Tuesday, November 25, 2008

Mendengar, Meliput dan Mencatat


Toto Santiko Budi dari Jiwa Foto Agency berbaik hati mengambil gambar saya ketika lagi meliput sidang pengadilan Jenderal Muchdi Purwopranjono di pengadilan negeri Jakarta Selatan. Saya senang melihat hasil jepretan ini.

Komentar saya, "Oh gini toh posisi aku kalo lagi ngeliput."

"Aku gendut banget. Udah pendek, gendut lagi!"

Saya agak capek berdiri. Saya duduk sambil mendengarkan keterangan saksi Suciwati, seorang aktivis hak asasi manusia, lewat pengeras suara. Banyak wartawan lain juga duduk mengelilingi pengeras suara.

Toto seorang fotografer muda yang penting untuk dicatat. Karya-karyanya pernah diterbitkan majalah Time, Stern dan DestinAsian serta harian The Australian dan Jakarta Globe serta Bloomberg News. Kini dia lagi ikut sanggar kerja Panna Institute of Photography dan World Press Photo Foundation. Ini salah satu lembaga pendidikan foto jurnalisme yang terbaik di Jakarta.

Saya sendiri sebenarnya lagi menunggu sidang pengadilan kasus pengasuhan anak saya, Norman Harsono, setiap Selasa atau Kamis, dua minggu sekali. Sidang ini sudah jalan sejak Januari dan belum selesai. Namun waktu menunggu sidang sering perlu waktu hingga empat dan lima jam. Terkadang hakim-hakimnya sibuk sidang lain atau mendadak dipanggil Mahkamah Agung. Sering kali pihak tergugat, mantan isteri saya, dan pengacaranya, yang terlambat.

Dampaknya, saya kenal banyak orang di pengadilan ini, dari hakim hingga panitera, dari tukang parkir hingga tukang jaga sepatu di musholla. Saya juga sering memakai waktu menunggu untuk meliput sidang-sidang yang menarik perhatian saya. Pendek kata, notes wartawan selalu tersedia di ransel, siap mencatat apapun yang menarik perhatian.

Sidang terhadap Jenderal Muchdi, tentu saja, menarik perhatian saya. Dia dituduh membunuh aktivis hak asasi manusia Munir dalam penerbangan Garuda Jakarta-Amsterdam. Sidang-sidangnya rame. Saya suka mencatat kaos-kaos yang dipakai para pendukung Muchdi maupun pendukung Munir. Suciwati ikut bersaksi untuk almarhum suaminya. Setiap kali ada keramean, saya duduk, mencatat, mendengar dan meliput. Toto tampaknya tertarik dan mengambil gambar ini.

1 comment:

fithri said...

sisi lain dari mas andreas, hihihi lucu kayak anak kecil lagi di diktein gurunya;p