Tuesday, January 22, 2008

Menunggu di Airport Bangkok


Aku tiba di airport baru Bangkok, Suvarnabhumi, sekitar tiga jam sebelum waktu boarding Air Asia. Lama juga menunggu. Untung ada banyak buku bacaan dalam tas. Di airport juga ada sambungan wi-fi gratis. Aku tinggal buka laptop dan internet sambung. Tanpa password, tanpa bayar. Ini airport kedua, sesudah Changi Airport di Singapura, yang aku ketahui menyediakan sambungan internet gratis.

Aku belum tahu kalau di Republik Majapahit ada airport yang menyediakan wi-fi gratis. Aku kenal dua airport ini, Bangkok dan Singapura, sejak 1991. Entah berapa puluh kali aku ada di Changi atau Don Muang --sebelum Suvarna Bhumi. Aku sering kagum pada persaingan mereka dalam melayani para pengunjung. Alangkah nyamannya duduk menunggu sambil menelusuri internet.

Aku juga membaca pidato Bill Keller, redaktur eksekutif The New York Times, soal tantangan yang dihadapi liputan berita dari dunia internet: blog, My Space, Google News, Wikipedia dan sebagainya.

Keller memberi judul pidatonya, "Not dead yet: the newspaper in the days of digital anarchy." Keller menilai makin maraknya informasi di masyarakat sekarang, membuat makin pentingnya pekerjaan kami sebagai wartawan. Orang perlu tahu mana gossip, mana informasi bermutu. Mana opini ngawur, mana analisis yang dikerjakan dengan prosedur teliti. Mana copy-paste, mana informasi baru. Dia menyebut banjir ini "anarki digital."

Dia menganggap, "The Bush administration believes that information is power, and that like most other forms of power it is not to be shared with those the regime does not trust. It most decidedly does not trust us."

Aku setuju dengan pendapat Keller. Aku kenal Keller sejak 1995, ketika aku jalan pertama kali ke New York dan memberanikan diri, tanpa bikin janji, minta bertemu dengan siapa pun redaktur The New York Times. Kok ya baik juga. Bill Keller, waktu itu asisten redaktur desk luar negeri, mengundang aku datang ke mejanya. Aku masih ingat layar-layar monitor mereka masih hijau ... sistem Word Star. Kini dia orang nomor satu di ruang redaksi harian itu.

Di Bangkok, aku duduk di sebuah bangku tunggu, terbuat dari besi, di depan money changer milik Siam Commercial Bank serta toko Thomas & Tonini. Aku juga berpikir soal anakku: Norman. Tadi di depan sebuah patung ular besar dari mitologi Hindu, dimana ada kolam air kecil, aku melempar dua coin satu baht, atas nama Norman dan kekasihku Sapariah. Harapanku, semoga mereka bahagia!

Aku kira, sudah cukup lama aku menjalani karir sebagai wartawan, dari seorang reporter kurcaci memaksa masuk ruang redaksi The New York Times, hingga kini sudah berambut putih, punya keluarga yang menyenangkan. Aku sangat mencintai pekerjaan ini. Norman dan Sapariah mengerti sekali betapa lekatnya aku dengan jurnalisme.

4 comments:

Astri Kusuma said...

senang membacanya pak Andreas...semoga pak Andreas dan sekeluarga dilimpahi kebahagiaan :)

salam,

Astri

dianlestariningsih said...

apa kabar pangeranku yang ganteng itu Mas?

Selalu inget Norman dengan'dont push my arm'-nya :)

fiek said...

Diary berjalan mas Andreas masih terus berjalan. Apa kabar bos?

I-Think said...

Salam. Wah, Mas Andreas apa bandara Soekarno Hatta juga sudah menyediakan layanan wi-fi ya? Kalo sdh, menunggu penerbangan yg terus menerus delay jadi nggak membosankan hanya karena banjir dan cuaca buruk. Haha....
Senang baca cerita soal Norman. Pasti dia anak yg cerdas.