Friday, December 30, 2005

Protes "Indopahit" Lewat Kaos Anarkis


Ketika di Kupang beberapa waktu lalu, saya sering melihat sebuah kaos warna putih atau hitam dengan tulisan “Timor Merdeka” yang dipakai aktivis di sana. Alamak! Timor Barat juga ingin merdeka macam Timor Timur?

Saya beruntung bisa menemui Danny Wetangterah dari Komunitas Akar Rumput, sebuah organisasi seniman plus aktivis, yang membuat kaos itu. Wetangterah seorang anak muda, biasa dipanggil DW, umur 28 tahun, papa asal Pulau Alor dan mama Pulau Sabu. Rambutnya pendek. DW juga pengelola situs web log http://www.timormerdeka.blogspot.com/. Isinya, kebanyakan berupa renungan.

DW menerangkan kaos macam begitu, sebut saja “kaos anarkis,” dibuat untuk menarik perhatian orang. Ia prihatin dengan berbagai kasus di Nusa Tenggara Timur mulai dari busung lapar, korupsi, gempa bumi di Alor hingga pengungsi milisi Timor Leste. Ada puluhan ribu pengungsi tinggal di daerah Bellu dan Kupang.

“Kok pemerintah kurang respons. Kita ingin menyalurkan kita punya ketidakpuasan,” kata DW. Lalu muncul ide bikin kaos “Timor Merdeka” pada pertengahan 2004. “Kawan-kawan sangat takut. Maka kita bikin tambahan ‘Merdeka dari Penindas dan Ketidakadilan Penguasa’.”

Saya tahu bahwa ide “Timor Merdeka,” walau bukan isu besar, memang bergaung di Kupang, Soe, Atambua dan sekitarnya. Intinya, bagaimana kalau Timor Barat merdeka dari Indonesia, sama dengan tetangga mereka di timur, yang lepas dari pendudukan Jakarta pada 2000? Kesulitannya memang luar biasa namun ide itu ada, ketidakpuasan terhadap Indonesia cukup besar.

Roby Lay, rekan DW, cerita bagaimana seorang pemakai kaos ditanyai tentara. “Rupanya dia juga ingin punya,” Lay tertawa.

Image hosted by Photobucket.com
Kaos Timor Merdeka

Pakaian senantiasa punya makna politik, dari kebaya Solo hingga peci Acheh, dari sarung Ende Lio hingga batik Melayu, dari safari ala Jenderal Soeharto hingga jas necis ala Susilo Bambang Yudhoyono, semuanya punya makna politik. Marshall MacLuhan mengatakan “the medium is the message.” Medium itu sendiri adalah pesannya.

Kaos anarkis juga pernah saya lihat di Jakarta. Suatu siang di daerah Pramuka, ada lelaki pakai kaos dengan font besar “PKI” --tapi jauh lebih kecil di bawahnya tertulis, "Pecinta Kaos Indonesia." He he he. Bukan "Partai Komunis Indonesia" yang selama 40 tahun lebih dijadikan hantu dan kambing hitam dalam politik nasional Jawa.

Di London, sebuah kota yang pernah punya dua juta orang berdemonstrasi anti-Perang Irak, saya sering lihat kios menjual T shirt warna putih dengan dua gambar berdampingan. Gambar pertama, President George W. Bush dengan caption "Bad Bush." Gambar kedua, rambut-rambut kelamin muncul dari celana dalam perempuan dengan caption "Good Bush."

Kata "bush" dalam bahasa Inggris artinya "semak-semak." Jadi, ada “semak-semak yang baik” dan “semak-semak yang buruk.” Presiden Bush adalah bush yang buruk. Tapi bush yang baik? Silahkan tafsir sendiri.

Di Papua lain lagi. Saya kira kalau hari ini ada referendum di Papua, mayoritas orang Papua akan memilih lepas dari Indonesia. Mereka kebanyakan menganggap Free Act Choice atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 dilakukan dengan manipulasi pihak Indonesia. Mereka juga kurang puas dengan paket Otonomi Khusus dan pemecahan Papua jadi dua provinsi. Ini mengingatkan mereka pada politik devide et impera zaman Hindia Belanda.

