Sunday, January 20, 2008

Harry Potter di Bangkok


Akhirnya aku bisa mendapatkan serial Harry Potter edisi Amerika Serikat di toko buku Kinokuniya di Emporium Shopping Center, Sukhumvit Road, Bangkok. Bersama Eva Danayanti, aku membeli Harry Potter and the Goblet of Fire serta Harry Potter and the Deathly Hallows.

Ini adalah permintaan anakku, Norman. Sejak Lebaran lalu, Norman mulai membaca serial Harry Potter. Mulanya, Harry Potter and the Sorcerer's Stone, Harry Potter and the Chamber of Secrets serta Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Ketiga seri awal itu aku beli di Cambridge ketika mereka baru terbit. Aku sendiri sedang kuliah di Harvard. Ketiganya aku hadiahkan kepada Norman. Namun Norman kecil, tentu saja, belum mau membacanya. Norman memang belum lancar membaca. Maklum, dia baru umur tiga tahun!

Lebaran lalu, aku anjurkan dia membaca ketiga seri itu, seraya membunuh waktu di rumah neneknya di Bintaro. Dia sudah hampir umur 11 tahun. Norman sangat suka serial ini. Dia melahap ketiganya dengan cepat. Seri keempat, Harry Potter and the Goblet of Fire, aku belikan dalam edisi dewasa versi Inggris. Norman bilang font terlalu kecil dan dia merasa lebih akrab dengan edisi Amerika terbitan Scholastic. Norman pun berhenti baca serial Harry Potter. Aku kuatir selera bacanya menurun.

Maka perburuan pun kami mulai. Dari toko buku Gramedia, Kinokuniya serta Aksara di Jakarta. Namun tak dapat yang versi Amerika. Semuanya, bahasa Inggris versi Inggris terbitan Bloomsburry. Norman menganggap versi Inggris lebih kurang akrab. Versi Scholastic diberi gambar oleh ilustrator Mary GrandPre. Norman lebih suka versi Scholastic. Gramedia sendiri menterjemahkan versi Amerika.

J.K. Rowling, pengarang serial Harry Potter, memberikan hak penerbitan bukunya, yang bahasa Inggris, kepada empat perusahaan: Bloomsbury Publishing (United Kingdom), Scholastic Publishing (United States), Raincoast Books (Kanada), Allen & Unwin (Australia). Versi Inggris dan Amerika tampaknya paling dikenal orang lewat ilustrasinya. Ada tiga macam edisi: UK Children, UK Adult dan US Children.

Ketika lagi jalan, entah dimana, aku pernah membeli seri kelima Harry Potter and the Order of the Phoenix versi Scholastic (US Children) dan Harry Potter and the Half-Blood Prince versi Bloomsburry (UK Children) aku beli di airport Heathrow, London. Maka seri kami hampir lengkap kecuali seri ketujuh Harry Potter and the Deathly Hallows.


Siang ini, aku mengajak Eva pergi ke Asia Bookstore di Sukhumvit, dekat hotel kami menginap, Grand President Hotel. Kami hanya berjalan kaki beberapa blok. Ternyata mereka punya versi Scholastic namun soft cover. Norman lebih suka yang hard cover.

Petugas disana menganjurkan cari di Kinokuniya. Kami naik sky train dan tiba di Emporium. Mudah sekali mendapatkannya. Aku senang bisa mendapatkan dua buku yang dicari Norman. Dua buku ini, masing-masing setebal 750 halaman, tentu akan menggembirakan Norman.

Lucunya, Eva Danayanti, yang masih umur 26 tahun, tiba-tiba ingin membeli satu set Harry Potter pula. "Buat anakku," kata Eva. Aku tertawa terbahak-bahak. Masih lajang sudah mikir buku bacaan untuk anak!

Eva masih banyak urusan lain, mulai dari pacaran, menikah, menjadi stabil, berpikir matang, mempersiapkan uang, kredit rumah, membangun karir, lalu memutuskan hamil, melahirkan, merawat si bayi hingga, katakanlah, 11 tahun kemudian, ketika si bayi sudah jadi sebesar Norman dan mau baca Harry Potter. Jalan masih panjang. Kok sekarang sudah mau beli Harry Potter. Eva ikut tertawa dan tak jadi beli.

3 comments:

Amanda & J'rome Adri Wibowo said...

“...pacaran, menikah, menjadi stabil, berpikir matang, mempersiapkan uang, kredit rumah, membangun karir, lalu memutuskan hamil, melahirkan, merawat si bayi hingga…” Well said! I wish someone had told me these true words of wisdom BEFORE I decided to get pregnant and be a single parent. “ More people should follow this sequence. Pak Andreas, you’re a genius! Hail to you. Sweet regards to Norman, Ari and yourself. As the saying goes: When the going gets tough, the tough gets going!

Andreas Harsono said...

Dear Amanda,

Terima kasih untuk komentarnya. Jadi, orang tua tunggal pasti berat sekali. I know that very well. Di Bangkok, kami sering jalan-jalan bareng sambil mengobrol soal Harry Potter-nya Eva Danayanti. Kami termasuk Aboeprijadi Santoso, wartawan radio Hilversum, Eva dan saya.

info said...

Kapan kawin kalau harus berurusan, mulai dari pacaran, menikah, menjadi stabil, berpikir matang, mempersiapkan uang, kredit rumah, membangun karir, lalu memutuskan hamil, melahirkan, merawat si bayi hingga....
Capee Deh..