Sunday, November 23, 2008

Kesibukan Baru, Riset Baru


Sejak Agustus lalu saya mundur dari manajemen Yayasan Pantau serta mendapatkan sebuah kontrak setahun untuk menasehati sebuah yayasan Jakarta. Tugasnya, membantu yayasan tersebut membuat sebuah program pendidikan jurnalisme. Saya melakukan riset, interview serta menulis sebuah proposal. I enjoy this work.

Tampaknya saya kembali ke habitat lama: riset, liputan dan penulisan. Bekerja dari rumah. Memandang jendela dari apartemen dan meluangkan waktu untuk antar-jemput Norman setiap hari. Saya menikmati bekerja dari rumah. Saya menikmati bekerja sendirian tanpa pusing dengan urusan manajemen.

Saya juga makin sibuk November ini ketika mendapat kontrak riset dan menulis dari sebuah organisasi di New York. Pekerjaannya sangat menantang. Anda tunggu deh tanggal mainnya. Saya lagi bikin liputan yang dahsyat. Mudah-mudahan awal tahun depan sudah terbit.

Pekerjaan jadi penasehat juga membuat saya harus merancang sebuah perpustakaan media, memikirkan macam-macam kuliah untuk wartawan serta mendisain struktur sebuah portal. Semuanya terkait jurnalisme dan wartawan. Kini diskusi dan rapat-rapat masih berjalan. Saya minta masukan dari banyak kenalan wartawan, dari Bill Kovach (Washington DC) hingga Goenawan Mohamad, dari Sheila Coronel (New York) hingga Endy Bayuni. Saya minta masukan lebih dari 20 wartawan. Mungkin sudah takdir untuk senantiasa mengurus wartawan.

Juga ada undangan seminar sana dan sini. Penang. Istambul. Semarang. Batam. Jakarta. Davao City. Pontianak. Sejauh permintaan tersebut tak tabrakan dengan jadwal kerja, saya usahakan untuk memenuhinya. Saya sulit untuk menghindar dari memenuhi permintaan mahasiswa atau wartawan. Ini semacam balas budi kepada guru-guru saya, yang selama ini sudah baik hati memberikan waktu dan ilmu mereka kepada saya.

Saya bekerja untuk Pantau selama delapan tahun sejak pulang dari Nieman Fellowship di Universitas Harvard. Kini saya punya waktu untuk mengerjakan isu-isu yang tak terkait langsung dengan jurnalisme. Kebebasan sipil. Hak asasi manusia. Saya juga bisa menemani orang-orang yang jadi korban kekuasaan negara. Saya juga lebih leluasa mengajar orang belajar menulis.

Secara finansial juga lebih nyaman. Ketika Barack Obama memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat, Sapariah dan saya meneken kredit kepemilikan apartemen dengan Bank Central Asia. Kami mulai menempati rumah baru kami pada 8 November 2008. Masih berantakan semua. Tiada gorden. Tiada meja tamu. Tiada kitchen set. Tiada sofa dan sebagainya. Namun hati rasanya tenang. Norman mendapatkan kamar yang lebih besar dari tempat kontrakan kami. Memandang dari jendela apartemen setiap pagi. Jakarta terpampang luas.

14 comments:

Arnie said...

mas andreas, gimana keadaan indonesia saat ini?apakah aman buat orang2 indonesia yang sudah lama tinggal di states untuk pulang?
Makin lama saya merasa pesimis akan keadaan indonesia. Indonesia yang saya tau dan kenal adalah indonesia yang berdasarkan pancasila dah keragaman budaya tapi tiap membaca ulasan berita tentang indonesia, saya merasa indonesia menjadi indonesia yang berumpun pada satu suku dan satu agama.
Apakah indonesia yang saya kenal,tahu,dan pelajari sudah extinct dimakan waktu dan politik?

Aunul Fauzi said...

akhirnya muncul juga tulisan baru. september dan oktober terlewat tanpa posting. yang inipun muncul di penghujung november. desember harus lebih banyak ya :)

love your writing: untuk belajar tentang indonesia, cara menulis, mengukur kedalaman sebuah tulisan dan membayangkan keluasan risetnya.

Andreas Harsono said...

Dear Fauzi,
Sebenarnya ada delapan atau sembilan posting saya buat beberapa bulan terakhir ini. Satu termasuk soal kelas Anda di Yayasan Pantau. Sayang, saya tak sengaja menghapusnya. Ini kecelakaan ketika lagi bongkar-bongkar blog. Kesel banget. Bete banget.

Kini suasana hati mulai pulih. Saya akan mulai menulis soal-soal kecil lagi. Naskah panjang, tentu saja, harus menunggu publikasi resminya. Terima kasih.

Andreas Harsono said...

Dear Arnie,
Saya kira bila kita pelajari secara runtut, dari tahun 1950an hingga pasca-Soeharto, kesimpulan Anda tak terlalu keliru. Mutu penyelenggaraan negara Indonesia, maupun disain negaranya, tampaknya makin mengalami penurunan. Sekarang seakan-akan ada demokrasi. Namun ia hanya fokus pada "electoral democracy." Padahal demokrasi juga menuntut kebebasan sipil a.l. organisasi, agama, pers. Di Indonesia, saya kuatir ruang gerak kebebasan sipil makin menyempit.

Riset-riset saya akan lebih membahas pada prasarana demokrasi ini. Kalau nasib saya baik, pertengahan tahun depan, buku saya juga sudah terbit. Saya banyak membahas soal isu yang Anda pertanyakan. Terima kasih.