Tujuan Pepera, sesuai mandat dari United Nations, adalah melakukan referendum untuk sekitar sejuta warga Papua: ikut Indonesia atau berdiri sendiri. Namun Indonesia memakai sistem perwakilan dengan 1,025 pemilih saja. United Nations, Amerika Serikat dan masyarakat Barat lain, menutup mata terhadap manipulasi ini.

Maka wajar bila muncul kaos anarkis. Pada Mei 2005, di Jayapura ada demonstrasi. Acara diisi dengan pidato-pidato. Saya senang mendengarkan bahasa Papua. Mereka pakai kata "sa" untuk "saya" atau "kitorang" untuk "kita orang." Lalu banyak kalimat Melayu diakhiri dengan akhiran "kah." Di Papua sendiri ada lebih dari 250 bahasa --sekaligus etnik-- sehingga bahasa nasional mereka tak lain ya Melayu Papua.

Teriakan-teriakan, "Uuuuu uuuuu uuuu ..." terkadang terdengar dalam demonstrasi itu. Teriakan khas orang Papuakah? Juga sorak-sorai, “Merdeka … Papua merdeka.” Mereka pawai dari Abepura menuju Jayapura. Jarak lumayan. Hampir semua peserta demonstrasi orang rambut keriting alias “penduduk asli.”

Seorang perempuan muda Desy, cucu Seth Rumkoren, seorang tokoh nasionalis Papua, membacakan pernyataan di depan anggota-anggota Parlemen Papua. Demonstrasi serupa, menurut beberapa wartawan, diadakan di Jakarta dan Belanda. Semua menuntut koreksi terhadap sejarah resmi bahwa rakyat Papua memilih masuk Indonesia.

Ada peserta memakai kaos warna putih dengan kalimat di punggung, "Jangan bunuh anak-anak Tuhan di negri ini karena itu Tuhan punya hak. Jangan sembunyikan sejarah leluhur kami, karena itu kitorang punya." Ini mengingatkan orang-orang yang membacanya bahwa terjadi banyak pembunuhan orang Papua oleh aparat Indonesia. Amnesty International memperkirakan 100 ribu orang Papua mati akibat pendudukan Indonesia sejak 1969.

Image hosted by Photobucket.com
Kaos Jangan Bunuh Papua

Menariknya, saya sempat bertanya siapa orang yang membuat kaos "Jangan Bunuh" ini?

Tidak ada jawaban pasti namun seseorang menyebut nama seorang dosen Universitas Cenderawasih. Menariknya, nama itu adalah nama Jawa! Saya percaya banyak “pendatang” –sebagai antonim dari “penduduk asli”-- ikut memperjuangkan hak asasi orang Papua. Ini mengingatkan saya pada pendekar-pendekar hak asasi macam Bambang Widjojanto dan George Junus Aditjondro, yang berdarah Jawa, yang pada 1970-an and 1980-an bekerja untuk hak orang Papua di Jayapura.

Ada juga peserta memakai kaos Black Brothers. Ini kelompok band Papua yang melarikan diri ke Papua New Guinea pada 1979. Dari sana mereka pindah ke Belanda dan mendapatkan kewarganegaraan Belanda. Pada 1983 dan 1984, mereka ke Vanuatu untuk membantu Organisasi Papua Merdeka. Belakangan mereka ke Canberra.

Menurut tabloid mingguan Green Left Weekly dari Sidney, Black Brothers menggunakan musik dan lirik mereka untuk memperjuangkan hak-hak orang Papua melawan penindasan Indonesia. Band ini dikatakan sebagai kelompok musik paling penting di kawasan kepulauan Pasifik.

Kaos dan rekaman lagu-lagu Black Brothers tersebar cukup luas di Papua. Saya memotret Joe Maita, satu pemuda Papua dengan kaos Black Brothers. Maita peternak babi di Abepura. Pesan kaos, "Spirit of the Best: Black Brothers."

Maka ia pun cerita dengan bangga soal Black Brothers!

Image hosted by Photobucket.com
Kaos Black Brothers

Di Aceh urusan kaos mungkin tidak begitu menonjol. Di Aceh, orang melawan Jakarta dengan pasang saja gambar bendera Gerakan Acheh Merdeka. Saya pernah lihat anak kecil menggambar bendera Indonesia berdampingan dengan bendera GAM. Saya pernah bergurau dengan beberapa wartawan di Banda Aceh, kalau bikin kaos macam Danny Wetangterah, mungkin pesannya begini: “Aceh Merdeka” tapi ditambahi … “Merdeka dari Tsunami.”

