Tuesday, December 13, 2005

Yayasan Pantau dan Timika


Ini cerita kecil lagi tentang kegiatan Yayasan Pantau. Sejak November lalu, kami melakukan program pendampingan untuk harian Radar Timika dan membuat beberapa diskusi kecil tentang jurnalisme, iklan dan penulisan di Hotel Sheraton Timika. Diskusi-diskusi ini terbuka untuk diikuti wartawan, guru, pekerja sosial maupun karyawan PT Freeport Indonesia --perusahaan tambang raksasa yang mempengaruhi hampir 100 persen ekonomi Timika.

Agus Sopian, wakil ketua Yayasan Pantau, menjadi redaktur tamu Radar Timika selama tiga minggu. Ia tinggal di Hotel Serayu, di daerah downtown Timika, bekerja bersama redaksi Radar Timika dan mencoba membantu mengembangkan suratkabar tersebut. Ia memperkenalkan konsep byline, feature, firewall dan sebagainya. Ia membantu editing. Ia sering tinggal di kantor hingga Radar Timika naik cetak pukul 03:00. Ini artinya pukul 01:00 di Jawa.

Image hosted by Photobucket.com
Agus Sopian depan golf course Kuala Kencana

Mereka menunggu kiriman berita dari Jawa Pos News Network dari Surabaya atau Jakarta yang terletak di Pulau Jawa. Artinya, kedatangan berita dua jam lebih lambat dari time zone Papua.

Sopian juga mengajak RTS Masli (mantan ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), Murizal Hamzah (wartawan Aceh), Budi Setiyono (sekretaris Yayasan Pantau) dan saya untuk bicara dalam diskusi-diskusi tersebut selama tiga akhir pekan.

Eva Danayanti membantu pengaturan acara. Eva cukup sibuk belakangan ini. Dari Timika ia hanya mampir Jakarta sebentar untuk terbang ke Banda Aceh, membantu pendirian kantor Pantau di Banda Aceh.

Acaranya bagus-bagus. Dalam laporan evaluasi peserta, para peserta mengatakan mereka mendapat manfaat dari acara-acara kami. Baik dengan Murizal (liputan pertikaian), Masli (periklanan), Sopian dan saya. Murizal dan Budi juga membantu seminggu-seminggu di Radar Timika. Murizal sempat melihat Grasberg, lokasi pertambangan Freeport, namun Budi sempat sakit demam.

Kami mencoba membantu semua rekan kami yang harus meninggalkan homebase mereka agar merasa nyaman bekerja di tempat jauh. Sopian punya anak dan isteri di Bandung. Budi dan Murizal memang tak punya istri, cuma tinggal seminggu.

Sopian, seorang wartawan yang kepribadiannya menyenangkan. Ia suka bergurau, suka memancing dan ada-ada saja kegiatan uniknya. Saya kira salah satu kunci program ini adalah kemampuan dan kemauan Sopian memahami orang lain. Ia mau mendengar. Ia juga rajin menulis kolom dan feature untuk Radar Timika. Sopian usul program ini dikembangkan lagi dengan beberapa kegiatan lain tahun depan.

Timika sendiri penduduknya sekitar 50,000. Ini murni kota tambang. Sekitar 20 menit naik mobil, Anda bisa mengunjungi Kuala Kencana, kota Freeport, dengan penduduk sekitar 3,000 orang. Ia mirip Singapura. Sangat teratur, sangat bersih dan sangat kaya. Cuma ukurannya sebuah distrik saja.

Ada dua harian disini. Radar Timika anak perusahan Kelompok Jawa Pos. Timika Pos milik dua orang pengusaha Timika, Vinsentius Hendra dan Frits Bogar. Belakangan Timika Pos lagi berantem.

Bogar dan wartawan disana sepakat memecat Julius Lopo, pemimpin redaksi Timika Pos. Lopo mantan wartawan Pos Kupang. Ia memimpin Timika Pos sejak didirikan Jaringan Pers Daerah dari Kelompok Kompas Gramedia pada 2000. Namun KKG menjual Timika Pos kepada Bogar dan Hendra pada Juni 2003. Mungkin pertikaian ini yang membuat Pantau tak bisa ikut masuk kesana. Namanya juga lagi berantem!

Octovianus Danunan, pemimpin umum Radar Timika, mengatakan kedatangan Pantau ke suratkabarnya membawa "reformasi pemikiran" di sana. Radar mulai memakai firewall dan byline. Danunan juga mendorong wartawannya menulis feature serta mendorong tenaga pemasaran membuat iklan baris. Mereka akan menciptakan kolom op-ed dan surat pembaca bulan depan.

