Wednesday, March 05, 2008

Seragam Lusuh dan Daki Hitam


Rabu pagi ini, ketika menjemput Norman untuk sekolah di pertigaan Pondok Indah, aku melihat pakaian seragamnya lusuh. Krahnya memperlihatkan bercak-bercak daki hitam. Dia bilang bajunya memang kotor. Baju bersih belum dicuci. Dia terpaksa mengambil baju kotor dari tempat menumpuk cucian.

Aku bilang dia tak baik pergi sekolah dengan baju lusuh dan kotor. Kami mampir dulu ke apartemen buat mengganti baju dan celana Norman dengan setelan bersih. Aku menyeterika pakaian putih seragam Gandhi Memorial International School. Perjalanan ke sekolah Norman memang melewati apartemen kami.

Sejak pengasuhnya, Sri Maryani, mundur kerja dari rumah Bintaro Jumat lalu, tampaknya belum ada orang yang mengurus cucian Norman. Aku minta Norman agar membungkus semua pakaian kotornya ke apartemen.

Dulu Yani sering mengeluh betapa dia sering pulang dari sekolah Norman, kecapekan, tiba di rumah, ternyata Retno Wardani, ibunya Norman, belum juga membereskan ranjangnya sendiri. Padahal Retno seharian tinggal di rumah. Aku tak terkejut Retno juga kini tak mencuci seragam Norman. Ketika kami masih menikah dulu, bila lagi tak ada pembantu, urusan mencuci pakaian adalah pekerjaan aku. Tampaknya kebiasaan ini tak hilang juga walau untuk seragam anaknya sendiri.

6 comments:

bungkusterasi said...

Satu lagi pekerjaan rumah tangga yang aku tau bisa dilakukan mas Andreas: Mencuci baju. Hehehe....
Bener kata temenku mas, Norman itu beruntung punya ayah serbaguna seperti dirimu. :)
(NISA)

merlin said...

Saya sudah lama mengikuti perkembangan cerita Mas Andreas-khususnya kisah-kisah tentang Norman.Saya amat senang dengan gaya menulis Anda tentang segala hal.Khusus tentang Norman,saya amat prihatin.Kengototan mantan istri Anda benar-benar suatu sikap yang tidak layak dicontoh oleh Ibu manapun.Satu harapan dari saya,Mas Andreas bersabar saja yah..Kita tidak tau apa yang menunggu kita di masa depan.Siapa tahu,Mas Andreas dan Norman sedang dipersiapkan lewat cobaan seperti ini,untuk lebih kuat dan menerima anugerah lebih besar di masa mendatang.
Sekian,Merlin -
dari Makassar

m i S S i S S m a said...

Mas Andreas..salam kenal..
beberapa hari ini saya rajin membaca tulisan-tulisan Mas yang berkaitan dengan Norman,, i got speechless everytime.
khusus yang satu ini..saya jadi bisu.
saya janji..saat saya jadi ibu..saya akan ingat cerita ini.

I-Think said...
This comment has been removed by the author.
I-Think said...

Kira-kira kalau Mbak Retno baca blog-nya mas, bakalan sadar atau malah ngamuk ya? Jangan-jangan dia malah lapor polisi atas nama pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter. Haha....bercanda ya mas.
Yang pasti, saya doakan Norman bahagia bersama orang2 yang sungguh2 mengasihinya. Jarang lho, ada ayah kayak Mas Andreas, yg deket sama anak lelakinya. Biasanya anak lelaki deketnya sama ibunya. Salam hangat buat Norman

Andreas Harsono said...

Dengan hormat,

Saya menulis semua persoalan pengasuhan Norman guna melakukan advokasi terhadap hak-haknya sebagai anak. Norman berhak berkembang dan menjadi dewasa dengan nyaman. Saya menulis dengan verifikasi. Memang ini tidak semudah menulis berita sehari-hari karena saya tak bisa mudah mewawancarai Retno. Minimal, saya berikan versi dia dalam blog ini.

Sejak Senin, 10 Maret 2008, Sri Maryani bekerja di tempat saya. Tugasnya, sama dengan dulu, membantu Norman dengan keperluan sehari-hari. Pakaian kotor Norman, setiap sore, dikumpulkan dari Bintaro dan dibawa Yani ke apartemen. Saya setiap pagi menjemput Norman dan Yani --dari rumah mbakyunya-- serta pergi ke sekolah. Siang saya jemput dari sekolah, juga bersama Yani. Ini semua fakta saja. Terima kasih.