Tuesday, January 29, 2019

Selamat Jalan Rahman Tolleng


Saya kenal nama Rahman Tolleng dari buku soal "Mahasiswa Indonesia" (Bandung) pada 1985. Ia mungkin pers mahasiswa dengan sirkulasi terbesar dalam sejarah Indonesia: 22,000 sekali cetak. Ia terbit antara 1966, sesudah Presiden Soekarno terpinggirkan, dan dibredel 1974 oleh Presiden Soeharto. 

Saya mulai kenal pribadi pada 1988 ketika datang ke kantor Tolleng di PT Pustaka Utama Grafiti di Kelapa Gading, Jakarta. Tolleng dikenal sebagai individu yang punya integritas, pengetahuan luas, punya prinsip ("estremis sekuler") serta memberi banyak perhatian kepada anak muda. 

Kami bergaul dekat sejak 1994 ketika kami sama berkantor di Utan Kayu. Ruang kerja hanya terpisah meja sekretaris redaksi. dengan ruang saya Sering makan siang bersama. Ngobrol. Diskusi. Kongkow dengan kawan lain. 

Tolleng seakan jadi jembatan saya dengan sejarah Indonesia. Dia cerita soal Sutan Sjahrir. Dia cerita soal M. Jusuf dan Ventje Sumual. Dia cerita soal Soe Hok Gie. Dia kenal banyak sekali tokoh-tokoh pergerakan. 

Menjelang Natal 1997, saya dapat surat panggilan dari Kejaksaan Agung, diminta datang guna dimintai keterangan dengan tuduhan "menjelek-jelekkan negara di luar negeri." Ini tuduhan serius. 

Pihak intelijen Orde Baru melaporkan pidato saya di Foreign Correspondents' Club, Hong Kong. Saya kritik pembredelan Detik, Editor dan Tempo maupun penangkapan empat wartawan. Saya bicara soal Aliansi Jurnalis Independen. 

Kawan-kawan saya rapat bersama. Tolleng mengingatkan agar kasus ini dibantu dengan pengacara yang cerdas, kuat serta tahu peta politik. Mereka minta salah satu sahabat Tolleng jadi penasehat hukum saya. 

"Kalau kuku Andreas dicabuti, habis kita semua," katanya, seram.

Tolleng meramal bahwa usia rezim Soeharto tinggal "hitungan minggu, paling tidak bulan." 

Saya menulis buat harian The Nation (Bangkok). Ia dijadikan headline. Judulnya, "Twilight in Jakarta." 

Tolleng benar. Mei 1998 Soeharto terpaksa mundur.

Kasus saya tak bergulir. 

Lantas Gus Dur, sahabatnya, jadi presiden. Gus Dur mencalonkan Tolleng sbg kepala Badan Intelijen Nasional. Dia diskusi dgn beberapa kawan Utan Kayu ... seraya terkekeh-kekeh, "TNI takkan mau menerima saya."

Satu dekade kemudian, saya bekerja untuk Human Rights Watch. Tolleng pensiun, lebih sering diskusi, tapi sering datang bicara di kelas Yayasan Pantau dimana saya mengajar. 

Februari 2011 terjadi pembunuhan terhadap tiga orang Ahmadiyah di Cikeusik. Saya menulis, menulis dan bicara depan televisi. Human Rights Watch mengecam diskriminasi terhadap Ahmadiyah sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan aturan anti-Ahmadiyah pada 2008. 

Tolleng menelepon saya. Dia tanya, "You mau jadi politikus?"

Saya tanya kenapa.

Tolleng jawab, "Saya tanya sebab kalau you mau jadi politikus, bicara soal Ahmadiyah takkan bisa. Ini persoalan peka sekali buat Indonesia. Politik Islam tentunya."

Saya bilang saya tak ingin jadi politikus. 

Dia bilang salut.

Pembicaraan itu adalah perhatian dari seorang Tolleng  kepada kawannya yang lebih muda. Saya pasti bukan satu-satunya yang pernah dapat perhatian begitu. Banyak kawan mendapat perhatian Tolleng. 
Saya kira, hari ini saya kehilangan seorang kawan, seorang role model, seorang raksasa dalam dunia pergerakan di Indonesia. 

Tolleng adalah orang yang percaya pada cita-cita kebangsaan, Republik Indonesia. Istilahnya, "Kaum Republiken." Bukan feodalisme. Bukan oligarki. Tolleng bangga dengan sosialisme demokrat.

Selamat jalan Pak Rahman.

No comments: