Monday, October 12, 2009

Buku-buku soal Kalimantan Barat


Saya mencoba mengingat-ingat buku-buku apa saja yang kami pakai dalam diskusi-diskusi soal kekerasan di Kalimantan Barat selama setahun terakhir. Diskusi-diskusi inilah yang mengerucut menjadi Seruan Pontianak pada 28 September 2009.

Secara umum, angka-angka dalam pembersihan etnik Madura kami memakai cukup banyak referensi, termasuk dari Human Rights Watch dan buku Jamie Davidson From Rebellion to Riots. Laporan Human Rights Watch soal 1997 sangat berhati-hati dengan data. Saya pikir metode Davidson memakai angka jumlah 3,000, 600 dan 3,000 dalam pembunuhan tahun 1967, 1997 dan 1999, bisa dipercaya. Jamie Davidson melakukan interpolasi antar berbagai data. Khusus korban 1967, angkanya berkisar dari 2,000 hingga 5,000 korban. Kami memakai angka 3,000 korban. Data Davidson juga bisa dibaca dalam dua naskah:

Davidson, Jamie and Kammen, Douglas. “Indonesia’s Unknown War and the Lineages of Violence in West Kalimantan,” Indonesia, No. 73. April 2002. (bisa download pdf)

Davidson, Jamie. Violence and Politics in West Kalimantan, Indonesia. Ph.D. thesis. Washington University. Seattle. October 2002.

Human Rights Watch. Communal Violence in West Kalimantan. November 30, 1997. (bisa download pdf)

Kami juga pakai data-data dari sumber lokal. Kristianus Atok, yang sedang menyelesaikan Ph.D soal konflik etnik di Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, juga banyak bicara soal karya Jamie Davidson. Mungkin Davidson adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu untuk melakukan interpolasi angka-angka korban. Kami memilih memakai kesimpulan Davidson karena ia sudah bekerja untuk meneliti 1997 dan 1999.

Kris Atok sendiri menulis buku Orang Dayak dan Madura di Sebangki: Kisah Penting dari Kampung (2009) serta Membangun Relasi Etnik: Pembelajaran Dari Beberapa Kampung di Kalimantan Barat (2005). Dia ikut menyusun buku Merajut Damai: Pembelajaran dari Promosi Pluralisme dan Perdamaian di Bumi Kalimantan Barat (2006). Kris Atok adalah ketua Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara di Pontianak. Dia membawa beberapa buku ketika datang ke kantor polisi Kalimantan Barat pada 5 Oktober 2009.

Saya pribadi, sebagai seorang pengurus Institut Studi Arus Informasi di Jakarta, ikut bertanggungjawab menerbitkan dua buku karya orang Pontianak:

Petebang, Edi and Sutrisno, Eri. Konflik Etnik di Sambas. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi. 2000.

Putra, Nico Andas and Djuweng, Stepanus (ed). Sisi Gelap Kalimantan Barat: Perseteruan Etnis Dayak-Madura. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi. 1999.

Masih banyak buku lain yang jadi bacaan kami dalam setahun terakhir, termasuk Mediasi Melayu-Madura karya Zulfidar Zaidar Mochtar. Saya pernah diundang dalam sebuah diskusi kecil di rumah Kris Atok di Siantan dimana beberapa cendekiawan Dayak, termasuk Asriyadi Alexander Mering dan Yohanes Supriyadi, ikutan bicara. Buku Davidson, tentu saja, salah satu materi penting yang banyak dibicarakan.

Ia melengkapi macam-macam diskusi yang diadakan oleh lingkaran Tribune Institute, sebuah NGO yang ada dalam jalinan harian Borneo Tribune pimpinan Nur Iskandar. Jamie Davidson juga kenal dengan banyak wartawan di Pontianak. Dia pernah diundang diskusi di harian Equator sebelum Nur Iskandar, Alexander Mering, Yusriadi, Hairul Mikrad, Tanto Yakobus dan kawan-kawan keluar dari sengkarut harian Equator pada Oktober 2006.

Pada November 2009, Tribune Institute bikin program penulisan di Hotel Peony, Jl. Gajah Mada, Pontianak. Saya juga ikutan dalam program tsb. Kami punya diskusi-diskusi yang kaya sekali di Pontianak.

4 comments:

Fahri Salam said...

Dua situs yang dirujuk di atas, pas diklik, error tuh, mungkin salah ketik alamat atau jaringan internetku yang rusak. Bisakah artikel ini diunggah juga di Facebook? Ia bisa cepat dapat respon dari orang-orang yang ingin tahu soal Borneo. Menurutku studi-studi di atas sangat penting.

Andreas Harsono said...

Fahri,

Aku baru coba download dan bisa tuh? Agak susah kalau ditaruh Facebook karena ini scan dari majalah dalam bentuk PDF. Terima kasih.

insaf albert said...

saya memerhatikan komentar beberapa orang pontianak dan rekan-rekan di jakarta atas kisah perjalanan seruan itu baik di blog ini atau di milis. khusus di milis, tampaknya ada juga suara-suara yang menurut saya seoalah berkata penggagasnya sok tahu. misalnya dari bang Iwan piliang yang mengatakan, "Acap kali mereka yang mengaku lebih pintar dari daerah lain, suku lain, merasa paling hebat, lebih tahu persoalan, termasuk dalam bikin seruan!

kemudian dilanjutkan lagi dengan, "Saya akan menggugat ide macam ini digembor-gemborkan: mari kita verifikasi, murni dari lubuk hati atau ada pesanan khusus? Dugaan saya bisa terlalu jauh, tetapi melihat gelagat, memojokkan masyarakat, TNI terus menrus, hingga ke pembuataan UU melemakan sendi negara, ijinkan saya mengindikasikan adanya "sesuatu"!

saya sendiri belum sempat bertanya langsung pada mas andre. tapi terlepas dari kontroversi yang mengikutinya, saya melihat seruan itu sebagai hal positif (daripada tidak berbuat apa-apa dan membiarkan masyarakat setempat menyelesaikannya sendiri yang terbukti beberapa kali gagal).

infogue said...

Hai, salam kenal, artikel anda ada di

sini

ayo gabung bersama kami dan promosikan artikel anda ke semua pembaca. Terimakasih ^_^