Image hosted by Photobucket.com
Octovianus Danunan dan mesin cetak Radar Timika

Kedatangan RTS Masli juga menambah semangat berbisnis suratkabar di Timika. Masli pembicara yang baik. Ia membawa macam-macam gambar iklan, angka-angka serta video. Masli mengatakan ia senang berada di Timika. Ia juga tertarik untuk ikut program lanjutan Pantau di Timika.

Hotel Sheraton Timika sendiri juga mengagumkan. Ia dibangun dengan dikelilingi hutan. Pohon-pohon dibiarkan tak ditebang. Saya juga terkagum-kagum dengan berbagai ukiran kayu raksasa dari para seniman Kamoro. Tingginya ada yang tiga meter, dibuat dari sebuah kayu utuh. Sheraton Timika adalah hotel bintang lima milik PT Freeport Indonesia.

Image hosted by Photobucket.com
Kolam renang Hotel Sheraton Timika dengan patung Kamoro

Perusahaan tambang ini juga jadi sponsor program Pantau. Santi Sari Esayanti dan Diana Yultiara dari Freeport kantor Jakarta bersama rekan-rekan mereka lainnya ikut sibuk mengurus acara ini. Ans Gregory da Iry, kepala urusan komunikasi Freeport di Timika, mengajak kami makan siang.

Da Iry juga sempat jadi moderator sebuah sesi yang saya bicara. Ia sebuah acara bedah buku "Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat." Saya suka bicara soal buku ini. Saya dan Budi menyuntingnya bersama-sama. Ini sudah ketiga kalinya saya bicara soal buku ini --sesudah Ambon dan Jakarta. Perlahan-lahan ternyata buku kecil ini mulai mempengaruhi orang.

Murizal Hamzah mengatakan ia merasa beruntung bisa ikut acara begini. Ia belajar banyak soal Aceh dengan melihat Papua. Saya kira Murizal benar. Kita sering bisa belajar lebih banyak tentang diri kita dengan bercermin pada orang lain.

Image hosted by Photobucket.com
Para peserta workshop reporting and writing makan siang di hotel

4 comments:

Anonymous said...

Bang Andreas yth,
Saya seorang wartawan pemula. Saya sering mendengar istilah pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Apa yang dimaksud dengan pertanyaan terbuka dan tertutup. Tolong berikan contohnya sekalian.

Lalu, kalau kita mengkonfirmasi sebuah masalah ke narasumber, ada yang menjawab, ''Udahlah, masalah ini nggak usah ditulis,'' lalu dia nggak mau komentar lagi. Bagaimana kita menyikapinya? Apa jawaban dia itu bisa ditulis sebagai bentuk kofirmasi?

Terima kasih banyak atas jawabannya.
-salam-

Andreas Harsono said...

Saya kira pertanyaan-pertanyaan menarik. Pertama, soal pertanyaan tertutup dan terbuka.

Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang jawabannya bisa dijawab "ya" atau "tidak."

Misalnya, "Apakah Bapak terlibat dalam korupsi?"

Si pejabat teoritis bisa menjawab si wartawan dengan "ya" atau "tidak."

Kalau ia pandai, mudah sekali si pejabat mencounter pertanyaan tertutup, misalnya dengan balik bertanya, "Mengapa kau curiga aku korupsi?"

Ini bakal membuat si wartawan menjawab. Maka posisi penanya dan sumber jadi terbalik.

Pertanyaan terbuka sebaliknya menuntut jawaban terbuka. Ia biasanya dimulai dengan kata tanya "what, where, why, who, when atau how (5W 1H)."

Saya belajar ini semua dari David Candow, seorang media trainer dari Canadian Broadcasting Corporation. Ia usul wartawan sebaiknya bertanya
terbuka. Pertanyaan tertutup dilakukan hanya kalau wawancara sudah jalan lama dan kita memang ingin mendapatkan jawaban definitif: "ya" atau "tidak."

Bila tak dilakukan dengan hati-hati, pertanyaan tertutup memang sering menghasilkan jawaban yang kurang memuaskan.

Saya ambil dua contoh wawancara acara "Menuju Layar Liputan 6" oleh SCTV pada 3 Oktober 2004. Saya merekam acara ini serta membuat transkripnya bersama Esti Wahyuni dari Yayasan Pantau.

Anda lihat wawancara antara Dora Multa Sari, seorang peserta SCTV, dengan Ulfa Dwiyanti, seorang pelawak dan penghibur. Dora bertanya tertutup dan dibalik oleh Ulfa. Coba Anda perhatikan deh.

