Sunday, September 02, 2007

Transportasi Norman Butuh Rp 4.5 juta Sebulan


Kini dengan Norman Harsono sudah dipindah ke Bintaro, Sapariah dan aku berusaha mengurangi Norman kekurangan waktu istirahat dan tidur, dengan memakai jalan tol T.B. Simatupang, yang lebih mahal, lebih jauh, namun lebih cepat.

Dampaknya, aku harus menempuh jarak Kemayoran-Bintaro 64 kilometer, setiap siang dengan karcis tol Rp 4,500 plus Rp 9,000 sekali jalan. Paginya, jalanan lebih sepi, kami lewat jalur Pondok Indah dan Senayan, hanya bayar karcis Rp 4,500 untuk gerbang tol Semanggi atau Slipi. Total biaya tol sebulan Rp 594,000.

Bensin rata-rata setiap 10 hari beli 80 liter atau Rp 360,000. Artinya, kami membayar bensin Rp 1,080,000 per bulan. Kredit mobil Rp 2.6 juta per bulan. Total setiap bulan, biaya antar jemput Norman menghabiskan biaya Rp 3.2 juta. Aku tak bisa terus antar-jemput Norman. Pekerjaan bisa terbengkalai. Kalau ditambah gaji sopir, maka pengeluaran khusus Norman bisa mencapai Rp 4.5 juta.

Mengapa begini mahal? Persoalan ini mulanya muncul pada Minggu, 15 Juli 2007, ketika Fadillah, sopir bus sekolah, yang biasa mengantar Norman, menelepon saya dan bilang route Pondok Indah dihentikan. Alasannya, Norman tinggal satu-satunya murid Gandhi Memorial International School, yang tinggal di Pondok Indah. Rekan satu busnya lulus semester sebelumnya.

Retno Wardani, ibu kandungnya Norman, menawarkan diri mengantar pagi hari, namun minta biaya bensin dan jalan tol. Kami menolak mengingat dampaknya tak pernah bisa diukur. Retno akan menuntut uang terus. Kini caranya minta uang bulanan Norman penuh dengan caci-maki. Ada-ada saja biaya tambahan. Mulai dari beli buku –“Pa, Mama wants to buy me an Art Attack book but she said her money is not enough. Can you pay Rp 150,000?” ujar Norman via telepon suatu kali—hingga makan di Kentucky Fried Chicken Rp 23,000.

Sri Maryani, pengasuh Norman, akhirnya mengantar Norman sekolah naik taxi Pondok Indah ke Kemayoran Rp 100,000 (termasuk tol). Pulangnya juga naik taxi Rp 100,000. Aku pikir taxi terlalu mahal. Kalau dihitung, Rp 200,000 x 20 hari, artinya kami harus bayar Rp 4 juta.

Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut --julukan ala Harry Potter, Anda mengerti untuk siapa-- juga hanya sedia antar pagi hari. Itupun minta dibayar bensin dan tol untuk dia pergi dan pulang (tanpa Norman). Siang harus naik taxi pula. Artinya, Rp 2 juta sebulan. Ini bagaimana? Anak sekecil Norman tapi biaya transportasinya semahal ini?

Kami sendiri tak punya mobil. Selain kemacetan Jakarta bikin capek, aku juga tak mau ikut menyumbang polusi udara dan kerusakan sosial di Jakarta. Sapariah usul kredit mobil. Kalau punya mobil, walau biaya sama, kami bisa pakai untuk keperluan Sapariah maupun aku. Akhirnya, kami utang kantor dan kredit mobil Rp 2.6 juta per bulan.

Eh, Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut membuat keputusan baru: Norman dipindah ke Bintaro sejak pertengahan Agustus. Maka jarak makin jauh. Norman makin kekurangan waktu untuk istirahat dan belajar. Biaya antar jemput makin tinggi. Aku terpaksa mengadukan masalah ini kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Bulan ini aku harus menyediakan Rp 4.5 juta untuk transportasi Norman. Ini belum uang sekolah, makan, buku dan lainnya. Total biaya untuk Norman Rp 9.4 juta. Penghasilan kami berdua takkan cukup menutup ini semua.

Ironisnya, Orang-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut itu bikin keputusan macam-macam, mulai dari minta rumah Pondok Indah hingga memindahkan Norman ke Bintaro, namun dia sama sekali tak keluar uang. Dia juga bersikeras, keputusan pengadilan mengharuskan Norman 5x24 jam tinggal dengan ibunya dan 2x24 jam dengan ayahnya. Sejak perceraian Desember 2003, praktis semua biaya pendidikan, kesehatan, pemeliharaan dan hiburan Norman ditanggung aku.

Mengapa Norman tak tinggal bersama aku saja? Bus sekolah sangat bersedia antar jemput Norman bila tinggal di Senayan. Biayanya per bulan hanya Rp 650,000. Bayangkan Rp 4.5 juta dan Rp 650,000?

Ralat
Aku salah menulis jarak sekolah Norman "34 km" dengan Bintaro. Seharusnya, 64 kilometer dari empat gerbang tol: Ancol, Dukuh 1, Pondok Aren, Pondok Ranji dan Ulujami. (3 September 2007)

6 comments:

fitri mohan said...

mas, aku ikut prihatin dengan keadaan yang sedang mas alami. semoga cepat beres ya mas. dan semoga juga norman dan jeng arie kuat dan tabah.

aku berdoa semoga norman nggak apa-apa. semoga dia baik-baik dan semangat menjalani masa anak-anaknya.

Anonymous said...

Anak mempunyai Hak, dan salah satunya adlaah Hak Mengeluarkan Pendapat/ Berpartisipasi (UU No.23 ttg Perlindungan Anak th 2002..search di google mungkin ada :-) Jika bisa dapet bantuan pengacara khusus anak bisa menggunakan hal tersebut..kalo boleh usul (bukan iklan, nggedabrus..dll) coba kontak Komnas Perlindungan Anak-nya Kak Seto (kl ga salah kantornya masih di deket RS Pasar Rebo) semoga bisa membantu..."wh125r -arek jember sing neng Meulaboh-"

Merry Magdalena said...

4,5 juta adalah penghasilan kotor saya sebulan setelah semua sumber penghasilan ditotal: pekerjaan tetap, dan aneka side job yang bikin saya sedih sebab ngga bisa lebih banyak waktu luang buat putri saya.

Bahkan kadang tidak sampai 4,5 juta jika side job sedang sepi.

Saya adalah ibu, orang tua tunggal yang harus memenuhi semua kebutuhan keluarga seorang diri.

Saya adalah jurnalis yang terbentur antara idealisme dan kebutuhan hidup, dimana saya sulit menanggalkan idealisme itu walau masih tinggal di rumah kontrakan petak yang kamarnya tak bersekat.

Dan saat minggu lalu melihat putri saya tercinta harus diopname akibat broncopnuemonia dan habiskan kocek lebih dari 6 juta, saya hanya bisa bersyukur sebab ada tangan-tangan terulur membantu.

4,5 juta hanya untuk ongkos andak anda? Saya tidak habis pikir! Di luar sana banyak keluarga hanya hidup dengan 1 juta rupiah saja sebulan!!!

Jangan mengeluh terus, Bung Andreas.
1. Anda lelaki.
2. Anda bukan orang miskin.
3. Anda sudah didampingi istri baru.
4. Anda punya otak lumayan.

Jika ada yang layak mengeluh bukan Anda, tapi saya dan jutaan rakyat miskin lain di luar sana...

ALAM BORNEO said...

Bung Andreas dan Adik Arie ...

Salam kangen buat semuanya,

Lama tak berjumpa dan bertukar kabar, ucapan selamat berbuka puasa ke Hp Arie juga tak berbalas, mungkin juga sudah ganti nomor nya ...

Karna kangen Saya membuka blogspot Bung Andreas dan membaca dua artikel, tentang Iwan Fals dan Ananda Norman.

hanya satu komentar saya,

1. bahwa hukum sering tidak dapat dengan tepat mengatasi dan menyelesaikan masalah sesaat setelah sebuah keputusan hukum di putuskan, oleh sebab itu perlu di tinjau kembali jika dirasakan sudah tidak relevan dengan keadaan saat ini, juga mengenai status hak asuh Ananda Norman.

2. Jangan biarkan siapapun mengunakan anak untuk keperluan negosiasi atau untuk menyakiti kita, apapun bentuknya, cinta kepada seorang anak seharusnya diwujudkan dengan memberikan yang terbaik untuk sang anak, termasuk memikirkan kebutuhannya untuk istirahat dan bermain.

sekian dulu jumpa kita,

salam hangat,

Ir. Andreas Acui Simanjaya

Andreas Harsono said...

Untuk Fitri, WH125R, Merry Magdalena dan Ko Acui,

Terima kasih untuk komentarnya. Kami hidup dalam keadaan rumit sejak Retno Wardani memindahkan Norman ke Bintaro. Pertama-tama, Norman sendiri mengeluh dengan kelelahan. Selama kami di Itali, dia terus-menerus mengirim pesan soal kelelahannya. Kedua, persoalan keuangan. Kami mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dari kemampuan kami. Saya kuatir kami akan segera terlibat utang bila tak ada jalan keluar.

Merry tampaknya keliru menilai saya punya uang banyak. Kini penghasilan saya total, sudah tak cukup untuk mendanai semua keperluan Norman (transportasi, uang sekolah, biaya bulanan dan sebagainya).

Kalau masalah ini tak cepat-cepat ada jalan keluarnya, saya kuatir, secara finansial saya akan mengalami kesulitan. Norman, akibatnya, juga akan terkena dampaknya.

Saya mencoba diam dan bertahan selama empat tahun terakhir. Saya juga minta Norman sabar. Kini kesabaran kami sudah sampai pada batasnya. Kami merasa harus mengambil tindakan terhadap Retno Wardani.

Terima kasih untuk dukungan dan kritiknya. Perjalanan ini masih panjang.

ALAM BORNEO said...

Bung Andreas dan Adik Arie Jumpa lagi ...

seminggu ini saya tak buka internet karna leher kaku / istilah kerennya salah tidur ... katanya sih harus dipukulin pake bantal biar sembuh, tapi menurut saya ini tak ilmiah ...apalagi kalo di jaman dahulu waktu di China saat pertama kali bantal di temukan yang bahannya terbuat dari kayu balok persegi ... bisa bikin patah leher malah ...

rupanya sedang ada tugas di luar negeri ya ... semoga bisa sekalian di manfaatkan sebagai perjalanan bulan madu ... oleh sebab itu harus ada tulisan yang berunsur romantikan layaknya pengantin baru he.. he.. he..

Norman adalah anak yang cerdas, semua perjalanan awal dalam kehidupannya pasti akan menjadi dasar untuk membangun karakter yang kuat baginya di masa mendatang.

saya mendoakan yang terbaik untuk Bung Andreas, Adik Arie dan Ananda Norman.

saya juga baru belajar mengisi blogspot jika ada waktu kasih saran untuk kemajuan saya, kunjungi saja http://acuisimanjaya.blogspot.com

jumpa lagi lain waktu ya ...