Monday, March 17, 2008

Sidang Mediasi Ditunda, Retno Bredel Rahasia


Jakarta-Semarang-Salatiga, Senin 10 Maret 2008
Sri Maryani, pengasuh Norman, mulai bekerja di apartemen kami di Senayan. Yani keluar dari tempat Retno Wardani seminggu lalu. Dia tak tahan lagi menghadapi Retno.

Ketika tahu Yani keluar, Norman langsung minta aku agar mempekerjakan Yani di apartemen. Yani bersedia kerja di apartemen. Dia memilih tidur di rumah kakaknya, di dekat Mal Pondok Indah. Setiap pagi, dia akan aku jemput dan ikut mengantar Norman ke sekolah. Sorenya, aku antar dia pulang.

Seminggu kemarin, Yani pulang ke kampungnya di desa Pampung, Tawangmangu. Dia butuh break sesudah keluar dari tempat Retno.

Subuh ini, aku pergi ke Semarang untuk ceramah di Universitas Negeri Semarang. Ardian Huzaeni, sopir freelance di apartemen, sebagaimana biasa, mengambil alih pekerjaan rutin aku antar-jemput Norman sekolah. Ardian biasa menggantikan aku bila berhalangan menjemput Norman.

Salatiga, Selasa 11 Maret 2008
Fredi Simanungkalit, kuasa hukum aku, memberitahu aku via telepon bahwa sidang mediasi hari ini tak jadi berlangsung. Hakim Suharto, yang jadi mediator, berhalangan kerja. Mediasi akan dilanjutkan hari Kamis. Aku mendengar kabar ini di Salatiga dimana aku sedang melatih sekelompok mahasiswa menulis.

Tjondro Prasodjo, seorang pengusaha Salatiga, cerita bahwa dia sudah menelepon Retno di Jakarta. Prasodjo menyatakan prihatin bahwa masalah pengasuhan Norman berbuntut dengan gugatan di pengadilan. Prasodjo dulu salah satu dari saksi pernikahan Retno dan aku di Salatiga, Januari 1995. Saksi satunya adalah George J. Aditjondro. Aku bilang aku sudah berjanji pada Retno untuk tak menceritakan alasan aku menceraikannya pada Desember 2003. Aku hanya tekankan Retno adalah orang berkepribadian ganda. Mungkin bahkan berlapis-lapis.

Salatiga, Rabu 12 Maret 2008
Pagi hari, aku manfaatkan waktu dua jam sebelum mengajar untuk menyunting naskah buat mediasi Kamis. Fredi Simanungkalit sebelumnya sudah siap dengan suratnya. Namun penundaan dua hari mendorong aku bantu menyunting isi proposal. Aku segera kirim via email ke Simanungkalit.

Heppy Sebayang lagi ke Medan, menunggui prosesi pemakaman ibunya. Rehngenana br Tarigan meninggal pada usia 73 tahun. Sebayang anak keenam dari sembilan bersaudara. Beliau dimakamkan di desa mereka, Gunung Tigabinanga, sekitar 120 KM dari Brastagi. Menurut Sebayang, Rehngenana artinya “semakin cantik.” May she rests in peace!

Salatiga-Semarang-Jakarta, Kamis 13 Maret 2008
Fredi Simanungkalit memberitahu via telepon bahwa hakim Suharto sudah menerima “konsep” penyelesaian masalah pengasuhan Norman. Namun pihak Retno mengatakan belum selesai dengan konsep mereka. Mediasi dilanjutkan Selasa depan.

Aku tiba dari Semarang malam hari. Norman, yang lagi giliran tinggal di apartemen, langsung menerkam dan merangkulku ketika masuk pintu. Sapariah dan Sri Maryani menemani Norman menunggu aku tiba dari airport Cengkareng. Seharusnya, aku langsung menemui Adnan Buyung Nasution, seorang pengacara hak asasi manusia, di Hotel Mahakam. Namun aku terjebak macet di Slipi. Jakarta hujan deras. Pertemuan dibatalkan.

Jakarta, Jumat 14 Maret 2008
Bertemu Adnan Buyung Nasution di Hotel Mahakam. Dia minta masukan soal draft undang-undang memperoleh informasi. Nasution adalah pendiri Adnan Buyung Nasution & Partners, sebuah law firm di Jakarta. Dia juga anggota sebuah dewan penasehat presiden bersama Ali Alatas, Emil Salim dan lain-lain. Namun aku bilang sebelumnya bahwa aku mau bertemu Nasution sebagai individu, bukan sebagai seorang penasehat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pekerjaan sebagai wartawan membuat aku tak bisa memberikan masukan kepada pemerintah.

