Tuesday, November 29, 2005

Retno dan Asma


Retno Wardani, mantan isteri aku, lagi berantem dengan aku soal terpal plastiknya Norman. Menurut dokter L. Muliana dari klinik asma dan alergi "Dr. Indrajana" di Jl. Tanah Abang III, Norman alergi dari segi pernafasan maupun kerongkongan terhadap tungau debu, kecoak dan kepiting. Artinya, dia tak boleh makan kepiting. Dia tentu tak boleh menghisap protein dari kotoran kecoak maupun kotoran tungau debu. Dokter Muliana melakukan skin test untuk tahu apa penyebab asmanya Norman.

Asma ini penyakit aneh. Dia tak bisa disembuhkan namun bisa dikontrol. Stamina bagus dan paling penting menghindar dari barang-barang yang bisa bikin dia mengalami alergi, yang bisa bikin mengi dan batuk-batuk. Muliana minta Norman tidur dialasi terpal plastik agar tungau debu di kasur tak mengenai pernafasannya saat tidur. Aku sudah lakukan ini di apartemen kami. Retno juga aku belikan terpal untuk rumah Pondok Indah.

Mula-mula oke tapi hari ini Retno berantem karena dia tak percaya pada rekomendasi dokter Muliana.

"Aku ingin membantu membebaskan dia dr kekangan sakitnya. Aku akn lepas terpal itu as soon as psbl. I think tonight." - 0812-8623480 29 November 2005 7:23

"I ll do it 2 night. I ll remove it, so that he will not depent on it." 0812-8623480 29 Nov 2005

Apa sebab Retno punya pendapat begitu?

Siang sekitar pukul 16:00 Retno menelepon, dia tanya apakah benar aku akan menjemput Norman dari rumah Pondok Indah. Aku bilang ya. Kesepakatan perceraian menyebut bahwa bila salah satu orang tua berhalangan merawat Norman --pergi ke luar kota-- saat gilirannya, maka Norman diasuh orang tua satunya walau itu di luar jadwal biasa.

Dia bilang "baik" tapi dia minta Sri Maryani, pengasuh Norman, tidak boleh mengantar Norman sekolah. Yani juga tidak boleh menunggui Norman pulang. Aku harus mengantar dan menjemputnya sendiri dari rumah Pondok Indah ke Senayan.

Jadi, keputusan Retno melepas terpal Norman terjadi karena dia lagi di luar kota, lalu aku mengetahuinya, menjemput Norman dari rumah Pondok Indah. Balasannya, Retno akan melepas terpal Norman pada malam hari saat tidur.

Thursday, November 24, 2005

Duma dan Cahaya Bahari


Image hosted by Photobucket.com
Duma sebuah kampung kecil dan cantik. Ia terletak di tepi Danau Galela, sebelah utara Pulau Halmahera. Di sekeliling danau, pohon dan perdu tumbuh lebat, juga pohon kelapa untuk bahan kopra. Aku mendatangi Duma pada 22 November untuk wawancara seorang janda, Hernata Lasamahu, serta membayangkan apa yang ia ceritakan. Febbyola Lilipory, satu reporter muda dari radio SPB 103.6 FM, menemani "Kak Nata" dan aku ke Duma dari Tobelo.

Image hosted by Photobucket.com
Duma salah satu simbol kekristenan di utara kepulauan Maluku. Ia termasuk salah satu kampung Kristen pertama. Makam Hendrick van Dyken, pendeta Belanda yang mulai bekerja di Galela pada 1866, juga diletakkan disini. Bagaimana Van Dyken bisa tinggal dan berakar di Duma?

Ceritanya, orang-orang sana merasa ada hantu raksasa tinggal di Duma. Van Dyken ditantang untuk melawan hantu itu. Ia menerima tantangan. Ia membangun rumah. Tak terjadi apa-apa. Bahkan ketika ada air naik serta hujan lebat, rumah Van Dyken selamat untuk menampung penduduk desa.

Image hosted by Photobucket.com

Maka nama negeri itu diganti, dari Moroduku (“tanah para raksasa”) ke "Duma" --dari frase “Duma wi doohawa.” Artinya, "Tapi dia (Van Dijken) tidak dilukai.” Van Dyken meninggal pada 1900.

Gereja Masehi Injili di Halmahera cabang Duma, dibakar dan dirusak oleh milisi berbendera Islam, dalam communal violence yang paling buruk dalam sejarah kepulauan Maluku. Negeri ini diserang oleh Pasukan Jihad pada 19 Juni 2000, dua hari sesudah jemaat GMIH Nita merayakan seratus tahun meninggalnya Hendrick van Dyken.

Image hosted by Photobucket.com
Kuburan massal dari anggota jemaat GMIH cabang Duma, terletak di sebelah gereja. Mereka mulanya menguburkan jenasah korban terpisah-pisah. Namun belakangan mereka mengumpulkan semuanya dalam satu tempat pemakaman. Lengkap dengan nama masing-masing korban.

Image hosted by Photobucket.com
Hernata Lasamahu berdiri depan batu nisan suami, mertua dan anak lelakinya. Hernata bilang bahwa Josephus Lasamahu seorang suami dan bapak yang baik. Josephus asal Pulau Seram. Hernata mulanya bertemu dengan Josephus ketika nonton televisi di rumah tetangga. Mereka menikah pada 1990 ketika Hernata masih usia 18 tahun. Hernata suka karena Josephus orang sederhana, sudah bekerja sebagai guru.

"Bapa saya guru. Sejak remaja, saya ingin pung suami juga guru," kata Hernata. Perkawinan sederhana. Mereka dikarunia tiga anak, satu putri sulung dan dua putra.

Image hosted by Photobucket.com
Kapal Cahaya Bahari tenggelam dengan ratusan pengungsi asal Duma. Bangkai kapal tak pernah ditemukan. Mereka bikin replika Cahaya Bahari guna mengenang korban. Menurut Adnan Amal dari Ternate, yang menulis buku sejarah Maluku Utara, pembantaian di Duma serta tenggelamnya Cahaya Bahari berperan besar menghentikan perang di Maluku Utara.

Image hosted by Photobucket.com
Makam van Dyken dan isteri juga dibongkar, tulang-belulang mereka dirampas dan dibuang entah kemana. Menurut Christopher Duncan dalam sebuah narasi di jurnal Indonesia, "pasukan putih" tujuannya mengambil alih Tobelo. Mula-mula mereka coba dari daerah Malifut, selatan Tobelo, namun tak berhasil. Maka mereka mencobanya lewat laut sebelah utara. Artinya, mereka harus menguasai Galela guna merebut Tobelo. Duma ada di Galela dan simbol kekristenan di Halmahera.

Image hosted by Photobucket.com
Setiap kuburan dengan lambang salib dirusak, entah sisi kiri, kanan atau apapun, asal lambang kekristenan ini cacat. Sulit mencari tahu siapa salah, siapa benar, dalam pertikaian ini. Orang Muslim juga banyak dibunuh di Galela dan Tobelo. Bahkan pembunuhan orang-orang Muslim pada Desember 1999 itu mendorong orang-orang Muslim di Pulau Jawa mendirikan Laskar Jihad dan mengirimkan "pejuang jihad" ke Maluku.

Image hosted by Photobucket.com
Sore berganti malam, aku menelusuri makam, makam dan makam. Aku lihat Febbyola Lilipory tenggelam dalam pikiran sendiri. Hernata Lasamahu permisi dan menyembunyikan tangisnya. Aku pergi ke sebuah sudut sepi. Aku merasa sedih sekali. Aku tak tahu mengapa kemanusiaan bisa diinjak begini rendah?

Wednesday, November 23, 2005

Tobelo, Tobelo, Tobelo


Tobelo adalah sebuah kota di ujung Pulau Halmahera. Ukurannya kecil bila dibandingkan kota-kota di Pulau Jawa. Ia tak lebih besar dari sebuah real estate ukuran kecil di Jakarta. Ia bisa dijangkau dengan mudah dari Manado langsung dengan pesawat Merpati, mendarat di daerah Kao, sekitar satu jam dari Tobelo. Ada dua bank di Tobelo, BNI dan BRI, serta sebuah pasar dan terminal angkutan kota yang berantakan. Orang banyak jualan makanan di pusat kota, dari coto Makassar hingga ayam goreng Jawa.

Aku mengenal Tobelo ketika membaca buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen karya Ron Heynneman. Van Diejen seorang perempuan Belgia, yang menikah dengan John van Diejen, seorang administratur perkebunan Belanda di Tobelo. Ia naik kapal dari Rotterdam ke Halifax (Kanada) lalu New York, naik kereta api sembilan hari ke San Fransisco, naik kapal lagi, ke Hawaii, lalu Yokohama, lalu Hong Kong, lalu Singapura, lalu Belawan dan Batavia. Ia tinggal di Tobelo antara 1920 dan 1942. Ceritanya sangat memikat, membuat aku jadi ingin melihat tempat-tempat dimana Van Diejen pernah bekerja dan membangun perkebunan kelapa.

Kini Tobelo adalah ibukota Kabupaten Halmahera Utara. Aku tinggal di Tobelo hampir seminggu November ini. Bicara kesana kemari, keliling kota cuma 20 menit, melihat kampus Sekolah Tinggi Theologia Tobelo dan Politeknik Padamara.

Aku juga bertemu dengan praktis semua orang penting di kota ini –kecuali mereka lagi keluar kota. Entah kenapa, aku suka dengan kota ini, mungkin karena pengaruh pasangan Alexander Davey dan Grace Siregar. Mereka bekerja di Tobelo dan menyewa rumah kayu Minahasa. Aduh enaknya, angin malam menerpa teras rumah. Alex bekerja untuk World Vision Indonesia. Grace seorang seniman, banyak membina hubungan dengan seniman Ternate, Tobelo dan Morotai.