Kenken said...

Suharto adalah representasi dari fasisme kanan. Genre-nya militeristik. Ia dilahirkan oleh blok Kapitalis untuk menahan perluasan pengaruh Komunis Tiongkok sebagai musuh terdekat dan Komunis Soviet yg lebih pokok.

Pasca 1990, Komunis runtuh. PKT bertambah kuat di Tiongkok, tetapi tidak berambisi di peta internasional seperti era Mao. Sekalipun, RRT tidak pernah mengeksport revolusi seperti USSR.

Nah, fungsi Orde Baru sebagai anjing penjaga blok Barat kehilangan relevansinya. Persis spt rezim otoriter Pinochet. Kemudian, era liberal diperlukan agar modal bisa lebih leluasa berekspansi. Plus, Soeharto Inc mulai mengganggu kepentingan modal ini. Karena sebagai "hansip", Soeharto Inc ternyata minta jatah pula.

Lalu Soeharto jatuh. Dimulai era liberal. Panggung ini jadi terbuka bagi siapa saja. Termasuk kroni Soeharto.

Jeffrey Winster bilang Soeharto seperti Mafia Don. Begitu sang Bozz lengser, anak-anak buah jadi liar. Mereka jadi raja-raja kecil yg saling berkelahi, karena sang bozz yg paling ditakuti sudah gak ada.

Plus, kekuatan baru seperti islam fundamentalis juga menari di atas panggung yg kosong itu.

Jadinya hiruk pikuk ini panggung indonesia. So, ke depannya ada kemungkinan kita menghadapi kulminasi ekstrim dari demokrasi liberal ini. Yaitu munculnya Laviatan Tirani baru. Persis seperti Hitler yg muncul akibat demokrasi.

Seperti kata Plato, Demokrasi ini tidak ideal karena bisa memilih seorang Tiran.

Insaf Albert Tarigan said...

Tadinya saya kira mas Andreas memimpin salah satu media berbahasa inggris yang baru diterbitkan di Jakarta. Ternyata dugaan saya salah. Oh iya, buku soal perjalanan dari aceh sampai papua itu kapan terbit?

Didik said...

Terimakasih Mas Andreas atas tulisan-tulisannya. Memberi inspirasi dan pencerahan untuk saya. Tulisan anda tentang diri sendiri baik kelemahan dan kekurangan memberikan pengertian yang berharga untuk saya.
Tetap menulis di blog ini, sangat berguna terutama untuk saya.

narti kristiyani said...

Andreas: ''Saya lagi bikin liputan yang dahsyat. Mudah-mudahan awal tahun depan sudah terbit.''

***Topiknya tentang apa ya, Mas? Bisa kasih info singkat dulu barangkali. Penasaran ingin tahu.

Andreas Harsono said...

Dear Tarigan,
Saya memang sempat bicara dengan beberapa petinggi dari media bahasa Inggris tersebut. Namun pembicaraan belum masuk dalam. Saya pikir tawaran yang akhirnya saya ambil sekarang jauh lebih menantang dan memberi ruang gerak lebih bebas dari masuk ke ruang redaksi. Pekerjaan ini sangat menarik. Semua masih dalam tahap pengerjaan. Tapi mereka sangat menarik.

Andreas Harsono said...

Dear Narti,
Ada satu kredo dalam jurnalisme: eksklusif. Saya belum bisa mengungkapkan topik liputan saya karena mengungkapkannya bisa mengganggu jalannya liputan. Kalau Anda perhatikan karya-karya saya lainnya, Anda juga akan menyimpulkan bahwa saya tak pernah mewartakan rencana liputan besar lewat blog.

Beberapa teman dekat, tentu saja, tahu apa yang sedang saya kerjakan. Saya harap karya ini terbit bulan Juni 2009. Kini saya masih mendekati puluhan sumber serta melakukan banyak perjalanan. Terima kasih.

Yati said...

aduh, akhirnya ada postingan baru. kemana aja mas? sibuk dengan proyek baru ini ya?
saya juga sangat ingin bergelut dengan riset dan penulisan, bekerja dari rumah, seperti yang mas andreas lakukan. rutinitas sekarang bener2 bikin saya kehabisan waktu dan ga sempet bikin apa2 yang lain.
lembaga penelitian yang ada, semacam LIPI, apakah bisa sebagai tempat untuk pekerjaan seperti yang saya inginkan? mas ada info ga?
oh iya, saya baru bikin satu tulisan panjang tapi karena dimuat di koran akhirnya juga dipenggal-penggal dengan sub-sub judul :d

abdul said...

Mas Andreas. Kami menunggu kedatangan anda di Batam tanggal 13 besok. Teman-teman AJI lagi sibuk menyiapkan pelatihan, semoga anda datang. Secara pribadi, saya ingin bertemu langsung dengan orang yang kubaca tulisan dan blognya.Tq

Andreas Harsono said...

Yati,

Saya memang sepakat bahwa rutinitas ruang redaksi sering mematikan kreatifitas wartawan. Kita tak punya waktu untuk berpikir dan membaca. Setiap malam, kita kecapekan dan perlu istirahat.

Saya kurang tahu bagaimana kinerja LIPI. Mungkin ia menarik karena bisa riset dan menulis. Tapi saya benar-benar belum kenal lembaga ini selain beberapa individu disana. Terima kasih.

Andreas Harsono said...

Abdul,

Terima kasih untuk undangannya. Sayang, waktunya bentrok ya. Mudah-mudahan berhasil mendekati beberapa pembicara lain yang namanya sudah saya kirim via email.