Di Pontianak juga ada pula kaos anarkis. Sapariah, seorang pemudi Madura-Pontianak, menciptakan kaos “Indopahit” --singkatan dari “Indonesia keturunan Majapahit.” Istilah ini pada mulanya gurauan saya saat mempelajari ketidakberesan ide-ide soal kebangsaan Indonesia. Lebih dari itu, bukankah buku pelajaran sekolah tentang "sejarah nasional" sering melakukan klaim bahwa dulu ribuan pulau ini (incorrectly) pernah dipersatukan oleh kerajaan Majapahit dari Trowulan?

“Indopahit, menurutku, itu pilihan kata yang sangat tepat. Indopahit, negara Indonesia yang penuh kepahitan. Itu fakta bukan? Negara penuh ketidakgenahan,” kata Sapariah.

Sapariah punya latar belakang yang klop dengan istilah itu. Banyak orang Madura jadi korban pembunuhan di Kalimantan sejak 1997. Lebih dari 6,500 orang dibantai tanpa negara Indonesia ini melakukan suatu tindakan mencegah serta mengadili para pembunuh.

Menurut Jamie Davidson dalam tesis Ph.D. Violence and Politics in West Kalimantan, Indonesia (Washington University, Seattle: 2002), bungkus tragedi itu adalah kerusuhan anti-Madura. Media mainstream di Pontianak, Palangka Raya, Banjarmasin, Balikpapan dan Samarinda diisi dengan komentar-komentar rasialis tentang orang Madura, seakan-akan untuk memberikan legitimasi bahwa orang Madura ... boleh dipotong kepalanya!

Orang Dayak dan orang Melayu pun berlomba-lomba menjadikan orang Madura sebagai kambing hitam dalam rangka memperkuat posisi etnik masing-masing. Persaingan terbesar di Kalimantan Barat sebenarnya terjadi antara orang Dayak dengan orang Melayu. Pembunuhan terbesar orang Madura terjadi di Sambas pada 1999 (oleh orang Melayu) dan Sampit pada 2001 (oleh orang Dayak).

Negara Indonesia tak banyak menolong. Davidson menjelaskan dengan teliti bagaimana birokrasi Kalimantan Barat, yang didominasi orang Melayu, berpangku tangan ketika orang-orang Madura diburu. Militer kalah jumlah dengan para milisi Melayu dan Dayak. Namun militer pula yang menanamkan akar kekerasan ketika mendorong orang Dayak membunuh lebih dari 3,000 orang Tionghoa pada 1967 dengan alasan mereka terlibat komunisme.

Mirip dengan Pancasila, dasar negara Indopahit, menurut Sapariah, ada lima buah:

1. Hidup KKN
2. Kekerasan is senjata ampuh
3. Anti perbedaan
4. Pelihara kesengsaraan rakyat
5. Pupuk terus diskriminasi, rasialisme cs.

“Lima dasar negara itu terasa mewakili apa yang terjadi sekarang,” kata Sapariah.

Image hosted by Photobucket.com
Kaos Indopahit di Pontianak

9 comments:

mer said...

soal kaos & politik memang menarik dan disini dituturkan dgn menarik pula.
thanks for sharing.

Anonymous said...

Sebuah karya jurnalistik yang memikat. Pendapat saya, mas Andreas sedang beropini. Tapi dengan gaya bertutur menunakan sudut pandang orang ketiga. Kaos hanya menjadi alat hipotesa, untuk pendapatnya mas Andreas tentang nasionalisme. Wah...saya kok jadi berprasangka. he..

Mungkin mas Andreas juga berkenan menjelaskan tentang "opini tanpa beropini" yang dimaksud oleh Farid Gaban.

Bukannya pemulisan opini juga adalah karya jurnalistik. Lalu kenapa kita harus mengunakan mulut orang lain untuk opini kita. Saya pikir tidak baik, jika itu menjadi motivasi dalam meliput. Maaf atas ke-sok-tahu -an saya yang tidak pandai menulis. Semoga Mas Andreas tidak keberatan ???

Andreas Harsono said...

