429 H. Kami menerima banyak sekali masukan dari teman-teman, senior dan alumni. Ada yang mengusulkan tema, jumlah pemateri, jumlah peserta dan sumber dana. Usulan tema: media online, jurnalisme investigasi, literary journalism, jurnalisme televisi. Ada juga yang mengusulkan jurnalisme dasar (menulis berita, fiksi, artikel, layout, dan fotografi). Hampir semua panitia tertarik dengan jurnalisme investigasi, tanpa sadar kalau itu adalah tema yang berat. Panitia pun mulai menghitung hari dan menghasilkan kesepakatan, pelatihan akan diadakan lima hari: 9-13 Juni 2009.

Jurnalisme adalah sebuah ketrampilan. Ia tak cukup hanya dengan diskusi dan ceramah. Ia harus berlatih. Ganto mengadakan proses berlatih interview. Satya Sandida dari Semarang sedang diinterview oleh Anies Zenevieva dari Makassar. Peserta lain mencatat. Berapa panjang kalimat tanya? Berapa kata setiap kaliman? Seberapa tertutup pertanyaannya? Sekitar tujuh menit lalu peserta saling menilai.

SUSUNAN ACARA DAN MEMILIH PEMATERI

Masalah hampir tak ada hingga kami mulai masuk dalam tahap menyusun susunan acara, silabus dan memilih pemateri. Pemateri dipilih berdasarkan kompetensi terhadap tema. Ketika itu, hampir semua panitia, alumni, dan senior memberi masukan: lebih banyak pemateri lebih baik dan menarik. Berkali-kali ditekankan, peserta akan lebih tertarik jika banyak pemateri di dalam pelatihan.

Desember 2008, proposal dikirimkan lewat email ke pemateri. “Mereka orang-orang sibuk, apalagi Andreas Harsono, sebaiknya proposal dimasukkan secepat mungkin,” usul alumnus Romi Mardela. Meri Fitriani, seksi acara segera mengirimkan proposal ke Andreas Harsono --sering dipanggil AH. Memasukkan proposal jauh hari sebelum tahun 2009 merupakan trik agar pemateri bisa mempertimbangkan untuk hadir. Sebab, besar kemungkinan agenda mereka pada tahun berikut belum terisi.

Di suatu malam Desember 2008, sebuah pesan singkat masuk dari Meri. Katanya: “AH bersedia menjadi pemateri. Tadi dia menelepon kak dan bercerita banyak.” AH punya usul untuk menambah waktu pelatihan menjadi enam hari dan menjadi pemateri tunggal. Aku bahagia sekali, walaupun detik kemudian termenung bingung ... proposal sudah dikirim ke pemateri lain.

Memasuki bulan Januari, usulan berbeda datang beruntun dari AH, saat itu. Aku sedikit dimarahi lewat telepon, chattingan dan pesan Facebook: Hati-hati menggunakan kata investigasi, karena ia membutuhkan pemahaman tentang accounting, bla ... bla ... bla .... Investigasi itu sulit, apakah cukup mengenal dan mempelajari investigasi hanya dalam beberapa hari? Mahasiswa belum pantas mendapatkan materi investigasi. AH hanya akan memberikan materi investigasi perkenalan saja. “Lihat di blog saya kritik tentang pelatihan jurnalisme mahasiswa.”

Juga. Agar lebih efektif dan hasilnya bermutu, cukup satu pemateri utama agar pemateri dan peserta saling mengenal dan jumlah peserta kalau bisa dibatas maksimal 16-20 orang. Dan: kalian yakin akan mengangkatkan pelatihan tingkat nasional? Jangan jauh-jauh lah!

Padahal saat itu, susunan acara telah selesai, pamflet dan undangan peserta telah disebar. Selain itu, sudah menjadi tradisi di setiap pelatihan mahasiswa menggunakan banyak pemateri. Wartawan mahasiswa jarang sekali memakai pemateri tunggal, sehingga kebanyakan panitia menilai tidak bisa mengurangi jumlah pemateri karena itu termasuk daya tarik.

Namun, mutu tetap harus jadi pertimbangan. Usulan-usulan AH dibicarakan di dalam rapat panitia. Beberapa usulan AH diterima dan susunan acara dirombak untuk yang kesekian kalinya. Juga, diputuskan untuk menggunakan chief trainer dan mendatangkan trainer dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (untuk materi accounting), kejaksaan tinggi Sumatera Barat (white collar crime), dan Kodam 032 Wirabraja (materi senjata dan amunisi). Trainer berfungsi memberikan penjelasan langsung sesuai dengan kondisi lapangan. Mereka (seharusnya) bukan memberikan materi, namun menambahkan wawasan, berbeda dengan chief trainer. Ini juga mengurangi ice breaking. Chief trainer akan berada di tempat selama beberapa hari sehingga dia bisa mengenal semua peserta.

Demi mutu, faktor istirahat juga harus diperhatikan.

Mengutip pertanyaan AH, “Kamu jika kuliah dari pagi hingga malam tanpa henti gimana rasanya?”

Jadi, tingkat kejenuhan dan kelelahan peserta tak boleh luput dari perhatian. Agar semua materi yang diterima bisa diingat dan peserta bisa memulai pelatihan esok dengan otak yang sudah fresh. Tak lupa, dalam rencana acara, setiap hari pelatihan diberi waktu khusus untuk praktik dan mempersiapkan bahan bacaan yang relevan.

Interview yang baik adalah interview yang terbuka. Ia dimulai dari kata tanya: where, who, when, what, why atau how. Pertanyaan juga harus dimulai dari isu lingkaran kecil dimana si nara sumber benar-benar menyaksikan atau terlibat. Bukan sesuatu yang besar: opini. Pelatihan Ganto, dengan peserta 40 lebih, dibagi dalam kelas-kelas kecil. Tuti Handriani memimpin kelompok bawah pohon ini agar peserta biasa memulai pertanyaan bukan dari opini.

Itulah sedikit kisah tentang perombakan susunan acara. Pelajaran dari pengalaman menyusun silabus:
  • Pertimbangkan soal memakai satu chief trainer serta daya serap peserta dalam menyusun silabus dan susunan acara pada pelatihan yang akan datang;
  • Hindari peserta menemukan susunan acara dan silabus yang berbeda pada hari H.
PENDANAAN

Hingga April, kas panitia masih kosong, malah minus. Beberapa proposal tembus, namun tidak mencukupi biaya awal.

Oleh karena itulah, dibutuhkan rapat panitia secara rutin. Sedikit banyaknya, rapat rutin menjadi tempat saling tukar informasi. Permasalahan dana juga dipaparkan dalam rapat, paling tidak, ada panitia yang tergerak hatinya semakin giat mencari dana.

Selain itu, seluruh panitia harus tahu perkembangan acara, karena itu adalah hak mereka. Mereka bebas berasumsi, menyatakan setuju, atau keberatan.

Di dalam rapat rutin juga, setiap masukan yang bagus dari luar dibicarakan, termasuk dari AH. Ketua panitia tidak boleh memutuskan suatu hal sendiri tanpa diskusi (kecuali dalam keadaan darurat tingkat itnggi). Paling tidak membicarakan dengan seksi masing-masing jika seluruh anggota berhalangan berkumpul.

Ketika rapat, Masing-masing per seksi ditanya tentang masalah yang ditemui dan perkembangan terakhir di lapangan dan wajib menjawab. Tips lainnya yang bisa dicoba, komunikasi dengan pemateri, yang sudah fix, tidak boleh terputus. Ini penting untuk update informasi dan menghindari pemateri yang membatalkan kedatangan beberapa hari sebelum hari H.

Akan ditemui anggota-anggota panitia yang terlihat tidak berminat ikut campur. Kebanyakan mereka merasa tidak dilibatkan atau merasa "terlalu sibuk."

Libatkan mereka semua dengan tidak melupakan koordinasi dan komunikasi rutin. Selain itu, teman-teman anggota tetap harus diingatkan akan waktu yang terus berjalan. Kadang aku mengirimkan SMS ke setiap anggota panitia tentang perkembangan terakhir acara. Di dinding sekretariat Ganto kupasang count down (itung mundur) PKJTL-N, dengan harapan bisa membangkitkan semangat panitia. Berpengaruh atau tidaknya, yang penting aku telah mencoba.

Namun, sepandai-pandai manusia berencana, tidak semua berjalan sesuai semulus rencana.

1 comment:

Anies' Home said...

Wah baru liat ada gambar saya rupanya. jadi teringat kenangan pelatihan tahun lalu di Padang. thanks Mas Andreas dan Meiriza Paramita