Wednesday, December 07, 2005

Pantau Banda Aceh

Kami butuh bantuan Anda ikut meningkatkan standar jurnalisme di Aceh dengan mengisi kantor baru Yayasan Pantau disana. Ia sekarang baru berupa sebuah rumah toko, ukuran 3x15 meter persegi, tiga lantai, disewa Rp 30 juta setahun. Namun ia masih kosong.

Letaknya, Jl. Ratu Safiatuddin 5, sebelah markas Komando Daerah Militer Aceh di Banda Aceh. Lokasi strategis. Pemandangan dari dalam ciamik. Ia hanya 75 meter dari tugu Simpang Lima. Juga dekat dengan toko-toko, masjid Baiturrahman dan Rex --tempat makan Banda Aceh yang asyik.

Mengapa buka kantor? Pantau sejak lama punya minat pada Aceh. Chik Rini dari Banda Aceh, sejak empat tahun lalu menulis laporan-laporan menarik dari seluruh Aceh untuk majalah Pantau. Alfian Hamzah, wartawan Bugis, pernah mengikuti satu batallion tentara dari Kediri yang bekerja di Aceh.

Kini kami ingin lebih dekat meliput Aceh dengan melibatkan beberapa wartawan sekaligus: Chik Rini, Linda Christanty, MMI Ahyani dan sebagainya. Kami hendak bikin laporan-laporan soal Aceh pasca-tsunami. Nantinya, laporan-laporan ini akan ditawarkan ke suratkabar atau majalah lain. Semacam sindikasi begitu.

Ada organisasi internasional, Open Society Foundation dan Tifa Foundation, membantu Pantau bikin kantor ini guna memantau pemakaian dana tsunami di seluruh Aceh dan Nias. Dana tsunami ini besar sekali, sekitar Rp 4.45 triliun pada 2005. Ia masih akan bertambah jadi sekitar Rp 36 triliun hingga 2008.

Kami ingin mengajak lebih banyak media terlibat dalam pemantauan tsunami dan perdamaian Indonesia dan Acheh.

Namun bantuan itu belum cukup buat mengisi kantor. Harga sewa bangunan di Aceh naik pesat. Sekitar 400 organisasi bekerja di Aceh dan Nias. Inflasi hingga September lalu 23 persen (menurut World Bank). Harga barang-barang naik. Kami perlu uang untuk pasang AC, kabel, saluran air dan sebagainya.

Ada juga International Center for Journalists, Washington, hendak membantu memperbaiki kamar mandi kantor ini. Bagaimana pun gedung ini bekas dihantam tsunami. Banyak bagian yang rusak, antara lain, kamar mandi. Pantau bekerja dengan ICFJ membantu beberapa kegiatan media di Aceh termasuk harian Serambi Indonesia dan mingguan Modus.

Kami mengetuk kemurahan hati Anda untuk membantu Rini dan Linda mengisi kantor itu. Kami butuh barang bekas -dari meja kerja hingga kursi, dari peralatan dapur hingga kasur.

Lantai satu bakal jadi warung kopi dan perpustakaan kecil. Lantai dua bakal jadi kantor Linda dan Rini. Ada internet, ada beberapa komputer, juga tempat makan dan santai. Lantai tiga bakal jadi living quarter untuk berhemat.

Kami juga akan menugaskan wartawan meliput dari Lhokseumawe, Takengon, Bireun, Tapaktuan, Meulaboh, Calang, Lamno, Sabang, dan sebagainya.

Rini dan Murizal Hamzah, wartawan Sinar Harapan, juga ingin tempat ini jadi lokasi wartawan kumpul sejak warung kopi Simpang Lima tutup kena gusur dua bulan lalu. Rini punya ide buka warung depan kantor Pantau.

Saya sertakan daftar barang yang kami perlukan. Barang bekas tak apa. Kalau Anda bersedia mengirimnya ke Aceh, kami senang sekali, bila tidak bisa, kami akan ambil barang itu dari rumah atau kantor Anda. Kami akan kirim sama-sama ke Aceh dengan ekspedisi: Yayasan Pantau, Jl. Ratu Safiatuddin No. 5, Banda Aceh (telepon 0651-24744).

Image hosted by Photobucket.com
Bangunan ini terletak di Jl. Ratu Safiatuddin No. 5 (kedua dari kiri). Chik Rini mendapatkan kantor ini setelah survei dua bulan. MMI Ahyani dari Bandung, seorang moderator mailing list pantau-komunitas@yahoogroups.com, membantu dengan second opinion dan memasang sambungan telepon. Rini bicara dengan Sven Hansen (pakai ransel) dari die Tageszeitung ketika Sven menengok kantor ini.

Image hosted by Photobucket.com
Linda Christanty (kaos hitam) dan Chik Rini (duduk) bergaya ketika lagi mengepel kantor baru secara besar-besaran Selasa 6 Desember. Ibu dan adik Chik Rini membantu membersihkan kantor ini. Saya ikut mengepel dengan pakai air banyak. Rini menjuluki saya, "Andreas Pelayan Sexy."

Image hosted by Photobucket.com
Dari lantai dua memandang ke jalan. Kami suka sekali pemandangan dari dalam kantor. Kami bisa jalan kaki menuju berbagai kantor pemerintah, masjid Baiturrahman, tempat makan Rex yang nyaman dan daerah perdagangan Pinayung.

6 comments:

Anonymous said...

mas, main ke batam dong...disini perlu diskusi juga ttg jurnalis

Anonymous said...

Salut untuk idenya membuka kantor di Banda Aceh. Sayang aku tak bisa membantu, tapi ntar tak coba tawarin ke temen2 wartawan di daerahku. Mudah-mudahan mereka bisa bantu.

Btw, Linda Christanty tuh istrinya Budi Setiyono ya ?

Coen Husain Pontoh said...

Seneng bener bisa liat kawan lama. Linda tetap kurus dan Rini tetap gemuk, hehehehe. Kionghi, kionghi, semoga bisa ketemu badan di lain hari

Coen

mike said...

Salam untuk Mba Linda....

Sahrudin said...

Chik Rini. Saya membayangkan orangnya kurus, berambut pendek seleher, bermimik serius. Ternyata bayangan saya tak ada yang benar.
Saya menyimpan Pantau Edisi Desember 2002. Ada "Antara Mamak, Amru, dan Bekas Kesatuannya: Penyerangan pasukan Lintas Udara 100 terhadap kantor polisi Binjai" oleh Chik Rini. "Inspektur Dua Tito Yudha Dharma", perwira yang tewas di dalam truk Brimob, adalah sahabat saya di SMU 1 Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (1994-1997). Saya ralat sedikit meski terlambat: nama ayah alm. Tito bukan Riswandi, melainkan Riswardi Ridwan. Jabatan waktu itu: Kepala Perbekalan dan Angkutan (Bekang), bukan perlengkapan. Ibunda Tito, Tri Hidayati.
Terima kasih, Chik Rini.
Salam kenal,

Sahrudin, Samarinda, Kalimantan Timur

kebenaran said...

jamu psikologi kunjungi : www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit