Thursday, September 06, 2007

Susilahati dari Komisi Anak


Pagi ini, saya mengirim SMS kepada Susilahati dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dengan pesan singkat, bahwa Norman setiap pagi dua jam pergi sekolah, setiap siang dua jam pulang sekolah. Ini sebentuk kekerasan terhadap Norman.

Susilahati, kepala Kelompok Kerja Pengaduan KPAI, membalas, "Kami sudah telp ibunya Norman, utk bisa hadir hari ini di KPAI. Tetapi menurut laporan Maya, ibunya Norman tidak mau hadir dan tidak mau dimediasi oleh KPAI. Solusinya, menurut ibunya Norman adalah pindah sekolah. Saran saya, diskusikan solusinya dengan mantan istri Bapak spt sarannya. Dia mau koq pak diajak diskusi, tapi menurutnya jgn dimediasi oleh KPAI. Tawaran ini saya rasa baik jika Bapak respons. Ceritakan kondisi ini sama ibunya Norman. Dicoba deh Pak."

"Maksud saya, diskusikan dan cari solusi bersama ibunya Norman, mana yang terbaik bagi Norman. Ajakan ibunya Norman untuk mencari solusi bersama, bagaimana jika segera Bapak respon? Dicoba dulu ya Pak bicara dengannya. Cari jalan keluarnya bersama. Nanti jika buntu, kita cari lembaga terapinya keluarga. Atau mau dicarikan KPAI?"

Saya menelepon Susilahati dan bilang bahwa saya sudah pernah coba bicara kepada Retno Wardani. Dia menawarkan Norman pindah sekolah dan saya yang bayar uang pangkal, uang sekolah dan sebagainya. Retno yang bikin keputusan. Saya yang membayar.

Ini bukan tawaran yang masuk akal. Bagaimana kalau Retno pindah rumah lagi? Apakah sekolahnya Norman akan dipindah lagi? Bagaimana ibu, yang tak pernah mau ikut menanggung biaya hidup anaknya, bisa selalu mengambil keputusan terhadap kehidupan anaknya? Kalau memang Retno mau berpikir terbuka, bagaimana menerangkan penolakannya terhadap sakit asma Norman? Bagaimana dengan terpal yang dilarang pakai sebagai alas tidur Norman guna mencegah tungau debu?

Saya bilang kepada Susilahati bahwa saya justru datang ke KPAI karena pembicaraaan sudah buntu. Kenapa sekarang disuruh kembali? Bagaimana saya harus bicara dengan Norman, yang sudah menaruh harapan kepada KPAI, bila tahu KPAI hanya minta kedua orangtuanya bicara sendiri tanpa mediasi?

Previous Stories
Norman Menjelang Perceraian
Retno dan Asma
Kredit Kepemilikan Rumah BII
Asthma Cases on the Rise Among Children

"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"
Norman Dipindah ke Bintaro
Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono

Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneagles
20 Menit Senayan-Kemayoran
Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak
Transportasi Norman Rp 4.5 Juta Sebulan
Kemayoran-Bintaro 64 Kilometer

5 comments:

Ini wartawan poenja blog. said...

Saya merasa andil membuat kesalahan di sini karena merekomendasikan mas untuk dimediasi Komisi Perlindungan Anak Indonsia (KPAI). Saya pikir, karena pembicaraan sudah buntu antara orangtua dan orang tua, maka perlu lembaga mediasi.

Norman pun merasa lega setelah bisa menceritakan apa keinginannya. Dan berharap dia menjadi anak yang bisa didengarkan suaranya. Orangtua tidak seenaknya sendiri membuat keputusan tanpa mempertimbangkan anak.

Namun, asa tinggallah asa. Impian tinggalah impian...

Informasi dari KPAI sungguh mengecewakan. Mereka mengatakan si ibu tidak mau dimediasi, eh KPAI pun langsung enggan memediasi. lembaga perlindungan anak apa pula ini?

Inilah pandangan salah dari orang-orang yang melihat permasalahan anak. Anak dianggap baru bermasalah ketika dia mendapat perlakuan atau kekerasan secara fisik, disiksa, dibunuh, dikomersialisasi sebagai pekerja maupun PSK. Pandangan ini pandangan kuno, pandangan tidak sensitif anak. Sudah seharusnyalah orang-orang yang duduk mengatasnamakan lembaga anak seharusnya sensitif anak, sensitif kepentingan anak dalam segala aspek, fisik dan mental (psikologis).

Tak tahukah banyak anak berantakan dan berperilaku aneh karena salah menangani secara psikologis? Atau tak tahukah ketika anak secara psikologis tertekan bisa mengakibatkan dampak buruk?

Sedih sekali saya mendengar, jika lembaga yang diamanatkan oleh bangsa dan negara (UU Anak) ini mengemban, memantau dan memperhatikan perlindungan anak bersikap seperti ini.

Padahal, dalam pertemuan kedua, dari KPAI sudah mengusulkan agar menemui psikolog untuk melihat psikologi anak, dan bagaimana orangtua harus bersikap dengan kondisi seperti ini. Saya pikir itu solusi baik.

Namun, usulan itu buyar, ketika si ibu menolak dimediasi. Apakah ini benar-benar lembaga perlindungan anak? Saya menyangsikan itu. Sungguh!

Saya kecewa, ternyata suara anak memang dianggap tidak ada artinya.

Atau apakah KPAI hanya khusus menangani anak-anak orang ngetop dan berduit saja? Yang jika ada kasus diributkan dan diliput berbagai media, serta bisa dilihat SBY, sebagai presiden yang sekaligus tempat KPAI mempertanggungjawabkan kerja dan laporannya? Jika hanya itu saja....maka tak berlebihanlah jika saya tak menaruh harapan pada akan membaiknya perlindungan anak di Indonesia.

Namun, saya masih menaruh harapan semoga masih banyak lembaga-lembaga lain, terutama yang benar-benar independen--mampu memperjuangkan kepentingan dan hak-hak anak tanpa pamrih.

Hidup anak! Hidup kebebasan anak! Hidup partisipasi anak!!!!

Ini wartawan poenja blog. said...

Anak adalah amanah yang harus dijaga, diarahkan, dilihat bakatnya agar mereka berkembang.

Anak, aset yang wajib ditingkatkan nilainya oleh orang tua, dalam arti diberi pendidikan bagus, budi pekerti baik dan diajari menjadi orang benar dan jujur. Anak, bukan aset untuk dimanfaatkan.

Kebetulan, beberapa tahun, saya mengasuh halaman koran khusus tentang keluarga, yang isinya menyangkut, keluarga, anak dan perempuan.

Kasus-kasus anak, dan keluarga diangkat dengan melibatkan sumber para psikolog anak dan keluarga termasuk sumber langsung dari anak dan orangtua yang bermasalah.

Bersyukur sekali saya bisa menangani halaman ini. Karena meskipun saya belum berkeluarga tapi bisa mempelajari banyak permasalahan seputar keluarga, anak dan perempuan. Setidaknya, menjadi pelajaran ketika menjadi orangtua, saya bisa bersikap berhati-hati dan membuka mata dan hati.(Maklum, dulu cita-cita jadi psikolog, tapi ga kesampaian, hiks).

Betapa miris melihat anak yang depresi, stress dan tertekan hingga mereka lari pada hal-hal negatif. Masa depannya menjadi taruhan.

Latar belakangan penanganan dari orangtua bisa berdampak panjang bagi kehidupan anak. Banyak kasus ini saya temui.

Penanganan, kesadaran orangtua kadang datang terlambat??? Nasi sudah menjadi bubur, hati anak sudah sakit. Masalah sudah terjadi, baru bersibuk memadamkan 'api'

Maka, ketika melihat anak merasa tak nyaman, anak seakan tak mendapat hak, anak tak bisa bersuara, rasa khawatir saya muncul...

Saya ingin anak-anak saya
hidup dalam alam demokratis yang benar, jujur dan dia bisa bertanggung jawab.

Saya senang melihat Norman yang tak segan mengingatkan saya, meskipun untuk hal-hal kecil.
Sebaliknya, dia juga bisa mengerti dan menerima jika tindakannya dikoreksi. Salut sekali melihatnya.

Saya belajar dari mas menjadi orangtua yang demokratis. Orangtua yang tidak merasa bahwa orangtua selalu benar. Anak diajak berpartisipasi bersama-sama. Orangtua juga perlu kritikan dan masukan termasuk dari anak.

Saya senang, Norman anak yang kritis. Yang tidak menerima apa yang disampaikan orangtua begitu saja. Dia akan bertanya. Why, why and why? Itu bagus. Sikap kritis itu diperlukan.

Anak yang baik bukan berarti anak yang manut, nurut apapun yang dikatakan orangtuanya tanpa melihat dan berpikir lagi apakah yang dikatakan orangtuanya benar atau salah, baik atau buruk.

Saya sedih ketika masih saja ada anggapan bahwa anak yang kritis harus 'diperbaiki'.Padahal, anak kritis itulah yang dicari.

Saya kira negara yang tidak karuan ini perlu generasi-generasi kritis dan cerdas.

Bagaimana pula negara ini bisa maju, ketika masih menganggap suara anak mesti dibatasi. Anak kritis dianggap kurang cocok buat budaya timur. Ini sama saja mau bilang kalau anak-anak dengan budaya timur itu tidak kreatif dan pasif. Mungkin ada benarnya. Mengapa? Karena orangtua yang mengajarkan anak untuk menjadi orang yang tutup mulut meskipun hatinya berkata tidak.

jun said...

mungkin link ini http://memo.blogombal.org/2007/09/11/blog-dan-kehidupan-pribadi/ perlu dibaca andreas (atau malah sudah?)

Lambertus L. Hurek said...

saya hanya berdoa semoga kisah panjang ini berakhir bahagia. salam!

Ini wartawan poenja blog. said...

Buat Jun,
Komentar saya terhadap blog itu....

Namanya juga blog, itu kan buat catatan atau bisa juga diary online seseorang. Jadi terserah yang punya diri mau nulis apa. Dari kesenangan sampai keluh kesah. Dari kekesalan sampai kepenatan. Apalagi bagi orang yang tersiksa dan dianiaya, wah blog bisa bermanfaat sekali, biar orang bisa bantu. Bebas aja. Masalah apakah layak buat konsumsi umum, itu tinggal sampai seberapa besar si pemilik blog mau transparan tentang dirinya, dan pembaca sejauh mana pengen tahu gosip dan isu tentang orang lain. Jika memang dia transparan dan mau terbuka, sebatas yang dia anggap layak, why not. Iya toh.

Mungkin Anda tidak tahu dia, yang maunya transparan dan transparan. Tidak hanya menuntut orang lain, tapi dirinya juga. Mas Andre itu tidak hanya berani membuat keluhan kepada dan tentang orang lain yang terkait dirinya. Masalah keluarganya saja, sampai orang tua dia tulis buat publik. Itu bebas saja, karena dia mampu menerima konsekuensi dari ketransparannya itu.

So terserah awake masing2. Aneh juga, di negara yang ngakunya budaya timur dan penuh kebohongan dan ketidaktransparan ini kadang kalau orang terlalu terbuka biasa dianggap aneh. Padahal itu biasa saja, bebas-bebas saja ga melanggar etika toh. Saya rasa bukan barang aneh kalau kita mau berkeluh kesah di blog yang kita buat sendiri, kita tulis sendiri.

Apalagi jika yang ditulis adalah fakta, wah malah asik tuh, kalau mau buat cerita --jika memang tokoh itu menarik--ga perlu repot dan banyak wawancara lagi, tinggal minta izin, boleh ga ngopi blog Anda buat cerita saya? Iya toh?

Asik juga buat tahu figur2 orang. Apalagi yang diceritakan orang yang berpribadian ganda. Misalnya, di hadapan orang tampak bagus, eh.....ternyata mengerikan--setelah diperoleh cerita dari blog.. Khawatir itu gosip? Jika memang berkepentingan khan bisa ditanyakan langsung dengan orang yang menjadi cerita (Apalagi jika mau buat tulisan, buat cross cek khan tinggal bisa minta kontaknya ...)

Setidaknya, bisa mengungkap fakta lewah blog. Iya khan...bisa membantu kerja wartawan nih ha ha ha...Bener ga???

Wong zaman transparan, harri gini masih ribut-ribut layak atau tidak. Emangnya pornografi????Pornografi dan yang jelas-jelas dan benar tak layak tayang aja banyak diinternet. Bombata gitu loh. Secarra........