Friday, March 10, 2006

Aceh dalam Sepiring Rujak

Oleh Linda Christanty

Tentang rekonstruksi dan kebiasaan orang Aceh makan buah.


SORE itu panas terik di Banda Aceh. Jalanan berdebu. Perut penuh air kelapa. Kaki pegal. Rasanya sulit berjalan tegak.

“Air kelapa bisa menawar racun dalam tubuh. Dua minggu sekali kita perlu minum air kelapa,” kata Marco Kusumawijaya, bersemangat.

Marco arsitek lulusan Belgia dan kolumnis berbagai media Jakarta. Marco pernah tinggal di Aceh sekitar setengah tahun ketika merancang dan membangun rumah untuk korban tsunami.

“Di sini orang punya kebiasaan minum air kelapa. Di kota besar seperti Jakarta, minum air kelapa sekarang jadi tren juga… terpengaruh ulasan kesehatan di majalah-majalah itu kali, ya… Ha ha ha…”

Dia tak peduli pada panas dan debu. Langkahnya ringan saja. Belum jauh kami meninggalkan bangku penjual kelapa di perempatan Jalan Teungku Syech Muda Wali, dia sudah menawari saya makan rujak di Pasar Aceh.

“Belum pernah ‘kan makan rujak Aceh? Perlu dicoba,” katanya, riang.

Kami berjalan lurus ke arah Lampulo, pelabuhan ikan yang ramai sebelum tsunami. Dulu perputaran uang di sini bisa mencapai Rp 500 juta per hari. Kini perekonomian Lampulo baru pulih sepertiga.

Bioskop Garuda atau Garuda Theatre berada tepat di kanan jalan. Meski terlanda tsunami dan berhenti beroperasi, bangunan tersebut tetap berdiri. Compang-camping, kusam, sepi.

Sekitar tahun 1930-an ada dua bioskop di kota yang dulu bernama Kutaraja ini. Deli Bioscope dan Rex Bioscope. Film-film yang diputar di situ adalah film-film bisu dan hitam-putih. Deli Bioscope menjadi cikal-bakal Garuda Theatre, sedang Rex sekarang menjelma tempat makan terbuka di Peunayong. Gerobak sate padang, nasi goreng, nasi bistik, gulai kambing, berderet-deret di tanah lapang bekas Rex. Para pembeli duduk di kursi-kursi plastik, menyantap makanan dan bercengkrama.

Pada 1948 Soekarno sempat berpidato di halaman Garuda Theatre. Rakyat datang dari kampung-kampung untuk mendengar pidatonya.

“Bung Karno menghadap ke Blang Padang, lapangan yang luas itu, yang sekarang ada monumen Seulawah. Kalau saya pikir masuk akal juga, ‘kan pada waktu itu bangunan-bangunan di depan bioskop belum ada. Jadi bisa langsung terlihat lapangannya. Saksi Bung Karno pidato antara lain Janan Zamzami, karena dia tepat berada di belakang Bung Karno dan teriak ‘merdeka… merdeka!’. Janan ini abang almarhum Amran Zamzami, yang dulu presiden Mitsubishi dan ketua Bridge Indonesia,” kata Kamal Arif pada saya. Kamal, orang Aceh, arsitek sekaligus dosen di Universitas Parahyangan, Bandung, Jawa Barat.

Soekarno juga menemui para saudagar Aceh di Atjeh Hotel.

”Bung Karno tidak pidato di situ, tapi dia nangis-nangis, dia minta bantuan pada pengusaha untuk beli Seulawah. Pemimpin lain yang ikut Bung Karno bahkan pakai baju compang-camping, sampai-sampai didatangkan tukang jahit untuk menjahitkan baju untuknya,” kata Kamal.

Rakyat pun suka rela memberikan hasil bumi mereka untuk dijual dan hasilnya dibelikan pesawat untuk kepentingan diplomasi Indonesia dengan Belanda. Dua pesawat sumbangan dari Aceh itu dinamai Seulawah.

Ketika "Republik Indonesia Serikat" resmi jadi negara berdaulat pada 27 Desember 1949, rakyat Aceh sekali lagi mengirim dana dan emas ke ibukota "Republik Indonesia" di Jogyakarta. Namun, Soekarno tak menepati janji memberi otonomi pada Aceh. Rakyat kecewa. Pada 1953, Mayor Jenderal Daud Beureuh, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, memimpin pemberontakan terhadap republik yang baru berdiri ini, yang dulu didukungnya.