DORA: Mbak Ulfa, saat banyak sekali talent show-talent show yang melahirkan bintang-bintang baru dalam waktu singkat, seperti mereka di karantina dalam waktu dua bulan, tiga bulan, kira-kira mereka menjadi bintang yang memiliki banyak sekali pengemar. Bagaimana Anda melihat talent show-talent show seperti ini?

ULFA: Maksudnya talent instant gitu roger?

DORA: Talent show Mbak.

ULFA: Kalau menurut saya itu masalah faktor. Faktor keberuntungan, beruntung
bisa masuk dalam waktu singkat. Seperti kamu misalnya. Gitu lho.

DORA: Tapi Mbak Ulfa, apakah menurut Mbak Ulfa mereka itu sudah cukup siap atau bagaimana?

ULFA: Itu yang saya khawatirin. Apakah kalau kamu menang apakah cukup siap di lapangan?

Ulfa Dwiyanti berhasil memojokkan si penanya.

Contoh kedua terjadi antara Wahyu Rahmawati dari SCTV dengan Eep Saefulloh Fatah, seorang komentator isu politik. Anda perhatikan bagaimana Wahyu
menanyakan sesuatu secara tertutup dan pertanyaan tertutup itu dipertanyakan oleh Eep. Isunya soal spekulasi nama-nama calon menteri kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono:

WAHYU: Maksudnya, seberapa kredibelkah orang-orang yang dicantumkan di televisi dalam kabinet nanti?

EEP: Sebetulnya belum ada satu pun konfirmasi dari SBY-Kalla tentang
nama-nama yang beredar. Jadi saya kira, kita tidak bisa menilai seberapa kredibel mereka sebelum ada konfirmasi.

WAHYU: Tapi mengapa nama-nama itu harus dimunculkan. Apakah ini testing the weather dari SBY atau Anda optimis terhadap testing the weather dari SBY?

EEP: Sebetulnya ada kebutuhan memang untuk memunculkan nama sebelum pelantikan 20 Oktober dikarenakan masyarakat perlu tahu siapa yang akan menjadi pejabat publik. Tapi persoalannya, nama-nama yang muncul sekarang ini adalah nama-nama yang sebetulnya beredar begitu saja, tanpa ada
konfirmasi. Itu yang jadi persoalan.

WAHYU: Kok bisa tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, kenapa harus memunculkan?

EEP: Siapa yang memunculkan?

WAHYU: Kata Pak Eep tadi bahwa tidak ada konfirmasi terhadap pemunculan nama-nama tersebut.

EEP: Sampai sekarang SBY dan Kalla belum mengkonfirmasikan satu pun nama.

WAHYU: Dan siapakah yang memunculkan adanya nama-nama di televisi tersebut?

EEP: Media massa.

Soal bagaimana dengan nara sumber yang menolak menjawab bahkan minta suatu isu tak ditulis. Saya kira anggap saja ia memilih "no comment."

Kita sudah berusaha bertanya dengan sopan. Namun ia menolak. Secara prosedur sudah benar. Ia juga tak punya hak melarang kita menulis.

Kalau saya berada pada posisi begini, biasanya saya coba menawar, bagaimana bila wawancara tetap diadakan, namun mana yang dipakai dan mana yang tidak,
ditentukan saat wawancara sudah berjalan. Jadi ia tak semata-mata menolak wawancara. Ini teknik memancing orang bicara saja.

Saya memang sering jengkel berhadapan dengan sumber yang menolak bicara. Saya juga sering mewawancarai wartawan. Jangan kira wartawan suka bicara! Banyak dari mereka, ketika ditanyai, misalnya sengketa dalam tubuh organisasi mereka, justru memilih "no comment."

"Jangan ditulis deh. Kami masih sedang menyelesaikannya."

"Kami tak bisa memberi komentar. Bapak sebaiknya bicara dengan yang
berwenang."

Caranya, ya kita harus menghargai mereka. Tapi bisa dicoba dengan menawar.

Saya kira ini dulu. Saya kita menarik bila isu-isu jurnalistik ini dibahas lebih jauh. Terima kasih.

Folke Ryden said...

Dear Andreas,

We met in 1996. I work for Swedish Television. I would like to get in thouch again.
my e-mail: info@frp.se

ets Regards,

Folke Ryden

Andreas Harsono said...

Dear Folke,

I am really sorry. I did not read your message till now ... 10 years later. I will email you.