Saturday, March 15, 2008

Kembali ke Salatiga


Para peserta bergaya di Kampoeng Percik. Berdiri kiri ke kanan: Aqirana Adjani Tarupay, Bagus Ferry Permana, Satria Anandita Nonoputra, Yosia Nugrahaningsih serta Geritz Febrianto Rindang Bataragoa (kaos putih, duduk). Bawah kiri ke kanan: Septhyan Widyanto, Muhammad Yogi Nasution, Parlindungan Joy Sagala, Bambang Triyono dan Indra Adhi Kurniawan.


Selama seminggu aku berada di Salatiga, melatih sebuah kelompok kecil mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana belajar menulis. Pelatihan diadakan setiap hari dua sesi, Senin hingga Kamis, di sebuah pendopo kecil milik organisasi Percik di daerah Turusan.

Para peserta berasal dari majalah kampus Scientiarum serta majalah Imbas dari jurusan elektro. Aku sendiri alumnus Universitas Kristen Satya Wacana. Aku bergabung dengan Imbas antara 1985 dan 1990.

Aku minta kepada Bagus Ferry Permana, yang menghubungi aku, agar pelatihan tidak diadakan dalam kampus serta tak memakai logo Universitas Kristen Satya Wacana. Aku tak mau terlibat dengan lembaga kampus ini selama mereka belum mengupayakan penulisan sejarah terhadap pemecatan Arief Budiman serta kawan-kawannya sejak Oktober 1994. Budiman seorang Ph.D dari Universitas Harvard. Dia juga salah satu cendekiawan terkemuka di Jawa, yang memperkenalkan "teori ketergantungan," pada 1980an. Dia juga dikenal karena menulis buku Pembagian Kerja Secara Seksual. Dia dosen di Satya Wacana sejak awal 1981.

Sesudah dipecat 1994, Arief Budiman menggugat, dan menang, terhadap manajemen Satya Wacana, dari pengadilan tingkat lokal hingga Mahkamah Agung. Namun Satya Wacana tak mau menerima keputusan pengadilan. Satya Wacana tak mau minta maaf. Dampaknya, banyak alumni tak mau menginjakkan kaki di kampus. Sejak 1997, Budiman bekerja sebagai profesor di Universitas Melbourne. Aku berprinsip bersedia berhubungan dengan mahasiswa Satya Wacana. Namun tidak buat manajemen kampus.

Singkatnya, Ferry mengupayakan pelatihan diadakan di Kampoeng Percik. Ini sebuah organisasi swadaya masyarakat, yang didirikan oleh mantan dosen-dosen Satya Wacana, yang tidak setuju dengan sikap anti-demokrasi dari manajemen Satya Wacana. Mereka percaya kebijakan manajemen menggerus idealisme kampus. Orang-orang ini termasuk Pradjarta Dirdjosanjoto, I Made Samiana, Nico L. Kana, Setyo Handoyo, Budi Lazarusli, Nick Tunggul Wiratmoko, Halomoan Pulungan dan sebagainya.

Aku senang mendapatkan suasana tempoe doeloe di kampoeng Percik. Aku sempat mengobrol dengan I Made Samiana. Dia cerita bagaimana orang-orang lama, termasuk Arief Budiman maupun mantan rektor Sutarno dan Willi Toisuta, sering datang ke Percik. Organisasi ini bergerak di bidang advokasi dan penelitian sosial. Seorang sais dokar bilang Percik sering membantu masalah perburuhan.

Di Salatiga, aku juga menemui rekan-rekan Persatuan Sais Dokar. Mengobrol lama dengan sekretaris PSD Sukardi --"Mas Sukar" panggilannya. Pada 1990, aku membantu 30an sais dokar mendirikan PSD. Aku menginap di rumah Tjondro Prasodjo, suami seorang pengusaha Salatiga. Prasodjo punya concern pada masalah perkotaan. Tak lupa, aku pergi mencicipi makanan-makanan khas Salatiga. Wedang ronde Yu Pari, roti toko Tegal, soto Kesambi dan lain-lain. Aku juga pergi ke panti sosial Bina Kasih di Tegalrejo.

Empat hari berjalan cepat. Ada peserta warga negara Timor Leste dari Dili bernama Maria de Jesus Nunes. Seorang pamannya dulu adik angkatan aku di jurusan elektro. Kini dia direktur perusahaan telekomunikasi di Timor Leste. Peserta lain, Satria Anandita Nonoputra, ternyata anak sulung dari seorang teman kuliahku pada 1980an. Kembali ke Salatiga membangkitkan banyak kenangan namun juga bikin aku sadar usia makin tinggi.

Links
Kurcaci Jangan Investigasi oleh Geritz Febrianto
Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk oleh Satria A. Nonoputra
Hari Terakhir Pelatihan Jurnalistik weblog Geritz F. Bataragoa
Meningkatkan Mutu Jurnalisme oleh Satria Anandita



Ralat
Ada salah ketik nama Yosia Nugrahaningsih, mulanya kurang huruf "in" pada nama keduanya. Ralat pada 15 Maret 2008 petang sesudah ada comment dari Satria.

2 comments:

STR said...

Thanks berat, Mas. Thanks.

*Btw, itu nama Yosi salah ditulis. Yang betul "Nugrahaningsih."

bambang.ty@gmail.com said...

Ilmunya terima kasih ya mas...

>Kapan-kapan klau datang lagi ke Salatiga, saya dibawain oleh-oleh ilmu jurnalistik lagi ya mas...

matur suwun, pareng