Dengan hormat,

Terima kasih komentarnya soal opini atau bukan opini. Esai ini dimuat oleh beberapa media, antara lain, majalah Gatra di Jakarta dan harian Flores Pos di Ende, dalam rubrik opini.

Saya memang beropini. Apakah menggunakan mulut orang lain?

Disinilah masalahnya. Di Indopahit ini, kebanyakan penulis opini, hanya menulis tanpa bikin reportase. Istilah rekan Agus Sopian dari Pantau, mereka ini "reporter dari lamunan."

Coba Anda baca Thomas Friedman atau Maureeen Dowd. Ratusan bila tidak ribuan kolumnis di Eropa dan Amerika, bila menulis kolom ya bikin reportase, wawancara dan riset.

Saya senantiasa bikin reportase bila menulis kolom. Dulu selama hampir delapan tahun, saya mengisi kolom harian The Nation di Bangkok, dan belakangan The Star di Kuala Lumpur. Kolom-kolom itu dikerjakan dengan reportase. Inilah salah satu kolom saya. Terima kasih.

Anonymous said...

Indonesia mempunyai bermacam-macam kebudayaan dan tentu saja kemauan setiap budaya pasti berbeda-beda. menurut bang andreas apakah indonesia tidak bisa menjadi negara kesatuan?
Tidak berartikah Bhineka Tunggal Ika?
Apakah tidak ada ikatan emosional lagi antara suku-suku bangsa di indonesia menjadi "one nation" under Pancasila?

Saya setuju kesalahan pemerintah adalah tidak merata pembangunan untuk masyarakat indonesia bagian timur. Mereka seperti dianak tirikan selama ini.

Andreas Harsono said...

Menurut Prof. Benedict Anderson dari Universitas Cornell, seorang ahli nasionalisme yang bisa beberapa bahasa di Indonesia, tidak ada negara besar di dunia ini yang warganya punya background bermacam ragam, yang berbentuk negara kesatuan kecuali Indonesia.

Entah itu negara-negara di Eropa macam United Kingdom (Kerajaan Inggris) atau Jerman. Atau di Amerika, mulai dari Kanada, Amerika Serikat hingga Argentina dan Brazil. Atau di Asia, misalnya India, Malaysia atau Filipina. Di Afrika juga ada Afrika Selatan, Nigeria, Sudan dan sebagainya.

Well, sebenarnya di Asia ada dua negara "kesatuan" yaitu Tiongkok dan Indonesia. Tiongkok adalah negara kuno, umurnya mungkin 4,000 tahun lebih, sedang Indonesia tak sampai 100 tahun.

Beberapa anggota BPUPKI pada pertemuan Juni 1945, macam Moh. Hatta, J. Latuharhary serta Sam Ratu Langie, usul agar negara Indonesia ini dijadikan "negara federal" mengingat keragamannya. Mereka percaya tak banyak pemimpin di negeri ini yang punya imajinasi cukup buat mengatur manajemen negeri begini luas dan beragam.

Sayang, ide federalisme ini sering diidentikan dengan Letnan Jenderal Hubertus van Mook dari Belanda.

Saya kira negara federal adalah sebuah option yang menarik. Ia membuat kita lebih bisa bersatu sekali pun kita punya banyak keragaman.

Soal slogan "Bhineka Tunggal Ika" seharusnya jadi semboyan yang hidup. Tapi kenyataannya ia cuma slogan kosong bukan? Orang pada ribut menerapkan kemauan dan "mindset" mereka sendiri-sendiri.

Menurut Pramoedya Ananta Toer, yang mempersatukan Indonesia ini adalah "bahasa Indonesia" --lebih tepat disebut bahasa Melayu. Saya kira Pram benar tapi sayangnya bahasa ini mengalami birokratisasi luar biasa sehingga ia makin kurang disenangi warga negeri ini.

Kalyana Shira Film said...

Sayangnya, perbedaan tidak penah mudah disikapi Mas Andreas.

Perbedaan kepercayaan, perbedaan kepentingan, perbedaan status sosial, perbedaan tingkat pendidikan, perbedaan kerangka pengalaman, perbedaan paham antara jurnalis politik dengan wartawan infotainment, perbedaan antara orang-orang yang menyukai kegiatan kampaye diisi dengan konvoi di jalan dengan segelintir orang yang lebih memahami platform partai...

Dan Sampit berdarah, Aceh menangis. Papua mengaduh, bom meledak di Bali.

Satu-satunya cara, ialah dengan memaafkan. Memaafkan diri sendiri karena berbeda. Dan memaafkan orang lain yang berbeda. Meski sakit.

http://lrth-movie.blogspot.com/

Ini wartawan poenja blog. said...

Keragaman, perbedaan bukannya tidak bisa hidup bersama-sama. Bisa. Hanya saja, virus-virus seperti diskriminasi, rasialisme yang secara tidak sadar dipelihara dan berkembang, tumbuh subur di masyarakat menjadi kanker yang swaktu-waktu tanpa disadari sudah sampai stadium 4, menunggu kematian menjemput. Begitu juga negara, negeri nan cantik dan indah Indonesia yang pahit ini, jika pemerintah atau negara hanya melihat ketidakadilan bahkan melegalkan dengan kebijakan dan membiarkan yang jahat bahkan negara yang jahat kepada rakyatnya....akankah slogan-slogan Bhineka Tunggal Ika itu ada dan menjadi nyata?

Bagi yang tidak merasakan betapa kejahatan---seperti rasialisme--yang ada di Dasar Negara Indopahit-- mungkin masih coba berargumen tentang bla..bla Negara Indonesia yang loh jinawi, nasionalisme, persatuan kesatuan bla..bla...Negara yang tampak indah di atas slogan dan semboyan saja.

Tapi bagi masyarakat yang merasakan seperti saya, sangat, sangat menyakitkan.

Meskipun kesejukan hati dan kepala menjadi satu obat mengurangi rasa sakit. Memaafkan dan mencoba sabar sebagai pelipur lara...tapi memori di kepala ini begitu sesak, mau muntah dengan semua kegilaan. Kegilaan sesama manusia dan kegilaan negara ini.

Salam

Sapariah

aptharsia.theist said...

bang andreas posting anda yang ini saya copy-paste ke notes di facebook saya, tentu saja dengan mencantumkan nama anda. tujuan saya adalah agar bisa dibaca beberapa kawan saya yang masih suka bersikap rasial agar lebih mengerti lebih jauh duduk peroalannya. Kalau tidak berkenan tolong segera beritahu saya di firhat.nawfan.h@gmail.com agar bisa saya segera delete. terima kasih.

Andreas Harsono said...

Komentar dari Marto Art:

Andreas,

Aku googling nama agus sopian, kemudian “terjebak” membaca blogmu. Kata terjebak aku pakai karena blogmu membuat betah untuk berlama-lama membacanya, sampai ketemu tulisan tentang Kaos Anarkhis. Kemudian ingin ikut berkomentar, tetapi susah banget masuknya, makanya aku kirim saja ke kamu langsung, siapa tahu bisa kamu masukkan sendiri J (Setelah kirim email ini, aku akan meneruskan mencari kabar kematian teman kita itu). Berikut ini komentar yang hendak aku masukkan di sana:

Kaos yang Anda temui di Rawamangun itu tepatnya bertulis PaKaI, akronim dari Partai Kaos Indonesia. Dengan olah visual sedemikian rupa, orang akan membacanya dengan PKI. Pesan pada kaos itu untuk menyikapi bertumbuhnya banyak partai pada saat itu.

Saat meluncurkan desain edisi PaKaI, Poli-T-Shirt - produsen kaos tersebut, mengalami kerepotan. Pihak kepolisian hampir menggagalkan acara karena alasan meresahkan. Biasalah, polisi…

Namun pada saat kaos tersebut dipajang di Pekan Raya Jakarta, polisi menggerebeg stan Poli-T-Shirt dan menahan seorang penjaga stan. Agung, penjaga stan sekaligus kartunis asal semarang itu dipaksa menginap semalam di kantor polisi setempat.

Saya sebagai perancang grafis kaos tersebut, dan Tri Agus Susanto Siswowiharjo (Tass) sebagai produsen, menjadi buron. Tak lama kasus ditutup.

Untuk Black Brothers, hasil wawancara saya dengan Andy Ayamiseba dimuat di Majalah Sampari, dan saya repost di sini:
http://martoart.multiply.com/journal/item/34/Tribute_To_The_Black_Brothers

Silakan berkunjung dan membacanya.