Image hosted by Photobucket.com

Teluk Kao, dimana Tobelo terletak, pada zaman Perang Dunia II jadi pangkalan armada laut Jepang. Lautnya dalam. Pada zaman perang, ada lebih dari 2,000 kapal perang hilir mudik disini. Sebagian besar ditenggelamkan oleh pesawat terbang Amerika. Ada beberapa haluan kapal masih terlihat di Teluk Kao. Jepang juga membangun lapangan terbang besar dengan tujuh landasan.

Image hosted by Photobucket.com

Di Tobelo ada beberapa hotel. Aku tinggal di Villahermosa, yang terletak di daerah Wosia. Kamar bersih. Udara bersih. Harga Rp 100,000 per malam. Mereka juga sedia laundry. Pemiliknya, orang Tionghoa Tobelo, Heri Manonata, sangat membantu bila aku mau ketemu orang, naik gunung, snorkelling, naik gunung, cari mobil dan sebagainya.

Aku kira, Tobelo bisa jadi daerah tujuan wisata sing ciamik! Ada laut. Ada gunung. Ada sejarah.

Image hosted by Photobucket.com

Pusat kota sederhana. Tobelo termasuk kota yang banyak penduduk Kristennya. Aku melihat orang memakai kalung salib dimana-mana. Di pusat kota, juga sering terdengar lagu-lagu disco gereja. Amazing Grace dan Kumbaya rasanya menghantam telinga di pusat kota ini. Pada 1999-2001, Tobelo juga jadi pusat pertumpahan darah Kristen-Islam yang buruk sekali. Hampir separuh kota terbakar habis. Listrik tak menyala hampir empat tahun.

Menariknya, ia cepat sekali bangkit dari keterpurukan itu. Ada suasana terbuka yang wajar. Baik orang Kristen dan Islam mengatakan tak ada yang menang, tak ada yang kalah dalam peperangan itu. Mereka kini belajar untuk toleran satu dengan yang lain.

Image hosted by Photobucket.com

Ani Sawal, orang Ternate, menjual nasi kuning khas Ternate di pusat kota. Aku suka sekali nasi ini. Ia dicampur bakmi, ikan cakalang masak bumbu dan acar mentimun. Setiap pagi aku sarapan disini.

Hari ketiga, "Cik Ani" cerita pengalamannya saat kerusuhan. Rumah dan restorannya habis terbakar. Suaminya, orang Bugis, Tellong Haji Lombe, meninggal karena stres di Makassar. Anaknya, yang ikut berperang, kena bom dan kaki kanannya cacat. Ia menangis ketika cerita. Cik adalah bahasa Tobelo untuk Ibu atau Madame.

Pada 1980, Cik Ani buka rumah makan "Maro Ona" yang artinya "Sama Saja" dalam bahasa Galela. Dia jual nasi kuning, ikan bakar. Suaminya tukang jahit serta punya 36 becak. Pada Desember 2000, perang di Maluku menjalan ke Tobelo. Muslim lawan Kristen. Ceritanya seram.

Image hosted by Photobucket.com

Di pasar Tobelo, aku juga terpesona, sekaligus jijik, melihat orang menjual kelelawar. Paniki --masakan kelelawar-- tergolong kegemaran orang Tobelo. Namun cara membunuh kelelawar ini yang bikin aku jijik. Kelelawar hidup-hidup ini diambil dari keranjang dan dipukul kepalanya dengan kayu. Darah muncrat.

Aku juga belanja perhiasan besi putih asal Pulau Morotai. Kerajinan ini terkenal sekali. Besi putih diambil dari bekas-bekas pesawat terbang Sekutu yang dulu ditinggalkan di Morotai sesudah Perang Dunia II.

Image hosted by Photobucket.com

Pisang montok-montok. Kebanyakan sayuran dan buah-buahan datang dari daerah Galela, utara Tobelo, yang mayoritas penduduknya Muslim. Baik Tobelo dan Galela sebenarnya daerah campuran. Kampung Islam dan kampung Kristen berserakan dan berselang-seling.

Image hosted by Photobucket.com

Bila bisa naik mobil ke Duma, sebuah daerah yang indah di ujung Danau Galela, kita juga bisa berkunjung ke Gereja Masehi Injili di Halmahera cabang Duma. Namanya, GMIH Nita. Disini ada kuburan massal orang GMIH yang 201 orang mati dibunuh dalam suatu serangan dari Pasukan Jihad pada 19 Juni 2000. Mereka belakangan dimakamkan bersama-sama. Banyak pendatang berkunjung.

Di samping pemakaman ini ada replika KM Cahaya Bahari yang tenggelam seminggu sesudah serang Duma. Ada 100 warga Duma yang hendak mengungsi ke Manado ikut tenggelam. Ini adalah jumlah korban terbesar dalam pertikaian agama di daerah Maluku. Duma kehilangan lebih dari 300 warganya dalam pertikaian ini. Kini kebanyakan warga desa adalah janda dan anak-anak.

Monday, November 21, 2005

Wartawan Intel?


Ini termasuk liputan yang penuh warna selama berjalan tiga minggu di daerah Kepulauan Maluku. Ketika berada di Ambon, aku dapat izin wawancara Semuel Waileruny di penjara Waiheru, sekitar 15 km dari kota Ambon.

Waileruny seorang pemimpin Forum Kedaulatan Maluku. Ia dipenjara dengan tuduhan makar. Ia termasuk orang yang memperjuangkan kemerdekaan Maluku dari "penjajahan Indonesia."

Aku rasa wawancara berjalan biasa. Aku melontarkan pertanyaan terbuka dan kalau ada jawaban yang kurang jelas, aku berusaha menanyakan lagi. Ia juga menjawab dengan blak-blak-an. Orangnya terkesan tegas dan berani. Ini membuat aku juga semangat. Mungkin terkesan kritis.

Di tengah wawancara, Waileruny menjawab bahwa jawaban-jawabannya soal "bangsa Indonesia" menjajah "bangsa Alifuru" juga ia sampaikan kepada pejabat-pejabat militer dan polisi dari Jakarta. Ia mengatakan selalu jawab tanpa rasa takut, tak perlu tutup-tutup.

"Kalau Bapak intel TNI atau intel Mabes Polri, jawaban saya juga sama."

Aduh. Ia ternyata curiga aku intel tentara!

Aku tersenyum kecut. Waileruny juga menolak ketika aku minta tolong Yany Kubangun, wartawan Ambon Ekspres yang menemaniku, hendak memotretnya lebih dari dua kali.

Perjalanan berlanjut. Dari Ambon, aku naik pesawat ke Ternate. Putar-putar di Ternate lalu naik speed boat dari Bastiong ke pelabuhan Rum, Pulau Tidore.

Eh, di Soasiu, sekitar 30 menit dari Rum, ditanyai satu jaksa, yang curiga aku wartawan gadungan! Soasiu kota sangat kecil. Tak susah untuk mengetahui ada orang asing di kota. Apalagi ini kota yang baru selesai menyaksikan pertikaian antar agama. Banyak bangkai gereja dan rumah orang Kristen terserak di Pulau Tidore. Pembangunan bangunan-bangunan itu berjalan lambat. Mungkin rasa curiga masih tinggi.

Si jaksa mengatakan tak takut dengan wartawan yang biasa memeras pejabat. Ia bilang tahu banyak wartawan "mencari nafkah" dengan menyamar jadi wartawan.

Aku dibentak dan ditantangnya! Cukup kaget juga. Betapa jelek citra wartawan di Tidore.

Aku menjelaskan semua prosedur kerja dan identitas aku. Aku beri kartu nama dengan logo Yayasan Pantau.

Ia minta surat tugas! Aku menjelaskan bahwa aku menulis buku dengan judul ini dan sub judul itu, sponsor ini, lalu apa itu Yayasan Pantau. Ini cukup panjang tapi ia tak puas. Ia minta nomor telepon atasanku?

Repot bukan? Tapi ia juga tak punya bukti kalau aku mau memeras. Buang waktu tapi akhirnya aku pergi.

Dari Tidore aku kembali ke Ternate dan keesokan harinya pergi ke pelabuhan Sidangoli, Pulau Halmahera. Naik mobil empat jam menuju Tobelo. Dua hari di Tobelo, aku merasa kurang cepat bergerak bila kemana-mana tunggu ojek atau bentor (becak motor). Tobelo kota kecil tapi butuh waktu bila harus tunggu ojek. Apalagi bila harus ke desa-desa tetangga macam Pitu, Upa, dan Kupa-kupa.

Maka aku menyewa sepeda motor Rp 10,000 per jam.

Ternyata salah sangka dan salah tafsir juga ada di Tobelo.

Pagi hari, ketika mau tanya alamat, lelaki yang aku hampiri menggoyangkan tangan tanda menolak!

Alamak! Ia mengira aku sopir ojek!

Beginilah warna liputan seorang wartawan. Dicurigai sebagai intel, lalu tukang peras dan akhirnya tukang ojek.

Sunday, November 20, 2005

Buku Jurnalisme Sastrawi

Saya menulis ini untuk menawarkan sebuah buku terbitan Yayasan Pantau berjudul Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat.

Isinya, delapan laporan majalah Pantau yang mencoba menerangkan jurnalisme sastrawi (literary journalism). Genre ini mulanya berkembang di Amerika Serikat 1960-an. Ia menggabungkan disiplin paling berat dalam jurnalisme serta kehalusan dan kenikmatan bercerita dalam karya fiksi. Wawancara biasa dilakukan dengan puluhan, bahkan sering ratusan, narasumber. Risetnya mendalam. Waktu bekerjanya lama. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa.

Majalah Pantau pernah mencoba belajar memakai genre ini untuk mengembangkan jurnalisme berbahasa Melayu. Dari pembantaian orang Acheh hingga hiruk-pikuk musik, dari soal media hingga kemiskinan, jadi bahan liputannya.

Delapan karya ini termasuk "Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft" oleh Chik Rini (Banda Aceh), "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" oleh Alfian Hamzah (Makassar), "Taufik bin Abdul Halim" oleh Agus Sopian (Bandung), "Ngak Ngik Ngok" oleh Budi Setiyono (Semarang), "Hikayat Kebo" oleh Linda Christanty (Bangka), "Koran, Bisnis dan Perang" oleh Eriyanto (Jombang), "Konflik Nan Tak Kunjung Padam" oleh Coen Husain Pontoh (Bolaang Mongondow) dan "Cermin Jakarta, Cermin New York" karya saya sendiri.

Budi dan saya jadi editor buku ini. Saya menulis kata pengantar yang agak teoritis soal penulisan, soal struktur karangan, pemilihan karakter, konflik, emosi, time frame dan sebagainya, berjudul, "Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita."

Ada beberapa orang yang merekomendasikannya:

Maria Hartiningsih, wartawan harian Kompas, yang menerima Penghargaan Yap Thiam Hien 2003: "Prosa terbaik dan paling orisinal yang pernah ditulis jurnalis Indonesia saat ini."

Endy Bayuni, Pemimpin Redaksi harian The Jakarta Post, yang menerima Nieman Fellowship dari Universitas Harvard 2003-2004: "The combination of the best in journalism and the best in literacy can produce potent and effective non-fiction writings. This Pantau collection is proof of that."

Janet Steele, dosen Universitas George Washington, yang mengarang buku Wars Within: A Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto's Indonesia: "These pieces, not only represent something new and appealing in Indonesian news writing, but they also represent the highest calling of journalists: to serve the citizens of Indonesia by reporting on some of the most important social issues of our time."

Buku ini dicetak PT Temprint. Tebalnya 380 halaman. Harga eceran Rp 45,000 kalau Anda beli langsung kepada Yayasan Pantau (hubungi Eva Danayanti eva@pantau.or.id atau Purwoto 0812-9434061 atau Yayasan Pantau 021-7221031). Kami mulai menjualnya via toko buku pada akhir November 2005.

Saya kira buku ini berguna untuk mahasiswa komunikasi dan jurnalisme, wartawan, pers mahasiswa, redaktur atau siapa pun yang tertarik mengembangkan kemampuan menulis. Cerita-ceritanya juga menarik sehingga bisa dinikmati orang kebanyakan. Terima kasih.

Catatan: Pada 4 Desember 2005 harian Kompas memuat resensi kecil tentang buku ini. Link

Saturday, November 19, 2005

Perjalanan Ternate-Tobelo


Pagi ini aku naik ojek dari guest house Mitra Karya, belakang kedaton Ternate, ke pelabuhan Gamalama. Lalu naik speed boat Rp 20,000 ke Sidangoli di Pulau Halmahera. Mulanya bingung juga pilih speed. Aku bawa duffel bag besar.

Aku tersiksa dengan asap rokok Dji Sam Soe seorang penumpang. Hanya ada tujuh lelaki plus dua crew speed boat serta beberapa perempuan. Tapi tiga lelaki merokok terus. Udara tak cepat berganti karena udara dari luar tak bisa masuk ke dalam.

Sampai Sidangoli, para tukang becak naik ke speed dan berebut penumpang. Aku dikelilingi tukang becak dan calo mobil. Mereka menawarkan tumpangan ke Tobelo. Ongkos mobil ke Tobelo Rp 75,000 per orang. Aku bayar empat kursi sekaligus agar mobil segera berangkat. Syaratnya, aku minta sopir tidak merokok. Capek deh dengan asap rokok.

Sepanjang jalan lihat bekas-bekas rumah dibakar. Namun juga banyak rumah-rumah baru bermunculan. Bentuknya seragam. Dari batako dan atap seng. Ukuran dan disainnya persis sama. Mungkin bantuan dari lembaga-lembaga kemanusiaan. Sepanjang jalan, dua orang penumpang, satu Kristen dan satu Muslim, bicara soal "motivasi" NGO internasional "membantu" biking rumah di Halmahera. Si Muslim kuatir ada motivasi tersembunyi. Si Kristen bilang hanya NGO macam World Vision yang bantu di Halmahera. Capek juga aku. Orang sudah hancur begini masih berdebat soal motivasi orang bantu biking rumah!

Di Malifut berhenti dan makan di rumah makan milik orang Bugis. Namanya, RM Malifut Indah. Ia terletak pada Jl. Adam Malik RT4, desa Tahane. Pemiliknya bernama H. Badawi Saleh. Wakil Presiden Adam Malik pada 1982 mengunjungi daerah ini. Mungkin alasan inilah yang menyebabkan jalan dinamai Adam Malik.

Para waiter rumah makan gadis-gadis Makian. Aku tahu bahwa orang Makian dulunya hendak diusir dari Halmahera. Ini memang daerah yang dulu jadi sengketa awal Kao-Makian. Pada 1975, sebanyak 16 desa dari Pulau Makian dipindahkan kesini karena pemerintah kuatir gunung disana akan meletus. Banyak orang yang menolak pindah tapi tentara main paksa saja.

Gadis-gadis ini bekerja keras dan riang sekali. Rosdiana Din, kasir rumah makan, memberi aku informasi tempat menginap. Tak ada hotel disini. Juga tak ada listrik. Sinyal telepon juga tak ada.

Ini perjalanan aku kedua di Halmahera. Juli tahun lalu, Donald K. Emmerson dan aku juga makan di rumah makan ini. Ini juga berguna sebagai tempat istirahat. Buang air. Cuci muka. Minum dan makan. Bedanya, tahun lalu Emmerson mengajak kembali ke Ternate, tak sampai Tobelo. Kali ini, aku meneruskan perjalanan ke Tobelo.

Butuh waktu tiga hingga empat jam dari Sidangoli ke Tobelo. Pulau ini sepi sekali. Namun perjalanannya menyenangkan, banyak pemandangan alam hijau.

Di Tobelo, aku menginap di Villahermoza, sebuah hotel kecil, dengan enam kamar milik orang Tionghoa bermarga Tan. Ini hotel para NGO. Cuma Rp 100,000 semalam. Bersih sekali dan pakai AC. Hotel ini baru dibangun tiga tahun lalu. Tobelo nuansa kekristenannya kuat sekali. Tak terdengar azan maghrib disini. Gantinya, mobil-mobil umum mengeluarkan musik-musik disco halelluyah diputar kencang-kencang. Bir dijual bebas. Salib terlihat dimana-mana.

Aku mengenal Tobelo ketika membaca buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen karya Ron Heynneman. Van Diejen seorang perempuan Belgia yang menikah dengan seorang administratur perkebunan Belanda di Tobelo. Ia tinggal di Tobelo antara 1920 dan 1942. Ceritanya sangat memikat, membuat aku jadi ingin melihat tempat-tempat dimana Van Diejen pernah bekerja dan membangun perkebunan kelapa.

Sorenya, aku beli "besi putih" buatan Morotai di depan supermarket Galaxy, toko terbesar di Tobelo. Besi putih adalah terminologi untuk besi bekas pesawat terbang Perang Dunia II di Pulau Morotai. Pihak Sekutu menjadikan Morotai sebagai pangkalan militer mereka guna menduduki Filipina. Dari Filipina, mereka lompat kodok ke Jepang. Bangkai pesawat terbang terserak di Morotai. Penduduk mengambilnya terus-menerus, selama 60 tahun lebih, dijadikan bahan perhiasan yang terkenal.

Pihak Angkatan Laut Jepang, sebaliknya, membangun pangkalan militer mereka di Teluk Kao. Aku sempat lihat bangkai-bangkai kapal perang muncul dari permukaan laut. Salah satu haluan kapal bahkan ditumbuhi pohon kelapa. Halmahera adalah pulau strategis tampaknya sehingga dikuasai Sekutu dan Jepang.

Di Tobelo, aku perkirakan separuh kota rusak. Masih banyak sisa bangunan terbakar. Heri Manonata, manajer Villahermoza, cerita bagaimana dia sekeluarga lari dari Tobelo. Mereka lihat orang bawa kepala orang. Dua hingga tiga minggu tak bisa keluar dari Tobelo.

Mereka akhirnya naik KM Cahaya Bahari ke Manado pada Januari 2000. Dari Manado, dua malam kemudian, mereka naik pesawat ke Jakarta, tinggal di rumah keluarga di Teluk Gong. Total ada 14 orang mengungsi di Jakarta.

Friday, November 18, 2005

Masjid Sultan Tidore

Ketika jalan-jalan di Soasiu, ibukota Pulau Tidore, aku sempat melihat-lihat masjid Sultan Tidore. Ini masjid tua, umurnya lebih dari 300 tahun, terbuat dari kayu besar. Selama 300 tahun, ia tak pernah diganti. Kuat sekali dan sekeras beton.

Menurut modim Rustam Fabanyo, masjid ini hendak direnovasi akhir November 2005. Ada dua pendapat yang berkembang di kalangan pengurus masjid. Kubu pertama, ingin renovasi dilakukan tetap dengan kayu. Kubu kedua, ingin struktur masjid diganti beton namun dilapisi kayu.

Aku membaca beberapa bacaan soal sejarah masjid. Di Tidore, ia disebut "Masjid Kolano" --dalam bahasa Tidore, "kolano" adalah nama jabatan "sultan" sebelum diganti dengan bahasa Arab. Bangunannya kokoh dan penuh sejarah. Hanya satu dari empat tiang utama yang keropos.

Fabanyo mengatakan saat shalat Jumat, ada rata-rata enam saf (baris) warga bersembayang disini. Setiap baris bisa menampung sekitar 20 orang. Tapi kalau shalat Idul Fitri, masjid ini ramai sekali, hingga sampai ke jalan.

Image hosted by Photobucket.com
Ukuran masjid tak terlalu besar, terletak di jalan utama Soasiu, cukup untuk dua mobil berpapasan. Seng masih buatan Belanda. Masuk ke kiri terdapat tempat wudhu dan toilet. Masuk ke kanan ada bangunan kecil untuk gudang.

Menarik juga, disini ada tempat khusus untuk Sultan Tidore shalat, terletak sebelah tempat khatib menyampaikan khutbah. Bila Sultan sedang tak ada, tempat itu juga dikosongkan. Kini jabatan sultan dipegang, Jaffar Syah, yang merupakan sultan ke-38.

Image hosted by Photobucket.com
Tiang utama yang keropos terletak di sebelah kanan, dekat mimbar, namun tiga tiang lain kokoh. Gorden warna merah muda untuk tempat khatib memberi khutbah. Sultan sholat di tempat dengan gorden warna kuning. Di bagian atap banyak bersarang "burung hujan" --burung-burung kecil yang suaranya cit-cit-cericit menambah suasana tenang dalam masjid ini.

Perjalanan Ternate-Tidore


Pagi ini naik ojek dari guest house Mitra Karya, belakang Kedaton Ternate, ke pelabuhan Bastiong. Grace Siregar dari World Vision Tobelo, menganjurkan aku menginap di Mitra Karya. Kamarnya bersih. Tempatnya nyaman. Keluarganya ramah. Ini rumah tinggal milik seorang politikus Partai Bulan Bintang. Dari Mitra Karya ke Bastiong hanya 10 menit. Di Bastiong, banyak speed boat dari fiber glass, juga beberapa ferry. Aku pilih naik speed agar cepat sampai.

Kami melewati Pulau Matiara. Tiba di pelabuhan Rum, lihat-lihat ibu-ibu jual nasi jaha. Ini beras campur ketan, dibungkus daun, dimasukkan ke bambu lalu dibakar. Mungkin kalau di Minangkabao, bisa disetarakan dengan lemang pulut bakar.

Rum dulunya ibukota kesultanan Tidore. Namun belakangan dipindah ke Soasiu. Kalau Rum menghadap Pulau Ternate, Soasiu justru sebaliknya, terletak di sisi lain pulau. Entah mengapa dipindahkan ke sisi yang jauh dari Ternate?

Aku naik angkot ke Soasiu dan berhenti depan rumah adat Tidore. Kotanya kecil, sepi, bersih dan rapi sekali. Sayang trotoarnya dibuat naik turun sehingga pejalan kaki kesulitan jalan.

Aku juga lihat Masjid Sultan. Ketika jalan, bertemu dengan seseorang bernama Bambang Muhammad, yang ramah menawari aku jalan-jalan. Bambang mengajak aku jalan dengan sepeda motornya. Kami melihat bangkai gereja Maranatha di Jalan Ahmad Yani.

Ini gereja terbesar di Tidore. Ia dibangun pada awal 1960an ketika Tidore dijadikan ibukota sementara Irian Barat. Saat itu banyak sekali orang berkantor di Tidore. Gubernur Irian Barat adalah Zainal Abidin Syah, yang juga merupakan sultan Tidore ke-35 (1947-1961). Waktu itu, banyak sekali orang datang ke Soasiu untuk bekerja dalam kampanye Irian Barat. Zainal Abidin pun mengganti nama daerah dimana banyak pendatang tinggal dari "Goto" menjadi "Indonesiana." Sesudah Zainal Abidin, Tidore tak mengangkat sultan baru hingga tahun 1999, ketika pada salah puncak ketegangan Ternate-Tidore, diangkatlah Sultan Jaffar Syah sebagai sultan ke-36.

Bambang Muhammad bilang ketika gereja Maranatha dihancurkan pada 3 November 1999, "Malam itu kita tidak kenal orang-orang," kata Bambang. Bekas gereja ditumbuhi rumput tinggi. Tempat salib sudah patah. Tidore kini tak punya satu gereja pun. Malam itu, orang-orang membunuh sembilan orang Kristen serta mengusir semua orang Kristen dari Tidore (800 orang). Namun Bambang bilang bisa diterima untuk bangun "gereja ini lagi."

Menurut Muhammad Amin Faaroek, seorang tetua Tidore, baik orang Kristen maupun orang Islam, sama-sama membangun gereja Maranatha. Faaroek banyak cerita soal sejarah Tidore. Dia juga bicara soal malam dimana semua orang Kristen diusir dari Tidore dan Pendeta Arie G. Risakotta dibunuh. Gara-garanya, ada surat palsu dari Gereja Protestan Maluku soal rencana pengusiran orang-orang Islam dari Pulau Halmahera. "Tandatangannya saya kenal bukan Pendeta Sammy Titaley," kata Faaroek. Namun surat kaleng itu menyebabkan salah paham dan akibatnya fatal.

Kami juga makan masakan Tidore di rumah makan Ratu Sayang. Aduh, enak sekali, makan pakai ikan serta sagu serta ikang. Aku makan sampai tak bisa goyang lagi. Rakus sekali. Orang-orang senang lihat aku menikmati makanan mereka.

Dari Soasiu, aku mencoba menemui komandan Pasukan Jihad Tidore Abu Bakar Wahid al-Banjari. Rumahnya terletak antara Rum dan Soaaiu. Sayang, waktunya tak cukup. Kalau sudah malam, aku harus sewa speed boat sendirian, yang harganya lebih mahal daripada naik bersama orang lain.

Hari sudah gelap, petang hari, ketika tiba di Rum dan naik speed ke Ternate, istirahat di Mitra Karya.

Thursday, November 17, 2005

Gambar Uang Rp 1,000


Coba kau lihat gambar uang Rp 1,000 dan baca caption gambar dua buah gunung disana. Kau akan baca nama Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Kau tahu letaknya bukan? Ia ada di daerah utara Kepulauau Maluku. Ini daerah Ternate dan Tidore. Pada uang Rp 1,000 itu, Pulau Maitara terlihat lebih kecil dan rendah sedang Pulau Tidore lebih tinggi.

Aku coba cari sudut pengambilan gambar itu ketika mengunjungi Ternate November ini. Mulanya aku jepret kamera dari daerah Ngade –ada tiga restoran disini dengan seafood yang lumayan. Tapi hasilnya kurang cocok, Matiara terletak di sebelah kanan Tidore, tak sama dengan gambar uang.

Dua hari kemudian, aku pergi ke kampus Universitas Sultan Khairun di daerah Gambesi, alhasil, aku menemukan angle pengambilan gambar uang Rp 1,000.

Image hosted by Photobucket.com

Gunung di Pulau Tidore itu bernama Kiematubu (1,730 meter). Dalam bahasa Tidore, “kie” artinya “gunung.”

Senang juga menemukan sudut gambar uang itu. Aku sering memakai dan melihat uang Rp 1,000 tapi baru kali ini tahu dimana sudut pengambilan gambarnya. Kau juga begitu bukan? Orang-orang Ternate, bila bertemu pendatang baru, sering bangga mengajak si pendatang melihat sudut ini ... tapi kebanyakan dari Ngade. Tapi sambil makan-makan toh.

Di Pulau Ternate ada Gunung Gamalama (1,721 meter) yang terkenal karena ada pohon-pohon cengkeh berumur 300 tahun. Juga ada kuburan seorang sultan Ternate dekat puncak Gamalama.

Image hosted by Photobucket.com

Tuesday, November 15, 2005

Semuel Waileruny



Semuel Waileruny salah seorang pemimpin Forum Kedaulatan Maluku. Ia ditahan di penjara Waiheru, Pulau Ambon, dengan dakwaan mempersiapkan upacara penaikan bendera Republik Maluku Selatan pada 25 April 2005. Upacara itu tak sampai terlaksana namun ia didakwa merencanakannya.

Aku sempat melakukan wawancara terhadap Waileruny dalam penjara. Butuh waktu dua hari untuk minta izin wawancara. Mulanya, Yany Kubangun dan Sugiyanto, wartawan harian Ambon Ekspres, mengajak aku ke Kejaksaan Tinggi Maluku. Lalu ke Kejaksaan Negeri Ambon. Butuh waktu sehari menunggu kiri dan kanan. Esoknya, harus minta surat dari Pengadilan Negeri Ambon.

Senang juga bisa wawancara one-on-one dengan Waileruny Sabtu lalu. Seninnya, ia disidang di pengadilan negeri. Aku juga sempat meliput sidang ini. Aku juga sempat berkunjung ke rumahnya di Ambon. Rumah sederhana. Keluarga sederhana. Masuk sebuah gang dekat Hotel Mutiara. Anaknya tiga orang, gadis-gadis kecil, isterinya dosen di Universitas Pattimura.

Juga sempat wawancara beberapa orang tahanan pimpinan Ongen Pattimura. Mereka didakwa membunuh dua orang, yang mereka perkirakan orang Kristen, pada karaoke Villa di Hative Besar. Ongen orangnya ceria. Ia ditahan di Waiheru juga.

Liputan Ambon ini unik sekali. Kota yang pecah dengan garis agama. Islam ... Kristen ... Islam ... Kristen ....

Image hosted by Photobucket.com
Penjara Waiheru

Waileruny mulanya pegawai negeri biasa. Ijasahnya sarjana hukum. Ia suka berorganisasi dan sempat masuk Golongan Karya. Ayahnya petani yang pada 1950an ikut membantu tentara dari Jawa memerangi pasukan Republik Maluku Selatan. Ayahnya jadi penunjuk jalan lalu menerima penghargaan dari Presiden Soekarno.

Perang sektarian di Maluku mendorong Waileruny ikut dalam tim pengacara bentukan Gereja Protestan Maluku. Keterlibatan ini membuat Waileruny belajar sejarah Maluku. Ia mempelajari sejarah Republik Maluku Selatan. Ia pun berubah pikiran. Dia berpendapat Dewan Maluku Selatan sah ketika menyatakan kemerdekaan negara mereka pada 25 April 1950.

Alasannya, mereka melihat gejala-gejala Presiden Sukarno hendak sepihak membatalkan Perjanjian Meja Bundar, yang ditandatangani pada 27 Desember 1949 di Den Haag, dimana Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (bukan kepada Republik Indonesia, yang wilayahnya waktu itu hanya Jogjakarta). Mereka memutuskan keluar dari Negara Indonesia Timur, dengan ibukota Makassar, dan mendirikan RMS.

NIT adalah negara bagian Republik Indonesia Serikat dengan wilayah paling luas. NIT meliputi Pulau Bali, Pulau Sulawesi, seluruh kepulauan Maluku dan seluruh kepulauan Sunda Kecil. Secara politik dan militer, NIT adalah negara bagian kedua terkuat sesudah Republik Indonesia dengan ibukota Jogjakarta.

Sukarno terbukti membubarkan federasi Indonesia pada 17 Agustus 1950 dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan wilayah seluruh Indonesia dan ibukota Jakarta. Mula-mula ada beberapa tokoh Maluku, antara lain, J. Leimena dan Sultan Ternate Jabir Sjah, coba berunding. Namun mereka ditolak mendarat di Ambon. Sukarno pun segera mengirim tentara dari Pulau Jawa untuk melawan RMS. Ribuan pasukan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) berada di pihak RMS.

Secara militer, Indonesia mengalahkan RMS, yang lantas membentuk pemerintah di pengasingan di Belanda. RMS terutama didukung 3,578 serdadu KNIL, yang pindah dari Maluku Selatan ke Belanda pada 1951. Jumlahnya sekitar 12,500 bila dihitung dengan anggota keluarga mereka.


Catatan: Ejaan nama Semuel Waileruny sering ditulis dengan versi lain: "Samuel Waileruny" atau "Samuel Weileruny." Versi ini adalah versi yang dikatakannya sesuai dengan keinginannya. Waileruny adalah marga. Ejaan ini dipakai umum dalam marganya.

Monday, November 14, 2005

Hotel di Ambon

Mulanya, aku memilih tinggal di Hotel Ambon Manise, biasa disingkat Amans. Aku kira aku perlu tinggal di daerah perbatasan. Kebetulan, Amans terletak di daerah Mardika dan Batumerah, masing-masing Kristen dan Islam, walau ia terkadang dianggap hotel Muslim. Ini juga rekomendasi seorang kenalan wartawati Ambon.

Ini penting karena Ambon kota yang pecah berdasarkan agama sejak “kerusuhan” Kristen-Islam meledak pada 19 Januari 1999. Aku ingin berada dimana akses mudah kepada kedua kelompok walau aku benci sekali dengan pengelompokan ini.

Amans bintang tiga. Ia terletak di daerah Pasar Mardika. Ada kolam renang. Brosurnya menggambarkan air biru serta pancuran dari patung ikan lumba. Menggoda untuk berenang. Ternyata kolam renang ini sudah bertahun-tahun tak dipakai. Airnya hijau kehitaman.

Harga kamar standar Rp 240,000 semalam. Double bed. Ada bathtub. Air panas mengalir lancar. Pemandangan bisa melihat laut. Aku bisa lihat motor tempel (speed) lalu lalang antara pelabuhan Galala, Benteng dan sebagainya. Juga ferry besar dari Pulau Buru, Kepulauan Kei dan lain-lain.

Masalah timbul dari becak. Amans terletak agak jauh dari daerah perkantoran. Aku harus naik becak ke harian Suara Maluku, Ambon Ekspres, kantor-kantor kejaksaan, pengadilan, gubernur dan sebagainya. Sekali naik Rp 5,000. Sehari aku bisa naik turun becak enam kali. Lumayan jadi Rp 30,000.

Hari kedua, aku meneriwa tawaran seorang tukang becak agar ia menunggu. Aku kasihan. Peluhnya bertetesan. Aku terima tawaran itu. Maka sesiangan ia antar aku ke tempat-tempat aku ada wawancara dan urus izin sana sini. Ia minta Rp 65,000 untuk enam tarikan! Ini pemerasan!

Beberapa sumber juga memilih ketemu di restoran Hotel Mutiara. Ia terletak dekat kantor gubernur dan Gereja Maranatha milik Gereja Prostestan Maluku, organisasi keagamaan terbesar di Maluku selatan.

Aku putuskan pindah hotel. Tapi Hotel Mutiara penuh. Aku cari dekatnya, Hotel Manise, bintang tiga, Rp 250,000 standar semalam (single bed). Manise terletak di Jl. W.R. Supratman.

Alamak! Ternyata tak ada jendela. Seorang room boy bilang hanya kamar deluxe yang pakai jendela. Pengap sekali. Aku juga lihat kecoak di lorong depan kamar.

Amans jauh lebih bersih dan baik daripada Hotel Manise. Akhirnya, aku pindah ke Mutiara begitu ada kamar kosong. Ia cuma bintang dua dan Rp 350,000 semalam. Air panas tak terlalu panas tapi kamar bersih. Single bed. Ada jendela. AC juga tak berisik.

Di Hotel Mutiara, sempat bersua dengan Des Alwi, anak angkat Sutan Syahrir, pemikir Minangkabau terkemuka, ketika ia dibuang pemerintah Belanda di Pulau Banda pada 1936-1942. Des Alwi juga pernah gabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia untuk menjatuhkan Presiden Soekarno pada 1950-1960-an. Des Alwi langganan Hotel Mutiara bila singgah di Ambon. Aku pernah wawancara Des beberapa kali.

Kal Muller dalam buku guide turis Maluku: Indonesian Spice Islands terbitan Periplus juga rekomendasi Hotel Mutiara. Aku setuju dengan Muller. Buku ini terbit 1997, sebelum pertikaian antar agama, meledak dan membuat ambruk Maluku. Namun isinya banyak yang relevan. Buku ini aku pakai untuk petunjuk jalan-jalan di Ambon, Ternate, Tidore, Halmahera pada November ini.

Forum Freedom: Kebebasan Pers


Forum Freedom
Wawancara oleh Hamid Basyaib dari Freedom Institute
disiarkan lewat jaringan radio 68H


Kebebasan Pers bersama Andreas Harsono


Kebebasan pers adalah bagian dari hak asasi manusia. UUD 45 pasal 28 berbunyi: “Setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” Jadi pengertiannya luas sekali. Meski begitu kita juga pernah mengalami penindasan, kecurigaan, dan alasan-alasan lain yang terlalu jelas. Intinya: pers dibungkam. Jadi isunya adalah soal kebebasan pers dan mendapatkan informasi. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebebasan pers dan mendapatkan informasi itu?

Ada sebuah pengertian di dalam ilmu politik yang menyatakan bahwa makin bermutu jurnalisme di dalam suatu masyarakat, makin baik pula informasi yang diperoleh masyarakat yang bersangkutan. Sederhananya begitu. Misalnya ada sebuah kampung. Di sana ada media, entah itu radio kecil atau papan pengumuman yang baik. Ini berarti orang-orang di kampung itu makin mendapatkan informasi yang bermutu, maka makin baik pula untuk mengambil keputusan mereka bersama-sama. Mulai dari soal menangani pencurian sampai kemacetan got.

Jadi di dalam suatu masyarakat, di mana medianya atau komunikasinya makin bermutu, makin baik, maka makin bermutu pula proses pengambilan keputusan di masyarakat bersangkutan. Maka proses untuk mendapatkan informasi yang bermutu itu perlu dilindungi. Perlindungan itulah yang disebut kebebasan pers. Artinya pers atau media harus bebas agar kehidupan masyarakat terlindungi. Di Indonesia memang secara teoretis ada jaminan terhadap kebebasan pers. Namun kalau kita lihat hukum-hukum yang ada, sejak Indonesia dibilang merdeka sampai hari ini, masih banyak hukum-hukum yang tidak menjamin kebebasan pers. Di Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), misalnya, ada 38 pasal yang bertentangan dengan kebebasan pers. Itu kesimpulan Dewan Pers.

Setelah Orde Baru tumbang, banyak orang yang meminta kebebasan pers lebih besar. Tapi para pejabat, misalnya, menganggap pers kita justeru sudah kebablasan. Soal ini memang pernah didiskusikan juga oleh orang media. Saya ingat Jakob Oetama dari Kompas mengakuinya. Dan kebablasan itu memang benar terjadi. Sekarang ini isi media dominan kriminalitas, seks, dan sebagainya. Televisi kita juga penuh acara mistik. Acara-acara aneh yang dianggap kurang bertanggung jawab.

Namun kalau kita mau belajar dari pengalaman negara-negara lain, terutama Eropa Timur, saya kira sebaiknya kita bersabar. Masyarakat akan bisa menilai. Kelak, saya yakin pers yang sensasional itu tidak akan bertahan. Sejarah membuktikan bahwa mereka yang serius dan bertanggung jawab justru yang bertahan. Tapi, juga ilusi untuk berharap bahwa di dalam alam pers yang bebas itu tidak akan ada pers yang tidak bertanggung jawab. Pasti ada. Di negara-negara Eropa Barat pun banyak sekali tabloid sensasional seperti itu. Dan saya tidak mengkhawatirinya. Itu adalah konsekuensi dari pers yang bebas. Pasti ada orang yang kurang bertanggung jawab. Di Pulau Jawa banyak sekali wartawan yang kurang bertanggung jawab. Tapi saya percaya 100 persen bahwa kebebasan ini lebih banyak baiknya daripada buruknya.

Tentang hubungan pers dengan demokrasi, saya punya cerita menarik. Belum lama ini saya ketemu guru saya, Bill Kovach, di London. Dia cerita bagaimana dia ditelepon oleh seorang jenderal Amerika Serikat. Si jenderal cerita tentang penyiksaan oleh tentara atau aparat keamanan Amerika terhadap tahanan di Guantanamo, Kuba. Jenderal itu menelepon Kovach dan bilang, “Saya ingin hal ini diberitakan.” Kovach bilang bahwa banyak sekali jenderal Amerika yang sangat jengkel pada George Bush. Mereka menganggap Bush membajak pemerintahan Amerika.

Ketidaksukaan mereka pada Bush memang dipicu oleh kasus Guantanamo itu. Tapi kita juga tahu ada kasus penjara Abu Ghraib. Jenderal-jenderal itu merasa bahwa Bush membuat citra Amerika merosot, dan militer Amerika yang kena getah. Saya lalu tanya sama Kovach, “Kalau begitu, bagaimana kemungkinan jenderal-jendral itu melakukan kudeta?”

Kovach tertawa dan bilang, “Tidak mungkin.”

Saya tanya lagi, “Kenapa?”

Kovach menjawab, “Kan ada pers…”

Yang membocorkan rahasia-rahasia pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah Amerika kepada pers adalah jenderal Amerika. Jadi itulah salah satu aspek penting dari kebebasan pers: mereka bisa ikut mengontrol dan membantu masyarakat untuk tahu bahwa pemerintah mereka brengsek. Motivasinya untuk kepentingan publik.

Jadi pers itu betul-betul punya peran yang menentukan dalam peningkatan kualitas demokrasi. Demokrasi bukan hanya berarti soal mencoblos di saat pemilihan umum, tapi juga mengembangkan apa yang disebut civil liberties: kebebasan beragama, berpendapat, berserikat, dan seterusnya. Lihatlah, orang seperti diceritakan Bill Kovach itu betul-betul mengandalkan pers, bahkan sebagai pencegah kudeta. Kovach bahkan sering mengatakan bahwa kalau ada satu hal di luar agama yang dia anggap berguna buat kehidupan orang banyak, itu adalah jurnalisme.

Memang, dalam soal mutu, kita masih prihatin. Mutu media di Jakarta ini tak terlalu baik -- bahkan sangat buruk. Untuk ukuran internasional, termasuk Asia Tenggara, media kita di bawah standar. Kelompok Kompas Gramedia, Tempo Jawa Pos, RCTI, SCTV, saya kira standar mereka di bawah standar internasional.

Indikatornya banyak sekali. Banyak konvensi di dalam jurnalisme yang belum dipakai di Jakarta ini. Salah satu hal yang sangat sering saya bicarakan adalah tidak adanya byline (pencantuman nama penulis). Kalau Anda perhatikan surat kabar di Singapura, di Bangkok, di Manila, di Jepang, di Amerika, semua berita di sana umumnya menggunakan byline. Misalnya begini: ada berita gempa bumi di Liwa, Lampung. Di bawah berita itu ada byline oleh Si Badu. Di Kompas dan Tempo byline itu tidak ada. Padahal byline menyangkut soal accountability, pertanggungjawaban. Kalau dia menulis baik, dia akan dipuji. Orang akan menilai prestasi si wartawan. Kalau dia nulis buruk, dia akan ketahuan. “O, Si Badu ternyata bukan wartawan yang baik.” Namun di dalam tradisi jurnalisme kita, itu tidak ada. Sampai hari ini mungkin baru tiga atau empat surat kabar yang menggunakan byline dari 900an surat kabar.

Memang mereka bilang, begitulah cara mereka (tanpa pencantuman nama penulis) untuk mengatakan bahwa apa saja yang muncul di media itu adalah suara media tersebut, bukan suara orang-orang yang kebetulan bekerja di situ. Atau ada yang bilang, “Kita kasih byline kalau tulisannya bagus.” Tentu saja ini cara yang aneh –pencantuman nama penulis dilakukan hanya kalau tulisannya bagus. Maka hanya feature dan analisis yang pakai byline. Tapi kalau berita biasa, tidak pakai. Itu bukan prinsip byline. Prinsip byline diterapkan justru agar yang jelek bisa dikontrol oleh pembaca, audiens. Justru yang jelek yang perlu ketahuan. Yang bagus kurang memerlukannya, karena setiap tulisan yang muncul memang sudah semestinya bagus. Sekarang ini banyak orang yang berlindung di balik redaksi, sehingga prestasi individu wartawan di Jakarta atau di Pulau Jawa ini tidak pernah muncul. Itu karena tidak ada byline. Orang tidak dipacu untuk berprestasi.

Kembali ke isu pokok kita, di masa lalu kebebasan pers dan dan kebebasan mendapatkan informasi itu lebih baik. Menurut Benedict Anderson, seorang profesor dari Universitas Cornell, Amerika, periode pers yang lebih bermutu, dinamis, kritis, dan terbuka di kepulauan ini terjadi di tahun1910-an, zaman Hindia Belanda. Yaitu di masa Tirto Adhisoerjo, Mas Marcodikromo, FDJ Pangemanann, H. Kommer, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, Soewardi Soerjadiningrat dan sebagainya. Mereka jauh liberal, terbuka, dan kreatif daripada pers zaman Indonesia.

Di masa itu tidak ada represi yang seberat zaman Indonesia. Tidak ada media yang dibreidel atau wartawan yang disiksa. Ada denda dan ada yang masuk penjara, tapi semua ada ukurannya, ada aturannya. Sekarang ini ada orang yang dibunuh dan dipenjara tanpa alasan yang jelas, apalagi di masa Orde Baru, sehingga media jadi takut. Pada zaman liberal Hindia Belanda, hal-hal semacam ini tidak ada. Di jaman itu, polemik kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, misalnya, luar biasa bagusnya. Atau, lihat debat Soekarno dengan A. Hasan di Suluh Indonesia (Bandung). Juga tulisan-tulisan Moh. Hatta pada waktu itu. Pendeknya, esai-esai yang bagus, kuat, dan tajam bermunculan di masa lalu dan tidak ada di zaman sekarang.

Memang, sekarang ini kebebasan sangat maju. Namun ada tekanan lain yang muncul, namanya pasar. Dan juga konglomerasi media. Sekarang orang harus efisien. Satu wartawan harus nulis tiga berita sehari. Atau terjadi pemakaian berita secara bersama-sama: satu wartawan beritanya dipakai oleh beberapa atau puluhan surat kabar. Itu tidak baik. Karena persepsi satu orang itu tentu kurang baik dibanding persepsi sepuluh orang. Para pengusaha media itu dulu kan membuat banyak uang. Di Kompas, Tempo, RCTI, dan lain-lain, mereka menghasilkan banyak sekali uang. Jadi mengapa mereka harus berubah jika mereka bisa berbaik-baik dengan penguasa? Maka sekarang bergandenganlah mereka dengan presiden, menteri, jenderal, karena itu membuat mereka aman.

Beberapa media, misalnya Kompas, memang sangat kritis terhadap Presiden Yudhoyono. Tapi sikap kritis itu hanya untuk satu-dua peristiwa, misalnya soal kenaikan harga BBM. Namun secara umum tidak. Yang juga mencolok adalah: media di Jawa, Medan, Makassar, dan lain-lain tidak pernah mau mengkritik sesama media. Ini luar biasa anehnya. Kenapa? Karena salah satu kerja media adalah memantau kekuasaan. Kekuasaan itu bisa pemerintah, pers, tentara, agama, dan sebagainya. Tapi terhadap sesama media, tidak pernah dipantau dengan standar yang sama. Aneh.

Padahal, di negeri-negeri lain – misalnya India atau Amerika Serikat -- praktek semacam itu cukup lazim. Artinya kalau ada koran atau majalah nulis jelek, dia akan dikritik oleh koran lain. Misalnya sekarang ini ada tuduhan bahwa pemimpin Grup Jawa Pos Dahlan Iskan terlibat tindakan korupsi, menggelapkan pajak, dan sebagainya. Namun apakah ada pemberitaan tentang itu di media lain?

Menurut saya, itu adalah solidaritas yang tidak pada tempatnya. Salah. Itu merugikan masyarakat. Jawa Pos itu punya perusahaan banyak. Mulai dari harian Rakyat Aceh di Banda Aceh hingga harian Timor Ekspres di Kupang, sampai Cendrawasih Pos di Jayapura. Dan ternyata CEO jaringan semua surat kabar itu dituduh terlibat tindakan korupsi. Kenapa tidak diberitakan? Mereka dituduh korupsi, bahkan salah seorang di antaranya sudah diperiksa polisi.

Bagi saya, kalau pemilik sebuah koran dianggap melanggar hukum, kasusnya harus diberitakan oleh koran yang bersangkutan. Jadi pemilik koran itu tidak dipandang sebagai pemilik koran, melainkan sebagai warga negara biasa. Beritanya pun berita biasa saja. Bisa diedit oleh orang lain kalau tidak mau dibilang tidak independen. Itu sangat biasa. Saya pernah bekerja di beberapa media internasional. Kalau editor saya salah, mereka selalu bilang, “Anda punya hak untuk melaporkan dan menulis cerita tentang saya di koran ini!”

BBC London pernah membuat kesalahan sehingga seorang narasumber mereka bunuh diri. Itu dilaporkan oleh BBC sendiri. Reporter The New York Times pernah menipu, dan dilaporkan oleh The New York Times sendiri. Koran itu juga pernah keliru dalam soal senjata pemusnah masal di Irak; itu diberitakan oleh NYT dan mereka minta maaf.

Tradisi di media kita, kalau wartawannya sendiri yang meninggal atau kawin, barulah beritanya dimuat. Tapi, menjadikan koran seperti media keluarga semacam itu tidak mengapa. Asalkan, kalau pemiliknya melakukan kejahatan, misalnya korupsi atau melakukan pelecehan seksual, itu harus diberitakan. Mereka toh memberitakan orang lain -- orang selingkuh diberitakan, orang korupsi diberitakan-- tapi dirinya sendiri tidak diberitakan? Padahal, kalau media menempatkan diri sebagai institusi masyarakat, memberitakan diri sendiri itu tidak ada masalah, justru akan membuat kredibilitas koran bersangkutan semakin tinggi.

Ancaman terhadap kebebasan pers juga bisa muncul dari pemilik media itu, misalnya dengan alasan bisnis. Menurut survei National Democratic Institute, hampir 95 persen dari semua informasi soal politik yang diperoleh warga Indonesia –kecuali Maluku dan Papua—didapat dari surat kabar dan televisi yang pemegang sahamnya ada di Jakarta. Jadi sangat terkonsentrasi oleh segelintir orang yang ada di Jakarta. Sekitar sebelas televisi nasional yang ada di Jakarta itu menguasai audiens sekitar 92 persen di seluruh Indonesia. Ini bagi saya sangat mengganggu. Artinya suara, reportase, perspektif, interpretasi berita itu semua ditentukan dari Jakarta. Efeknya adalah suara-suara orang di luar Jakarta tidak pernah muncul di media.

Semua itu bisa disimpulkan bahwa kebebasan pers dan kebebasan mendapatkan informasi tidak termanfaatkan dengan semestinya. Terjadi konsentrasi pemilik modal di Jakarta. Mutu wartawan juga masih masalah besar. Menurut beberapa survei, kebanyakan wartwan di Jawa dan Medan menerima amplop, suap. Saya kira di tempat-tempat lain pun sama. Inilah salah satu sisi terburuk dalam jurnalisme Indonesia, yaitu wartawannya mudah sekali disuap. Mungkin mereka mengatakan gajinya kecil. Tapi saya kira kebanyakan wartawan menerima upah di atas upah minimum. Jadi tidak ada alasan untuk membenarkan suap.

Mutu tulisan mereka juga buruk. Semua orang mengeluhkan hal ini. Goenawan Mohamad mengeluh. Jakob Oetama mengeluh. Semua orang mengeluh bahwa wartawan kita tidak bisa menulis dengan baik. Goenawan mengatakan, ini terjadi karena di Indonesia tidak ada tradisi menulis yang berkembang. Tapi sebenarnya kalau diberi kesempatan, mereka bisa.

Saya pernah mengelola sebuah majalah, namanya Pantau. Kami menerbitkan tulisan-tulisan yang bagus dan menjadi buku. Beberapa orang menganggap buku itu bagus. Maria Hartiningsih dari Kompas mengatakan bahwa itu esai atau laporan terbaik yang dibuat wartawan Indonesia masa kini. Orang-orang yang menulis di sana masih muda-muda. Artinya, kalau mereka diberi kesempatan; kalau medianya mendorong, memberi fasilitas, tempat, tim editor yang bagus, topangan sistem yang bagus, mereka mampu. Saya kira masalahnya adalah sistem kerja --sistem penugasan, kriteria rekrutmen wartawan dan penilaian kinerja mereka-- di Jakarta ini yang cacat, sehingga tidak muncul jurnalisme yang bermutu.

Friday, November 04, 2005

Book: Aceh History Unfinished

The Proud History of a Devastated Land by the Tsunamis
Text: Jean Claude Pomonti
Photos: Voja Miladinovic
Preface: Andreas Harsono
Published by: (c) IRASEC, 2005 (www.irasec.com)

On December 26, 2004, the tsunami swept the coasts of the Indian Ocean and killed some 220,000 people. Over two thirds of the victims were from Aceh. This Indonesian province is by far the most devastated region; entire towns have been completely levelled.

The tragedy led to a flow of generosity that had never been experienced before. The arrival of emergency aid coming from America, Europe, the Middle East and Asia, instantly brought the hitherto little known region in the limelight of world's attention.

The world discovered Aceh; a place where even tourists had been forbidden for years and where the army has been ruthlessly suppressing a separatist guerrilla for the last 25 years. The forgotten conflict killed tens of thousands.

But who are the Acehnese? In the past they offered a fierce resistance against the Dutch and Japanese invasions and today dare standing against the central Indonesian power? Among the rubble left by the disaster, Le Monde's former correspondent in South East Asia, Jean-Claude Pomonti and photographer Voja Miladinovic went back to Aceh one more time. There, they witnessed the consequences of the massive arrival of foreigners.

This book is based on testimonies collected over the last decade. It relates the history of a pious, proud and open-minded Muslims population that has been fighting to preserve its identity and find a place within the Indonesian Republic. The incomplete history.

Thursday, November 03, 2005

Debat Farid Gaban

From: faridgaban@yahoo.com
To: pantau-komunitas@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, October 18, 2005 4:56 PM
Subject: [pantau-komunitas] Re: Confessions of A Freelance Mujahid


Halo Andreas...

Apa komentar Anda sendiri tentang artikel ini? Setuju?

Bukankah Anda punya standar tinggi tentang sumber anonim dan bagaimana wartawan menggunakan sumbernya?Artikel panjang dan serius ini dibangun melalui sumber yang berat sebelah dan setidaknya dua sumber anonim: Lima perwira polisi diwawancara untuk artikel ini. Satu pengamat Sidney Jones, dan dua sumber anonim. Tidak satupun orang yang dituding di situ diwawancara secara langsung.

1. Bali Police Chief, Inspector-General I Made Mangku Pastika
2. Surakarta Police Chief, Sr. Comr. Abdul Madjid
3. Police Commissioner Pulau Rote, Marten Raja
4. Sidney Jones
5. dua sumber anonim

Statement-statement terpenting dalam tulisan itu (termasuk rencana pembunuhan Uli Abshar Abdalla) dikutip dari polisi yang lain: Senior Commissioner Saut Usman Nasution.

salam,
fgaban

From: "Andreas Harsono"
Date: Tue Oct 18, 2005 10:25 pm
Subject: Re: [pantau-komunitas] Re: Confessions of A Freelance Mujahid

Untuk Farid Gaban di Jakarta,

Terima kasih untuk pertanyaannya. Saya tetap percaya bahwa pemakaian sumber anonim harus memenuhi tujuh syarat yang dijabarkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku "Warp Speed" dalam bab "The Rise of Anonymous Sourcing."

Kalau saya mengirim sebuah posting macam laporan Tempo tersebut, dengan isi sumber anonim, bukan berarti saya mendukung isinya. Selama jadi moderator mailing list selama lima tahun ini, rasanya saya meloloskan puluhan kalau tidak ratusan posting, yang ditulis dengan sumber-sumber anonim.

Saya mengirimkannya karena saya nilai ia kemungkinan besar berguna untuk anggota mailing list ini. Seringkali saya mengirimkan posting yang isinya saya tidak setuju. Tapi apalah arti opini saya? Saya lebih suka menyimpan analisis saya untuk saya sendiri atau teman dekat. Saya kurang suka mengeluarkan opini saya --kecuali kalau memang harus menulis esai atau "news analysis."

Bagaimana menilai laporan dengan sumber anonim?

Pegangannya ada tujuh, sebagai berikut:

1. Sumber tersebut berada pada lingkaran pertama "peristiwa berita" yang kita laporkan. Artinya, dia menyaksikan sendiri, atau terlibat langsung, dalam peristiwa tersebut. Dia bisa merupakan pelaku, korban atau saksi mata, tapi dia bukanlah orang yang mendengar dari orang lain. Dia bukan pihak ketiga yang melakukan analisis terhadap peristiwa itu.

2. Keselamatan sumber tersebut terancam bila identitasnya kita buka. Unsur "keselamatan" itu secara masuk akal bisa diterima akal sehat audiens kita.
Artinya, entah nyawanya yang benar-benar terancam atau nyawa anggota keluarga langsungnya yang terancam (anak, istri, suami, orang tua, saudara kandung). Kalau sekedar "hubungan sosial" yang terancam, misalnya pertemanan, maka ia tak termasuk faktor "keselamatan."

3. Motivasi sumber anonim memberikan informasi murni untuk kepentingan publik. Kita harus mengukur apa motivasi si sumber memberikan informasi. Banyak kasus di mana si sumber memberikan informasi dan minta status anonim untuk menghantam lawan atau orang yang tak disukainya. Banyak juga kasus dimana informasi anonim diberikan karena hal itu menguntungkan si sumber tapi ia mau sembunyi tangan.

4. Integritas sumber harus Anda perhatikan. Orang yang sering mengarang cerita atau terbukti pernah berbohong atau pernah menyalahgunakan status sumber anonim, tentu saja, jangan diberi kesempatan jadi sumber anonim Anda lagi.

5. Harus seizin atasan Anda. Pemberian sumber anonim harus dilakukan dengan sepengetahuan dan seizin atasan Anda. Bagaimana pun juga, editor Anda yang harus bertanggungjawab kalau ada gugatan terhadap kinerja jurnalistik kita.

6. Ingat aturan Ben Bradlee. Bradlee adalah redaktur eksekutif harian The Washington Post zaman skandal Watergate. Bradlee pernah mengeluarkan sebuah aturan yang terkenal tentang pemakaian sumber anonim. Dia hanya mau meloloskan sebuah keterangan anonim kalau sumbernya minimal dua pihak yang independen satu dengan yang lain.

7. Bill Kovach sendiri menambahkan satu syarat lagi. Kita harus membuat sangat jelas dengan calon sumber anonim kita bahwa perjanjian keanoniman akan batal dan nama mereka akan kita buka ke hadapan publik, bila kelak terbukti si sumber berbohong atau sengaja menyesatkan kita dengan informasinya.

Saya kira sekian dulu. Terima kasih.

Andreas Harsono

From: "Farid Gaban"
Date: Tue Oct 18, 2005 11:40 pm
Subject: Re: Confessions of A Freelance Mujahid


Dear Andreas,

Maaf, yang saya tanyakan bukan opini Anda tentang isunya sendiri. Tapi, assesment Anda terhadap liputan Tempo ini.

trims
fgaban

From: Farid Gaban
To: pantau-komunitas@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, October 19, 2005 6:36 PM
Subject: [pantau-komunitas] Re: Confessions of A Freelance Mujahid (agar lebih jelas)

Halo Andreas,

Saya menghormati hak Anda untuk tidak beropini. Meski ada pertanyaan serius dalam kaitan opini ini.

Sejak bom meledak kedua kali di Bali, Anda setidaknya mengirim dua posting relevan ke sini.

Pertama, dari The New York Times (Friday, October 7, 2005) "Bali Suicide Bombers Said to Have Belonged to Small Gang"

Kedua, dari Tempo (Oct 18-24, 2005) "Confessions of A Freelance Mujahid"

Ada ratusan, mungkin bahkan ribuan, liputan tentang bom Bali II. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus kenapa Anda memilih dua liputan itu untuk diposting ke sini. Apakah gerangan? Atau saya keliru?

Anda sedang beropini tanpa beropini?

Tapi, oke lah, itu bisa dilupakan...

Kembali ke pertanyaan saya: apa penilaian Anda terhadap liputan Tempo itu (juga The New York Times)? Sesuaikah dengan standar dan prosedur jurnalistik?

Saya memandang pertanyaan ini relevan, sebab dulu, dalam kasus Tempo vs Tomy Winata setahu saya Anda memberi opini tentang liputan Tempo juga.

Bukankah dalam tulisan Tempo yang Anda posting sekarang, problem tak hanya menyangkut sumber anonim, tapi juga pilihan seluruh sumbernya?

Dalam kasus Tomy Winata bahkan Tempo masih mewawancara Tomy dan sumber yang mendukungnya.

Tidakkah liputan Tempo dalam "Confession of A Freelance Mujahid" ini LEBIH BURUK dari dalam "Ada Tomy di Tenabang?"

Membaca judul tulisan itu tadinya saya kira benar-benar ada "pengakuan". Ternyata saya keliru... yang benar "klaim polisi tentang sebuah pengakuan".

Saya tetap menunggu jawaban Anda, jika tak keberatan.

salam,
fgaban

From: "Andreas Harsono"
Date: Fri Oct 21, 2005 11:57 am
Subject: Farid Gaban dan "Andreas Harsono Watcher"


Farid Gaban yang baik,

Terima kasih untuk tiga posting Anda yang terus-menerus menanyai saya soal bagaimana saya menilai laporan Tempo edisi Inggris, "Confessions of A Freelance Mujahid" tentang bom Kuta babak kedua.

Secara bergurau, saya mengatakan kepada beberapa teman, "Well, I have an Andreas Watch now." Farid Gaban bahkan sampai meneliti semua isi posting saya soal bom Bali untuk menanyai saya mengapa dan mengapa? Kini bukan hanya esai atau cerita dengan byline saya yang bisa diamati tapi bahkan posting internet :-)

Begini Farid.

Saya bukan orang yang suka mengeluarkan opini. Saya sering merasa geli kalau membaca komentar-komentar ramai di internet. Saya selalu berpikir soal kemungkinan muncul gugatan bila terlalu cepat beropini. Gugatan bisa muncul lewat naskah di media mainstream namun internet juga bisa jadi awal gugatan. Sudah terlalu banyak wartawan yang reputasinya tercemar gara-gara internet.

Ketika saya mengeluarkan tujuh kriteria sumber anonim dari buku "Warp Speed" untuk menilai naskah Tempo soal Tomy Winata, saya melakukannya dalam sebuah seminar. Ia diadakan oleh Jasa Riset Indonesia pada 12 November 2003 sambil meluncurkan buku "Tomy Winata Dalam Citra Media." Dalam sebuah seminar, tentu saja, kita dituntut untuk melakukan analisis.

Sebuah posting tak berada pada tataran yang sama. Saya mengirim posting dengan asumsi isinya berguna untuk para pelanggan mailing list ini. Saya mengirim posting karangan Raymond Bonner soal Jemaah Islamiyah namun juga soal Brigade Manguni. Saya mengirim paper yang berat macam milik Thomas Hanitzsch namun juga terkadang joke ringan. Ada beberapa posting yang dikirim dengan cepat --bahkan sering saya tak baca seluruh isinya. Namun juga ada yang butuh pemikiran berhari-hari karena file terlalu berat. Saya benar-benar tak suka membebani pelanggan mailing list ini dengan file berat. Ketika mengirim paper Hanitzsch, saya butuh waktu dua minggu lebih, kirim atau tidak, kirim atau tidak ....

Saya memutuskan mengirim karena isinya, soal survei wartawan amplop, kemungkinan besar berguna buat kita semua. Dugaan ini benar ketika ada beberapa peserta yang "digest" --tak menerima attachment-- mengirim email dan minta dikirimi lagi secara pribadi. Penilaian saya bukan hanya pada isinya namun aspek teknik juga.

Posting "Confessions of A Freelance Mujahid" saya kirim lebih karena pada kalimat pertama ada nama Ulil Abshar-Abdalla. Kok ada rencana pembunuhan terhadap Ulil?

"Wah, informasi menarik ini."

Anda tahu bukan bahwa Ulil Abshar-Abdalla adalah orang yang menciptakan nama majalah Pantau? Ulil pula orang yang punya ide bikin majalah khusus memantau media. Kini Ulil lebih kita kenal karena urusan soal "Islam." Kita sering tak tahu bahwa Ulil juga suka pada urusan media dan jurnalisme. Saya kira tak berlebihan bila ada cerita rencana pembunuhan pada pencetus nama majalah, thus juga mailing list ini, saya kirim kepada audiensnya.

Soal "Bali Suicide Bombers Said to Have Belonged to Small Gang" juga menarik karena ia karya Raymond Bonner. Kebetulan awal Agustus lalu, saya bertemu Bonner di London, ketika ia bikin reportase soal pemboman 7 Juli terhadap beberapa bus dan "The Tube" (nama khas London untuk kereta bawah tanah). Bonner praktis berada di Iraq, Afghanistan, Beirut, Bali dan sebagainya sejak bom New York dan Washington. Ia khusus menulis soal bom. Jadi, laporannya menarik perhatian saya.

Saya kenal Bonner sejak 1988 ketika ia menulis soal Indonesia dan korupsi putra-putri plus kroni Presiden Soeharto. Laporan Bonner bahkan jadi inspirasi saya untuk mempelajari majalah The New Yorker. Kalau Anda sempat baca buku "Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat," Anda bisa membaca resensi buku karya saya soal The New Yorker. Intro resensi itu adalah Raymond Bonner.

Banyak pengalaman pribadi saya yang hendak saya share kepada para pelanggan mailing list ini.

Kematian Endon Mahmood, istri Abdullah Badawi, juga menarik perhatian saya karena kebetulan saya merasa kenal Badawi. Saya pernah wawancara Badawi. Saya juga tahu kisah percintaan Endon dan Badawi. Kematian seorang isteri yang punya kisah cinta panjang dengan suaminya, apalagi berjuang melawan kanker, sangat menarik perhatian saya. Saya pernah bertemu Badawi ketika ia sedang berjuang membagi waktu bersama isteri atau mengerjakan pekerjaan pemerintahan Malaysia.

Saya ingin "sharing" apa yang menarik kepada para pelanggan mailing list ini. Mulai dari isu serius macam nasionalisme dan peperangan hingga isu yang lebih serius lagi soal asmara :-)

Saya kira sekian dulu. Sekarang setiap kali mau mengirim posting, saya selalu mengingatkan diri saya bahwa ada "Andreas Watch" yang akan menilainya. Kelak isi mailing list ini mungkin akan lebih banyak kisah
asmaranya :-)

Terima kasih banyak.

Andreas Harsono

From: "Farid Gaban"
Date: Sat Oct 22, 2005 1:17 am
Subject: Re: Farid Gaban dan "Andreas Harsono Watcher"

Andreas, my dear friend

Jangan terganggu untuk mengirim posting yang bermanfaat ke sini. Saya sama sekali tidak keberatan dengan posting-posting Anda, yang manapun, termasuk dua posting yang saya sebut.
(Dan apalah artinya saya sekadar sebagai anggota milis ini, bukan?)

Apa yang saya tanyakan masuk kategori kritik media--suatu hal yang saya kira relevan dengan milis ini. Atau saya keliru?

Pertanyaan saya sederhana kok: apa penilaian Anda berkaitan dengan standar dan prosedur jurnalistik yang dipakai Tempo dalam artikel itu?

Saya kira, sudah saatnya masing-masing kita mengakui ada bias di balik apa yang kita katakan dan kita tulis (atau bahkan kita posting).

Saya punya bias, dan Anda punya bias.

Bias seperti itu sangat jamak. Kita semua datang dari latar-belakang berbeda: etnis, agama, pendidikan, bahan bacaan dan sebagainya.

Bahkan dalam satu etnis atau agama tertentu kita menemukan perbedaan cara melihat. Sekali lagi, ini soal yang jamak; soal yang manusiawi.

Dan justru karena itulah pentingnya ada standar dan prosedur jurnalistik (agar kita tidak terjebak pada relativisme nihilistik).

Justru karena itulah "Sembilan Elemen Jurnalisme" menjadi relevan dibicarakan. Bukankah begitu?

Standar dan prosedur jurnalistik adalah satu platform bagi kita yang datang dari beranekaragam latar-belakang untuk bicara dalam "bahasa yang sama", menyepakati etos yang sama.

Penjelasan Anda panjang lebar ini hanya bisa saya simpulkan dalam jawaban ringkas: "Saya tak mau menjawab pertanyaan Anda."

Well, tidak selalu pertanyaan saya harus dijawab memang.

Trims
fgaban

From: "Farid Gaban"
Date: Sat Oct 22, 2005 6:46 pm
Subject: "Andreas Harsono Watcher" - Tips buat Anggota Milis


Salam,

Saya mengakses milis ini via web. Dan di situ ada fasilitas "search" sederhana. Dengan fasilitas itu kita bisa melacak posting (nomor posting, kapan, siapa penulis dan apa isinya) one click away, tanpa kita harus memelototi setiap posting, tanpa kita harus menjadi "watcher" bagi siapapun.

fgaban