Monday, September 03, 2007

Dunia Fantasi dan Pelajaran Sejarah


Senin pagi ini, Norman bilang agak mengantuk ketika aku jemput untuk pergi sekolah. Dia bilang tadi malam pergi ke misa di gereja Pondok Indah dan ikut belanja dengan Retno Wardani, mamanya, di Carrefour hingga pukul 22:00. Norman bangun pukul 4:30 dan berangkat sekolah sekitar pukul 5:00. Aku menjemput Norman di Pondok Indah. Retno mengantar Norman dari Bintaro hingga Pondok Indah.

Sapariah ikut menemani kami pagi ini. Di mobil, Norman bilang merasa mau muntah, mengantuk dan kurang istirahat. Dia bilang juga stress mengingat tugas pelajaran sejarah. Siang ini, dia harus mengerjakan draft dan outline tugas menulis sejarah peradaban awal dalam mata pelajaran itu.

Esainya 700 kata. Gurunya, menurut Norman, guru paling strict di GMIS Jakarta. Murid-murid menjulukinya, "Mister Shut Up" karena suka bilang kata, "Shutuup," dengan aksen Hindi English. Aku sendiri tadi malam, riset internet, lewat Wikipedia dan Beyond Books lalu mencetaknya, 17 halaman, guna keperluan Norman. Di rumah Retno tak ada fasilitas internet. Norman harus titip sebagian pekerjaan rumahnya ke aku.

Hari Sabtu kemarin ada pertemuan orang tua murid dan guru-guru GMIS Jakarta. Ini pertemuan rutin setiap enam minggu sekali dimana orang tua bisa bicara dengan guru. Sapariah, Norman dan aku datang ke GMIS. Kami menemui masing-masing guru dari wali kelas hingga guru science, guru seni, guru olah raga, bahasa Perancis dan sebagainya. Norman dipuji sebagai anak yang suka membantu rekan-rekannya. Norman dibilang anak pendiam dan selalu berusaha mengerjakan tugas di sekolah.

Persoalannya, dia beberapa kali tak mengerjakan pekerjaan rumah semester ini. Guru sejarah, guru seni dan guru science bilang sebulan ini Norman sekali atau dua kali tak mengerjakan tugas rumah. Guru sejarah juga bilang soal tugas-tugas riset early civilizations, antara lain, peradaban Mesir, Sumeria dan India.

Aku coba menjelaskan soal Norman sakit asma dan jarak rumahnya jauh (64 km). Retno juga melarang Norman tidur dengan alas terpal. Ini memperburuk kesehatan Norman yang alergi tungau debu rumah. Namun ini bukan excuse. Aku akan membantu Norman bisa istirahat dan mengerjakan tugas rumah.

Dari GMIS Jakarta, kami langsung menuju Ancol dan bermain di Dunia Fantasi. Norman main Arung Jeram (bajunya basah semua, untung bawa ganti), Ombang-ombang dan sebagainya. Kami bertiga pergi ke Ancol bersama beberapa rekan lain --Eva, Wina, Ichank, Hesny, Kokoh, Indar, Dayu, Wewex. Eva dan kawan-kawannya antri naik permainan baru Tornado. Sapariah, Norman dan aku tak ikut. Untuk bisa naik Tornado, pengunjung harus antri 2.5 jam hingga 3 jam. Permainannya tak lebih dari 2.5 menit.

Kami menonton pertunjukan pantomim serta kembang api. Norman minta main Bumper Boat serta makan ayam goreng. Nonton Balada Kera. Lari kesana, lari kesini.

Aduh, anakku, di Dunia Fantasi dia berubah jadi penuh energi, selalu minta main ini dan itu. Dia tak tahu bahwa Retno menelepon aku dan minta Norman segera dibawa ke Bintaro. Aku tak sampaikan ke Norman. Aku kuatir dia jadi nervous dan terganggu kesenangannya.

Begitu sampai rumah, aku kirim SMS kepada Anju Kaul, supervisor Middle Section GMIS Jakarta, "My son, Norman, complains not feeling well but insisted to go school. Please check if something happen I will pick him up."

Aku ingin sekali kelak dia bisa kuliah di kampus bermutu dan jadi manusia yang bahagia. Ini harus dimulai dari sekarang.


Ralat
Kata "Tornado" mulanya diketik "Tordano." Ia sudah diperbaiki pada 3 September 2007.

Previous Stories
Norman Menjelang Perceraian
Retno dan Asma
Kredit Kepemilikan Rumah BII
Asthma Cases on the Rise Among Children

"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"
Norman Dipindah ke Bintaro
Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono

Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneagles
20 Menit Senayan-Kemayoran
Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak
Transportasi Norman Rp 4.5 Juta Sebulan
Kemayoran-Bintaro 64 Kilometer

3 comments:

ikram said...

Gila pelajaran sejarahnya sudah sampai ke Mesir, Sumeria, dan India segala? Wow.

Oya, wahana permainan baru itu Tornado mungkin Mas, bukan Tordano.

Andreas Harsono said...

Dear Ikram,

Terima kasih untuk koreksinya. Sudah aku perbaiki. Pelajaran sejarah di sekolah internasional, atau sekolah-sekolah lain yang bermutu, selalu mengambil sudut mata "manusia."

Artinya, anak-anak tidak diajar apa yang kita sebut sebagai "sejarah nasional" ala Muhammad Yamin, yang mencampur-aduk antara kebenaran dan kebutuhan kebangsaan. Anak-anak belajar soal masa lalu dari keperluan manusia. Mereka sejak kecil belajar bikin analisis soal masa lalu.

Guru sejarah GMIS Jakarta menekankan bahwa kurikulum sekolah ini banyak pada analisis. Peradaban awal manusia, kalau dilihat dari bukti-bukti yang bisa ditemukan, baru bisa dianalisis lewat penemuan pada lembah-lembah subur, antara lain, Sumeria (Sungai Tigris), Mesir (Sungai Nil) dan India (Lembah Hindustan).

Ninda said...

Dear Andreas,
aku lagi browsing GMIS dan nyangkut di blog kamu.
Dari perjuangan Mas & istri supaya Norman bisa tetap sekolah di GMIS, saya menyimpulkan kalo kalian 'fans' berat GMIS (CMIIW)..
Boleh dong sharing ttg GMIS, plus-minusnya & kenapa milih Intl School yg ini..
Saya & suami punya rencana untuk menyekolahkan anak2 di GMIS.

Tx