Image hosting by Photobucket
Pada 1948 Soekarno sempat berpidato di halaman Garuda Theatre.

AKHIRNYA kami tiba juga di rumah makan itu. Menu utamanya rujak. Semata-mata rujak! Buah batok, rumbia, sawo, nangka, tomat, semangka dipajang di rak kaca. Segar dan menggiurkan. Sepiring Rp 5000. Kuahnya dari gula merah. Piring-piring berisi buah potong tersedia, tapi saya minta irisan baru dari buah-buahan yang masih utuh.

Di Banda Aceh, rujak atau kopi dijual di rumah makan atau restoran khusus, bukan di gerobak dorong atau kios kecil. Di kota macam Jakarta, kopi cuma disajikan sebagai salah satu minuman di restoran atau warung nasi. Rujak pun dijajakan sebagai kudapan dengan gerobak keliling. Di Aceh, rujak atau kopi sering berstatus menu utama. Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, kata pepatah.

“Rekonstruksi Aceh itu ‘kan tidak harus menyangkut hal-hal yang kelihatan besar, tapi seperti mengajak orang mengenang atau bernostalgia tentang kebiasaan atau peristiwa yang membuat mereka bahagia di masa lalu, seperti kebiasaan makan rujak, minum air kelapa… Hal inilah yang akan membangkitkan kebersamaan. Saya rasa itu yang justru sangat penting, selain pembangunan fisik. Selama perang ‘kan orang selalu curiga,“ celoteh Marco.

Setelah acara makan rujak selesai, kami jalan kaki ke arah Jalan Diponegoro dan melewati kedai kopi Chek Yuke yang selalu ramai.

Penganan favorit saya tersedia di Chek Yuke. Kue ketan srikaya! Tapi saya punya pengalaman lucu setelah minum dua gelas kopi susu di situ. Tiga hari kepala saya pening. David Case, teman saya dari International Center for Journalists, mengalami hal serupa. Dua hari Case tak bisa kerja gara-gara minum kopi Chek Yuke. Mungkin ada ganjanya?

Image hosting by Photobucket
Buah batok, rumbia, sawo, nangka, tomat, semangka dipajang di rak kaca. Segar dan menggiurkan. Sepiring Rp 5000. Kuahnya dari gula merah.

“Dulu ganja bukan barang terlarang. Dijual bebas di pasar. Digantung-gantung di kios, di gerobak-gerobak sayur. Ganja itu sebenarnya tanaman sela di kebun kopi. Untuk mengusir hama. Jadi kalau petani tanam ganja di kebun kopinya, hama kopi tak makan kopi, tapi makan ganja. Kopi pun selamat, “ kata Diyus Hanafi dari majalah Nanggroe.

Menurut Diyus, berdasarkan kisah ayahnya, ganja dilarang waktu Jenderal Hoegeng menjabat kepala Polisi Republik Indonesia.

“Suatu hari Hoegeng ingin tahu apa sebabnya pemuda Aceh malas-malas. Terus dia menyamar, pergi ke kampung-kampung dan ketemulah jawabannya, karena ganja,” kata Diyus, lagi.
Panas makin terik. Mungkin karena banyak pohon tumbang waktu tsunami. Mungkin karena laut makin dekat ke darat.

Namun, sejak dulu, Banda Aceh memang dekat laut. Pada lukisan cat air karya Johannes Vingboon, seorang pembuat peta atau kartografer bangsa Belanda, terlihat letak muara sampai ke tengah kota. Lukisan Vingboon bertahun 1665 dan diberi judul Bird’s Eyes View of the City of Atjeh. Dan entah kenapa, saya tak ingin menjadi burung. Saya selalu ingin melihat Aceh lebih dekat.


Linda Christanty adalah editor sindikasi Pantau di Aceh

1 comment:

Diyus said...

Ko, aku baru tahu kalau namaku juga dikenal sama mBah google. Hix..100x.
Kubaca postingan mBak Linda yang satu ini. ternyata dia mengutip ucapanku tentang ganja. Kebetulan aku belum pernah riset lebih dalam tentang cerita Bapakku soal sejarah larangan berganja di republik ini. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormatku, mohon terangkan juga dalam tulisan mBak Linda bahwa pelarangan ganja versi Bapakku itu belum pernah ku-ricek lebih lanjut.
Kapan ke Banda Aceh lagi...???
jangan lupa kabari aku kalau Koko mau merit.

Salam Hormat

Diyus