Norman rencananya mau ikutan. Dia tertarik untuk bertemu Nasution, yang gambar dan ceritanya pernah dia dengar. Namun sebuah serial kartun di Disney Channel lebih menarik perhatiannya.

Jakarta, Sabtu 15 Maret 2008
Retno Wardani mulai bersikap kaku lagi. Dia mengirim SMS, “ANTAR PULANG SESUAI WAKTU, OBAT MATA DAN PAKAIAN DALAM NORMAN DI BAWAKAN (11:41).” Sorenya, ketika kami dalam perjalanan mengantar Norman dari Senayan ke Bintaro, Retno menelepon, tanpa basa-basi, berteriak, “Mana Norman? Mana Norman?”

Aku jawab Norman di samping aku. Nadanya kasar sekali. Aku tak mau Norman menghadapi abuse Retno. Aku bilang Norman ada di sisi aku. Telepon aku matikan. Norman, Yani dan Sapariah bisa mendengar langsung teriakan Retno lewat telepon. Dia menelepon hingga empat kali. Aku berikan ke Norman pada nada keempat. Suaranya tiba-tiba penuh rayuan. Dia bilang tak bisa menyelesaikan puzzle tanpa Norman. Norman bilang dia ada di perempatan Jl. Camar –sekitar 150 meter dari tempat Retno. “I love you, sayang!” kata Retno. Aku geli mendengar perubahan mendadak nada bicara Retno. Dari sangat kasar, mengerikan, tiba-tiba jadi penuh rayuan.

Jakarta, Minggu 16 Maret 2008
Pagi, siang dan malam, bila ada kesempatan bicara bebas, Norman minta aku meneleponnya. Dia cerita apa saja kegiatannya di Bintaro. Pagi diajak ke gereja. Siang, Norman tidur siang. Malam, Retno pergi keluar rumah, dan Norman bicara panjang lebar. Dia bilang Retno memaksanya memakai gelang karet warna hitam pemberian Retno. Dia bilang tidak suka gelang itu. Retno bilang Norman harus menghargai pemberian ibunya. Gelang itu dilepas dan ditaruh Norman di mobil aku.

Norman bilang Retno mengatakan mulai sekarang tidak boleh ada rahasia antara Norman dan ibunya. Ibu dan anak harus terbuka. Tanpa ada rahasia apapun! Norman bilang kalau Retno menemui Norman merahasiakan sesuatu darinya, maka Norman akan dilarang untuk setiap kali menerima telepon dari aku, seperti biasanya, di luar rumah.

Aku risau sekali mendengar cerita Norman. Dia menangis di telepon. Aku bicara sebentar dengan Sri Pramesthi, kakak kandung Retno, yang lagi menjaga Norman di Bintaro, untuk menghibur Norman. Aku minta tolong Sapariah, lagi tugas di kantor, serta Sri Maryani, lagi di rumah kakaknya, untuk menghibur Norman lewat telepon. Sapariah minta Norman kuat. Aku kirim SMS ke beberapa kenalan.

Aku risau dengan proses keadilan yang begitu lama di Majapahit ini. Sejak Agustus lalu, aku mengadukan soal Norman ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Proses ini berjalan hingga Desember dan mereka tak berbuat banyak guna melindungi Norman. Aku juga kecewa dengan cara kerja KPAI. Mereka tak membuat notulensi. Mereka bekerja lamban. Mereka mengganti Maya Nur Elisa, orang yang menangani pengaduan ini, tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Maya tahu dia diganti justru dari aku. Sejak Januari, aku gugat Retno ke pengadilan dan ini sudah bulan Maret.

Aku bilang bahwa setiap orang punya hak untuk menjaga rahasia. Aku bilang perbuatan yang tidak aku anjurkan adalah berbohong. Tapi siapa bisa melarang kita menjaga rahasia? Retno tak boleh bersikap ibarat seorang interogator terhadap anaknya sendiri. Apalagi mengancam dilarang keluar rumah buat terima telepon.

Jakarta, Senin 17 Maret 2008
Aku bangun subuh. Cek internet dan baca perkembangan Barack Obama dan Hillary Clinton. Lalu berangkat jemput Sri Maryani lantas Norman. Norman mengoceh di mobil, sepanjang perjalanan ke sekolah. Dia cerita perdebatannya dengan Retno. Kami sarapan bakmi ayam di sekolah. Sapariah menyediakan buah rambutan kesukaan Norman namun Norman menolak makan rambutan. Perutnya lagi kurang enak.

2 comments:

I-Think said...

Kenapa anak selalu menjadi korban perceraian. Duh...Mas Andreas, saya sebagai sesama perempuan sebenarnya berusaha mengerti mungkin Mbak Retno kecewa tapi pelampiasannya pada anaknya.
Saya mengikuti cerita ttg Norman dan konflik Anda dan mantan istri. Ternyata dugaan saya memang benar seprt yg Mas katakan, saya kira memang Mbak Retno punya kepribadian ganda.
Pengalaman sy, orang yang berkepribadian ganda ini memang suka memaksakan kehendak dan mencari dukungan. Apapun bisa dia lakukan demi mendapat dukungan dan mendapat apa yang dia inginkan. Orang seperti ini juga sangat sukar untuk mengevaluasi diri. Boro-boro mengoreksi diri, mengerti dan memahami dirinya sendiri saja adalah hal yang sangat susah. Kebetulan saat ini saya sedang menghadapi orang berkepribadian ganda dan ternyata ini latihan saya untuk menjadi orang yg sabar (untungnya tidak ada korbannya seperti Norman yg terjepit di tengah).
Saya berharap Norman mendapatkan yang terbaik. Sebagai sesama perempuan (dg Mbak Retno) saya hanya terenyuh dan prihatin, ternyata masih banyak perempuan yg sulit menolong dirinya sendiri. Padahal menjadi seorang ibu itu tugas yg sangat berat karena tidak hanya perlu kecerdasan intelektual tapi juga kecerdasan emosional.
Salam hangat buat Norman

Ini wartawan poenja blog. said...

PENUH dan sesak rasanya menghadapi masalah seperti ini. Ga tega. Kasian lihat anaknya.

Menempuh jalur hukum, proses lama. Sementara anak terus dalam kondisi seperti itu. Ya Tuhan, Ya Ilah, Ya Allah.....harus bagaimana ini? Bagaimana? MInta tolong siapa? Apakah menunggu anak mengalami kekasaran secara fisik baru peduli? Apakah anak harus depresi dan sakit dulu baru dianggap? Malangnya nasib anak.

Mengapa tidak disadari luka mental pada anak itu bisa lebih berbahaya dari luka fisik. Mengapa tidak coba menjaga perasaan anak, menjaga hati anak. Janganlah anak dijadikan korban dan tumbal kekesalan atau kemarahan. Jika sakit mungkin bisa berobat.

Anak itu manusia, punya hati, punya rasa, punya keinginan, punya hidup dan punya hak. Masih panjang masa depannya....Masih jauh perjalanannya. Tegakah dalam perjalanan itu, orang tua menorehkan kenangan kelam dan gelap serta kenangan menyedihkan pada anak???? Tak inginkah kenangan manis, kenangan indah disematkan pada memorinya?

Tak inginkah melihat anak tertawa ceria? Tegakah mengambil keceriaan hidup anak, demi atas nama hak? Tak inginkah melihat anak bersuka ria dalam hidupnya???

Itu bisa kita berikan sebagai orangtua. Berilah anak kehidupan layaknya manusia. Biarkan anak layaknya anak-anak yang lain. Anak yang bisa tinggal di rumah ayahnya kapanpun dia ingin. Anak yang bisa ada di rumah ibunya, kapanpun dia mau. Anak yang bisa berkunjung dan tidur di rumah kakek, nenek, tante dan keluarganya tanpa deadline waktu yang kaku.

Beratkah memberikan ketenangan hati kepada anak. Beratkah tidak memarahi anak ketika dia 'terlambat' atau 'tidak sesuai waktu' pulang ketika dari rumah ayahnya? Padahal, itu dari rumah ayahnya. Adakah disebut terlambat atau tidak disiplin ketika anak ke rumah ayahnya sendiri???


Tidak bersediakah menjadi orangtua mengoreksi diri. Mengapa anak tidak senang, mengapa anak protes hingga bersikap seperti itu? Mestinya berpikir, apa yang salah dengan sikap dan tindakanku? Tak kah itu menjadi pertanyaan dalam diri dan coba untuk memperbaiki?

Tidak mudah memang menjadi orangtua. Berat. Aku yang baru masuk dalam kehidupan rumah tangga merasakan betapa beratnya menjadi orangtua.

Kasus ini memberikan banyak pelajaran bagi aku. Betapa menjadi orangtua itu harus mawas diri, harus koreksi diri. Orangtua tak boleh menganggap diri selalu benar. Koreksi dan terus koreksi. Belajar dan terus belajar. Mata dan hati serta pikiran harus terbuka.

Akhirnya, kebahagiaan anaklah yang menjadi tujuan utama.