Wednesday, January 23, 2008

Sidang Pengadilan Hak Asuh Norman


Sidang pengadilan soal pengasuhan Norman seharusnya dimulai hari ini di pengadilan negeri Jakarta Selatan. Namun ibu kandung Norman, Retno Wardani, mengirim surat minta pembukaan sidang ditunda satu bulan.

Menurut panitera Dimyati, petugas pengadilan mengantar surat panggilan kepada Retno Jumat di rumah ibunya, M.Th. Koesmiharti, di Jl. Camar Bintaro. Retno konon menangis sambil berteriak, "Mana anakku, mana anakku." Padahal, Jumat itu seperti biasa jadwal Norman di Senayan. Dimyati juga menunjukkan surat Retno, di mana Retno minta sidang ditunda karena ada kesibukan yang tak bisa ditinggalkan.

Aku agak heran apa kesibukan Retno. Dia sudah tak bekerja sejak setahun lalu. Dari Norman maupun Sri Maryani, pengasuh Norman, aku tahu kalau pekerjaan Retno setiap hari hanya membaca suratkabar dan nonton televisi. Antar jemput sekolah Norman juga aku yang melakukannya.

Isteriku, Sapariah, dan aku tiba di pengadilan sekitar pukul 9:45. Pengacara kami, Heppy Sebayang SH, tiba lebih awal dan bicara dengan Dimyati. Kami juga menunggu hakim Artha Theresia Silalahi SH. MH., yang dipanggil ke Mahkamah Agung, pagi ini. Silalahi hakim tunggal. Dia yang akan mengambil keputusan soal pengasuhan Norman.

Sebayang dan Fredy K. Simanungkalit SH adalah kuasa hukum aku. Mereka advokat dari Kantor Pengacara dan Konsultan Hukum FREDI & HEPPY, Jalam Tambak 11 A, Jakarta. Sebayang dan Simanungkalit pada Desember 2003 juga mewakili aku ketika menggugat Retno cerai.

Aku memberi kuasa kepada Sebayang dan Simanungkalit pada akhir November ketika Retno tak menunjukkan itikad mau menerima mediasi masalah ini lewat Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Retno menolak datang ke kantor KPAI empat kali, antara September dan Desember 2007.

Retno selalu beralasan pengasuhan Norman sudah ditetapkan pengadilan Jakarta Selatan pada Desember 2003. Dia bilang KPAI tak punya wewenang mengubah keputusan tersebut. Lima hari untuk Retno dan dua hari untuk aku. Saat liburan, Norman tinggal separuh-separuh. Aku juga bertanggungjawab untuk biaya pemeliharaan, pendidikan dan kesehatan Norman. Retno menolak kemungkinan perubahan.

Retno beberapa kali mengatakan agar aku menggugat ke pengadilan bila tidak puas dengan pengasuhan Norman. Norman sering mengeluh dengan tindakan dan sikap Retno. Ini memuncak Agustus lalu ketika Retno mengontrakkan rumah Norman dan memindahkan Norman ke Bintaro, rumah neneknya, yang berjarak sekitar 60 km dari sekolah. Norman sering merasa lelah menempuh jarak jauh. Dia kurang istirahat, kurang waktu belajar dan bermain. Apalagi Norman juga menderita asma.

Beberapa kenalan mengingatkan aku agar jangan terlalu berharap pada pengadilan. Siti Maemunah, seorang aktivis lingkungan hidup, bilang agar aku siapkan skenario kalau kalah. Aku sadar lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Namun ini cara yang legal. Aku sudah coba jalur mediasi namun selalu ditolak Retno. Prinsipnya, aku mengupayakan kebenaran dan keadilan. Seharusnya, aku juga coba dengan cara yang benar dan adil terlepas kinerja pengadilan ini jelek.

Ada juga yang bilang, "Obviously without her presence. Then what to do if she uses this tactic to prolong? Can the court do any ruling? Take care of Norman during this period!

Artha Theresia Silalahi kini sering masuk berita media karena sedang menangani kasus korupsi direktur utama Badan Urusan Logistik Widjanarko Puspoyo. Harian Pikiran Rakyat pernah memberitakan bahwa Theresia pernah bertugas di Bandung dan ikut menangani masalah hukum anak-anak.

Links ke Berbagai Posting
Kronologi Pengasuhan Norman Harsono

1 comment:

ALAM BORNEO said...

Selamat Pagi Bung Andreas dan Adik Sapariah,

Saya sebetulnya enggan menyampaikan hal ini, namun saya rasa perlu mengingatkan kepada Bung Andreas dan Adik Sapariah agar dapat juga menjaga Norman dari kemungkinan yang paling buruk.

Menilik dari kronologis sikap Ibunya Norman, saya kira perlu ada kewaspadaan (karena mungkin saja) Norman bisa mengalami hal / kejadian Fatal oleh sikap Ibunya demi "menang" dari Bapaknya atau demi "menyakiti" Bapaknya.

Tentu Bung Andreas dan Adik Sapariah pernah tahu ada berita Ibu yang bunuh diri bersama anaknya atau tindakan sejenis seperti yang terjadi di Malang, atau yang menimpa adiknya seorang penyanyi di Bandung beberapa waktu yang lalu.

saat kritis yang perlu di waspadai adalah jika kelak ada keputusan pengadilan yang memungkinkan Norman terpisah dari Ibunya.

maaf jika tidak berkenan, saya cuma ingin mengingatkan apa yang terlintas dalam pikiran.

salam sayang buat Norman, kapan di posting tato koleksi Norman ?

Salam Hangat,

Andreas Acui Simanjaya